• No results found

Text COVER & ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text COVER & ABSTRAK pdf"

Copied!
10
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

1.1 Latar Belakang

Pembangunan daerah pada dasarnya adalah upaya untuk mengembangkan

kemampuan ekonomi daerah untuk menciptakan kesejahteraan dan memperbaiki

kehidupan material secara adil dan merata; meningkatkan kondisi kesehatan,

pendidikan, perumahan, dan kesempatan kerja; mendorong penegakan hak-hak

asasi manusia, kebebasan politik dan demokrasi; mengembangkan peradaban dan

meningkatkan kesadaran perlunya pembangunan berkelanjutan.

Otonomi Daerah merupakan salah satu strategi dalam suatu proses pembangunan

guna menghadapi berbagai hambatan baik institusi maupun administrasi, yang

dengan kata lain otonomi adalah upaya untuk mendorong proses demokratisasi.

Otonomi Daerah mampu menggali potensi yang ada di daerah guna mencapai

tujuan yang positif berupa percepatan pembangunan dan peningkatan kuantitas

dan kualitas pelayanan publik, kesejahteraan serta pemberdayaan masyarakat.

Titik berat Otonomi Daerah pada daerah kabupaten/kota dimaksudkan untuk

mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, mendewasakan politik rakyat dan

memberikan keleluasaan bagi daerah kabupaten/kota untuk mengatur rumah

tangganya sendiri sesuai dengan kondisi, potensi dan keanekaragaman

(2)

pembagian kekuasaan (sharing of power), ditribusi pendapatan (distribution of

income) dan pemberdayan administrasi lokal (empowering local administration).

Ketiga hal inilah yang diharapkan oleh daerah agar pelaksanaan Otonomi Daerah

dapat berjalan dengan baik. Di samping itu, diharapkan dengan Otonomi Daerah

akan mampu memacu pembangunan daerah, sehingga kesenjangan pertumbuhan

antar daerah secara perlahan dapat dikurangi (Warsito, 2002: 14)

Keberhasilan pelaksanaan Otonomi Daerah tidak terlepas pada kemampuan

keuangan daerah. Artinya daerah memiliki kemampuan dan kewenangan untuk

menggali sumber keuangannya sendiri, mengelola dan menggunakannya dalam

membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah. Maknanya adalah pemerintah

daerah tidak selalu bergantung kepada bantuan dari pemerintah pusat, dan

menunjukkan kemandirian daerah dalam pelaksanaan otonomi. Salah satu kriteria

penting untuk mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam mengatur dan

mengurus rumah tangganya sendiri adalah kemampuan self supporting di bidang

keuangan.

Keuangan menjadi salah satu faktor pendukung pelaksanaan Otonomi Daerah, di

mana sumber pendapatan daerah menurut Pasal 157 Undang-Undang Nomor 32

Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan

Daerah sumber Pendapatan Asli Daerah terdiri dari hasil pajak daerah, hasil

retribusi daerah, hasil perusahaan daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah

lainnya yang dipisahkan dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah.

Terkaita dengan pemberian otonomi kepada daerah dalam merencanakan,

(3)

daerah, PAD dapat dipandang sebagai salah satu indikator atau kriteria untuk

mengurangi ketergantungan suatu daerah kepada pusat. PAD merupakan sumber

penerimaan yang murni dari daerah, yang merupakan modal utama bagi daerah

sebagai biaya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

Meskipun PAD tidak seluruhnya dapat membiayai total pengeluaran daerah,

namun proporsi PAD terhadap total penerimaan daerah tetap merupakan indikasi

derajat kemandirian keuangan suatu pemerintah daerah.

Peranan finansial sangat menentukan keberhasilan pembangunan daerah

disamping itu yang tidak kalah pentingnya adalah kesiapan SDM dalam

mengelolanya. Peranan dana saja tidak cukup untuk menilai suatu daerah mampu

atau tidak dalam melaksanakan Otonomi Daerah, karena ada beberapa hal lain

yang dapat dijadikan indikator seperti kelembagaan, kepegawaian, peralatan,

partisipasi masyarakat, organisasi dan administrasi, ekonomi daerah serta

demografi, tetapi bagi daerah ketercukupan dana akan sangat menentukan

keberhasilan pembangunan daerah.

Daerah otonom memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali

sumber-sumber keuangannya sendiri, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang

cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerahnya.

Ketergantungan daerah kepada pusat tidak lagi dapat diandalkan, sehingga

Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi bagian sumber keuangan terbesar, yang

didukung kebijakan perimbangan keuangan pusat dan daerah sebagai prasyarat

(4)

Kewenangan untuk mendayagunakan sumber keuangan sendiri dilakukan dalam

wadah PAD yang bersumber dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Perusahaan

Daerah dan lain-lain pendapatan yang sah, sebagaimana diatur Undang-Undang

Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pasal 1 angka

(10) menyebutkan bahwa pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada Daerah

yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan

Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan

digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pemerintah Provinsi Lampung sesuai dengan kewenangannya dalam kerangka

Otonomi Daerah telah menempuh strategis dalam mengoptimalkan penerimaan

pajak daerah adalah dengan memberlakukan Peraturan Daerah Provinsi Lampung

Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Pajak Daerah.

Peraturan daerah merupakan instrumen penting untuk mewujudkan tujuan

pemerintahan dan pembangunan daerah, menjadikan peraturan sebagai sarana

yang secara sadar dan aktif digunakan untuk mengatur pemerintahan daerah dan

masyarakat, melalui penggunaan peraturan daerah yang dibuat dengan baik. Hal

ini juga disertai dengan perhatian terhadap perkembangan yang terjadi dalam

kehidupan masyarakat. Peraturan daerah menjadi suatu kebutuhan yang melekat

pada kehidupan sosial dalam suatu masyarakat di era Otonomi Daerah, peraturan

daerah akan melayani masyarakat, baik berupa pengalokasian kekuasaan,

pendistribusian sumber-sumber daya, serta melindungi kepentingan anggota

(5)

peranannya sebagai sarana untuk mewujudkan kebijaksanaan-kebijaksanaan

pemerintah.

Peraturan Daerah merupakan salah satu jenis Peraturan Perundang-undangan dan

merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. Saat

ini di era Otonomi Daerah Peraturan Daerah memiliki peranan yang sangat

strategis karena memiliki landasan konstitusional yang jelas sebagaimana diatur

dalam Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar 1945. Dalam rangka tertib

administrasi dan peningkatan kualitas produk hukum daerah, diperlukan suatu

proses atau prosedur penyusunan Perda agar lebih terarah dan terkoordinasi. Hal

ini disebabkan dalam pembentukan Perda perlu adanya persiapan yang matang

dan mendalam, antara lain pengetahuan mengenai materi muatan yang akan diatur

dalam Perda, pengetahuan tentang bagaimana menuangkan materi muatan tersebut

ke dalam Perda secara singkat tetapi jelas dengan bahasa yang baik serta mudah

dipahami, disusun secara sistematis tanpa meninggalkan tata cara yang sesuai

dengan kaidah Bahasa Indonesia dalam penyusunan kalimatnya.

Peraturan Daerah menjadi sebuah dasar hukum dalam pelaksanaan pembangunan

di daerah, karena itu perancangan Perda dapat mempertimbangkan

masukan-masukan dari publik. Keterlibatan publik dalam perancangan Perda sampai

dengan sejauh mana usulan publik tersebut diimplementasikan, dapat dijadikan

salah satu ukuran partisipasi publik dalam pembangunan daerah. Regulasi

merupakan instrumen yang paling murah dan relatif paling efektif mempengaruhi

tingkat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Regulasi di tingkat

(6)

masyarakat dapat tertampung dan penerapannya tidak menimbulkan penolakan

dari masyarakat.

Menurut ketentuan Pasal 1 ayat (8) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011

Tentang Peraturan Perundang-Undangan disebutkan bahwa: Peraturan Daerah

Kabupaten/Kota adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama

Bupati/Walikota. Hal ini sesuai dengan pengertian Perda dalam Pasal 136 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 12 Tahun

2008 Tentang Pemerintahan Daerah yang menyatakan bahwa Perda ditetapkan

oleh kepala daerah setelah mendapat persetujuan bersama DPRD. Pasal 136 ayat

(2) menyatakan Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah

provinsi/kabupaten/kota dan tugas pembantuan. Selanjutnya Pasal 136 ayat (3)

menjelaskan bahwa Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan

penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi

dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah.

Komponen pajak yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah pajak kendaraan

bermotor, sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi

Lampung Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Pajak Daerah yang menyatakan bahwa

Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dipungut pajak atas kepemilikan dan/atau

penguasaan kendaraan bermotor yang terdaftar di daerah.

Hubungan peraturan perundang-undangan dan peraturan dengan kajian penelitian

ini adalah pelayanan pembayaran pajak kendaraan bermotor yang dilaksanakan

(7)

masyarakat yang menjadi wajib pajak kendaraan bermotor. Terkait dengan

pemungutan pajak pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan

bermotor, maka Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Bandar

Lampung berupaya untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada

wajib pajak dalam konteks pelayanan publik. Pelayanan publik dalam konteks ini

merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang

dengan landasan faktor material melalui sistem, prosedur dan metode tertentu

dalam usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya. Tujuan

pelayanan publik adalah mempersiapkan pelayanan publik tersebut yang

dikehendaki atau dibutuhkan oleh publik, dan bagaimana menyatakan dengan

tepat kepada publik mengenai pilihannya dan cara mengaksesnya yang

direncanakan dan disediakan oleh pemerintah.

Pentingnya kajian mengenai pelayanan publik ini didasarkan pada fenomena

bahwa seiring dengan semangat reformasi dan Otonomi Daerah, Pemerintah

Daerah dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada

masyarakat. Tugas pelayanan masyarakat lebih menekankan kepada kepentingan

publik, mempermudah urusan publik, mempersingkat waktu proses pelaksanaan

urusan publik dan memberikan kepuasan kepada publik. Urgensi pelayanan publik

semakin meningkat di era reformasi dan Otonomi Daerah ini, bahwa masyarakat

telah mengalami peningkatan dalam berbagai aspek kehidupan, terlebih lagi

dengan adanya sistem keterbukaan (transparansi) dan demokratisasi sehingga

rakyat telah dapat membandingkan pelayanan antara organisasi publik

(pemerintah) dan organisasi privat (swasta) sebagai konsekuensinya adalah

(8)

Tanpa peningkatan kualitas publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,

maka kebijakan desentralisasi atau Otonomi Daerah yang lebih luas tidak akan

terlaksana sesuai dengan harapan.

Upaya pelayanan publik kepada masyarakat dilaksanakan oleh kepala daerah,

sebagai penyelenggara pemerintahan daerah dan dibantu oleh perangkat daerah

yang terdiri dari unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi,

diwadahi dalam sekretariat, unsur pengawas yang diwadahi dalam bentuk

inspektorat, unsur perencana yang diwadahi dalam bentuk badan, unsur

pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan

daerah yang bersifat spesifik, diwadahi dalam lembaga teknis daerah, serta unsur

pelaksana urusan daerah yang diwadahi dalam dinas daerah. Dasar utama

penyusunan perangkat daerah dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan

pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, yang terdiri dari urusan wajib

dan urusan pilihan, namun tidak berarti bahwa setiap penanganan urusan

pemerintahan dibentuk ke dalam organisasi tersendiri.

Pemerintah sebagai instansi pelayanan publik wajib menyusun Standar Pelayanan

masing-masing sesuai dengan tugas dan kewenangannya, dan dipublikasikan pada

masyarakat sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan. Standar

pelayanan merupakan ukuran kualitas kinerja yang dibakukan dalam

penyelenggaraan pelayanan publik. Standar pelayanan yang ditetapkan hendaknya

realistis, karena merupakan jaminan bahwa janji/komitmen yang dibuat dapat

(9)

Hal di atas sesuai dengan pendapat Rasyid (1998: 139), bahwa pemerintahan pada

hakekatnya adalah pelayanan kepada masyarakat, menciptakan kondisi yang

memungkinkan anggota masyarakat mengembangkan kemampuan dan

kreatifitasnya demi mecapai tujuan bersama. Pemerintah daerah mampu

mendefinisikan kembali fungsi, peranan dan kewenangannya agar memberi

pelayanan optimal sesuai dengan paradigma baru penyelenggaraan pemerintahan.

Kualitas pelayanan publik dapat dioptimalkan dalam rangka memenuhi kepuasan

masyarakat penerima layanan. Kualitas pelayanan dalam penelitian ini mengacu

pada pendapat Pasuraman sebagaimana dikutip Lupiyoadi (2001: 182), bahwa

kualitas pelayanan jasa terdiri dari responsivness (daya tanggap), assurance

(jaminan), tangibles (kemampuan fisik), emphaty (perhatian) dan reliability

(kehandalan). Oleh karena itu kepuasan masyarakat terhadap pelayan publik

merupakan hal yang dapat dipenuhi oleh setiap penyelenggara pelayanan publik,

termasuk Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Bandar Lampung

yang menyelenggarakan pelayanan pembayaran pajak kendaraan bermotor.

Pelayanan pembayaran pajak kendaraan bermotor pada Samsat Bandar Lampung

mengacu pada bagan alur yang meliputi tahapan cek fisik kendaraan, pendaftaran

berkas di loket, pembayaran pajak kendaran bermotor dan pengambilan berkas

akhir (Sumber: Samsat Bandar Lampung Tahun 2013)

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah maka penulis akan melakukan

penelitian dalam rangka menyusun Tesis yang berjudul: Pengaruh Kualitas

Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Kepuasan Wajib

(10)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah: ”Seberapa besar pengaruh kualitas pelayanan pembayaran

pajak kendaraan bermotor terhadap kepuasan wajib pajak pada Sistem

Administrasi Manunggal Satu Atap Bandar Lampung?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh kualitas

pelayanan pembayaran pajak kendaraan bermotor terhadap kepuasan wajib pajak

pada Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap Bandar Lampung

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kegunaan Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk

pengembangan bidang ilmu manajemen pemerintah, khususnya kajian

kepuasan wajib pajak terhadap pelayanan pajak kendaraaan bermotor

2. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi Sistem

Administrasi Manunggal Satu Atap Bandar Lampung dalam rangka

mengoptimalkan pelayanan pajak kepada masyarakat atau wajib pajak. Selain

itu diharapkan bermanfaat bagi pihak-pihak lain yang membutuhkan informasi

References

Related documents

The Birmingham Centre for Railway Research and Education will collaborate with Ricardo Rail to provide further supports to Edinburgh Tram, including training courses,

This means that rather than opening the entire batch, sorting the vials and requisitions, accessioning the entire batch, and then labeling the batch, we now open 1 specimen bag at

Step 5: Use the information from this Summary page, as well as information from the Company Profile , Key Statistics and Analyst Estimates pages to complete the stock

FAQ 2: How does a Dartington Long Deep hive compare in cost with a National hive.. The cost of a DLD hive kit needs to be compared against a National hive bought ‘in-the-flat’

Hotspot ( نژ P 53 شور ﻪﺑ PCR-SSCP رد نارﺎﻤﻴﺑ هﺪﻌﻣ نﺎﻃﺮﺳ ﻪﺑ ﻼﺘﺒﻣ و لﺎﺤﻣرﺎﻬﭼ نﺎﺘﺳا رد يرﺎﻴﺘﺨﺑ ﺖﺳا هﺪﺷ مﺎﺠﻧا. شور ﻲﺳرﺮﺑ : ﻪﻌﻟﺎﻄﻣ ﻦﻳا

Furthermore, if the estimated coefficient of the variable is significantly positive, this indicates that IPO application firm which is recommended by high reputation investment banks

Αν με ρωτήσετε τι γράφουν, δεν είναι τίποτα που θα σας κάνει εντύπωση — μια υπηρέτρια αγροικίας που εξαφανίστηκε και κανένας δεν την ξανάδε από τότε -