• No results found

Text 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
68
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGEMBANGAN LKPD PEMANASAN GLOBAL BERVISI SETS UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS

(Tesis)

Oleh SUSI HARNANI

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(2)

ii Oleh Susi harnani

Keterampilan berpikir kritis dapat ditingkatkan melalui proses pembelajaran yang menggunakan bahan ajar berupa worksheet didesain khusus pada materi pemanasan global meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Tujuan dari penelitian adalah mengembangkan worksheet pemanasan global bervisi SETS dan mendeskripsikan tingkat kemenarikan, kemudahan dan keefektifan worksheet tersebut dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain non eqivalen Control group. Uji hipotesis perbedaan N-Gain kelas kontrol dengan kelas eksperimen menggunakan uji statistik independent sampel T-test dan uji hipotesis perbedaan rata-rata pretest dan postest menggunakan paired sampel T-test. Kelas eksperimen menggunakan worksheet bervisi SETS, sedangkan kelas kontrol menggunakan worksheet konvensional. Subjek uji coba yaitu siswa SMA di salah satu kabupaten kota di provinsi lampung. Hasil N-Gain kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen rata-rata nilai posttest lebih tinggi dibanding pretest. Pembelajaran pemanasan global menggunakan worksheet bervisi SETS menarik, mudah dan efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMA

(3)

iii ABSTRACT

DEVELOPMENT OF GLOBAL WARMING WORKSHEETS WITH SETS VISION TO IMPROVE STUDENTS CRITICAL THINKING SKILLS

By Susi harnani

Critical thinking skills can be improved through a learning process that uses teaching materials in the form of worksheets specifically designed for global warming material to improve students' critical thinking skills. The aim of the study was to develop a SETS visioned global warming worksheet and describe the level of attractiveness, ease and effectiveness of the worksheet in improving critical thinking skills. The research method used was quasi-experimental with a non-equality Control group design. Hypothesis testing the difference in N-Gain control class with experimental class using independent statistical test samples T-test and hypothesis T-testing differences in average preT-test and postT-test using paired T-test samples. The experimental class uses a SETS vision worksheet, while the control class uses a conventional worksheet. The test subjects were high school students in one of the regency districts of the city in Lampung province. The experimental class N-Gain results were higher than the control class. In the experimental class the average posttest value was higher than the pretest. Learning about global warming using SETS vision worksheets is interesting, easy and effective in improving the critical thinking skills of high school students

(4)

Oleh Susi Harnani

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Magister Pendidikan Fisika

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

viii

Penulis dilahirkan di Sumberrejo, Kabupaten Lampung Tengah, provinsi Lampung pada tanggal 1 Januari 1981 dari ayah yang bernama Slamet dan ibu bernama Sutipah penulis merupakan satu-satunya putri dari tiga bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 1 Sumberrejo, Kabupaten Lampung Tengah pada tahun 1994, dan melanjutkan pendidikan lanjutan tingkat pertama di SLTP Negeri 1 Kotagajah dan menyelesaikannya pada tahun 1996. Pada tahun 1999 Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Kotagajah. Pada pertengahan tahun 2004 Penulis menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana (S1) di Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Lampung. Pada tahun 2006 Penulis menyelesaikan pendidikan Akta 4 di STAI Metro. Pada tahun 2014, Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

(9)

ix MOTTO

(10)

x

Tesis ini ku persembahkan kepada suamiku Riyadi dan

(11)

xi

SANWACAN

A

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya yang tak terhingga sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Pengembangan LKPD Pemanasan Global Bervisi SETS untuk

Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis”. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak di bawah ini.

1. Bapak Prof. Drs. Mustofa, M.A., Ph.D., selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Lampung.

2. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

3. Bapak Prof. Dr. Hi. Agus Suyatna, M.Si., selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan Fisika, sekaligus Pembimbing I yang telah memotivasi, membimbing, dan mengarahkan penulis selama penulisan tesis.

4. Ibu Dr. Noor Fadiawati, M.Si., selaku Pembimbing II yang telah memotivasi, membimbing, dan mengarahkan penulis selama penulisan tesis.

5. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si., selaku Uji Ahli Materi dan Penguji I terima kasih atas segala masukannya.

(12)

xii

8. Bapak dan Ibu Dosen Magister Pendidikan Fisika Universitas Lampung yang telah membimbing penulis dalam pembelajaran di Universitas Lampung. 9. Kepala Sekolah, seluruh rekan-rekan guru, staff TU, serta anak-anak murid

yang penulis banggakan di SMA Negeri 3 Metrodan MA Ma’arif 9 Kotagajah.

10. Teman-teman seperjuangan di Program Studi Magister Pendidikan Fisika 2014 : Pak Malik, Pak Anwar, Pak Budi, Bu Eka, Bu Emil, Bu Fera, Pak Hans, Bu Lika, Pak Najam, Pak Pay, Bu Surya, Bu Indah, Pak Pardi, Pak Taufik, Pak Trian, Pak Vira, Pak Wayan, Bu Yuliana, Bu Zulimah, dan Pak Heri atas bantuan dan kebersamaannya selama ini.

11. Kepada teman teman dan pihak yang telah membantu terselesaikannya tesis ini.

Semoga dengan bantuan dan dukungan yang diberikan mendapat balasan pahala disisi Allah SWT dan semoga tesis ini dapat bermanfaat. Amin.

Bandar Lampung, Oktober 2018 Penulis,

(13)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kerangka Berpikir Kritis... 17

2. Desain Pretest-postest Kelompok Kontrol Tanpa Acak ... 36

3. Nilai Rata-rata Gain Ternormalisasi dan Klarifikasinya... 40

4. Skor Penilaian Terhadap Pilihan Jawaban ... 41

5. Tafsiran Skor Penilaian Menjadi Pernyataan Nilai Kualitas... 41

6. Rekapitulasi Hasil Analisis Angket Kebutuhan Siswa ... 46

7. Rekapitulasi Hasil Analisis Angket Kebutuhan Guru... 46

8. LKPD Pemanasan Global Bervisi SETS Tahap Kedua di Fase Teknologi……... 63

9. Desain Produk LKPD Materi Pemanasan Global ... 65

10. Rekapitulasi Hasil Uji Ahli ... 67

11. Revisi LKPD Berdasarkan Masukan Ahli Desain ... 68

12. Rekapitulasi Hasil Uji Coba Produk ... 68

13. Hasil Revisi Produk ... 69

14. Statistik Deskriptif Pretest dan Postest Kelas Eksperimen Kelas Kontrol………... 73

15. Hasil Uji Normalitas Pretest Dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 75

16. Hasil Uji Homogenitas tas Pretest Dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 75

17. Hasil Uji Beda Rata-rata Pretest dan Postest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 76

18. Hasil Uji Beda Rata-rata Pretest dan Postest Keterampilan Berpikir Kritis Kelas Eksperimen ... 78

19. Rata-Rata N-Gain Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 79

20. Rata-Rata N-Gain Keterampilan Berpikir Kritis Tiap Indikator... 80

21. Hasil Uji Kemenarikan, Kemudahan, dan Kemanfaatan LKPD Hasil Pengembangan ... 81

22. Hasil Kegiatan LKPD Pemanasan Global Bervisi SETS Tahap Pertama ……... 84

(14)

xvii

Gambar Halaman

1. Kerangka Pemikiran... 30

2. Alur Tahap Penelitian dan Pengembangan ... 32

3. Tampilan Luar Cover LKPD... 49

4. Contoh Analisis KI, KD, Indikator dan Petunjuk Penggunaan LKPD... ... 52

5. Tampilan LKPD 1 pada tahap Sains ... 54

6. Contoh Gambar Aktivitas Manusia Terhadap Lingkungan ... 56

7. Contoh Gambar yang Disajikan Pada LKPD Tahap Teknologi ... 58

8. Contoh Pada tahap Sosial... 59

9. Pertanyaan Pada Tahap Sosial ... 60

10. Perbandingan Nilai rata-rata Pretest dan Postest Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Kelas Eksperimen dan kelas Kontrol... ... 77

11. Perbandingan rata-rata N-gain keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 79

12. Uji Kemenarikan, Kemudahan dan Kemanfaatan LKPD Hasil Pengembangan………...……... 82

13. LKPD 1 Pada Tahap Sains... 86

14. Contoh gambar aktivitas Manusia... 87

15. Hasil Diskusi LKPD Tahap Teknologi ... 88

16. Hasil pada Tahap Sosial ... 89

17. Penjelasan Dampak yang ditimbulkan dari Teknologi ... 92

18. Hasil pada tahap sosial fase kedua ... 93

(15)

xiii DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR... xvii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA A. KerangkaTeoritis ... 9

1. Belajar dan Pembelajaran Fisika... 9

2. Pemanasan Global ... 11

3. Berpikir Kritis ... 16

4. Lembar Kerja Peserta Didik... 20

5. Science Environment Technology and Society ... 22

B. Penelitian yang Relevan... 26

C. Kerangka Pikir ... 28

III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 31

B. Prosedur Pengembangan... 31

1. Studi Pendahuluan... 33

2. Perencanaan dan Pengembangan ... 33

3. Melakukan Uji Lapangan ... 34

C. Subjek Uji Coba... 36

D. Teknik Pengumpulan Data ... 37

1. Angket ... 37

(16)

xiv

A. Hasil Penelitian ... 45

1. Hasil Studi Pendahuluan ... 45

2. Hasil Rancangan Pemgembangan ... 47

3. Hasil Pengembangan Produk awal... 65

4. Uji Coba Pendahuluan... 66

a. Hasil Validasi Uji Ahli ... 66

b. Hasil Uji Satu Lawan Satu... 68

5. Revisi Produk ... 69

6. Uji Coba Produk... 72

a. Uji Efektivitas ... 72

b. Uji Normalitas... 74

c. Uji Homogenitas ... 75

d. Uji Beda Rata-rata... 76

e. Data Normalisasi Gain (N-gain) ... 78

f. Analisis Data Angket Kemenarikan, Kemudahan, dan Kemanfaatan ... 81

7. Produk Akhir... 82

B. Pembahasan ... 83

1. Karakteristik LKPD Pemanasan Global bervisi SETS Hasil Pengembangan ... 84

2. Kemenarikan, Kemudahan, dan Kemanfaatan LKPD Hasil Pengembangan ... 93

3. Efektivitas LKPD Hasil Pengembangan dalam Kegiatan Pembelajaran ... 95

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 97

B. Saran ... 98

DAFTAR PUSTAKA ... 99

LAMPIRAN 1. Angket Konsepsi Peserta Didik Pada Materi Pokok Pemanasan Global………... 104

2. Hasil Analisis Konsepsi Peserta Didik Pada Materi Pokok Pemanasan Global…... 106

(17)

xv

4. Angket Kebutuhan Guru Pengembangan LKPD Bervisi SETS Pembelajaran Pemanasan Global Untuk Meningkatkan

Keterampilan Berpikir Kritis ... 108

5. Hasil Analisis Kebutuhan Guru Untuk LKPD Bervisi SETS Pemanasan Global Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis ……... 110

6. Kisi-kisi Instrumen Kebutuhan Siswa Pengembangan LKPD bervisi SETS untuk meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis ... 111

7. Angket Analisis Kebutuhan Siswa Pengembangan LKPD bervisi SETS untuk meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis ... 112

8. Hasil Analisis Kebutuhan Pengembangan LKPD Pemanasan Global bervisi SETS untuk meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis (Untuk Siswa) ... 114

9. Insrumen Validasi Ahli Media (Konstruksi)... 116

10. Insrumen Validasi Ahli Materi (Substansi) ... 117

11. Surat Keterangan Validasi Ahli Bahasa... 119

12. Izin Penelitian ... 120

13. Silabus ... 121

14. Rpp ... 123

15. Uji Kompetensi ... 137

16. Pedoman Pensekoran ... 141

17. Izin Penelitian ... 137

18. Surat keterangan Validasi ... 147

19. Kisi-kisi Soal Ulangan ... 148

20. Analisis Pretest ... 150

21. Uji Normalitas Pretest ... 151

22. Uji Homogenitas Pretest ... 152

23. Uji Beda Rata-rata Pretest ... 153

24. Analisis Posttest... 154

25. Uji Normalitas Posttest ... 155

26. Uji Homogenitas Posttest ... 156

27. Uji Beda Rata-rata Posttest ... 157

28. N-Gain ... 158

29. Analisis Hasil Per Indikator ... 159

30. Analisis sikap siswa ... 160

(18)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan mengemban amanah untuk mengedepankan proses pembelajaran yangmampu untuk menjawab tantangan kehidupan di masa depan.Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia (Kemendikbud, 2013). Selama ini pendidikan kurangmerambah aspek kehidupan sosial dan masyarakat yang berkembang pesat.Dalam pendidikan, proses pembelajaran harus dapat mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap percaya diri sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

(19)

2

siswa. Salah satu alternatif yang dikembangkan dalam pembelajaran adalah pembelajaran sains.

Pembelajaran sains termasuk fisika, lebih menekankan pada pemberian pengala-man langsung untuk mengembangkan kompetansi, agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara alamiah (Dwijayanti dan Yulianti, 2010). Fisika merupakan salah satu cabang dariIPA (Ilmu Pengetahuan Alam)yang ikutandil dalam mencapai tujuan pendidikan,dan merupakan ilmu yang lahir dan berkembang lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan serta penemuan teori dan konsep (Medriati, 2013). Dapat dikatakan bahwa hakikat Fisika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala melalui se-rangkaian proses yang dikenal dengan proses ilmiah yang dibangun atas dasar sikap ilmiah dan hasilnya terwujud sebagai produk ilmiah yang tersusun atas tiga komponen terpenting berupa konsep, prinsip dan teori yang berlaku secara universal (Trianto,2010).Salah satu pendekatan yang memungkinkan siswa memperoleh kompetensi dalam mata pelajaran fisika adalah pendekatan saintifik.

(20)

Berpikir kritis penting untuk menghadapi isu-isu lokal, nasional, dan internasional yang kompleks. Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah (Kartimi dan Liliasari, 2012). Berpikir kritis memungkinkan siswa untuk mem-pelajari masalah secara sistematis, menghadapi berjuta tantangan dengan cara yang terorganisasi, merumuskan pertanyaan inovatif, dan merancang solusi.

(21)

4

mampu meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya.

Pembelajaran yang dilakukan oleh sebagian besar guru hanya menekankan pada penguasaan konsep, belum membudayakan keterampilan berpikir kritis pada siswa. Berdasarkan observasi awal di SMA Negeri daerah Metro provinsi

Lampung, ditemukan beberapa masalah dalam kegiatan pembelajaran fisika, yaitu guru masih menganut pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional (ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas). Penerapan metode pembelajaran tersebut cenderung membuat siswa pasif, bosan, mengantuk, malas belajar dan malas mengerjakan tugas. Metode pembelajaran tersebut menerapkan pola satu arah, dominan hafalan serta memasung kreatifitas atau kemerdekaan berpikir siswa kearah suasana pembelajaran yang dapat menstimulasi dan mendukung proses perkembangan siswa dalam mengeksplorasi dan mengonstruksi suatu pengetahuan.Keterampilan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa. Untuk mendapatkan pembelajaran fisika dengan ketrampilan berpikir kritis yang terarah dan sistematis maka diperlukan salah satunya LKPD.

(22)

Materi pemanasan global merupakan materi baru dalam kurikulum 2013 dan kurang terdapat materi penerapan pemanasan global dalam kehidupan sehari- hari, hanya menjelaskan konsep pemanasan global dan penerapan konsep tersebut dalam bentuk teknologi tetapi kurang menjelaskan bagaimana dampak pemanasan global dalam bentuk teknologi terhadap masyarakat dan lingkungan, belum Sesuai dengan KD 3.9 yaitu tentang menganalisis gejala pemanasan global dan

dampaknya bagi kehidupan dan lingkungan dan KD 4.8 tentang menyajikan ide/gagasan pemecahan masalah gejala pemanasan global dan dampaknya bagi kehidupan dan lingkungan. Materi pemanasan global merupakan salah satu materi yang diajarkan di kelas XI. Salah satu kendala yang ditemukan pada proses pembelajaran materi pemanasan global adalah menghubungkan dan mengkaitkan antara teori yang dipelajari dengan penerapannya dalam bentuk teknologi

dampaknya terhadap lingkungan dan sosial masyarakat. Dengan kata lain LKPD yang dimiliki oleh siswa belum mencerminkan suatu LKPD yang bervisi SETS (Science, Environment, Technology And Society). Sebagian besar anak-anak yang diwawancarai tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan efek rumah kaca dengan benar (Taber, & Taylor, 2009).

(23)

6

dan lingkungan merupakan suatu bentuk upaya pembelajaran yang bersifat nyata dan konstekstual (Nugraha,D.A., Binadja A. &Supartono,2013).

Berdasarkan analisis respon siswa terhadap angket yang diberikan kepada 30 siswa SMAN 3 Metro diketahui bahwa sebanyak 93% siswa menyatakan bahwa siswa membutuhkan LKPD agar lebih mudah materi pemanasan global. Hasil analisis angket terhadap 4 guru SMAN di daerah kota Metro didapatkan 60 % guru setuju bila dikembangkan LKPD dengan bervisi SETS untuk meningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis. Berdasarkan hasil penelitian yang telah

dilaksanakan maka di peroleh hasil pengembangan berupa LKPD pemanasan global bervisi SETS yang dapat menunjang proses pembelajaran lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMA.

B. Rumusan Masalah

Beberapa hal penting yang dapat diidentifikasi dari pemikiran latar belakang di atas antara lain:

1. Bagaimana karakteristik LKPD bervisi SETS yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis?

2. Bagaimana tingkat kemudahan dan kemenarikan LKPD bervisi SETS pada pemanasan global dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa? 3. Bagaimana efektifitas LKPD bervisi SETS pada pemanasan global dalam

meningkatkan kemampuan berpikir kritis?

C. Tujuan Penelitian

(24)

1. Mengembangkan LKPD bervisi SETS sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

2. Mendeskripsikan tingkat kemenarikan dan kemudahan LKPD bervisi SETS 3. Mendeskripsikan tingkat keefektifan LKPD dalam meningkatkan kemampuan

berpikir kritis siswa.

D. Manfaat Penelitian

1. Membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam pencapaian kompetensi pemanasan global dan untuk menghadapi tantangan, perubahan, dan ketidaktentuan dimasa yang akan datang,

2. LKPD yang dikembangkan dapat menemukan hubungan teori dan konsep yang dipelajari dengan aplikasi di dunia nyata pendukung kehidupannya di masa yang akan datang dengan pembelajaran bervisi SETS

3. LKPD yang dikembangkan dapat membangun pengetahuannya sendiri dengan bantuan guru sebagai fasilitator dengan LKPD

4. LKPD yang dikembangkan dapat menjadi salah satu sumber belajar di sekolah dan membantu guru dalam proses pembelajaran agar dapat memper-mudah penjelasan mengenai pemanasan global.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk membatasi agar tidak meluasnya penelitian pengembanganini, ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut:

(25)

8

2. LKPD bervisi SETS (sains environment,technology and society). 3. LKPD yang dikembangkan pada penelitian ini untuk mengembangkan

(26)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis

1. Belajar dan pembelajaran fisika

Adanya interaksi denganlingkungan membuat pembelajaran mengkontruksi arti, wacana, dialog, pengalaman fisik dan menghubungkannya dengan pengalaman atau informasiyang sudah dipelajari.Pembelajaran sains termasuk fisika, lebih menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetansi, agar peserta didik mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara alamiah menurut (Dwijananti dan Yulianti, 2010) hakikatnya pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik untuk jangka waktu yang panjang.

Persoalan yang terjadi saat ini, dalam setiap pembelajaran sering kali guru

(27)

10

dan lingkungan sekitar. Kegiatan belajar mengajar terdapat suatu proses yang menjadi inti kegiatan belajar disebut dengan pembelajaran yang menitikberatkan pada keterlibatan peserta didik dalam mempelajari sesuatu, tak terkecuali dalam mata pelajaran fisika, menurut (Damayanti, 2013)Belajar dapat didefinisikan sebagai proses diperolehnya pengetahuan atau ketrampilan berpikir serta perubah-an tingkah laku melalui aktivitas diri sedperubah-angkperubah-an pembelajarperubah-an fisika merupakperubah-an proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik serta dapat menguasai pengetahuan dan konsep fisika serta hukum-hukum fisika melalui kegiatan mengamati, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, meng- ukur, menganalisis data, dan menyimpulkan permasalahan serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

(28)

(a) perkembangan ilmu pengetahuan yang berlangsung begitu cepatnya, sehingga tidak mungkin lagi seorang guru memberilkan semua fakta dan konsep kepada peserta didik, (b) pada prinsipnya anak mempunyai motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk belajar. Hal ini bisa disebabkan oleh rasa ingin tahunya terhadap sesuatu, (c) semua konsep yang telah ditemukan melalui penyelidikan ilmiah tidak bersifat mutlak, sehingga masih terbuka untuk dipertanyakan, dipersoalkan, dan diperbaiki, dan (d) adanya sikap dan nilai-nilai yang perlu dikembangkan.

2. Pemanasan global

Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibatpeningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer, sedangkan Perubahan Iklim adalah suatu keadaan berubahnya pola iklim dunia

(Santoso,2011), Apabila suatu daerah mungkin mengalami pemanasan, tetapi daerah lain mengalami pendinginan yang tidak wajar. Akibat kacaunya arus dingin dan panas ini maka perubahan iklim juga menciptakan fenomena cuaca yang kacau, termasuk curah hujan yang tidak menentu, aliran panas dan dinginyang ekstrem, arah angin yang berubah drastis. Menurut Trenberth dkk, (2014 perubahan siklus air global/perubahan iklim sebagai respons terhadap pemanasan global, di suatu daerah mengalami kemarau yang panjang dan di daerah lain tidak mengalami.

(29)

12

yang mengakibatkan perubahan iklim ternyata memakan waktu yang panjang.Pemanasan global menimbulkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dan sebagainya).

Pemanasan global merupakan meningkatnya temperatur di planet bumi secara global yang menimbulkan dampak secara langsung maupun tidak langsung ter-hadap masa depan bumi termasuk manusia dan makhluk hidup lain. Peningkatan temperatur bumi tersebut meliputi temperatur atmosfir, laut dan daratan bumi. Hampir semua para ahli yang memiliki kepedulian dan perhatian terhadap

fenomena peningkatan temperatur bumi mensinyalir atau menuding bahwa penye-bab kenaikan temperatrur bumi tersebut adalah aktivitas-aktivitas manusia yang mendorong timbulnya gas efek rumah kaca. Dua model iklim global yang digabungkan menunjukkan bahwa bahkan jika konsentrasigas rumah kaca di atmosfer telah stabil pada tahun 2000, kamisudah berkomitmen untuk pemanasan global lebih lanjut sekitar setengah derajat lagidan tambahan kenaikan permukaan laut 320% yang disebabkan oleh ekspansi termal pada akhirnyaabad ke-21Meehl, (2005)

(30)

kebakaran hutan secara terus-menerus. Menurut Muhi ( 2011),Pemanasan global (Global Warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbon-dioksida (CO2), metana (CH4) dan dinitrooksida (N2O) sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global termasuk Indonesia yang terjadi pada kisaran 1,5–400C pada akhir abad 21.

Sumber dari segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini ber-wujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

(31)

badan-14

badan non pemerintah maupun lembaga internasional mengkhawatirkan bahwa fenomena pemanasan global ini jika dibiarkan akan berdampak luas dan akan mengancam kelangsungan kehidupan di dunia. Menurut Suarsana dan Wahyuni (2011), Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses

peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. Efek rumah kaca disebab-kan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2ini disebabkan oleh kenaikan pembakar-an bahpembakar-an bakar minyak. Upaya Khusus Mengatasi Global Warming adalah menanam pohon dan menggunakan bioenergi.Menurut (Waryono, 2002),

pemanasan global yang kini menjadi isu dunia, nampaknya mulai dirasakan oleh sebagian dari masyarakat, dengan berubahnya suhu udara, naiknya jumlah volume hujan dan munculnya genangan (banjir) di beberapa daerah. Atas dasar itulah pemberdayaan masyarakat untuk ikut berkiprah, merupakan salah satu bentuk sumbangsih kiat-kiat kepedulian dalam kaitannya dengan upaya pengendaliannya.

Menurut (Setyowati , Parmin &Widiyatmoko,2013) melalui wahana

pendidikan,seseorang dapat merubah cara pandang,meningkatkan kapasitas wawasan ekologinyasehingga dapat menggerakkan perilaku dan gaya hidup yang ramah lingkungan.Dampak perkembangan industri berupa pencemaran

(32)

dunia untuk melakukan upaya pencegahan efek global warming secara lebih luas(Damayanti,2013).

Perubahan iklim dunia merupakan tantangan yang paling serius yang dihadapipada abad 21. Perubahan iklim merupakan salah satu dampak dari pemanasan globalyang diakibatkan adanya efek rumah kaca karena meningkatnya konsen-trasi gas rumahkaca. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca ini

sebagaian besar diakibatkan olehkarena produksi dan pemanfaatan energi fosil. CO2merupakan gas rumah kaca yangkontribusinya terhadap pemanasan global mencapai lebih dari 60% dari total gas rumahkaca yang ada (Sugiyono,

2006).Salah satu penyebab pemanasan global adalah peningkatan emisi CO2di atmosfer.kondisi semacam ini membuat semakin panas dan mempengaruhi

keseimbangan di masa yang akan datang, es dikutub akan mencair, permukaan air laut naik,hingga terciptanya badai laut angin dan sederetan bencana dimasa datang.

Membiarkan kondisi lingkungan seperti itu, berarti kita siap menelantarkan masa depan anak-anak dan cucu kita kelak dengan warisan lingkungan yang semakin jelek. Menurut Hashim (2010), kajian terkini mengenai tren perubahan suhu global dibahagikan kepada dua jenis yaitu kajiansuhu sekitaran (ambien) dankajian suhu permukaan bumi dengan menggunakan penderiaanjauh.

(33)

16

Shepardson, et. al.(2011),As human activities continue to add greenhouse gases—

carbon dioxide, methane,and nitrous oxides—to the Earth’s atmosphere, global

temperatures are expected to rise, causing the Earth’s climates to change. These

climate changes may affect precipitation patterns, severe and extreme weather

events, and over time environmental systems. Furthermore, human health and

agriculture may be sensitive to climate change.Berdasarkan pendapat tersebut, aktivitas manusiaterus menambahgasrumah kacakarbon dioksida, metana, dan dinitrogenoksidake atmosfer bumi, suhu globaldiperkirakan akanmeningkat, menyebabkaniklimbumiberubah.Perubahaniklimini dapat mempengaruhipola curah hujan, peristiwacuaca burukdan ekstrim, danlebihsistem lingkunganwaktu. Selanjutnya, kesehatan manusiadan pertanianmungkin sensitifterhadap perubahan iklim.

3. Berpikir kritis

Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan. Perubahan yang cepat dalam berbagai bidang kehidupan menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan untuk memilih, mengolah dan mendapatkan

informasi atau pengetahuan dari berbagai sumber dengan efektif dan efisien. Peserta didik membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk menghadapi berbagai tantangan dan perubahan dimasa yang akan datang baik pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun pada dunia kerja.

(34)

tersebut ennis membagi kemampuan berpikir kritis menjadi 5 indikator kemampuan yaitu (a) memberikan penjelasan sederhana, (b) membangun

[image:34.595.110.517.284.750.2]

keterampilan dasar,(c) menyimpulkan, (d) memberikan penjelasan lebih lanjut, (e) mengatur strategi dan taktik menurut (Ennis,1996). Keterampilan berpikir kritis menurut Ennisyang terbagi 5 kerangka berpikir kritis memiliki indikator-indikator yang dirinci pada tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 1. Kerangka Berpikir Kritis Keterampilan Berpikir Kritis Sub Keterampilan Berpikir Kritis Indikator 1. memberikan penjelasan dasar 1. Memformulasi-kan pertanyaan

a. Mengidentifikasi atau

memformulasikan pertanyaan. b. Mengindentifikasi atau

memformulasikan kritria jawaban yang mungkin.

c. Menjaga pikiran terhadap situasi yang sedang dihadapi.

2. Menganalisis Argumen

a. Mengindetifikasi kesimpulan. b. Mengindentifikasi alasan

dinyata-kan.

c. Mengindentifikasi alasan

d. Mencari persamaan dan perbedaan. e. Mengindentifikasi dan menangani

ketidakrelevanan.

f. Mencaari struktur dari sebuah pendapat/argument.

g. meringkas. 3. Bertanya dan

menjawab pertanyaan klarifikasi dan pertanyaan yang menantang

a. Bertanya dan menjawab pertanyaan mengapa.

b. Apa yang menjadi alasan utama. c. Apa yang menjadi alasan utama d. Apa yang menjadi contoh. e. Apa yang bukan contoh.

f. Bagaimana mengaplikasikan kasus tersebut.

g. Apa yang menjadi perbedaannya. h. Apa faktanya.

i. Apakah ini yang kamu katakan. j. Apa yang akan kamu katakan

(35)

18 Keterampilan Berpikir Kritis Sub Keterampilan Berpikir Kritis Indikator keteampilan dasar gkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak

b. Mengurangi konflik interest. c. Kesepakatan antar sumber. d. Reputasi.

e. Menggunkan prosedur yang ada. f. Mengetahui resiko.

g. Kemampuan memberikan alasan. h. Kebiasaan berhati-hati.

5. Mengobservasi dan

mempertimban gkan hasil observasi

a. Mengurangi praduga/menyagka. b. Mempersingkat waktu antara

observasi dengan laporan.

c. Laporan dilakukan oleh pengamatan sendiri.

d. Mencatat hal-hal yang sangat diperlukan.

e. Penguatan.

f. Kemumungkinan dalam penguatan. g. Kondisi akses yang baik.

h. Kompeten dalam menggunakan teknologi.

i. Kepuasan pengamatan atas kredabilitas kriteria. 6. Mendeduksi

dan mem-pertimbangkan hasil induksi

a. Kelas logika.

b. Mengkondisikan logika.

c. Menginterprestasikan pernyataan. 3. Menyimpul-kan 7. Menginduksi dan memper-timbangkan hasil induksi a. Menggeneralisasi.

b. Berhipotesis atau menyimpulkan.

8. Membuat dan mengkaji nilai-nilai hasil pertimbangan

a. Latar belakan fakta. b. Konsekkuensi.

c. Menerapak konsep (prinsip-prinsip, hukum, dan asas).

d. Mempertimbangkan alternative. e. Menyeimbangkan, menimbang dan

memutuskan. 4. Membuat

penejelasan lebih lanjut

9. Mendeskrifsi-kan istilah dan mempertim-bagkan definisi

a. Bentuk : sinonim, klasifikasi, rntang, ekspresi yang sama,

oprasional, contoh dan non contoh. b. Strategi definisi.

c. Mengindentifikasi istilah dan mempertimbangkan definisi isi. 10.

Mengidentifi-kasi asumsi

a. Alasan yang tidak dinyatakan. b. Asumsi yang diperlukan

(36)

Keterampilan Berpikir Kritis

Sub Keterampilan Berpikir Kritis

Indikator

taktik suatu tindalkan b. Memilih kretria yang mungkin sebagai solusi permasalahan. c. Memrumuskan alternatif-alternatif

untuk solusi.

d. Memutuskan yang akan dilakukan. e. Meriview.

f. Memonitor implementasi. 12. Berinteraksi

dengan orang lain

a. Memberi lebel b. Stategi logis c. Strategi retorik

d. Mempresentasikan suatu posisi baik lisan atau tulisan

Ennis, (1996)

Berpikir kritis merupakanupaya yang gigih untuk menguji sesuatuyang dipercaya kebenarannya atau pengetahuandengan bukti-bukti yang mendukung

sehinggalebih lanjut dapat diambil kesimpulan yang tepat.Menurut Nugraha dkk (2013), Pemikir yang kritisdapat menghasilkan pertanyaan dan masalah yang penting, merumuskan dengan jelas, mengumpulkandan menilai informasi yang relevan,menggunakan ide-ide yang sifatnya abstrak, berpikirdengan pandangan yang luas dan berkomunikasisecara efektif.

Berpikir kritis penting untuk menghadapi isu-isu demokrasi lokal, nasional, dan internasional yang kompleks.Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah. Menurut Kartimi dan Liliasari (2012),Berpikir kritis

(37)

20

Orang yang berpikir kritis akan mengevaluasi dankemudian menyimpulkan suatu hal berdasarkan faktauntuk membuat keputusan (Dwijananti dan Yulianti,2010). Berpikir kritis tidak dapat diajarkan melalui metode ceramah, karena berpikir kritis merupakan proses aktif. Keterampilan intelektual dari berpikir kritis mencakup berpikir analisis, berpikir sintesis, berpikir reflektif, dan sebagainya harus dipelajari melalui aktualisasi penampilan (performance).Berpikir kritis dapat diajarkan melalui kegiatan laboratorium, inkuiri, term paper, pekerjaan rumah yang menyajikan berbagai kesempatan untuk menggugah berpikir kritis, dan ujian yang dirancang untuk mempromosikan keterampilan berpikir

kritis(Sadia, 2008).

4. Lembar Kerja Peserta Didik

Perubahan yang cepat dalam berbagai bidang kehidupan menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan untuk memilih, mengolah dan mendapatkan.Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) merupakan panduan bagi peserta didik dalam

memahami keterampilan proses dan konsep-konsep materi yang sedang dan akan dipelajari agar peserta didik memiliki kemampuan untuk memilih, mengolah dan mendapatkan, menurut (Damayanti, 2013)LKPD merupakan salah satu bahan ajar yang penting untuk tercapainya keberhasilan dalam pembelajaran fisika. Lembar kerja peserta didik (LKPD) yaitu materi ajar yang sudah dikemas

sedemikian rupa, sehingga peserta didik diharapkan dapat mempelajari materi ajar tersebut secara mandiri. Langkah-langkah aplikatif membuat LKPD yaitu1) Me-lakukan Analisis Kurikulum, 2) Menyusun Peta Kebutuhan LKPD, 3)

(38)

Menurut Astuti dan Setiawan (2013) LKPD terlihat rapi dan menarik, setiap komponen LKPD dapat terlihat dengan jelas, serta uraian LKPD mudah dibaca.Sedangkan menurut Patrisukma dan suhadi (2014) LKPDdikatakan menarik ketika LKPD tersebut dapat merangsang peserta didik untuk aktif dalam prosespembelajaran. Namun kata menarik ini tidak lepasdari kriteria-kriteria pembuatan LKPD yang baik danbenar sehingga dapat mengukur ranah kognitif danpsikomotor peserta didik.(Pariska, Elniati, dan Syafriandi, 2012), untuk menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan standar proses, perlu digunakan suatu Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) yang mengoptimalkan kegiatan pembelajaran. LKPD merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang berisikan petunjuk, daftar tugas, dan bimbingan melakukan kegiatan.

LKPD yang baik harus mampu mendorong partisipasi aktif peserta didik, dan mengembangkan budaya membaca dan menulis. Selain itu LKPD juga disusun memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran. Penggunaan LKPD diharapkan meningkatkan ke-mandirian peserta didik dalam belajar, percaya diri, disiplin, bertanggung jawab, dan dapat mengambil keputusan. LKPD juga dapat dimanfaatkan pada tahap pe-nanaman konsep atau pada tahap lanjutan dari pepe-nanaman konsep.

(39)

22

Menurut Ardiyanti (2014)LKPD merupakan stimulus atau bimbingan guru dalam pembelajaran yang akan disajikan secara tertulis sehingga dalam penulisannya perlu

memperhatikan kriteria media grafis sebagai media visual untuk menarik perhatian

peserta didik.Menurut pendapat Kasli dan sahin (2009)LKPDdikembangkan, langkah-langkahberikutnya adalah1)Menyiapkan topik

untukmempersiapkanLKPD, 2)keterampilan proses sains (KPS)diperoleh dariLKPD, 3)RancanganLKPDdisiapkan, 4)mempertimbangkan rekomendasi ahli, 5)Lembar kerjadirevisisesuai denganrekomendasiahli, 6)Lembar

kerjaditerapkansebagai studipercontohan untukguru(PST).

5. Science Environment Technology and Society

Kata SETS (Science Environment Technology and Society) dapat dimaknakan sebagai sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, merupakan satu kesatuan yang dalam konsep pendidikan mempunyai implementasi agar anak didik mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking).

Pembelajaran SETS dapat diawali dengan konsep-konsep yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar kehidupan sehari-hari peserta didik atau konsep-konsep rumit sains maupun non sains.Menurut Sefurohman(2013), Ada beberapa prinsip yang harusdimunculkan dalam pendekatan STM(Sains Teknologi

(40)

Menfokuskan pembelajaran pada akibat yang ditimbulkan oleh sains dan teknologi bagi peserta didik, 4) Pandangan bahwa pemahaman terhadap konten sains lebih berharga daripada sekedar mampu mengerjakan soal. 5) Adanya penekanan kepada keterampilan proses yang dapat digunakan peserta didik untuk menyelesaikan persoalannya sendiri, 6) Adanya penekanan pada kesadaran berkarir, terutama karir yang berhubungan dengan sains dan teknologi, 7) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengalaman tentang aturan hidup bermasyarakat yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang telah diidentifikasi.

Pada model pembelajaran STM sangat mempertimbangkan pengetahuan awal peserta didik dan memberikan peluang bagi peserta didik untuk mengungkap gagasan-gagasannya, (Smarabawa, Arnyana, dan Setiawan, 2013)Model

pembelajaran STM adalah model pembelajaran yang memanfaatkan isu-isu sains yang ada di lingkungan sekitar peserta didik untuk dibahas dalam

pembelajaran.Pengetahuan awal merupakan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dibawa oleh peserta didik ke dalam proses pembelajaran.

(41)

24

yang dapat terjadi dalam kesalingterkaitan antara konsep yang sedang dibelajar-kan dengan pengaruhnya dengan proses pembelajaran.Konsep sains dapat berguna apabila diterapkan dalam bentuk teknologi untuk memenuhi kebutuhan

masyarakat. Menurut Mursalin (2015) dalam visi SETS terkandung harapan bahwa dalam memanfaatkan sains untuk kepentingan masyarakat diantaranya dalam bentuk teknologi, diharapkan agar praksis dan produknya tidak merusak atau merugikan lingkungan dan masyarakat itu sendiri.

Apabila penerapan konsep sains tersebut banyak membawa dampak negatif terhadap lingkungan baik secara fisik maupun mental maka pendidikan SETS tidak menganjurkan penerapan konsep sains tersebut diteruskan ke dalam bentuk teknologi begitu pula sebaliknya.Menurut Nugraha dkk(2013) dengan

menggunakan bahan ajar bervisi SETS dan berorientasi konstruktivistik, guru dapat memberikan pijakan-pijakan dan memancing peserta didik untuk mencari keterhubungkaitan antara unsur-unsur dalam SETS sehingga kemampuanberpikir kritis peserta didik dapat meningkat.

Pembelajaran bervisi SETS yangmenghubungkaitan antara teori yang

(42)

pada pembelajaran yang bervisi SETS menurut Binadja dalam Nugraha dkk (2013) antara lain 1) Tetap memberi penekanan pada sains sebagai subjek

pembelajarannya, 2) Peserta didik dibawa ke situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat, 3) Peserta didik diminta untuk berpikir berbagai kemungkinan akibat yang terjadi dalam proses

pentransferan sains tersebut ke dalam bentuk teknologi, 4) Peserta didik diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur-unsur sains yang sedang dibahas dengan unsur-unsur lain dalam SETS yang mempengaruhi berbagai keterkaitan antara unsur-unsur tersebut, 5) Peserta didik dibawa untuk

mempertimbangkan manfaat dan kerugian dari penggunaan konsep sains tersebut bila diubah dalam bentuk teknologi yang berkaitan, 6) Dalam konteks

konstruktivisme, peserta didik dapat diajak berbincang tentang SETS dari

berbagai macam arah dan dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik yang bersangkutan.

Menurut Nugraha (2013) dengan menggunakan bahan ajar bervisi SETS dan berorientasi konstruktivistik, guru dapat memberikan pijakan-pijakan dan memancing peserta didik untuk mencari keterhubungkaitan antara unsur-unsur dalam SETS sehingga kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat meningkat. Representasi kompetensi gerak melingkar yang bervisi SETS dan digunakan untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik, sedangkan menurut (Ferawati,Rusilowati, dan Supriyadi,2012), Pendekatan SETS

(43)

26

berhasil meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi bencana alam banjir dan materi pokok bahasan perubahan lingkungan fisik.

B. Penelitian yang relevan

Damayanti (2014) melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) Dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing Untuk Mengoptimalkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Materi Listrik Dinamis SMA Negeri 3 Purworejo Kelas XTahun Pelajaran 2012/2013”. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan lembar kerja peserta didik (LKPD) dengan pendekatan inkuiri terbimbing untuk mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Mata pelajaran fisika merupakan mata pelajaran yang berkaitan erat dengan cara mencari tahu tentang gejala-gejala alam secara sistematis. Maka mata pelajaran fisika erat kaitannya dengan berpikir kritis, dan juga mata pelajaran fisika mampu menjadikan peserta didik lebih berpikir kritis. Sedangkan berpikir kritis sendiri merupakan kemampuan berpikir peserta didik untuk membandingkan dua atau lebih informasi dengan tujuan memperoleh pengetahuan melalui pengujian terhadap gejala-gejala menyimpang dan kebenaran ilmiah.

(44)

LKPD merupakan salah satu bahan ajar yang penting untuk tercapainya

keberhasilan dalam pembelajaran fisika. Lembar kerja peserta didik (LKPD) yaitu materi ajar yang sudah dikemas sedemikian rupa, sehingga peserta

didikdiharapkan dapat mempelajari materi ajar tersebut secara mandiri. Hasil penelitian ini adalah berdasarkan data yang diperoleh kemampuan berpikir kritis pada peserta didik berkategori “baik” yang berartiLKPD dengan pendekatan inkuiri terbimbing pada materi listrik dinamis dapat mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Namun penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan dalam memberikan bukti konkrit tentang efek keterampilan berpikir kritis pada peserta didik, karena untuk menyelidiki efektivitas secara komparatif, penelitian lebih lanjut harus dilakukan dan diyakini bahwa satu lembar kerja tidak cukup untuk mendapatkan keterampilan berpikir kritis.

Yulistiana (2015) melakukan penelitian dengan judul “Penelitian Pembelajaran Berbasis SETS (Science, Environment, Technology, And Society) Dalam

Pendidikan Sains”. Dalam pembelajaran SETS guru dan peserta didik sama-sama memiliki peran yang menetukan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Peran guru menciptakan pola berpikir yang melihat masa depan dengan berbagai

implikasinya, membawa peserta didik untuk selalu berpikir terintegratif, mengajak peserta didik berpikir kritis dalam menghadapi sesuatu dengan mengacu SETS. Pembelajaran yang berkualitas memiliki pengaruh yang signifikan dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas.

(45)

28

multimedia, yang digunakan untuk menyajikan informasi dalam bentuk yang menyenangkan, menarik, mudah dimengerti, dan jelas. Hasil dari penelitian ini adalah Pembelajaran Sains berbasis SETS (dilengkapi dengan multimedia interaktif) dapat meningkatkan hasil belajar, meningkatkan keterampilan proses dan keaktifan pada setiap kegiatan. Adanya respon positif dari peserta didik terhadap pembelajaran yang berbasis SETS, dan respon positif dari guru terhadap perangkat pembelajaran Sains yang dikembangkan dengan visi SETS. Namun penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan pada penggunaan media pembela-jaran. salah satunya LKPD agar dapat mengajak peserta didikberpikir kritis yang terarah dan sistematis.

C. Kerangka Berpikir

Proses pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum 2013 adalah menuntut pe-serta didik untuk berpikir kritis dan aktif dalam menyelesaikan masalah, sehingga peserta didik tidak lagi diberikan informasi secara langsung tetapi guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bisa menggali informasi sendiri. Materi pemanasan global merupakan salah satu materi yang diajarkan di kelas XI.

(46)

penuntun atau panduan agar kegiatan belajar mengajar lebih efektif dan efisien. Panduan yang dimaksud salah satunya adalah LKPD.

Lembar Kerja Peserta didik merupakan salah satu media pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan kecerdasan peserta didik dalam proses pembelajaran. Keaktifan dan kecerdasan peserta didikitu sendiri bisa didapatkan melalui ketrampilan berpikir kritis.

LKPD yang memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh peserta didik, membuat peserta didik dapat mengekplorasi kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian, peserta didik akan lebih leluasa kegiatan belajarnya, menemukan konsep pelajaran sekaligus menerapkan, dan memperdalam konsep sehingga dapat membantu peserta didik memahami materi pembelajaran yang diberikan. Akhirnya, aktivitas, respon, dan hasil belajar peserta didik diharapkan dapat menjadi lebih meningkat.

Pendidikan SETS harus mampu membuat peserta didik yang mempelajarinya baik siswa maupun warga masyarakat benar-benar mengerti hubungan tiap-tiap elemen dalam SETS. Hubungan yang tidak terpisahkan antara sains, lingkungan,

teknologi dan masyarakat merupakan hubungan timbal balik dua arah yang dapat dikaji manfaat-manfaat maupun kerugian-kerugian yang dihasilkan. Pada

(47)

30

[image:47.595.84.530.285.740.2]

Mempertimbangkan berbagai kebutuhan di atas, diperlukan LKPD bervisi SETS untuk membangun keterampilan berpikir kritis. LKPD yang dikembangkan berisi indikator LKPD yang berstruktur dan digunakan oleh setiap peserta didik di dalam kelas. LKPD yang dibuat lebih menarik agar peserta didik tidak merasa bosan saat menggunakannya, lebih mudah untuk dipelajari, dan dapat membantu peserta didik dalam memahami materi pelajaran yang abstrak seperti pemanasan global. Untuk dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut diagram kerangka pemikiran yang disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Proses pembelajaran

Pemanasan global

Inovasi Proses pembelajaran Pemanasan global

Masalah:

1. Keterbatasan bahan ajar (LKPD) yang dapat menumbuhkan keterampilan berpikir kritis.

2. Siswa belum terlibat aktif dalam proses pembelajaran

Proses pembelajaran pemanasan global yang

lebih efektif

Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik

Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik

Sains, Lingkungan, Teknologi, Dan Masyarakat

(48)

III. METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (research and development). Penelitianpengembangan adalah penelitian yang berorientasi untuk mengembangkan danmemvalidasi produk-produk yang digunakan dalam

pendidikan.Penelitian dan pengembangan di sini mencakup proses pengembangan dan validasi produk Borg dan Gall (2003).Pengembangan penelitian yang dilakukan adalahmengembangkanLKPD pemanasan global bervisi SETS untukmenumbuh-kanketerampilanberfikiruntuk SMA/MA.Rangkaian tahap yang harus dilakukan seperti diungkapkan Borg and Gall(2003), yaitu penelitian awal dan pengumpulan informasi, perencanaan,pengembangan produk awal, uji coba produk awal, revisi produk utama, ujicoba produk utama, revisi produk operasional, uji coba produk operasional,revisi produk final, dan diseminasi dan implementasi.Tiga tahap terakhir tidak dilakukan karena produk yang dihasilkan tidak berskala besar.

B. Prosedur Pengembangan

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (research and development) mengacu pada dari Borg & Gall (2003). Langkah-langkah

(49)

32

pengumpulan informasi (research and information collection), (2) perencanaan (planning), (3) pengembangan produk pendahuluan (develop premilinary form of product), (4) uji coba pendahuluan (preliminary field study), (5) revisi terhadap produk utama (main product revision), (6) uji coba utama (main field testing), (7) revisi produk (product revision), (8) uji coba operasional (operational field testing), (9) revisi produk akhir (final product revision), dan (10) desiminasi dan distribusi (dessimination and distribution).Dari sepuluh langkah prosedur

[image:49.595.115.491.388.721.2]

penelitian pengembangan yang dikembangkan oleh Borg and Gall, pada penelitian ini implementasinya hanya sampai pada langkah ke tujuh. Hal ini dilakukan karena keterbatasan waktu maupun biaya pada penelitian, alur penelitian pengembangan yaitu :

Gambar 2. Alur Tahap Penelitian dan Pengembangan

Langkah 1 StudiPendahuluan

Analisis SK/KD Langkah 2

Perencanaan Pengembangan

Langkah 3 Desain Produk Awal

Langkah 4 Uji Coba Pendahuluan

Langkah 5

Revisi produk operasional

Langkah 6 Uji CobaProdukUtamaS

Langkah 7 ProdukAhir

Studi Literatur

Observasi/analisisKebutuhan

 Analisis bentuk

 Mengumpulkan bahan

 Pembuatan LKPD

 Uji coba kelompok kecil

 Evaluasi ahli

 Uji Efektifitas

 Uji Efisiensi

(50)

1. Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan melakukan 2 tahap yaitu analisis setudi lapangan dan analisis studi literatur. Tahap studi lapangan dilakukan melalui penyebaran angket pada guru untuk apakah guru menggunakan bahan ajar berupa LKPD untuk meningkat-kan kemampuan berpikir kritis peserta didik sedangameningkat-kan pemberian angket pada peserta didik untuk mencari tahu kemampuan konsep awal peserta didik. Pada tahap studi pendahuluan berupa studi literatur.

Studi literatur dilakukan dengan mengkaji dan menganalisis beberapa jurnal yang berkaitan dengan rencana penelitian, pengumpulan informasi temuan penelitian /teori belajar, dan kajian kurikulum yang ditinjau pada bentuk bagaimana penyusunan silabus, menetapkan KI/KD, menetapkan indicator pembelajaran, sampai pada merumuskan KKM serta pencapaian indicator pembelajaran meng-arahkan pada pembuatan LKPD pemanasan global bervisi SETS untuk mening-katkan kemampuan berpikir kritis,

2. Perencanaan danPengembangan

(51)

34

pembimbing siswa untuk dapat menemukan serta membangun pengetahuan sesuai dengan mata pelajaran yang dibahas, dengan mengkaji fase-fase proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran pemanasan global dari berbagai model pembelajaran.

Adapun struktur Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) secara umum adalah: (1) judul, (2) petunjuk belajar, (3) kompetensi yang dicapai, (4) informasi pendukung, dan (5) tugas dan langkah kerja. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) adalah suatu lembar kegiatan siswa yang disusun peneliti dan disebarkan kepada siswa uji coba untuk me-mudahkan siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru berupa petunjuk langkah–langkah dalam mengerjakan tugas siswa dengan materi yang diajarkan. Langkah-langkah yang dilakukan pada pengembangan produk awal adalah :

1. Membuat Draf LKPD SETS.

2. Membuat LKPD bervisi SETS pada materi pemanasan global.

3. Tahap Uji Lapangan

(52)

ahlimateri.Instrumen yang digunakan adalah angket. Instrumen angket uji ahli digunakan untuk mengumpulkan data tentang kelayakan produk berdasarkan kesesuaian atau tidaknya sebagai sumber belajar.

uji satu 1-1 dengan kelompok guru yang memiliki sertifikat propesional untuk mengetahui kesesuaian, kemanfaatan, dan kemenarikandari LKPD yang dikembangkan. Uji coba satu lawan satu adalah uji coba pada guru untuk mengetahui respon awal dari guru mengenai kesesuaian, kemanfaatan, dan efektivitas implementasi model pembelajaran pemanasan global yang telah dikembangkan.

Data validasi diperoleh dengan cara memberikan lembar validasi kepada para ahli yang berperan sebagai validator sebagai penilaian terhadap LKPD yang di-kembangkan. Hasil validasi digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk me-revisi model pembelajaran yang dikembangkan. Revisi bertujuan untuk memper-baiki produk awal sehingga layak dilakukan pada setiap jenis uji coba terbatas berikut-nya berdasarkan masukan dari siswa dan ahli melalui angket.

(53)

36

[image:53.595.106.507.180.267.2]

and posttest) with control group design. Desain penelitian digambarkan dalam tabel 2 berikut ini :

Tabel 2. Desain pretest-postest kelompok kontrol tanpa acak

Kelompok Pretest Perlakuan (variabel bebas) Posttest (varibel terikat) Ekperimen

Kontrol

O1 O1

X

-O2 O2

SelanjutnyaUji lapangan disebut juga uji kemanfaatan produk yang bertujuan untuk mengetahui efisiensi, efektifitas serta kemenarikan. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui efektifitas adalah instrumen tes. Untuk mengetahui efisiensi dilakukan dengan membandingkan waktu yang diperlukan dengan waktu yang digunakan siswa dalam pembelajaran.Pada tahap ini dilakukan uji coba kembali pada kelas yang berbeda yang belum digunakan pada uji coba terbatas. Berdasarkan hasil uji coba lapangan dilakukan penyempurnaan produk, mengacu pada kriteria tampilan, kemenarikan dan kemudahan penggunaan LKPD.

C. Subjek Uji Coba

(54)

Proses pengerjaannya sebagai berikut.

1. Membagi populasi kedalam beberapa sub kelompok.

2. Memilih satu atau sejumlah kelompok dari kelompok-kelompok tersebut. Pemilihan kelompok-kelompok itu dilakukan secara random

3. Menentukan sampel dari satu atau sejumlah kelompok yang terpilih secara random.

D. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam metode penelitian ilmiah karena pada umumnya data yang dikumpulkan, diguna-kan, untuk penelitian eksplorasi dalam menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Dalam menyelesaikan tesis ini, penelitian yang dipergunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif sehingga penyajiannya secara induktif. Jadi, data yang tersaji berbentuk narasi berdasarkan data-data yang diperoleh.

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dilaksanakan melalui: Angket, lembar observasi, dan tes pencapaian.

1. Angket

(55)

38

desain dan isi materi pada produk yang telah dikembangkan. Instrumen angket respon pengguna digunakan untuk mengumpulkan data tentang keterbacaan, kemudahan, dan kemanfaatan produk.

2. Tes

Data yang dikumpulkan merupakan data tentang hasil tes tertulis berisi tentang indikator-indikator untuk mengumpulkan data kemampuan siswa berpikir kritis dan dilakukan untuk mengetahui tingkat keefektifan produk yang dikembangkan. Tes ini dilakukan pada siswa kelas XI SMA Negeri sebagai obyek penelitian, yang terdiri dari satu kelas sebagai kelas eksperimen yaitu pembelajaran menggunakan LKPD pemanasan global bervisi SETS untuk membangun kete-rampilan berpikir kritis dan satu kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional

(56)

E. Teknik Analisis Data

Setelah data hasil angket analisis kebutuhan guru dan siswa diperoleh, data tersebut digunakan untuk menyusun latar belakang dan tingkat kebutuhan produk yang akan dikembangkan. Data kesesuaian materi pembelajarandan desain pada produk diperoleh dari ahli materidanahli desainmelalui uji validasi ahli. Data kesesuaian tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan produk yang dihasilkan. Data keterbacaan, kemudahan, dan kemanfaatan produk LKPD diper-oleh dari uji lapangan yang dilakukan secara langsung kepada siswa. Sedangkan data tingkat keefektifan produk diperoleh melalui tes tertulis sebelum dan setelahproduk digunakan.

Sebelum dilakukan analisis tingkat keefektivan, untuk mengetahui bahwa data yang dihasilkan berdistribusi normal dan berasal dari varians yang sama, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Selanjutnya analisis data hasiltesuntukmengukurtingkatkeefektifan pada tahap uji coba pemakaian (Pre-test-Posttest Control Group Design)menggunakanuji beda 2 mean antara kelas eksperimen dan kelas kontrol menggunakan SPSSpada taraf nyata α = 5 %,

Tingkat efektifitas produk berdasarkan rata-rata nilai gain ternormalisasi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

i m i f S S S S g          Keterangan:

(57)

40

<Si> = nilai pretest Sm = nilai maksimum

[image:57.595.113.435.236.391.2]

Nilai rata-rata gain ternormalisasi kemudian diklasifikasikan seperti tabel 3 berikut ini:

Tabel 3. Nilai Rata-rata Gain Ternormalisasi dan Klaslifikasinya Rata-rata Gain

Ternormalisasi

Klasifikasi

Tingkat Keefektifan <g>≥0,70 Tinggi Efektif

0,30≤ <g><0,70 Sedang Cukup Efektif <g>< 0,30 Rendah Kurang Efektif

Sumber: Hake (2000)

Analisis data yang dilakukan berdasarkan instrumen uji validasi ahli dan ujilapangan, bertujuan untuk menilai sesuai atau tidak produk yang dihasilkan sebagai salah satu sumber pembelajaran. Pada instrumen angket penilaian uji validasi ahli memiliki 2 pilihan jawaban yang sesuai dengan konten pertanyaan. Instrumen penilaian kesesuaian materi pembelajarandan desain pada produk memiliki 2pilihan jawaban, yaitu: “ Ya” dan “Tidak”. Revisi dilakukan pada konten pernyataan yang diberijawaban “tidak”, atauahli member masukan khusus terhadap produk yang telah dibuat.

Data keterbacaan produk, kemudahan produk, dan kemanfaatan produk, diperoleh pada uji lapangan. Instrumen angketuntuk memperoleh data keterbacaan produk memiliki 4 pilihan jawaban yang sesuai dengan konten pertanyaan, yaitu: “tidak

(58)

memperoleh data kemudahan produk memiliki 4 pilihan jawaban, yaitu: “tidak

mudah”,” cukup mudah”,”mudah”,dan “sangat mudah”. Instrumen angket untuk

memperoleh data kemanfaatan produk memiliki 4 pilihan jawaban, yaitu: “tidak

bermanfaat”,”cukup bermanfaat”,”bermanfaat”,dan“sangat ber-manfaat”.

[image:58.595.116.489.330.488.2]

Penskoran jawaban responden dalam uji keterbacaan, uji kemudahan, dan uji ke-manfaatan penggunaan LKPD hasil pengembangan berdasarkan skala Likert (Sugiyono, 2009), seperti pada Tabel 4.

Tabel 4. Skor Penilaian terhadap Pilihan Jawaban.

Uji Keterbacaan Uji Kemudahan Uji Kemanfaatan Skor Sangat Terbaca Sangat Mudah Sangat Bermanfaat 4

Terbaca Mudah Bermanfaat 3

Cukup Terbaca Cukup Mudah Cukup Bermanfaat 2 Tidak Terbaca Tidak Mudah Tidak Bermanfaat 1

Sumber: Sugiyono (2009)

Skor secara keseluruhan mengenai tingkat keterbacaan, kemudahan, dan

kemanfaatan LKPD hasil pengembangan menggunakan tafsiran Arikunto (1997) seperti pada Tabel 5.

Tabel 5.Tafsiran Skor PenilaianMenjadiPernyataanNilaiKualitas Skor (Persentase) Kriteria

[image:58.595.113.377.636.752.2]
(59)

42

20,1%–40,0% Rendah 0,0%–20,0% Sangat rendah

Sumber: Arikunto (1997)

F. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji perbedaan dua rata-rata dan dilakukan pada n-Gain. Uji perbedaan dua rata-rata ada uji prasyarat yang harus dilakukan, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.

1) Uji Normalitas

Uji normalitas berfungsi untuk mengetahui apakah sampel penelitian berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak dan untuk menentukan uji selanjutnya apakah menggunakan statistik parametrik atau non parametrik. Hipotesis untuk uji normalitas adalah sebagai berikut:

Ho : kedua sampel berdistribusi normal H1 : kedua sampel tidak berdistribusi normal

2) Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa sampel penelitian berawal dari kondisi yang sama atau homogen, yang selanjutnya untuk menentu-kan uji yang amenentu-kan digunamenentu-kan dalam pengujian hipotesis. Uji homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel mempunyai varians yang sama (populasi dengan varians yang homogen) atau sebaliknya. Untuk menguji homogenitas varians dapat menggunakan uji F dengan hipotesis sebagai berikut:

(60)

H1: σ12 ≠σ 2

2 ( kedua populai memiliki varians yang tidak homogen)

3) Uji Perbedaan Dua Rata-rata

Uji perbedaan dua rata-rata digunakan untuk menentukan seberapa efektif

perlakuan sampel dengan melihat n-Gain ternormalisasi kemampuan bepikir kritis dasar siswa yang berbeda secara signifikan antara pembelajaran menggunakan LKPD hasil pengembangan dengan pembelajaran yang tidak menggunakan LKPD hasil pengembangan pada siswa kelas XI SMA Negeri 3 Metro.

Rumusan hipotesis untuk uji ini adalah :

Ho : Rata-rata n-Gainkemampuan bepikir kritis dasar siswa dengan

pembelajaran menggunakan LKPD hasil pengembangan lebih rendah atau sama dengan rata-rata n-Gainkemampuan bepikir kritis dasar siswa dengan pembelajaran yang tidak LKPD hasil pengembangan pada materi

pemanasan global. Ho : µ1x≤ µ2x

H1 : Rata-rata n-Gainkemampuan bepikir kritis dasar siswa dengan

pembelajaran menggunakan LKPD hasil pengembangan lebih tinggi dari rata-rata n-Gainkemampuan bepikir kritis dasar siswa dengan

pembelajaran yang tidak menggunakan LKPD hasil pengembangan pada materi pemanasan gobal.

H1 : µ1x> µ2x Keterangan:

(61)

44

(62)

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilaukan, dapat disimpul-kan sebagai berikut.

1. Produk hasil penelitian dan pengembangan adalah berupa LKPD pemanasan global bervisi SETS untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang valid a) proses sains yang disajikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran mengamati dan memaknai grafik perubahan suhu, b) proses environment yang disajikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran memberikan kesimpulan pada gambar fenomena pemanasan global, c) technology yang disajikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran bagaimana peserta didik memberikan

penjelasan secara benar terhadapt aktivitas manusia, d) society yang disajikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan strategi atau ide(gagasan) mengurangiaktivitas manusia yang dapat menyebabkan pemanasan global.

2. LKPD hasil pengembangan memiliki tingkat kemenarikan dengan skor rata-rata 3,27 atau 81,74% dengan kategori “menarik”, tingkat kemudahan dengan

(63)

99 kemanfaatan dengan skor rata-rata 3,21 atau 80,13% dengan kategoti

“bermanfaat”.

3. LKPD hasil pengembangan dinyatakan cukup efektif untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dengan rata-rata N-gain sebesar 0,63 dengan kategori sedang.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:

1. LKPD hasil pengembangan diharapkan dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar yang digunakan untuk merancang pembelajaran yang aktif dan inovatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

2. LKPD hasil pengembangan dapat digunakan dalam proses pembelajaran dan dapat dikembangkn oleh guru dengan mengkombinasikan dengan metode pembelajaran yang sesuai.

(64)

Ardiyanti, Y. 2014. Penggunaan Lembar Kerja (LK) Terbuka untuk Peningkatan Pemahaman Konsep dan Berpikir Kreatif Pada Mata Kuliah Biologi Umum. Jurnal Ilmiah Solusi Vol. 1 No.1 Januari–Maret 2014: 18-21 Arikunto, S. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:

Rineka Cipta.

Astuti,Y.& Setiawan B. 2013. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS)

Berbasis Pendekatan Inkuiri Terbimbing dalam Pembelajaran Kooperatif pada Materi Kalor .Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 2(1) 88-92

Birdsall, S. 2013. Reconstructing the Relationship Between Science and Education for Sustainability: A Proposed Framework of Learning. International Journal of Environmental and Science Education, 8(3), 451-478.

Borg, W. R. & Gall, M. D. 1989. Educational Research an Introduction. New York: Longman.

Dwijananti, P. & yulianti D. 2010. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Melalui Pembelajaran Problem Based Instruction pada Mata Kuliah Fisika Lingkungan. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 6, 108-114, ISSN: 1693-1246.

Ching, H. S., & Fong, S. F., 2013. Effects of Multimedia-Based Graphic Novel Presentation on Critical Thinking Among Students of Different Learning Approaches. TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology, 12(4).

Damayanti, D. S. 2013. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing untuk Mengoptimalkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Materi Listrik Dinamis SMA Negeri 3 Purworejo Kelas X Tahun Pelajaran 2012/2013. RADIASI-Pendidikan Fisika, 3(1), 58-62.

Damayanti &Pentiana, D. 2013. "Global Warming" in the Perspective of

(65)

Duron, R., Limbach, B., & Waugh, W. 2006. Critical Thinking Framework for Any Discipline. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education, 17(2), 160-166.

Ennis, H Robert, 1996. Critical Thinking. University of Illinois: Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey 07458.

Ferawati, F. Rusilowati, A, Supriyadi.2012. Keefektifan Pembelajaran Bencana Alam Bervisi SETS Terintegrasi dalam IPA dengan Media Animasi dan Lembar Pertanyaan. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 8,184-189. ISSN: 1693-1246

Hadzigeorgiou, Y., & Skoumios, M. 2013. The Development of Environmental Awareness through School Science: Problems and Possibilities.

International Journal of Environmental and Science Education, 8(3), 405-426.

Hake, R.R. 2000. Interactive-Engagement Vs Traditional Methods: A Six

Thousand Student Survey of Mechanics Test Data for Introductory Physics Courses. American Journal Of Physics, Vol. 66, p. 64-74

Harnani, S., & Suyatna, A. 2015, October. LKS Pemanasan Global Bervisi SETS Berorientasi Kontruktivistik Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. In Prosiding Seminar Nasional Fisika (E-Journal) (Vol. 4, Pp. Snf2015-II).

Hashim, N. 2010. Analisis Tren Pemanasan Global dan Kesannya terhadap Aspek Dayahuni Bandar di Malaysia. Malaysian Journal of Society and Space, 6 issue 2 (72 - 88).

Juwita, R., Haryono &Hariwibawanto. 2011. Pengembangan Model Pembelajaran Konstruktivistik Menggunakan LMS Moodle Di Smp Negeri 21 Semarang. Innovative Journal of Curriculum and Educational Technology 1 (1).

Kılınç, A., Boyes, E., & Stanisstreet, M. 2011.Turkish School Students and Global Warming: Beliefs and Willingness to Act. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 7(2), 121-134.

Kartimi & Liliasari. 2012. Pengembangan Alat Ukur Berpikir Kritis pada Konsep Termokimia untuk Siswa SMA Peringkat Atas dan Menengah Jurnal Pendidikan IPA Indonesia (1)21-26

Figure

Tabel 1. Kerangka Berpikir Kritis
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Gambar 2. Alur Tahap Penelitian dan Pengembangan
Tabel 2. Desain pretest-postest kelompok kontrol tanpa acak
+3

References

Related documents

The SOP templates provided on this website are developed based on a format following the National Academy of Science (NAS) Laboratory Chemical Safety Summary Sheets (LCSS). As such

The current system may need some technical adjustments, but it has the right goals and takes the right approach — help under-funded school districts and the most vulnerable tax-

As mentioned above, multiple exchange rates with a number of restrictions and trade protection may have allowed the economy to have such an appreciated real exchange rate without

However, the main novelty of the proposed framework is the introduction of an ML estimator to improve the forecasting quality provided by standard stochastic models, where

In this study, we used high-throughput sequencing to investigate the sequence specificity of mC oxidation by Tet1 protein.. The library was subjected to Tet-reactive- specific

MicroStrategy, MicroStrategy 6, MicroStrategy 7, MicroStrategy 7i, MicroStrategy 7i Evaluation Edition, MicroStrategy 7i Olap Services, MicroStrategy 8, MicroStrategy Evaluation

While delivering economic growth, creating jobs and supporting EU companies, especially small and medium-sized enterprises (SMEs), the EU trade policy must also

The TEAL approach is about Teaching and Learning (TnL) process that uses technology to assist in producing active learning activities. This process focus on learning