• No results found

Text 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
74
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

(Skripsi)

Oleh

SITI MARHAMAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGEMBANGAN MODUL TATA SURYA BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL KELAS X SMA NEGERI 1 NATAR KABUPATEN

LAMPUNG SELATAN TAHUN 2019

Oleh

SITI MARHAMAH

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengembangan dan kelayakan

modul tata surya berbasis nilai-nilai kearifan lokal kelas X di SMAN 1 Natar.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengacu pada model

pengembangan ADDIE yang meliputi, Analysis, Desaign, Development,

Implementation, dan Evaluation. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan angket. Data yang diperoleh adalah data kualitatif dan

kuantitatif. Hasil uji ahli diperoleh skor sebesar 80,8% dengan kategori “Layak”, sedangkan hasil uji oleh guru guru geografi diperoleh skor sebesar 81,42% dengan

kategori “Sangat Layak”. Untuk hasil uji coba kelompok kecil dan kelompok besar masing-masing sebesar 82,06% dengan kategori “Sangat Layak” dan

(3)
(4)

ABSTRACT

THE DEVELOPMENT OF A SOLAR SYSTEM MODULE BASED ON THE VALUES OF LOCAL WISDOM CLASS X SMAN 1 NATAR SOUTH

LAMPUNG REGENCY IN 2019

By

SITI MARHAMAH

This study aims to determine the result of the development and feasibility of solar

system module based on the values of local wisdom class X at SMAN 1 Natar.

This research is a development research that refers to the ADDIE development

model includes, Analysis, Desaign, Development, Implementation, and

Evaluation. Data collection techniques in this study are using a questionnaire. The

expert test result obtained a score of 80,8% with the category “feasible”, while the

test result by geography teacher obtained a score of 81,42% with the category

“very feasible”. For the result of trials of small groups and large groups respectively 82,06% with the category “very feasible” and 84,90% with the category “veri feasible”. Thus it can be concluded that the solar system module based on local wisdom values is feasible to use and has been tested by expert.

(5)

Oleh

Siti Marhamah

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

pada

Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(6)
(7)
(8)
(9)

Penulis dilahirkan di Banyuwangi, 11 Juni 1997. Penulis

merupakan anak keempat dari 4 bersaudara pasangan

Bapak Mustangin dan Ibu Siyah.

Penulis telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar

di SD Negeri Mandah pada tahun 2009, pendidikan

Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 4 Natar pada

tahun 2012, dan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Natar pada

tahun 2015. Pada tahun 2015, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi

Pendidikan Geografi, Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung melalui jalur PMPAP.

Selama menjadi mahasiswa penulis melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata

Kependidikan Terintegrasi (KKN-KT) di Desa Sribhawono Kecamatan Bandar

Sribhawono Lampung Timur dan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA

(10)

MOTTO

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”

(Q.S Al-Insyirah Ayat 5-6)

“Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil. Kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik”

(Evelyn Underhill)

(11)

Bismillahirrohmanirrohim

Puji syukur kehadirat Allah SWT, kupersembahkan karya sederhana ini sebagai tanda cinta, kasih sayang, dan baktiku kepada:

Kedua Orangtuaku (Bapak Mustangin dan Ibu Siyah) Yang telah membesarkan dan mendidikku dengan penuh kasih sayang, selalu memberi doa dan motivasi, serta memerikan dukungan berupa moril maupun materil.

(12)

SANWACANA

Alhamdulillahirobbil’alamin, Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan

skripsi yang berjudul “Pengembangan Modul Tata Surya Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Kelas X di SMAN 1 Natar Kabupaten Lampung Selatan Tahun

2019” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahauan Sosial

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

Terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak baik

secara langsung maupun tidak langsung. Penulis mengucapkan terima kasih

kepada Bapak Drs. Yarmaidi, M.Si., selaku Pembimbing I, Bapak Dr. Sugeng

Widodo, M.Pd., selaku Pembimbing II sekaligus Pembimbing Akademik (PA),

dan Bapak Dr.Pargito, M.Pd., selaku pembahas, yang telah meluangkan waktu

serta selalu memberikan arahan demi terselesaikannya skripsi ini.

Dalam kesempatan ini dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan

terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada:

1. Bapak Prof. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

(13)

3. Bapak Drs. Supriyadi,M.Pd., selaku Wakil Dekan Bidang Umum dan

Keuangan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

4. Ibu Dr. Riswanti Rini, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan

dan Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

5. Bapak Drs. Tedi Rusman, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Sosial yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

6. Bapak Dr. Sugeng Widodo, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Geografi yang telah memberikan kemudahan penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

7. Bapak dan Ibu Dosen serta Staff Program Studi Pendidikan Geografi di

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung yang telah

memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.

8. Drs. Sumarno, selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Natar yang telah memberikan

izin penulis mengadakan penelitian di sekolah tersebut.

9. Ibu Nur Azizah, S.Pd., dan Ibu Ismiyati, S.Pd., selaku Guru Geografi SMAN

1 Natar yang telah meluangkan waktu serta selalu membimbing selama

peneliti melakukan penelitian.

10. Bapak, Ibu, serta Kakakku tercinta yang selalu memberikan dukungan,

motivasi, dan semangat kepada penulis. Terima kasih atas doa yang selalu

(14)

11. Teman-teman seperjuangan Geografi 2015, yang telah memberikan cerita

selama menempuh pendidikan di Universitas Lampung, semoga langkah kita

kedepannya diperlancar oleh Allah SWT.

12. Sahabat-sahabatku yang memberikan semangat serta selalu membantu dalam

urusan skripsi ini (Nur, Selly, Ulfa, Rahayu, Lulu, dan Febri), semoga urusan

kita selalu diperlancar oleh Allah.

13. Teman-teman yang selalu memberikan solusi atas penelitian ini (Clara dan

Salsabila), terima kasih atas kebaikan kalian yang selalu membantu

memberikan solusi disaat peneliti mengalami kesulitan dalam melakukan

penelitian.

14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak

dapat disebutkan satu per satu, sehingga dengan bantuan dan dukungan yang

telah diberikan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini maka

penulis mengharapkan kritik dan saran sebagai pembelajaran di masa yang akan

datang. Semoga Allah SWT membalas amal baik kita semua dan semoga skripsi

ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, Januari 2020

(15)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Batasan Masalah ... 8

D. Rumusan Masalah ... 9

E. Tujuan Penelitian... 9

F. Spesifikasi Produk yang Akan Dihasilkan ... 9

G. Manfaat Penelitian... 10

H. Ruang Lingkup Penelitian ... 11

II.TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka ... 14

1. Pengertian Belajar ... 14

2. Teori Belajar ... 14

3. Pembelajaran ... 16

4. Pembelajaran Geografi ... 17

5. Kearifan Lokal ... 18

6. Model ADDIE ... 19

7. Pengertian Modul ... 21

a. Karakteristik Modul ... 23

b. Pengembangan Modul ... 23

c. Sistematika Pengembangan Modul ... 24

d. Prosedur Penulisan Modul ... 26

8. Materi Pokok ... 28

a. Pengertian Jagad Raya ... 28

b. Teori-Teori Asal Mula Jagad Raya ... 29

c. Tata Surya ... 29

d. Teori Terbentuknya Tata Surya... 30

e. Karakteristik Anggota Tata Surya ... 31

B. Penelitian yang Relevan ... 34

C. Kerangka Pikir... 36

(16)

B. Prosedur Pengembangan ... 42

1. Tahap Analisis (Analysis)... 42

2. Tahap Perancangan (Desaign) ... 42

3. Tahap Pengembangan (Development) ... 43

4. Tahap Implementasi (Implementation) ... 43

5. Tahap Evaluasi (Evaluation) ... 43

C. Rencana Desain Produk ... 43

D. Validasi Desain Produk ... 44

E. Subjek Uji Coba ... 45

1. Uji Coba Kelompok Kecil ... 45

2. Uji Coba Kelompok Besar ... 45

F. Metode Pengumpulan Data ... 46

1. Uji Ahli... 46

a. Ahli Desain ... 46

b. Ahli Substansi ... 47

c. Ahli Bahasa ... 47

2. Uji Kelayakan Sasaran ... 47

G. Instrumen Penelitian ... 48

1. Instrumen Non-Tes ... 48

a. Lembar Validasi Modul ... 48

b. Angket Respon Peserta Didik ... 48

H. Analisis Data ... 48

1. Uji Kelayakan Modul Pembelajaran ... 50

2. Uji Kefektifan Modul Pembelajaran ... 51

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian ... 53

1. Analisis Kebutuhan ... 53

2. Perencanaan ... 55

3. Pengembangan Produk ... 55

4. Validasi Produk ... 63

5. Uji Coba Produk ... 66

a. Uji Coba Kelompok Kecil ... 67

b. Uji Coba Kelompok Besar ... 68

c. Hasil Uji Pretest dan posttest ... 69

B. Pembahasan ... 75

1. Prosedur Pengembangan Modul ... 75

2. Validasi Produk ... 78

3. Uji Coba Kelompok Kecil dan Kelompok Besar ... 84

4. Hasil Uji Pretes dan Posttes ... 88

5. Evaluasi ... 91

6. Kendala dan Keterbatasan Penelitian ... 93

V.KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 95

B. Saran ... 96

(17)

Halaman

1. Kriteria Penilaian Menggunakan Skala Likert... 49

2. Kualifikasi Penilaian Kevalidan... 49

3. Kriteria Skor Angket Respon Peserta Didik ... 50

4. Klasifikasi Kelayakan Modul ... 50

5. Distribusi Materi Pada Modul... 58

6. Aspek Penilaian Oleh Ahli Materi ... 64

7. Aspek Penilaian oleh Ahli Desain ... 64

8. Aspek Penilaian OlehAhli Bahasa ... 65

9. Aspek Penilaian Modul Oleh Guru Geografi... 66

10. Perhitungan Angket Kelompok Kecil ... 67

11. Perhitungan Angket Kelompok Besar ... 68

12. Data Uji Pretest dan Posttest Kecil... 70

13. Data Uji Pretest dan Posttest Besar ... 71

14. Hasil Uji Normalitas Pretest dan Posttest Kelompok Besar ... 72

15. Uji Homogenitas Pretest dan Posttest Kelompok Besar ... 73

(18)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Buku K.Wardiyatmoko ... 4

2. Materi Tata Surya Buku Geografi Oleh K. Wardiyatmoko ... 6

3. Kerangka Pikir ... 38

4. Bagan Langkah Model Pengembangan ADDIE ... 42

5. Tampilan Cover Modul... 60

6. Cover Modul Sebelum dan Sesudah Revisi... 64

7. Perubahan Warna Tulisan Sebelum dan Sesudah Revisi... 65

8. Grafik Interaksi Kelompok Kecil dan Kelompok Besar ... 74

9. Grafik Aspek Penilaian Oleh Ahli Materi ... 78

10. Grafik Aspek Penilaian Oleh Ahli Desain ... 80

11. Grafik Aspek Penilaian Oleh Ahli Bahasa... 81

12. Grafik Aspek Penilaian Oleh Guru Geografi ... 83

13. Grafik Hasil Perhitungan Angket Kelompok Kecil ... 85

14. Kritik dan Saran Terhadap Modul ... 86

15. Grafik Hasil Perhitungan Angket Kelompok Besar... 87

16. Kritik dan Saran Terhadap Modul ... 88

17. Grafik Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Kecil... 89

[image:18.595.118.499.249.504.2]
(19)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian

kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain

sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik jika si subjek itu mengalami atau

melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik (Sardiman, 1986:20). Proses belajar

pada prinsipnya bertumpu pada struktur kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Proses belajar yang mengaktualkan ranah-ranah tersebut tertuju pada bahan

belajar tertentu. Bahan ajar memegang peranan yang sangat penting dalam proses

pembelajaran yang dapat menentukan keberhasilan siswa.

Menurut National Center for Vocational Education Research, Bahan ajar

merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau

instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Bahan tersebut bisa

berupa bahan tertulis maupun bahan tak tertulis. Bahan ajar merupakan

seperangkat materi yang disusun secara sistematis, baik tertulis maupun tidak

sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik

untuk belajar. Bahan ajar yang khususnya digunakan di sekolah tidak hanya

(20)

2

harus memenuhi kualifikasi tertentu, dengan kata lain bahan ajar yang digunakan

dapat menjadi penyempurna kurikulum.

Sistem kurikulum 2013 menggunakan pendekatan scientific learning dengan

empat model pembelajaran yaitu discovery, inquiry, problem based learning, dan

project based learning (Saryono, 2013:11). Pendekatan dan model pembelajaran yang ada dalam kurikulum 2013 menginginkan agar siswa mampu belajar secara

mandiri serta proses pembelajaran tidak lagi teacher center melainkan student

center. Oleh karena itu, dengan adanya bahan ajar seperti modul ini dapat melatih siswa untuk belajar secara mandiri dan siswa juga diharapkan dapat berperan aktif

selama proses pembelajaran.

Pada Permendikbus Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses dikatakan

bahwa setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Rencana

Pelaksana Pembelajaran (RPP). Salah satu elemen RPP adalah sumber

belajar.Salah satu tuntutan kompetensi pedagogik dan profesional guru adalah

mengembangkan sumber belajar dan bahan ajar. Pertimbangan bahan ajar yang

paling penting adalah kesesuaian antara bahan ajar yang dikembangkan dengan

tuntutan kurikulum dan perkembangan ilmu.Salah satu bahan ajar yang dapat

dikembangkan yaitu modul.

Modul adalah salah satu bahan ajar dalam bentuk cetak yang digunakan oleh

siswa sebagai alat untuk belajar secara mandiri dan digunakan seorang pendidik

untuk memberikan materi kepada siswa secara runtut. Modul merupakan media

yang digunakan untuk belajar mandiri karena di dalam modul terdapat petunjuk

(21)

Modul dapat digunakan oleh seorang guru dalam mengajar karena modul

merupakan bahan yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara

mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai

kompetensi yang diharapkan sesuai dengan SK dan KD.

SMAN 1 Natar merupakan salah satu sekolah yang berstatus negeri di wilayah

Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Sekolah ini dibangun pada tahun 1985 dan

selesai pada tahun 1986.Lokasi SMAN 1 Natar yaitu berada di Jalan Dahlia III

Desa Natar, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Sekolah ini terletak

di perbatasan Kabupaten Lampung Selatan dengan Kota Bandar Lampung dengan

jarak 6 km dan dapat dikatakan bahwa lokasi SMAN 1 Natar merupakan pintu

gerbang memasuki kota Bandar Lampung.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan April 2018, didapat

informasi yang bersumber dari guru geografi di SMAN 1 Natar, pada sekolah

tersebut sudah menerapkan kurikulum 2013 tetapi bahan ajar seperti modul belum

tersedia khususnya pada mata pelajaran geografi. Jadi selama proses pembelajaran

hanya menggunakan buku paket yaitu dari penulis K. Wardiyatmoko dan tidak

semua siswa memiliki buku paket tersebut. Dari hasil pengamatan peneliti yaitu

pada kelas X MIA 5, terhitung dalam satu meja hanya terdapat satu buku paket

saja. Artinya dalam satu meja hanya seorang siswa saja yang memiliki buku.

(22)
[image:22.595.182.447.82.436.2]

4

Gambar 1 Buku Geografi Oleh K. Wardiyatmoko

Selain sumber belajar, masih terdapat beberapa siswa yang kurang memperhatikan

materi yang disampaikan oleh guru. Hal ini dilihat dari kebiasan-kebiasaan siswa

selama proses pembelajaran berlangsung. Selama proses pembelajaran peneliti

mengamati masih terdapat siswa yang berada di belakang bermain game pada saat

guru menjelaskan. Selain itu, siswa laki-laki sering berpindah-pindah posisi

tempat duduk mereka, sehingga kondisi kelas menjadi kurang kondusif.

Berdasarkan data nilai mid semester mata pelajaran geografi tahun pelajaran

(23)

KKM. Ini membuktikan bahwa masih belum banyak siswa yang memahami

mengenai materi geografi yang disampaikan oleh guru.

Buku paket yang dimiliki siswa terdapat banyak bahasa yang sulit dimengeti oleh

siswa dan gambar yang dicantumkan belum begitu banyak dan terkesan pudar

terutama pada materi tata surya. Akibatnya, banyak siswa yang masih sulit dalam

menangkap materi yang telah diajarkan oleh guru. Hal ini tentunya berdampak

juga pada hasil belajar siswa. Mengingat materi tata surya merupakan materi yang

cukup sulit karena didalamnya banyak terdapat teori-teori pendukungnya. Jika

materi tersebut tidak dilengkapi dengan gambar yang jelas maka kemungkinan

besar siswa kurang mengerti dengan materi tata surya ini.

Berdasarkan kenyataan di atas, materi dirasa akan sulit dimengerti bagi siswa jika

tidak disertai dengan penjelasan dari guru. Oleh sebab itu, meskipun tersedia buku

paket tetapi guru masih harus menjelaskan di depan kelas agar siswa mengerti

terhadap materi tersebut. Akibatnya proses pembelajaran yang seharusnya

berpusat pada siswa namun karena materi yang tidak memungkinkan siswa belajar

menelaah sendiri maka waktu hanya habis digunakan oleh guru untuk

menjelaskan materi tersebut. Bahkan terdapat materi yang tidak dilengkapi

dengan gambar.Seperti contoh dikutip dari buku paket yang digunakan di SMAN

1 Natar (K. Wardiyatmoko, 2013: 92) sebagai berikut :

(24)

6

[image:24.595.117.503.109.430.2]

planetesimal, yang kemudian menjadi planet-planet dan beredar pada orbitnya.

Gambar 2 Materi Tata Surya Buku Geografi Oleh K. Widiyatmoko

Berdasarkan kutipan di atas, jika siswa hanya diberi buku paket saja tanpa guru

menjelaskan dan memberikan gambaran maka siswa hanya bisa menerka-nerka

ilustrasi yang ada dalam penjelasan buku paket tersebut. Hal ini tentu sangat

berpengaruh karena mengingat cara belajar siswa itu berbeda-beda dalam

memahami materi. Bagi siswa yang memiliki gaya belajar visual maka

kemungkinan untuk mereka mengerti materi tanpa ada yang dilihat dirasa akan

sulit.

Para siswa yang memiliki gaya belajar visual cenderung memanfaatkan ketajaman

penglihatan sehingga proses belajar dilakukan dengan cara menyerap informasi

(25)

maupun memahami materi saat materi disajikan dalam bentuk gambar. Jika

seperti yang ada dalam buku paket tersebut yang hanya memberikan penjelasan

tanpa dilengkapi dengan gambar, maka akan menyulitkan para siswa dalam

memahami materi. Melihat kenyataan tersebut maka dirasa wajar jika motivasi

dalam mmengikuti pelajaran khususnya geografi cenderung rendah karena

menurut siswa bahan ajar yang kurang menarik kurang menarik.

Berdasarkan kenyatan-kenyataan di atas maka peran sumber belajar yang menarik

juga menjadi salah faktor yang dapat menentukan tingkat motivasi belajar siswa.

Motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang

belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku pada umumnya dengan

beberapa indicator meliputi : (1) adanya hasrat dan keinginan berhasil; (2) adanya

dorongan dan kebutuhan dalam belajar; (3) adanya harapan dan cita-cita masa

depan; (4) adanya penghargaan dalam belajar; (5) adaya kegiatan yang menarik

dalam belajar; (6) adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga

memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik (Hamzah B. Uno,

2011:37).

Salah satu materi yang menarik jika disajikan dalam bentuk gambar ini yaitu

materi tata surya. Namun, jika materi ini hanya berupa tulisan penjelasan saja

maka sulit bagi siswa untuk memahaminya. Maka dari itu, sumber belajar seperti

modul sangat dibutuhkan siswa untuk bisa lebih memahami isi materi.

Materi tata surya juga sangat erat kaitannya dengan nilai kearifan lokal dari

beberapa daerah. Kearifan lokal memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan

(26)

8

suatu pandangan maupun aturan. Diketahui banyak masyarakat di Indonesia yang

masih percaya dengan hal hal ghaib yang berhubungan astronomi. Oleh karena

itu, peneliti akan menambahkan nilai kearifan dalam modul tata surya ini agar

menjadi lebih menarik.

Peneliti memilih materi mengenai tata surya ini karena dalam materi tersebut

tidak bisa hanya berupa penjelasan dari guru. Dalam materi ini juga membutuhkan

sumber belajar yang dapat membantu siswa untuk belajar secara mandiri dengan

mempelajari apa yang terdapat dalam modul. Maka dari itu peneliti ingin

mengembangkan modul yang nantinya dapat berguna dalam proses pembelajaran

serta dapat menjadi salah satu bahan ajar yang dapat digunakan guru dalam

penyampaian materi.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada pemikiran-pemikiran di atas, maka didapat identifikasi masalah

sebagai berikut.

1. Kurangnya minat belajar geografi yang menyebabkan hasil belajar siswa

rendah.

2. Pembelajaran yang terjadi hanya berpusat pada guru.

3. Adanya ketergantungan siswa pada guru yang berperan sebagai satu satunya

sumber pengetahuan.

4. Belum dikembangkan modul tata surya yang berorientasi pada nilai kearifan

lokal.

5. Perlunya adanya sumber belajar yang dapat mudah dipahami oleh siswa

(27)

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, maka dibuat batasan masalah sebagai berikut.

1. Pembelajaran yang terjadi hanya berpusat pada guru.

2. Adanya ketergantungan siswa pada guru yang berperan sebagai satu satunya

sumber pengetahuan.

3. Belum dikembangkan modul tata surya yang berorientasi pada nilai kearifan

lokal.

4. Perlunya sumber belajar yang mudah dipahami oleh siswa sehingga dapat

meningkatkan hasil belajar siswa kelas X di SMAN 1 Natar.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah tersebut, maka muncul beberapa rumusan masalah

sebagai berikut.

1. Bagaimana pengembangan modul materi Tata Surya Berbasis Nilai-Nilai

Kearifan Lokal yang ada di SMAN 1 Natar ?

2. Bagaimana tingkat kelayakan modul yang dikembangkan di SMAN 1 Natar ?

3. Bagaimana tingkat keefektifan modul yang dikembangkan di SMAN 1 Natar ?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian pengembangan modul materi Tata

Surya ini yaitu sebagai berikut.

1. Mengetahui hasil pengembangan modul materi Tata Surya Berbasis

Nilai-Nilai Kearifan Lokal di SMAN 1 Natar.

(28)

10

3. Mengetahui tingkat keefektifan modul yang dikembangkan di SMAN 1

Natar.

F. Spesifikasi Produk yang Akan Dihasilkan

Produk pengembangan yang akan dihasilkan adalah bahan ajar geografi untuk

SMA/MA kelas X yang berorientasi pada siswa untuk mengetahui nilai-nilai

kearifan lokal dengan spesifikasi sebagai berikut: 1) bentuk bahan ajar yang

dikembangkan adalah bahan ajar cetak dalam bentuk buku, 2) materi bahan ajar

disusun dengan jenis dan ukuran huruf yang sesuai tata letak dan warna yang

menarik dan gambar-gambar yang kontekstual untuk mendukung uraian materi, 3)

bahan ajar yang dikembangkan terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut.

a. Judul bahan ajar

b. Judul setiap bab

c. KD dan peta konsep

d. Uraian materi

e. Nilai-nilai kearifan lokal

f. Rangkuman

g. latihan dan evaluasi akhir

h. Kunci jawaban

G. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian pengembangan modul materi Tata Surya

ini yaitu :

(29)

Modul materi Tata Surya Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal dapat

digunakan sebagai salah satu sumber belajar siswa.

2. Bagi guru

Modul materi Tata Surya Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal ini dapat

dijadikan panduan dalam mengajar siswa khususnya pada kelas X.

3. Bagi peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta pengalaman

peneliti, serta sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan di

Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pengetahuan Universitas Lampung.

4. Bagi Program Studi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber bacaan serta sebagai acuan

dalam penelitian selanjutnya.

H. Ruang Lingkup Penelitian

Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini adalah :

1. Ruang lingkup objek

Ruang lingkup objek penelitian ini yaitu modul materi Tata Surya.

2. Ruang lingkup subjek

Ruang lingkup subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 1

Natar.

3. Ruang lingkup waktu

(30)

12

4. Ruang lingkup ilmu

Ruang lingkup ilmu dalam penelitian ini yaitu pembelajaran geografi.

Geografi merupakan ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan

fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan, kewilayahan dalam

konteks keruangan. Dalam geografi dibahas juga bumi beserta isinya dan

proses pembentukannya. Dalam modul yang akan dikembangkan ini

mengangkat materi mengenai tata surya dimana bumi menjadi salah satu dari

anggota tata surya tersebut. Ini dimaksudkan untuk membuka wawasan serta

pengetahuan siswa mengenai alam semesta serta meningkatkan rasa syukur

(31)

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka

1. Belajar

Belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku seseorang setelah

mempelajari suatu objek (pengalaman, sikap, atau keterampilan) tertentu. Hal ini

identik dengan pandangan Good dan Brophy, yang menyatakan bahwa belajar

merupakan suatu proses atau interaksi yang dilakukan oleh seseorang dalam

memperoleh sesuatu yang baru dalam bentuk perubahan perilaku sebagai hasil

dari pengalaman itu sendiri (Hamzah B. Uno, 2011:15).

Berdasarkan penjelasan di atas, belajar merupakan suatu proses yang harus dilalui

oleh seseorang dalam rangka perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang

dialami seseorang setelah melewati proses belajar yaitu didapat dari pengalaman

tertentu dan perubahan tersebut cenderung menetap. Hal ini sebagai akibat adanya

proses dalam bentuk interaksi belajar terhadap suatu objek (pengalaman).

2. Teori Belajar

Teori belajar merupakan serangkaian bagian, definisi, dan dalil yang saling

berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai suatu

(32)

14

menjelaskan fenomena alamiah. Dalam belajar terdapat beberapa teori belajar

antara lain :

a. Teori Belajar Behavioristik

Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai

akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain,

belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal

kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil

interaksi antara stimulus dan respon (C. Asri Budiningsih, 2012:20). Belajar

menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang

berasal dari lingkungan (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2010:25).

Berdasarkan uraian mengenai teori belajar behavioristik di atas dapat

disimpulkan bahwa individu dikatakan telah belajar apabila ia sudah

menunjukkan perubahan dalam tingkah lakunya sebagai akibat adanya

stimulus yang diberikan sehingga individu tersebut meresponnya dengan

suatu perubahan tingkah laku.

b. Teori Belajar Kognitivistik

Teori belajar kognitivistik menekankan proses belajar daripada hasil belajar.

Bagi penganut teori kognitivistik belajar tidak sekedar melibatkan hubungan

antara stimulus dan respon. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses

berpikir yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik ilmu pengetahuan

dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang

(33)

terpatah-patah, terpisah-pisah, tetapi melalui proses yang mengalir,

bersambung-sambung, dan menyeluruh (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2010:30).

Berdasarkan uraian di atas, teori kogintivistik berbanding terbalik dengan

teori behavioristik. Jika dalam teori behavioristik lebih mengutamakan hasil

maka dalam teori kognitivistik ini lebih mengutakan proses. Proses belajar

individu dapat berupa usaha yang dilakukan secara aktif. Keaktifan itu dapat

berupa mencari pengalaman baru, mencari informasi baru, dan dapat juga

berupa pemecahan suatu masalah.

c. Teori Humanistik

Menurut teori humanistik, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada

manusia. Teori ini lebih tertarik pada gagasan tentang belajar dalam

bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa yang diamati dalam

dunia keseharian (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2010: 34).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa teori humanistik ini

memandang belajar dari sudut kefilsafatan.Dimana pandangan mengenai

belajar tidak dilihat seperti halnya belajar yang ada pada kehidupan

sehari-hari, namun teori ini memandang belajar dalam bentuknya yang paling ideal.

d. Teori Belajar Konstruktivistik

Teori konstruktivistik memahami belajar sebagai pembentukan (kontruksi)

pengetahuan oleh si belajar itu sendiri.Pengetahuan ada di dalam diri

(34)

16

begitu saja dari otak seorang guru kepada siswa (Eveline Siregar dan Hartini

Nara, 2010: 39).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan

proses mendapatkan suatu pengetahuan melalui usaha seorang individu.

Artinya pengetahuan tersebut didapat dari aktivitas individu dalam

mengontruksi pengetahuannya sendiri melalui bahan, media, peralatan, serta

sarana lainnya.

3. Pembelajaran

Pembelajaran menurut Wina Sanjaya (2010: 102) adalah proses pengaturan

lingkungan yang diarahkan untuk mengubah perilaku siswa kearah positif dan

lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa. Sedangkan

menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional, pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa, guru, dan sumber

belajar pada satu lingkungan belajar.

Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi siswa untuk menguasai

kompetensi yang diharapkan.Pemberdayaan diarahkan untuk mendorong

pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya siswa mampu menjadi

pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar (Andi, 2013:

56). Pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung

proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang

berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami

siswa (Winkel, 1991). Tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran. Pertama,

(35)

atau mengubah struktur kognitif siswa.Kedua, berhubungan dengan tipe-tipe

pengetahuan yang harus dipelajari (fisik, sosial, logika).Ketiga, dalam proses

pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial (Wina Sanjaya, 2010:

107).

Berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku siswa akibat dari

adanya interaksi yang terjadi antara guru, siswa, maupun lingkungan belajar

siswa.

4. Pembelajaran Geografi

Geografi berasal dari dua kata, geo (earth) yang berarti bumi dan grafi (graphein)

yeng berarti penggambaran.Jadi geografi adalah ilmu yang menggambarkan

tentang bumi. Dari dua kata tersebut banyak kesimpulan tentang pengertian

geografi, geografi sebagai the study of the relationshis existing between life and

the physical environment, atau sebagai ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan yang ada antara kehidupan dengan lingkungan fisiknya (Lobeck, 1939:

2) mengemukakan bahwa geografi adalah studi dan deskripsi

perbedaan-perbedaan dan agihan fenomena di bumi, mencakup semua yang mengubah atau

mempengaruhi permukaan bumi termasuk sifat-sifat fisiknya, iklim, dan

hasil-hasil yang bersifat hidup maupun tidak.

Geografi pada hakikatnya mempelajari tentang aspek-aspek keruangan permukaan

bumi yang merupakan keseluruhan gejala alam dan kehidupan umat manusia

(36)

18

menurut hasil Semlok tahun 1988 (dalam Suharyono dan Moch.Amien, 1994: 15)

adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer

dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan.

Menurut Suparmini (2000: 17), geografi adalah ilmu yang mempelajari hubungan

timbal balik antara manusia dengan lingkungannya.

Berdasarkan penjelasan di atas, Nursid Sumaatmadja(2001: 21) menyimpulkan

bahwa pembelajaran geografi adalah pembelajaran tentang aspek-aspek keruangan

permukaan bumi yang merupakan keseluruhan gejala alam dan kehidupan umat

manusia yang bervariasi kewilayahannya. Dengan kata lain pembelajaran geografi

merupakan pembelajaran tentang hakikat geografi yang diajarkan di sekolah dan

disesuaikan dengan perkembangan mental peserta didik pada jenjang pendidikan

masing-masing. Pembelajaran geografi dapat mengembangkan kemampuan

intelektual tiap orang atau peserta didik yang mempelajarinya.Geografi dapat

meningkatkan rasa ingin tahu, daya untuk melakukan observasi terhadap alam,

melatih ingatan dan citra terhadap kehidupan dengan lingkungan dan dapat

melatih kemampuan memecahkan masalah kehidupan yang terjadi sehari-hari.

5. Kearifan Lokal

Kearifan lokal memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan tradisional pada

suatu tempat, dalam kearifan lokal tersebut banyak mengandung suatu pandangan

atau aturan agar masyarakat lebih memiliki pijakan dalam menentukan suatu

tindakan seperti perilaku masyarakat sehari-hari. Pada umumnya etika dan nilai

(37)

dari generasi ke generasi melalui sastra lisan (antara lain dalam bentuk pepatah

dan peribahasa, folklore), dan masuskrip (Suyono, Suyatno, 2013).

Pembentukan dan perkembangan budaya mempengaruhi jati diri bangsa, kesatuan

masyarakat berperan serta dalam pembentukannya. Di dalam masing-masing

kesatuan kemasyarakatan yang membentuk bangsa baik yang berskala kecil

ataupun besar, terjadi proses-proses pembentukan dan perkembangan budaya

yang berfungsi sebagai jati diri bangsa tersebut (Sedyawati, Edy, 2010:328).

Masyarakat memiliki peranan penting dalam pembentukan budaya agar terus

bertahan diperkembangan jaman, baik secara langsung maupun tidak langsung

dengan memanfaatkan kemampuannya sehingga manusia mampu menguasai

alam.

6. Model ADDIE

Menurut Benny A. (2009: 128-132), ada satu model desain pembelajaran yang

sifatnya lebih generic yaitu model ADDIE

(Analysis-Design-Development-Implementation-evaluation). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Salah satu fungsinya ADDIE yaitu

menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastuktur program

pelatihan efektif, dinamis, dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.

Model ini membangun 5 tahap pengembangan yakni :

a. Analysis (analisa)

b. Design (desain/perancangan)

c. Development (pengembangan)

(38)

20

e. Evaluation (evaluasi)

Langkah-langkah pengembangan produk, model penelitian dan pengembangan ini

lebih rasional dan lebih lengkap daripada model 4D. Model ADDIE

dikembangkan oleh Dick and Carry (1996) untuk merancang sistem pembelajaran.

Berikut ini contoh kegiatan dari setiap langkah dalam model ADDIE.

1) Analisis

Pada tahap ini kegiatan utama adalah menganalisis perlunya pengembangan

model/metode pembelajaran baru dan menganalisis kelayakan dan

syarat-syarat pengembangan model atau metode pembelajaran baru. Tahap analisis

merupakan suatu proses mengidentifikasi apa yang akan dipelajari oleh

peserta didik.

2) Desain

Dalam perencanaan model/metode pembelajran, tahap desain memiliki

kemiripan dengan merancang kegiatan belajar mengajar. Kegiatan ini

merupakan proses sistematik yang dimulai dari menetapkan tujuan belajar,

merancang scenario atau kegiatan belajar mengajar, merancang perangkat

pembelajaran, merancang materi pembelajaran dan alat evaluasi hasil belajar.

3) Pengembangan

Pengembangan dalam model ADDIE ini berisi kegiatan realisasi rancangan

produk. Dalam tahap desain telah disusun kerangka konseptual penerapan

(39)

masih konseptual tersebut direalisasikan menjadi produk yang siap di

implementasikan.

4) Implementasi

Pada tahap ini diimplementasikan rancangan dan metode yang telah

dikembangkan pada situasi yang nyata yaitu di kelas.

5) Evaluasi

Evaluasi dilakukan dalam dua bentuk yaitu evaluasi formatif dan evaluasi

sumatif.

7. Pengertian Modul

Modul adalah satu satuan program belajar mengajar yang dapat dipelajari oleh

murid dengan bantuan yang minimal dari pihak guru.Satuan ini berisikan tujuan

yang harus dicapai secara praktis, petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan, materi

dan alat-alat yang dibutuhkan, alat penilaian guru yang mengukur keberhasilan

murid dalam mengerjakan modul (Ihsan Fuad, 2013: 197).

Sedangkan menurut Abdul Majid, modul akan bermakna kalau peserta didik dapat

dengan mudah menggunakannya. Pembelajaran dengan modul memungkinkan

seorang peserta didik yang memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih

cepat menyelesaikan satu atau lebih kompetensi dasar dibandingkan dengan

peserta didik lainnya. Dengan demikian, maka modul harus menggambarkan

kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan

menggunakan bahasa yang baik, menarik, dilengkapi dengan ilustrasi (Abdul

(40)

22

Berdasarkan pendapat kedua ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa modul

merupakan bagian dari salah satu bahan ajar yang bertujuan membantu guru

selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Modul ini sesuai dengan

kurikulum 2013 yang menekankan pada student center, dimana siswa dituntut

untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Di dalam modul berisikan

petunjuk-petunjuk yang memudahkan siswa dalam mempelajarinya dan juga disertai

dengan ilustrasi yang akan menambah pemahaman siswa dalam belajar.

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan pada saat mengembangkan modul,

diantaranya :pertama, membantu pembaca untuk menemukan cara mempelajari

modul. Kedua, menjelaskan hal-hal yang perlu pembaca persiapkan sebelum

mempelajari modul.Ketiga, menjelaskan hal-hal yang diharapkan dari pembaca

setelah selesai mempelajari modul.Keempat, mencari pengantar tentang cara

pembaca menghadapi atau mempelajari modul yaitu berapa lama waktu yang

dibutuhkan mempelajari bagian tertentu. Kelima, menyajikan metri sejelas

mungkin sehingga pembaca dapat mengaitkan materi yang dipelajari dari modul

dengan yang sudah diketahui sebelumnya.Keenam, member dukungan kepada

pembaca agar berani mencoba segala langkah yang dibutuhkan untuk memahami

materi modul.Ketujuh, melibatkan pembaca dalam latihan latihan, serta kegiatan

yang akan membuat pembaca berinteraksi dengan materi yang sedang dipelajari.

Kedelapan, member umpan balik pada latihan dan kegiatan yang dilakukan pembaca.Kesembilan, membantu pembaca untuk meringkas dengan yang sudah

(41)

a. Karakteristik Modul

Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2007: 133) modul mempunyai

karakteristik sebagai berikut:

1) Berbentuk unit pengajaran terkecil dan lengkap

2) Berisi rangkaian kegiatan belajar yang dirancang secara sistematis

3) Berisi tujuan belajar yang dirumuskan secara jelas dan khusus

4) Memungkinkan siswa belajar mandiri dan merupakan realisasi perbedaan

individual serta perwujudan pengajaran individual

Menurut Penulisan Modul Departemen Pendidikan Nasional (2008: 3-5), modul

yang dikembangkan harus memperhatikan karakteristik yang diperlukan sebuah

modul, yaitu Self Intruction, Self Contained, Stand Alone, Adaptive, dan User

Friendly.

Sedangkan menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (dalam Buletin

BSNP, Vol II, Januari 2007: 21), buku teks yang berkualitas memenuhi empat

unsur kelayakan yaitu, kelayakan isi/materi, kebahasaan, penyajian dan

kegrafikan/tampilan,. Penilaian buku teks tersebut digunakan sebagai acuan

penilaian modul agar hasil dari pengembangan tidak menyimpang dari harapan

BSNP.

b. Pengembangan Modul

Pengembangan modul dikembangkan dengan berbagai cara, yaitu adaptasi,

kompilasi, dan menulis sendiri. Modul adaptasi adalah modul yang dikembangkan

dengan menentukan salah satu buku yang ada di pasaran, kemudian

(42)

24

adalah modul yang dikembangkan berdasarkan materi dalam buku-buku yang ada

dipasaran, artikel, jurnal ilmiah, atau modul yang sudah ada sebelumnya dengan

menggunakan garis-garis besar program pembelajaran atau silabus yang disusun

penulis sebelumnya. Modul dengan menulis sendiri yaitu penulis menulis sendiri

modul yang dipergunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa

dalam suatu mata pelajaran (Purwanto, Aristo, dan Suharto, 2007: 10-12).

Jika melihat pendapat ahli di atas, maka pengembangan modul yang dilakukan

peneliti nantinya merupakan pengembangan modul sendiri. Artinya dalam modul

yang akan dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam suatu mata

pelajaran.

c. Sistematika Pengembangan Modul

Menurut Surahman (2010: 2), sistematika modul mempunyai urutan sebagai

berikut.

1. Judul modul

Bagian ini berisi tentang nama modul dari suatu mata pelajaran tertentu.

2. Petunjuk umum

Bagian ini memuat penjelasan tentang langkah-langkah yang akan ditempuh

dalam pembelajaran, meliputi:

a. Kompetensi dasar

b. Pokok Bahasan

c. Indikator Pencapaian

d. Referensi (diisi oetunjuk pendidik tentang buku-buku referensi yang

(43)

e. Strategi pembelajaran (menjelaskan pendekatan, metode,langkah yang

dipergunakan dalam proses pembelajaran)

f. Lembar kegiatan pembelajaran

g. Petunjuk bagi peserta didik untuk memahami langkah-langkah dan

materi pembelajaran

h. Evaluasi

3. Materi modul

Bagian ini berisi penjelasan secara rinci tentang materi yang diajarkan pada

setiap pembelajaran.

4. Evaluasi semester

Evaluasi terdiri atas tengah semester dan akhir semester dengan tujuan untuk

mengukur kompetensi peserta didik sesuai materi pembelajaran yang

diberikan.

Mengacu pada pendapat di atas, maka modul yang akan dikembangkan oleh

peneliti memiliki sistematika sebagai berikut.

1. Bagian pembuka

Bagian pembuka terdiri dari judul modul, kata pengantar, daftar isi,

pendahuluan, deskripsi singkat isi modul, peta konsep modul, standar

kompetensi, tujuan pembelajaran, manfaat pembelajaran, dan petunjuk

penggunaan modul.

2. Bagian inti

Bagian inti terdiri dari rencana belajar siswa, kegiatan belajar 1, 2, dan 3

(44)

26

3. Bagian penutup

Bagian penutup terdiri dari evaluasi, penutup, glosarium, daftar pustka, dan

kunci jawaban

d. Prosedur Penulisan Modul

Prosedur penulisan modul merupakan proses pengembangan modul yang

dilakukan secara sistematis. Penulisan modul dilakukan dengan prosedur sebagai

berikut (Depdiknas, 2008: 12-16):

1. Analisis Kebutuhan Modul

Analisis kebutuhan modul merupakan kegiatan menganalisis kompetensi

untuk menentukan jumlah dan judul modul yang dibutuhkan dalam mencapai

suatu kompetensi tertentu. Berikut ini langkah-langkah dalam menganalisis

kebutuhan modul yaitu:

a) Menetapkan terlebih dahulu kompetensi yang terdapat di dalam

garis-garis besar program pembelajaran yang akan dikembangkan menjadi

modul.

b) Mengidentifikasi dan menentukan ruang lingkup unit dan kompetensi

yang akan dicapai.

c) Mengidentifikasi dan menentukan pengetahuan, ketrampilan dansikap

yang disyaratkan.

d) Menentukan judul modul yang akan dikembangkan.

2. Penyusunan Draf

Penyusunan draf merupakan proses pengorganisasian materi pembelajaran

(45)

sistematis. Penyusunan draf ini dilakukan melalui langkah-langkah sebagai

berikut:

a) Menetapkan judul modul.

b) Menetapkan tujuan akhir yang akan dicapai siswa setelah selesai

mempelajari modul.

c) Menetapkan kemampuan yang spesifik yang menunjang tujuan akhir.

d) Menetapkan outline (garis besar) modul.

e) Mengembangkan materi pada garis-garis besar.

f) Memeriksa ulang draf modul yang dihasilkan.

g) Menghasilkan draf modul I

Hasil akhir dari tahap ini adalah menghasilkan draf modul yang

sekurang-kurangnya mencangkup: judul modul, kompetensi atau sub kompetensi yang

akan dicapai, tujuan siswa mempelajari modul, materi, prosedur, soal-soal,

evaluasi atau penilaian, dan kunci jawaban dari

latihan soal.

3. Validasi

Validasi adalah proses permintaan persetujuan pengesahan terhadap

kelayakan modul. Validasi ini dilakukan oleh dosen ahli materi, ahli media,

dan guru IPS. Tujuan dilakukannya validasi adalah mengetahui kelayakan

terhadap modul yang telah dibuat.

4. Uji coba modul

Uji coba modul dilakukan setelah draf modul selesai direvisi dengan masukan

dari validator (dosen ahli materi, dosen ahli media, dan guru IPS). Tujan dari

(46)

28

modul. Uji coba penggunaan modul dalam pembelajaran ini dilakukan di

SMP N 3 Depok dengan subjek uji coba sejumlah 27 siswa.

5. Revisi

Revisi atau perbaikan adalah proses perbaikan modul setelah mendapat

masukan dari ahli materi, ahli media, guru IPS, dan siswa. Perbaikan modul

mencangkup aspek penting penyusunan modul yaitu: pengorganisasian materi

pembelajaran, penggunaan metode intruksional, penggunaan bahasa dan

pengorganisasian tata tulis.

8. Tinjauan Materi Pokok

a. Pengertian Jagad Raya

Jagad raya adalah ruang yang sangat luas tempat benda-benda langit berada,

termasuk bumi yang merupakan tempat manusia hidup. Di jagad raya terdapat

bermilyar bintang termasuk matahari, planet-planet yang besarnya berbeda-beda

berjalan ke arah yang sama sepanjang lintasan hampir melingkar di sekeliling

matahari, bulan, satelit, beribu-ribu planet kecil dan asteroid, komet, serta

meteor-meteor yang melintas setiap saat. Tata surya hanyalah satu dari jutaan bintang

yang bergabung dalam sekelompok bintang yang dikenal dengan nama galaksi. Di

alam semesta ini terdapat ribuan galaksi yang tersebar dengan ukuran yang

besar.Jadi terdapat banyak sekali bintang-bintang yang berada di dalam galaksi

dan mungkin terdapat banyak tata surya lainnya yang berada di dalam galaksi

tersebut (Gunawan Admiranto, 2009: 1-2).

b. Teori-Teori Asal Mula Jagad Raya

(47)

Gunawan Admiranto (2009: 14), mengemukakan bahwa adanya unsur-unsur

berat seperti oksigen dan nitrogen yang tidak mungkin terbentuk di matahari

hanya mungkin terbentuk di dalam inti bintang yang massanya sangat besar

lalu terlempar keluar pada saat tahap akhir evolusi bintang itu melalui suatu

ledakan yang disebut ledakan supernova. Bintang yang massanya sangat

besar ini hanya terdapat di lengan-lengan spiral galaksi bimasakti.

Akibatnya, gas yang dihemburkan oleh ledakan supernova ini hanya terdapat

di lengan-lengan spiral galaksi.

b. Teori ledakan tetap (The Steady State Theory)

Teori keadaan tetap dikemukakan oleh Gold dan Hoyle dari Universitas

Cambridge pada tahun 1948.Menurut teori ini, alam semesta tidak ada

awalnya dan tidak akan berrakhir.Alam semesta selalu terlihat tetapseperti

sekarang. Materi secara terus menerus datang berbentuk atom-atom hidrogen

dalam angkasa yang membentuk galaksi baru dan mengganti galaksi lama

yang bergerak menjauhi kita dalam ekspansinya.

c. Tata Surya

Baker (1964: 186), mengemukakan bahwa the solar system consist of the sun and

many smaller bodies that revolve around the sun. These include the planets with their satellits, and the comets and meteors atau bahwa tata surya terdiri dari matahari dan beberapa benda yang lebih kecil yang berputar mengelilingi

matahari. Didalamnya terdapat planet dengan satelit-satelitnya, komet, dan

meteor.Tata surya adalah rumpun planet, bulan, dan serpihan antariksa yang

(48)

30

kemungkinan terbentuk dari awan besar dan gas debu antar bintang yang menjadi

satu karena gaya gravitasinya sendiri (Lippicott, 2007: 36). Tata surya adalah

suatu kelompok benda langit, tidak hanya terdiri dari matahari dan planet-planet

saja melainkan objek-objek yang lebih kecil,seperti asteroid, komet, meteorid, dan

debu antarplanet. Benda-benda ini memiliki pergerakan yang berbeda dengan

planet dan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk sampai dekat bumi

dibandingkan dengan planet-planet itu (Gunawan Admiranto, 2009: 12).

d. Teori Terbentuknya Tata Surya a. Teori Nebula atau Teori Kabut

Teori Nebula dikemukakan oleh Immanuel Kant (1775) dan Laplace

(1976).Tata surya berasal dari ruang antar bintang yang dipilin di jagat

raya.Kabut berasal dari debu, gas, dan es.Kabut berputar dan menyusut akibat

gravitasi yang dimilikinya.Kabut berpilin ada yang terlepas dan membentuk

gelang disekeliling bagian utama gumpalan kabut.Gumpalan kabut membeku

dan membentuk palnet-planet.

b. Teori Planetesimal

Teori planetesimal dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin (1843-1929)

dan diperkuat oleh Forest R. Moulton (1872-1952).Teori ini menunjukkan

pada awalnya tata surya hanya terdiri atas matahari.Hingga suatu saat terdapat

sebuah bintang yang melintas dekat matahari.Matahari dan bintang tersebut

tarik menarik menyebabkan bagian material padat berhamburan dan bergerak

(49)

berukuran lebih kecil.Benda tersebut saling bertabrakan dan membentuk

berbagai kenampakan di angkasa seperti planet, satelit, asteroid, dan komet.

c. Teori Pasang Surut Bintang

Teori ini dikemukakan oleh James Jeans dan Harold Jeffreys.Teori ini

menjelaskan pada awalnya terdapat dua bintang yang saling berdekatan. Gaya

tarik menarik antar bintang menyebabkan sejumlah materi mengalami proses

yang surut. Sebagian masa dari sala satu matahari terlepas membentuk planet

dan objek angkasa lain.

d. Teori Bintang Kembar

Teori bintang kembar dikemukakan oleh Fred Hoyle (1956). Hoyle

menyatakan bahwa semula terdapat dua bintang yang mengelilingi medan

gravitasi. Bintang yang satu menabrak bintang lain. Bintang yang bertahan

menjadi matahari dan bimtang yang membentuk kepingan gas menjadi

planet-planet serta benda angkasa.Benda-benda angkasa seperti planet

tertahan oleh gravitasi matahari pada garis edarnya.

e. Karakteristik Anggota Tata Surya

Tata surya terdiri dari matahari, sembilan planet dan berbagai benda-benda langit

seperti satelit, komet, asteroid. Planet-planet berevolusi mengelilingi matahari

dengan orbit (garis edar) yang berbentuk elip. Beberapa planet mempunyai

satelit.Satelit ini berputar mengelilingi planet dan bersama dengan planet

mengelilingi matahari.Jadi tata surya merupakan sistem rotasi yang berpusat pada

(50)

32

1) Matahari

Diantara berjuta-juta bintang di dalam galaksi, maka matahari sangat penting

bagi kehidupan bumi. Matahari adalah sebuah bintang yang jaraknya paling

dekat dengan bumi, yaitu sekitar 150 juta km. Matahari adalah bulatan gas

dengan diameter 1,4 x 106kilometer dan temperatur permukaannya sekitar

6.000 K. Temperatur ini meningkat jika semakin mendekati bumi berbentuk

gelombang elektromagnetik yang menjalar dengan kecepatan 3 x 1010

cm/detik (Bayong Tjasyonono HK, 2013: 28).

2) Planet

Planet adalah benda langit yang mengorbit matahari, bukan satelit sebuah

planet, memliki massa yang mencukupi sehingga gaya gravitasi yang

dibangkitkannya sanggup mengatasi gaya-gaya lain, memiliki bentuk bulat

karena keseimbangan hidrostatis dan daerah yang terletak disekitar orbitnya

sudah dibersihkan sehingga objek ini menjadi satu-satunya benda yang

berukuran besar pada satu jarak tertentu. Sebelum tahun 2006 dalam tata

surya masih memiliki sembilan planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars,

Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Tetapi pada saat

berlangsungnya General Assembly International Astronomical Union di

Praha pada bulan Agustus 2006, para astronom memutuskan untuk

mengeluarkan Pluto dari planet yang kedudukannya sama dengan delapan

planet lainnya. Para astronom menyatakan bahwa Pluto bukan lagi sebuah

(51)

Cahaya planet yang sampai ke bumi bukan berasal dari planet itu sendiri,

melainkan cahaya matahari yang dipantulkan oleh planet.Kecemerlangan

planet yang sampai di bumi berbeda-beda, tergantung pada jarak planet serta

berupa bagian cahaya matahari yang mampu dipantulkan oleh planet.

3) Asteroid

Empat planet yang terletak dengan matahari yaitu merkurius, venus, bumi,

dan mars disebut planet dalam, sedangkan planet sisanya yaitu Jupiter,

saturnus, Uranus, neptunus, dan Pluto disebut dengan planet luar. Antara

planet dalam dan planet luar atau antara orbit mars dan Jupiter terdapat sabuk

(belt) asteroid yaitu ribuan planet kecil dan pecahan-pecahan yang asalnya

masih diperdebatkan. Asteroid kadang-kadang disebut planetoid (Bayong

Tjasyonono HK, 2013: 31).

4) Bulan dan Satelit

Jupiter adalah planet yang mempunyai palling banyak satelit yaitu 17 satelit,

kemudian saturnus 9 satelit, Uranus 5 satelit, neptunus 2 satelit, mars 2 satelit,

Pluto 1 satelit, dan bumi 1 satelit. Satelit bumi disebut bulan.Diantara

satelit-satelit planet, makan bulan banyak mempengaruhi gejala alam di bumi

misalnya pasang surut. Jarak rata-rata bulan-bumi adalah 384 x 103 km.

Diameter bulan 0,27 kali dimater bumi, massa jenisnya 3,33 g/cm3, dan

gravitasinya 0,17 kali gravitasi bumi. Orbit bulan berupa elip dengan

eksentrisitas 0,005.Jarak terdekat bulan-bumi disebut perigee dan jarak

terjauhnya disebut apogee (Bayong Tjasyonono HK, 2013: 32).

(52)

34

Komet disebut juga bintang berekor. Garis edar komet tidak seperti orbit

planet atau satelit. Ada komet yang mempunyai orbit elip, tetapimenilai

eksentrisitasnya sangat besar sehingga komet hanya dapat terliha t jika berada

di sekitar perihelion kemudian menghilang pada waktu komet menjauhi

perihelion. Kebanyakan komet mempunyai orbit berbentuk parabola atau hiperbola, sehingga komet hanya tampak sekali kemudian menghilang karena

menempuh lintasan yang jauh di ruang angkasa (Bayong Tjasyonono HK,

2013: 33).

B. Penelitian yang Relevan

1. Wihan Afriono, Herpratiwi, Tarkono, “Pengembangan Modul Dasar-Dasar Mesin Kelas X Sekolah Menengah Kejuruan Di KotaMetro”. Desain penelitian ini adalah Research and Development (R&D). Subjek uji coba

terdiri dari satu ahli materi, satu ahli desain pembelajaran, tiga peserta didik

untuk uji perorangan, enam peserta didik untuk uji kelompok kecil, dan 26

peserta didik untuk uji lapangan. Data dikumpulkan melalui metode angket,

pretest, dan posttest. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kulantitatif dan uji t. Hasil penelitian adalah bahan ajar yang dihasilkan

beerupa modul pembelajaran divalidasi oleh ahli materi dan ahli desain

pembelajaran, efektivitas modul pembelajaran ditunjukkan dengan rerata skor

7,69, dan daya tarik modul pembelajaran, 80% responden menyatakan bahwa

produk ini sangat menarik dan mudah digunakan.

(53)

Carrey. Teknik pengambilan sampel kelas menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data melalui angket dan tes. Hasil penelitian yaitu menghasilkan produk berupa bahan ajar mitigasi dan adaptasi

bencana alam sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru dan telah divalidasi

oleh ahli serta diuji coba. Hasil eksperimen bahan ajar mitigasi dan adaptasi

bencana alam menunjukkan bahwa bahan ajar efektif digunakan dalam

pembelajaran. Hasil menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dengan

menggunakan bahan ajar mitigasi dan adaptasi bencana alam meningkat 18%

dari sebelum menggunakan bahan ajar, sedangkan hasil belajar siswa tanpa

menggunakan bahan ajar mitigasi dan adaptasi bencana alam hanya

meningkat 8% dari nilai sebelumnya.

3. Fitri Dwiaryati, “Pengembangan Bahan Ajar Modul Materi Bencana Banjir pada Ekstrakurikuler Sekolah Siaga Bencana di SMPN 1 Kecamatan

Gantiwarno”. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Dick and Carrey. Teknik analisis menggunakan uji T (t-test). Hasil

penelitian menunjukkan kegiatan pre-test dan post-test mengalami

peningkatan skor, selisih skor pre-test dan post-test didapat adalah 1,34

dengan rincian skor pre-test 6,83 kemudian meningkat pada skor post-test

8,17. Dilihatdari validasi materi dan validasi media, bahan ajar yang

dikembangkan dinyatakan layak untuk digunakan saat proses pembelajaran

pada Ekstrakurikuler Sekolah Siaga Bencana di SMPN 1 Gantiwarno Klates.

(54)

36

di SMAN 1 Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Modul dikembangkan

berdasarkan model pengembangan Dick and Carrey (2001) terdiri dari

sembilan tahap pengembangan. Analisis hasil validasi ahli perangkat

pembelajaran menunjukkan kategori sangat valid dengan presentase penilaian

<p> sebesar 82,33% untuk modul peserta didik.

5. Septian Dwi Anggraini, Sri Wahyuni, Pramudya Aristya, “Pengembangan Modul Fisika Materi Gelombang Berbasis Kebencanaan Alam di SMA. Jenis

penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan desain penelitian 4-D.

Hasil penelitian adalah validasi kajian instruksional yang mendapatkan skor

4,32 dan validasi kajian teknis 4,53 sehingga hasil validasi dari produk yang

dikembangkan adalah valid.

C. Kerangka Berpikir

Pembelajaran geografi dapat dikatakan berkualitas apabila hasil belajar siswa

dapat meningkat dengan baik. Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar

siswa yaitu dengan adanya sumber belajar yang baik dan mudah dipahami.

Sumber belajar yang dapat dipelajari salah satunya yaitu dalam bentuk modul.

Modul dapat memudahkan siswa selama proses pembelajaran.

Salah satu materi dalam pembelajaran geografi mendidik siswa menjadi bersyukur

atas segala yang telah diberikan oleh sang pencipta. Dengan mempelajarinya

dapat meningkatkan pengetahuan siswa bahwa bumi yang mereka singgahi

merupakan salah satu dari anggota tata surya yang tidak terbentuk dengan begitu

saja melainkan melalui suatu proses. Tata surya dan jagad raya merupakan salah

(55)

dan beberapa benda yang lebih kecil yang berputar mengelilingi

matahari.Didalamnya terdapat planet dengan satelit-satelitnya, komet, dan

meteor.Tata surya adalah rumpun planet, bulan, dan serpihan antariksa yang

mengorbit di sekeliling matahari yang disatukan.

Jika melihat kurikulum yang diterapkan sekarang yaitu kurikulum 2013 maka

sangat menekankan pada pendekatan saintifik, karena dianggap lebih efektif bagi

siswa untuk memahami isi materi yang dipelajari.Saat ini bahan ajar geografi

SMA yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 masih jarang dipasaran

sehingga banyak guru yang mengalami kebingungan dalam memberikan materi

bagi siswanya. Selain itu, materi pada kelas X yang padat membuat guru kesulitan

dalam memanajemen alokasi pembelajaran bagi siswa sehingga siswa harus

banyak belajar mandiri. Berdasarkan masalah di atas maka perlu dikembangkan

(56)
[image:56.595.119.510.100.370.2]

38

Gambar 3 Kerangka Pikir Pengembangan Modul Tata Surya Pembelajaran Geografi

Tata Surya

Modul Pembelajaran

Validasi Ahli Uji Coba Respon Peserta Didik

-Uji Coba Kelompok Kecil -Uji Coba Kelompok Besar

Modul Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal yang layak digunakan

(57)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Model Penelitian Pengembangan

Penelitian pengembangan merupakan metode penelitian yang secara sengaja,

sistematis, bertujuan untuk mencaritemukan, merumuskan, memperbaiki,

mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk,model,

metode/strategi/cara, jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif,

efisien, produktif, dan bermakna (Putra Nusa, 2012: 67).

Menurut Soenaarto dalam Tegeh, I Made (2014:xii) memberikan alasan tentang

penelitian pengembangan sebagai suatu proses untuk mengembangkan dan

memvalidasi produk-produk yang akan digunakan dalam pendidikan dan

pembelajaran. Penelitian pengembangan sebagai upaya untuk mengembangkan

dan menghasilkan produk berupa materi, media, alat atau strategi pembelajaran

yang digunakan untuk mengatasi pembelajaran di kelas dan bukan untuk menguji

teori.

Tegeh, I Made (2014:xii) berpendapat penelitian dan pengembangan atau

Research and Development (R&D) atau sering disebut pengembangan adalah strategi atau metode penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktik

pembelajaran. Penelitian dan pengembangan adalah rangkaian proses atau

(58)

40

memperbaiki produk-produk yang telah ada agar dapat dipertanggungjawabkan

(Direktorat Tenaga Kependidikan dan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu

Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, 2008).

Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian R & :D menurut Borg and

Gall dalam Sugiono (2011: 297-311) adalah sebagai berikut

1. Research and information collectin (penelitian dan pengumpulan informasi), termasuk dalam langkah ini antara lain studi literatur yang berkaitan dengan

permasalahan yang dikaji, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja

penelitian.

2. Planning (perencanaan), termasuk dalam langkah ini merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang

akan dicapai pada setiap tahapan, dan jika mungkin/diperlukan melaksanakan

studi kelayakan secara terbatas.

3. Develop premilinary form of product (pengembangan produk pendahuluan), yaitu mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan.

Termasuk dalam langkah ini adalah persiapan komponen pendukung,

menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, dan melakukan evaluasi terhadap

kelayakan alat-alat pendukung.

4. Preliminary field testing (uji coba pendahuluan), yaitu melakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas, dengan melibatkan subjek sebanyak 6-12

subjek. Pada langkah ini pengumpulan dan analisis data dapat dilaksanakan

dengan cara wawancara, observasi atau angket.

(59)

Perbaikan ini sangat mungkin dilakukan lebih dari satukali, sesuai dengan

hasil yang ditunjukkan dalam uji coba terbatas, sehingga diperoleh draft

produk (model) utama yang siap diujicoba lebih luas.

6. Main field testing (uji coba utama) yang melibatkan siswa.

7. Operational product revisison (revisi produk operasional), yaitu melakukan perbaikan atau penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga

produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang

siap divalidasi.

8. Operational field testing (uji coba operasional), yaitu langkah uji validasi terhadap model operasional yang siap divalidasi.

9. Final product revision (revisi produk akhir), yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan guna menghasilkan produk akhir (final).

10. Dissemination and implementation (desiminasi dan distribusi), yaitu langkah

yang menyebarluaskan produk/model yang dikembangkan.

Penelitian dan pengembangan modul materi tata surya berbasis nilai-nilai

Al-Qr’an dan kearifan lokal ini tidak menerapkan semua langkah di atas. Penelitian ini menggunakan model desain pengembangan ADDIE yang muncul pada tahun

1990-an, dikembangkan oleh Raiser dan Mollenda. Model ini merupakan salah

satu model desain pembelajaran sistematik. Pemilihan model ini didasari atas

pertimbangan bahwa model ini dikembangkan secara sistematis dan berpijak

pada landasan teoritis desain pembelajaran. Modul ini disusun secara terprogram

dengan urutan-urutan kegiatan yang sistematis dalam upaya pemecahan masalah

belajar yang berkaitan dengan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan

Figure

Grafik Interaksi Kelompok Kecil dan Kelompok Besar........................... 74Grafik Aspek Penilaian Oleh Ahli Materi ...............................................
Gambar 1 Buku Geografi Oleh K. Wardiyatmoko
Gambar 2 Materi Tata Surya Buku Geografi Oleh K. Widiyatmoko
Gambar 3 Kerangka Pikir Pengembangan Modul Tata Surya
+4

References

Related documents

USDA Forest Service Southwestern Region Grade: High School Physical Science Title: People in Fire's Homeland. F OREST S ERVICE

S6 (Having a list of available commands); and as the chatbot cannot understand a “help” message from the user, it also replies that same message (Fig. 22), which characterizes a case

Since the way to increase customer trust in an RA is to trigger more processes of trust formation and fewer processes of distrust formation, our protocol analysis results

In addition, traditional city planning principles and practices that concern basic urban issues such as mobility (means and modes of transport, promotion of public transportation

USB-connected channel bank providing analog/digital telephony interfaces Xorcom server (backup) Xorcom server (primary) LAN/WAN Switch Changes to Backup Server Backup Server

physician supervision. As part of their comprehensive responsibilities, PAs conduct physical exams, diagnose and treat illnesses, order and interpret tests, counsel on

NAIOMT Level I Differential Diagnosis in Manual Therapy Ann Porter Hoke PT, OCS, FCAMT, FAAOMPT. NAIOMT Level II Lower Quadrant Part A and B- Extremities: Assessment and Treatment

Little evidence that consumer remedies have created a significant change in consumer behaviour. • PCA Banking (only