(Skripsi)
Oleh
SITI MARHAMAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGEMBANGAN MODUL TATA SURYA BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL KELAS X SMA NEGERI 1 NATAR KABUPATEN
LAMPUNG SELATAN TAHUN 2019
Oleh
SITI MARHAMAH
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengembangan dan kelayakan
modul tata surya berbasis nilai-nilai kearifan lokal kelas X di SMAN 1 Natar.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengacu pada model
pengembangan ADDIE yang meliputi, Analysis, Desaign, Development,
Implementation, dan Evaluation. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan angket. Data yang diperoleh adalah data kualitatif dan
kuantitatif. Hasil uji ahli diperoleh skor sebesar 80,8% dengan kategori “Layak”, sedangkan hasil uji oleh guru guru geografi diperoleh skor sebesar 81,42% dengan
kategori “Sangat Layak”. Untuk hasil uji coba kelompok kecil dan kelompok besar masing-masing sebesar 82,06% dengan kategori “Sangat Layak” dan
ABSTRACT
THE DEVELOPMENT OF A SOLAR SYSTEM MODULE BASED ON THE VALUES OF LOCAL WISDOM CLASS X SMAN 1 NATAR SOUTH
LAMPUNG REGENCY IN 2019
By
SITI MARHAMAH
This study aims to determine the result of the development and feasibility of solar
system module based on the values of local wisdom class X at SMAN 1 Natar.
This research is a development research that refers to the ADDIE development
model includes, Analysis, Desaign, Development, Implementation, and
Evaluation. Data collection techniques in this study are using a questionnaire. The
expert test result obtained a score of 80,8% with the category “feasible”, while the
test result by geography teacher obtained a score of 81,42% with the category
“very feasible”. For the result of trials of small groups and large groups respectively 82,06% with the category “very feasible” and 84,90% with the category “veri feasible”. Thus it can be concluded that the solar system module based on local wisdom values is feasible to use and has been tested by expert.
Oleh
Siti Marhamah
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
pada
Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Penulis dilahirkan di Banyuwangi, 11 Juni 1997. Penulis
merupakan anak keempat dari 4 bersaudara pasangan
Bapak Mustangin dan Ibu Siyah.
Penulis telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar
di SD Negeri Mandah pada tahun 2009, pendidikan
Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 4 Natar pada
tahun 2012, dan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Natar pada
tahun 2015. Pada tahun 2015, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi
Pendidikan Geografi, Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung melalui jalur PMPAP.
Selama menjadi mahasiswa penulis melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata
Kependidikan Terintegrasi (KKN-KT) di Desa Sribhawono Kecamatan Bandar
Sribhawono Lampung Timur dan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA
MOTTO
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”
(Q.S Al-Insyirah Ayat 5-6)
“Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil. Kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik”
(Evelyn Underhill)
Bismillahirrohmanirrohim
Puji syukur kehadirat Allah SWT, kupersembahkan karya sederhana ini sebagai tanda cinta, kasih sayang, dan baktiku kepada:
Kedua Orangtuaku (Bapak Mustangin dan Ibu Siyah) Yang telah membesarkan dan mendidikku dengan penuh kasih sayang, selalu memberi doa dan motivasi, serta memerikan dukungan berupa moril maupun materil.
SANWACANA
Alhamdulillahirobbil’alamin, Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
skripsi yang berjudul “Pengembangan Modul Tata Surya Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Kelas X di SMAN 1 Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun
2019” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahauan Sosial
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak baik
secara langsung maupun tidak langsung. Penulis mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Drs. Yarmaidi, M.Si., selaku Pembimbing I, Bapak Dr. Sugeng
Widodo, M.Pd., selaku Pembimbing II sekaligus Pembimbing Akademik (PA),
dan Bapak Dr.Pargito, M.Pd., selaku pembahas, yang telah meluangkan waktu
serta selalu memberikan arahan demi terselesaikannya skripsi ini.
Dalam kesempatan ini dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan
terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada:
1. Bapak Prof. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
3. Bapak Drs. Supriyadi,M.Pd., selaku Wakil Dekan Bidang Umum dan
Keuangan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
4. Ibu Dr. Riswanti Rini, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan
dan Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
5. Bapak Drs. Tedi Rusman, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak Dr. Sugeng Widodo, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Geografi yang telah memberikan kemudahan penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
7. Bapak dan Ibu Dosen serta Staff Program Studi Pendidikan Geografi di
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung yang telah
memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.
8. Drs. Sumarno, selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Natar yang telah memberikan
izin penulis mengadakan penelitian di sekolah tersebut.
9. Ibu Nur Azizah, S.Pd., dan Ibu Ismiyati, S.Pd., selaku Guru Geografi SMAN
1 Natar yang telah meluangkan waktu serta selalu membimbing selama
peneliti melakukan penelitian.
10. Bapak, Ibu, serta Kakakku tercinta yang selalu memberikan dukungan,
motivasi, dan semangat kepada penulis. Terima kasih atas doa yang selalu
11. Teman-teman seperjuangan Geografi 2015, yang telah memberikan cerita
selama menempuh pendidikan di Universitas Lampung, semoga langkah kita
kedepannya diperlancar oleh Allah SWT.
12. Sahabat-sahabatku yang memberikan semangat serta selalu membantu dalam
urusan skripsi ini (Nur, Selly, Ulfa, Rahayu, Lulu, dan Febri), semoga urusan
kita selalu diperlancar oleh Allah.
13. Teman-teman yang selalu memberikan solusi atas penelitian ini (Clara dan
Salsabila), terima kasih atas kebaikan kalian yang selalu membantu
memberikan solusi disaat peneliti mengalami kesulitan dalam melakukan
penelitian.
14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak
dapat disebutkan satu per satu, sehingga dengan bantuan dan dukungan yang
telah diberikan mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini maka
penulis mengharapkan kritik dan saran sebagai pembelajaran di masa yang akan
datang. Semoga Allah SWT membalas amal baik kita semua dan semoga skripsi
ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Bandar Lampung, Januari 2020
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 8
C. Batasan Masalah ... 8
D. Rumusan Masalah ... 9
E. Tujuan Penelitian... 9
F. Spesifikasi Produk yang Akan Dihasilkan ... 9
G. Manfaat Penelitian... 10
H. Ruang Lingkup Penelitian ... 11
II.TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka ... 14
1. Pengertian Belajar ... 14
2. Teori Belajar ... 14
3. Pembelajaran ... 16
4. Pembelajaran Geografi ... 17
5. Kearifan Lokal ... 18
6. Model ADDIE ... 19
7. Pengertian Modul ... 21
a. Karakteristik Modul ... 23
b. Pengembangan Modul ... 23
c. Sistematika Pengembangan Modul ... 24
d. Prosedur Penulisan Modul ... 26
8. Materi Pokok ... 28
a. Pengertian Jagad Raya ... 28
b. Teori-Teori Asal Mula Jagad Raya ... 29
c. Tata Surya ... 29
d. Teori Terbentuknya Tata Surya... 30
e. Karakteristik Anggota Tata Surya ... 31
B. Penelitian yang Relevan ... 34
C. Kerangka Pikir... 36
B. Prosedur Pengembangan ... 42
1. Tahap Analisis (Analysis)... 42
2. Tahap Perancangan (Desaign) ... 42
3. Tahap Pengembangan (Development) ... 43
4. Tahap Implementasi (Implementation) ... 43
5. Tahap Evaluasi (Evaluation) ... 43
C. Rencana Desain Produk ... 43
D. Validasi Desain Produk ... 44
E. Subjek Uji Coba ... 45
1. Uji Coba Kelompok Kecil ... 45
2. Uji Coba Kelompok Besar ... 45
F. Metode Pengumpulan Data ... 46
1. Uji Ahli... 46
a. Ahli Desain ... 46
b. Ahli Substansi ... 47
c. Ahli Bahasa ... 47
2. Uji Kelayakan Sasaran ... 47
G. Instrumen Penelitian ... 48
1. Instrumen Non-Tes ... 48
a. Lembar Validasi Modul ... 48
b. Angket Respon Peserta Didik ... 48
H. Analisis Data ... 48
1. Uji Kelayakan Modul Pembelajaran ... 50
2. Uji Kefektifan Modul Pembelajaran ... 51
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian ... 53
1. Analisis Kebutuhan ... 53
2. Perencanaan ... 55
3. Pengembangan Produk ... 55
4. Validasi Produk ... 63
5. Uji Coba Produk ... 66
a. Uji Coba Kelompok Kecil ... 67
b. Uji Coba Kelompok Besar ... 68
c. Hasil Uji Pretest dan posttest ... 69
B. Pembahasan ... 75
1. Prosedur Pengembangan Modul ... 75
2. Validasi Produk ... 78
3. Uji Coba Kelompok Kecil dan Kelompok Besar ... 84
4. Hasil Uji Pretes dan Posttes ... 88
5. Evaluasi ... 91
6. Kendala dan Keterbatasan Penelitian ... 93
V.KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 95
B. Saran ... 96
Halaman
1. Kriteria Penilaian Menggunakan Skala Likert... 49
2. Kualifikasi Penilaian Kevalidan... 49
3. Kriteria Skor Angket Respon Peserta Didik ... 50
4. Klasifikasi Kelayakan Modul ... 50
5. Distribusi Materi Pada Modul... 58
6. Aspek Penilaian Oleh Ahli Materi ... 64
7. Aspek Penilaian oleh Ahli Desain ... 64
8. Aspek Penilaian OlehAhli Bahasa ... 65
9. Aspek Penilaian Modul Oleh Guru Geografi... 66
10. Perhitungan Angket Kelompok Kecil ... 67
11. Perhitungan Angket Kelompok Besar ... 68
12. Data Uji Pretest dan Posttest Kecil... 70
13. Data Uji Pretest dan Posttest Besar ... 71
14. Hasil Uji Normalitas Pretest dan Posttest Kelompok Besar ... 72
15. Uji Homogenitas Pretest dan Posttest Kelompok Besar ... 73
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Buku K.Wardiyatmoko ... 4
2. Materi Tata Surya Buku Geografi Oleh K. Wardiyatmoko ... 6
3. Kerangka Pikir ... 38
4. Bagan Langkah Model Pengembangan ADDIE ... 42
5. Tampilan Cover Modul... 60
6. Cover Modul Sebelum dan Sesudah Revisi... 64
7. Perubahan Warna Tulisan Sebelum dan Sesudah Revisi... 65
8. Grafik Interaksi Kelompok Kecil dan Kelompok Besar ... 74
9. Grafik Aspek Penilaian Oleh Ahli Materi ... 78
10. Grafik Aspek Penilaian Oleh Ahli Desain ... 80
11. Grafik Aspek Penilaian Oleh Ahli Bahasa... 81
12. Grafik Aspek Penilaian Oleh Guru Geografi ... 83
13. Grafik Hasil Perhitungan Angket Kelompok Kecil ... 85
14. Kritik dan Saran Terhadap Modul ... 86
15. Grafik Hasil Perhitungan Angket Kelompok Besar... 87
16. Kritik dan Saran Terhadap Modul ... 88
17. Grafik Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Kecil... 89
[image:18.595.118.499.249.504.2]I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian
kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain
sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik jika si subjek itu mengalami atau
melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik (Sardiman, 1986:20). Proses belajar
pada prinsipnya bertumpu pada struktur kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Proses belajar yang mengaktualkan ranah-ranah tersebut tertuju pada bahan
belajar tertentu. Bahan ajar memegang peranan yang sangat penting dalam proses
pembelajaran yang dapat menentukan keberhasilan siswa.
Menurut National Center for Vocational Education Research, Bahan ajar
merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau
instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Bahan tersebut bisa
berupa bahan tertulis maupun bahan tak tertulis. Bahan ajar merupakan
seperangkat materi yang disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak
sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik
untuk belajar. Bahan ajar yang khususnya digunakan di sekolah tidak hanya
2
harus memenuhi kualifikasi tertentu, dengan kata lain bahan ajar yang digunakan
dapat menjadi penyempurna kurikulum.
Sistem kurikulum 2013 menggunakan pendekatan scientific learning dengan
empat model pembelajaran yaitu discovery, inquiry, problem based learning, dan
project based learning (Saryono, 2013:11). Pendekatan dan model pembelajaran yang ada dalam kurikulum 2013 menginginkan agar siswa mampu belajar secara
mandiri serta proses pembelajaran tidak lagi teacher center melainkan student
center. Oleh karena itu, dengan adanya bahan ajar seperti modul ini dapat melatih siswa untuk belajar secara mandiri dan siswa juga diharapkan dapat berperan aktif
selama proses pembelajaran.
Pada Permendikbus Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses dikatakan
bahwa setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Rencana
Pelaksana Pembelajaran (RPP). Salah satu elemen RPP adalah sumber
belajar.Salah satu tuntutan kompetensi pedagogik dan profesional guru adalah
mengembangkan sumber belajar dan bahan ajar. Pertimbangan bahan ajar yang
paling penting adalah kesesuaian antara bahan ajar yang dikembangkan dengan
tuntutan kurikulum dan perkembangan ilmu.Salah satu bahan ajar yang dapat
dikembangkan yaitu modul.
Modul adalah salah satu bahan ajar dalam bentuk cetak yang digunakan oleh
siswa sebagai alat untuk belajar secara mandiri dan digunakan seorang pendidik
untuk memberikan materi kepada siswa secara runtut. Modul merupakan media
yang digunakan untuk belajar mandiri karena di dalam modul terdapat petunjuk
Modul dapat digunakan oleh seorang guru dalam mengajar karena modul
merupakan bahan yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara
mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai
kompetensi yang diharapkan sesuai dengan SK dan KD.
SMAN 1 Natar merupakan salah satu sekolah yang berstatus negeri di wilayah
Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Sekolah ini dibangun pada tahun 1985 dan
selesai pada tahun 1986.Lokasi SMAN 1 Natar yaitu berada di Jalan Dahlia III
Desa Natar, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Sekolah ini terletak
di perbatasan Kabupaten Lampung Selatan dengan Kota Bandar Lampung dengan
jarak 6 km dan dapat dikatakan bahwa lokasi SMAN 1 Natar merupakan pintu
gerbang memasuki kota Bandar Lampung.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan April 2018, didapat
informasi yang bersumber dari guru geografi di SMAN 1 Natar, pada sekolah
tersebut sudah menerapkan kurikulum 2013 tetapi bahan ajar seperti modul belum
tersedia khususnya pada mata pelajaran geografi. Jadi selama proses pembelajaran
hanya menggunakan buku paket yaitu dari penulis K. Wardiyatmoko dan tidak
semua siswa memiliki buku paket tersebut. Dari hasil pengamatan peneliti yaitu
pada kelas X MIA 5, terhitung dalam satu meja hanya terdapat satu buku paket
saja. Artinya dalam satu meja hanya seorang siswa saja yang memiliki buku.
4
Gambar 1 Buku Geografi Oleh K. Wardiyatmoko
Selain sumber belajar, masih terdapat beberapa siswa yang kurang memperhatikan
materi yang disampaikan oleh guru. Hal ini dilihat dari kebiasan-kebiasaan siswa
selama proses pembelajaran berlangsung. Selama proses pembelajaran peneliti
mengamati masih terdapat siswa yang berada di belakang bermain game pada saat
guru menjelaskan. Selain itu, siswa laki-laki sering berpindah-pindah posisi
tempat duduk mereka, sehingga kondisi kelas menjadi kurang kondusif.
Berdasarkan data nilai mid semester mata pelajaran geografi tahun pelajaran
KKM. Ini membuktikan bahwa masih belum banyak siswa yang memahami
mengenai materi geografi yang disampaikan oleh guru.
Buku paket yang dimiliki siswa terdapat banyak bahasa yang sulit dimengeti oleh
siswa dan gambar yang dicantumkan belum begitu banyak dan terkesan pudar
terutama pada materi tata surya. Akibatnya, banyak siswa yang masih sulit dalam
menangkap materi yang telah diajarkan oleh guru. Hal ini tentunya berdampak
juga pada hasil belajar siswa. Mengingat materi tata surya merupakan materi yang
cukup sulit karena didalamnya banyak terdapat teori-teori pendukungnya. Jika
materi tersebut tidak dilengkapi dengan gambar yang jelas maka kemungkinan
besar siswa kurang mengerti dengan materi tata surya ini.
Berdasarkan kenyataan di atas, materi dirasa akan sulit dimengerti bagi siswa jika
tidak disertai dengan penjelasan dari guru. Oleh sebab itu, meskipun tersedia buku
paket tetapi guru masih harus menjelaskan di depan kelas agar siswa mengerti
terhadap materi tersebut. Akibatnya proses pembelajaran yang seharusnya
berpusat pada siswa namun karena materi yang tidak memungkinkan siswa belajar
menelaah sendiri maka waktu hanya habis digunakan oleh guru untuk
menjelaskan materi tersebut. Bahkan terdapat materi yang tidak dilengkapi
dengan gambar.Seperti contoh dikutip dari buku paket yang digunakan di SMAN
1 Natar (K. Wardiyatmoko, 2013: 92) sebagai berikut :
6
[image:24.595.117.503.109.430.2]planetesimal, yang kemudian menjadi planet-planet dan beredar pada orbitnya.
Gambar 2 Materi Tata Surya Buku Geografi Oleh K. Widiyatmoko
Berdasarkan kutipan di atas, jika siswa hanya diberi buku paket saja tanpa guru
menjelaskan dan memberikan gambaran maka siswa hanya bisa menerka-nerka
ilustrasi yang ada dalam penjelasan buku paket tersebut. Hal ini tentu sangat
berpengaruh karena mengingat cara belajar siswa itu berbeda-beda dalam
memahami materi. Bagi siswa yang memiliki gaya belajar visual maka
kemungkinan untuk mereka mengerti materi tanpa ada yang dilihat dirasa akan
sulit.
Para siswa yang memiliki gaya belajar visual cenderung memanfaatkan ketajaman
penglihatan sehingga proses belajar dilakukan dengan cara menyerap informasi
maupun memahami materi saat materi disajikan dalam bentuk gambar. Jika
seperti yang ada dalam buku paket tersebut yang hanya memberikan penjelasan
tanpa dilengkapi dengan gambar, maka akan menyulitkan para siswa dalam
memahami materi. Melihat kenyataan tersebut maka dirasa wajar jika motivasi
dalam mmengikuti pelajaran khususnya geografi cenderung rendah karena
menurut siswa bahan ajar yang kurang menarik kurang menarik.
Berdasarkan kenyatan-kenyataan di atas maka peran sumber belajar yang menarik
juga menjadi salah faktor yang dapat menentukan tingkat motivasi belajar siswa.
Motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang
belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku pada umumnya dengan
beberapa indicator meliputi : (1) adanya hasrat dan keinginan berhasil; (2) adanya
dorongan dan kebutuhan dalam belajar; (3) adanya harapan dan cita-cita masa
depan; (4) adanya penghargaan dalam belajar; (5) adaya kegiatan yang menarik
dalam belajar; (6) adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga
memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik (Hamzah B. Uno,
2011:37).
Salah satu materi yang menarik jika disajikan dalam bentuk gambar ini yaitu
materi tata surya. Namun, jika materi ini hanya berupa tulisan penjelasan saja
maka sulit bagi siswa untuk memahaminya. Maka dari itu, sumber belajar seperti
modul sangat dibutuhkan siswa untuk bisa lebih memahami isi materi.
Materi tata surya juga sangat erat kaitannya dengan nilai kearifan lokal dari
beberapa daerah. Kearifan lokal memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan
8
suatu pandangan maupun aturan. Diketahui banyak masyarakat di Indonesia yang
masih percaya dengan hal hal ghaib yang berhubungan astronomi. Oleh karena
itu, peneliti akan menambahkan nilai kearifan dalam modul tata surya ini agar
menjadi lebih menarik.
Peneliti memilih materi mengenai tata surya ini karena dalam materi tersebut
tidak bisa hanya berupa penjelasan dari guru. Dalam materi ini juga membutuhkan
sumber belajar yang dapat membantu siswa untuk belajar secara mandiri dengan
mempelajari apa yang terdapat dalam modul. Maka dari itu peneliti ingin
mengembangkan modul yang nantinya dapat berguna dalam proses pembelajaran
serta dapat menjadi salah satu bahan ajar yang dapat digunakan guru dalam
penyampaian materi.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada pemikiran-pemikiran di atas, maka didapat identifikasi masalah
sebagai berikut.
1. Kurangnya minat belajar geografi yang menyebabkan hasil belajar siswa
rendah.
2. Pembelajaran yang terjadi hanya berpusat pada guru.
3. Adanya ketergantungan siswa pada guru yang berperan sebagai satu satunya
sumber pengetahuan.
4. Belum dikembangkan modul tata surya yang berorientasi pada nilai kearifan
lokal.
5. Perlunya adanya sumber belajar yang dapat mudah dipahami oleh siswa
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, maka dibuat batasan masalah sebagai berikut.
1. Pembelajaran yang terjadi hanya berpusat pada guru.
2. Adanya ketergantungan siswa pada guru yang berperan sebagai satu satunya
sumber pengetahuan.
3. Belum dikembangkan modul tata surya yang berorientasi pada nilai kearifan
lokal.
4. Perlunya sumber belajar yang mudah dipahami oleh siswa sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas X di SMAN 1 Natar.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah tersebut, maka muncul beberapa rumusan masalah
sebagai berikut.
1. Bagaimana pengembangan modul materi Tata Surya Berbasis Nilai-Nilai
Kearifan Lokal yang ada di SMAN 1 Natar ?
2. Bagaimana tingkat kelayakan modul yang dikembangkan di SMAN 1 Natar ?
3. Bagaimana tingkat keefektifan modul yang dikembangkan di SMAN 1 Natar ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian pengembangan modul materi Tata
Surya ini yaitu sebagai berikut.
1. Mengetahui hasil pengembangan modul materi Tata Surya Berbasis
Nilai-Nilai Kearifan Lokal di SMAN 1 Natar.
10
3. Mengetahui tingkat keefektifan modul yang dikembangkan di SMAN 1
Natar.
F. Spesifikasi Produk yang Akan Dihasilkan
Produk pengembangan yang akan dihasilkan adalah bahan ajar geografi untuk
SMA/MA kelas X yang berorientasi pada siswa untuk mengetahui nilai-nilai
kearifan lokal dengan spesifikasi sebagai berikut: 1) bentuk bahan ajar yang
dikembangkan adalah bahan ajar cetak dalam bentuk buku, 2) materi bahan ajar
disusun dengan jenis dan ukuran huruf yang sesuai tata letak dan warna yang
menarik dan gambar-gambar yang kontekstual untuk mendukung uraian materi, 3)
bahan ajar yang dikembangkan terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut.
a. Judul bahan ajar
b. Judul setiap bab
c. KD dan peta konsep
d. Uraian materi
e. Nilai-nilai kearifan lokal
f. Rangkuman
g. latihan dan evaluasi akhir
h. Kunci jawaban
G. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian pengembangan modul materi Tata Surya
ini yaitu :
Modul materi Tata Surya Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal dapat
digunakan sebagai salah satu sumber belajar siswa.
2. Bagi guru
Modul materi Tata Surya Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal ini dapat
dijadikan panduan dalam mengajar siswa khususnya pada kelas X.
3. Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta pengalaman
peneliti, serta sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan di
Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pengetahuan Universitas Lampung.
4. Bagi Program Studi
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber bacaan serta sebagai acuan
dalam penelitian selanjutnya.
H. Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini adalah :
1. Ruang lingkup objek
Ruang lingkup objek penelitian ini yaitu modul materi Tata Surya.
2. Ruang lingkup subjek
Ruang lingkup subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 1
Natar.
3. Ruang lingkup waktu
12
4. Ruang lingkup ilmu
Ruang lingkup ilmu dalam penelitian ini yaitu pembelajaran geografi.
Geografi merupakan ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan
fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan, kewilayahan dalam
konteks keruangan. Dalam geografi dibahas juga bumi beserta isinya dan
proses pembentukannya. Dalam modul yang akan dikembangkan ini
mengangkat materi mengenai tata surya dimana bumi menjadi salah satu dari
anggota tata surya tersebut. Ini dimaksudkan untuk membuka wawasan serta
pengetahuan siswa mengenai alam semesta serta meningkatkan rasa syukur
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1. Belajar
Belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku seseorang setelah
mempelajari suatu objek (pengalaman, sikap, atau keterampilan) tertentu. Hal ini
identik dengan pandangan Good dan Brophy, yang menyatakan bahwa belajar
merupakan suatu proses atau interaksi yang dilakukan oleh seseorang dalam
memperoleh sesuatu yang baru dalam bentuk perubahan perilaku sebagai hasil
dari pengalaman itu sendiri (Hamzah B. Uno, 2011:15).
Berdasarkan penjelasan di atas, belajar merupakan suatu proses yang harus dilalui
oleh seseorang dalam rangka perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang
dialami seseorang setelah melewati proses belajar yaitu didapat dari pengalaman
tertentu dan perubahan tersebut cenderung menetap. Hal ini sebagai akibat adanya
proses dalam bentuk interaksi belajar terhadap suatu objek (pengalaman).
2. Teori Belajar
Teori belajar merupakan serangkaian bagian, definisi, dan dalil yang saling
berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai suatu
14
menjelaskan fenomena alamiah. Dalam belajar terdapat beberapa teori belajar
antara lain :
a. Teori Belajar Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai
akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain,
belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus dan respon (C. Asri Budiningsih, 2012:20). Belajar
menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang
berasal dari lingkungan (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2010:25).
Berdasarkan uraian mengenai teori belajar behavioristik di atas dapat
disimpulkan bahwa individu dikatakan telah belajar apabila ia sudah
menunjukkan perubahan dalam tingkah lakunya sebagai akibat adanya
stimulus yang diberikan sehingga individu tersebut meresponnya dengan
suatu perubahan tingkah laku.
b. Teori Belajar Kognitivistik
Teori belajar kognitivistik menekankan proses belajar daripada hasil belajar.
Bagi penganut teori kognitivistik belajar tidak sekedar melibatkan hubungan
antara stimulus dan respon. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses
berpikir yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik ilmu pengetahuan
dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang
terpatah-patah, terpisah-pisah, tetapi melalui proses yang mengalir,
bersambung-sambung, dan menyeluruh (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2010:30).
Berdasarkan uraian di atas, teori kogintivistik berbanding terbalik dengan
teori behavioristik. Jika dalam teori behavioristik lebih mengutamakan hasil
maka dalam teori kognitivistik ini lebih mengutakan proses. Proses belajar
individu dapat berupa usaha yang dilakukan secara aktif. Keaktifan itu dapat
berupa mencari pengalaman baru, mencari informasi baru, dan dapat juga
berupa pemecahan suatu masalah.
c. Teori Humanistik
Menurut teori humanistik, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada
manusia. Teori ini lebih tertarik pada gagasan tentang belajar dalam
bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa yang diamati dalam
dunia keseharian (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2010: 34).
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa teori humanistik ini
memandang belajar dari sudut kefilsafatan.Dimana pandangan mengenai
belajar tidak dilihat seperti halnya belajar yang ada pada kehidupan
sehari-hari, namun teori ini memandang belajar dalam bentuknya yang paling ideal.
d. Teori Belajar Konstruktivistik
Teori konstruktivistik memahami belajar sebagai pembentukan (kontruksi)
pengetahuan oleh si belajar itu sendiri.Pengetahuan ada di dalam diri
16
begitu saja dari otak seorang guru kepada siswa (Eveline Siregar dan Hartini
Nara, 2010: 39).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan
proses mendapatkan suatu pengetahuan melalui usaha seorang individu.
Artinya pengetahuan tersebut didapat dari aktivitas individu dalam
mengontruksi pengetahuannya sendiri melalui bahan, media, peralatan, serta
sarana lainnya.
3. Pembelajaran
Pembelajaran menurut Wina Sanjaya (2010: 102) adalah proses pengaturan
lingkungan yang diarahkan untuk mengubah perilaku siswa kearah positif dan
lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa. Sedangkan
menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa, guru, dan sumber
belajar pada satu lingkungan belajar.
Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi siswa untuk menguasai
kompetensi yang diharapkan.Pemberdayaan diarahkan untuk mendorong
pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya siswa mampu menjadi
pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar (Andi, 2013:
56). Pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung
proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang
berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami
siswa (Winkel, 1991). Tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran. Pertama,
atau mengubah struktur kognitif siswa.Kedua, berhubungan dengan tipe-tipe
pengetahuan yang harus dipelajari (fisik, sosial, logika).Ketiga, dalam proses
pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial (Wina Sanjaya, 2010:
107).
Berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku siswa akibat dari
adanya interaksi yang terjadi antara guru, siswa, maupun lingkungan belajar
siswa.
4. Pembelajaran Geografi
Geografi berasal dari dua kata, geo (earth) yang berarti bumi dan grafi (graphein)
yeng berarti penggambaran.Jadi geografi adalah ilmu yang menggambarkan
tentang bumi. Dari dua kata tersebut banyak kesimpulan tentang pengertian
geografi, geografi sebagai the study of the relationshis existing between life and
the physical environment, atau sebagai ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan yang ada antara kehidupan dengan lingkungan fisiknya (Lobeck, 1939:
2) mengemukakan bahwa geografi adalah studi dan deskripsi
perbedaan-perbedaan dan agihan fenomena di bumi, mencakup semua yang mengubah atau
mempengaruhi permukaan bumi termasuk sifat-sifat fisiknya, iklim, dan
hasil-hasil yang bersifat hidup maupun tidak.
Geografi pada hakikatnya mempelajari tentang aspek-aspek keruangan permukaan
bumi yang merupakan keseluruhan gejala alam dan kehidupan umat manusia
18
menurut hasil Semlok tahun 1988 (dalam Suharyono dan Moch.Amien, 1994: 15)
adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer
dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan.
Menurut Suparmini (2000: 17), geografi adalah ilmu yang mempelajari hubungan
timbal balik antara manusia dengan lingkungannya.
Berdasarkan penjelasan di atas, Nursid Sumaatmadja(2001: 21) menyimpulkan
bahwa pembelajaran geografi adalah pembelajaran tentang aspek-aspek keruangan
permukaan bumi yang merupakan keseluruhan gejala alam dan kehidupan umat
manusia yang bervariasi kewilayahannya. Dengan kata lain pembelajaran geografi
merupakan pembelajaran tentang hakikat geografi yang diajarkan di sekolah dan
disesuaikan dengan perkembangan mental peserta didik pada jenjang pendidikan
masing-masing. Pembelajaran geografi dapat mengembangkan kemampuan
intelektual tiap orang atau peserta didik yang mempelajarinya.Geografi dapat
meningkatkan rasa ingin tahu, daya untuk melakukan observasi terhadap alam,
melatih ingatan dan citra terhadap kehidupan dengan lingkungan dan dapat
melatih kemampuan memecahkan masalah kehidupan yang terjadi sehari-hari.
5. Kearifan Lokal
Kearifan lokal memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan tradisional pada
suatu tempat, dalam kearifan lokal tersebut banyak mengandung suatu pandangan
atau aturan agar masyarakat lebih memiliki pijakan dalam menentukan suatu
tindakan seperti perilaku masyarakat sehari-hari. Pada umumnya etika dan nilai
dari generasi ke generasi melalui sastra lisan (antara lain dalam bentuk pepatah
dan peribahasa, folklore), dan masuskrip (Suyono, Suyatno, 2013).
Pembentukan dan perkembangan budaya mempengaruhi jati diri bangsa, kesatuan
masyarakat berperan serta dalam pembentukannya. Di dalam masing-masing
kesatuan kemasyarakatan yang membentuk bangsa baik yang berskala kecil
ataupun besar, terjadi proses-proses pembentukan dan perkembangan budaya
yang berfungsi sebagai jati diri bangsa tersebut (Sedyawati, Edy, 2010:328).
Masyarakat memiliki peranan penting dalam pembentukan budaya agar terus
bertahan diperkembangan jaman, baik secara langsung maupun tidak langsung
dengan memanfaatkan kemampuannya sehingga manusia mampu menguasai
alam.
6. Model ADDIE
Menurut Benny A. (2009: 128-132), ada satu model desain pembelajaran yang
sifatnya lebih generic yaitu model ADDIE
(Analysis-Design-Development-Implementation-evaluation). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Salah satu fungsinya ADDIE yaitu
menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastuktur program
pelatihan efektif, dinamis, dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.
Model ini membangun 5 tahap pengembangan yakni :
a. Analysis (analisa)
b. Design (desain/perancangan)
c. Development (pengembangan)
20
e. Evaluation (evaluasi)
Langkah-langkah pengembangan produk, model penelitian dan pengembangan ini
lebih rasional dan lebih lengkap daripada model 4D. Model ADDIE
dikembangkan oleh Dick and Carry (1996) untuk merancang sistem pembelajaran.
Berikut ini contoh kegiatan dari setiap langkah dalam model ADDIE.
1) Analisis
Pada tahap ini kegiatan utama adalah menganalisis perlunya pengembangan
model/metode pembelajaran baru dan menganalisis kelayakan dan
syarat-syarat pengembangan model atau metode pembelajaran baru. Tahap analisis
merupakan suatu proses mengidentifikasi apa yang akan dipelajari oleh
peserta didik.
2) Desain
Dalam perencanaan model/metode pembelajran, tahap desain memiliki
kemiripan dengan merancang kegiatan belajar mengajar. Kegiatan ini
merupakan proses sistematik yang dimulai dari menetapkan tujuan belajar,
merancang scenario atau kegiatan belajar mengajar, merancang perangkat
pembelajaran, merancang materi pembelajaran dan alat evaluasi hasil belajar.
3) Pengembangan
Pengembangan dalam model ADDIE ini berisi kegiatan realisasi rancangan
produk. Dalam tahap desain telah disusun kerangka konseptual penerapan
masih konseptual tersebut direalisasikan menjadi produk yang siap di
implementasikan.
4) Implementasi
Pada tahap ini diimplementasikan rancangan dan metode yang telah
dikembangkan pada situasi yang nyata yaitu di kelas.
5) Evaluasi
Evaluasi dilakukan dalam dua bentuk yaitu evaluasi formatif dan evaluasi
sumatif.
7. Pengertian Modul
Modul adalah satu satuan program belajar mengajar yang dapat dipelajari oleh
murid dengan bantuan yang minimal dari pihak guru.Satuan ini berisikan tujuan
yang harus dicapai secara praktis, petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan, materi
dan alat-alat yang dibutuhkan, alat penilaian guru yang mengukur keberhasilan
murid dalam mengerjakan modul (Ihsan Fuad, 2013: 197).
Sedangkan menurut Abdul Majid, modul akan bermakna kalau peserta didik dapat
dengan mudah menggunakannya. Pembelajaran dengan modul memungkinkan
seorang peserta didik yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih
cepat menyelesaikan satu atau lebih kompetensi dasar dibandingkan dengan
peserta didik lainnya. Dengan demikian, maka modul harus menggambarkan
kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan
menggunakan bahasa yang baik, menarik, dilengkapi dengan ilustrasi (Abdul
22
Berdasarkan pendapat kedua ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa modul
merupakan bagian dari salah satu bahan ajar yang bertujuan membantu guru
selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Modul ini sesuai dengan
kurikulum 2013 yang menekankan pada student center, dimana siswa dituntut
untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Di dalam modul berisikan
petunjuk-petunjuk yang memudahkan siswa dalam mempelajarinya dan juga disertai
dengan ilustrasi yang akan menambah pemahaman siswa dalam belajar.
Aspek-aspek yang perlu diperhatikan pada saat mengembangkan modul,
diantaranya :pertama, membantu pembaca untuk menemukan cara mempelajari
modul. Kedua, menjelaskan hal-hal yang perlu pembaca persiapkan sebelum
mempelajari modul.Ketiga, menjelaskan hal-hal yang diharapkan dari pembaca
setelah selesai mempelajari modul.Keempat, mencari pengantar tentang cara
pembaca menghadapi atau mempelajari modul yaitu berapa lama waktu yang
dibutuhkan mempelajari bagian tertentu. Kelima, menyajikan metri sejelas
mungkin sehingga pembaca dapat mengaitkan materi yang dipelajari dari modul
dengan yang sudah diketahui sebelumnya.Keenam, member dukungan kepada
pembaca agar berani mencoba segala langkah yang dibutuhkan untuk memahami
materi modul.Ketujuh, melibatkan pembaca dalam latihan latihan, serta kegiatan
yang akan membuat pembaca berinteraksi dengan materi yang sedang dipelajari.
Kedelapan, member umpan balik pada latihan dan kegiatan yang dilakukan pembaca.Kesembilan, membantu pembaca untuk meringkas dengan yang sudah
a. Karakteristik Modul
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2007: 133) modul mempunyai
karakteristik sebagai berikut:
1) Berbentuk unit pengajaran terkecil dan lengkap
2) Berisi rangkaian kegiatan belajar yang dirancang secara sistematis
3) Berisi tujuan belajar yang dirumuskan secara jelas dan khusus
4) Memungkinkan siswa belajar mandiri dan merupakan realisasi perbedaan
individual serta perwujudan pengajaran individual
Menurut Penulisan Modul Departemen Pendidikan Nasional (2008: 3-5), modul
yang dikembangkan harus memperhatikan karakteristik yang diperlukan sebuah
modul, yaitu Self Intruction, Self Contained, Stand Alone, Adaptive, dan User
Friendly.
Sedangkan menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (dalam Buletin
BSNP, Vol II, Januari 2007: 21), buku teks yang berkualitas memenuhi empat
unsur kelayakan yaitu, kelayakan isi/materi, kebahasaan, penyajian dan
kegrafikan/tampilan,. Penilaian buku teks tersebut digunakan sebagai acuan
penilaian modul agar hasil dari pengembangan tidak menyimpang dari harapan
BSNP.
b. Pengembangan Modul
Pengembangan modul dikembangkan dengan berbagai cara, yaitu adaptasi,
kompilasi, dan menulis sendiri. Modul adaptasi adalah modul yang dikembangkan
dengan menentukan salah satu buku yang ada di pasaran, kemudian
24
adalah modul yang dikembangkan berdasarkan materi dalam buku-buku yang ada
dipasaran, artikel, jurnal ilmiah, atau modul yang sudah ada sebelumnya dengan
menggunakan garis-garis besar program pembelajaran atau silabus yang disusun
penulis sebelumnya. Modul dengan menulis sendiri yaitu penulis menulis sendiri
modul yang dipergunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa
dalam suatu mata pelajaran (Purwanto, Aristo, dan Suharto, 2007: 10-12).
Jika melihat pendapat ahli di atas, maka pengembangan modul yang dilakukan
peneliti nantinya merupakan pengembangan modul sendiri. Artinya dalam modul
yang akan dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam suatu mata
pelajaran.
c. Sistematika Pengembangan Modul
Menurut Surahman (2010: 2), sistematika modul mempunyai urutan sebagai
berikut.
1. Judul modul
Bagian ini berisi tentang nama modul dari suatu mata pelajaran tertentu.
2. Petunjuk umum
Bagian ini memuat penjelasan tentang langkah-langkah yang akan ditempuh
dalam pembelajaran, meliputi:
a. Kompetensi dasar
b. Pokok Bahasan
c. Indikator Pencapaian
d. Referensi (diisi oetunjuk pendidik tentang buku-buku referensi yang
e. Strategi pembelajaran (menjelaskan pendekatan, metode,langkah yang
dipergunakan dalam proses pembelajaran)
f. Lembar kegiatan pembelajaran
g. Petunjuk bagi peserta didik untuk memahami langkah-langkah dan
materi pembelajaran
h. Evaluasi
3. Materi modul
Bagian ini berisi penjelasan secara rinci tentang materi yang diajarkan pada
setiap pembelajaran.
4. Evaluasi semester
Evaluasi terdiri atas tengah semester dan akhir semester dengan tujuan untuk
mengukur kompetensi peserta didik sesuai materi pembelajaran yang
diberikan.
Mengacu pada pendapat di atas, maka modul yang akan dikembangkan oleh
peneliti memiliki sistematika sebagai berikut.
1. Bagian pembuka
Bagian pembuka terdiri dari judul modul, kata pengantar, daftar isi,
pendahuluan, deskripsi singkat isi modul, peta konsep modul, standar
kompetensi, tujuan pembelajaran, manfaat pembelajaran, dan petunjuk
penggunaan modul.
2. Bagian inti
Bagian inti terdiri dari rencana belajar siswa, kegiatan belajar 1, 2, dan 3
26
3. Bagian penutup
Bagian penutup terdiri dari evaluasi, penutup, glosarium, daftar pustka, dan
kunci jawaban
d. Prosedur Penulisan Modul
Prosedur penulisan modul merupakan proses pengembangan modul yang
dilakukan secara sistematis. Penulisan modul dilakukan dengan prosedur sebagai
berikut (Depdiknas, 2008: 12-16):
1. Analisis Kebutuhan Modul
Analisis kebutuhan modul merupakan kegiatan menganalisis kompetensi
untuk menentukan jumlah dan judul modul yang dibutuhkan dalam mencapai
suatu kompetensi tertentu. Berikut ini langkah-langkah dalam menganalisis
kebutuhan modul yaitu:
a) Menetapkan terlebih dahulu kompetensi yang terdapat di dalam
garis-garis besar program pembelajaran yang akan dikembangkan menjadi
modul.
b) Mengidentifikasi dan menentukan ruang lingkup unit dan kompetensi
yang akan dicapai.
c) Mengidentifikasi dan menentukan pengetahuan, ketrampilan dansikap
yang disyaratkan.
d) Menentukan judul modul yang akan dikembangkan.
2. Penyusunan Draf
Penyusunan draf merupakan proses pengorganisasian materi pembelajaran
sistematis. Penyusunan draf ini dilakukan melalui langkah-langkah sebagai
berikut:
a) Menetapkan judul modul.
b) Menetapkan tujuan akhir yang akan dicapai siswa setelah selesai
mempelajari modul.
c) Menetapkan kemampuan yang spesifik yang menunjang tujuan akhir.
d) Menetapkan outline (garis besar) modul.
e) Mengembangkan materi pada garis-garis besar.
f) Memeriksa ulang draf modul yang dihasilkan.
g) Menghasilkan draf modul I
Hasil akhir dari tahap ini adalah menghasilkan draf modul yang
sekurang-kurangnya mencangkup: judul modul, kompetensi atau sub kompetensi yang
akan dicapai, tujuan siswa mempelajari modul, materi, prosedur, soal-soal,
evaluasi atau penilaian, dan kunci jawaban dari
latihan soal.
3. Validasi
Validasi adalah proses permintaan persetujuan pengesahan terhadap
kelayakan modul. Validasi ini dilakukan oleh dosen ahli materi, ahli media,
dan guru IPS. Tujuan dilakukannya validasi adalah mengetahui kelayakan
terhadap modul yang telah dibuat.
4. Uji coba modul
Uji coba modul dilakukan setelah draf modul selesai direvisi dengan masukan
dari validator (dosen ahli materi, dosen ahli media, dan guru IPS). Tujan dari
28
modul. Uji coba penggunaan modul dalam pembelajaran ini dilakukan di
SMP N 3 Depok dengan subjek uji coba sejumlah 27 siswa.
5. Revisi
Revisi atau perbaikan adalah proses perbaikan modul setelah mendapat
masukan dari ahli materi, ahli media, guru IPS, dan siswa. Perbaikan modul
mencangkup aspek penting penyusunan modul yaitu: pengorganisasian materi
pembelajaran, penggunaan metode intruksional, penggunaan bahasa dan
pengorganisasian tata tulis.
8. Tinjauan Materi Pokok
a. Pengertian Jagad Raya
Jagad raya adalah ruang yang sangat luas tempat benda-benda langit berada,
termasuk bumi yang merupakan tempat manusia hidup. Di jagad raya terdapat
bermilyar bintang termasuk matahari, planet-planet yang besarnya berbeda-beda
berjalan ke arah yang sama sepanjang lintasan hampir melingkar di sekeliling
matahari, bulan, satelit, beribu-ribu planet kecil dan asteroid, komet, serta
meteor-meteor yang melintas setiap saat. Tata surya hanyalah satu dari jutaan bintang
yang bergabung dalam sekelompok bintang yang dikenal dengan nama galaksi. Di
alam semesta ini terdapat ribuan galaksi yang tersebar dengan ukuran yang
besar.Jadi terdapat banyak sekali bintang-bintang yang berada di dalam galaksi
dan mungkin terdapat banyak tata surya lainnya yang berada di dalam galaksi
tersebut (Gunawan Admiranto, 2009: 1-2).
b. Teori-Teori Asal Mula Jagad Raya
Gunawan Admiranto (2009: 14), mengemukakan bahwa adanya unsur-unsur
berat seperti oksigen dan nitrogen yang tidak mungkin terbentuk di matahari
hanya mungkin terbentuk di dalam inti bintang yang massanya sangat besar
lalu terlempar keluar pada saat tahap akhir evolusi bintang itu melalui suatu
ledakan yang disebut ledakan supernova. Bintang yang massanya sangat
besar ini hanya terdapat di lengan-lengan spiral galaksi bimasakti.
Akibatnya, gas yang dihemburkan oleh ledakan supernova ini hanya terdapat
di lengan-lengan spiral galaksi.
b. Teori ledakan tetap (The Steady State Theory)
Teori keadaan tetap dikemukakan oleh Gold dan Hoyle dari Universitas
Cambridge pada tahun 1948.Menurut teori ini, alam semesta tidak ada
awalnya dan tidak akan berrakhir.Alam semesta selalu terlihat tetapseperti
sekarang. Materi secara terus menerus datang berbentuk atom-atom hidrogen
dalam angkasa yang membentuk galaksi baru dan mengganti galaksi lama
yang bergerak menjauhi kita dalam ekspansinya.
c. Tata Surya
Baker (1964: 186), mengemukakan bahwa the solar system consist of the sun and
many smaller bodies that revolve around the sun. These include the planets with their satellits, and the comets and meteors atau bahwa tata surya terdiri dari matahari dan beberapa benda yang lebih kecil yang berputar mengelilingi
matahari. Didalamnya terdapat planet dengan satelit-satelitnya, komet, dan
meteor.Tata surya adalah rumpun planet, bulan, dan serpihan antariksa yang
30
kemungkinan terbentuk dari awan besar dan gas debu antar bintang yang menjadi
satu karena gaya gravitasinya sendiri (Lippicott, 2007: 36). Tata surya adalah
suatu kelompok benda langit, tidak hanya terdiri dari matahari dan planet-planet
saja melainkan objek-objek yang lebih kecil,seperti asteroid, komet, meteorid, dan
debu antarplanet. Benda-benda ini memiliki pergerakan yang berbeda dengan
planet dan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk sampai dekat bumi
dibandingkan dengan planet-planet itu (Gunawan Admiranto, 2009: 12).
d. Teori Terbentuknya Tata Surya a. Teori Nebula atau Teori Kabut
Teori Nebula dikemukakan oleh Immanuel Kant (1775) dan Laplace
(1976).Tata surya berasal dari ruang antar bintang yang dipilin di jagat
raya.Kabut berasal dari debu, gas, dan es.Kabut berputar dan menyusut akibat
gravitasi yang dimilikinya.Kabut berpilin ada yang terlepas dan membentuk
gelang disekeliling bagian utama gumpalan kabut.Gumpalan kabut membeku
dan membentuk palnet-planet.
b. Teori Planetesimal
Teori planetesimal dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin (1843-1929)
dan diperkuat oleh Forest R. Moulton (1872-1952).Teori ini menunjukkan
pada awalnya tata surya hanya terdiri atas matahari.Hingga suatu saat terdapat
sebuah bintang yang melintas dekat matahari.Matahari dan bintang tersebut
tarik menarik menyebabkan bagian material padat berhamburan dan bergerak
berukuran lebih kecil.Benda tersebut saling bertabrakan dan membentuk
berbagai kenampakan di angkasa seperti planet, satelit, asteroid, dan komet.
c. Teori Pasang Surut Bintang
Teori ini dikemukakan oleh James Jeans dan Harold Jeffreys.Teori ini
menjelaskan pada awalnya terdapat dua bintang yang saling berdekatan. Gaya
tarik menarik antar bintang menyebabkan sejumlah materi mengalami proses
yang surut. Sebagian masa dari sala satu matahari terlepas membentuk planet
dan objek angkasa lain.
d. Teori Bintang Kembar
Teori bintang kembar dikemukakan oleh Fred Hoyle (1956). Hoyle
menyatakan bahwa semula terdapat dua bintang yang mengelilingi medan
gravitasi. Bintang yang satu menabrak bintang lain. Bintang yang bertahan
menjadi matahari dan bimtang yang membentuk kepingan gas menjadi
planet-planet serta benda angkasa.Benda-benda angkasa seperti planet
tertahan oleh gravitasi matahari pada garis edarnya.
e. Karakteristik Anggota Tata Surya
Tata surya terdiri dari matahari, sembilan planet dan berbagai benda-benda langit
seperti satelit, komet, asteroid. Planet-planet berevolusi mengelilingi matahari
dengan orbit (garis edar) yang berbentuk elip. Beberapa planet mempunyai
satelit.Satelit ini berputar mengelilingi planet dan bersama dengan planet
mengelilingi matahari.Jadi tata surya merupakan sistem rotasi yang berpusat pada
32
1) Matahari
Diantara berjuta-juta bintang di dalam galaksi, maka matahari sangat penting
bagi kehidupan bumi. Matahari adalah sebuah bintang yang jaraknya paling
dekat dengan bumi, yaitu sekitar 150 juta km. Matahari adalah bulatan gas
dengan diameter 1,4 x 106kilometer dan temperatur permukaannya sekitar
6.000 K. Temperatur ini meningkat jika semakin mendekati bumi berbentuk
gelombang elektromagnetik yang menjalar dengan kecepatan 3 x 1010
cm/detik (Bayong Tjasyonono HK, 2013: 28).
2) Planet
Planet adalah benda langit yang mengorbit matahari, bukan satelit sebuah
planet, memliki massa yang mencukupi sehingga gaya gravitasi yang
dibangkitkannya sanggup mengatasi gaya-gaya lain, memiliki bentuk bulat
karena keseimbangan hidrostatis dan daerah yang terletak disekitar orbitnya
sudah dibersihkan sehingga objek ini menjadi satu-satunya benda yang
berukuran besar pada satu jarak tertentu. Sebelum tahun 2006 dalam tata
surya masih memiliki sembilan planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars,
Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Tetapi pada saat
berlangsungnya General Assembly International Astronomical Union di
Praha pada bulan Agustus 2006, para astronom memutuskan untuk
mengeluarkan Pluto dari planet yang kedudukannya sama dengan delapan
planet lainnya. Para astronom menyatakan bahwa Pluto bukan lagi sebuah
Cahaya planet yang sampai ke bumi bukan berasal dari planet itu sendiri,
melainkan cahaya matahari yang dipantulkan oleh planet.Kecemerlangan
planet yang sampai di bumi berbeda-beda, tergantung pada jarak planet serta
berupa bagian cahaya matahari yang mampu dipantulkan oleh planet.
3) Asteroid
Empat planet yang terletak dengan matahari yaitu merkurius, venus, bumi,
dan mars disebut planet dalam, sedangkan planet sisanya yaitu Jupiter,
saturnus, Uranus, neptunus, dan Pluto disebut dengan planet luar. Antara
planet dalam dan planet luar atau antara orbit mars dan Jupiter terdapat sabuk
(belt) asteroid yaitu ribuan planet kecil dan pecahan-pecahan yang asalnya
masih diperdebatkan. Asteroid kadang-kadang disebut planetoid (Bayong
Tjasyonono HK, 2013: 31).
4) Bulan dan Satelit
Jupiter adalah planet yang mempunyai palling banyak satelit yaitu 17 satelit,
kemudian saturnus 9 satelit, Uranus 5 satelit, neptunus 2 satelit, mars 2 satelit,
Pluto 1 satelit, dan bumi 1 satelit. Satelit bumi disebut bulan.Diantara
satelit-satelit planet, makan bulan banyak mempengaruhi gejala alam di bumi
misalnya pasang surut. Jarak rata-rata bulan-bumi adalah 384 x 103 km.
Diameter bulan 0,27 kali dimater bumi, massa jenisnya 3,33 g/cm3, dan
gravitasinya 0,17 kali gravitasi bumi. Orbit bulan berupa elip dengan
eksentrisitas 0,005.Jarak terdekat bulan-bumi disebut perigee dan jarak
terjauhnya disebut apogee (Bayong Tjasyonono HK, 2013: 32).
34
Komet disebut juga bintang berekor. Garis edar komet tidak seperti orbit
planet atau satelit. Ada komet yang mempunyai orbit elip, tetapimenilai
eksentrisitasnya sangat besar sehingga komet hanya dapat terliha t jika berada
di sekitar perihelion kemudian menghilang pada waktu komet menjauhi
perihelion. Kebanyakan komet mempunyai orbit berbentuk parabola atau hiperbola, sehingga komet hanya tampak sekali kemudian menghilang karena
menempuh lintasan yang jauh di ruang angkasa (Bayong Tjasyonono HK,
2013: 33).
B. Penelitian yang Relevan
1. Wihan Afriono, Herpratiwi, Tarkono, “Pengembangan Modul Dasar-Dasar Mesin Kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Di KotaMetro”. Desain penelitian ini adalah Research and Development (R&D). Subjek uji coba
terdiri dari satu ahli materi, satu ahli desain pembelajaran, tiga peserta didik
untuk uji perorangan, enam peserta didik untuk uji kelompok kecil, dan 26
peserta didik untuk uji lapangan. Data dikumpulkan melalui metode angket,
pretest, dan posttest. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kulantitatif dan uji t. Hasil penelitian adalah bahan ajar yang dihasilkan
beerupa modul pembelajaran divalidasi oleh ahli materi dan ahli desain
pembelajaran, efektivitas modul pembelajaran ditunjukkan dengan rerata skor
7,69, dan daya tarik modul pembelajaran, 80% responden menyatakan bahwa
produk ini sangat menarik dan mudah digunakan.
Carrey. Teknik pengambilan sampel kelas menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data melalui angket dan tes. Hasil penelitian yaitu menghasilkan produk berupa bahan ajar mitigasi dan adaptasi
bencana alam sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru dan telah divalidasi
oleh ahli serta diuji coba. Hasil eksperimen bahan ajar mitigasi dan adaptasi
bencana alam menunjukkan bahwa bahan ajar efektif digunakan dalam
pembelajaran. Hasil menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dengan
menggunakan bahan ajar mitigasi dan adaptasi bencana alam meningkat 18%
dari sebelum menggunakan bahan ajar, sedangkan hasil belajar siswa tanpa
menggunakan bahan ajar mitigasi dan adaptasi bencana alam hanya
meningkat 8% dari nilai sebelumnya.
3. Fitri Dwiaryati, “Pengembangan Bahan Ajar Modul Materi Bencana Banjir pada Ekstrakurikuler Sekolah Siaga Bencana di SMPN 1 Kecamatan
Gantiwarno”. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Dick and Carrey. Teknik analisis menggunakan uji T (t-test). Hasil
penelitian menunjukkan kegiatan pre-test dan post-test mengalami
peningkatan skor, selisih skor pre-test dan post-test didapat adalah 1,34
dengan rincian skor pre-test 6,83 kemudian meningkat pada skor post-test
8,17. Dilihatdari validasi materi dan validasi media, bahan ajar yang
dikembangkan dinyatakan layak untuk digunakan saat proses pembelajaran
pada Ekstrakurikuler Sekolah Siaga Bencana di SMPN 1 Gantiwarno Klates.
36
di SMAN 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Modul dikembangkan
berdasarkan model pengembangan Dick and Carrey (2001) terdiri dari
sembilan tahap pengembangan. Analisis hasil validasi ahli perangkat
pembelajaran menunjukkan kategori sangat valid dengan presentase penilaian
<p> sebesar 82,33% untuk modul peserta didik.
5. Septian Dwi Anggraini, Sri Wahyuni, Pramudya Aristya, “Pengembangan Modul Fisika Materi Gelombang Berbasis Kebencanaan Alam di SMA. Jenis
penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan desain penelitian 4-D.
Hasil penelitian adalah validasi kajian instruksional yang mendapatkan skor
4,32 dan validasi kajian teknis 4,53 sehingga hasil validasi dari produk yang
dikembangkan adalah valid.
C. Kerangka Berpikir
Pembelajaran geografi dapat dikatakan berkualitas apabila hasil belajar siswa
dapat meningkat dengan baik. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar
siswa yaitu dengan adanya sumber belajar yang baik dan mudah dipahami.
Sumber belajar yang dapat dipelajari salah satunya yaitu dalam bentuk modul.
Modul dapat memudahkan siswa selama proses pembelajaran.
Salah satu materi dalam pembelajaran geografi mendidik siswa menjadi bersyukur
atas segala yang telah diberikan oleh sang pencipta. Dengan mempelajarinya
dapat meningkatkan pengetahuan siswa bahwa bumi yang mereka singgahi
merupakan salah satu dari anggota tata surya yang tidak terbentuk dengan begitu
saja melainkan melalui suatu proses. Tata surya dan jagad raya merupakan salah
dan beberapa benda yang lebih kecil yang berputar mengelilingi
matahari.Didalamnya terdapat planet dengan satelit-satelitnya, komet, dan
meteor.Tata surya adalah rumpun planet, bulan, dan serpihan antariksa yang
mengorbit di sekeliling matahari yang disatukan.
Jika melihat kurikulum yang diterapkan sekarang yaitu kurikulum 2013 maka
sangat menekankan pada pendekatan saintifik, karena dianggap lebih efektif bagi
siswa untuk memahami isi materi yang dipelajari.Saat ini bahan ajar geografi
SMA yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 masih jarang dipasaran
sehingga banyak guru yang mengalami kebingungan dalam memberikan materi
bagi siswanya. Selain itu, materi pada kelas X yang padat membuat guru kesulitan
dalam memanajemen alokasi pembelajaran bagi siswa sehingga siswa harus
banyak belajar mandiri. Berdasarkan masalah di atas maka perlu dikembangkan
38
Gambar 3 Kerangka Pikir Pengembangan Modul Tata Surya Pembelajaran Geografi
Tata Surya
Modul Pembelajaran
Validasi Ahli Uji Coba Respon Peserta Didik
-Uji Coba Kelompok Kecil -Uji Coba Kelompok Besar
Modul Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal yang layak digunakan
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Model Penelitian Pengembangan
Penelitian pengembangan merupakan metode penelitian yang secara sengaja,
sistematis, bertujuan untuk mencaritemukan, merumuskan, memperbaiki,
mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk,model,
metode/strategi/cara, jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif,
efisien, produktif, dan bermakna (Putra Nusa, 2012: 67).
Menurut Soenaarto dalam Tegeh, I Made (2014:xii) memberikan alasan tentang
penelitian pengembangan sebagai suatu proses untuk mengembangkan dan
memvalidasi produk-produk yang akan digunakan dalam pendidikan dan
pembelajaran. Penelitian pengembangan sebagai upaya untuk mengembangkan
dan menghasilkan produk berupa materi, media, alat atau strategi pembelajaran
yang digunakan untuk mengatasi pembelajaran di kelas dan bukan untuk menguji
teori.
Tegeh, I Made (2014:xii) berpendapat penelitian dan pengembangan atau
Research and Development (R&D) atau sering disebut pengembangan adalah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktik
pembelajaran. Penelitian dan pengembangan adalah rangkaian proses atau
40
memperbaiki produk-produk yang telah ada agar dapat dipertanggungjawabkan
(Direktorat Tenaga Kependidikan dan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu
Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, 2008).
Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian R & :D menurut Borg and
Gall dalam Sugiono (2011: 297-311) adalah sebagai berikut
1. Research and information collectin (penelitian dan pengumpulan informasi), termasuk dalam langkah ini antara lain studi literatur yang berkaitan dengan
permasalahan yang dikaji, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja
penelitian.
2. Planning (perencanaan), termasuk dalam langkah ini merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang
akan dicapai pada setiap tahapan, dan jika mungkin/diperlukan melaksanakan
studi kelayakan secara terbatas.
3. Develop premilinary form of product (pengembangan produk pendahuluan), yaitu mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan.
Termasuk dalam langkah ini adalah persiapan komponen pendukung,
menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, dan melakukan evaluasi terhadap
kelayakan alat-alat pendukung.
4. Preliminary field testing (uji coba pendahuluan), yaitu melakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas, dengan melibatkan subjek sebanyak 6-12
subjek. Pada langkah ini pengumpulan dan analisis data dapat dilaksanakan
dengan cara wawancara, observasi atau angket.
Perbaikan ini sangat mungkin dilakukan lebih dari satukali, sesuai dengan
hasil yang ditunjukkan dalam uji coba terbatas, sehingga diperoleh draft
produk (model) utama yang siap diujicoba lebih luas.
6. Main field testing (uji coba utama) yang melibatkan siswa.
7. Operational product revisison (revisi produk operasional), yaitu melakukan perbaikan atau penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga
produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang
siap divalidasi.
8. Operational field testing (uji coba operasional), yaitu langkah uji validasi terhadap model operasional yang siap divalidasi.
9. Final product revision (revisi produk akhir), yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan guna menghasilkan produk akhir (final).
10. Dissemination and implementation (desiminasi dan distribusi), yaitu langkah
yang menyebarluaskan produk/model yang dikembangkan.
Penelitian dan pengembangan modul materi tata surya berbasis nilai-nilai
Al-Qr’an dan kearifan lokal ini tidak menerapkan semua langkah di atas. Penelitian ini menggunakan model desain pengembangan ADDIE yang muncul pada tahun
1990-an, dikembangkan oleh Raiser dan Mollenda. Model ini merupakan salah
satu model desain pembelajaran sistematik. Pemilihan model ini didasari atas
pertimbangan bahwa model ini dikembangkan secara sistematis dan berpijak
pada landasan teoritis desain pembelajaran. Modul ini disusun secara terprogram
dengan urutan-urutan kegiatan yang sistematis dalam upaya pemecahan masalah
belajar yang berkaitan dengan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan