• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
77
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BEYOND CENTERS AND CIRCLE TIME (BCCT) TERHADAP KEMAMPUAN SOSIAL PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TK NURUL HIDAYAH PESAWARAN

(Skripsi)

Oleh:

USWATUN HASANAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BEYOND CENTERS AND CIRCLE TIME (BCCT) TERHADAP KEMAMPUAN SOSIAL PADA ANAK USIA 4-5

TAHUN DI TK NURUL HIDAYAH PESAWARAN Oleh

Uswatun Hasanah

Masalah dalam penelitian ini adalah mayoritas kemampuan sosial anak belum berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) terhadap kemampuan sosial pada anak. Jenis penelitian merupakan penelitian kuantitatif dengan model pembelajaran pre-experimental design model one–shot case study. Subjek penelitian adalah anak usia 4-5 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, sedangkan analisis data digunakan uji regresi linier sederhana. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi berupa rubrik penilaian. Hasil uji regresi linier menunjukkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) terhadap kemampuan sosial pada anak usia 4-5 tahun di TK Nurul Hidayah Pesawaran. Ini berarti bahwa model pembelajaran BCCT dapat digunakan sebagai otomotif dalam membantu menstimulasi kemampuan sosial anak usia dini.

(3)

ABSTRACT

THE EFFECT OF BEYOND CENTERS AND CIRCLE TIME (BCCT) LEARNING MODEL ON SOCIAL CAPABILITIES IN CHILDREN AGE 4-5

YEARS IN NURUL HIDAYAH PESAWARAN

By

Uswatun Hasanah

The problem in this research is the majority of children's social abilities have not developed as expected. This study aims to determine the effect of Beyond Centers and Circle Time (BCCT) learning models on social abilities in children. This type of research is a quantitative study with a pre-experimental learning model design of one-shot case study model. Research subjects were children aged 4-5 years. The collection is done by using observation techniques, while data analysis is used a simple linear regression test. The research instrument used was an observation sheet in the form of an assessment rubric. The results of the linear regression test showed that there was an influence of the Beyond Centers and Circle Time (BCCT) learning model on social abilities in children aged 4-5 years at Nurul Hidayah Pesawaran Kindergarten. This means that the BCCT learning model can be used as an automotive to help stimulate early childhood social abilities.

(4)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BEYOND CENTERS AND CIRCLE TIME (BCCT) TERHADAP KEMAMPUAN SOSIAL PADA ANAK USIA 4-5

TAHUN DI TK NURUL HIDAYAH PESAWARAN

Oleh

USWATUN HASANAH

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Jurusan Ilmu Pendidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

Judul Skripsi : PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BEYOND CENTERS AND CIRCLE TIME (BCCT) TERHADAP KEMAMPUAN SOSIAL PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TK NURUL HIDAYAH PESAWARAN

Nama Mahasiswa : Uswatun Hasanah Nomor Pokok Mahasiswa : 1313054062

Program Studi : Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

Jurusan : Ilmu Pendidikan

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI 1.Komisi Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Rochmiyati, M.Si. Dr. Riswandi, M.Pd.

NIP. 19571028 198503 2 002 NIP. 19760808 200912 1 001

2. Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan

(6)

MENGESAHKAN

Tim Penguji

1. Ketua : Dr. Rochmiyati, M.Si. :………

2. Sekretaris : Dr. Riswandi, M.Pd. :………

3. Penguji Utama : Dra. Sasmiati, M.Hum. : ………

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd. NIP. 19620804 198905 100 1

(7)

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini

Nama Mahasiswa : Uswatun Hasanah Nomor Pokok Mahasiswa : 1313054062

Program Studi : PG PAUD

Jurusan : Ilmu Pendidikan

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Lokasi Penelitian : TK Nurul Hidayah Pesawaran

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Pengaruh Model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) Terhadap Kemampuan Sosial pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK Nurul Hidayah Pesawaran adalah asli penelitian saya dan tidak plagiat kecuali bagian tertentu yang dirujuk dari sumbernya dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Demikian pernyataan ini saya buat dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar maka saya sanggup dituntut dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Bandar Lampung, Februari 2020

Penulis

Uswatun Hasanah

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Uswatun Hasanah, dilahirkan pada hari Kamis, 16 Mei 1995 di Gunung Sari. Penulis merupakan anak pertama dan memiliki tiga saudara perempuan dan satu saudara laki-laki. Penulis merupakan putri dari bapak Hasan Rusmanto dan Ibu Siti Sholihah.

Penulis menempuh pendidikan sekolah dasar (SD) di SD Negeri 4 Pengayunan, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran diselesaikan pada tahun 2007. Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) di MTs.N Gunung Rejo, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran diselesaikan pada tahun 2010, dan sekolah Madrasah Aliyah (MA) di MAN 1 Pringsewu, Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu diselesaikan pada tahun 2013.

(9)

MOTTO

“Tolabul ‘ilmi faridotun ‘alaa kulli muslimin” (Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim)

(HR. Ibnu Abdurrahman)

“Sesungguhnya allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”

(QS. Ar-Ra’d : 11)

Teruslah berusaha, nikmati di setiap prosesnya dan jangan pernah menyerah, karena setiap usaha yang dilakukan tidak akan menghianati hasil yang kita

dapatkan.

(10)

PERSEMBAHAN

Bismillahirohmanirrohim …

Kupersembahkan karya ini sebagai rasa syukur kepada ALLAH SWT beserta tauladan umat baginda Nabi Muhammad SAW dan ucapan

terima kasih serta rasa banggaku kepada:

Ibunda tercinta (Siti Sholihah)

Yang telah melahirkan, merawat, membesarkan dan mendidikku dengan penuh kasih sayang, kesabaran dan perjuangan untuk terus menjadi pribadi yang tegas, berakhlakul karimah, santun dan sederhana, yang tidak pernah bosan untuk selalu memberiku nasehat, semangat dan doa untuk terus berjuang baik

secara dhohir dan batin demi menggapai cita-cita yang mulia. Ayahanda tersayang (Hasan Rusmanto)

Yang telah menjadi pahlawan keluarga yang sabar, tegas dan yang telah mengajarkanku menjadi sosok yang pemberani dan kerja keras dalam hal apapun dan rela banting tulang demi membiayai kehidupan keluarga agar anak-anaknya dapat mencapai cita-cita serta tak bosan-bosannya untuk selalu

memberiku nasehat.

Adikku (Elok Faiqoh, Huril ‘Aini, dan Imdadurrohman) Yang selalu memberiku motivasi untuk selalu terus berjuang meski sulit harus tetap dihadapi, selalu memberikan senyuman dan selalu menghibur

dikala suka maupun duka. Teman-teman angkatan 2013

Yang selalu saling memberikan motivasi dan canda tawa nya untuk saling menghibur dan untuk terus berjuang menyelesaikan studi.

Almamater tercinta Universitas Lampung

(11)

SANWACANA

Puji syukur penulis kehadirat Allah tuhan yang maha esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) Terhadap Kemampuan Sosial pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK Nurul Hidayah Pesawaran” adalah asli penelitian saya dan tidak plagiat kecuali bagian tertentu yang dirujuk dari sumbernya dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Penulis banyak mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd.,selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

2. Bapak Dr. Riswandi, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung dan selaku Dosen Pembimbing II atas jasanya telah bersedia membimbing, memberikan kritik dan saran dalam penyelesaian skripsi ini.

3. Ibu Ari Sofia, S.Psi, MA., Psi., selaku Ketua Program PG PAUD Universitas Lampung.

(12)

iii 5. Ibu Dra. Sasmiati, M.Hum., selaku pembahas yang telah memberikan

saran dan masukan guna perbaikan dalam penyusunan skripsi ini.

6. Bapak/Ibu Dosen dan Staf Karyawan PG-PAUD, yang telah memberikan dukungan hingga akhirnya skripsi ini terselesaikan.

7. Bapak Hasan Rusmanto, selaku kepala TK Nurul Hidayah yang telah memberikan izin dan dukungan untuk melakukan penelitian di TK tersebut.

8. Segenap dewan guru TK Nurul Hidayah yang telah berkenan menjadi teman sejawat, membantuku selama penelitian didalam kelas dan memberikan dukungan serta semangat.

9. Kedua orang tuaku tercinta (Hasan Rusmanto dan Siti Sholihah) yang selalu mendoakan, memberikan dukungan, semangat dan motivasi.

10.Adik-adikku tersayang (Elok Faiqoh, Huril ‘Aini, dan Imdadurrohman) yang selalu memberikan semangat setiap harinya.

11.Teman seperjuangan PG-PAUD B 2013 yang selalu memberikan warna warni kehidupan dan semangat selama di bangku perkuliahan.

12.Sahabatku Miftahul Sungaidah, Muzayyana, dan sahabat di akhir penyusunan skripsi ini Fitria Andesta yang memberikanku semangat dan motivasi.

(13)

iv kesalahan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Penulis berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.

Bandar Lampung, Februari 2020 Penulis

(14)

v DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Batasan Masalah ... 4

D. Rumusan Masalah ... 5

E. Tujuan Penelitian ... 5

F. Manfaat Penelitian ... 7

II. KAJIAN PUSTAKA ... 8

A. Pendidikan Anak Usia Dini ... 8

B. Belajar Bagi Anak Usia Dini ... 10

1. Teori Belajar Bagi Anak Usia Dini ... 10

2. Teori Belajar Behavioristik ... 13

C. Hakikat Perkembangan Anak Usia Dini ... 14

1. Perkembangan Anak Usia Dini ... 16

2. Aspek Perkembangan Anak Usia Dini ... 17

3. Perkembangan Sosial Anak Usia Dini ... 19

D. Kemampuan Sosial Anak Usia Dini ... 20

1. Pengertian Kemampuan Sosial Anak Usia Dini ... 20

2. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Sosial Anak Usia Dini ... 22

E. Model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time ... 24

1. Model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time ... 24

2. Karakteristik Model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time ... 25

3. Tujuan Model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time ... 27

(15)

vi

Circle Time ... 30

7. Langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran Model Pembelajaran Beyond Centers and Circle Time ... 32

F. Hubungan Model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time dengan Kemampuan Sosial Anak ... 34

G. Penelitian Relevan ... 36

H. Kerangka Pikir ... 38

I. Hipotesis Penelitian ... 39

III. METODOLOGI PENELITIAN ... 41

A. Jenis Penelitian ... 41

B. Lokasi Penelitian ... 41

C. Subjek Penelitian ... 42

D. Populasi dan Sampel ... 42

E. Definisi Variabel ... 43

1. Definisi Konseptual ... 43

2. Definisi Operasional ... 43

F. Teknik Pengumpulan Data ... 44

G. Instrumen Penilaian ... 45

H. Teknik Analisis Data ... 48

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN ... 55

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 55

1. Sejarah Singkat TK Nurul Hidayah Pesawaran ... 55

2. Identitas TK Nurul Hidayah Pesawaran ... 56

3. Visi, Misi Dan Tujuan TK Nurul Hidayah Pesawaran ... 56

4. Data Tenaga Pendidik Dan Tenaga Kependidikan ... 57

B. Hasil Penelitian ... 57

1. Deskripsi Proses Penelitian ... 57

2. Analisis Data ... 65

3. Pembahasan Hasil Penelitian ... 79

V.KESIMPULAN DAN SARAN ... 81

A. Kesimpulan ... 81

B. Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 83

(16)

vii DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kisi-Kisi Penilaian Model pembelajaran BCCT (X) ... 45

2. Kisi-Kisi Penilaian Kemampuan Sosial (Y) ... 46

3. Data Tenaga Pendidik TK Nurul Hidayah Pesawaran ... 56

4. Tabel Distribusi Frekuensi Variabel X ... 64

5. Menentukan Nilai Fh Variabel X (model pembelajaran BCCT) ... 66

6. Perhitungan Uji Normalitas Variabel X (model pembelajaran BCCT) ... 66

7. Tabel Distribusi Frekuensi Variabel Y (Kemampuan Sosial) ... 68

8. Menentukan Nilai Fh Variabel Y (Kemampuan Sosial)... 70

9. Perhitungan Uji Normalitas Variabel Y (Kemampuan Sosial) ... 70

(17)
[image:17.595.117.511.252.480.2]

viii DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka pikir penelitian ... 38

2. Desain penelitian model one-shot case-study ... 40

3. Rumus banyak kelas (struges) ... 49

4. Rumus menentukan panjang kelas ... 49

5. Rumus rata-rata (mean) ... 49

6. Rumus standar deviasi ... 50

7. Rumus Z-score ... 50

8. Rumus chi-kuadrat ... 50

9. Rumus standar deviasi variabel X dan variabel Y ... 51

10.Rumus Fhitung uji homogenitas ... 51

11.Rumus persamaan regresi ... 52

12.Rumus mencari nilai a dan nilai b ... 52

13.Rumus uji korelasi product moment ... 53

(18)

ix DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Permohonan uji validasi instrumen dosen/ahli 1 ... 84

2. Instrumen penelitian model pembelajaran BCCT (X) ... 85

3. Instrumen penelitian kemampuan sosial (Y) ... 86

4. Surat keterangan validasi instrumen dosen/ahli 1 ... 87

5. Permohonan uji validasi instrumen dosen/ahli 2 ... 88

6. Instrumen penelitian model pembelajaran BCCT (X) ... 89

7. Instrumen penelitian kemampuan sosial (Y) ... 90

8. Surat keterangan validasi instrumen dosen/ahli 2 ... 91

9. Rubrik pengamatan model pembelajaran BCCT (X) ... 92

10.Rubrik pengamatan kemampuan sosial (Y) ... 94

11.Rencana pelaksanaan pembelajaran harian ... 95

12.Lembar observasi checklist pengamatan model pembelajaran BCCT (X) ... 103

13.Lembar observasi checklist pengamatan kemampuan sosial (Y) ... 111

14.Rekapitulasi nilai model pembelajaran BCCT (X) ... 119

15.Rekapitulasi nilai kemampuan sosial (Y) ... 122

16.Tabel penolong perhitungan variabel X dan variabel Y ... 125

17.Tabel luas dibawah lengkungan kurva normal 0-Z ... 126

18.Tabel nilai distribusi F ... 127

19.Tabel nilai chi-kuadrat ... 128

20.Nilai-nilai R Product Moment ... 129

21.Data peserta didik TK Nurul Hidayah Pesawaran kelas B ... 130

22.Surat izin penelitian ... 131

(19)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak usia dini sangat penting untuk menerima stimulus atau rangsangan untuk masa pertumbuhan dan perkembangan. Pendidikan bagi anak usia dini merupakan pondasi bagi anak untuk anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan selanjutnya. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 butir 14 dinyatakan bahwa :

Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya yang ditujukan pada anak usia 0-6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut.

Tahun pertama kehidupannya, anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Begitu pesat dan pentingnya perkembangan yang terjadi pada masa-masa awal kehidupan anak sehingga masa ini merupakan masa emas (golden age). Masa ini hanya terjadi satu kali dalam kehidupan manusia dan tidak dapat mengulang pada masa periode berikutnya. Saat usia emas ini, anak usia dini harus diberikan stimulus yang tetap saja tidak menghilangkan unsur kegiatan bermain.

(20)

kekuatan fisik, selain itu juga berfungsi merangsang imajinasi, mengajak berfikir, serta mengajak anak untuk bersosialisasi. Menurut Wolfgang dan Wolfgang (dalam Sujiono, 2013:145) berpendapat bahwa: “Terdapat sejumlah nilai-nilai dalam bermain (the value of play), yaitu bermain dapat mengembangkan keterampilan sosial, emosional dan kognitif”.

Anak merupakan pribadi yang unik, senantiasa memiliki berbagai karakteristik yang berbeda-beda antara anak yang satu dengan anak yang lainnya. Akan tetapi pada umumnya anak memiliki sifat ceria, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan juga cenderung aktif. Seiring dengan perkembangannya yang dimiliki anak semakin terlihat seperti halnya kemampuan sosial anak. Anak merupakan makhluk sosial yang senantiasa hidup dan berinteraksi dengan lingkungan. Untuk mencapai kematangan pada kemampuan sosialnya, anak harus belajar menyesuaikan diri dengan orang lain, anak tidak bisa hidup sendiri melainkan membutuhkan bantuan dari lingkungannya baik orang tua, saudara, teman sebaya, atau orang dewasa lainnya.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini Bab IV Pasal 10 Ayat 6 bahwa aspek perkembangan sosial anak usia 4-5 tahun meliputi:

Sosial-emosional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Kesadaran diri, terdiri atas memperlihatkan kemampuan

(21)

b. Rasa tanggung jawab untuk diri dan orang lain, mencakup kemampuan mengetahui hak-haknya, mentaati aturan, mengatur diri sendiri, serta bertanggung jawab atas perilakunya untuk kebaikan sesama, dan

c. Perilaku prososial, mencakup kemampuan bermain dengan teman sebaya, memahami perasaan, merespon, berbagi, serta menghargai hak dan pendapat orang lain,bersikap kooperatif, toleran, dan berperilaku sopan. (Mendikbud, 2014)

Namun demikian kondisi di lapangan belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terlihat dari hasil observasi yang di lakukan di TK Nurul Hidayah Pesawaran terutama pada anak usia 4-5 tahun. Mayoritas juga belum memiliki kemampuan sosial sebagaimana mestinya. Hal ini terlihat masih banyak anak yang belum mau untuk mengerjakan tugas sendiri, jika mereka mengerjakan tugas anak masih di bantu oleh guru, saat mengerjakan tugas juga masih sering mengganggu teman yang lainnya, saat dibagikan alat main masih banyak anak yang masih berebut dan belum mau untuk berbagi alat main dengan temannya. Dalam kegiatan pembelajaran bahkan anak masih sulit untuk bekerjasama, apalagi membantu teman yang mengalami kesulitan. Mereka umumnya asik dengan dirinya masing-masing. Jika ada teman yang sudah selesai mengerjakan tugas umumnya mereka kurang memiliki kepedulian apa yang dikerjakan teman mereka hanya peduli dengan hasil karya atau tugas masing-masing. Sehingga sering berebut untuk cepat cepat melaporkan hasil karya kepada gurunya agar masing-masing anak memperoleh nilai terlebih dahulu tanpa memperhatikan teman yang lainnya.

(22)

diberikan lebih bersifat akademistik yakni membaca menulis dan berhitung, sehingga anak jarang diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan bermain. Guru hanya fokus pada pembelajaran yang berpusat pada guru tanpa memperhatikan aspek kebutuhan anak. Padahal untuk mengembangkan kemampuan soisal anak dibutuhkan suatu model pembelajran yang memberikan kesempatan pada anak untuk berinteraksi satu sama lain dan sesuai kebutuhan dan minat anak.

Atas dasar tersebut perlu ada suatu penelitian tentang kemampuan sosial anak usia 4-5 tahun. Kaitannya dengan model pembelajaran yang dilakukan oleh guru peneliti melakukan wawancara dengan guru kelas mengenai model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran, dari hasil wawancara tersebut dijelaskan bahwa dikelas belum menggunakan model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) pada kegiatan pembelajaran. Akan tetapi menerapkan pembelajaran yang bersifat penugasan dan berpusat pada guru. Tidak heran jika masih terdapat beberapa anak yang masih belum berkembang kemampuan sosialnya.

(23)

kegiatan sesuai dengan minat masing-masing anak dan guru juga dapat memberikan kesempatan untuk berinteraksi antar anak.

Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti akan membahas tentang pengaruh model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) terhadap kemampuan sosial pada anak usia 4-5 tahun di TK Nurul Hidayah Pesawaran.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut :

1. Kemampuan sosial anak belum berkembang sesuai dengan yang diharapkan,

2. Pembelajaran yang berpusat pada guru.

3. Guru tidak memberikan kesempatan berinteraksi antar anak.

4. Dalam pembelajaran guru belum memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhnan anak

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut diatas , maka dalam penelitian ini dibatasi pada:

1. Kemampuan social anak yang masih belum berkembang sesuai dengan yang diharapakan

(24)

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka judul penelitian ini adalah apakah ada pengaruh model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) terhadap kemampuan sosial pada anak usia 4-5 tahun di TK Nurul Hidayah Pesawaran?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) terhadap kemampuan sosial pada anak usia 4-5 tahundi TK Nurul Hidayah Pesawaran.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis penelitian ini adalah sebagai pengetahuan baru terkait dengan pengaruh model pembelajaran BCCT terhadap kemampuan sosial anak.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis penelitian ini adalah : 1. Manfaat bagi guru

Sebagai pengetahuan bagi guru akan pentingnya penggunaan model pembelajaran BCCT dalam mengembangkan kemampuan sosial anak. 2. Manfaat bagi siswa

(25)

3. Manfaat bagi kepala sekolah

Penggunaan model pembelajaran BCCT ke dalam pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

4. Manfaat bagi peneliti

Adapun manfaat penelitian ini bagi peneliti sendiri yaitu untuk mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan dengan cara terjun langsung ke lapangan, sehingga dapat melihat dan merasakan apakah praktik-praktik pembelajaran yang dilakukan selama ini sudah sesuai atau belum.

5. Manfaat bagi peneliti lain

Sebagai sumber informasi dan referensi dalam pengembangan penelitian dan memberikan inovasi dalam pembelajaran.

(26)

II. KAJIAN TEORI

A. Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini merupakan pondasi awal sebelum anak melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya. Pada anak usia ini berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan sedang berlangsung, seperti perkembangan moral agama, fisik motorik, bahasa, kognitif, sosial emosional dan seni. Perkembangan ini menjadi dasar bagi perkembangan anak. Pendidikan anak usia dini saat ini berkembang menjadi sangat pesat, hal ini ditandai dengan bertambahnya jumlah lembaga PAUD, baik pendidikan secara formal (TK dan RA) dan nonformal (Kober, TPA dan lainnya). Banyak orang tua maupun guru telah memahami pentingnya masa emas (golden age) perkembangan pada anak usia dini. Seluruh potensi yang dimiliki anak usia dini harus dikembangkan, oleh sebab itu dibutuhkan lingkungan yang kondusif serta stimulasi bagi perkembangan potensi yang dimiliki anak. Membangun pendidikan pada anak usia dini melalui pemberian kesempatan bagi anak untuk dapat menikmati dan belajar dari pengalamannya.

(27)

pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. Pendidikan yang dimulai sejak usia dini akan berbeda, karena dengan pendidikan atau pembiasaan akan lebih merangsang otak anak untuk menerima pendidikan selanjutnya. Proses pembelajaran dan stimulasi yang diberikan harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan anak agar potensi anak dapat berkembang secara optimal.

Pendidikan juga perlu memperhatikan lingkungan sekitarnya, sehingga tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada didalam masyarakat. Anak dapat berkembang tentunya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Menurut Latif, dkk (2013:5) menjelaskan bahwa: Pendidikan anak usia dini (PAUD) diarahkan untuk memfasilitasi tumbuh kembang anak secara sehat dan optimal sesuai dengan nilai, norma dan harapan masyarakat.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya yang dilakukan oleh orang tua dan pendidik dalam memberikan stimulus atau rangsangan kepada anak sesuai dengan tahap perkembangannya, karena setiap anak usia dini memiliki karakteristik yang unik dan berbeda antara anak yang satu dengan yang lainnya.

(28)

yang ada disekitarnya, sehingga anak menemukan pengetahuan sendiri. Sesuai dengan prinsip pendidikan anak yang mengacu pada perkembangan anak dijelaskan menurut Latif, dkk (2013:81) antara lain:

1. Pendidikan berorientasi pada kebutuhan anak. 2. Dunia anak adalah dunia bermain.

3. Kegiatan pembelajaran dirancang secara cermat untuk membangun sistematika kerja.

4. Kegiatan pembelajaran berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup anak.

5. Pendidikan dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang dengan mengacu prinsip-prinsip perkembangan anak. 6. Dalam kegiatan main anak akan belajar lebih banyak bila

mendapat pijakan dari guru.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa anak memperoleh pengetahuannya sendiri, pendidikan anak dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang sesuai dengan prinsip perkembangan anak. Oleh sebab itu pendidikan sangat berperan penting untuk perkembangan anak usia dini. Menumbuhkan pengetahuan bagi anak usia 0-6 tahun yang sedang membutuhkan stimulus secara tepat.

B. Belajar Bagi Anak Usia Dini

1. Teori Belajar Bagi Anak Usia Dini

(29)

Belajar pada anak usia dini merupakan hasil dari pengalaman bermain. Belajar pada anak usia dini yakni dilakukan dengan bermain. Dunia anak adalah dunia bermain. Bermain memiliki peran penting bagi perkembangan kemampuan sosial anak. Dari hasil bermainnya anak dapat dapat memahami kaitan antara dirinya dan lingkungan sosialnya, belajar bersikap, bergaul, bekerjasama, dan saling memahami arti sebuah kebersamaan.

Menurut Bruner (dalam Siregar dan Hartini, 2014:23) bahwa:

Teori pembelajaran adalah preskriptif dan teori belajar adalah deskriptif. Dikatakan preskriptif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar.

Teori belajar dan pembelajaran merupakan dua teori yang berbeda namun saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain. Teori belajar sangat erat kaitannya dengan teori pembelajaran, oleh sebab itu keduanya tidak dapat dipisahkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa teori pembelajaran adalah usaha mengorganisasikan lingkungan belajar sehingga memungkinkan siswa melakukan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan teori belajar adalah tindakan dan perilaku yang dilakukan siswa. Menurut Siregar dan Hartini (2014:25) menjelaskan bahwa terdapat empat teori belajar antara lain:

(30)

2. Teori belajar kognitivistik. Teori ini lebih menekankan proses belajar daripada hasil belajar. Menurut teori kognivistik, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.

3. Teori belajar humanistik. Menurut teori ini proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia. Teori ini lebih tertarik pada gagasan tentang belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa yang diamati dalam dunia keseharian.

4. Teori belajar konstruktivistik. Teori konstruktivistik memahami belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi) pengetahuan oleh si belajar itu sendiri.

Selanjutnya menurut Yamin dan Sanan (2013:24) mengungkapkan bahwa ada tiga teori belajar yang harus dipahami dan diketahui oleh para guru diantaranya yaitu:

1. Teori belajar behaviorisme menganggap behaviorisme atau tingkah laku ini dapat diukur dan diperhatikan. Prinsip utama ialah faktor rangsangan (stimulus), respon (response) serta penguatan (reinforcement).

2. Teori belajar kognitif merupakan pengetahuan yang diterima itu akan terlebih dahulu disimpan pada pendaftar sensor. 3. Teori konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang

menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam diri manusia.

(31)

2. Teori Belajar Behavioristik

Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar adalah perubahan perilaku yang diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Teori ini dikenal dengan teori stimulus-respon (S-R). Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon). Stimulus tidak lain adalah lingkungan belajar anak, sedangkan respon adalah akibat atau dampak reaksi fisik terhadap stimulus. Hal ini sejalan dengan pendapat Aunurrahman (2012:39) yang mengatakan teori behaviorisme melihat bahwa :

Belajar adalah perubahan tingkah laku. Ciri yang paling mendasar dari aliran ini adalah perubahan tingkah laku yang terjadi yakni atas dasar paradigm S-R (Stimulus-Respon), yaitu suatu proses yang memberikan respon tertentu terhadap sesuatu yang datang dari luar. Adapun menurut Siregar dan Hartini (2014:25) bahwa:

Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu control instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan lingkungan.

Pada pelaksanaan proses pembelajaran, seorang guru atau pendidik membuat proses pembelajaran menarik perhatian bagi anak, serta merangsang seluruh aspek perkembangan sosial anak. Hal ini sependapat dengan Gagne et.al. (dalam Yamin dan Sanan, 2013:24) dalam behaviorisme, terdapat delapan elemen yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran di sekolah, yaitu:

1) Menarik perhatian. 2) Menjelaskan tujuan.

3) Merangsang proses”recall”.

(32)

5) Menyediakan bimbingan terhadap peserta didik.

6) Memberi penghargaan terhadap kemajuan peserta didik berdasarkan tugas dan latihan.

7) Menilai kemajuan peserta didik, dan

8) Mengembangkan pengetahuan dan kepandaian yang dimiliki peserta didik.

Pembelajaran yang dikemas secara baik, akan merangsang dan menarik minat anak untuk mengikuti proses pembelajaran secara optimal. Teori belajar behavioristik tepat digunakan dalam penelitian ini dikarenakan penelitian ini meneliti tentang perubahan tingkah laku berupa kemampuan sosial anak usia dini sebagai akibat dari pemberian stimulus berupa model pembelajaran BCCT serta respon yang diberikan anak.

C. Hakikat Perkembangan Anak Usia Dini

Anak usia dini merupakan generasi masa depan yang sangat perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Anak adalah individu yang memiliki berbagai potensi yang harus dikembangkan. Oleh karenanya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak bukan perkara yang mudah melainkan dibutuhkan pemikiran yang mendalam serta usaha yang kuat untuk mengembangkan seluruh potensi anak. Menurut agreement of UNESCO (dalam Wiyani, 2015:21) mengungkapkan: “Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada pada rentang usia 0-8 tahun”. Selanjutnya menurut Hasan Alwi, dkk (dalam Wiyani, 2015:21) mengungkapkan bahwa:

(33)

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun yang sedang menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani melalui pembinaan dan pemberian rangsangan atau stimulus agar anak siap dalam memasuki pendidikan selanjutnya. Anak merupakan pribadi yang unik, dimana setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki masing-masing anak perlu adanya untuk mengetahui tahap perkembangan anak agar tidak terjadi kesalahan dalam memberikan stimulus.

Anak usia dini mengalami perkembangan pada setiap tahap perkembangannya. Setiap tahap perkembangan yang dilaluinya akan berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya. Perkembangan merupakan suatu perubahan bersifat relatif yang berlangsung seumur hidup dengan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan anak usia dini adalah masa-masa kritis yang menjadi dasar atau pondasi bagi kehidupannya dimasa yang akan datang. Perkembangan anak di masa depannya sangat ditentukan sekali oleh stimulasi yang diberikan oleh orang dewasa atau lingkungan sekitar.

(34)

maupun kualitatif”. Sedangkan menurut Susanto (2011:21) mengungkapkan bahwa:

Perkembangan adalah perubahan mental yang berlangsung secara bertahap dan dalam waktu tertentu, dari kemampuan yang sederhana menjadi kemampuan yang lebih sulit, misalnya kecerdasan, sikap dan tingkah laku.

Berdasarkan beberapa penjelasan diatas bahwa hakikat perkembangan anak usia dini adalah anak sejak usia 0-6 tahun membangun pengetahuannya sendiri dan memperoleh rangsangan atau stimulus dari lingkungan sekitarnya yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Oleh sebab itu, para pendidik dan orang tua harus memberikan stimulus agar anak dapat berkembang secara optimal.

1. Perkembangan Anak Usia Dini

Anak merupakan makhluk yang selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Sejak kecil hingga dewasa anak mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Anak usia dini yang sedang dalam masa keemasan di sepanjang rentang usia perkembangannya harus mendapatkan stimulus yang dapat merangsang seluruh aspek perkembangannya. Anak akan mudah menerima stimulus-stimulus dari lingkungan sekitarnya. Anak akan mulai memahami dan menguasai lingkungannya. Menurut Jamaris (dalam Sujiono: 2013:54) menjelaskan bahwa :

(35)

Perkembangan anak berlangsung dan bersifat kualitatif, yaitu dengan bertambahnya fungsi-fungsi anggota tubuh. Perkembangan anak akan berkembang secara optimal apabila mendapatkan stimulus secara tepat. Menurut Susanto (2011:6) mengungkapkan bahwa: “Perkembangan merupakan perubahan yang bersifat kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi fungsional”. Selanjutnya menurut Ismail (dalam Susanto, 2011:6) menjelaskan bahwa: “Perkembangan menunjuk pada bertambahnya fungsi tubuh yang lebih kompleks pada pola yang terstruktur dan dapat diramal sebagai hasil proses pematangan dan belajar”.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan anak usia dini adalah suatu perubahan pada fungsi-fungsi anggota tubuh seorang anak dalam kehidupannya melalui berbagai tahapan yang terdiri dari aspek perkembangan fisik, perkembangan bahasa, perkembangan moral agama, perkembangan kognitif, perkembangan sosial emosional dan perkembangan seni.

2. Aspek Perkembangan Anak Usia Dini

(36)

aspek sosial emosional dan aspek seni. Keenam aspek perkembangan tersebut harus di stimulus sesuai dengan perkembangan anak. Stimulus yang diberikan dapat melalui kegiatan bermain yang menyenangkan bagi anak. Selanjutnya menurut Catron dan Allen (dalam Sujiono, 2013:62-64) menyebutkan bahwa ada enam aspek perkembangan anak usia dini yaitu:

1. Kesadaran Personal

Permainan yang kreatif memungkinkan perkembangan kesadaran personal. Bermain membantu anak untuk tumbuh secara mandiri dan memiliki kontrol atas lingkungannya. 2. Pengembangan Emosi

Melalui bermain anak dapat belajar menerima, berekspresi, dan mengatasi masalah dengan cara yang positif.

3. Pengembangan Sosialisasi

Bermain memberikan jalan bagi perkembangan sosial anak ketika berbagi dengan anak lain.

4. Pengembangan Komunikasi

Bermain merupakan alat yang paling kuat untuk membelajarkan kemampuan berbahasa anak.

5. Pengembangan Kognitif

Bermain dapat memenuhi kebutuhan anak untuk secara aktif terlibat dengan lingkungan, untuk bermain dan bekerja dalam menghasilkan suatu karya.

6. Pengembangan Kemampuan Motorik

Kesempatan yang luas untuk bergerak, pengalaman belajar untuk menemukan , dan aktivitas sensori-motor.

(37)

emosional, karena pada aspek sosial emosional terdapat tingkat pencapaian perkembangan perilaku prososial yang berkaitan dengan kemampuan sosial anak usia dini.

3. Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

Anak usia dini memiliki enam aspek perkembangan, salah satu aspek perkembangannya yaitu aspek perkembangan sosial. Menurut Susanto (2011:40) mengemukakan bahwa:

Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi, meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.

Perkembangan sosial anak tidak mudah untuk berkembang begitu saja, tetapi peran orang tua dan pendidik sangat dibutuhkan. Perkembangan sosial anak, dalam kemampuan berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar sesuai dengan tuntutan atau norma yang berlaku dimasyarakat akan berkembang secara optimal jika stimulus dari orang tua maupun pendidik tepat sesuai tahap perkembangannya. Selanjutnya menurut Hurlock (1999:250) mengungkapkan bahwa: “Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial”.

(38)

memahami lingkungan sekitar, agar nanti nya setelah anak dewasa dapat berlangsung hidup. Anak dapat menunjukkan rasa empati dengan orang lain, menghargai orang lain dan juga dapat berbagi dengan teman merupakan suatu kemampuan sosial anak. oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk mengambil aspek perkembangan sosial mengenai kemampuan sosial pada anak.

D. Kemampuan Sosial Anak Usia Dini

1. Pengertian Kemampuan Sosial Anak Usia Dini

Anak sebagai makhluk sosial tentunya tidak terlepas dari interaksi dengan lingkungan sekitar. Anak sejak usia dini harus memperoleh stimulus untuk mengenal lingkungan sekitarnya, agar anak mampu untuk melanjutkan kehidupannya di masa yang akan datang. Kemampuan sosial merupakan salah satu bidang pengembangan anak usia dini yang penting untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan sosial anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Hal ini bertujuan agar anak mampu untuk memahami lingkungan sekitar dan menjadi manusia yang bertanggung jawab.

Menurut Beaty (dalam Susanto, 2011:145), menyatakan bahwa “kemampuan sosial anak berkaitan dengan perilaku prososial dan bermain sosialnya”. Menurut Sriyanto (dalam skripsi Faiqoh, 2011) mengungkapkan bahwa:

(39)

Selanjutnya menurut Suja’I (2008:14-15) mengungkapkan bahwa: Kompetensi merupakan perpaduan dari tiga domain pendidikan yang meliputi ranah pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang terbentuk dalam pola berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar ini, kompetensi dapat berarti pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan merupakan suatu potensi seseorang untuk menguasai suatu keterampilan, baik bawaan sejak lahir maupun melalui proses stimulus yang dilakukan melalui tindakan. Oleh sebab itu kemampuan dapat juga diartikan sebagai keterampilan.

Menurut Maryani (2011:18) mengungkapkan bahwa:

Keterampilan sosial merupakan kemampuan untuk menciptakan hubungan sosial yang serasi dan memuaskan berbagai pihak, dalam bentuk penyesuaian terhadap lingkungan sosial dan memecahkan masalah sosial.

(40)

Sosial-emosional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Kesadaran diri, terdiri atas memperlihatkan kemampuan diri,

mengenal perasaan sendiri dan mengendalikan diri, serta mampu menyesuaikan diri dengan orang lain.

b. Rasa tanggung jawab untuk diri dan orang lain, mencakup kemampuan mengetahui hak-haknya, mentaati aturan, mengatur diri sendiri, serta bertanggung jawab atas perilakunya untuk kebaikan bersama, dan

c. Perilaku prososial, mencakup kemampuan bermain dengan teman sebaya, memahami perasaan, merespon, berbagi, serta menghargai hak dan pendapat orang lain, bersikap kooperatif, toleran dan berperilaku sopan. (Mendikbud, 2014)

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan sosial merupakan kemampuan seseorang untuk bertingkah laku dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Sementara itu, kemampuan sosial berkaitan dengan perilaku prososial dan bermain sosialnya, terdapat aspek perilaku sosial. Menurut Beaty (dalam Susanto, 2011:145) mengungkapkan aspek perilaku sosial meliputi:

1. Empati, yaitu menunjukkan perhatian kepada orang lain yang kesusahan atau menceritakan perasaan orang lain yang mengalami konflik.

2. Kemurahan hati, yaitu berbagi sesuatu dengan yang lain atau memberikan barang miliknya.

3. Kerjasama, yaitu bergantian menggunakan barang, melakukan sesuatu dengan gembira

4. Kepedulian, yaitu membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan.

(41)

membutuhkan bantuan orang lain. Berkembangnya kemampuan sosial anak tentunya banyak faktor yang mempengaruhi. Menurut Dini P. Daeng (dalam Susanto, 2011:155) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan sosial anak usia dini yaitu:

1. Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang disekitarnya dengan berbagai usia dan latar belakang. Semakin banyak dan bervariasi pengalaman dalam bergaul dengan lingkungan sekitar maka akan semakin meningkat kemampuan sosialnya.

2. Adanya minat dan motivasi untuk bergaul. Minat dan motivasinya untuk bergaul semakin berkembang, akan memberikan peluang untuk meningkatkan kemampuan sosialnya. Sebaliknya jika anak tidak memiliki minat untuk bergaul dan lebih banyak menyendiri maka tidak akan meningkat kemampuan sosialnya.

3. Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain, yang biasanya menjadi “model” untuk anak.

4. Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak.

(42)

E. Model Pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT)

1. Pengertian Model Pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT)

Proses pembelajaran pada anak usia dini tentunya tidak terlepas dari berbagai metode maupun model pembelajaran untuk menstimulus seluruh aspek perkembangannya. Untuk mengoptimalkan tercapainya tujuan pendidikan pada anak usia dini diperlukan model pembelajaran pembelajaran yang tepat. Pendidik perlu menyiapkan suatu model pembelajaran pembelajaran yang tepat dan sesuai dunia anak. Menurut Wina Sanjaya (dalam Haenilah, 2015:93) menjelaskan bahwa: “Model pembelajaran sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran”.

Kesesuaian penggunaan model pembelajaran pembelajaran ini sangat penting, karena dapat mempengaruhi terhadap cara dan proses perkembangan anak selanjutnya. Penggunaan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan dunia anak akan dapat memfasilitasi perkembangan berbagai potensi dan kemampuan anak secara optimal serta tumbuhnya sikap dan perilaku positif yang mendukung pengembangan berbagai potensi dan kemampuan anak tersebut. Kemampuan sosial termasuk kedalam aspek yang perlu untuk di stimulasi. Salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam mengembangkan kemampuan tersebut yaitu model pembelajaran BCCT atau yang dikenal dengan istilah Sentra dan Lingkaran.

(43)

Model pembelajaran sentra dan Lingkaran adalah model pembelajaran penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran dengan menggunakan 4 jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangan anak, yaitu (1) pijakan lingkungan main; (2) pijakan sebelum main; (3) pijakan selama main; dan (4) pijakan setelah main.

Adapun menurut Sujiono (2013:216) mengungkapkan bahwa: “Model pembelajaran Beyond Center and Circle Time adalah suatu model pembelajaran dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini dan merupakan perpaduan teori dan pengalaman praktik”. Selanjutnya menurut Haenilah (2015:114) mengungkapkan bahwa: “Model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) adalah sebuah model pembelajaran pembelajaran yang menjadikan bermain di sentra dan saat lingkaran sebagai wahana belajar anak”.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) adalah suatu kegiatan model pembelajaran pembelajaran yang memiliki titik pusat sebagai wahana belajar anak yang semuanya mengacu pada tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran dengan menggunakan model Beyond Centers and Circle Time (BCCT) akan membuat anak lebih aktif dan berkreasi sesuai imajinasi anak.

(44)

Untuk merapkan berbagai model pembelajaran terutama model Beyond Centers and Circle Time (BCCT) dalam pembelajaran, tidak diterapkan begitu saja, tetapi harus memperhatikan karakteristik yang sesuai dengan perkembangan anak saat itu sehingga model pembelajaran BCCT yang dilakukan akan menjadi bermakna dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Menurut Sujiono (2013:217) ada tujuh karakteristik dari model pembelajaran BCCT, antara lain:

1. Pembelajarannya berpusat pada anak.

2. Menempatkan setting lingkungan main sebagai pijakan awal yang penting.

3. Memberikan dukungan penuh kepada setiap anak untuk aktif, kreatif dan berani mengambil keputusan sendiri.

4. Peran pendidik sebagai fasilitator, motivator, dan evaluator. 5. Kegiatan anak berpusat di sentra-sentra main yang berfungsi

sebagai pusat minat.

6. Memiliki standar prosedur operasional (SOP) yang baku (baik di sentra maupun saat di lingkaran).

7. Pemberian pijakan sebelum dan setelah anak bermain dilakukan dalam posisi duduk melingkar (dalam lingkaran).

Pendapat lain dikemukakan oleh Haenilah (2015:113) bahwa karakteristik utama model pembelajaran BCCT yaitu:

Sangat mengutamakan pentingnya pemberian pijakan (scaffolding) untuk membangun konsep, aturan, ide, dan pengetahuan anak. guru sebagai fasilitator yang harus menyediakan sejumlah alat permainan di sentra-sentra sebagai pijakan (scaffolding) untuk mempermudah tercapainya perkembangan anak.

(45)

pemberian stimulasi untuk mengembangkan kemampuan sosial terhadap anak.

3. Tujuan Model Pembelajaran BCCT

Setiap proses model pembelajaran pembelajaran mempunyai tujuan masing-masing. Tujuan kegiatan bermain pada anak diarahkan untuk mengembangkan berbagai potensi sejak dini melalui model pembelajaran BCCT sebagai persiapan untuk anak hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Menurut Sujiono dan Sujiono (2010:78) mengembangkan tujuan pengembangan sentra antara lain:

1. Untuk mengembangkan dan menstimulasi berbagai potensi dan perkembangan anak secara alamiah.

2. Merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.

3. Memfasilitasi kebutuhan anak untuk bereksplorasi.

4. Membelajarkan anak untuk berdemokrasi dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan individu, kelompok, dan anggota kelas yang lebih besar.

Adapun menurut Depdiknas (2010:6) menjelaskan bahwa: “Tujuan model pembelajaran sentra adalah memberikan pedoman kepada aparat terkait dan lembaga penyelenggara PAUD dalam penggunaan model pembelajaran sentra dan lingkaran”.

(46)

Tujuan dari model BCCT dapat di sesuaikan dengan indikator-indikator yang akan dicapai oleh anak dalam pembelajaran.

4. Prinsip Model Pembelajaran BCCT

Model BCCT sangat memperhatikan minat dan potensi anak. untuk mengembangkan minat dan potensi tersebut terdapat prinsip-prinsip dalam model pembelajaran BCCT tersebut. Selain bermain sebagai satu-satunya wahana pembelajaran beberapa prinsip harus diperhatikan oleh pendidik atau guru.

Menurut Depdikbud (2006:6) terdapat enam prinsip pada model pembelajaran sentra dan lingkaran, yaitu:

1. Keseluruhan proses pembelajarannya berlandaskan pada teori dan pengalaman empirik.

2. Setiap proses pembelajaran harus ditujukan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (kecerdasan jamak) melalui bermain yang terencana dan terarah serta dukungan pendidik (guru/kader/pamong) dalam bentuk 4 jenis pijakan.

3. Menempatkan penataan lingkungan main sebagai pijakan awal yang merangsang anak untuk aktif, kreatif, dan terus berpikir dengan menggali pengalamannya sendiri.

4. Menggunakan standar operasional yang baku dalam proses pembelajaran.

5. Mempersyaratkan pendidik (guru/kader/pamong) dan pengelola program untuk mengikuti pelatihan sebelum menerapkan metode ini.

6. Melibatkan orangtua dan keluarga sebagai satu kesatuan proses pembelajaran untuk mendukung kegiatan anak di rumah.

Pendapat lain oleh Haenilah (2015:114) menjelaskan beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru, antara lain:

(47)

2. Setiap sentra harus dapat mendukung seluruh capaian perkembangan anak secara holistik (moral-agama, sosial emosi, kognisi, bahasa, fisik motorik dan seni)

3. Anak belajar di beberapa sentra secara bergiliran.

4. Kegiatan appersepsi dan penutup dilaksanakan dengan cara agar anak dan guru duduk bersama di lingkaran besar.

5. Kegiatan inti dilakukan di sentra-sentra.

6. Memperhatikan jumlah waktu yang dibutuhkan anak untuk pengalaman dalam bermain (intensitas bermain).

7. Memperhatikan berbagai macam cara jenis main yang disediakan untuk mendukung pengalaman anak (densitas).

Berdasarkan beberapa pendapat diatas mengenai prinsip model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) yang harus diperhatikan oleh setiap pendidik atau guru untuk mengembangkan aspek dalam diri anak. Pada prinsipnya penggunaan model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) menyiapkan sejumlah sentra sebagai tempat bermain bagi anak.

5. Jenis Main dalam Model Pembelajaran BCCT

Bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi anak. Bermain tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak karena dunia anak adalah bermain. Jenis main yang perlu diperhatikan adalah bermain yang mampu menstimulus perkembangan moral, fisik, bahasa, sosial emosional, dan seni.

(48)

1. Main sensorimotor, yaitu anak main dengan benda membangun persepsi.

2. Main peran, yaitu anak bermain dengan benda untuk membantu menghadirkan konsep yang sudah dimilikinya 3. Main pembangunan, yaitu anak bermain dengan benda untuk

mewujudkan ide atau gagasan yang dibangun dalam pikirannya menjadi sesuatu bentuk nyata.

Sebagai seorang pendidik perlu mengetahui dan memahami jenis-jenis main pada model BCCT agar dalam proses pembelajaran bukan hanya sekedar bermain-main biasa tanpa makna, melainkan bermain yang memiliki tujuan dan manfaat yang jelas. Ketiga jenis main tersebut harus dihadirkan disetiap proses pembelajaran agar memungkinkan anak dapat bermain dengan ketiga jenis main tersebut.

6. Aneka Sentra dalam Model Pembelajaran BCCT

Proses pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak melalui kegiatan-kegiatan yang sudah disusun dan direncanakan dapat membangun kemampuan anak untuk mengambil keputusan. Sentra merupakan pusat kegiatan belajar anak. Saat proses pembelajaran anak diberikan kebebasan untuk memilih sentra yang diminati anak.

Menurut Latif, dkk (2013:124) ada tujuh sentra yang dikembangkan oleh Dr. Pamela Phelps, yaitu:

1. Sentra persiapan merupakan sentra tempat bekerja dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kognisi, motorik halus dan keaksaraannya yang diorganisasikan oleh guru dan fokus pada kegiatan-kegiatan matematika, membaca dan menulis.

(49)

3. Sentra main peran makro merupakan sentra yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan pengertian mereka tentang dunia disekitarnya, kemampuan berbahasa, keterampilan mengambil sudut pandang dan empati melalui main peran yang mengalirkan knowledge pada anak.

4. Sentra main peran mikro merupakan main peran kecil yang mengalirkan materi/knowledge pada anak melalui alat main berukuran kecil. Anak sebagai dalang yang menggerakkan boneka yang menjadi pemeran.

5. Sentra bahan alam merupakan sentra yang memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi langsung dengan berbagai macam bahan untuk mendukung sensorimotor, self control, dan sains.

6. Sentra seni merupakan sentra yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan menggunakan dan berinteraksi dengan berbagai alat dan bahan seni, seperti: lem, gunting, krayon, cat, clay, playdough.

7. Sentra imtaq merupakan sentra yang memberikan kesempatan kepada anak pembelajaran nilai-nilai, aturan-aturan agama, sehingga anak dapat mengembangkan keimanan dan ketaqwaan melalui pembiasaan sehari-hari pada kegiatan main anak.

Adapun menurut Sujiono dan Sujiono (2010:81) mengungkapkan ada delapan sentra yaitu:

1. Sentra persiapan adalah pusat kegiatan bermain dalam persiapan membaca, menulis, matematika dan kegiatan khusus lainnya yang menunjang persiapan anak untuk masuk ke sekolah dasar.

2. Sentra balok adalah tempat kegiatan bermain balok dengan pengawasan guru, berbagai bentuk dan ukuran balok yang tersedia untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, daya cipta, keterampilan dan jasmani anak.

3. Sentra main peran makro adalah kegiatan yang berfokus pada kegiatan dramatisasi, tempat anak-anak bermain untuk memerankan tugas-tugas anggota keluarga, tata cara dan kebiasaan dalam keluarga dengan berbagai perlengkapan rumah tangga serta kegiatan dilingkungan sekitarnya.

4. Sentra main peran mikro adalah kegiatan yang berfokus pada kegiatan dramatisasi dengan alat-alat permainan berukuran kecil/mini seperti: boneka-boneka mini, rumah-rumahan mini, pesawat-pesawat mini dan sebagainya.

(50)

yang terdiri dari alat/bahan kering dan alat/bahan yang menggunakan air.

6. Sentra seni adalah sentra yang kegiatannya terdiri dari keterampilan tangan seperti: melipat, menggunting, merekat, prakarya, melukis dan pertukangan. Sentra ini dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan dan kreativitas anak. 7. Sentra memasak adalah sentra yang kegiatannya untuk

mengembangkan keterampilan memasak dan cara pembuatannya dengan menggunakan bahan-bahan yang sesungguhnya dengan menggunakan bahan-bahan yang sesungguhnya dan hasilnya dapat dinikmati langsung oleh anak.

8. Sentra musik adalah sentra yang memusatkan kegiatan seni musik dan jasmani. Sentra musik ini dimaksudkan untuk tempat memainkan alat-alat musik sederhana dalam mengembangkan keterampilan menggunakan berbagai alat musik dan berbagai sarana penunjang.

Berdasarkan beberapa aneka sentra diatas, pada penelitian ini peneliti hanya menggunakan empat sentra yaitu sentra persiapan, sentra seni, sentra bermain peran makro dan sentra memasak. Hal ini dikarenakan keterbatasan tempat jika menggunakan kedelapan sentra. Sentra yang disiapkan difokuskan untuk mengembangkan seluruh aspek pengembangan terutama kemampuan sosial anak.

7. Langkah-langkah Pelaksanaan Pembelajaran Model Pembelajaran BCCT

(51)

A. Penataan lingkungan main

1. Sebelum anak datang, pendidik (guru/kader/pamong) menyiapkan bahan dan alat main yang akan digunakan. 2. Pendidik (guru/kader/pamong) menata alat dan bahan

main yang akan digunakan sesuai dengan kelompok usia yang dibimbingnya.

3. Penataan alat main harus mencerminkan rencana pembelajaran yang sudah dibuat.

B. Penyambutan anak

Sambil menyiapkan tempat dan alat main, agar ada seorang pendidik (guru/kader/pamong) yang bertugas menyambut kedatangan anak.

C. Main pembukaan (pengalaman gerakan kasar)

Pendidik (guru/kader/pamong) menyiapkan seluruh anak dalam lingkaran, lalu menyebutkan kegiatan pembuka yang akan dilakukan.

D. Transisi 10 menit

1. Setelah selesai main pembukaan, anak-anak diberi waktu untuk pendinginan dengan cara bernyanyi dalam lingkaran, atau membuat permainan tebak-tebakan. Tujuannya agar anak kembali tenang.

2. Sambil menunggu anak minum atau kekamar kecil, masing-masing pendidik (guru/kader/pamong) siap di tempat bermain yang sudah disiapkan untuk kelompoknya masing-masing.

E. Kegiatan inti masing-masing kelompok 1. Pijakan lingkungan main

2. Pijakan pengalaman sebelum main (15 menit) 3. Pijakan pengalaman selama main (60 menit) 4. Pijakan pengalaman setelah main (30 menit) F. Kegiatan penutup (15 menit)

(52)

Pendapat lain dikemukakan oleh Sujiono dan Sujiono (2010:90), langkah-langkah kegiatan model pembelajaran BCCT adalah:

1) Guru memberikan pengarahan dan aturan-aturan, tata btertib bermain di sentra bermain peran kecil.

2) Guru mengabsen murid dan menghitung jumlah murid bersama-sama sambil menyebutkan warna kelompoknya yang sesuai dengan usia yang berdekatan.

3) Setelah anak-anak mengetahui dan mengerti peraturan dan tata tertib di sentra anak-anak diperbolehkan untuk bermain.

4) Apabila ada anak yang tidak mematuhi peraturan tata tertib guru dapat menegur langsung kepada anak tersebut.

5) Anak yang diluar biasa (cacat) dapat ditemani oleh guru sambil mengarahkan bermain.

6) Setelah waktu bermain telah hampir habis, guru dapat menyiapkan berbagai macam buku-buku cerita sebagai penenang dapat dilihat atau dibaca anak.

7) Guru dibantu anak-anak merapikan permainan-permainan apabila waktu hampir selesai.

8) Setelah selesai anak-anak kembali kepada guru kelompok makan masing-masing.

(53)

F. Hubungan Model Pembelajaran Beyond Centers and Circle Time dengan Kemampuan Sosial Anak

Kemampuan sosial anak usia dini dapat terbentuk melalui kegiatan yang merangsang anak untuk berinteraksi, memahami lingkungan sekitar dan mau mandiri. Model Pembelajaran BCCT sangat memberikan dukungan terhadap kepuasan belajar anak serta melalui model pembelajaran ini anak dapat memperoleh pengalaman belajar sekaligus terpenuhi kebutuhan bermainnya. Menurut Haenilah (2015:117) mengungkapkan bahwa:

Model pembelajaran BCCT dapat memberikan dampak secara terencana maupun sertaannya, antara lain: kepuasan bermain, meletakkan dasar-dasar pengetahuan, mengembangkan kreativitas, memupuk minat, meningkatkan kemampuan motorik, membangun toleransi, pembiasaan mematuhi aturan.

Secara tidak langsung melalui model pembelajaran BCCT anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya, seperti pembiasaan mematuhi aturan, membangun toleransi. Kemampuan sosial anak haruslah di stimulus sejak usia dini, kemampuan anak untuk bersikap terhadap lingkungan sosial sangat penting untuk kelangsungan hidupnya. Menurut Latif, dkk (2013:121) menjelaskan bahwa:

Dengan sentra melalui kegiatan-kegiatan dibangun aspek-aspek 18 sikap, tujuh kecerdasan dan delapan domain pikir anak usia dini antara lain: kognisi, psikomotor, sosial, afeksi, estetik, bahasa, main pura-pura dan pembangunan.

(54)

mainnya, sehingga anak bebas untuk memilih kegiatan yang diminati secara mandiri dan sesuai aturan.

G. Penelitian Relevan

1. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Choirun Nisak Aulina (2015) dengan judul “pengaruh bermain peran terhadap kemampuan sosial anak usia dini”. Penelitian ini mengemukakan bahwa dengan bermain peran anak mampu berlatih bersosialisasi, berkomunikasi dan berempati dengan anak-anak lain. Penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen kuasi (semu). Sampel penelitian 40 anak kelompok B TK Aisyiyah 6 Tanggulangin. Hasil penelitian menunjukkan dengan perlakuan bermain peran dan tanpa diberikan perlakuan bermain peran menunjukkan nilai Mann-Whitney U sebesar 1.000 dan nilai Wilcoxon W sebesar 211.00 dengan nilai signifikansinya sebesar 0.000. Karena nilai probabilitas jauh lebih kecil dari taraf signifikan 0,05 atau (0.000 < 0.05), maka kelompok eksperimen dengan perlakuan bermain peran jauh lebih baik dibanding kelompok kontrol yang tanpa perlakuan bermain peran terhadap kemampuan sosial anak usia dini di TK Aisyiyah 6 Tanggulangin.

(55)

(BCCT) untuk meningkatkan kemampuan sosialisasi siswa kelompok A PAUD Terpadu Nurul Dzikri. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa Kelompok A PAUD Terpadu Nurul Dzikri Yogyakarta melalui teknik random assignment sejumlah 20 siswa. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Statistic Non-Parametric. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan yaitu ada pengaruh kemampuan sosialisasi pada siswa sebelum (pretest) dan sesudah (postest) diberikan model pembelajaran BCCT dengan nilai Z=-2.812 pada taraf signifikansi nilai 0.005 (p>0.05), dan ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan model pembelajaran BCCT dan penggunaan model pembelajaran konvesional dalam kemampuan sosialisasi anak dengan nilai0.000 (p<0.05).

(56)

hasil yang dicapai oleh anak dengan indikator kinerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan sosial anak melalui permainan tradisional (Jirak Penthil, Betengan, dan Cublak-cublak Suweng). Peningkatan kemampuan anak dalam bersosialisasi ditandai dengan semakin banyaknya anak yang memperoleh nilai BSH dan BSB dalam penugasan yang diberikan guru. Peningkatan persentase rata-rata jumlah anak yang dapat melakukan sosialisasi kondisi awal 48 %, pada siklus I meningkat menjadi 75,1%, dan pada siklus II meningkat semakin besar yaitu 83,6 %.

Pada dasarnya ketiga penelitian relevan tersebut memiliki persamaaan dengan penelitian, yakni sama-sama memberikan perlakuan untuk mengetahui pengaruh dari suatu perlakuan terhadap kemampuan sosial anak. namun yang membedakannya terletak pada jenis perlakuan yang diberikan dimana penelitian pertama menggunakan metode bermain peran, penelitian yang kedua menggunakan model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) dan penlitian yang ketiga menggunakan permainan tradisional. Selain itu yang membedakan antara penelitian relevan ini terletak pada tempat, waktu dan sampel penelitian.

H. Kerangka Pikir Penelitian

(57)

dstimulus sejak usia dini. Salah satu stimulasi yang diberikan adalah melalui bermain. Bermain dalam model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) sangat tepat, karena melalui model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) anak dapat bekerjasama dengan kelompok, berinteraksi dengan teman-teman, mentaati aturan dalam bermain, dan menghargai teman. Sehingga dapat mengembangkan kemampuan sosial dan mengetahui minat anak.

[image:57.595.140.508.553.610.2]

Model Beyond Centers and Circle Time (BCCT) ini merupakan suatu model pembelajaran yang menyiapkan wahana bermain untuk anak dan untuk mengetahui minat anak. Melalui model pembelajaran Beyond Centers and Circle Time (BCCT) anak dapat mengembangkan minat, membangun pengetahuan dan mengembangkan kemampuan sosialnya melalui pijakan lingkungan main, pijakan sebelum main, pijakan selama main, dan pijakan setelah main yang didalamnya mengandung tiga jenis main: main sensorimotor, main pembangunan dan main peran. Jadi kerangka pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Kerangka pikir penelitian

I. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pada teori-teori sebelumnya serta kerangka pikir yang telah diuraikan, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

Model pembelajaran BCCT

(X)

Kemampuan Sosial (Y)

(58)

1. Ho (Hipotesis nol), tidak ada pengaruh model pembelajaran BCCT terhadap kemampuan sosial pada anak usia 4-5 tahun di TK Nurul Hidayah Pesawaran.

(59)

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif. Penelitian ini bersifat eksperimen dengan menggunakan desain penelitian pre-experimental design model one-shot case study. Menurut Sugiyono (2016:110) mengungkapkan bahwa “Terdapat suatu kelompok diberi treatment/perlakuan, dan selanjutnya diobservasi hasilnya”. Jadi terdapat sebuah variabel independen (yang mempengaruhi) dan variabel dependen (dipengaruhi). Variabel independen dalam penelitian ini adalah model pembelajaran BCCT dan variabel dependen dalam penelitian ini adalah kemampuan sosial. Desain penelitian model ini sebagai berikut:

X O

Gambar 2. Model one-shot case-study Keterangan:

X = treatment yang diberikan (variabel independen) O = observasi (variabel dependen)

B. Lokasi Penelitian

(60)

C. Subjek Penelitian

Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas A sebanyak 20 anak (8 perempuan dan 12 laki-laki).

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Menurut Sugiyono (2015:61) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Populasi penelitian ini seluruh siswa dengan rentang usia 4-5 tahun sebanyak 20 siswa (8 perempuan dan 12 laki-laki) di TK Nurul Hidayah.

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2015:62) menyatakan bahwa: “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah sampling total (sensus) yang penentuan sampelnya bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Menurut Sugiyono (2015:67) mengungkapkan bahwa:

Figure

Gambar
Gambar 1. Kerangka pikir penelitian
Tabel 2. Kisi-Kisi Penilaian Model Pembelajaran Beyond Centers and Circle Time   (BCCT)
Tabel 3. Kisi- Kisi Penilaian Kemampuan Sosial Anak
+3

References

Related documents

Privacy issues are central to user concerns about adoption of cloud computing, and unless technological mechanisms to allay user’s concerns are introduced, this may provide fatal

Rosborough said unplanned cable repairs are costly in terms of maintenance and downtime is a profit killer that could be avoided by installing cables that exceed utility in-

USDA Forest Service Southwestern Region Grade: High School Physical Science Title: People in Fire's Homeland. F OREST S ERVICE

It is recommended that the installation of the CryoComp 5.0 for Windows and the .NET Framework, when required, be performed using the automated installer (setup.exe), unless

Giving praise to Wenennefer, lord of the sacred land, by the royal scribe, overseer of the treasury of the lord of the Two Lands, Tia, true of voice.

With the addition of a quality factor, the Northern Trust low-volatility solution over-weights stocks with more stable return volatilities, resulting in a higher-returning,

´ Given that weights are assessed for the five top-level objectives, it is not clear that the value of on-site power generation in reducing the likelihood of disruption (and

The final character, Jane, represents the detective’s inferior function, which is introverted feeling (Fi). 24 This is the facet of the detective’s psyche that he attempts