• No results found

Text ABSTRAK (ABSTRACT) pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK (ABSTRACT) pdf"

Copied!
61
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI IKAN ASIN, IKAN/DAGING ASAP, DAN MAKANAN BERKALENG DENGAN KARSINOMA NASOFARING

DI RSUD ABDUL MOELOEK PERIODE TAHUN 2014-2016

(Skripsi)

Oleh Nailul Azizah

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRACT

THE ASSOCIATION OF SALTED FISH, SMOKED FISH/BEEF, AND CANNED FOOD CONSUMPTION WITH NASOPHARYNGEAL CARCINOMA AT RSUD

ABDUL MOELOEK PERIOD 2014-2016

BY

NAILUL AZIZAH

Background: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is commonly malignant cancer in Ear, Nose, and Throat (ENT) Department. Many studies have examined the risk factors for NPC. The risk factors are salted fish, smoked fish/beef, and canned food consumption. The purpose of this study is to examine the association of salted fish, smooked fish/beef, and canned food consumption with NPC at RSUD Abdul Moeloek.

Metode: The type of this study is observational analytic with cross sectional study. The sample of this study are 45 patients of NPC and non NPC from ENT department and patiensts of NPC from oncology surgery department between 2014 and 2016 at RSUD Abdul Moeloek with the consecutive sampling technique Chi square analysis was performed to examine the association.

Results: The analysis result of the association of salted fish consumption with NPC showed p value=0,000 (p≤0,005), smooke fish/beef consumption with NPC showed p

value=0,007 (p≤0,005), and canned food consumption with NPC showed p value=0,024

(p≤0,005).

Simpulan: There is association of salted fish, smoked fish/beef, and canned food consumption with NPC.

(3)

ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI IKAN ASIN, IKAN/DAGING ASAP, DAN MAKANAN BERKALENG DENGAN KARSINOMA NASOFARING DI RSUD

ABDUL MOELOEK PERIODE TAHUN 2014-2016

OLEH

NAILUL AZIZAH

Latar Belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan suatu keganasan terbanyak di bidang Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT). Terdapat beberapa studi yang menyatakan bahwa fator risiko KNF adalah konsumsi ikan asin, ikan/daging asap, dan makanan berkaleng. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi ikan asin, ikan/daging asap, dan makanan berkaleng dengan KNF di RSUD Abdul Moeloek. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 45 pasien KNF dan non KNF dari poli THT dan pasien KNF dari poli bedah onkologi periode tahun 2014-2016 di RSUD Abdul Moeloek dengan menggunakan teknik consecutivesampling. Data selanjutnya dianalisa dengan uji statistik Chi Square.

Hasil Penelitian: Hasil analisis data hubungan konsumsi ikan asin dengan KNF diperoleh nilai p=0,000 (p≤0,005), konsumsi ikan/daging asap dengan KNF diperoleh

nilai p=0,007 (p≤0,005), dan konsumsi makanan berkaleng dengan KNF diperoleh nilai

p=0,024 (p≤0,005).

Simpulan: Terdapat hubungan antara konsumsi ikan asin, ikan/daging asap, dan makanan berkaleng dengan KNF.

(4)

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI IKAN ASIN, IKAN/DAGING ASAP, DAN MAKANAN BERKALENG DENGAN KARSINOMA NASOFARING

DI RSUD ABDUL MOELOEK PERIODE TAHUN 2014-2016

Oleh Nailul Azizah

Skripsi:

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar: SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Nailul Azizah. Penulis dilahirkan di Dayamurni, 18 April 1996, sebagai anak terakhir dari empat bersaudara, dari pasangan H. Slumun, S.Pd dan Hj. Sri Mustika Ningsih, S.Pd.

Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) diselesaikan di TK Aisyiah Tulang Bawang Barat pada tahun 2002, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SDN 1 Dayaasri pada tahun 2008, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMPN 1 Tumijajar pada tahun 2011, Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMAN 9 Bandar Lampung pada tahun 2014.

(9)

PERSEMBAHAN SEDERHANA

UNTUK IBU DAN BAPAK

TERCINTA

ا ًج َر ْخَم ُهَل ْلَع ْجَي َ هاللَّ ِقهتَي ْنَم َو

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan

mengadakan baginya jalan keluar.”

(10)

SANWACANA

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Tak lupa shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW.

Skripsi dengan judul “Hubungan Konsumsi Ikan Asin, Ikan/Daging Asap, dan

Makanan Berkaleng dengan Karsinoma Nasofaring di RSUD Abdul Moeloek Periode Tahun 2014-2016” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:

 Ibu dan Bapak saya, Hj. Sri Mustika Ningsih, S.Pd dan H. Slumun, S.Pd atas cinta, kasih sayang, doa, dan dukungan secara material maupun non material yang tiada akhir diberikan kepada penulis,

 Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., selaku Rektor Universitas Lampung,

(11)

telah memberikan bimbingan, nasehat, dan motivasi selama dalam bidang akademik penulis,

 dr. Rizki Hanriko, S.Ked., Sp.PA., selaku Pembimbing Utama atas kesediaannya dalam meluangkan waktu disela-sela kesibukannya untuk memberikan bimbingan, ilmu, kritik, saran, nasehat, motivasi dan bantuannya bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini,

 dr. Nora Ramkita, S.Ked., selaku Pembimbing Pendamping atas kesediaannya dalam meluangkan waktu disela-sela kesibukannya untuk memberikan bimbingan, ilmu, kritik, saran, nasehat, motivasi, dan bantuannya bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini,

 dr. Mukhlis Imanto S.Ked., M.Kes., Sp.THT-KL., selaku Pembahas atas kesediaannya dalam memberikan koreksi, kritik, saran, nasehat, motivasi, dan bantuannya untuk perbaikan penulisan skripsi yang dilakukan oleh penulis,

 Pihak RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung bagian diklat, poli bedah onkologi, poli THT, ruang mawar, dan rekam medik: Ibu Masrita, Ibu Irina, Bunda Arohmani, Mas Rusli, dan staf-staf lain yang telah membantu penulis dalam melakukan penelitian skripsi,

 Pasien karsinoma nasofaring (KNF) dan non KNF di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung atas kesediaannya untuk menjadi sampel dalam

(12)

 Seluruh staf dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lampung atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis untuk menambah wawasan yang menjadi landasan untuk mencapai cita-cita,

 Seluruh staf Bagian Akademik dan Tata Usaha Fakultas Kedokteran Universitas Lampung serta pegawai yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini,

 Kakak-kakaku: Mbak Adhim, Mbak Rima, dan Mbak Kiki, yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis,

 Teman terdekatku: Rayman yang telah sabar membantu dalam penelitian ini, semangat dalam memberi motivasi, dan setia menemani di kala suka dan duka,

 Teman sepermainanku sejak awal masuk kuliah: Belmon, Ufa, Mitha, Ranoy semoga kita menjadi dokter yang amanah,

 CRAN14L (mahasiswa FK Unila angkatan 2014) semoga kita menjadi dokter yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama serta membanggakan almamater FK Unila,

(13)

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi penulis berharap semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Bandar Lampung, November 2017 Penulis

(14)

i

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.4.1 Bagi Peneliti ... 4

1.4.2 Bagi Institusi Kesehatan ... 5

1.4.3 Bagi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung ... 5

1.4.4 Bagi Peneliti Lain ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Anatomi dan Histologi Nasofaring ... 6

2.1.1 Anatomi Nasofaring ... 6

2.1.2 Histologi Nasofaring ... 7

2.1.3 Perdarahan dan Persarafan ... 8

2.1.4 Sistem Limfatik Nasofaring ... 9

2.2 Karsinoma Nasofaring ... 10

2.2.1 Definisi Karsinoma Nasofaring ... 10

2.2.2 Epidemiologi ... 10

(15)

2.2.4 Patogenesis ... 18

2.2.5 Patofisiologi dan Manifestasi Klinis ... 22

2.2.6 Diagnosis ... 22

2.2.7 Tatalaksana ... 26

2.2.8 Prognosis ... 26

2.3 Hubungan Ikan Asin, Ikan/Daging Asap, dan Makanan Berkaleng dengan Karsinoma Nasofaring ... 27

2.4 Kerangka Teori ... 28

2.5 Kerangka Konsep ... 29

2.6 Hipotesis ... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 30

3.1 Desain Penelitian ... 30

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 30

3.3 Populasi ... 30

3.4 Sampel ... 31

3.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 32

3.5.1 Kriteria Inklusi ... 32

3.5.2 Kriteria Eksklusi ... 32

3.6 Variabel Penelitian ... 32

3.6.1 Variabel Bebas ... 32

3.6.2 Variabel Terikat ... 32

3.7 Definisi Operasional ... 33

3.8 Prosedur Penelitian ... 34

3.9 Instrumen Penelitian ... 34

3.10 Pengumpulan Data ... 34

3.11 Pengolahan Data ... 35

3.12 Analisa Data ... 35

3.13 Etika Penelitian ... 36

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37

(16)

iii

4.2 Hasil Penelitian ... 37

4.3 Pembahasan ... 41

4.4 Keterbatasan Penelitian ... 49

BAB V KESIMPULAN ... 50

5.2 Kesimpulan ... 50

5.3 Saran ... 50

DAFTAR PUSTAKA ... 51

(17)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 1. Klasifikasi Stadium Karsinoma Nasofaring ... 25 Tabel 2. Definisi Operasional ... 33 Tabel 3. Distribusi Jumah Karakteristik Responden ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 4. Hubungan Konsumsi Ikan Asin dengan KNF... Error! Bookmark not defined.

Tabel 5. Hubungan Konsumsi Ikan/Daging Asap dengan KNF . Error! Bookmark not defined.

(18)

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 1. Anatomi Nasofaring. ... 7

Gambar 2. Vaskularisasi dan Inervasi Kepala dan Leher. ... 9

Gambar 3. Kelenjar Getah Bening Kepala dan Leher... 9

Gambar 4. Langkah-Langkah Karsinogenesis. ... 18

Gambar 5. Langkah-Langkah Metastasis ... 19

Gambar 6. Patogenesis Karsinoma Nasofaring ... 20

Gambar 7. Histologi KNF ... 24

Gambar 8. Diagram Kerangka Teori . ... 28

Gambar 9. Diagram Kerangka Konsep. ... 29

Gambar 10. Diagram Prosedur Penelitian. ... 34

Gambar 11. Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. . Error! Bookmark not defined.

Gambar 12. Jumlah Responden Berdasarkan Usia. . Error! Bookmark not defined. Gambar 13. Jumlah Responden Berdasarkan Pekerjaan. ... Error! Bookmark not defined.

(19)

Gambar 16. Jumlah Pasien KNF yang Mengonsumsi Ikan/Daging Asap. ... Error! Bookmark not defined.

Gambar 17. Jumlah Responden yang Mengonsumsi Makanan Berkaleng. ... Error! Bookmark not defined.

Gambar 18. Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Makanan yang dikonsumsi.

(20)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan penyakit endemik di seluruh dunia, khususnya di wilayah Asia dan memiliki prognosis yang buruk (Cao et al., 2011). Menurut Global Cancer Statistic tahun 2012, terdapat 86.700 kasus baru dari KNF dan 50.800 diantaranya meninggal. KNF merupakan jenis kanker yang langka di dunia, tetapi terdapat beberapa negara yang memiliki insidensi KNF yang tinggi, khususnya di negera berkembang. Pada umumnya, insidensi KNF tertinggi terletak di wilayah Asia, dengan urutan negara yang memiliki insidensi KNF tertinggi yaitu Cina, Malaysia, Indonesia, dan Singapura (Torre et al., 2015).

(21)

Sunda, dan Betawi. Sedangkan berdasarkan pekerjaan, petani mendominasi pasien KNF (Adham et al., 2012).

Karsinoma nasofaring merupakan penyakit multifaktoral yang disebabkan oleh genetik, virus, dan lingkungan (Hsu et al., 2009). Faktor lingkungan dapat menjadi salah satu faktor risiko yang meningkatkan angka kejadian timbulnya karsinoma nasofaring (Rahman et al., 2015). Faktor lingkungan tersebut adalah asap rokok, pajanan formaldehid, dan konsumsi ikan asin (Yong et al,. 2017).

Terdapat berbagai penelitian yang menyatakan bahwa ikan asin menjadi paparan non viral yang paling konsisten dan berhubungan dengan karsinoma nasofaring (Feng et al., 2009). Orang yang mengonsumsi ikan asin >3 kali sebulan dapat meningkatkan risiko terkena KNF sebesar 1,7 sampai 7,5 kali lebih tinggi daripada orang yang tidak mengonsumsinya (Rahman et al., 2015).

(22)

3

secara rutin ikan asin dan 38% penderita karsinoma nasofaring secara rutin mengonsumsi daging asap dan makanan berkaleng (Sharma et al., 2011).

Salah satu industri penghasil ikan asin di Bandar Lampung yaitu Pulau Pasaran. Pulau Pasaran merupakan pulau yang terletak di pinggir pantai kota Bandar Lampung, Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Timur. Pulau Pasaran menjadi pusat wilayah pemasok biota laut di Bandar Lampung dan menjadi pusat pengasinan ikan sehingga menyebabkan tingginya konsumsi ikan asin di Bandar Lampung (Pusat Data Statistik dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2015).

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara konsumsi ikan asin, ikan/daging asap, dan makanan berkaleng dengan karsinoma nasofaring di RSUD Abdul Moeloek periode tahun 2014-2016.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

(23)

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan

1.3.1.1 Mengetahui hubungan antara konsumsi ikan asin, ikan/daging asap, dan makanan berkaleng dengan karsinoma nasofaring di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung periode tahun 2014-2016.

1.3.1.2 Melihat frekuensi distribusi pasien karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin, umur, pekerjaan, dan suku di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung periode tahun 2014-2016.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut: 1.4.1 Bagi Peneliti

1.4.1.1 Peneliti dapat memanfaatkan ilmu yang didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan serta pengalaman dalam membuat penelitian ilmiah.

1.4.1.2 Menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai hubungan antara konsumsi ikan asin, ikan/daging asap, dan makanan berkaleng dengan karsinoma nasofaring.

1.4.2 Bagi Institusi Kesehatan

(24)

5

berkaleng dengan KNF di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung periode tahun 2014-2016

1.4.3 Bagi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Menjadi dasar untuk promosi kesehatan dan pencerdasan publik mengenai edukasi pada kelompok yang berisiko tinggi untuk terkena karsinoma nasofaring.

1.4.4 Bagi Peneliti Lain

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Histologi Nasofaring

2.1.1 Anatomi Nasofaring

Nasofaring merupakan organ berbentuk kuboid terletak di atas palatum molle (vellum palatinum) dan lanjutan cavitas nasi ke belakang yang dibagi menjadi beberapa regio, yaitu dinding anterior, posterosuperior, dan lateral. Pada dinding anterior, nasofaring berhubungan hidung melalui kedua choana (sepasang lubang antara cavitas nasi dan nasofaring) (Moore, K. L., 2014).

(26)

7

Gambar 1. Anatomi Nasofaring (Moore, K. L., 2014).

Fossa Rosenmuller merupakan area yang menjadi asal dari sebagian besar sel karsinoma nasofaring dan memiliki hubungan secara anatomis dengan beberapa organ penting yang menjadi tempat penyebaran tumor dan menentukan presentasi klinis serta prognosis.

.

2.1.2 Histologi Nasofaring

2.1.2.1 Mukosa Nasofaring

Sekitar 60% dari total permukaan epitel, terutama bagian posterior dan inferior nasofaring, dilapisi oleh epitel skuamosa stratified (epitel berlapis gepeng bertingkat). Pada bagian anterior dan kranial dari nasofaring dilapisi oleh epitel silindris pseudostratified bersilia dengan sel goblet (Regauer, 2010).

[image:26.595.237.402.86.215.2]
(27)

bersama gabungan dari jaringan limfoid dan tonsil membentuk cincin Waldeyer (Waldayer’s ring) (Mescher, A. L., 2011).

2.1.2.2 Submukosa Nasofaring

Pada submukosa nasofaring terdapat kelenjar seromusinus dan agregat limfoid yang merupakan keadaan normal dan tidak boleh diinterpretasikan sebagai suatu proses peradangan (Regauer, 2010).

2.1.3 Perdarahan dan Persarafan

Perdarahan nasofaring berasal dari cabang-cabang arteri karotis eksterna, yaitu arteri faringeal ascenden, arteri palatina ascenden, dan cabang faringeal arteri sfenopalatina. Arteri faringeal ascenden memperdarahi dinding lateral nasofaring. Arteri palatina ascenden memperdarahi tuba eustachius dan palatum mole. Arteri sfenopalatina memperdarahi bagian dasar nasofaring. Drainase vena melalui pleksus faring ke vena jugularis interna di bawah (Regauer, 2010).

(28)

9

Gambar 2. Vaskularisasi dan Inervasi Kepala dan Leher (Moore, K. L., 2014).

2.1.4 Sistem Limfatik Nasofaring

[image:28.595.256.376.116.280.2]

Pada submukosa nasofaring terdapat banyak anyaman limfatik sehingga dapat mempermudah dan mempercepat terjadinya metastasis. Aliran limfe yang menuju bagian posterior-inferior nasofaring bermuara di kelenjar retrofaring Krause (kelenjar Rouviere). Aliran limfe yang menuju ke bagian lateral nasofaring bermuara di mastoid dan serabut saraf trigeminus (Regauer, 2010).

[image:28.595.194.447.548.647.2]
(29)

2.2 Karsinoma Nasofaring

2.2.1 Definisi Karsinoma Nasofaring

Karsinoma nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di belakang cavitas nasal dan di atas palatum molle dengan predileksi di fossa Rossenmuller yang merupakan daerah transisional dimana epitel silindris pseudostratified berubah menjadi epitel skuamosa (MD et al., 2009).

2.2.2 Epidemiologi

Karsinoma nasofaring dapat ditemukan diseluruh negara dari 5 benua. Insiden tertinggi terdapat di Cina bagian selatan khususnya di provinsi Guangdong dan jarang ditemukan di Eropa dan Amerika Utara. Insiden di provinsi Guangdong pada pria mencapai 20-50/100.000 (Adham et al., 2012).

(30)

11

Laki-laki memiliki risiko terkena KNF sebesar 2,18 kali lebih tinggi daripada perempuan. Pasien KNF berusia 25-60 tahun dengan puncak usia 40–49 tahun. Insidensi KNF meningkat setelah umur 20 tahun dan tidak ada lagi peningkatan setelah umur 60 tahun (Adham et al., 2012).

2.2.3 Etiologi

2.2.3.1 Faktor Genetik

Kerentanan genetik sebagai faktor predisposisi KNF didasarkan atas fakta banyaknya penderita dari bangsa atau ras Cina, ras mongoloid, termasuk bangsa-bangsa di Asia terutama Asia Tenggara yang masih tergolong rumpun Melayu. Secara umum didapatkan sekitar 10% dari penderita KNF mempunyai keluarga yang menderita keganasan nasofaring atau organ lain, dan 5% diantaranya sama-sama menderita KNF dalam keluarganya (Ren et al., 2010).

(31)

sel epitel nasofaring yang berfungsi menghantarkan masuknya virus Epsteinn Barr kedalam epitel nasofaring (Ren et al., 2010).

2.2.3.2 Virus Epsteinn Barr

Virus Epsteinn Barr (EBV) merupakan faktor risiko mayor karsinoma nasofaring. Transmisi utama melalui saliva kemudian EBV dapat memasuki sel-sel epitel orofaring dan bereplikasi, bersifat menetap (persisten), tersembunyi (laten), dan sepanjang masa (long life) (Yenita, 2012).

Hampir semua individu dibawah 25 tahun sudah terinfeksi EBV karena mudah dan cepatnya terjadi penularan. Infeksi primer alamiah dimulai pada masa anak-anak, biasanya gejala klinik ringan atau bahkan tanpa gejala. Hampir semua (99,9 %) anak umur 3 tahun telah terinfeksi EBV di negara berkembang (Zhang et al., 2015).

Bukti kuat adanya peran EBV sebagai penyebab KNF berdasarkan atas laporan hasil penelitian epidemiologi maupun laboratorium terutama serologi, virologi, patologi, dan biologi molekuler dengan ditemukannya (Tan, I., et al., 2016):

1. Peningkatan antibodi IgG dan IgA.

(32)

13

3. Genom EBV dalam bentuk plasmid di jaringan tumor nasofaring dan isolasi virus.

4. DNA EBV pada jaringan karsinoma nasofaring. 5. mRNA-EBV di sel karsinoma nasofaring.

2.2.3.3 Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan seperti kebiasaan merokok, asap kayu bakar, infeksi saluran pernafasan atas berulang, serta konsumsi makanan berpengawet (ikan asin, ikan/daging asap, makanan berkaleng) berhubungan dengan kejadian karsinoma nasofaring. Berikut penjelasan dari masing-masing faktor (Afrika, 2013):

1. Ikan Asin

Konsumsi ikan asin merupakan salah satu penyebab karsinoma nasofaring yang sering dilaporkan. Hal ini berkaitan dengan substansi karsinogen yang terdapat di dalamnya yaitu nitrosamin. Nitrosamin adalah suatu molekul yang terdiri dari nitrogen dan oksigen, molekul tersebut dapat berbentuk senyawa nitrit dan NOx (Nitrogen Oxides) yang terdiri dari senyawa amino dan senyawa campuran nitroso (Lau et al., 2013).

(33)

bahan kosmetik yang mengandung nitrosamin itu sendiri (Yong et al., 2017).

Nitrosamin dapat berbagai bentuk senyawa kimia diantaranya N-nitrosodimethylamine (NDMA), N-nitrosodiethylamine (NDEA), dan N-nitromorpholine (NMOR). Selain itu nitrosamin dapat juga berupa senyawa industri seperti N-nitrosodiisopropylamine (NDiPA), N-nitrosodibutylamine (NDPA), N-nitrosopiperidine (NPip), N-nitrosopyrrolidine (NPyr), N-nitrosomethylphenylamine (NEPhA). Sekitar 80% dari total nitrosamin terbanyak dalam bentuk senyawa NDMA. NDMA terutama diabsorpsi di saluran pernafasan, saluran pencernaan dan terkadang pada kulit (Afrika, 2013).

Proses keganasan dapat terjadi akibat metabolisme nitrosamin yang diaktivasi oleh mekanisme oksidasi sehingga terjadi mutasi DNA. Konsentrasi total NDMA pada kandungan nitrosamin yaitu 0,74-11,43 μg/m3

. Berdasarkan penelitian dan sejumlah literatur bahwa ambang dasar paparan nitrosamin pada manusia antara 2-15 μg/m3 selama periode waktu 10 tahun berhubungan dengan kejadian keganasan (Rahman et al., 2015).

(34)

15

mengandung nitrosamin juga mengandung bakteri mutagen dan komponen yang dapat mengaktivasi virus Epstein Barr (Lin et al,. 2015).

Selain ikan asin, makanan yang diawetkan dengan cara diasinkan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker nasofaring seperti sayuran yang diasinkan, udang asin, dan telur asin. Konsumsi teh dan buah-buahan segar dapat menurunkan angka kejadian kanker nasofaring karena mengandung zat antioksidan dan zat antikanker yang dapat merubah struktur kimia nitrosamin (Rahman et al., 2015).

2. Ikan/Daging Asap dan Makanan Berkaleng

Makanan berkaleng mengandung garam nitrat yang dapat membentuk nitrosamin sehingga dapat meningkatkan risiko karsinoma nasofaring. Ikan/daging asap merupakan makanan berpengawet yang mengandung formaldehid. International Agency for Research on Cancer (IARC) memasukkan formaldehid menjadi kategori grup I sebagai bahan yang bersifat karsinogen dalam tubuh manusia (Lin et al,. 2015). Formaldehid yang dalam perdagangan larutannya dikenal sebagai formalin, sengaja dibuat dan dipakai untuk memenuhi kebutuhan industri dan rumah tangga (Afrika, 2013).

(35)

campuran plastik, bahan pengawet, anti kusut tekstil, bahan penyamak kulit, bahan desinfektan, insektisida, cairan pembalsam, serta bahan pengawet jaringan. Selain itu formaldehid secara alami terdapat di lingkungan manusia sebagai akibat dari proses pembakaran (Afrika, 2013).

Proses pembuatan ikan atau daging asap dengan cara pembakaran yang memiliki efek pengawetan dari gas/asap pembakaran yaitu senyawa kimia berupa formaldehid. Gas formaldehid (CH2O) merupakan senyawa yang mudah terbakar, tidak berwarna dan banyak juga digunakan dalam pembuatan resin, pelapis kayu, foto film, dan pengawet jaringan (Afrika, 2013).

Formaldehid dapat mengiritasi mata dan mukosa saluran nasofaring dengan konsentrasi 0,5-1 ppm (Afrika, 2013). Menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA) bahwa standar pajanan maksimal formaldehid yaitu 2 ppm (part per million) dalam STEL (Short Term Exposure Limit) (Turkoz et al., 2011).

(36)

17

3. Lain-Lain

Faktor risiko KNF lainnya adalah rokok yang di dalamnya terkandung lebih dari 4000 bahan karsinogenik, termasuk nitrosamin (Xue et al., 2013). Merokok dapat meningkatkan serum anti-EBV yang merupakan marker untuk menilai adanya proses keganasan pada nasofaring (Wyss et al., 2013).

Risiko terjadinya KNF juga meningkat terhadap paparan debu kayu yang terakumulasi dalam jangka waktu lama (Shiels et al. 2014). Debu kayu menyebabkan iritasi dan inflamasi pada epitel nasofaring sehingga mengurangi bersihan mukosiliar dan perubahan sel epitel di nasofaring. Hal ini memudahkan penyerapan zat kimia yang bersifat karsinogen ke dalam epitel nasofaring (Afrika, 2013).

(37)

2.2.4 Patogenesis

2.2.4.1 Patogenesis Molekular Kanker

[image:37.595.175.508.200.511.2]

Prinsip-prinsip dasar terbentuknya kanker terangkum dalam gambar berikut:

Gambar 4. Langkah-Langkah Karsinogenesis (Kumar et al., 2015).

Berdasarkan gambar di atas dapat disimpulkan bahwa sel yang normal mula-mula terpajan agen yang dapat merusak DNA. Apabila reparasi DNA gagal terjadi karena gen-gen pengatur pertumbuhan sel rusak, maka sel akan mengalami pertumbuhan klonal yang tak terkontrol. Akibatnya terjadi progresi tumor yang dapat berujung pada neoplasma yang maligna. Neoplasma maligna memiliki karakteristik berupa invasi dan metastasis (Kumar et al., 2015).

Zat perusak DNA didapat :

-Kimiawi -Radiasi -Virus Sel normal Kerusakan DNA Mutasi DNA Pengaktifan onkogen pendorong pertumbuhan

(38)

19

Metastasis terjadi saat sel tumor terlepas dari massa primer kemudian memasuki aliran darah atau sistem limfatik, lalu tumbuh di tempat yang jauh dari situs awalnya. Proses metastasis terdiri dari invasi sel tumor ke matriks ekstraseluler, diseminasi vaskular, penempatan sel tumor, dan kolonisasi (Kumar et al., 2015).

Gambar 5. Langkah-Langkah Metastasis (Kumar et al., 2015).

2.2.4.2 Patogenesis Karsinoma Nasofaring

EBV tidak dapat mengubah sel-sel epitel nasofaring menjadi sel-sel klon yang proliferatif (Tsao et al., 2014). EBV dapat mentransformasi sel epitel nasofaring premaligna menjadi sel kanker jika terpapar oleh faktor lingkungan yang mengandung zat karsinogen seperti ikan asin, ikan/daging asap, dan makanan berkaleng dapat merangsang perubahan epitel nasofaring (Yoshizaki et al., 2013).

[image:38.595.265.368.245.426.2]
(39)

dalam sel-sel yang tidak terinfeksi EBV melalui endositosis dan mempengaruhi lingkungan di sekeliling tumor (Kumar et al., 2015). LMP1 merupakan onkogen primer yang dapat meniru fungsi salah satu reseptor TNF (Tumor Necrosis Factor), yakni CD40 (Cluster of Differentiation 40) sehingga dapat menginisasi beberapa pathway

persinyalan yang merangsang perubahan fenotip dan morfologi sel epitel. LMP1 juga mengakibatkan peningkatan EMT (Epithelial Mesenchymal Transition) (Yoshizaki et al., 2013).

Pada proses EMT sel-sel karsinoma akan menurunkan penanda epitel tertentu dan meningkatkan penanda mesenkim tertentu sehingga menimbulkan perkembangan fenotip promigratori yang penting dalam metastasis. Oleh karena itu, LMP1 juga berperan dalam menimbulkan sifat metastasis dari KNF (Kumar et al., 2015). Patogenesis KNF terangkum dalam gambar berikut:

Gambar 6. Patogenesis Karsinoma Nasofaring (Yoshizaki et al., 2013). Infeksi Virus

EBV Nasofaring Normal

LMP1 dan LMP2

Karsinoma Nasofaring

[image:39.595.171.511.516.697.2]
(40)

21

2.2.5 Patofisiologi dan Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis KNF sebagai berikut: 2.2.5.1 Massa pada Leher

Gejala paling umum dari KNF merupakan massa pada leher yang dapat dipalpasi. Penyebab munculnya massa pada leher adalah metastasis tumor ke kelenjar getah bening (nodus limfatik) bagian servikal (Drake, 2012).

2.2.5.2 Gejala Terkait Massa di Nasofaring

Gejala terkait massa di nasofaring yang dialami pasien pada pemicu ini adalah epistaksis dan hiposmia. Tumor mula-mula tumbuh di fossa rosenmuller lalu meluas ke dinding belakang dan atap nasofaring sehingga permukaan nasofaring meninggi. Permukaan tumor rapuh sehingga iritasi ringan menyebabkan perdarahan dan kadang dijumpai epistaksis (Mangunkusumo, 2012).

(41)

2.2.5.3 Gejala Terkait Disfungsi Tuba Eustachius

Tuli (deafness) termasuk gejala yang umum pada KNF dengan gangguan konduktif. Penyebabnya adalah obstruksi pada tuba eustachius (Tan L, 2015).

2.2.5.4 Gejala Terkait Keterlibatan Basis Cranii

Meluasnya tumor sampai ke daerah intrakranial melalui foramen laserum dapat menyebabkan gangguan nervus cranialis. Nervus yang paling umum terpengaruhi adalah nervus V, dilanjutkan dengan VI, IX, X, dan XII. Manifestasi yang dapat ditemukan contohnya neuralgia trigeminal dan diplopia. (Tan et al., 2016).

2.2.6 Diagnosis

2.2.6.1 Anamnesis

Gejala yang muncul dapat berupa telinga terasa penuh, tinnitus, otalgia, hidung tersumbat, lendir bercampur darah. Pada stadium lanjut dapat ditemukan benjolan pada leher, terjadi gangguan saraf, diplopa, dan neuralgia trigeminal (saraf III, IV, V, VI) (Capozzi et al., 2012).

2.2.6.2 Pemeriksaan Fisik

(42)

23

B.Pemeriksaan nasoendoskopi dengan NBI (Narrow Band Imaging) digunakan untuk melihat mukosa dengan kecurigaan karsinoma nasofaring (Kementerian Kesehatan, 2014).

2.2.6.3 Pemeriksaan Radiologik

- CT Scan (Computerized Tomography Scan)

Pemeriksaan radiologik berupa CT scan nasofaring mulai setinggi sinus frontalis sampai dengan klavikula, potongan koronal, aksial, dan sagital, tanpa atau dengan kontras. CT scan berguna untuk melihat tumor primer dan penyebaran ke jaringan sekitarnya serta penyebaran kelenjar getah bening regional (Wang et al., 2016).

- USG (Ultrasonography) Abdomen

Untuk menilai metastasis organ-organ intra abdomen. Apabila dapat keraguan pada kelainan yang ditemukan dapat dilanjutkan dengan CT Scan Abdomen dengan kontras (Bashiruddin, 2012). - Foto Toraks

Untuk melihat adanya nodul di paru atau apabila dicurigai adanya kelainan maka dilanjutkan dengan CT Scan Toraks dengan kontras (Efiaty et al., 2014).

- Bone Scan

(43)

2.2.6.4 Pemeriksaan Patologi Anatomik

Diagnosis pasti berdasarkan pemeriksaan PA dari biopsi nasofaring (Tan et al., 2016). Diagnosis karsinoma nasofaring berdasarkan kriteria WHO adalah:

1. Karsinoma sel skuamosa berkeratin (WHO 1) 2. Karsinoma tidak berkeratin

a. Berdiferensiasi (WHO 2)

b. Tidak berdiferensiasi (WHO 3) (Tan et al., 2016).

Gambar 7. Histologi KNF Berkeratin (A), Tidak Berkeratin (B), Tidak Berdiferensiasi (C) (Kumar et al., 2015).

[image:43.595.175.447.334.532.2]
(44)

25

susunan bertingkat sel tumor dengan batasan sel yang jelas (Kumar et al., 2015).

2.2.6.5 Pemeriksaan Laboratorium

-Hematologik: darah perifer lengkap, LED, hitung jenis. -Alkali fosfatase, LDH, SGOT, SGPT (Kumar et al., 2015).

2.2.6.6 Diagnosis Banding

-Limfoma malignum.

-Proses non keganasan (TB kelenjar).

-Metastasis (tumor sekunder) (Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2015).

2.2.6.7 Klasifikasi Stadium

[image:44.595.116.505.551.748.2]

Adapun klasifikasi stadium karsinoma nasofaring berdasarkan TNM AJCC Edisi ke-7 sebagai berikut:

Tabel 1. Klasifikasi Stadium Karsinoma Nasofaring TNM AJCC Edisi ke-7 TNM Stadium AJCC

T Tumor Primer TX T0 Tis T1 T2 T3 T4

Tumor primer tidak dapat dinilai Tidak terdapat tumor primer Karsinoma in situ

Tumor terbatas pada nasofaring atau tumor meluas ke orofaring dan atau rongga hidung tanpa perluasan ke parafaringeal

Tumor dengan perluasan ke parafaringeal

Tumor melibatkan struktur tulang dari basis cranii dan atau sinus paranasal Tumor dengan perluasan intrakranial dan atau keterlibatan saraf kranial, hipofaring, orbita, atau dengan perluasan ke fossa infratemporal/masticator space

N KGB (Kelenjar Getah Bening) Regional N0

N1

Tidak terdapat metastasis ke KGB regional

(45)

N2

N3 N3a N3b

Metastasis bilateral di KGB <6 cm dalam dimensi terbesar di atas fosa supraklavikula.

Metastasis di KGB ukuran >6 cm Ukuran >6 cm

Perluasan ke fosa supraklavikula M Metastasis Jauh

MX M0 M1

Metastasis jauh tidak dapat dinilai Tidak terdapat metastasis jauh Terdapat metastasis jauh Pengelompokan Stadium 0 I II III IVA IVB IVC TisN0M0 T1N0M0

T1N1M0, T2N0M0, T2N1M0 T1-2N0M0, T3N0-2M0 T4N0-2M0

T1-4N3M0 T1-4N0-3M1

2.2.7 Tatalaksana

Pada pasien KNF stadium I (T1N0M0) diberikan terapi radiasi. Pasien KNF stadium II (T1-2, N1-2, M0) dilakukan kemoradiasi konkuren. Pasien KNF stadium III, IVA, IVB (T3-4, N0-3, M0) diberikan kemoradiasi konkuren dengan atau tanpa kemoterapi adjuvan. Pada pasien KNF Stadium IVA, IVB (T4 atau N3) diberikan kemoterapi induksi, diikuti dengan kemoradiasi konkuren (Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2015).

2.2.8 Prognosis

(46)

27

2.3 Hubungan Ikan Asin, Ikan/Daging Asap, dan Makanan Berkaleng

dengan Karsinoma Nasofaring

Di Indonesia pembuatan ikan asin dilakukan secara tradisional, yang pada umumnya dibuat dari ikan segar dengan menambahkan garam dapur (NaCl) sebanyak 25-30% berat ikan, kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Ikan asin dibuat dengan menambahkan garam sendawa yang mengandung kalium nitrat dan natrium nitrit. Kandungan di dalam garam sendawa tersebut merupakan prekusor nitrosamin yang bersifat karsinogenik (Jia et al., 2010).

Nitrosamin dapat terbentuk sebagai hasil reaksi antara nitrit dan senyawa amin pada daging ikan dan makanan berpengawet lainnya (Cao et al., 2011). Reaksi nitrosasi dapat terjadi baik in vitro maupun in vivo. Pada sebuah penelitian di Cina menemukan 2000 ppm garam nitrat pada makanan berkaleng seperti kornet, mengakibatkan terbentuknya senyawa nitrosamin. Metabolisme nitrosamin yang diaktivasi oleh mekanisme oksidasi dapat menyebabkan mutasi DNA sehingga terjadi karsinoma nasofaring (He et al., 2015).

(47)

terjadi perubahan sel, pemendekan kromosom, kerapuhan rantai DNA, dan mutasi genetik (Coggon et al., 2014).

Formaldehid sebagai pro-carcinogen dan co-carcinogen sering mencapai area nasofaring melalui inhalasi dan per oral. Formaldehid akan melalui metabolisme oleh enzim-enzim tubuh menjadi ultimate-carcinogen (bersifat reaktif dalam ikatan dengan DNA) dan akan menyebabkan mutasi genetik yang menimbulkan KNF (Coggon et al., 2014).

2.4 Kerangka Teori

Gambar 8. Diagram Kerangka Teori (Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2015). Ikan asin

Kalium nitrat dan natrium nitrit

Formaldehid

Makanan berkaleng Ikan/daging asap

Dekomposisi nitit

Amina sekunder + Nitrogen Oxides

Nitrosamin

LMP Fase laten EBV

Mutasi DNA

Karsinoma nasofaring 2000 ppm garam

nitrat

[image:47.595.111.512.378.678.2]
(48)

29

2.5 Kerangka Konsep

Gambar 9. Diagram Kerangka Konsep.

2.6 Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

Terdapat hubungan antara konsumsi ikan asin, ikan/daging asap, dan makanan berkaleng dengan dengan karsinoma nasofaring di RSUD Abdul Moeloek periode tahun 2014-2016.

Variabel Bebas

- Konsumsi ikan asin

- Konsumsi ikan/daging asap

- Konsumsi makanan

berkaleng

[image:48.595.150.494.141.233.2]
(49)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan makna suatu hubungan dengan pengumpulan data sekaligus pada suatu waktu.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di poli bedah onkologi dan poli THT di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung bulan Agustus sampai September tahun 2017.

3.3 Populasi

(50)

31

3.4 Sampel

Sampel pada penelitian ini diambil dengan metode non probability consecutive sampling. Sampel dihitung menggunakan analisis kategorik

tidak berpasangan:

𝑛1 = 𝑛2 = Zα 2PQ + Zβ P1Q1+ P2Q2 P1− P2

2

𝑛1 = 𝑛2 = 1,9 2.0,375.0,625 + 0,84 0,5.0,5 + 0,25.0,75 0,25

2

𝑛1 = 𝑛2 = 6,7 2

𝑛1 = 𝑛2 = 44,89 ≈ 45

Keterangan :

n : jumlah sampel

Z𝛼 : Kesalahan tipe I ditetapkan sebesar 5%, Z𝛼 = 1,96 Z𝛽 : Kesalahan tipe II ditetapkan sebesar 20 %, Z𝛽 = 0,84

P2 : Poporsi pajanan terhadap kelompok kontrol yang sudah diketahui

nilainya, P2 = 0,25

Q2 : 1- P2 = 0,75

P1-P2 : Selisih proporsi pajanan minimal = 0,25

P1 : 0,25 + 0,25 = 0,5

Q1 : 1- P1 = 0,5

P : P1+P2 2 = 0,5+0,25 2 = 0,375

Q : 1-P = 0,625

(51)

3.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.5.1 Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:

1. Pasien KNF dan non KNF yang masih follow up di poli THT dan poli bedah onkologi RSUD Abdul Moeloek periode tahun 2014-2016.

2. Terdapat data rekam medik meliputi: nama, alamat, jenis kelamin, dan usia.

3.5.2 Kriteria Eksklusi

Pasien yang meninggal.

3.6 Variabel Penelitian

3.6.1 Variabel Bebas

1. Konsumsi ikan asin.

2. Konsumsi ikan/daging asap. 3. Konsumsi makanan berkaleng.

3.6.2 Variabel Terikat

(52)

33

3.7 Definisi Operasional

Definisi operasional untuk memudahkan pelaksanaan penelitian agar penelitian tidak menjadi terlalu luas (Tabel 2).

Tabel 2. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala

1 Variabel Bebas a.Konsumsi

ikan asin

Konsumsi ikan asin >3 kali sebulan

Wawancara -Ya

-Tidak Nominal b.Konsumsi ikan/daging asap Konsumsi ikan/daging asap >3 kali sebulan

Wawancara -Ya

-Tidak Nominal c.Konsumsi makanan berkaleng Konsumsi makanan berkaleng >3 kali sebulan

Wawancara -Ya

-Tidak

Nominal

2 Variabel Terikat Karsinoma Nasofaring

Pasien yang terdiagnosis KNF dan non KNF

Data rekam medis

- Ya

- Tidak

[image:52.595.111.513.203.439.2]
(53)

3.8 Prosedur Penelitian

Gambar 10. Diagram Prosedur Penelitian.

3.9 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah: 1. Alat tulis.

2. Lembar persetujuan (informed consent). 3. Lembar daftar pertanyaan wawancara. 4. Rekam medis.

5. Hasil pemeriksaan patologi anatomi.

3.10 Pengumpulan Data

Data yang diteliti pada penelitian ini adalah data primer yang didapatkan langsung dari hasil wawancara dan data sekunder yang didapatkan dari

Menetapkan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi

Informed consent

Wawancara pasien KNF dan non KNF

Pengumpulan data rekam medis dan hasil patologi anatomi KNF

Pengolahan data

[image:53.595.116.497.132.355.2]
(54)

35

rekam medik dan hasil pemeriksaan patologi anatomi pasien karsinoma nasofaring di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung.

3.11 Pengolahan Data

Setelah dokumentasi dikumpulkan, selanjutnya dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

3.11.1 Editing

Pemeriksaan hasil wawancara yang telah masuk apakah semua pertanyaan terjawab dan ada ketidakserasiaan.

3.11.2 Coding

Perubahan bentuk data yang sudah terkumpul menjadi kode agar lebih ringkas sehingga memudahkan dalam menganalisis data. 3.11.3 Pemindahan Data

Memindahkan data yang terkumpul ke software SPSS 17.0 yang akan digunakan untuk analisis data.

3.11.4 Tabulating

Pengelompokan data dalam bentuk tabel (Dahlan, 2014).

3.12 Analisa Data

3.12.1 Anilisis Univariat

(55)

3.12.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara masing-masing variabel bebas dan variabel terikat dengan menggunakan uji parametrik yaitu uji Chi-square menggunakan SPSS 17.0. Uji ini digunakan untuk mencari hubungan variabel kategorik dengan kategorik. Pada penelitian ini tingkat kepercayaan/Confidence Interval (CI) ditetapkan sebesar 95% (Dahlan, 2014).

Syarat uji Chi-square adalah sel yang mempunyai nilai expected kurang dari lima maksimal 20% dari jumlah sel. Jika syarat Chi-square tidak terpenuhi, maka dapat digunakan uji Fisher untuk tabel 2x2 (Dahlan, 2014).

Dari hasil perhitungan uji statistik akan diketahui ada atau tidaknya hubungan yang bermakna antara variabel yang diteliti dengan melihat nila p. Berikut interpretasi nilai p:

a. Nilai p>0,05 maka terdapat hubungan bermakna. b. Nilai p≤0,05 maka tidak terdapat hubungan bermakna.

3.13 Etika Penelitian

(56)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan data hasil penelitian, analisis dan pembahasan yang sudah dilakukan, maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut:

1. Terdapat hubungan antara konsumsi ikan asin, ikan/daging asap, dan makanan berkaleng dengan KNF.

2. Jumlah pasien KNF terbanyak yaitu laki-laki, usia 38-60 tahun, pekerjaan petani, dan suku Jawa.

5.2 Saran

(57)

DAFTAR PUSTAKA

Adham M, Antonius NK , Arina IM, Averdi, Bambang H, Soehartati G, et al. 2012. Nasopharyngeal carcinoma in indonesia. Chinese Journal of Cancer, 31(4): 185–96.

Afrika dan Cina Selatan. 2013. Faktor risiko karsinoma nasofaring. Karsinoma Nasofaring, 40(5): 348–51.

Ariwibowo. 2013. Faktor risiko karsinoma nasofaring. Karsinoma Nasofaring, 40(5):1-5.

Ardita. 2011. Analisis hubungan antara faktor risiko dengan tipe histopatologi pada karsinoma nasofaring. Sarjana Kedokteran. Universitas Diponegoro: Semarang.

Bashiruddin J dan Sosialisman. 2012. Buku ajar ilmu kesehatan telinga, hidung, tenggorok, kepala & leher. Edisi 7. FK UI: Jakarta: 154-64.

Cao, Simons MJ dan Qian CN. 2011. The prevalence and prevention of nasopharyngeal carcinoma in Cina. Chinese Journal of Cancer, 30(2): 114–9. Capozzi, Lauren CL, Harold R, Raylene AM, Margaret GD, Janine CR, et al.

2012. Exercise and nutrition for head and neck cancer patients: a patient oriented, clinic-supported randomized controlled trial. BMC Cancer, 12(2): 446.

Coggon, David N, Georgia H, Clare P, Keith T. 2014. Upper airway cancer, Myeloid Leukemia, and other cancers in a cohort of British Chemical workers exposed to formaldehyde. American Journal of Epidemiology, 179(11): 1301–11.

Dahlan S. 2014. Statistik kedektoran dan kesehatan. Edisi 6. Epidemiologi Indonesia: Jakarta: 163-79.

Drake, Vogl AW, MA. 2012. Gray’s basic anatomy. Edisi 2. Elsevier: Birmingham: 221-30.

(58)

52

hidung, tenggorok, kepala & leher. Edisi 7. FK UI: Jakarta: 154-64.

Feng, Khyatti,Ben A,Dahmoul, Ayad,Maachi, et al. 2009. Cannabis, tobacco and domestic fumes intake are associated with nasopharyngeal carcinoma in North Africa. British Journal of Cancer, 101(7): 1207–12.

Guo X, Johnson RC, Deng H, Liao J, Guan L, Nelson GW, et al. 2009. Evaluation of nonviral risk factors for nasopharyngeal carcinoma in a high risk population of Southern China. International Journal of Cancer, 124(12):2942-7.

He YQ, Xue, Shen, Tang, Zeng, Jia, et al. 2015. Household inhalants exposure and nasopharyngeal carcinoma risk: a large-scale case-control study in Guangdong, Cina. BMC Cancer, 15(3):1022.

Hsu, Chen JY, Chien YC, Liu MY, You SL, Hsu MM, et al. 2009. Independent effect of EBV and cigarette smoking on nasopharyngeal carcinoma: A 20-year follow-up study on 9,622 males without family history in Taiwan. Cancer Epidemiology Biomarkers and Prevention, 18(4): 1218–26.

Ibrahim. 2008. Hubungan merokok dengan karsinoma nasofaring. Spesialis THT. USU: Medan.

Izzaty. 2015. Hubungan Antara Faktor Usia Dengan Kejadian Kanker Kolorektal Di Rsud Moewardi Surakarta Tahun 2010-2013. Sarjana Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Surakarta: Surakarta.

Jia, Xiang YL, Bing JF, Hong LR, Jin XB, Wen SL, et al. 2010. Traditional Cantonese Diet and Nasopharyngeal Carcinoma Risk: A Large-Scale Case-Control Study in Guangdong, Cina. BMC Cancer, 10(2): 446.

Komite Penanggulangan Kanker Nasional. 2015. Kanker nasofaring. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Kanker Nasofaring. 12(2): 90.

Kumar Abbas KA dan Fausto N. 2015. Robbins and cotran pathologic basis of disease. Edisi 7. EGC: Jakarta: 788–801.

Lau, Chit ML, Yap HC, Anne WML, Dora LWK, Maria LL, et al. 2013. Secular trends of salted fish consumption and nasopharyngeal carcinoma: a multi-jurisdiction ecological study in 8 regions from 3 continents. BMC Cancer,

13(1): 298. Available at:

http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=3729410&tool=p mcentrez&rendertype=abstract\nhttp://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23782 497\nhttp://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=PMC37294 10 [diakses tanggal 20 Maret 2017].

(59)

Guangzhou, Cina. BMC Cancer, 15(1): 906.

Mangunkusumo dan Wardani RS. Epistaksis. Editor: Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. 2012. Buku ajar ilmu kesehatan telinga, hidung, tenggorok, kepala & leher. Edisi 7. FK UI : Jakarta: 154-64.

MD, Wei TL, Sen TT, ChunYO,Hung IL,Tung YW, et al. 2009. National Cancer Database report on cancer of the head and neck: 10-Year update. Journal of The Sciences and The Specialties of The Head and Neck, 31(6): 748–758. Available at: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/hed.21022/full [diakses tanggal 10 Maret 2017].

Mescher AL. 2011. Histologi dasar junqueira teks & atlas. Edisi 12. EGC: Jakarta: 396–402.

Moore KL. 2014. Anatomi berorientasi klinis jilid 1. Edisi 5. Erlangga: Jakarta: 105–12.

Pusat Data Statistik dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2015. Kelautan dan perikanan. Edisi 1. Erlangga: Jakarta: 308.

Rahman, Budiman BJ dan Subroto H. 2015. Tinjauan pustaka faktor risiko non viral pada karsinoma nasofaring. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(3): 988–95. Regauer. 2010. Pathology of the head and neck. Edisi 2. EGC. Austria: 171-96. Ren, Liua WS, Qina HD, Xua YF, Yua DD. 2010. Effect of family history of

cancers and environmental factors on risk of nasopharyngeal carcinoma in Guangdong, Cina. Cancer Epidemiology Biomarkers and Prevention, 34(4): 419–424. Available at: https://www.deepdyve.com/lp/elsevier/effect-of-family-history-of-cancers-and-environmental-factors-on-risk-nQHEqa6ePd [diakses tanggal 15 Maret 2017].

Sharma, Dhaneshor S, Tomcha L, Rajesh SS, L Durlav CS, Imchen, Tiameren, et al. 2011. Nasopharyngeal carcinoma--a clinico-pathological study in a regional cancer centre of northeastern India. Asian Pacific journal of Cancer Prevention, 12(6): 1583–7.

Shofiyah A. 2012. Analisis nitrosodietilamin (NDEA) dalam ikan asin dan daging kaleng dengan teknik kromatofrafi gas melalui headspace single drop microextraction. Sarjana Sains. Universitas Airlangga: Surabaya.

Shiels, Todd G, Joshua S, Demetrius A, Gabriella A, Laura BF, et al. 2014. 'Cigarette smoking prior to first cancer and risk of second smoking-associated cancers among survivors of bladder, kidney, head and neck, and stage I lung cancers'. Journal of Clinical Oncology, 32(35): 3989–95.

(60)

54

of the 7th biannual international symposium on nasopharyngeal carcinoma 2015. BMC Proceedings, 10(S1): 1.

Tan L dan Loh T. 2015. Benign and Malignant Tumors of the Nasopharynx. In: Flint PW, Haughey BH, Lund V, Niparko JK, Robbins KT, Thomas JR, et al, editors. Cummings otolaryngology. Edisi 6. Birmingham: Elsevier: 530-655. Torre, Lindsey AB, Freddie S, Rebecca LF, Jacques L, Joannie J. 2015. Global

cancer statistics. A Cancer Journal of Clinicians., 65(2): 87–108. Available at: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.3322/caac.21262/abstract. [diakses tanggal 15 Maret 2017].

Tsao SW. Yim LY, Chi MT, Pei SP, Victoria Ming YL, Guitao Z, et al. 2014. Etiological factors of nasopharyngeal carcinoma. Oral Oncology, 50(5): 30– 338.

Turkoz FP, Vui H, Telisinghe, Pemsari U, Lim, Edwin, et al. 2011. Risk factors of nasopharyngeal carcinoma in Turkey-an epidemiological survey of the Anatolian Society of Medical Oncology. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention, 12(11): 3017–21. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22393983 [diakses tanggal 20 Maret 2017].

Wang HY, Yih LC,Ka FT, Jacqueline SG, Hwang, Hai QM, Yan FF, et al. 2016. A new prognostic histopathologic classification of nasopharyngeal carcinoma. Chinese Journal of Cancer, 35(2):41. Available at:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27146632\nhttp://www.pubmedcent ral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=PMC4857443 [diakses tanggal 10 Maret 2017].

Wyss, A., Hashibe M, Chuang SC, Lee YC, Zhang ZF, Yu GP, et al. 2013. Cigarette, cigar, and pipe smoking and the risk of head and neck cancers: Pooled analysis in the international head and neck cancer epidemiology consortium. American Journal of Epidemiology, 178(5): 679–90.

Xue, Wen QQ, Hai DR, Hong LS, Yin YJ, Wei H. 2013. Quantitative association of tobacco smoking with the risk of nasopharyngeal carcinoma: A comprehensive meta-analysis of studies conducted between 1979 and 2011. American Journal of Epidemiology, 178(3): 325–38.

Yenita AA. 2012. Penelitian Korelasi antara Latent Membrane Protein-1 Virus Epstein-Barr dengan P53 pada Karsinoma Nasofaring (Penelitian Lanjutan). Jurnal Kesehatan Andalas, 1(1): 4–6.

(61)

Yoshizaki T, Kondo S, Wakisaka N, Murono S, Endo K, Sugimoto H, Nakanishi S, et al. 2013. Pathogenic role of Epstein-Barr virus latent membrane protein-1 in the development of nasopharyngeal carcinoma. Cancer Letters, 337(protein-1): 1–7.

Figure

Gambar 1.  Anatomi Nasofaring (Moore, K. L., 2014).
Gambar 3. Kelenjar Getah Bening Kepala dan Leher (Moore, K. L., 2014).
Gambar 4. Langkah-Langkah Karsinogenesis (Kumar et al., 2015).
Gambar 5.  Langkah-Langkah Metastasis (Kumar et al., 2015).
+7

References

Related documents

Control, IP 3 -induced and endothelin-1 (ET-1)-induced fluorescence resonance energy transfer between IP 3 R1 and TRPC3 was higher in SHR than WKY myocytes. IP 3 -induced

Paired acute- and convalescent-phase serum samples, defined as two samples collected a minimum of 2 weeks apart, were used for influenza virus antibody testing, which was performed

mean value of 0.62 mU per 100 ml for a series of 9 patients with Cushing's disease was significantly greater than that of a group of normal subjects. (p

Today's cryptography algorithms are based on mathematical problems that are hard to solve with the existing algorithm technologies and computing power... that has

The mission of the International Consortium for Health Outcomes Measurement (http://www.ichom.org) is ‘to unlock the potential of value-based healthcare by defining global

Overall mobile coverage Traditional literacy levels Competition in mobile content providers Access to local internet exchange points Regulation around what content can be

Calculate the present value, future value, interest rate and time period using discounting and compounding principles.5. The importance of efficient investment appraisal

energy used for the generation of superheated steam is about 154.7 MWth since a part of the total thermal energy absorbed by the solar receiver is introduced to the HTSE process