STRATEGI SURVIVAL SANTRI DALAM MENJALANI KEGIATAN HARIAN DI PONDOK PESANTREN
(Studi Interaksi pada Santri di Pondok Pesantren Islam Al Muhsin, Metro Utara, Kota Metro )
( Skripsi)
Oleh
MUH. ABDUL AZIZ KHOIRURRIZAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
STRATEGI SURVIVAL SANTRI DALAM MENJALANI KEGIATAN HARIAN DI PONDOK PESANTREN
(Studi Interaksi pada Santri di Pondok Pesantren Islam Al Muhsin Metro Utara, Kota Metro)
Email : [email protected]
Oleh
Muh. Abdul Aziz Khoirurrizal, Erna Rochana
Strategi survival santri dalam menjalani kegiatan harian di pondok pesantren dapat disiapkan jauh-jauh hari sebelum masuk Pondok Pesantren, baik dari pihak calon wali santri maupun santrinya sendiri. Hal-hal kecil yang perlu disapkan dan diajarkan di rumah oleh orang tua /wali untuk melatih anak agar dapat beradaptasi dengan kondisi dan kebiasaan di asrama Pondok Pesantren. Mulai dari membereskan tempat tidur hingga cara santri beradaptasi. Berdasarkan teori interkasi dan teori kelompok sosial yang menyatakan bahwa adanya komunikasi yang baik antara ustad dan santri, pengurus dan santri seerta penerapan pola asuh yang baik dapat menjadikan kemudahan santri dalam berproses dan berkelompok membentuk kerjasama, saling berinteraksi dan juga saling menyadari kepentingan diantara anggota yang dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku anggotanya. Jenis penelitian ini adalah penelitian Yuridis Normatif dan Yuridis Emipiris . Narasumber terdiri dari Santri Pondok Pesantren Islam Al Muhsin dari berbagai kelas atau Aliyah dan Tenaga Pengajar di Pondok Pesantren Islam Al Muhsin sebanyak 5 Orang.Analisis data yang dilakukan adalah secara kualitatif.
Alasan seorang santri mau belajar di Pondok Pesantren dikarenakan ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya , dorongan orang tua mau[pun kemauan sendiri. Strategi survival santri dalam menjalani kegiatan harian di pondok pesantren didasar oleh faktor sosiologis, dengan adanmya interaksi yang baik , adaptasi yang baik, serta dukungan baik dari sendiri maupun dari luar. Terbentuknya kelompok sosial yang menaungi seorang santri.
ABSTRACT
SANTRI SURVIVAL STRATEGY IN DAILY ACTIVITIES IN PONDOK PESANTREN
(Interaction Study on Santri in Al Muhsin Islamic Boarding School Metro North, Metro City)
Email: [email protected]
By
Muh. Abdul Aziz Khoirurrizal, Erna Rochana
Survival strategies of students in undergoing daily activities in Islamic boarding schools can be prepared in advance before entering Islamic boarding schools, both from the prospective boarding students and their own students. Small things that need to be nurtured and taught at home by parents / guardians to train children to be able to adapt to the conditions and habits in the boarding school dormitory. Starting from making the bed to the way students adapt. Based on interaction theory and social group theory which states that there is good communication between clerics and students, administrators and students as well as the application of good parenting can make students ease in processing and grouping to form cooperation, interact with each other and also be aware of mutual interests among members who can influence the behavior of its members.
This type of research is Normative Juridical and Emipiris Juridical Research. The speakers consisted of Islamic Boarding School students of Al Muhsin from various classes or Aliyah and teaching staff at Islamic Boarding School Al Muhsin as many as 5 people. The data analysis was done qualitatively.
The reason a santri wants to study at Islamic boarding school is because he wants to be better than before, the encouragement of parents wants [even their own will. The strategy of santri survival in undergoing daily activities in Islamic boarding schools is based on sociological factors, with good interactions, good adaptation, and support from both themselves and from outside. The formation of a social group that houses a santri.
(Studi Interaksi pada Santri di Pondok Pesantren Islam Al Muhsin, Metro Utara, Kota Metro )
Oleh
MUH. ABDUL AZIZ KHOIRURRIZAL
Skripsi
Sebagai salah Satu Syarat Untuk mencapai Gelar SARJANA SOSIOLOGI
pada Jurusan Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Saya dilahirkan di desa kecil bernama Sukoharjo III, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu pada 28 juni 1996 anak dari pasangan Syamsudin danYohana tarminah S.Pd, saya anak ke empat dari empat bersaudara, dan saya satu-satunya anak laki-laki. Saya mengawali pendidikan formal di TK Islamiyah Sukoharjo yang selesai pada tahun 2002 dan dilanjutkan di SD Muhammadiyah Waringin Sari Barat yang selesai pada tahun 2008 lalu saya melanjutkan studi di MTs Al Muhsin di 28 B Purwosari Metro Utara, Kota Metro selama tiga tahun yang selesai pada 2011 dan dilanjutkan di lembaga pendidikan yang sama yakni di MA Al Muhsin yang selesai pada tahun 2014 serta saya juga melanjutkan masa abdi saya ( Whiyata Bhakti ) sebagai tenaga pengajar di Pondok Pesantren Hidayatullah, Terbanggi Besar, Lampung Tengah yang selesai pada tahun 2015. Lalu saya melanjutkan studi S1 di Universitas Lampung dan mengambil jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada tahun 2015melalui jalur SBMPTN.
Dan pada 2017 saya melakukan kegiatan KKN di desa Negeri Kelumbayan, Kecamatan Kelumbayan Barat, Kabupaten Tanggamus.
- Internasional :
1. Medali Perunggu Singapore open 7th 2019 - Nasional :
1. Medali perak kejurnas perti Piala Menpora 2016 2. Medali perak kejurnas perti UNS Surakarta 2017 3. Medali perunggu kejurnas perti IPB open 2018 4. Medali perunggu kejurnas perti UNS 2019
Pada tahun 2019-2020 saya melakukan penelitian tentang “STRATEGI SURVIVAL SANTRI DALAM MENJALANI KEGIATAN HARIAN DI
PONDOK PESANTREN (Studi interaksi pada santri Pondok Pesantren
Islam Al Muhsin, Metro utara, Kota Metro)”di Pondok Pesantren
SANWACANA
Alhamdulillahirobbil’alamin. Segala pujidan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul “STRATEGI SURVIVAL SANTRI DALAM MENJALANI KEGIATAN HARIAN DI PONDOK PESANTREN (Studi interaksi pada santri Pondok Pesantren Islam Al Muhsin, Metro utara, Kota Metro)” ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan ini, yaitu sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi Universitas Lampung.
Segala kemampuan, baik tenaga maupun pikiran telah saya curahkan demi penyelesaian skripsi ini, namun skripsi ini masih memiliki kekurangan atau jauh dari kata sempurna, baik dari segi penulisan maupun isi. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini bukanlah berasal dari jerih payah sendiri, namun berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, sehingga penulisan skripsi dapat terselesaikan. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terimakasih yang tulus datang dari lubuk hati saya kepada :
1. Bapak Dr. Syarief makhya selaku Dekan fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung
2. Bapak Drs Ikram M.Si., selaku Ketua Jurusan Sosiologi fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung
4. Bapak Dr. Benjamin M.Si Selaku Pembahas/penguji II yang penuh dengan kesabaran dan keikhlasan memberikan bimbingan, kritik, dan saran kepada penulis demi penyelesaian dan kesempurnaan skripsi ini, semoga allah berikan kesehatan dan pahala yang berlipat di sisi Allah Swt.
5. Seluruh Dosen Jurusan Sosiologi di fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu dan telah memberikan ilmu pengetahuan yang berguna bagi penulis.
6. Seluruh Staff dan Karyawan fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung yang telah membantu kelancaran seluruh urusan akademik Saya..
7. Terimakasih kepada Ustadz Amron Abdillah Subs dan Ustadz Rizal Muttaqin yang dengan keterbukaan tangan mereka menyambut dan menjamu saya selama kunjungan ke Pondok Pesantren Al Muhsin, semoga terus dilancarkan rezekinya dan segera dipertemukan jodohnya.
8. Kepada segenap keluarga besar Pondok Pesantren Islam Al Muhsin Metro Utara, Kota Metro. Yang telah membantu dalam segala bentuk pengambilan data dan kehangatan kekeluargaan saat saya disana, semoga selalu menjadi Pondok Pesantren unggulan dan terus mencetak generasi Rabbani.
kelancaran rezeki dan umur yang panjang.
11. Ibu Yohana Tarminah orang tua yang selalu membantu seluruh kegiatan saya selama ini,mendoakan saya agar terus menjadi hamba yang beriman bertaqwa dan berguna bagi Agama dan masyarakat kelak, semoga Allah memberikan umur yang panjang dan sehat selalu.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Srategi ... 8
B. Pengertian Survival... 9
C. Pengertian Santri ………. 17
D. Pengertian Pondok Pesantren ………. 18
E. Pengertian dan Sistem Pendidikan Pondok Pesantren …….……. 21
F. Teori Interaksi ………...….. 38
G. Teori Kelompok Sosial ……… 39
H. Kerangka Berfikir ……… 40
III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 42
B. Lokasi Penelitian ... 43
C. Fokus Penelitian ……….. 44
D. Sumber Data ... 44
E. Teknik Pengumpulan Data ... 45
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Singkat Pondok Pesantren Islam Al Muhsin ... 53 B. Visi dan Misi Pondok Pesantren Islam Al Muhsin... 55 C. Data Pondok Pesantren Islam Al Muhsin ………... 56
V. PEMBAHASAN
A. Identitas Informan ………. 62 B. Alasan Seseorang Mau Menjadi Santri di Pondok Pesantren
Islam Al Muhsin ……….. 63
C. Cara Survival Santri dalam Menjalani Kegiatan Harian
di Pondok Pesantren Islam Al Muhsin ... 66 D. Perbandingan Triangulasi Data ……….. 78 E. Pola Hubungan Antar Santri dan Masyarakat di Dalam
Asrama Pondok Pesantren Al Muhsin ……….. 85
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ………. 88
B. Saran ………. 89
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR Halaman
1. Rantai Proses Survive ………..…….. 13 2. Santri Berkelompok ... 66 3. Wali santri mendaftarkan anak di Pondok
DAFTAR TABEL
TABEL Halaman
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan menjadi sebuah hal yang paling utama dalam membangun sebuah bangsa, pendidikan juga yang dapat menopang segala aspek kehidupan manusia, maka dari itu erat kaitannya pendidikan dengan kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara menjadikan pendidikan memiliki peran vital dan urgen. maka sudah sewajarnya pendidikan diberi perhatian lebih, guna mencetak generasi bangsa yang yang berkualitas serta berdaya saing tinggi.
Pendidikan dibagi menjadi dua jenis ; pendidikan umum dan pendidikan agama keduanya memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia untuk berhubungan dengan sesama manusia untuk membangun komunikasi serta jaringan yang baik dengan lainnya. Sudah menjadi sebuah tantangan yang akan terjadi di masa depan, bahwa manusia akan masuk ke dalam era globalisasi yang menuntut mereka untuk lebih kompetitif terkhusus masyarakat Indonesia yang akan menghadapi persaingan antar penduduk ASEAN baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, pembangunan baik fisik maupun non fisik yang akan terus berlanjut dan sangat kompetitif ke depannya.
yang menjadi sebuah kewajiban dan tanggung jawab negara dalam membentuk karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini.
Menurut Jusuf Amir Faisal (1995) Lembaga pendidikan Islam memiliki andil besar dalam mengiringi prosesnya dalam menjalankan kehidupan. karena dalam orientasinya, pendidikan Islam harus menyiapkan sumber daya manusia yang tidak sekedar sebagai penerima arus informasi global, namun juga harus memberikan bekal kepada mereka agar mengolah, menyesuaikan dan mengembangkan segala hal yang diterima melalui tranformasi itu, yakni manusia yang kreatif dan produktif.
Pondok Pesantren sendiri ialah lembaga pendidikan Islam yang ada semenajak ratusan tahun yang lalu hadir untuk menyelamatkan anak bangsa dari kebodohan akan agamanya sendiri melalui pendidikan yang menekankan kepada penyampaiain ilmu-ilmu agama dan praktek keagamaan sehari-hari, pada prakteknya Pondok Pesanten dipimpin oleh Kiyai atau Ustadz yang menjadi teladan bagi penduduk pesantren sendiri dan penduduk sekitar Pesantren .
Pondok pesantren sejak awal didirikannya menunjukan diri untuk membangun kemandirian secara pribadi dengan mengandalkan lifeskills sedini mungkin yaitu dengan mengajarkan banyak hal yang menyangkut dengan kemandirian yang bersifat subjektif, baik dari tata cara merawat diri sendiri, menyiapkkan apa yang diperlukan oleh dirinya, dan mengelola waktu yang ada pada kegiatannya sehari-hari menajdi leboh produktif dan efisien.
berputar 360 derajat dan menuntut masing-masing pribadi untuk bersifat se mandiri mungkin dengan.
Di Era digital dan semakin majunya zaman menjadikan manusia bersifat individualis dan kurang komunikstif dengan sesama, ini yang menjadikan munculnya kesenjangan dalam kehidupan social. Munculnya gadget yang membuat seseorang akan lebih pasif dam anresponsif terhadap setiap apa yang terjadi di sekitarnya pun memicu banyak kesenjagan sosial yang ada baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Pesantren mencoba mengeluarkan santri dengan metode menjauhkan mereka dari teknologi yang membuat mereka tidak berinteraksi dengan sesama mereka, dan mendekatkan mereka kepada hal yang bersifat kebersamaan dan segala kegiataan.
Hadirnya pendidikan pesantren sednirir diharapkan dapat membantu pendewasaan cara berfikir, bersikap serta menjadikan seorang lebih jauh mengenal agamanya demi mencerdaskan umat kedepannya kelak.
Muhammad Nuh selaku mantan menteri pendidikan di era kepresidenan SBY pernah mentgatakan bahwa “ banyaknya lulusan pesantren ke depan diharapkan dapat memberikan perbahan yang signifikan di masyarakat, terutama dalam penanaman corak keagamaan terlebih lagi di bidang pendidikan, maka dari iu harapan luas dan besar mengalir deras di pundak para alumni pondok pesantren’’
mengetahui banyak sekali batalyon-batalyon santri yang melibatkan banyak sekali Pondok Pesantren di Nusantara ikut menumpas penjajahan. Dan tidak sedikit darah para Ulama serta Kiai yang mengalir demi kemerdekaan Indonesia terlebih lagi melalui resolusi jihad yang dimaklumatkan oleh K.H. Hasyim Asy’arie yang menjadi pelecut semangat para laskar santri khsusnya serta masyarakat Indonesia umumnya.
Keluarnya Resolusi Jihad tidak terlepas dari pandangan KH. Hasyim Asy’ari
mengenai Islam dan kenegaraan. Beliau mengikuti pandangan yang berkembang dalam pemikiran politik Ahlussunnah wal jama’ah, yakni pendapat Syekh Nawawi al-Bantani, yang menyatakan bahwa Dar Al-Islam yang telah dikuasai oleh
non-Muslim tetap dipandang sebagai Dar al-Islam apabila umat Islam masih tetap bermukim di dalamnya. Dan pada Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1935, NU
memang pernah menyatakan bahwa Indonesia adalah Dar al-Islam, meskipun saat itu di bawah Pemerintah Hindia Belanda. ( https://insists.id/resolusi-jihad-kh-hasyim-asyari/)
Seiring berjalannya waktu pesantren yang ikut andil dalam proses panjangnya jalan
perjuangan kemerdekaan di Indonesia mulai membentangkan sayap ke bidang pendidikan yang lebih formal dan bekerja sama dengan pemerintah yang sebelumnya lebih fokus kepada pendidikan non formal dan hanya mempelajari serta
fokus pada pendidikan agama saja, menjadikan pesantren sebagai sebagai basis pertahanan keagamaan memang sudah tepat melihat era globaliasi yang makin pesat pengaruhnya dan makin berbahaya bagi mereka yang belum siap dan belum
Dewasa ini Pondok Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang memiliki daya tarik lebih, melihat Pesantren menawarkan dua pendidikan sekaligus yang siap
mencerdaskan anak bangsa baik melalui pegetahuan umum yang diajarkan sebagai bekal di dunia kerja dan masayarakat serta dibekali pengetahuan agama guna menjadi bekal kerohanian masing-masing.
Maka dari itu saya mulai tertarik dengan pembahasan mengenai dunia pesantren beserta santrinya yang memiliki keunikan serta kelebihan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lainnya, yang mana pesantren dapat mendidik anak didiknya
(santri) untuk menjadi pribadi yang siap untuk menaklukkan era globalisasi dan menyikapi perkembangan zaman dengan bijak.
Semoga dengan adanya penelitian pada skripsi yang berjudul : “STRATEGI
SURVIVAL SANTRI DALAM MENJALANI KEGIATAN HARIAN DI PONDOK
PESANTREN (Studi interaksi pada santri Pondok Pesantren Islam Al Muhsin, Metro
B. Rumusan masalah
Berdasarkan sebuah penelitian keberadaan rumusan masalah menjadi keharusan, karena berangkat dari rumusan masalah itulah penelitian dilakukan. Rumusan masalah atau fokus penelitian (research question) berisi rumusan permasalahan yang hendak dijawab dalam penelitian dan agar kajian dan pembahasan ini sesuai dengan tujuan penelitian, serta dapat menghasilkan data dan informasi yang baik maka saya di sini merumuskan masalah sebagai berikut :
a. Apakah alasan seseorang berkemauan menjadi santri di Pondok Pesantren Islam Al Muhsin?
b. Bagaimanakah cara survival santri dalam menjalani kegiatan harian di Pondok Pesantren Islam Al Muhsin ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .
1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan :
a. Untuk mengetahui cara survival santri dalam menjalani kegiatan harian di Pondok Pesantren Al Muhsin Metro.
b. Untuk mengetahui alasan seseorang mau menjadi santri di Pondok Pesantren Islam Al Muhsin Metro.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca mengenai kajian sosiologis tentang Strategi Survival Santri dalam Menjalani Kegiatan Harian di
Pondok Pesantren Islam Al Muhsin, Metro Utara, Kota Metro dan dapat dijadikan bahan acuan di bidang penelitian sejenis atau sebagai bahan pengembangan apabila akan dilakukan penelitian sejenis,
b. Manfaat Praktis
a. Bagi pihak jurusan sosiologi FISIP Universitas Lampung, Penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang strategi survival santri dalm menjalani kegiatan harian di pondok pesantren .
b. Bagi mahasiswa khususnya mahasiswa sosiologi, penelitian dapat digunakan untuk mengetahui faktor apa yang memepengaruhi survival santri dalam menjalani kegiatan harian di pondok pesantren.
`
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Strategi
Kata strategi pada mulanya merupakan istilah yang dipergunakan dalam hal peperangan, tetapi lama kelamaan istilah tersebut berkembang tidak hanya dipakai dalam hal peperangan saja, melainkan juga dipergunakan pada bidang-bidang lainnya seperti ekonomi, politik, sosial, buaya, komunikasi, dakwah, dan lain sebagainya. Sehingga orang menyandingkan dengan apa yang menjadi bahasannya seperti : Strategi ekonomi, strategi politik, strategi komunikasi, strategi dakwah, strategi survival, strategi pemberdayaan dan lain sbagainya. Sedangkan kata strategi sendiri mempunyai berbagai macam artinya yang antara lain dalam kamus besar bahasa Indonesia, Strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran. (Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa:2001)
dan Eilisa Vindi Maharani (2008) strategi dapat diartikan sebagai kiat untuk mencapai suatu tujuan. adanya strategi yang tepat, maka kelangsungan hidup manusia akan selalu terjaga. Dengan mengetahui beberapa arti kata strategi diatas, maka dapat dinyatakan bahwa pendekatan strategi pada hakekatnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Memusatkan perhatian pada kekuatan
2) Memusatkan perhatian pada analisis dinamik, analisis gerak dan analisis aksi
3) Memusatkan perhatian pada tujuan yang ingin dicapai serta gerak untuk mencapai tujuan tersebut
4) Memperhatikan faktor-faktor lingkungan
5) Berusaha menemukan masalah-masalah yang terjadi dari peristiwa yang ditafsirkan berdasarkan konsep kekuatan, kemudian mengadakan analisa mengenai kemungkinan-kemungkinan serta menghubungkan pilihan-pilihan dan langkah-langkah yang dapat diambil dalam mencapai tujuan tersebut. (Ali Moertopo:1978)
B. Pengertian Survival
Survival berasal dari kata Survive,yang artinya bertahan hidup.Sedang survival
Banyak versi tentang pengertian survival. Survival berasal dari bahasa inggris survive atau to survive yang artinya bertahan hidup. Yang dimaksud disini adalah kemampuan untuk dapat bertahan hidup dari keadaan yang kurang menguntungkan sampai terjalin komunikasi dengan pihak luar. Survival dapat juga diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan hidup dan keluar dari keadaan yang sulit atau kritis. Dalam arti yang sempit, survival digunakan dalam kaitan dengan keadaan-keadaan darurat yang terjadi karena terisolasinya seseorang atau sekelompok orang (disebut sebagai SURVIVOR) akibat suatu musibah atau kecelakaan. Keadaan tersebut antara lain tersesat di hutan, terdampar di pulau atau pesawat yang terjatuh di suatu tempat asing. Akibatnya survivor mengalami kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat luas dan dengan demikian sukar mendapatkan bantuan atau pertolongan yang diperlukan.
Umumnya survival diartikan sebagai cara bertahan hidup seseorang atau kelompok di daerah atau tempat yang asing ,yang memerlukan kesiapan baik secara mental maupun fisik demi mempertahankan kelangsungan orang atau kelompok tersebut, yang menjadikan survival itu ialah manusia sendiri yang ,mencoba menaklukan hal dan tempat baru guna menemukan sesuatu baru ditempat tersebut.
Survival yang dimaksud saya dalam tulisan ini lebih diberatkan dan tertuju pada
survival yang terjadi di Pondok Pesantren bagi para santri yang ada disana, dimana mereka harus meninggalkan lingkungan yang menjadi tempat mereka bergaul dan membentuk karakter sosial yaitu rumah dan keluarganya lalu berpindah ke tempat yang lebih jauh dan asing dari rumah dan keluarganya yang di tempat tersebut terdapat banyak karakter serta nilai dan norma sosial yang ada.
Tentu bukanlah hal yang mudah dan dapat dilakukan oleh semua anak, dimana mereka harus mengisolir diri banyak hal yang sudah menjadi ketergantungan mereka dalam keseharian seperti : menonton tv, bermain gadget, semua yang dibutukan serba ada dan serba siap.
Berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada di Pondok Pesantren yang menuntut mereka lebih kepada sikap mandiri serta disiplin dalam banyak situasi, mulai dari : mencuci pakaian sendiri, berpakaian sopan islami, disiplin dalam menjalankan waktu keseharian, dll.
Ada beberapa hal yang dapat disiapkan untuk bisa survival atau bertahan di Pondok Pesantren yang dapat disiapkan jauh-jauh hari sebelum masuk Pondok Pesantren, baik dari pihak calon wali santri maupun santrinya sendiri. Hal-hal kecil yang perlu disapkan dan diajarkan di rumah oleh orang tua /wali untuk melatih anak agar dapat beradaptasi dengan kondisi dan kebiasaan di asrama Pondok Pesantren :
1. Membereskan tempat tidur sendiri
2. Memisahkan tempat tidur dengan (pisah kamar dengan saudara lawan jenis dan pisah ranjang dengan saudara yang satu jenis kelamin)
4. Sholat sudah harus menetap 5. Mencuci peralatan makan sendiri
6. Mengerjakan setidaknya 1 pekerjaan rumah tangga 7. Menyimpan barang yang sudah dipakai pada tempatnya. 8. Mengajarkan anak otonomi mengelola uang
9. Saat usia 10 tahun, sudah diajarkan soal bagaimana menghadapi haidh (perempuan) dan mimpi basah (anak laki-laki).
Dengan membiasakan anak agar melakukan hal-hal diatas maka dengan sendirinya anak akan mulai mebiasakan diri dengan kondisi pondok pesantren yang menuntut kemandirian dan kedisiplinan.
Bagan 1.
Rantai Bagan proses survive santri selama menjalani studi Sumber : Hasil Pengamatan.2019.
Adapun dalam survival kelanjutannya setelah diterima di Pondok Pesantren yang dapat dilakukan oleh orang tua yakni dengan cara berikut :
1. Orang tua harus ikhlas melepas anak mondok.
Benar, orang tualah yang membuat pilihan untuk memasukkan anak ke Pondok Pesantren. Tapi, ketika saatnya tiba dan harus berpisah dengan anak untuk sementara waktu, orang tua juga ikut merasa sedih dan menangis. Ada rasa berat untuk melepas anak belajar dan mondok yang juga disertai kegelisahan dan rasa khawatir. Rasa berat dihati orang tua inilah yang terkadang juga membuat anak menjadi gelisah selama mondok. Untuk itu orang tua juga harus ikhlas dan rela hati membiarkan tinggal di Pondok Pesantren.
Cara santri survival (
bertahan ) selama
menjalani studi di Pondok
Pesantren Al Muhsin
KemandirianAdapatasi
DukunganOrang tua
Pola asuh
Pengasuh
Menjadi alumni Pondok
Pesantren yang berguna
bagi masyarakat dan umat
2. Yakinkan anak, bahwa pesantren adalah pilihan terbaik untuk masa depan dan kehidupannya.
Orang tua harus bisa meyakinkan anak bahwa Pondok Pesantren adalah pilihan tepat untuk pendidikan, masa depan dan kehidupannya kelak. Tunjukkan rasa bangga kepada anak karena ia mau menuruti orang tua untuk masuk Pondok Pesantren setiap kali melakukan kunjungan. Rasa bangga orang tua bisa memotivasi dan membuat anak lebih semangat dan kuat karena bisa membuat orang tuanya bahagia.
3. Berikan anak motivasi dan dorongan selama di Pondok Pesantren.
Hari-hari yang berat bagi santri adalah tahun pertama berada di Pondok Pesantren. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa orang tua, juga harus mengikuti kegiatan dan peraturan di Pondok Pesantren yang jauh berbeda dengan di rumah atau sekolah biasa. Menghadapi hal ini, orang tua harus terus berikan motivasi dan dorongan pada anak. Berikan ia kekuatan karena di saat seperti itu hanya orang tualah yang mampu menenangkan dan menguatkan hati anak. Selain itu peran keluarga besar juga penting untuk memotivasi anak.
4. Ajarkan anak untuk ikhlas menjalani kehidupan di Pondok Pesantren.
untuk mengajarkan anak tentang cara membuat hati ikhlas selama menempuh pendidikan di Pondok Pesantren. Memang selama mondok ia akan jauh dari kasih sayang orang tua, namun dekat dekat dengan kasih sayang Allah SWT. Tips agar anak betah di Pondok Pesantren ini bisa dilakukan sebelum anak mondok sebagai persiapan yang harus dilakukan orang tua.
5. Ingatkan tujuan anak masuk Pondok Pesantren.
Ketika anak selalu mengeluh dan rewel karena tidak betah di Pondok Pesantren karena ketidaknyamanannya, ingatkan anak bahwa tujuan masuk Pondok Pesantren adalah untuk belajar, mendapat pendidikan dan ilmu agama yang kelak sangat bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Prioritas masuk Pondok Pesantren adalah untuk menyerap ilmu agama dan pendidikan lainnya dengan baik. Bukan untuk mendapatkan segala kenyamanan di dunia.
6. Ajarkan anak untuk disiplin dan mandiri.
7. Selalu berdoa kepada Allah untuk kemudahan anak selama mondok di pesantren.
Untuk kemudahan dan kelancaran anak belajar di Pondok Pesantren minta juga bantuan kepada Allah dengan selalu memanjatkan doa agar anak betah belajar di pesantren. Panjatkan doa agar anak bisa melalui pendidikan pesantren dengan mudah dan bisa menyerap ilmu yang diberikan dengan baik. Seperti yang kita tahu ridha Allah adalah ridhanya orang tua.
8. Jangan terlalu sering berkunjung dan berkomunikasi selama anak mondok.
C. Pengertian Santri
Mengenai asal-usul perkataan “Santri” itu ada (sekurang-kurangnya) dua pendapat yang dapat dijadikan acuan, yaitu:
1. Pertama, adalah pendapat yang menyatakan bahwa “santri” itu berasal dari perkataan “sastri”, sebuah kata dari Bahasa Sansekerta, yang artinya melek huruf . sepertinya dahulu, lebih-lebih pada permulaan tumbuhnya kekuasaan politik Islam di Demak, kaum santri adalah kelas “Literary” bagi orang jawa. Hal ini disebabkan pengetahuan mereka tentang agama melalui kitab-kitab bertuliskan dan berbahasa arab. Dari sini dapat diasumsikan bahwa menjadi santri berarti juga menjadi tahu agama (melalui kitab-kitab tersebut) atau paling tidak, seorang santri itu bisa membaca Al-Quran yang dengan sendirinya membawa pada sikap lebih serius dalam memandang agamanya.
D. Pengertian Pondok Pesantren
Secara bahasa pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe- dan akhiran – an yang berarti tempat tinggal santri. Kata santri sendiri, menurut C.C Berg Berasal dari bahasa India yaitu shastri, yaitu orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ali kitab suci agama Hindu. Sementara itu, A.H. John menyebutkan bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. (Babun Suharto:2011)
Nurcholish Madjid juga memiliki pendapat berbeda. Dalam pandangannya asal usul kata “santri” dapat dilihat dari dua pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “santri berasal dari kata “sastri”, sebuah kata dari bahasa sansekerta yang artinya melek huruf. Pendapat ini menurut Nurcholish Madjid didasarkan atas kaum santri kelas yang kebanyakan bagi orang Jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa, dari kata “cantrik” berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru ini pergi menetap. (Yasmadi:2005)
Menurut Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, Bidang Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, Departement Agama Republik Indonesia (2002) dalam pedoman Pondok Pesantren, definisi Pondok Pesantren pada umumnya tergambar pada beberapa cirri khas yang biasa ada dalam Pondok Pesantren yaitu adanya pengasuh Pondok Pesantren (kyai/ ajengan/ tuan/ guru/ tengku/ ustadz/ buya).
yang belajar, serta adanya asrama sebagai tempat tinggal santri. Disamping empat komponen tersebut hampir setiap pesantren juga menggunakan kitab kuning (kitab klasik tentang ilmu-ilmu keislaman yang menggunakan bahasa Arab yang disusun pada abad pertengahan sebagai sumber kajian).
Menurut pendapat para ilmuan, istilah Pondok Pesantren adalah merupakan dua istilah yang mengandung satu arti. Orang jawa menyebutnya “Pondok” atau “pesantren”. Sering pula menyebut sebagai Pondok Pesantren. Pesantren sesungguhnya merupakan lembaga pendidikan tertua diIndonesia,yang secara Nyata telah melahirkan banyak ulama'. Tidak sedikit tokoh Islam lahir dari lembaga pesantren. Prof. Dr. Mukti Ali pernah mengatakan bahwa tidak pernah ada ulama yang lahir dari lembaga selain pesantren. Istilah'' pesantren'' berasal dari kata pe-''santri''-an, dimana kata"santri" berarti murid dalam bahasa Jawa. Istilah ''Pondok'' berasal dari bahasa Arab''funduuq'' ('''قودنف''') yang berarti penginapan. Khusus di Aceh, pesantren disebut juga dengan nama''dayah''.
Berdasarkan terminologi pengertian Pondok Pesantren dapat saya kemukakan dari pendapatnya para ahli antara lain:
M. Dawam Rahardjo (2015) memberikan pengertian pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan dan penyiaran agama islam, itulah identitas pesantren pada awal perkembanganya. Sekarang setelah terdapat banyakbperubahan di masyarakat, sebagai akibat pengaruhnya, difinisi diatas tidak lagi memadai, walaupun pada intinya nanti pesantren tetap berada pada fungsinya yang asli, yang selalu dipelihara di tengah-tengah perubahan yang deras. Bahkan karena menyadari arus perubahan yang kerap kali tak terkendali itulah, pihak luar justru melihat keunikanya sebagai wilayah sosial yang mengandung kekuatan resistensi terhadap dampak modernisasi.
Menurut Marwan Saridjo (2010) singkatnya yang dimaksud dengan Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan islam yang sekurang-kurangnya mempunyai tiga unsure yaitu kyai yang mendidik dan mengajar, santri yang belajar dan masjid tempat mengaji.
Menurut M. Arifin pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam yang tumbuh serta diakui masyrakat sekitar, dengan sistem asrama (komplek) dimana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang seepunuhnya berada di bawah kedaulatan dari seseorang atau beberapa orang kyai -dengan ciri-ciri khas yang bersifat kharismatik serta independen dalam segala hal.
belajar pada seorang kyai untuk memperdalam atau memperoleh ilmu, utamanya ilmu-ilmu agama yang diharapkan nantinya menjadi bekal para santri dalam mengahadapi kehidupan di dunia maupun akhirat. (A. K. Ahmad Muda:2006)
E. Pengertian dan Sistem Pendidikan Pondok Pesantren
1. Pengertian Sistem Pendidikan Pondok Pesantren
Sistem berasal dari bahasa Latin (systema) dan bahasa Yunani (sustema) adalah sekumpulan unsur atau elemen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan bersama untuk mencapai tujuan. Sedangkan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. (Undang-undang No.20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1)
Pondok Pesantren adalah sistem pendidikan yang melakukan kegiatan sepanjang hari. Santri tinggal di asrama dalam satu kawasan bersama guru, kyai, dan senior mereka. Oleh karena itu hubungan yang terjalin antara santri-guru-kyai dalam proses pendidikan berjalan intensif, tidak sekedar hubungan formal ustadz-santri di dalam kelas. Dengan demikian kegiatan pendidikan berlangsung sepanjang hari, dari pagi hingga malam hari. (Arif Subhan:2012)
Pesantren sebagai lembaga pendidikan merupakan sistem yang memiliki beberapa subsistem, setiap sub sistem memiliki beberapa sub-sub sistem dan seterusnya, setiap sub sistem dengan sub sistem lainnya saling mempengaruhi dan tidak dapat di pisahkan. Sub sistem dari sistem pendidikan pesantren antara lain :
a. Aktor atau pelaku: kyai, ustadz, santri dan pengurus
b. Sarana perangkat keras: masjid, rumah kyai, rumah dan asrama ustadz, Pondok dan asrama santri, gedung sekolah atau madrasah, tanah untuk pertanian dan lain-lain.
c. Sarana perangkat lunak: kurikulum, kitab, penilaian, tata tertib, perpustakaan, pusat penerangan, keterampilan, pusat pengembangan masyarakat,dan lain-lain. (Ahmad Syahid:2002).
Setiap pesantren sebagai institusi pendidikan harus memiliki ke-3 sub sistem ini, apabila kehilangan salah satu dari ke- 3 nya belum dapat dikatakan sebagai sistem pendidikan pesantren.
Sistem pendidikan ini banyak membawa keuntungan antara lain:
saat terdapat prilaku santri baik yang terkait dengan upaya pengembangan intelektualnya maupun kepribadianya. Dalam teori pendidikan diakui bahwa belajar satu jam yang dilakukan lima kali lebih baik dari pada belajar lima jam yang dilakukan sekali, padahal rentangan waktunya sama.
2. Proses belajar dengan frekuensi tinggi dapat memperkokoh pengetahuan yang diterima.
3. Adalah adanya pembiasaan interkasi yang berjalan dengan baik yang melibatkan antara sesama santri, santri dengan ustadz maupun santri dengan kyai. (Arifin Mudjamil Komar:2003)
Hal ini merupakan kesempatan terbaik misalnya untuk mentradisikan percakapan bahasa Arab guna membentuk lingkungan bahasa Arab (Bi’ah Arabiyah) atau secara general lingkungan bahasa (bi’ah lughawiyah) baik bahasa Arab maupun bahasa Inggris.
2. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren
Pesantren yang masih tetap mempertahankan sistem pendidikan khas Pondok Pesanten, baik kurikulum maupun metode pendidikannya, bahan pelajarannya meliputi ilmu-ilmu agama islam, dengan mempergunakan kitab-kitab klasik berbahasa arab, sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing santri. Pembelajaran dengan sistem badongan dan sorogan masih tetap dipertahankan, tetapi sudah banyak yang menggunakan sistem klasikal. (Departemen Agama Republik Indonesia:2000)
Sistem pengajaran Pondok modern berbeda dengan Pondok Pesantren Salafiyah pada umumnya. Di Pondok modern telah dipergunakan sistem klasikal dengan menggunakan media belajar yang sudah modern atau canggih. Orientasi pendidikannya lebih mementingkan penguasaan ilmu alat, seperti bahasa Arab, dan bahasa Inggris. Penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris belum menjadi penekanan utama di Pondok Pesantren salafiyah. Pondok modern juga mempraktekan bahasa Inggris dan bahasa Arab di lingkunganya sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. (Nercholis Madjid:1997)
Pondok modern berusaha mewujudkan sistem yang mendukung dalam penguasaan ilmu Agama dan Umum, melihat dengan berkembangnya zaman serta pesatnya globalisasi yang ada menuntut santri untuk lebih menguasai selain bahasa Arab dan Inggris yang menjadi skilss individu masing masing juga harus meguasai keahlian di bidang lain, baik di budang otomotif, tekhnisi ringan, dan pengetahuan ilmu teknologi.
mempengaruhi dalam melakukan kegiatan bersama untuk mencapai tujuan. ( A. K. Ahmad Muda:2006)
Sistem menurut para ahli, yaitu:
1 . Menurut Davis, G.B, sistem merupakan gabungan elemen yang bekerja sama untuk mencapai target.
2 . Menurut Harijono Djodjodihardjo, sistem merupakan gabungan objek yang memiliki hubungan secara fungsi dan hubungan antara setiap ciri obyek, secara keseluruhan menjadi satu kesatuan yang berfungsi.
Sedangkan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. (Undang-undang No.20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1)
Jadi, sistem pendidikan adalah totalitas interaksi dari seperangkat unsur-unsur pendidikan dan bekerja sama secara terpadu, dan saling melengkapi satu sama lain menuju tercapainya tujuan pendidikan yang telah menjadi cita-cita bersama pelakunya.
Karena itu, pendidikan pesantren memiliki dasar yang cukup kuat, baik secara ideal, konstitusional maupun teologis. Landasan ideologis ini menjadi penting bagi pesantren, terkait eksistensinya sebagai lembaga pendidikan yang sah, menyejarah dan petunjuk arah bagi semua aktifitasnya”.
Secara umum ada 3 landasan yang digunakan pesantren dalam menjalankan tugasnya dalam menjalankan tugasnya sebagai lembaga pendidikan, yaitu dasar ideologis, konstitusional dan teologis. Ketiga dasar ini menjadi satu kesatuan yang utuh dalam memperkokoh struktur pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang tentunya diakui oleh negara. Lebih jelas Muthohar, menjelaskan bahwa, setidaknya ada 3 landasan kelembagaan pesantren, yaitu :
1. Dasar ideal pendidikan pesantren adalah falsafah negara pancasila, yakni sila pertama yang berbunyi: Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini mengandung pengertian bahwa seluruh bangsa Indonesia percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan tegasnya harus beragama.
pendidikan yang sejenis.
3. Teologis sedangkan dasar yang dipakai adalah Al-Qur’an dan Hadist. Dasar Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nahl ayat 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
serta bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”
Disamping itu, pendidikan pesantren didirikan atas dasar tafaqquh fiddin, yaitu kepentingan umat untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama, dasar pemikiran ini relavan dengan firman Allah SWT, yaitu :
Artinya :
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya,’’(Q.S At taubah : 122).
Ayat diatas menjiwai dan mendasari pendidikan pesantren, sehingga seluruh aktifitas keilmuan dalam pesantren pada dasarnya ditujukan untuk mempertahankan dan menyebarkan agam Islam.
Daud dan Nasa’i).
Ayat Al-Qur’an dan Hadist diatas merupakan perintah agama dan sekaligus menjadi dasar kewajiban mencari ilmu pengetahuan dan mengajakarnya kepada orang lain walaupun hanya sedikit. Sehingga pada akhirnya, para agen pembaharu (agent of change) yang sesungguhnya akan lahir dari dalam rahim pesantren. Karena sesuai dengan tujuan pesantren yaitu menciptakan kader ulama yang menjunjung tinggi agama namun tetap melek ilmu pengetahuan. Pada hakikatnya pesantren tidak bisa lepas dari dasar utamanya sebagai lembaga pendidikan islam, yaitu dasar teologisnya.
a. Tujuan Pendidikan Pondok Pesantren
Tujuan pendidikan pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat dan berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat. Idealnya pengembangan kepribadian yang dituju adalah kepribadian muhsin, bukan sekedar muslim.
mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral dan menyiapkan para santri untuk hidup sederhana dan bersih hati.( Istihana:2015)
Karenanya untuk mengetahui tujuan dari pada pendidikan yang diselenggarakan oleh pesantren, maka jalan yang harus ditempuh adalah dengan pemahaman terhadap fungsi yang dilaksanakan dan dikembangkan oleh pesantren itu sendiri baik hubunganya dengan santri maupun dengan masyarakat sekitarnya.
Hal demikian juga yang pernah dilakukan oleh para Wali di Jawa dalam merintis suatu lembaga pendidikan Islam, misalnya Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang dianggap sebagai bapak pendiri pondok pesantren. Sunan Bonang atau juga Sunan Giri. Yaitu mereka mendirikan pesantren bertujuan lembaga yang dipergunakan untuk menyebarkan agama dan tempat mempelajari agama Islam.(Abdurahman Wahid:2002)
Hal demikian juga yang pernah dilakukan oleh para Wali di Jawa dalam merintis suatu lembaga pendidikan Islam, misalnya Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang dianggap sebagai bapak pendiri Pondok Pesantren. sunan Bonang atau juga sunan Giri. Yaitu mereka mendirikan pesantren bertujuan lembaga yang dipergunakan untuk menyebarkan agama dan tempat mempelajari agama Islam. (Marwan Sarisjo:1980)
dan yang paling utama pesantren adalah pesantren diperuntukan mempelajari dan mendalami ilmu pengetahuan agama Islam, dan fungsi-fungsi tersebut hampir mampu mempengaruhi pada kebudayaan sekitarnya, yaitu pemeluk Islam yang teguh bahkan banyak melahirkan ulama yang memiliki wawasan ke Islaman yang tangguh.
Demikian tujuan pesantren pada umumnya tidak dinyatakan secara eksplisit, namun dari uraian-uraian diatas secara inplisit dapat dinyatakan bahwa tujuan pendidikan pesantren tidak hanya semata-mata bersifat keagamaan (ukhrawi semata), akan tetapi juga memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat.
b. Karakteristik Sistem Pendidikan Pondok Pesantren
Ada beberapa aspek yang merupakan elemen dasar dari pesantren yang perlu dikaji lebih mendalam mengingat pesantren merupakan sub kultur dalam kehidupan masyarakat kita sebagai suatu bangsa. Walaupun pesantren dikatakan sebagai sub kultur, sebenarnya belum merata dimiliki oleh kalangan pesantren sendiri karena tidak semua aspek dipesantren berwatak sub kulturil. Bahkan aspek-aspek utamanya pun ada yang bertentangan dengan adanya batasan-batasan biasnya diberikan kepada sebuah sub kultur.
a. Eksistensi pesantren sebagai sebuah lembaga kehidupan yang menyimpang dari pola kehidupan umum di negeri ini.
b. Terdapatnya sejumlah penunjang yang menjadi tulang kehidupan pesantren.
c. Berlangsungnya proses pembentukan tata nilai yang tersendiri dalam pesantren, lengkap dengan simbol-simbolnya.
d. Adanya daya tarik keluar, sehingga memungkinkan masyarakat sekitar menganggap pesantren sebagai alternatif ideal bagi sikap hidup yang ada di masyarakat itu sendiri.
e. Berkembangnya suatu proses pengaruh mempengaruhi dengan masyarakat diluarnya, yang akan berkulminasi pada pembentukan nilai-nilai baru yang secara Universal diterima oleh kedua pihak.
Pesantren sebagai bagian dari masyarakat yang mempunyai elemen dasar yang membedakan dengan lembaga pendidikan lain. Ketahananya membuat pesantren tidak mudah menerima suatu perubahan yang datang dari luar karena memiliki suatu benteng tradisi sendiri. Elemem-elemen dasar tersebut antara lain:
1. Asrama santri
untuk mengongkosi pembiayaan keseharian santri.
Pondok bagi santri merupakan ciri khas yang khusus dari tradisi pesantren yang membedakannya dengan sistem pendidikan tradisional di masjid-masjid yang berkembang di kebanyakan wilayah islam di negara- negara lain. Pondok sebagai tempat latihan bagi para santri agar mampu hidup mandiri dalam masyarakat
1. Masjid
Masjid berasal dari bahasa Arab “sajada-yasjudu-sujudan” dari kata dasar itu kemudian di masdarkan menjadi “masjidan” yang berarti tempat sujud atau setiap ruangan yang digunakan untuk tempat beribada. (Fr.Louis Ma’luf:1958)
Masjid juga berarti tempat shalat berjamaah. Fungsi masjid dalam pesantren bukan hanya sebagai tempat shalat saja, melainkan sebagai pusat pemikiran segala kepentingan santri termasuk pendidikan dan pengajaran.
Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri terutama dalam praktek shalat, khutbah dan pengajaran kitab- kitab klasik (kuning). Pada sebagian pesantren masjid juga berfungsi sebagai tempat i’tikaf, melaksanakan latihan-latihan (riyadhoh) atau suluh dan dzikir keseharian baik zikir yang melibatkan banyak santri dan ustad maupun yang bersifat sendiri dan pribadi. 2. Santri
Madjid juga memiliki pendapat berbeda. Dalam pandangannya asal usul kata “Santri” dapat dilihat dari dua pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “Santri” berasal dari kata “sastri”, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang artinya melek huruf.
Pendapat ini menurut Nurcholish Madjid didasarkan atas kaum santri kelas literary bagi orang Jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa, dari kata “cantrik” berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru ini pergi menetap. (Yasmadi:2005) Santri adalah sekelompok orang yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan„ulama’. Santri adalah siswa atau mahasiswa yang dididik dan menjadi pengikut yang melanjutkan perjuangan ulama’ yang setia. Pondok Pesantren didirikan dalam rangka pembagian tugas mu’minin untuk iqomatuddin, sebagaimana yang disebutkan dalam al- Qur‟an Surat atTaubahayat 122.
Artinya :
“tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. Bagian pertama ayat ini menjelaskan keharusan adanya pembagian tugas mu‟
masing-masing. Dengan demikian, sibghah /predikat Santri adalah julukan kehormatan, karena seseorang bisa mendapat gelar Santri bukan sematamata karena sebagai pelajar/ mahasiswa, tetapi karena ia memiliki akhlak yang berlainan dengan orang awam yang ada disekitarnya. Buktinya adalah ketika ia keluar dari pesantren, gelar yang ia bawa adalah Santri dan santri itu memilki akhlak dan kepribadian tersendiri.
(Abdul Qadir Jailani:1994)
Penggunaan istilah santri ditujukan kepada orang yang sedang menuntut pengetahuan agama di Pondok Pesantren. sebutan santri senantiasa berkonotasi mempunyai kiai. (Sukamto:1999)
Adanya santri merupakan unsur penting, sebab tidak mungkin dapat berlangsung kehidupan pesantren tanpa adanya santri. Seorang alim tidak dapat disebut sebagai kyai jika tidak memiliki santri. Biasanya terdapat dua jenis santri yaitu:
1. Santri Mukim, yaitu santri yang datang dari jauh dan menetap di lingkungan pesantren. Santri mukim yang paling lama biasanya diberi tanggung jawab untuk mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari dan membantu kyai untuk mengajar santri-santri muda tentang kitab-kitab dasar dan menengah.
2. Santri Kalong, yaitu santri yang berasal dari desa-desa sekitar pesantren dan tidak menetap di pesantren, mereka mengikuti pelajaran dengan berangkat dari rumahnya dan pulang kerumahnya masing-masing sesuai pelajaran yang diberikan. (Harun Nasutionet:1993)
3. Kyai
kyai itulah sebagai pendiri pesantren sehingga pertumbuhan pesantren tergantung pada kemampuan kyai sendiri. Dalam bahasa jawa kata kyai dapat dipakai untuk tiga macam jenis pengertian yang berbeda sebagai mana diriwayatkan oleh Hasyim Munif yaitu:
- Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang tertentu yang dianggap keramat. Umpamanya “kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada di Keraton Yogyakarta.
- Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.
- Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada orang yang ahli ilmu.
Dengan adanya sosok kyai di sebuah pesantren maka masyarkat umum akan dengan sendirinya mengingat sebuah pesantren sesuai dengan nama kyai tersebut, karena pengkhususan pada perilaku serta penyebutan “kyai” tersebut oleh masyarakat Indonesia umumnya dan di jawa khususnya.
a. Aspek aspek sistem pendidikan Pondok Pesantren
Ada beberapa aspek sistem pedidikan pesantren yang dikaji dalam skripsi ini , meliputi :
a. manajemen pendidikan pesantren
pendidikan pesantren melalui manajemen yang sesuai dengan karakteristiknya. Menurut Nanang Fatah (2000) Manajemen diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efesien. Dalam pelaksanaanya, manajemen di setiap pesantren tidak sama, sesuai dengan kemampuan pesantren dalam melakukan pembaharuan. Pesantren menurut Hasan Basri sekurang-kurangnya pesantren dibedakan menjadi tiga corak yaitu:
1) Pesantren Tradisional
Pesantren tradisional yaitu pesantren yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya dalam arti tidak mengalami transformasi yang berarti dalam sistem pendidikannya, manajemen (pengelolaan) pendidikanya masih sepenuhnya berada pada seorang kyai, dan kyai sebagai satu satunya sumber belajar dan pemilik otoritas tertinggi di pesantren. (Imam Barnawi:1993)
2) Pesantren Transisional
sudah membebaskan santri untuk memberikan pendapat. Pada umumnya pesantren ini tidak terdapat perencanaan-perencanaan yang tepat dan tidak mempunyai rencana induk pengembangan pesantren untuk jangka pendek maupun jangka panjang. (Masthuhu:2004)
3) Pesantren Modern.
Pesantren modern, pesantren telah mengalami transformasi yang signifikan baik dalam sistem pendidikanya maupun unsur-unsur kelembagaanya. Pesantren ini telah dikelola dengan manajemen dan administrasi yang sangat rapi dan sistem pengajaranya dilaksanakan dengan porsi yang sama antara pendidikan agama dan pendidikan umum, dan penguasaan bahasa Arab dan Inggris. Sejak pertengahan tahun 1970-an. (Lik Arifin Mansurnoor:2005)
F. Teori Interaksi
Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak- pihak yang terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi. Menurut Bonner (dalam Ali, 2004) interaksi merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.
Dari teori interaksi yang telah disebutkan saya berasumsi bahwa adanya komunikasi yang baik antara ustad dan santri, pengurus dan santri seerta penerapan pola asuh yang baik dapat menjadikan kemudahan santri dalam berproses menjadikan diri mereka lulusan atau alumni yang siap menyongsong dunia luar dan masyarakat yang menjadi lahan dakwah mereka . Faktor pendukung yang menjadikan santri dapat berhasil dalam mewujudkan tujuan awalnya menjadi anak yang sholeh dan siap terjun di tengah masyarakat ternyata cukup bervariasi.
G. Teori Kelompok Sosial
Menurut Ferdinand Tonnies, beliau mengklasifikasikan kelompok sosial menurut erat longgarnya ikatan antar anggotanya menjadi dua kategori yaitu Gemeinschaft
(Paguyuban) dan Gesellschaft (Patembayan).
1. Gemeinschaft (paguyuban) adalah jenis kelompok sosial (bentuk hidup bersama) dengan anggota-anggotanya memiliki ikatan batin yang murni, bersifat alamiah, dan kekal. Dalam kelompok sosial ini, pada umumnya beranggotakan kumpulan anggota keluarga, keluarga-keluarga yang berada pada satu lingkungan (tempat), dan bisa berasal dari kepercayaan (agama) yang sama. Ciri-ciri kelompok sosial ini adalah adanya hubungan perasaan kasih sayang, adanya keinginan untuk meningkatkan kebersamaan, tidak suka menonjolkan diri, selalu memegang teguh adat lama yang konservatif, terdapat ikatan batin yang kuat antar anggota, hubungan antar anggota bersifat informal. Contoh kelompok sosial gemeinschaft seperti ikatan keluarga suku Waikelak, ikatan keluarga-keluarga Flores di Palembang; dan perkumpulan keluarga-keluarga RT 28, kelurahan 20 Ilir Palembang.
Kelompok sosial ialah sebuah kumpulan orang-orang yang saling bekerjasama, saling berinteraksi dan juga saling menyadari kepentingan diantara sesama anggota. Atau ada juga pengertian lain dari kelompok sosial yakni sebuah kesatuan sosial yang yang juga terdiri dari dua individu atau juga lebih supaya saling berinteraksi.
Kelompok bisa untuk diciptakan oleh anggota masyarakat serta kelompok juga bisa memberikan pengaruh terhadap perilaku anggotanya, sedangkan menurut George Homans bahwa kelompok sosial ialah kumpulan individu yang melakukan sebuah kegiatan, interaksi dan juga mempunyai perasaan supaya membentuk sebuah keseluruhan yang terorganisasi dan juga berhubungan timbal balik.
Namun menurut Hendropuspito bahwa kelompok sosial ialah sebagai sebuah kumpulan nyata, teratur dan juga tetap dari individu-individu yang melaksanakan sebuah peran-perannya secara berkaitan guna untuk mencapai tujuan bersama. Begitu juga yang dilakukan para santri dalam keseharian mereka para santri juga bekumpul dan dominan bergaul dan berinteraksi sesuai dengan kebiasaan dan kecenderungan mereka masing-masing
H. Kerangka berfikir
Kehidupan yang dijalani oleh seorwang santri menentukan langkah kedepan santri tersebut di masa yang akan datang, adanya dorongan dari banyak pihak akan menjadikannyakuat dalam survival selama menjadi santri di pondok pesantren, begitupun sebaliknya dorogan yang berefek negative juuga akan mengendurkan santri dalam bersemangat menubtut ilmu di pondok pesantren.
seorang santri akan semakin berat tanpa ada kontribusi rasng lain di sekelilingnya. Kesiapan sebelum masuk ke kehidupan pesantren harus ada,, mengingat apapun akan dilakukan serba jauh dari ketergantungan orang lain seperti di rumah maka sudah selayaknya dukungan orang tua agar mengajar serta membekali hal-hal yang bersifat mandiri harus sudah dimiliki, dukungan teman serta senior harus sejalan beriringan sesuai dengan penanaman ilmu agama yang diajarkan dengan harapan lancarnya pendidikan selaras dengan sisi sosiologis seorang santri, kelompok sosial yang ada di lingkungan pesantren membantu juga untuk berkembang dan bertahan di dalamnya.
Komunikasi didalam kelompok akan menguatkan anggotanya, maka dari itu santri pun mempunyai kelompok masing-masing yang terbentuk dari kesamaan-kesamaan yang ada . walaupun tidak formal dan terstrukur perannya sangat mempengaruhi sisi sosiologis santri, keberhasilan yang dicapai santri bila menyelesaikan studi dengan lancar.
III. METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Penelitian merpakan suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui seluk-beluk sesuatu. Kegiatan ini biasanya muncul dan dilakukan karena ada sesuatu masalah yang memerlukan jawaban atau ingin membuktikan sesuatu yang telah lama dialaminya selama hidup, atau untuk mengetahui berbagai latar belakang terjadinya sesuatu. (Beni Ahmad Saebani:2008)
Penelitian ini adalah berupa penelitian kualitatif, sebab itu pendekatan yang melalui pendekatan kualitatif dengan memakai bentuk stadi kasus (case Study).
( Neong Muhajir:1996) Maksudnya adalah dalam penelitian kualitatif data yang
dikumpulkan bukan berupa angka-angka, melainkan data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainya. (Lexy J. Meoleong:1996)
Menurut Moh. Nazir (2002) Sehingga yang menjadi tujuan dalam penselitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realitas empiris dibalik fenomena yang adasecara mendalam, rinci dan tuntas. Oleh karena itu pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif (naturalistik) dengan rancangan studi kasus. Latar penelitian ini memiliki karakteristik:
(3) instrumen utamanya adalah manusia dan sistem pengelolaan, serta (4) sifatnya diskritif analitik.
Kirk Miller dan Meleong (1996) mendefinisikan, bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasanya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahanya.
Adapun ciri-ciri penelitian kualitatif, adalah : (1) mempunyai latar alami (the natural setting) sebagai sumber data langsung dan peneliti merupakan instrumen kunci (the key instrument), (2) beersifat diskritif, yaitu memberikan situasi tertentu dan pandangan tentang dunia secara deskriptif, (3) lebih memperhatikan proses dari pada hasil atau produk semata, (4) cenderung menganalisa data secara induktif, dan (5) makna merupakan esensial. (Neong Muhajir:1996)
Sejalan dengan ciri-ciri penelitian kualitatif tersebut maka penelitian yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al mushin ,Metro Utara , kota Metro adalah menggunakan metode penelitian kualitatif.
B. Lokasi Penelitian
C. Fokus Penelitian
Untuk mempermudah analisis yang dilakukan oleh saya maka fokus penelitian ini ditargetkan kepada kegiatan santri serta rutinitasnya yang menjadi bagian keseharian santi Pondok Pesantren Islam Al Muhsin Metro, diantaranya yaitu ;
1. Apakah alasan santri mau menjadi santri di Pondok Pesantren Al Muhsin ?
2. Bagaiamanakah cara mereka bertahan selama menjadi santri di Pondok Pesantren Al Muhsin
D. Sumber Data
Penelitian ini menggunakan paradigma naturalistik, dengan cara mengumpulkan data yang dilakukan oleh peneliti sendiri dengan memasuki lapangan. Peneliti menjadi instrument utama yang terjun ke lokasi serta berusaha sendiri menggumpulkan informasi melalui observasi dan wawancara. (Nasution:1996) Pada penelitian ini data yang terkumpul utamanya dalam bentuk kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Data tersebut diperoleh melalui kegiatan mengamati dan interview serta pencatatan.
E. Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan hal yang sangat penting dalam dunia penelitian, oleh karena itu harus dilakukan secara serius dan sistematis. Adapun teknik yang saya lakukan dalam teknik pengumpulan data antara lain :
1. Metode Interview atau Wawancara
Wawancara menurut Lexy J. Meoleong (1996) adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). Dalam hal ini untuk memperoleh data, metode wawancara digunakan terhadap pengasuh Pondok Pesantren, pengurus Pondok Pesantren dan beberapa santri Pondok Pesantren. Interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal atau percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi. Pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal serta dilakukan dengan keadaan saling berhadapan. (Moh. Nazir:2005) Interview digunakan dengan pengasuh, pengurus, dan santri Pondok Pesantren Al Muhsin, Metro Utara, Kota Metro.
2. Metode Observasi
Tujuan observasi adalah untuk mendapakan gambaran tentang kehidupan sosial yang sulit diketahui dengan metode-metode lainya.
Dengan observasi kita akan dengan lebih jelas mengetahui tentang sebuah permasalahan dan kemudian mencari jalan atau petunjuk untuk memecahkanya. Dalam penelitian ini observasi ditujukan pada sistem pendidikan pondok pesantren tentang Bagaimana cara santri survival di dalam lingkungan Pondok Pesantren Al Muhsin guna meyelesaikan masa studinya di tempat tersebut.
Dalam pelaksanaanya observasi terbagi dua jenis, yaitu :
1. Observasi partisipasi ialah observasi dimana peneliti terlibat langsung dalam kegiatan pengamatan di lapangan. Peneliti menjadi observer dan menjadi bagian dari kelompok yang ditelitinya. (Suharsimi Arikunto:2006) 2. Observasi non partisipasi adalah yang ketika pelaksanaanya tak melibatkan
peneliti sebagai observer atau kelompok yang diteliti.
Pada penelitian ini jenis yang digunakan peneliti yaitu obsevasi partisipasi. Dimana peneliti terlibat langsung dalam penelitian di lapangan. data yang diambil berupa dokumen Pondok Pesantren, Foto santri dalam melakukan kegiatan keseharian santri di Pondok Pesantren Al Muhsin.
3. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi menurut Suharsimi Arikunto (2006) adalah suatu cara pengumpulan data dengan menyelidiki, bagan, struktur organisasi, grafik, arsip-arsip dan lain-lain. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah tenaga kependidikan, jumlah santri dan santriwati.Jadi, metode dokumentasi adalah metode yang mengumpulkan data-data tertulisyang terdapat dilapangan, dengan tujuan untuk mengetahui keadaan obyek baik yang terlah lalu, sekarang dan prediksi yang akan datang.
F. Uji Keabsahan Data
Dalam kaitannya dengan penelitian ini, untuk menguji keabsahan data agar data yang dikumpulkan akurat serta mendapatkan makna langsung terhadap tindakan dalam penelitian. Maka saya menggunakan metode triangulasi data yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. (M. Amir:2004)
Dalam penelitian ini yang digunakan adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
1. Triangulasi Sumber
Cara meningkatkan kepercayaan penelitian menurut Lexy. J. Mo loeng (1996) adalah dengan mencari data dari sumber yang beragam yang masih terkait satu sama lain. Peneliti perlu melakukan eksplorasi untuk mengecek kebenaran data dari beragam sumber.Hal ini dapat dicapai dengan jalan:
-Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; -Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi;
penelitian dengan apa yang dikataka sepanjang waktu;
-Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang;
-Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan .
Terus-menerus selama analisis data yang dilakukan terus-menerus selama penelitian berlangsung, dilakukan mulai dari analisis data adalah mengumpulkan data sampai pada tahap penulisan laporan. (Afrizal,:2014) Untuk menganalisis data yang telah diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, maka saya menggunakan teknik analisa deskriptif kualitatif yaitu pengumpulan data berupa kat-kata, bukan angka-angka.
Dalam penelitian ini untuk menganalisis data yang sudah diperoleh adalah cara deskriptif (non-statistik) yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggambarkan data yang diperoleh dengan kata-kata atau kalimat yang dipisahkan untuk kategori untuk memperoleh kesimpulan yang dimaksud untuk mengetahui keadaan sesuatu mengenai apa dan bagaimana, berapa banyak, sejauh mana dan sebagainya.
Menurut Bodgan dan Biklen analisis data kualitatif merupakan upaya yang dilakukan dengan cara bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilah- milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensisnya, mencari dan menemukan apa yang penting dan apa yang di pelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. (Lexy J. Maleong:1996)
data yang ada, sehingga memberikan gambaran nyata terhadap responden. Metode penelitian kualitatif tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika matematis, prinsip angka, atau (metode statistic). (Dedy Mulyana:2001)
Dalam kaitanya dengan penelitian ini, peneliti menggunakan model analisis interaksi atau interactive analysys models dengan langkah-langkah yang ditempuh yaitu sebagai berikut :
1. Pengumpulan Data (Data Collection)
Dilaksanakan dengan cara pencapaian data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan bentuk data yang ada di lapangan, kemudian melaksanakan pencatatan data di lapangan.
a. Reduksi Data
b. Penyajian Data (Display Data)
Dalam hal ini Miles dan Huberman (1984) mengatakan yang paling sering di gunakan untuk menyajikan data dalam penelitia kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Sedangkan data yang sudah direduksi dan diklasifikasikan berdasarkan kelompok masalh yang teliti, sehingga memungkinkan adanya penarikan kesimpulan atau verivikasi terhadap sistem pendidikan Pondok Pesantren (Studi Kasus Pondok Pesantren Al Muhsin Metro Utara Kota Metro)
c. Verifikasi (Menarik Kesimpulan)