• No results found

Text 1 COVER pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 COVER pdf"

Copied!
28
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 15 Bandar lampung pada kelas X2 dengan jumlah siswa 28 orang mulai tanggal 29 April 2010 sampai 17 Mei 2010. Data hasil penelitian berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif yaitu data hasil observasi aktivitas on task siswa selama proses pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) berlangsung. Data kuantitatif berupa penguasaan konsep yang diperoleh dari rata-rata tes formatif setiap siklus.

1. Data Kualitatif

(2)

2. Data kuantitatif

[image:2.595.114.502.80.349.2]

Data penguasaan konsep siswa diperoleh dari data tes siklus I, siklus II, dan siklus III. Tes dilaksanakan di luar jam pelajaran. Nilai rata-rata penguasaan konsep siswa dan data ketuntasan belajar siswa tiap siklus ditunjukkan pada Gambar 4 dan 5, data selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 13 halaman 219.

[image:2.595.160.468.551.740.2]

Gambar 4. Grafik Nilai Rata-Rata Penguasaan Konsep

Gambar 3. Grafik Rata-Rata Persentase Tiap Jenis Aktivitas On Task Ket : DA=Berdiskusi aktif ; MLK=Mengisi LKS ;

(3)

B. Pembahasan

SIKLUS I

Siklus I terdiri dari tiga pertemuan. Pertemuan pertama berlangsung selama 1 x 45 menit dan indikator yang dicapai adalah mengidentifikasi unsur C, H, dan O dalam senyawa karbon berdasarkan percobaan. Pertemuan kedua selama 2 x 45 menit dan indikator yang dicapai adalah mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam senyawa karbon, membedakan atom C primer, sekunder, tertier, dan kuarterner, serta mengelompokkan senyawa hidrokarbon berdasarkan kejenuhan ikatan. Pertemuan ketiga selama 1 x 45 menit yang digunakan untuk tahap latihan soal. Tes siklus I dalam bentuk tes essay sebanyak 4 soal dengan bobot soal yang berbeda dilaksanakan di luar jam sekolah selama 1 x 45 menit.

[image:3.595.155.448.84.295.2]

Sebelum proses pembelajaran siklus I dimulai, siswa diberi penjelasan tentang tahap-tahap pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization). Hal ini dilakukan agar siswa tidak asing dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

(4)

Pada pertemuan pertama, siswa duduk dalam kelompoknya masing-masing yang telah ditentukan dan guru membagikan LKS 1 tentang identifikasi unsur C, H, dan O dalam senyawa karbon berdasarkan percobaan. Di dalam proses pembelajaran, guru memberikan apersepsi kepada siswa dengan memberikan contoh senyawa hidrokarbon yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, misalnya gula/glukosa. Siswa sudah mengetahui bahwa rumus kimia glukosa adalah C6H12O6. Setelah memberikan apersepsi, guru melakukan demonstrasi dibantu oleh 2 orang siswa. Sebelum percobaan dimulai, guru memberitahukan nama alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan. Selama percobaan, semua siswa melihat langkah-langkah yang dilakukan, mengamati yang terjadi selama percobaan, dan mencatat hasil pengamatan pada tabel hasil pengamatan dalam LKS. Demonstrasi tersebut membuat siswa tertarik karena selama proses pembelajaran kimia di kelas X belum pernah dilakukan praktikum, siswa melihat rangkaian alat percobaan, mengamati proses pembakaran dan perubahan warna kobalt biru menjadi menjadi merah muda. Kemudian, siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing untuk menjawab pertanyaan yang terdapat dalam LKS 1, dengan meminta asisten atau guru untuk membantu bila diperlukan agar siswa dapat menemukan konsep pembelajaran dan mengerjakan latihan-latihan soal yang terdapat dalam LKS. Setelah selesai melakukan diskusi, guru menuntun siswa untuk menyimpulkan kembali pembelajaran yang baru mereka pelajari.

(5)

mengerjakan latihan-latihan soal yang terdapat dalam LKS. Pada pembelajaran ini, supaya siswa tidak mengalami kesulitan dalam menemukan konsep hidrokarbon, guru perlu mendekatkan sesuatu yang abstrak tersebut menjadi lebih konkret melalui suatu permodelan, yaitu dengan menggunakan molymood sebagai alat bantu untuk menyampaikan informasi yang diperlukan. Sebelum pembelajaran dimulai, guru memberitahukan tentang molymood, warna-warna yang berbeda menunjukkan jenis atom yang berbeda, serta penggunaan ikatannya karena

perbedaan panjang ikatan. Siswa tampak antusias dalam menggunakan molymood, tetapi banyak siswa sambil bermain dengan menggunakan molymood itu sehingga diskusi tidak berjalan dengan baik. Setelah selesai melakukan diskusi, guru menuntun siswa untuk menyimpulkan kembali pembelajaran yang baru mereka pelajari.

Pada pertemuan ketiga, siswa melakukan tahap latihan soal dalam kelompoknya dan memberi penghargaan untuk kelompok kooperatif dengan total poin tertinggi. Adanya banyak latihan soal membantu siswa untuk lebih memahami konsep.

1. Aktivitas Belajar Siswa

Observasi aktivitas on task siswa dengan lembar pengamatan aktivitas belajar dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI.

(6)

kelompok hanya 2 orang yang berdiskusi, interaksi antar anggota kelompok kurang baik, ada yang tidak terjadi interaksi antar siswa, tidak adanya saling mengemukakan pendapatnya atau memberikan sanggahan, sehingga tidak terjadi diskusi dalam kelompok dan tidak ada peran asisten untuk memberikan bantuan dalam kelompoknya. Pada pembagian kelompok di awal pembelajaran, siswa terlihat tidak nyaman berkerja dengan teman satu kelompok, siswa belum terbiasa dengan teman sekelompoknya karena bukan berasal dari teman bergaulnya sehari-hari di sekolah sehingga proses pembelajaran kurang berjalan sesuai yang

diharapkan. Selain itu, kurangnya rasa tanggung jawab sebagai asisten untuk membantu teman yang lemah dalam kelompoknya. Guru juga kurang memberikan motivasi kepada asisten dalam melaksanakan tugasnya sebagai asisten. Guru hanya memperhatikan sebagian kelompok yang dianggap paling aktif sehingga masih banyak siswa yang hanya diam, mengobrol, melamun, bermain telepon genggam, dan ada juga yang menggambar.

(7)

Persentase aktivitas bertanya yang dilakukan siswa sebesar 16,03%. Hal tersebut menunjukkan bahwa keinginan, antusiasme, dan keberanian siswa untuk bertanya masih rendah, hanya beberapa orang yang bertanya dan mereka termasuk siswa yang memiliki tingkat akademik tinggi. Pertanyaan yang diajukan oleh siswa adalah pada percobaan, apakah tabung tidak pecah bila dipanaskan terus menerus, zat apa yang terdapat pada dinding tabung, kenapa kertas kobalt dapat berubah warna, tentang kekhasan atom karbon, dalam satu golongan kenapa atom karbon punya ciri yang unik sedangkan atom yang lain tidak seperti atom karbon, pada penentuan atom C primer, sekunder, tersier, kuarterner, apabila atom C mengikat atom O, apakah juga terhitung. Banyak siswa mengalami kesulitan memahami konsep kekhasan atom karbon.

Aktivitas siswa dalam membuat kesimpulan dilakukan siswa sebesar 12,18%. Ini menunjukkan kemampuan siswa dalam mengeluarkan ide dan menyampaikan suatu argumen masih rendah, hanya beberapa orang yang menyimpulkan meskipun dengan kata-kata yang kurang tepat, misalnya siswa hanya menyimpulkan bahwa unsur yang terkandung dalam senyawa hidrokarbon adalah C dan H, tidak

memberikan penjelasan berdasarkan hasil pengamatan. Guru juga kurang

memberikan pengarahan dan motivasi kepada siswa, sehingga siswa yang lainnya lebih memilih diam.

(8)

dan langkah-langkah yang harus dilakukan, belum memahami tahap-tahap latihan soal tersebut dan belum terbiasa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI, guru juga tidak tanggap memberikan pengarahan langkah selanjutnya kepada siswa dan kurang baik dalam pengelolaan waktu, sehingga tahap latihan soal pada siklus I tidak berjalan dengan baik. Setelah siswa selesai mengerjakan soal tes A dan dikoreksi oleh asisten, ternyata ada 11 orang yang belum memenuhi kriteria, sehingga diberikan bimbingan kembali oleh guru dan kemudian mengerjakan tes B, sedangkan siswa yang lain, yaitu 17 siswa, mengerjakan tes unit. Dari latihan soal yang dilakukan siswa, banyak siswa sudah paham dalam menentukan atom C primer, sekunder, tersier, dan kuarterner, serta menggolongkan berbagai macam senyawa hidrokarbon, sedangkan kesulitan yang dialami siswa adalah mengerjakan soal identifikasi unsur-unsur yang terkandung dalam senyawa karbon dan tentang kekhasan atom karbon, yaitu siswa sulit menghubungkan kedudukan atom karbon dalam SPU dengan kekhasan yang dimiliki atom karbon, maka guru perlu

menjelaskan kembali konsep tersebut.

Pada saat pembagian piagam dan bingkisan kecil kepada kelompok terbaik, siswa mulai ribut dan seolah-olah tidak rela kelompok lain mendapatkan piagam tersebut. Hal ini terbukti ada seorang siswa yang ingin sekali mendapatkan piagam dengan berusaha mengumpulkan poin namun teman satu kelompoknya kurang kompak sehingga total poin didapat masih di bawah teman dari kelompok lain.

2. Hasil Penguasaan Konsep

(9)

siswa yang mendapat nilai < 61 sebanyak 10 orang (35,72%). Pada siklus I ini, rata-rata hasil penguasaan konsep siswa menunjukkan bahwa kelas X2 SMAN 15 Bandar lampung masih belum tuntas, sebab jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 61 belum mencapai 100%, tidak sesuai dengan KKM yang ditetapkan oleh

sekolah tersebut. Siswa yang memperoleh nilai ≥ 61 merupakan siswa yang aktif, sedangkan siswa yang memperoleh nilai < 61 merupakan siswa yang kurang aktif saat proses pembelajaran berlangsung. Rata-rata penguasaan konsep dan

sedikitnya jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar ini disebabkan aktivitas siswa masih rendah, dapat dilihat pada Tabel 10.

Dari data hasil penguasaan konsep, ternyata adanya tahap latihan soal memberikan pengaruh baik terhadap nilai penguaasan konsep hidrokarbon siswa. Dari 11 siswa yang mengikuti tes B, ada 4 siswa yang bisa mencapai KKM, sedangkan 7 siswa lainnya masih belum mencapai KKM, dan ada 3 siswa yang tidak mengikuti tes B tetapi belum mencapai KKM pada tes formatifnya. Hal tersebut terjadi karena siswa tidak serius dalam mengerjakan soal dan hanya mecontek pekerjaan temannya, siswa kurang memperhatikan penjelasan guru, guru juga kurang memberikan bimbingan secara perorang dan kurang memperhatikan karakteristik belajar siswa.

(10)

dan menuntun siswa untuk membuat suatu kesimpulan. Selain itu, siswa yang belum tuntas dikarenakan pada saat kegiatan belajar mengajar ada siswa yang tidak hadir dan merupakan siswa yang kurang aktif, ada juga siswa yang belum belajar saat tes formatif dilakukan sehingga tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan yang ada dalam tes, dan kurang teliti dalam menjawab sehingga tidak memperoleh nilai sempurna. Sebagian besar siswa yang tuntas adalah siswa yang aktif selama proses pembelajaran berlangsung.

3. Refleksi

Setelah dilakukan tes siklus I diperoleh hasil nilai rata-rata tes penguasaan konsep, peneliti mengadakan refleksi dengan guru mitra. Refleksi ini bertujuan untuk mengetahui kekurangan atau kelebihan yang ada pada siklus I. Pada refleksi I didapatkan fakta-fakta berikut :

a. Aktivitas on task siswa ketika berdiskusi kelompok masih rendah, aktivitas on task yang dilakukan siswa hanya didominasi oleh siswa yang sama, yaitu

siswa yang memiliki tingkat akademik tinggi.

b. Dalam diskusi, tidak semua siswa berdiskusi aktif, dalam satu kelompok hanya 2 orang yang berdiskusi, interaksi antar anggota kelompok kurang baik, ada yang tidak terjadi interaksi antar siswa dan tidak terjadi diskusi dalam kelompok itu.

c. Kurangnya rasa tanggung jawab sebagai asisten untuk membantu temannya yang lemah dalam kelompoknya. Guru juga kurang memberikan motivasi kepada asisten dalam melaksanakan tugasnya sebagai asisten.

(11)

memiliki kemampuan tinggi dan mengisi LKS dengan hanya melihat pekerjaan teman.

e. Keinginan dan antusias bertanya siswa masih rendah, hanya beberapa orang yang bertanya.

f. Hanya beberapa orang yang menyimpulkan meskipun dengan kata-kata yang kurang tepat, sedangkan siswa yang lainnya lebih memilih diam.

g. Pada tahap latihan soal, banyak siswa yang terlihat bingung dalam

mengerjakan soal, belum memahami tahap-tahap latihan soal tersebut, tidak serius dalam mengerjakan soal, belum terbiasa menggunakan model

pembelajaran kooperatif tipe TAI, siswa tidak serius dalam mengerjakan soal dan hanya mencontek pekerjaan temannya sehingga sportivitas dan kejujuran dari siswa tidak tampak.

h. Guru tidak tanggap memberikan pengarahan langkah selanjutnya kepada siswa dan kurang baik dalam pengelolaan waktu, sehingga tahap latihan soal pada siklus I tidak berjalan dengan baik.

i. Pada saat pemberian bimbingan kepada siswa yang tidak dapat menjawab tes A dengan benar, siswa kurang memperhatikan penjelasan guru, guru juga kurang memberikan bimbingan secara perorang dan kurang memperhatikan karakteristik belajar siswa.

j. Masih ada beberapa siswa yang memiliki penguasaan konsepnya belum mencapai KKM yang ditetapkan sekolah, dengan demikian kelas tersebut belum tuntas.

(12)

belajar, membimbing siswa dalam berdiskusi, tidak tanggap dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan saat pembelajaran berlangsung, dan

menindak siswa yang tidak serius belajar. Guru kurang memotivasi minat siswa untuk bertanya dan menuntun siswa untuk membuat suatu kesimpulan.

SIKLUS II

Sebelum melaksanakan penelitian ke siklus II, berdasarkan hasil refleksi I, peneliti membuat perbaikan-perbaikan pada siklus I yang akan digunakan untuk membuat rencana siklus II. Perbaikan-perbaikan tersebut adalah:

1. Memberikan penjelasan pada siswa secara detail tentang tahap-tahap latihan soal selama pembelajaran.

2. Menjelaskan tugas dan kewajiban setiap anggota kelompok.

3. Memberikan motivasi kepada asisten agar melaksanakan tugasnya sebagai asisten dengan baik.

4. Guru memberikan motivasi kepada siswa dengan cara memberikan semangat melalui nasehat-nasehat, supaya siswa dapat bekerjasama dan saling

berinteraksi dengan teman satu kelompoknya, meningkatkan sportivitas dan kejujuran siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan.

5. Guru berlaku adil, tidak membedakan siswa yang aktif dan siswa yang pasif. 6. Meningkatkan kinerja guru, guru harus lebih baik dalam mengorganisasikan

siswa dalam kelompok belajar, membimbing siswa dalam berdiskusi dan mengerjakan LKS untuk menemukan konsep, tanggap dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan saat pembelajaran berlangsung.

(13)

8. Guru lebih mampu menggunakan waktu pembelajaran secara efisien. 9. Guru lebih tanggap dalam memberikan pengarahan langkah selanjutnya

kepada siswa, sehingga tahap latihan soal pada siklus II dapat berjalan dengan baik.

10. Guru lebih memberikan bimbingan kepada siswa dan memperhatikan karakteristik belajar siswa, khususnya siswa yang belum bisa menjawab dengan benar tes A dan harus mengerjakan tes B,

11. Guru memberi sanksi kepada siswa yang tidak hadir tanpa keterangan saat pembelajaran berlangsung.

Siklus II terdiri dari tiga pertemuan. Pertemuan pertama berlangsung selama 2 x 45 menit dan indikator yang dicapai adalah memberi nama senyawa alkana, alkena dan alkuna. Pertemuan kedua selama 1 x 45 menit dan indikator yang dicapai adalah menentukan isomer struktur (kerangka, posisi) atau isomer geometri (cis, trans). Pertemuan ketiga selama 2 x 45 menit yang digunakan untuk melanjutkan materi pada pertemuan kedua (1 x 45 menit) dan tahap latihan soal (1 x 45 menit). Tes siklus II dalam bentuk tes essay sebanyak 4 soal dengan bobot soal yang berbeda dilaksanakan di luar jam sekolah selama 1 x 45 menit.

(14)

kembali tentang kekhasan atom karbon, dan ikatan yang terjadi pada senyawa alkana, alkena, dan alkuna. Kemudian, siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing untuk menjawab pertanyaan yang terdapat dalam LKS 4, dengan meminta asisten atau guru untuk membantu bila diperlukan agar siswa dapat menemukan konsep pembelajaran dan mengerjakan latihan-latihan soal yang terdapat dalam LKS. Siswa berdiskusi tentang langkah-langkah yang harus dilakukan dalam memberi nama suatu senyawa dari strukturnya ataupun membuat struktur dari nama senyawa hidrokarbon yang telah diketahui, siswa dapat

menemukan konsep tersebut dari petunjuk aturan tata nama yang terdapat pada LKS. Selain itu, siswa juga dibantu dengan menggunakan molymood sehingga siswa lebih mudah membuat strukturnya dan menentukan rantai terpanjang sebagai rantai induknya. Setelah selesai melakukan diskusi, guru menuntun siswa untuk menyimpulkan kembali pembelajaran yang baru mereka pelajari.

(15)

Pada pertemuan ketiga, diskusi dilanjutkan selama 1 x 45 menit. Setelah selesai melakukan diskusi, guru menuntun siswa untuk menyimpulkan kembali pembela-jaran yang telah mereka pelajari. Kemudian, 1 x 45 menit, satu jam pelapembela-jaran kedua, digunakan untuk melakukan tahap latihan soal dalam kelompoknya dan memberi penghargaan untuk kelompok kooperatif dengan total point tertinggi.

1. Aktivitas belajar siswa

(16)

menyelesaikan tugasnya, tetapi masih ada siswa yang bersikap acuh dalam kelompoknya, seperti hanya diam dan melamun, ataupun bermain molymood. Peran guru juga sudah sedikit mengalami perubahan yakni guru sudah mampu menumbuhkan sikap siswa untuk bekerja sama dengan anggota kelompok, guru mampu melakukan pengelolaan kelas dengan membimbing siswa tanpa

membedakan kelompok yang aktif dan yang pasif. Dari tindakan guru tersebut, siswa merasa sedikit diperhatikan sehingga pada siklus II ini banyak siswa yang lebih aktif, namun guru masih kurang bertindak tegas pada siswa yang melakukan kegiatan tidak relevan dengan pembelajaran.

Persentase aktivitas siswa mengerjakan LKS sebesar 87,50%. Dibandingkan dengan siklus I, aktivitas mengerjakan LKS di siklus II meningkat sebesar 19,23%. Hal ini dikarenakan siswa mulai terlatih dengan adanya LKS yang bersifat

membangun konsep. Kemalasan siswa dalam mengerjakan LKS mulai berkurang, meskipun ada beberapa siswa yang masih mengandalkan siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan mengisi LKS dengan hanya melihat pekerjaan temannya.

(17)

saja, namun masih tetap mendengarkan hasil diskusi dan penjelasan dari guru. Ada beberapa siswa yang tidak bertanya pada guru namun lebih berani bertanya pada asisten, atau teman satu kelompoknya sehingga diskusi kelompok berjalan dengan baik.

Persentase aktivitas siswa dalam membuat kesimpulan sebesar 17,86%, sedangkan peningkatan persentase dari siklus I ke siklus II sebesar 5,68%. Ini terlihat bahwa siswa sudah mulai berani membuat kesimpulan, seperti pengertian isomer posisi dan kerangka, serta perbedaan senyawa cis dan trans. Hal tersebut disebabkan guru yang telah meningkatkan kinerjanya dalam pengelolaan kelas, lebih menuntun siswa untuk membuat kesimpulan, sehingga siswa mulai sedikit demi sedikit mengalami ketertarikan dengan proses pembelajaran yang dilakukan.

(18)

melaksanakan tanggung jawab sebagai anggota kooperatif yang baik dan guru masih kurang baik dalam pengelolaan waktu. Kesulitan yang dialami siswa yaitu siswa tidak memahami yang diminta pada soal, siswa mengalami kesulitan dalam membuat struktur isomer dari suatu senyawa, dan siswa kurang teliti dalam mengoreksi kebenaran nama senyawa hidrokarbon.

Pada saat pembagian penghargaan kelompok, persaingan antar kelompok mulai terlihat, siswa berusaha mengumpulkan poin, semua kelompok merupakan tim hebat. Hal ini terlihat hanya ada dua kelompok dengan poin terendah dan perbedaan poin dengan kelompok lain hanya sedikit. Empat kelompok lain memperoleh poin yang sama.

2. Penguasaan konsep

(19)

dan siswa kurang teliti dalam mengerjakan soal, jawaban yang diberikan siswa kurang lengkap sehingga poin yang diperoleh tidak sempurna.

Pada tahap latihan soal, dari 10 siswa yang mengikuti tes B, ada 5 siswa yang bisa mencapai KKM pada tes formatif, hal tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya latihan soal membantu siswa untuk memahami konsep. 5 siswa lainnya masih belum mencapai KKM, pada saat diberikan bimbingan kembali, guru belum memahami karakteristik belajar siswa tersebut. Ada 2 siswa yang tidak mengikuti tes B tetapi belum mencapai KKM pada tes formatifnya, hal tersebut terjadi karena siswa masih saja mencontek pekerjaan temannya pada saat dilaksanakan tes A dan tidak teliti dalam mengerjakan soal tes formatif. Selain itu, guru juga kurang tegas dalam menindak siswa yang mencontek, kurang memberikan motivasi kepada siswa agar siswa dapat memperhatikan penjelasan guru, lebih serius dalam diskusi dan latihan soal sehingga siswa dapat memahami konsep dengan baik.

Pada siklus ini, aktivitas siswa tidak hanya didominasi oleh siswa yang memiliki tingkat akademik tinggi tetapi siswa lain juga mulai berani untuk bertanya dan membuat kesimpulan, siswa tidak mengandalkan hapalan saja, tetapi lebih

memperhatikan hubungan antara satu konsep dengan konsep lainnya. Sebagaimana pendapat Djamarah (2000) yang menyatakan bahwa dalam proses belajar mengajar, aktivitas memegang peranan penting dalam mencapai hasil belajar. Aktivitas siswa yang baik diharapkan hasil belajarnya pun baik.

3. Refleksi

(20)

didapatkan fakta-fakta berikut :

a. Aktivitas on task siswa dalam pembelajaran meningkat. Banyak siswa yang aktif berdiskusi dalam kelompoknya dan mengerjakan LKS. Aktivitas bertanya dan membuat kesimpulan juga tidak hanya dilakukan oleh siswa yang sama tetapi ada juga siswa lain yang mau melakukan aktivitas tersebut. b. Asisten sudah bertanggung jawab atas tugasnya, membantu teman dalam

kelompoknya sehingga siswa aktif dalam diskusi kelompok.

c. Masih ada beberapa siswa yang hanya mengandalkan siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan mengisi LKS dengan melihat pekerjaan temannya. d. Masih ada siswa yang enggan untuk bertanya dan hanya diam saja, namun

masih tetap mendengarkan hasil diskusi dan penjelasan dari guru.

e. Saat latihan soal, sebagian besar siswa mulai memahami langkah-langkah yang harus dilakukan, namun masih ada beberapa siswa yang kurang serius dalam mengerjakannya dan hanya mencontek pekerjaan temannya, dan beberapa siswa yang terlihat bingung dalam mengerjakan soal. Antusias dan kemauan siswa dalam mengikuti tahap ini sudah mulai meningkat walaupun masih saja terdapat siswa yang acuh dan tidak melaksanakan tanggung jawab sebagai anggota kooperatif yang baik.

f. Penguasaan konsep sebagian besar siswa meningkat. Beberapa siswa masih belum mencapai KKM yang ditetapkan sekolah.

(21)

dalam menindak siswa yang mencontek, kurang memberikan motivasi kepada siswa agar siswa dapat memperhatikan penjelasan guru, lebih serius dalam diskusi dan latihan soal sehingga siswa dapat memahami konsep dan dapat mengerjakan soal latihan dengan baik, dan guru belum cukup baik dalam memperhatikan karakteristik tiap siswa dalam belajar.

SIKLUS III

Sebelum melaksanakan penelitian ke siklus III, berdasarkan hasil refleksi II, peneliti membuat perbaikan-perbaikan pada siklus II yang akan digunakan untuk membuat rencana siklus III. Perbaikan-perbaikan tersebut adalah:

1. Mengingatkan siswa tentang tahap-tahap latihan soal dalam pembelajaran. 2. Menjelaskan tugas dan kewajiban setiap anggota kelompok.

3. Guru lebih memberikan motivasi kepada tim agar mampu berkerjasama dengan baik.

4. Meningkatkan kinerja guru dalam memotivasi siswa untuk belajar dengan cara memberikan semangat melalui nasehat-nasehat, mempertahankan kinerja guru yang telah dilakukan dengan baik dan meningkatkannya supaya menjadi lebih baik lagi.

5. Guru harus dapat mengelola waktu dengan baik. 6. Guru bertindak tegas terhadap siswa yang mencontek.

7. Guru lebih memberikan motivasi kepada siswa agar siswa dapat

(22)

8. Guru harus lebih memperhatikan karakteristik siswa dalam belajar dan mengelola waktu dengan baik, khususnya pada tahap latihan soal.

Siklus III terdiri dari tiga pertemuan. Pertemuan pertama berlangsung selama 1 x 45 menit dan indikator yang dicapai adalah menyimpulkan hubungan titik didih senyawa hidrokarbon dengan massa molekul relatif dan strukturnya. Pertemuan kedua selama 2 x 45 menit dan indikator yang dicapai adalah menuliskan reaksi sederhana dari senyawa alkana, alkena, dan alkuna (reaksi oksidasi, reaksi adisi, reaksi substitusi). Pertemuan ketiga selama 1 x 45 menit yang digunakan untuk tahap latihan soal. Tes siklus III dalam bentuk tes essay sebanyak empat soal dengan bobot soal yang berbeda dilaksanakan di luar jam sekolah selama 1 x 45 menit.

(23)

untuk menjawab pertanyaan dalam LKS dengan meminta asisten atau guru untuk membantu bila diperlukan dan dibantu dengan media molymood supaya siswa lebih mudah dalam menemukan konsep pembelajaran dan mengerjakan latihan-latihan soal yang terdapat dalam LKS. Setelah selesai melakukan diskusi, guru menuntun siswa untuk menyimpulkan kembali pembelajaran yang baru mereka pelajari. Pada pertemuan ketiga digunakan untuk melakukan tahap latihan soal dalam kelompoknya dan memberi penghargaan untuk kelompok kooperatif dengan total poin tertinggi.

1. Aktivitas belajar siswa

(24)

Persentase aktivitas siswa mengerjakan LKS sebesar 96,30%. Dibandingkan dengan siklus II, aktivitas mengerjakan LKS di siklus III meningkat sebesar 8,80%. Hal ini dikarenakan siswa sudah terlatih menyelesaikan LKS yang konstruktivisme dan sistematis. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Prianto dan Harnoko (1997), bahwa dengan menggunakan LKS yang bersifat konstruktivisme dan sistematis dapat membantu siswa untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.

Persentase aktivitas bertanya yang dilakukan siswa sebesar 29,63%. Dibandingkan dengan siklus II, aktivitas bertanya pada guru terjadi peningkatan sebesar 4,63%. Hal ini menunjukkan minat siswa pada proses pembelajaran juga sudah mulai baik, tidak hanya siswa yang memiliki tingkat akademik tinggi saja yang bertanya. Pertanyaan yang diajukan oleh siswa misalnya diantara senyawa alkana, alkena, dan alkuna, bagaimana urutan titik didihnya, jika hasil reaksi pembakaran terdapat zat CO2, CO, dan H2O, maka tergolong reaksi pembakaran sempurna atau tak sempurna, tentang tahap-tahap reaksi dan reaksi totalnya. Peningkatan persentase aktivitas tersebut disebabkan oleh guru sudah bisa melakukan pengelolaan kelas dengan baik sehingga siswa semakin tertarik pada pembelajaran, siswa sudah berani untuk bertanya, dan semakin banyak siswa yang aktif di dalam kelas.

Persentase aktivitas siswa dalam membuat kesimpulan sebesar 22,22%, sedangkan peningkatan persentase dari siklus II ke siklus III sebesar 4,36%. Hal ini

(25)

didih dan lelehnya, serta reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa alkana, alkena, dan alkuna. Guru juga telah meningkatkan kinerjanya dalam pengelolaan kelas sehingga siswa mulai sedikit demi sedikit mengalami ketertarikan dengan proses pembelajaran yang dilakukan.

Pada saat dilaksanakan kegiatan latihan soal pada siklus III, terlihat suatu

perubahan yaitu siswa sudah memahami dan tanggap dalam melaksanakan langkah-langkah yang harus dilakukan, hal ini dikarenakan siswa sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif tipe TAI. Seperti biasanya, pada tahap ini awalnya semua siswa mengerjakan tes A. Setelah siswa selesai mengerjakan soal tes A dan dikoreksi oleh asisten, ternyata ada 8 orang yang belum memenuhi kriteria, sehingga diberikan bimbingan kembali oleh guru dan kemudian

mengerjakan tes B, sedangkan siswa yang lain, yaitu 20 siswa, mengerjakan tes unit. Pada siklus III, asisten sudah terbiasa dan tanggap dalam melaksanakan tugasnya. Hal tersebut membuktikan bahwa antusias dan kemauan siswa dalam mengikuti kegiatan ini sudah meningkat walaupun masih ada beberapa siswa yang tidak melaksanakan tanggung jawab sebagai anggota kooperatif yang baik.

Kesulitan yang dialami siswa yaitu pada materi reaksi senyawa hidrokarbon, siswa sedikit sulit menuliskan persamaan reaksi dengan rumus strukturnya, dan kurang memahami reaksi adisi.

(26)

dengan keinginannya serta dengan adanya bimbingan guru mereka merasa diperhatikan.

Pada saat pembagian penghargaan kelompok, persaingan antar kelompok semakin ketat, siswa berusaha mengumpulkan poin, semua kelompok merupakan tim yang hebat . Hal ini terlihat poin kelompok yang mereka dapat sama, hanya ada satu kelompok poin tertinggi, dan kelima kelompok lain mendapat poin yang sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Slavin (2008:9), dengan adanya penghargaan khusus, siswa ingin agar timnya berhasil, memacu siswa untuk bersaing antar kelompok, mereka akan mendorong anggota timnya untuk lebih baik dan akan membantu mereka melakukannya.

2. Penguasaan konsep

(27)

mencapai KKM dan merupakan siswa yang memiliki tingkat akademik rendah. Pada saat diberikan bimbingan kembali, siswa tersebut sulit sekali memahami konsep yang diberikan dan guru belum memahami karakteristik belajar siswa itu. Ada 1 siswa yang tidak mengikuti tes B tetapi belum mencapai KKM pada tes formatifnya, hal tersebut terjadi karena siswa masih berani mencontek pekerjaan temannya pada saat dilaksanakan tes A meskipun sudah diberikan teguran oleh guru. Guru kurang memberikan motivasi kepada siswa, khususnya siswa yang lemah, agar siswa tersebut dapat memperhatikan penjelasan guru, lebih serius dalam diskusi dan latihan soal sehingga siswa dapat memahami konsep dengan baik dan dapat mencapai KKM yang ditetapkan.

Terjadinya peningkatan persentase penguasaan konsep dari siklus ke siklus dikarenakan semakin optimalnya proses pembelajaran menggunakan model belajar kooperatif tipe TAI yang digunakan sehingga banyak siswa yang terpacu daya tariknya untuk rajin belajar dan pada saat uji siklus, nilai mereka mengalami peningkatan walaupun tidak 100% tuntas. Pada saat uji siklus siswa bisa

mengerjakan dengan baik karena siswa telah paham mengenai materi yang akan diujikan.

3. Refleksi

Setelah dilakukan tes siklus III diperoleh hasil nilai rata-rata tes penguasaan konsep, peneliti kembali mengadakan refleksi dengan guru mitra. Pada refleksi III didapatkan fakta-fakta berikut :

(28)

b. Saat latihan soal, sebagian besar siswa sudah memahami dan tanggap dalam melaksanakan langkah-langkah yang harus dilakukan, hal ini dikarenakan siswa sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif tipe TAI. Antusias dan kemauan siswa dalam mengikuti kegiatan ini sudah meningkat walaupun masih ada beberapa siswa yang tidak melaksanakan tanggung jawab sebagai anggota kooperatif yang baik.

c. Asisten sudah terbiasa dan tanggap dalam melaksanakan tugasnya.

d. Penguasaan konsep sebagian besar siswa meningkat. Beberapa siswa masih belum mencapai KKM yang ditetapkan.

e. Guru sudah baik dalam mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar, membimbing siswa dalam diskusi, tanggap dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan saat pembelajaran berlangsung, menindak siswa yang tidak serius belajar, dan mengelola waktu dengan baik, namun guru masih belum cukup baik dalam memperhatikan karakteristik tiap siswa dalam belajar.

Figure

Gambar 3.  Grafik Rata-Rata Persentase Tiap Jenis Aktivitas On Task Ket : DA=Berdiskusi aktif ; MLK=Mengisi LKS ;
Gambar 5.  Grafik Persentase Ketuntasan Belajar Siswa

References

Related documents

Gene expression levels of the cultures grown in MRS containing 8% (vol/vol) ethanol compared with control MRS cultures are shown according to annotation for cell

FAST-CPS offers an automatic security analysis of cyber-physical systems based on a model of the system: Vulnerabilities are ex- tracted and their effects on the system processes

When considering tree construction performance, as not required to construct the distance matrix in each step, our method has comparatively small phylogenetic tree

We focus on the sequential and simultaneous versions of Dykstra’s algorithm and the Halpern– Lions–Wittmann–Bauschke algorithm for the best approximation problem from a point to

Epstein-Barr virus-positive diffuse large B-cell lymphoma of the elderly (EBV+ DLBCL-e) is a molecularly distinct variant of DLBCL, characterized by a monoclonal B-cell

rats in the angiotensin study. Incidence of microscopic pyelonephritis. The gross lesions observed were verified as typical pyelonephritic lesions by microscopic examina- tion of

Thus, targeted LTBI screening guidelines should be updated to classify all foreign-born persons from high-inci- dence countries as a high-risk population irrespective of time

The volume of blood in the veins of the forearm, at the level of the right atrium, could be determined by plot- ting the venous pressure against the concomitantly ob- served