TUGAS INDIVIDU
Pelvic Floor Exercise ( ‘Kegel’ ) For Urinary
Incontinence
Disusun untuk memenuhi tugas : Advance Medical Surgical Nursing II
Disusun oleh :
RETNO SUMARA (20121050010)
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Inkontinensia urine merupakan masalah kesehatan yang cukup sering dijumpai khususnya perempuan. Inkontinensia urine sering kali tidak dilaporkan oleh pasien atau keluarganya,antara lain karena menganggap bahwa masalah tersebut merupakan masalah yang memalukan atau tabu untuk diceritakan dan juga karena ketidaktahuan mengenai masalah inkontinensia urine dan menganggap bahwa kondisi tersebut merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada orang usia lanjut serta tidak perlu di obati (Sudoyono,dkk2006).
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan menahan air kencing. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan daripada yang belum pernah melahirkan (nulipara). Diduga disebabkan oleh perubahan otot dan fasia di dasar panggul. Kebanyakan penderita inkontinensia telah menderita desensus dinding depan vagina disertai sisto-uretrokel. Tetapi kadang-kadang dijumpai penderita dengan prolapsus total uterus dan vagina dengan kontinensia urine yang baik.
Angka kejadian bervariasi, karena banyak yang tidak dilaporkan dan diobati. Di Amerika Serikat, diperkirakan sekitar 10-12 juta orang dewasa mengalami gangguan ini. Gangguan ini bisa mengenai wanita segala usia. Prevalensi dan berat gangguan meningkat dengan bertambahnnya umur dan paritas. Pada usia 15 tahun atau lebih didapatkan kejadian 10%, sedang pada usia 35-65 tahun mencapai 12%. Prevalansi meningkat sampai 16% pada wanita usia lebih dari 65 tahun. Pada nulipara didapatkan kejadian 5%, pada wanita dengan anak satu mencapai 10% dan meningkat sampai 20% pada wanita dengan 5 anak.
Pada wanita umumnya inkontinensia merupakan inkontinensia stres, artinya keluarnya urine semata-mata karena batuk, bersin dan segala gerakan lain dan jarang ditemukan adanya inkontinensia desakan, dimana didapatkan keinginan miksi mendadak. Keinginan ini demikian mendesaknya sehingga sebelum mencapai kamar kecil penderita telah membasahkan celananya. Jenis
inkontinensia ini dikenal karena gangguan neuropatik pada kandung kemih. Sistitis yang sering kambuh, juga kelainan anatomik yang dianggap sebagai penyebab inkontinensia stres, dapat menyebabkan inkontinensia desakan. Sering didapati inkontinensia stres dan desakan secara bersamaan.
Senam kegel merupakan salah satu terapi untuk mengatasi masalah inkontinensia. Senam kegel adalah olahraga yang memfokuskan pada otot PC (pubococcygeus)yang bertangung jawab pada proses menahan kencing. Melakukan senam kegel juga dipercaya bisa membantu menyempurnakan otot-otot cincin di lubang pengeluaran, baik saluran kecing maupun poros usus. Sehingga senam kegel sangat dianjurkan bagi perempuan yang sering merasakna ingin buang air kecil karena stress.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1. Anatomi Dan Fisiologi
Vesika dan uretra dapat dipandang sebagai suatu kesatuan dengan pertumbuhannya yang berasal dari jaringan sekitar sinus urogenitalis. Oleh karena itu lapisan otot polos keduanya sama, lapisan dalam merupakan lapisan longitudinal dan lapisan luar membentuk anyaman sirkuler yang mengelilingi lubang urehra. Anyaman sirkuler ini yang berperan pada keadaan tekanan istirahat atau tekanan penutupan dalam uretra.
Anyaman otot vesika ini menjadi satu lapisan dengan kelanjutan serabut-serabutnya ditemukan pula di dinding uretra sebagai otot-otot uretra, dikenal sebagai muskulus sfingter vesicae internus atau muskulus lisosfingter. Otot-otot tersebut terletak di bawah lapisan jaringan yang elastis dan tebal dan disebelah luar dilapisi jaringan ikat. Di dalam lapisan elastis yang tebal ditemukan lapisan mukosa dengan jaringan submukosa yang spongius. Disamping muskulus sfingter vesikae internus dan lebih ke distal sepanjang 2 cm, uretra dilingkari oleh suatu lapisan otot tidak polos dikenal sebagai muskulus sfingter uretra ekstranus atau muskulus rabdosfingter eksternus. Otot ini dapat meningkatkan fungsi sfingter vesika dengan menarik uretra ke arah proksimal sehingga urethra lebih menyempit. Otot-otot polos vesika dan uretra berada dibawah pengaruh saraf para simpatis dan dengan demikian berfungsi serba otonom. Muskulus rabdosfingter merupakan sebagian dari otot-otot dasar panggul sehingga kekuatannya dapat ditingkatkan dengan latihan-latihan dasar panggul tertentu. Muskulus bulbokaver-norsus dan ishiokavernosus juga dapat aktif ditutup bila vesika penuh dan ada perasaan ingin berkemih, sehingga tidak terjadi inkontinensia.
Gambar 1 : A. uretra tertutup B. uretra terbuka 1. Jar. Spongius 2. M. lisosfingter 3. M. Rabdosfingter
(dikutip dari kepustakaan no. 2)
Terdapat 3 komponen anatomis dari mekanisme kontinensia, yaitu penyangga uretra, sfingter internus dan eksternus. Sfingter internus yang terletak setinggi leher vesika, bila terganggu menimbulkan inkontinensia stres walaupun penyangga normal, sedang sfingter eksternus mempunyai kemampuan untuk kontraksi volunter.
Bila vesika berisi urine maka otot dinding vesika mulai direnggangkan dan perasaan ini disalurkan melalui saraf sensorik ke bagian sakral sumsum tulang belakang. Disini rangsangan disalurkan ke bagian motorik yang kemudian dapat menimbulkan kontraksi ringan pada otot dinding vesika atau muskulus detrusor. Normalnya kapasitas kandung kemih. 400-450 ml. Bila isi vesika hanya sedikit maka kontraksi ringan itu tidak menimbulkan pengeluaran kemih, akan tetapi bila vesika terus direnggangkan maka muskulus detrusor berkontraksi lebih kuat dan urine dikeluarkan dengan deras adalah antara 25-30 cm H2O.
2.2. Fungsi Normal Kandung Kemih Dan Uretra
Pada orang dewasa sehat, kerja kandung kemih dapat dibagi dalam dua fase; fase pengisian, dengan kandung kemih berfungsi sebagai reservoar urine yang masuk secara berangsur-angsur dari ureter, dan fase miksi dengan kandung kemih befungsi sebagai pompa serta menuangkan urine melalui uretra dalam waktu relatif singkat. Pada keadaan normal selama fase pengisian
tidak terjadi kebocoran urine, walaupun kandung kemih penuh atau tekanan intraabdomen meningkat seperti sewaktu batuk, meloncat-loncat atau kencing dan peningkatan isi kandung kemih memperbesar keinginan ini. Pada keadaan normal, dalam hal demikian pun tidak terjadi kebocoran di luar kesadaran.
Pada fase pengosongan, isi seluruh kandung kemih dikosongkan sama sekali. Orang dewasa dapat mempercepat atau memperlambat miksi menurut kehendaknya secara sadar, tanpa dipengaruhi kuatnya rasa ingin kencing. Cara kerja kandung kemih yaitu sewaktu fase pengisian otot kandung kemih tetap kendor sehingga meskipun volume kandung kemih meningkat, tekanan di dalam kandung kemih tetap rendah. Sebaliknya otot-otot yang merupakan mekanisme penutupan selalu dalam keadaan tegang. Dengan demikian maka uretra tetap tertutup. Sewaktu miksi, tekanan di dalam kandung kemih meningkat karena kontraksi aktif otot-ototnya, sementara terjadi pengendoran mekanisme penutup di dalam uretra. Uretra membuka dan urine memancar keluar. Ada semacam kerjasama antara otot-otot kandung kemih dan uretra, baik semasa fase pengisian maupun sewaktu fase pengeluaran. Pada kedua fase itu urine tidak boleh mengalir balik ke dalam ureter (refluks).
2.3. Inkontinensia Urine 2.3.1. Definisi
Inkontinensia urine merupakan hilangnya kendali miksi involunter yang berhubungan dengan distensi kandung kemih yang berlebihan. Hal ini dapat terjadi secara sekunder dari kerusakan otot detrusor yang memicu kelemahan detrusor.
2.3.2. Etiologi
Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga
walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih.
Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan terapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses, maka harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein.
Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau farmakologik yang tepat. Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang dideritanya. Obat-obatan ini bisa sebagai ‘biang keladi’ mengompol pada orang-orang tua. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian atau penggantian obat jika memungkinkan, penurunan dosis atau modifikasi jadwal pemberian obat.
Golongan obat yang berkontribusi pada IU, yaitu diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis adrenergic alfa, agonic adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik. Golongan psikotropika seperti antidepresi, antipsikotik, dan sedatif hipnotik juga memiliki andil dalam IU. Kafein dan alcohol juga berperan dalam terjadinya mengompol. Selain hal-hal yang
disebutkan diatas inkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan.
Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul.
2.3.3. Faktor Resiko Inkontinensia Urin
1. Usia
Prevalensi inkontinensia meningkat bertahap selama masa dewasa muda. Puncak yang lebar tampak pada usia pertengahan dan kemudian menetap setelah usia 65 tahun (Hannestad, 2000).
Prevalence of any (n = 6,170) and significant (n = 1,832) incontinence by age group (From Hannestad, 2000, with permission.)
2. Ras
Dulunya wanita kaukasia diyakini lebih beresiko mengalami inkontinensisa urin daripada ras lain. Namun sebaliknya, wanita Afrika-Amerika dipercaya berprevalensi lebih tinggi pada urge incontinence. Namun laporan tersebut tidak berdasar populasi, dan dengan demikian perbedaan ras sejatinya bukan merupakan perkiraan yang terbaik. Sebagian besar studi epidemiologis mengenai inkontinensia urin dilaksanakan dalam populasi Kaukasian. Data yang ada menyangkut perbedaan ras sangat didasarkan pada ukuran sampel yang kecil (Bump, 1993). Dari catatan terkini, belum jelas apakah perbedaan ini biologis, berkaitan dengan penilaian pelayanan kesehatan, atau dipengaruhi oleh ekspektasi kultural dan ambang toleransi simptom. Dengan demikian, masih diperlukan studi lebih mendalam mengenai studi non-Kaukasian. 3. Obesitas
Beberapa studi epidemiologis menunjukkan bahwa peningkatan
body mass index (BMI) merupakan faktor resiko independen dan
signiffikan untuk semua jenis inkontinensia urin. Bukti menunjukkan bahwa prevalensi urge incontinence dan stress incontinence meningkat berbanding lurus dengan meningkatnya BMI (Hannestad, 2003). Secara teoritis peningkatan tekanan intraabdominal yang bersamaan dengan pemingkatan BMI menghasilkan tekanan intravesikal yang secara proporsional lebih tinggi. Tekanan yang lebih tinggi ini menimbulkan
urethral closing pressure dan menjurus pada inkontinensia (Bai, 2002).
Deitel and co-workers (1988) melaporkan adanya penurunan yang signifikan pada prevalensi stress urinary incontinence, dari 61 menjadi 11%, pada wanita obese seiring dengan penurunan berat bdan setelah pembedahan bariatrik. Sesuai dengan itu, jika proporsi populasi yang overweight dan obese lebih besar, diharapkan kita dapat melihat
peningkatan prevalensi inkontinensia urin di Amerika Serikat (Flegal, 2002).
Table 23-1 Faktor Resiko Inkontinensia Urin • Usia • Kehamilan • Kelahiran • Menopause • Histerektomi • Obesitas • Simptom urinari • Gangguan fungsional • Gangguan kognitif
• Tekanan abdominal tinggi yang kronis • Batuk kronis
• Konstipasi
• Resiko okupasional • Merokok
4. Menopause
Studi-studi yang ada belum konsisten menunjukkan adanya peningkatan disfungsi urin setelah seorang wanita memasuki tahun-tahun postmenopausal (Bump, 1998). Sukar untuk memisahkan efek hipoestrogenisme dari efek penuaan.
Reseptor estrogen afinitas tinggi telah diidentifikasi di uretra, muskulus pubokoksigeal, dan trigonum bladder, namun jarang ditemukan di bladder (Iosif, 1981). Dipercaya bahwa perubahan kolagen yang berkaitan dengan hipoestrogen dan reduksi vaskularisasi serta volume muskulus skeletal secara kolektif berperan pada gangguan fungsi uretra melalui penurunan resting urethral pressure (Carlile, 1988). Lebih jauh lagi, defisiensi estrogen yang menimbulkan atrofi urogenital diperkirakan berperan dalam simptom sensoris urinari yang menyertai menopause (Raz, 1993). Estrogen memang berperan penting dalam fungsi urinari normal,
namun masih kurang jelas apakah estrogen berguna dalam terapi atau pencegahan inkontinensia (Estrogen Replacement) (Fantl, 1994, 1996). 5. Kelahiran dan kehamilan
Banyak studi menemukan bahwa wanita para memiliki prevalensi inkontinensia urin lebih besar dibandingkan dengan yang nullipara. Pengaruh dari melahirkan anak terhadap kejadian inkontinensia dapat timbul dari luka langsung pada otot-otot pelvis dan perlekatan jaringan ikat. Sebagai tambahan, kerusakan syaraf dari trauma atau ketegangan yang ada dapat berdampak pada disfungsi otot pelvis (Snooks, 1986). Secara spesifik, level yang lebih tinggi dari latensi motorik nervus pudendal yang lama setelah melahirkan nampak pada wanita dengan inkontinensia dibanding dengan wanita yang asimtomatis.
6. Kebiasaan merokok dan penyakit paru kronis
Ada 2 studi epidemiologis yang menunjukkan peningkatan resiko inkontinensia urin yang signifikan pada wanita usia lebih dari 60 tahun dengan penyakit pulmoner obstruktif kronis (Brown, 1996; Diokno, 1990). Sama pula pada kebiasaan merokok yang diidentifikasi sebagai faktor resiko independen inkontinensia urin pada beberapa studi. Salah satu dari studi tersebut, menyebutkan bahwa baik yang perokok maupun mantan perokok tercatat memiliki resiko 2-3 kali lipat dibanding dengan yang bukan perokok (Bump, 1992). Secara teoritis, kenaikan persisten tekanan intraabdominal yang timbul karena batuk kronis perokok dan sintesis kolagen, dapat diturunkan dengan efek antiestrogenik merokok.
7. Histerektomi
Studi belum menunjukkan hasil yang konsisten bahwa histerektomi merupakan faktor resiko berkembangnya inkontnensia urin. Studi yang menunjukkan hubungan tersebut adalah studi retrospektif, kurangnya grup kontrol yang sesuai, dan sering semata-mata berdasarkan data subyektif (Bump, 1998). Sebaliknya, Studi yang meliputi tes pre dan post operatif urodinamik mengungkapkan perubahan fungsi bladder yang secara klinis tidak signifikan. Lebih jauh lagi, bukti tidak mendukung bahwa menghindari histerektomi yang telah diindikasikan secara klinis ataupun
menghindari pelaksanaan histerektomi supracervical menjadi ukuran untuk mencegah inkontinensia urin (Vervest, 1998; Wake, 1980).
2.3.4. Jenis Inkontinensia Urine
Terdapat beberapa macam klasifikasi inkontinensia urine, di sini hanya dibahas beberapa jenis yang paling sering ditemukan yaitu :
A. Inkontinensia stres (Stres Inkontinence)
Keluarnya urin diluar pengaturan berkemih, biasanya dalam jumlah sedikit, akibat peningkatan tekanan intra-abdominal. Hal ini terjadi karena terdapat kelemahan jaringan sekitar muara vesika urinari dan uretra. Keluhan khas yaitu mengeluarkan urine sewaktu batuk, bersin, menaiki tangga atau melakukan gerakan mendadak, berdiri sesudah berbaring atau duduk. Gerakan semacam itu dapat meningkatkan tekanan dalam abdomen dan karena itu juga di dalam kandung kemih. Otot uretra tidak dapat melawan tekanan ini dan keluarlah urine. Biasanya masalah ini bersifat sementara dan dapat diatasi dengan kateterisasi intermiten, dengan karakter yang ditinggalkan atau lebih baik dengan drainase kandung kemih suprapubik.
B. Inkontinensia Urgensi
Inkontinensia urgensi adalah ketidakmampuan menunda berkemih begitu sensasi penuhnya vesika urinari diterima oleh pusat berkemih. Terdapat gangguan pengaturan rangsang dan instabilitas dari otot detrusor vesika urinari. Biasanya terjadi akibat kandung kemih tak stabil. Sewaktu pengisian, otot detusor berkontraksi tanpa sadar secara spontan maupun karena dirangsang (misalnya batuk). Kandung kemih dengan keadaan
semacam ini disebut kandung kemih tak stabil. Biasanya kontraksinya disertai dengan rasa ingin miksi. Gejala gangguan ini yaitu urgensi, frekuensi, nokturia dan nokturnal enuresis.
C. Inkontinensia Luapan (overflow)
Inkontinensia luapan yaitu keluarnya urine secara involunter ketika tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal maksimal uretra akibat dari distensi kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor. Terjadi pada keadaan kandung kemih yang lumpuh akut atau kronik yang terisi terlalu penuh, sehingga tekanan kandung kemih dapat naik tinggi sekali tanpa disertai kontraksi sehingga akhirnya urine menetes lewat uretra secara intermitten atau keluar tetes demi tetes. Penyebab kelainan ini berasal dari penyakit neurogen, seperti akibat cedera vertebra, sklerosis multipel, penyakit serebrovaskular, meningomyelokel, trauma kapitis, serta tumor otak dan medula spinalis.
D. Fistula urine
Fistula urine sebagian besar akibat persalinan, dapat terjadi langsung pada waktu tindakan operatif seperti seksio sesar, perforasi dan kranioklasi, dekapitasi, atau ekstraksi dengan cunam. Dapat juga timbul beberapa hari sesudah partus lama, yang disebabkan karena tekanan kepala janin terlalu lama pada jaringan jalan lahir di tulang pubis dan simfisis, sehingga menimbulkan iskemia dan kematian jaringan di jalan lahir.
2.4. Penatalaksanaan
Pada umumnya terapi inkontinensia urine adalah dengan cara operasi. Akan tetapi pada kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan terapi konservatif. Latihan otot dasar panggul adalah terapi non operatif yang paling populer, selain itu juga dipakai obat-obatan, stimulasi dan pemakaian alat mekanis.
Penatalaksanaan inkontinensia urin menurut Muller adalah mengurangi faktor resiko, mempertahankan homeostasis, mengontrol inkontinensia urin, modifikasi lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis dan pembedahan.
• Terapi non farmakologi
Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari timbulnya inkontinensia urin, seperti hiperplasia prostat, infeksi saluran kemih, diuretik, gula darah tinggi, dan lain-lain. Adapun terapi yang dapat dilakukan adalah : Melakukan latihan otot dasar panggul ( senam kegel) dengan mengkontraksikan otot dasar panggul secara berulang-ulang. • Terapi farmakologi
a Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate, Imipramine.
b Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra.
c Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi diberikan secara singkat.
• Terapi pembedahan
Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress dan urgensi, bila terapi non farmakologis dan farmakologis tidak berhasil. Inkontinensia tipe overflow umumnya memerlukan tindakan pembedahan untuk menghilangkan retensi urin. Terapi ini dilakukan terhadap tumor, batu, divertikulum, hiperplasia prostat, dan prolaps pelvic (pada wanita).
2.5. Penanganan Konservatif Senam Kegel (‘Pelvic Floor Exercises’)
Salah satu terapi inkontinensia urine adalah dengan cara operasi. Akan tetapi pada kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan terapi konservatif. Latihan otot dasar panggul adalah terapi non operatif yang paling popular. Latihan untuk memperkuat otot panggul sering disebut latihan senam kegel telah lama digunakan untuk mengobati / menurunkan inkontinensia urin (Nygaard, 2010). Latihan otot panggul (senam kegel ) diikut sertakan dalam intervensi primer dalam menangani inkontinensia urine (potter&perry.2006). Senam kegel adalah senam untuk menguatkan otot panggul atau senam yang bertujuan untuk memperkuat otot–otot dasar panggul terutama otot puboccygeal sehingga seorang wanita dapat memperkuat otot–otot saluran kemih. Senam kegel juga dapat menyembuhkan ketidakmampua nmenahankencing (inkontinensia urine) (Widianti dan Proverawati, 2010). Senam kegel berguna untuk mengencangkan dan memulihkan otot di daerah alat genital dan anus(Cendika & Indarwati,2010).
Langkah- langkah Senam Kegel •LATIHAN 1
Instruksikan klien untuk berkonsentrasi pada otot panggul. Minta klien berupaya untuk menghentikan aliran urine selama berkemih dan kemudian memulainya kembali. Praktikkan setiap kali berkemih.
•LATIHAN 2
Minta klien mengambil posisi duduk berdiri. Instruksikan klien untuk mengencangkan otot – otot disekitar anus.
•LATIHAN 3
Minta klien mengencangkan otot di bagian posterior dan kemudian kontraksikan otot anterior secara perlahan sampai hitungan ke empat. Kemudian minta klien merelaksasikan otot- otot secara keseluruhan. Ulangi latihan empat kali per jam saat terbangun dari tidur selama tiga bulan.
•LATIHAN 4
Apabila memungkinkan, ajar klien melakukan sit-ups yang dimodifikasi (lutut ditekuk). Membantu klien untuk merasakan otot- otot anterior pada dasar panggul. Mengajarkan teknik pengontrolan. Membantu klien merasakan otot – otot posterior pada dasar panggul. Meningkatkan pengontrolan otot panggul dan membantu relaksasi sfingter selama berkemih. Menguatkan otot- otot abdomen untuk pengontrolan kandung kemih. (Potter & Perry, 2005).
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Manfaat Senam Kegel Pada Inkontinensia Urine
Otot dasar panggul terdiri dari tiga lembaran otot yang masing-masing menempel pada Bladder (Kandung kemih), vagina dan rectum (Bent, Alfred E., 2008). Bagian akhir dari urethra disokong secara adekuat oleh endopelvic fascia dan kontraksi musculus levator ani bekerja mengatur suplai saraf secara normal. Senam otot dasar panggul ini mampu menguatkan muskulus levator ani, menjaga lapisan endopelvic dan keutuhan saraf yang dapat meningkatkan kesadaran dari otot dasar panggul untuk menyesuaikan transmisi dari tekanan abdominal, serta meningkatkan kemampuan otot tersebut dalam menyokong bladder,vagina,dan rectum yang kemudian dapat meningkatkan kemampuan tahanan pada sphincter urethra sehingga mampu meningkatkan periode kontinen terhadap urine.
Selain itu tujuan terapetik lainnya dari latihan Kegel ini adalah untuk mengajarkan “perineal lock”atau bagaimana caranya mengunci perineum. Dimana kemampuan dari perineum untuk mengunci spincternya,dan kemampuan otot levator ani untuk berkontraksi terus mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya usia dan proses degeneratif. Oleh karena itu senam Kegel tersebut dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan, ketegangan serta mencegah terjadinya atropi (Cammu, H et al.,2000).
Latihan otot dasar panggul (senam Kegel) ditemukan sebagai salah satu manajemen non pembedahan yang terbukti efektif untuk mengatasi jenis inkontinensia stress dan Inkontinensia Urge (Yoon, Hae S et al.,2002).Karena inkontinensia Stress itu sendiri bisa terjadi akibat adanya kelemahan otot pelvis dan kelemahan sphincter sehingga tidak mampu untuk menahan reflek berkemih ketika terjadi peningkatan tekanan intra abdomen. Sedangkan pada inkontinensia Urge terjadi akibat adanya ketidak mampuan untuk menahan keluarnya urin ketika rangsangan untuk berkemih tersebut datang secara tiba-tiba.
Berdasarkan penelitian review yang telah dilakukan oleh Natalia Price, Rehana Dawood,SimonR.Jackson (2011) diketahui bahwa Kegel excercises secara signifikan dapat meningkatkan kekuatan dan ketegangan pada otot dasar panggul. Penelitian telah menunjukkan peningkatan hingga 70% dalam gejala inkontinensia stres mengikuti latihan lantai tepat dilakukan panggul. Peningkatan ini terjadi di semua kelompok umur. Dibuktikan bahwa wanita lebih baik dengan latihan yang diawasi oleh ahli fisioterapi spesialis atau perawat, dibandingkan dengan perawatan tanpa pengawasan atau selebaran-based yang berpartisipasi dalam program pelatihan otot dasar panggul diawasi selama minimal tiga bulan. Sedangkan pada wanita post partum penelitian menunjukkan bahwa perempuan, yang melakukan latihan intensive senam kegel selama kehamilan, mengurangi kemungkinan mereka postpartum kebocoran pada tahun pertama setelah melahirkan. Bagi wanita yang memiliki bayi pertama mereka, latihan senam kegel antenatal panggul muncul untuk mengurangi prevalensi inkontinensia urin pada akhir kehamilan (34 minggu atau lebih) dan postpartum dini (kurang dari 12 minggu). Lima belas studi yang melibatkan 6181 perempuan (3040 senam kegel, 3141 kontrol) memberikan kontribusi untuk analisis. Berdasarkan laporan percobaan, wanita hamil tanpa inkontinensia sebelumnya yang secara acak senam kegel antenatal berkurang dibandingkan perempuan secara acak tidak ada perawatan antenatal senam kegel atau melaporkan inkontinensia urin pada akhir kehamilan dan sampai enam bulan postpartum.
Dalam perkembangannya selanjutnya senam ini selain dilakukan oleh wanita juga dilakukan oleh para pria. Pada pria kerja otot ini lebih mudah diamati dari luar dibanding wanita. Teknik senam Kegel yang paling sederhana dan mudah dilakukan adalah dengan seolah-olah menahan kencing (pada wanita dan pria). Kencangkan atau kontraksikan otot seperti menahan kencing, pertahankan selama 5 detik, kemudian relaksasikan (kendurkan). Ulangi lagi latihan tersebut setidaknya lima kali berturut-turut. Secara bertahap tingkatkan lama menahan kencing 15-20 detik, lakukanlah secara serial setidaknya 6 12 kali tiap latihan.
Senam kegel selain sangat sederhana dan mudah dilakukan, juga tetap dapat dilakukan secara privasi. Hal ini menguntungkan, karena dapat melakukannya dimanapun dan kapanpun. Dalam posisi duduk di kursi kantor atau bahkan saat berbaring. Intinya senam kegel ini dapat dilakukan dan dijadikan kebiasaan positif kapanpun juga. Senam ini banyak sekali melibatkan otot-otot pantat perut, panggul, dan otot dasar panggul.
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Senam kegel adalah senam untuk menguatkan otot panggul atau senam yang bertujuan untuk memperkuat otot–otot dasar panggul terutama otot puboccygeal sehingga seorang wanita dapat memperkuat otot–otot saluran kemih. Senam kegel juga dapat menyembuhkan ketidakmampuan menahan kencing (inkontinensia urine). Melakukan senam kegel juga bisa membantu menyempurnakan otot-otot cincin di lubang pengeluaran, baik saluran kecing maupun poros usus. Sehingga senam kegel sangat dianjurkan bagi perempuan yang sering merasakna ingin buang air kecil karena stress.
4.2 Saran
Melihat manfaat senam kegel yang memberikan pengaruh besar pada pasien dengan inkontinensia dan wanita hamil, harusnya, senam kegel dapat lebih di sosialisasikan
pada masyarakat. Diharapkan perawat dapat mengembangkan ilmu dan ketrampilan melalui penyuluhan dan pelatihan dalam merawat klien dengan inkontinensia urine.
KEPUSTAKAAN
Natalia Price , Rehana Dawood,Simon R.Jackson. 2010.
Pelvic floor exercise
for urinary incontinence: A systematic literature review. GModel
MAT-5428; No.of Pages7. Elsevier.
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.
Dochterman, Joanne McCloskey et al.2004.Nursing Interventions Classification
-(NIC).Missouri : Mosby
Ester, Monica. 2010. NANDA Internasional Diagnosis Keperawatan : Definisi
dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC
Johnson, Marion et al. 2006. NANDA, NOC, and NIC Linkages. Missouri : Mosby
Suparman, E., J. Rompas. 2008. Inkontinensia Urine pada Perempuan Menopause. (online: isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/321084854.pdf, (Diakses pada: 207 november 2012)
Burnnet LS. Relaxations, Malpositions, Fistulas, and Incontinence. In : Jones HW, Wentz AC,
Burnnet LS. Novak’s Texbook of Gynecology. Eleventh Ed. William & Wilkins, 1988 ; 467-478.
Marchant DJ. Urinary Incontinence. Obsterics and Gynecology Annual, 19809 ; 9 : 261-2
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses, dan
Praktek Klinik, Volume 2, Edisi 4.Jakarta: EGC
http://id.scribd.com/doc/18959004/makalah-senam-kegel. Diakses tgl 21 november 2012.
http://id.scribd.com/doc/77768916/inkontinensia-urin. Diakses tgl 21 november 2012.