HUBUNGAN METODE DISKUSI KELOMPOK DENGAN HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 1 SEMAKA
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
(Skripsi)
Oleh
RIYAN MUSTAFA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
HUBUNGAN METODE DISKUSI KELOMPOK DENGAN HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 1 SEMAKA
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Oleh
RIYAN MUSTAFA
Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan metode diskusi kelompok dengan hasil belajar sejarah siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Semaka Tahun Pelajaran 2018/2019. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan metode diskusi kelompok dengan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Semaka Kabupaten Tanggamus.
Jenis penelitian ini adalah Quasi Experimental Design dengan desain penelitian Posttest-Only Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Semaka Kabupaten Tanggamus yang berjumlah 64. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik sampling jenuh, yang terpilih menjadi kelas eksperimen adalah kelas XI IPS 1 sebanyak 32 peserta didik dan yang terpilih menjadi kelas kontrol adalah kelas XI IPS 2 sebanyak 32 peserta didik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar dan lembar observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif.
HUBUNGAN METODE DISKUSI KELOMPOK DENGAN HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 1 SEMAKA
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Oleh
RIYAN MUSTAFA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Program Studi Pendidikan Sejarah
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Riyan Mustafa dan dilahirkan di Sudimoro pada 20 Desember 1993 sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Penulis dilahirkan dari pasangan Bapak Saiman dan Ibu Muslimah.
Pendidikan formal yang telah ditempuh penulis adalah Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri 1 Sudimoro Kecamatan Semaka dan selesai pada tahun 2005. Kemudian masuk SMP Negeri 1 Semaka pada tahun 2005 dan lulus pada tahun 2008. Kemudian masuk Sekolah Menengah Atas, SMA Negeri 1 Gadingrejo Kabupaten Pringsewu pada tahun 2008 dan selesai pada tahun 2011.
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahi rabbil alamin, puji syukur penulis ucapakan ke pada Allah SWT
atas semua anugerah yang telah diberikan kepadaku, skripsi ini ku persembahkan
kepada:
Ibu Muslimah yang tak pernah usainya menguntai doa untukku; untuk Bapak
Saiman yang peluhnya tak pernah berhenti mengalir demi keberhasilanku; dan
untuk Adikku Irfan Prasetya yang selalu mengukir tawa semringah di wajahku.
Serta seluruh keluarga, sahabat dan teman-temanku program studi Sejarah
angkatan 2011 yang telah membantu & mendoakan,
Istriku tercinta Herda Silviana yang selalu memberikan semangat dan
mengharapkan hal yang terbaik ”untukku”.
Almamater Tercinta
MOTTO
“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5-6)
“Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka
terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka
bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi”
(Ernest Newman)
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang sabar”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dan satu
kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat
SANWACANA
Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan kepada Allah Subbhanahu Wataala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Hubungan Metode Diskusi Kelompok Dengan Hasil Belajar Sejarah Siswa
Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Semaka Tahun Pelajaran 2018/2019” dapat diselesaikan
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Lampung. Dalam proses penulisan skripsi ini terjadi banyak hambatan baik yang datang dari luar dan dari dalam diri penulis. Penulisan skripsi ini pun tidak lepas dari bimbingan dan bantuan serta petunjuk dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung;
2. Bapak Dr. Sunyono, M.Si., Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kerja Sama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung; 3. Bapak Drs. Supriyadi, M.Pd., Wakil Dekan II Bidang Umum Keuangan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung;
5. Bapak Drs. Zulkarnain, M.Si., Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung;
6. Bapak Drs. Syaiful M, M.Si., Ketua Prodi Pendidikan Sejarah, pembimbing I sekaligus Pembimbing Akademik Yang Telah Membimbing dengan penuh sabar telah membantu, memberikan solusi, menjelaskan, dan mengarahkan penulis selama proses penyusunan skripsi ini;
7. Yustina Sri Ekwandari, S.Pd, M.Hum., pembimbing II yang juga telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran, membantu, memberikan solusi, mengarahkan, menjelaskan dan memberikan saran kepada penulis; 8. Drs. Maskun, M.H, penguji yang telah memberikan bimbingan, nasihat,
dan saran kepada penulis;
9. Seluruh Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, Bapak Drs. Ali Imron, M.Hum, bapak Drs. Wakidi, M.Hum, Ibu Dr. Risma Sinaga, M.Hum, Bapak Drs. Tontowi, M.Si, Bapak Muhammad Basri, S.Pd, M.Pd, Bapak Suparman Arif, S.Pd, M.Pd, Bapak Chery Saputra, S.Pd, M.Pd dan Bapak Marzius Insani, S.Pd. M.Pd beserta para pendidik di Unila yang telah banyak memberikan ilmu serta wawasan baru kepada penulis.
11. Ibu Dwi Susilawati, S.Pd guru Sejarah SMA Negeri 1 Semaka yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian;
12. Seluruh Siswa Kelas XI IPS 1 dan Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Semaka Terimakasih atas Kerjasamanya;
13. Keluarga besarku yang telah memberikan dukungan, doa, dan motivasi kepada penulis;
14. Sahabat seperjuangan Hengki Falentin Prastiawan, Yoga Prima Shawalda, Anwar Sidik, Suhanda, Budi Darmoko, Ucep Sayifulloh, Wahyu Nur Hidayat, Muhammad Nurul Azmi serta teman-teman seperjuangan angkatan 2011 Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. Kalian sangat berarti dalam pendewasaan penulis, terima kasih atas persahabatan, doa, serta dukungan, motivasi, dan kebersamaan yang telah kalian berikan selama ini;
15. Almamater tercinta;
16. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Semoga Allah SWT memberi sebaik-baik balasan kepada bapak, ibu dan rekan- rekan semua. Hanya ucapan terima kasih dan doa yang bisa penulis berikan. Kritik dan saran yang bersifat membangun, sangat diharapkan demi kesempurnaan tulisan ini. Semoga skripsi ini dapat membuka wawasan serta bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Bandarlampung, Desember 2018 Penulis,
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ABSTRAK PENGESAHAN RIWAYAT HIDUP MOTTO PERSEMBAHAN SANWACANA DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang ... 1
1.2Rumusan Masalah ... 6
1.3TujuanPenelitian ... 6
1.4Manfaat Penelitian ... 6
1.5Ruang Lingkup Penelitian ... 6
BAB II LANDASAN TEORI 2.1Pengertian Sejarah ... 8
2.2Pengertian Belajar ... 9
2.3Strategi Belajar ... 11
2.4Metode Diskusi ... 12
2.5Metode Diskusi Kelompok ... 13
2.6Hasil Belajar ... 16
2.7Kerangka Berfikir... 17
2.8Indikator Keberhasilan ... 19
2.7.1 Aktivitas Belajar ... 19
2.7.2 Aktivitas Keberhasilan Hasil Belajar ... 19
2.8 Hipotesis Tindakan... 20
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 22
3.2 Desain Penelitian ... 22
3.3 Populasi Dan Sampel ... 23
3.3.1 Populasi ... 23
3.3.2 Sampel ... 24
3.4.1 Lembar Observasi ... 25
3.4.2 Tes ... 26
3.5 Teknis Analisis Data Penelitian ... 28
3.5.1 Statistik Deskriptif ... 29
3.6 Langkah Pelaksanaan Penelitian ... 30
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Tinjauan Umum Penelitian ... 32
4.2Deskripsi Data ... 39
4.2.1 Pelaksanaan Penelitian ... 39
4.2.2 Data Hasil Belajar Kelas Kontrol ... 51
4.2.3 Data Hasil Belajar Kelas Eksperimen ... 63
4.3Pembahasan ... 76
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1Simpulan ... 80
5.2Saran ... 80 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1. Desain Penelitian ... 23
2. Jumlah Anggota populasi Siswa kelas XI SMA N 1 Semaka ... 24
3. Jumlah Anggota Sampel ...25
4. Kisi-Kisi Soal Tes ... 27
5. Skoran Pretest Dan Posttest ...28
6. Kategori Tingkat Penguasaan Materi ...30
7. Tenaga Pengajar/Guru SMA Negeri 1 Semaka ...36
8. Data Hasil Kemampuan Awal Kelas Kontrol (Pretest) ...44
9. Data Hasil Kemampuan Akhir Kelas Kontrol (Postest) ...46
10. Data Hasil Kemampuan Awal Kelas Eksperimen (Pretest) ...49
11. Data Hasil Kemampuan Akhir Kelas Eksperimen (Postest) ...50
12. Data Hasil Belajar Peserta Didik Kelas Kontrol ...52
13. Distribusi Frekuensi Pretest Kelas Kontrol ...55
14. Distribusi Tabel Penolong Untuk Menghitung Nilai Rata-rata Pretest Kelas Kontrol ...56
16. Distribusi Frekuensi Posttest Kelas Kontrol ...59 17. Distribusi Tabel Penolong Untuk Menghitung Nilai Rata-rata
Posttest Kelas Kontrol ...59 18. Standar Deviasi Posttest pada Kelas Kontrol ...60 19. Nilai Statistik Deskriptif Hasil Pretest dan Posttest pada
Kelas Kontrol ...61 20. Distribusi Frekuensi dan Persentase Tingkat Penguasaan
Materi Peserta Didik pada Kelas Kontrol ...62 21. Nilai Rata-rata pada Pretest dan Posttest Kelas Kontrol ...64 22. Data Hasil Belajar Peserta Didik Kelas Eksperimen ...65
23.Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Peserta Didik Kelas
Eksperimen Sebelum Penerapan metode Diskusi ...67 24.Distribusi Tabel Penolong Untuk Menghitung Nilai Rata-rata
Kelas Eksperimen Sebelum Penerapan metode diskusi ...68 25.Standar Deviasi Pretest pada Kelas Eksperimen ...69 26.Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Peserta Didik Kelas
Eksperimen Setelah Penerapan Metode Diskusi ...71 27.Distribusi Tabel Penolong Untuk Menghitung Nilai Rata-Rata
Kelas Eksperimen Setelah Penerapan Metode Diskusi ...71 28.Standar Deviasi Posttest pada Kelas Eksperimen ...72 29.Nilai Statistik Deskriptif Hasil Pretest dan Posttest pada
Kelas Eksperimen ...73 30.Distribusi Frekuensi dan Persentase Tingkat Penguasaan
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR
1. Skema Kerangka Berfikir Penelitian ... 18 2. Grafik Perbandingan Nilai Rata-rata Pretest, Posttest Kelas
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kualitas manusia (Djamarah, 2005:22). Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
2
Upaya peningkatan pendidikan ini diharapkan sesuai dengan proses perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi tanpa mengesampingkan nilai-nilai luhur, sopan santun, dan etika serta didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai (Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen 2006:1). Dengan pendidikan diharapkan, manusia akan mengetahui segala kelebihannya yang dipotensikan untuk kualitas hidup lebih baik dari sebelumnya.
Apabila pendidikan dianggap sebagai suatu cara mewujudkan cita-cita nasional suatu bangsa Indonesia, maka Sejarah adalah sumber kekuatan bagi berfungsinya pendidikan tersebut dengan efektif. Sebagai salah satu pelajaran yang bersifat normatif, Pengajaran Sejarah di sekolah ditujukan untuk membentuk kepribadian bangsa pada diri generasi muda. Nilai-nilai yang berkembang pada generasi masa kini, bukan saja untuk pengintegrasian individu kedalam kelompok tetapi juga menjadi bekal kekuatan untuk menghadapi masa kini dan masa yang akan datang lebih-lebih didasari tujuan nasional pendidikan yang pada dasarnya ingin mengembangkan manusia yang berkepribadian, yang sadar akan kewajibannya, serta terbinanyahubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Widja 1989:8).
3
Kurangnya metode yang bervariasi juga sering menjadi penyebab kurang berhasilnya penyampaian materi pengajaran. Sejalan dengan pendapat Saidiharjo (2005: 109) mengatakan bahwa dalam konteks dan aspek pendidikan untuk mencapai tujuan diperlukan berbagai metode pengajaran dengan prinsip-prinsip berfokus pada siswa, pengajaran terpadu, belajar tuntas, pemecahan masalah pengalaman belajar, fasilitator, dan sebagainya.
Guru mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting dalam pengajaran, karena guru merupakan penentu kualitas pengajaran. Oleh karena itu, guru harus selalu meningkatkan peranan dan kompetensinya dalam mengelola komponen-komponen pengajaran. Guru yang memiliki kompetensi tinggi akan mampu mendorong peserta didik meraih prestasi yang optimal. Oleh karena itu pembelajaran harus berorientasi pada peserta didik, karena peserta didik merupakan komponen pokok dan subjek didik, sedangkan guru berfungsi sebagai pendorong, pembimbing, pengarah, pembina pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
4
Pembelajaran yang berhasil dapat diukur dari nilai yang diperoleh dari perubahan tingkah laku yang dapat dilihat.
Hal ini bergantung pada kemampuan guru dalam mengajar. Guru akan memiliki kompetensi mengajar jika guru memiliki pemahaman dan penerapan dari berbagai metode belajar mengajar, serta hubungannya dengan belajar disamping kemampuan-kemampuan lain yang menunjang. Ada beberapa pertimbangan yang harus dilihat oleh guru dalam menentukan metode pengajaran yang akan dipakai antara lain: 1) tujuan pengajaran, 2) karakteristik peserta didik, 3) besar kecilnya kelas, 4) bahan dan alat yang tersedia, 5) isi bahan pelajaran, 6) kemampuan guru, 7) evaluasi yang akan di gunakan. Penggunaan berbagai metode merupakan salah satu syarat keberhasilan proses belajar mengajar, khususnya di SMA Negeri 1 Semaka, metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar pada Pelajaran Sejarah yaitu metode ceramah dan tanya jawab saja. Metode tersebut menyebabkan siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran, siswa mengantuk dan menimbulkan rasa bosan serta menjadikan Pelajaran Sejarah sebagai pelajaran yang tidak menarik. Metode ceramah yang digunakan guru khususnya pada Mata Pelajaran Sejarah belum menunjukkan hasil belajar siswa meningkat.
5
banyak materi. Selain hal tersebut dalam proses pengajaran siswa bertindak sebagai pendengar materi yang disampaikan oleh guru sehingga kebanyakan siswa merasa bosan ketika proses pelajaran berlangsung.
Kegiatan proses Pengajaran Sejarah, siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Semaka cenderung dalam bentuk hafalan tanpa mengembangkan kemampuan intelektual siswa yang lain. Ada kesan bahwa siswa hanya sebagai robot yang sewaktu-waktu siap melaksanakan perintah dari guru. Siswa tidak diajarkan untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya.
Salah satu cara agar siswa dapat memahami materi dengan baik dan mendapatkan nilai tertinggi yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran yang tepat. Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru untuk menunjang kegiatan belajar di dalam kelas untuk lebih berperan penting dalam proses pembelajaran salah satunya yaitu dengan menggunakan metode diskusi kelompok. Pembelajaran metode diskusi kelompok akan membuat siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran, karena akan menimbulkan persaingan sehat antar 6-7 siswa dalam proses belajar. Selain itu diskusi juga cocok di gunakan untuk bidang ilmu-ilmu sosial. Metode diskusi kelompok sangat cocok di gunakan untuk bidang ilmu sosial seperti sejarah, dan metode diskusi kelompok juga dapat memberikan rangsangan kepada siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan pemikiran di atas maka penulis terdorong untuk mengadakan penelitian dengan judul “Hubungan Metode Diskusi Kelompok Dengan Hasil Belajar
6
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang yang telah diuraikan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu:
Apakah Ada Hubungan Penggunaan Metode Diskusi Kelompok dengan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Semaka Kabupaten Tanggamus ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latarbelakang dan Rumusan Masalah yang penulis kemukakan di atas maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan metode diskusi kelompok dengan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Semaka Kabupaten Tanggamus.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberi sumbangan pemikiran bagi guru Sejarah dalam rangka meningkatkan hasil belajar Sejarah siswa.
2. Menambah wawasan bagi para pembaca mengenai pembelajaran Sejarah yang menggunakan Metode diskusi kelompok dapat meningkatkan hasil belajar Sejarah.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Agar lebih terarahnya penelitian, menghindari salah paham, dan kesimpang siuran maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian ini.
1. Ruang Lingkup Ilmu
7
2. Ruang Lingkup Objek
Objek penelitian ini adalah Metode Diskusi Kelompok dan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Sejarah siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Semaka Tahun Pelajaran 2018/2019.
3. Ruang Lingkup Subjek
Subjek penelitian ini adalah seluruh Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Semaka Tahun Pelajaran 2018/2019.
4. Ruang Lingkup Waktu
Penelitian ini di lakukan pada Tahun Pelajaran 2018/2019. 5. Ruang Lingkup Tempat
8
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Sejarah
Sejarah menurut asal katanya Sejarah atau history dalam Bahasa Inggris, sebenarnya berasal dari Bahasa Yunani yaitu istoria yang berati ilmu (Gottschalk,1985:27). Sejarah sendiri sebenarnya berasal dari kata dalam Bahasa Arab yaitu syajara yang berarti terjadi atau syajarah berati pohon yang selanjutnya berkembang menjadi istilah syajarah an-nasab atau pohon silsilah (Kuntowijoyo, 2005:1).
Berikut ini beberapa pengertian sejarah menurut pendapat para ahli: a. H. Ruslan Abdulgani
Sejarah adalah sebuah cabang ilmu yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau, beserta segala kejadian-kejadiannya dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitian penyelidikan tersebut untuk akhirnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilai dan penentuan keadaan sekarang serta arah program masa depan (Abdulgani dalam Hugiono, 1987: 4).
b. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.
9
lampau. Ilmu Sejarah adalah pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa-peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi dalam masa yang lampau. c. Wilhelm Buer
Sejarah adalah ilmu yang meneliti gambaran dengan penglihatan yang singkat untuk merumuskan fenomena kehidupan yang berhubungan dengan perubahan-perubahan yang terjadi karena hubungan manusia dengan masyarakat, memilih fenomena tersebut dengan memperhatikan akibat-akibat pada zamannya serta bentuk kualitasnya dan memusatkan perubahan-perubahan itu sesuai dengan waktunya serta tidak akan terulang lagi (Wilhelm Buer dalam Einfuhrung, Hugiono, 1987: 5).
d. Louis Gottschalk
Menyatakan bahwa pengertian sejarah yang paling umum atau history adalah masa lampau umat manusia (Gottshalk, 1985:27).
Berdasarkan pengertian para ahli di atas dapat diambil pengertian secara umum bahwa Sejarah merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan. Semua peristiwa-peristiwa sejarah membatasi masalah yaitu yang mengenai manusiwa masa lampau yang menjadi inti cerita sejarah itu sungguh-sungguh terjadi dan dapat dibuktikan kebenarannya.
2.2 Pengertian Belajar
10
Gagne (Anni, 2006:2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan.Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Sugihartono dkk, 2007: 74). Winkel (Purwanto, 2010: 39) menyatakan bahwa belajar adalah aktifitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Morgan (Wahyuni, 2009: 14) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman.
Menurut Kolb dalam Malcolm Tight (2000: 24) belajar adalah proses pengetahuan dikreasi melalui transformasi pengalaman. Belajar adalah kebutuhandalam kehidupan manusia. Belajar adalah cara adaptasi utama manusia untukbetahan hidup. Belajar itu kompleks dan meliputi berbagai aspekkehidupan.Belajar dilakukan secara terus menerus, informal dengan setting yangberbeda dilingkungan keluarga, masyarakat dan setiap aktivitas manusia yangbersifat praktis.
Pendapat lain dikemukakan oleh H.C.Witherington (Aunurrahman, 2010:35) dalam buku Educational Psychology, mengemukakan belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupan kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian.
11
Berdasarkan pengertian di atas, dapat diambil pengertian secara umum tentang belajar adalah proses kegiatan aktif dalam membangun makna atau pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan langsung yang berhubungan dengan lingkungannya untuk memperoleh tujuan tertentu.
2.3 Stategi Belajar
Strategi belajar merupakan rencana pertemuan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Metode merupakan salah satu aspek pokok pendidikan dan merupakan masalah sentral dalam mengajar. Memilih metode pembelajaran yang akan digunakan dalam rangka perencanaan pengajaran, perlu dipertimbangkan faktor-faktor tertentu, yaitu sebagai berikut :
1. Kesesuaian dengan tujuan intruksional 2. Keterlaksanaan dilihat dari waktu dan sarana
3. Metode adalah suatu cara kerja yang sistematik dan umum, terutama dalam mencari kebenaran ilmiah (Zakiah Drajat 2008:137).
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penetapan metode yang akan digunakan sebagai alat dan cara dalam penyajian bahan pengajaran yaitu sebagai berikut :
a. Tujuan Intruksional Khusus b. Keadaan Siswa
c. Materi atau bahan pengajaran d. Situasi ( suasana belajar) e. Fasilitas
12
g. Kebaikan dan kelemahan metode-metode
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa metode pembelajaran merupakan alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah upaya meningkatkan hasil belajar Sejarah Siswa Kelas XI dengan menggunakan Metode Diskusi Kelompok pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Semaka Tahun Pelajaran 2018/2019.
2.4 Metode Diskusi
Diskusi adalah proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang diwajah informasi untuk menghadapi interaksi dengan berbagai pengalaman atau informasi, simpulan, atau solusi untuk masalah (Usman, 2005: 94). Diskusi adalah interaksi antara dua orang atau lebih atau kelompok biasanya komunikasi antara mereka atau kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar (Wikipedia).
Diskusi adalah percakapan ilmiah yang berisikan pertukaran pendapat, pemunculan ide-ide serta pengujian pendapat yang dilakukan oleh beberapa orang yang bergabung dalam kelompok itu untuk mencari kebenaran. Metode diskusi bermanfaat untuk melatih kemampuan memecahkan masalah secara verbal, dan memupuksikap demokratis (Ali, 1998: 80).
13
Menurut (Djamarah, 2006: 87), pertanyaan yang layak didiskusikan mempunyai ciri sebagai berikut :
1. Menarik minat siswa yang sesuai dengan tarafnya.
2. Mempunyai kemungkinan jawaban lebih dari sebuah yang dapat dipertahankan kebenarannya.
3. Pada umumnya tidak menyatakan mana jawaban yang benar, tetapi lebih banyak mengutamakan hal mempertimbangkan dan membandingkan. 2.5 Metode Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok adalah proses di mana siswa akan mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi pengalaman mereka sendiri dalam memecahkan masalah umum (Moh. Surya, 1975: 107). Diskusi kelompok adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok untuk saling bertukar pendapat suatu masalah atau besama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban atau kebenaran atas suatu masalah (Subroto, 2002: 179).
Diskusi kelompok percakapan yang sudah direncanakan antara tiga orang atau lebih untuk memecahkan masalah dan memperjelas suatu persoalan Romlan (dalam Nilawati, 1997: 7). Diskusi kelompok merupakan suatau cara di mana siswa memperoleh kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama (Tohirin, 2007: 291). Diskusi kelompok adalah suatu pertemuan dua orang atau lebih, yang ditunjukan untuk saling tukar pengalaman dan pendapat, dan biasanya menghasilkan suatu keputusan bersama (Sukardi, 2008: 220).
Langkah-langkah dalam melaksanakan Diskusi Kelompok menurut (Djamarah, 2006: 87):
14
2. Guru membagi siswa-siswa dalam kelompok-kelompok kecil.
3. Guru membagikan kelompok kecil itu satu tugas membahas suatu topik, konsep atau isu dari mata pelajaran yang akan dipelajari.
4. Guru meminta kelompok kecil itu untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka. Guru menghargai setiap hasil diskusi dan kelompok lain memberikan pertanyaan yang belum dipahami atau memberikan tanggapan.
5. Guru menanyakan pada siswa tentang materi yang didiskusikan.
6. Guru memberikan penjelasan terhadap jawaban siswa dan menghubungkan dengan materi pelajaran.
Menurut Yusuf (dalam Drahmanto: 2011: 12), bahwa kelebihan menggunakan metode diskusi kelompok dalam proses mengajar yaitu:
1) suasana kelas lebih hidup; 2) mempertinggi partisipasi siswa, untuk mengeluarkan pendapatnya baik secara individu maupun secara kelompok; 3) merangsang siswa untuk mencari jalan pemecahan yang dihadapi bersama dengan cara bermusyawarah dan urun rembuk bersama-sama; 4) melatih sikap dinamis dan kreatif dalam berfikir; 5) menumbuhkan sikap toleransi dalam berpendapat maupun bersikap; 6) hasil diskusi dapat disimpulkan dan mudah dipahami; 7) memperluas cakrawala dan wawasan berfikir peserta diskusi.”
Sedangkan menurut Hudoyono (dalam Drahmanto: 2011: 12) kelebihan dari menggunakan Metode Diskusi Kelompok adalah:
1. Meningkatkan kualitas anak dalam bekerjasama 2. Saling menghargai pendapat orang lain.
3. Disiplin dan dapat menanamkan solidaritas yang tinggi.”
15
1. Siswa dapat lebih aktif dalam proses belajar mengajar
2. Siswa akan terbiasa lebih hidup dengan menggunakan metode diskusi 3. Siswa akan terbiasa degnan sikap toleransi dalam berpendapat / sikap 4. Siswa akan lebih bersikap dinamis dan kreatif.
5. Hasil diskusi akan lebih diingat oleh siswa dan tahan lama dalam benaknya.
6. Dengan belajar secara diskusi, siswa dapat mempertinggi pasrisipasi untuk mengeluarkan pendapat dan memperluas cakrawala dan wawasan berfikir. 7. Siswa akan dapat memahami pelajaran sebab pegnetahuan yang lebih
lengkap dan lebih lama daya ingatnya.
Sedangkan kelemahan Metode Diskusi Kelompok menurut Yusuf (dalam Darmanto: 2011: 12) di antaranya ialah:
1. Kemungkinan siswa yang tidak ikut aktif dijadikan kesempatan untuk bermain-main, dan menggangu yang lian.
2. Apabila suasana kelas tidak kondusif kemungkinan penggunaan waktu menjadi tidak efektif dan dapat berakibat tujuan pembelajara tidak tercapai. 3. Sulit memprediksi arah penyelesaian diskusi
4. Siswa mengalami kesulitan untuk mengeluarkan pendapat secara sistematis terutama bagi siswa yang memiliki sifat pemalu
5. Kesulitan mencari tema diskusi yang actual, yang hangat dan menarik untuk diskusikan.
Menurut Hudoyono (dalam Drahmanto: 2011: 12) kelemahan-kelemahan Metode Diskusi Kelompok yaitu:
1. Diskusi hanya melibatkan siswa yang mampu, berbicara memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang aktif.
2. Strategi ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda dan gaya mengajar yang berbeda pula.
3. Keberhasilan strategi diskusi tergantung pada kemampuan siswa memimpin kelompok atau bekerja sendiri-sendiri. Untuk setiap siswa harus memiliki tanggung jawab dalam kelompok.
16
1. Timbulnya sikap otoriter antara siswa yang cakap dalam kegaitan berdiskusi atau tidak.
2. Timbulnya sikap bermalas-malasan dalam diksusi bagi yang tidak berani mengungkapkan jawaban atau pendapatnya.
3. Bagi guru sulit untuk memberikan tema diskusi yang hangat, yang masih dibicarakan, sehingga anak tidak bermalas-malasan.
Dari beberapa pernyataan di atas penulis dapat menyimpulkan banyak keuntungan diskusi kelompok. Di samping memperoleh rumusan-rumusan hasil diskusi, juga dapat menumbuh kembangkan sikap demokrasi, kritis, berfikir kreatif, kemampuan mengemukakan pendapat secara sistematis, mengembangkan rasa tanggung jawab, menumbuhkan keberanian mengemukakan pendapat, dan meningkatkan motivasi belajar siswa.
2.6 Hasil Belajar
Menurut (Dimyati dan Mudjiono, 2007: 7) hasil belajar adalah hasil dari suatu interkasi tindak belajar dan tindak mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang ikut menentukan keberhasilan antara lain: pengaturan proses belajar mengajar dan pengajaran itu sendiri, dan keduanya mempunyai saling ketergantungan satu sama lain.
17
antara lain, bahwa dalam suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan intruksional khususnya dapa tercapai. Untuk mengetahui tercapai atau tidaknya guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai mengajarkan satu bahasan kepada siswa.
Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai tujuan instruksional khusus yang ingin dicapai. Fungsi penilaian ini adalah untuk memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar, karena itulah suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan intruksional khusus dari bahan tersebut. (Djamarah, 2006: 88) Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah sebagai-berikut:
1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai hasil belajar yang tinggi baik secara individual maupun kelompok.
2. Prilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok.
Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes hasil belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes hasil belajar dapat digolongkan atas: tes formatif, tes subsumatif dan tes sumatif.
2.6 Kerangka Berfikir
18
[image:36.595.114.507.570.641.2]proses pembelajaran oleh guru mata pelajaran sejarah. Inovasi tersebut dapat berupa diterapkannya metode pembelajaran yang lebih menarik (baru diterapkan oleh guru) perhatian siswa dalam melaksanakan proses pembalajaran. Metode pembelajarn yang ada sekarang beraneka ragam, salah satu metode pembelajaran tersebut yaitu Diskusi. Diskusi Kelompok adalah metode pembelajaran di mana guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar sesuai dengan tujuan. Dengan penerapan Metode Diskusi Kelompok diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat dan siswa dapat memperoleh pengatahuan, sikap, dan keterampilan sosial yang akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu dengan Metode diskusi kelompok diharapkan dapat meningkatkan peran aktif siswa dalam melakukan pembelajaran, sehingga dapat menghasilkan prestasi yang lebih tinggi, hubungan yang positif, dan penyesuaian psikologis yang lebih baik. Hasil belajar yang diperoleh pun akan mengalami peningkatan, terutama hasil belajar pada ranah kognitif yang mencakup pengetahuan pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), sintes (C5), dan evaluasi (C6).
Gambar 1: Skema Kerangka Berfikir Menggunakan Metode Diskusi Metode Diskusi
Kelompok
Aktifitas Siswa
19
2.7 Indikator Keberhasilan 2.7.1 Aktivitas Keberhasilan
Adapun indikator keberhasilan guru dalam kegiatan pembelajaran dengan penerapan metode diskusi sebagai berikut :
a. Guru memulai pelajaran dengan aktivitas pembuka yang menyenangkan sebelum masuk pada materi pelajaran yang lebih serius.
b. Guru membagi siswa-siswa dalam kelompok-kelompok kecil.
c. Guru membagikan kelompok kecil itu satu tugas membahas suatu topik, konsep atau isu dari mata pelajaran yang akan dipelajari.
d. Guru meminta kelompok kecil itu untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka. Guru menghargai setiap hasil diskusi dan kelompok lain memberikan pertanyaan yang belum dipahami atau memberikan tanggapan.
e. Guru menanyakan pada siswa tentang materi yang didiskusikan. f. Guru memberikan penjelasan terhadap jawaban siswa dan
menghubungkan dengan materi pelajaran.
2.7.2 Aktivitas Keberhasilan Hasil Belajar
20
2.8 Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah “Jawaban sementara yang dianggap benar dalam suatu penelitian
yang perlu dibuktikan kebenarannya melalui fakta-fakta pendukungnya” (Sutrisno Hadi, 2001: 73). Menurut Mohamad Ali, “Hipotesis adalah rumusan-rumusan jawaban sementara yang harus diuji kebenarannya melalui penelitian” (Ali, 1985:
49). sedangkan Winarno Surahmad berpendapat bahwa hipotesis adalah “kesimpulan yang belum final yang dapat dibuktikan kebenarannya melalui penelitian” (Winarno Surahmad, 2001: 57).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, yang dimaksud dengan hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian yang harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis akan terbukti kebenarannya melalui sebuah penelitian dengan cara mengumpulkan data, baik berupa fakta maupun data-data pendukung.
Hipotesis 1:
H0 : Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Siswa kelas XI dengan Menggunakan Metode Diskusi Kelompok pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Semaka Tahun Pelajaran 2018/2019 adalah tidak meningkat.
22
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian Quasi Eksperimen yang mengambil dua kelas secara langsung dari populasi, salah satu kelas dijadikan kelas eksperimen dan kelas yang satu dijadikan kelas kontrol. (Sugiono, 2015:114) Quasi Eksperimen Design merupakan suatu jenis eksperimen yang mempunyai kelompok kontrol namun tidak berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variable-variabel lain yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.
3.2 Desain Penelitian
23
metode ceramah). Pada akhir kegiatan kedua kelompok diberikan Posttest (pengambilan data).
Tabel 1: Desain Penelitian
Keterangan: X : Perlakuan
O1 : Nilai pre test kelompok eksperimen sebelum penerapan metode diskusi
di kelas XI IPS 2
O2 : Nilai post test kelompok eksperimen setelah penerapan metode diskusi di
kelas XI IPS 2
O3 : Nilai pre test kelompok kontrol tanpa perlakuan di kelas XI IPS 1
O4 : Nilai post test kelompok tanpa perlakuan di kelas XI IPS 1
(Sugiono, 2014: 119).
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan (Margono, 2010: 118). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011: 80).
O1 X O2
24
[image:41.595.149.462.248.330.2]Berdasarkan penjelasan populasi di atas, maka populasi dalam penelitian ini adalah sekumpulan orang atau objek dalam suatu kelompok yang dijadikan sumber pengambilan sampel. Penelitian ini menggunakan populasi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Semaka Tahun Pelajaran 2018/2019.
Tabel 2. Jumlah Anggota populasi
Kelas Siswa Jumlah
Laki-Laki Perempuan
XI IPS 1 17 15 32 Siswa
XI IPS 2 16 16 32 Siswa
JUMLAH 33 31 64 Siswa
Sumber: TU SMA Negeri 1 Semaka
Dari tabel tersebut, dapat diketahui yang menjadi populasi penelitian adalah Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Semaka Tahun Pelajaran 2018/2019 jumlah keseluruhan sebanyak 64 orang siswa yang terdiri dari 33 orang siswa laki-laki dan 31 orang siswa perempuan.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011:81). Sampel adalah sebagai bagian dari populasi, sebagai contoh yang diambil dengan menggunakan cara tertentu (Margono, 2010: 121). Tujuan peneliti mengambil sampel adalah memperoleh keterangan mengenai objeknya, dengan jalan hanya mengamati sebagian saja dari populasi.
25
[image:42.595.146.461.271.345.2]digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2013: 61). Jumlah populasi kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian. Berdasarkan pertimbangan peneliti, karena kedua kelas tersebut memiliki kemampuan akademik yang tergolong sama, yang pada akhirnya ditentukan Kelas XI IPS 1 sebagai Kelas Kontrol dan Kelas XI IPS 2 sebagai Kelas Eksperimen.
Tabel 3. Jumlah Anggota Sampel
Sumber: Hasil Pengambilan Sampel
3.4 Teknik Pengumpulan Data 3.4.1 Lembar Observasi
Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis (Sutrisno Hadi dalam Sugiyono, 2011: 145). Menurut (Nana, 2005: 220) observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data denganjalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Sedangkan menurut Wina Sanjaya (2009: 86) observasi merupakan teknik mengumpulkan data dengan cara mengamati setiap kejadian yang sedang berlangsung dan mencatatnya dengan alat observasi tentang hal yang diamati atau diteliti.
(Arikunto, 2010: 200) menjelaskan observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yang kemudian digunakan untuk menyebut jenis observasi yaitu:
Kelas Siswa Jumlah
Laki-Laki Perempuan
Kontrol 17 15 32 Siswa
Experimen 16 16 32 Siswa
26
1. Observasi non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan.
2. Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Pengumpulan dan pencatatan secara sistimatis terhadap kekurangan dan kelebihan aktivitas-aktivitas yang dilakukan guru dan aktivitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran.
3.4.2 Tes
Tes merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar kognitif siswa. “Tes adalah suatu alat pengukur yang berupa serangkaian
pertanyaan yang harus dijawab secara sengaja dalam suatu situasi yang distandarsikan, dan yang dimaksud untuk mengukur kemampuan dan hasil belajar individu atau kelompok” (Masidjo, 1995:38). Dari pengertian
tersebut terdapat unsur-unsur:
1. Adanya kewajiban peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang ada;
2. Peserta didik berada pada situasi yang sama artinya tata tertib, waktu, pengukuran, pengawasan, dan lain-lain berlaku bagi semua peserta didik;
3. Pertanyaan tersebut bertujuan untuk mengukur kemampuan dan hasil belajar individu atau kelompok.
27
konsep tes terhadap hasil belajar siswa yang telah dijelaskan, maka dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan tes (Basri, 2012: 17).
[image:44.595.109.532.321.731.2]Tes yang digunakan berbentuk soal objektif/pilihan ganda dengan merujuk pada taksonomi bloom. Hasil belajar mengacu pada C1,C2, C3, C4, C5, dan C6. Setelah menyusun tes, peneliti membuat tabel kisi-kisi tes pada kemampuan ranah kognitif sebagai berikut:
Tabel 4. Kisi-kisi Soal Tes No Kompetensi
Dasar
Indikator Ranah Kognitif Total
C1 C2 C3 C4 C5 C6 1 Menganalisis
proses masuk dan Perkembangan penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, inggris) ke Indonesia Mendeskripsikan latar belakang kedatangan bangsa Barat ke Indonesia
2 2 3 4 5 4 20
Jumlah 2 2 3 4 5 4 20
28
[image:45.595.116.517.162.330.2]Setelah penyusunan kisi-kisi, maka setiap soal butir soal diberi skor. Skor yang diberikan untuk setiap jenjang kemampuan kognitif terlihat pada tabel berkut: Tabel 5: Skoran Pretes dan Postest
No. Jenjang
Kognitif Nomer Soal
Skor Perbutir Soal Jumlah Soal Total Skor Perjenjang
1. C1 1,2 1 2 2
2. C2 3,4 2 2 4
3. C3 5,6,7 4 3 12
4. C4 8,9,10,11 5 4 20
5. C5 12,13,14,15,16 6 5 30
6. C6 17,18,19,20 8 4 32
Total 20 100
Sumber : Olah Data Peneliti
Berdasarkan tabel di atas, menggambarkan perangkat tes pilihan ganda pada proporsi banyaknya butir soal untuk setiap pokok bahasan dan setiap tingkat kemampuan pada ranah kognitif. Hal tersebut seperti yang diungkapkan (Sudijono, 2009:306) “Orang yang paling tahu berapa bobot yang seharusnya
diberikan terhadap jawaban yang betul itu adalah pembuat soal itu sendiri, yaitu tester, karena dialah orang yang paling tahu mengenai derajat kesukaran yang dimiliki oleh masing-masing butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar”. 3.5 Teknik Analisis Data Penelitian
29
3.5.1 Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah yang diperoleh pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Guna mendapatkan gambaran yang jelas tentang hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Sejarah, maka dilakukan pengelompokan.
Pengelompokan tersebut dilakuakan dalam 5 kategori: sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, sangat rendah. Pedoman pengkategorian hasil belajar peserta didik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis dengan menggunakan statistik deskriptif.
a. Rata-rata (Mean)
b. Persentase (%) nilai rata-rata
Keterangan :
P = Angka Persentase
F = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya
30
[image:47.595.108.518.223.396.2](Nurgiantoro, 2001: 399) Pedoman yang digunakan untuk mengubah skor mentah yang diperoleh peserta didik menjadi skor standar (nilai) untuk mengetahui tingkat daya serap peserta didik mengikuti prosedur yang ditetapkan.
Tabel 6: Kategori Tingkat Penguasaan Materi
Tingkat Penguasaan (%) Kategori Hasil Belajar
0-39 Sangat Rendah
40-59 Rendah
60-74 Sedang
75-84 Tinggi
85-100 Sangat Tinggi
Sumber :Nurgiantoro, 2001: 399 3.6 Langkah Pelaksanaan Penelitian
(Arikunto, 2002: 79) Dalam prosedur pengumpulan data ini peneliti menempuh beberapa tahap yakni :
1. Tahap persiapan
Tahap ini peneliti terlebih dahulu melengkapi hal-hal yang dibutuhkan di lapangan yaitu:
a. Menyusun program pengajaran sesuai dengan kurikulum. b. Menyusun instrument yang disesuaikan dengan materi. c. Membuat lembar observasi.
d. Membuat soal hasil belajar. 2. Tahap pelaksanaan
31
a. Melakukan observasi untuk melihat proses belajar mengajar disekolah untuk mengetahui keadaan belajar peserta didik.
b. Memberikan tes awal (pre-test) sebelum menerapkan metode diskusi. c. Memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran Sejarah dengan
menerapkan metode diskusi.
d. Data mengenai perubahan sikap peserta didik dikumpulkan melalui pengamatan pada saat kegiatan pembelajaran.
e. Melakukan kegiatan akhir yaitu memberikan test akhir (post test) untuk mengetahui hasil belajar peserta didik setelah penerapan metode diskusi.
3. Tahap analisis data
Setelah data tersebut terkumpul maka langkah selanjutnya yaitu mengola data tersebut dengan tujuan untuk mengetahui hasil dari penelitian yang telah dilakuakan selama tahap pengumpulan data.
4. Tahap membuatan kesimpulan
80
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data maka disimpulkan bahwa, ada hubungan antara Metode Diskusi Kelompok dengan hasil belajar Sejarah Siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Semaka, yang ditunjukan jelas dengan perbedaan hasil belajar pada kelas kontrol dengan nilai rata-rata 69,43, dan hasil belajar pada kelas eksperimen dengan nilai rata-rata 75,21.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil simpulan di atas, maka peneliti menyarankan beberapa hal berikut ini:
1. Pembelajaran menggunakan metode diskusi kelompok dapat diterapkan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar sejarah yang efektif untuk meningkatkan motivasi, interaksi dan keaktifan siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
81
DAFTAR PUSTAKA
Arief Tiro, Moh. 2000. Dasar-Dasar Statistic (Cet. II; Makassar : State University Of Makassar Press.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi. 2010. Posedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Depdiknas, Pedoman Umum Sistem Pengujian Hasil Belajar. http://www.google.com (10 Februari 2017)
Hadi, Amirul dan Haryono. 1998. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia.
Hapsari, Ratna dan Adil. M. 2014. Sejarah Indonesia untuk SMK/MAK Kelas XI. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Hugiono dan Poerwantana. 1987. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Bina Aksara.
Margono. S. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nurgiantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam pengajaran Bahasa dan Sastra.
Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen. Indonesia Legal Center Publishing, 2008.
Ruhimat, Toto. 2012. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2014 Metode Penelitian Kuantitatif, Kuliatatif, dan Kombinasi: Mixed
Methods Cet. VI. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sudjana, Nana. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Cet. VII; Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004.
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Cet.XIII; Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2009.
Syah, Muhibin. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.