• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
58
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGEMBANGAN PANDUAN PRAKTIKUM IPA SMP BERBASIS MODEL COLLABORATIVE TEAMWORK LEARNING

(Skripsi)

Oleh SUNDARI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGEMBANGAN PANDUAN PRAKTIKUM IPA SMP BERBASIS MODEL COLLABORATIVE TEAMWORK LEARNING

Oleh Sundari

Pembelajaran IPA di sekolah tidak dapat terlepas dari kegiatan praktikum. Pelaksanaan kegiatan praktikum membutuhkan panduan yang dapat menuntun siswa, namun disekolah belum tersedia panduan praktikum khusus sehingga guru harus membuat petunjuk dalam bentuk lembaran sebagai panduan siswa. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dilakukan penelitian pengembangan untuk menghasilkan panduan praktikum IPA SMP berbasis model collaborative teamwork learning untuk siswa kelas VIII di SMP Negeri 22 Bandarlampung

pada materi getaran dan gelombang yang tervalidasi, menarik, memudahkan, bermanfaat, dan efektif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian research and development atau penelitian pengembangan. Telah dilakukan uji ahli produk

yang terdiri dari uji ahli desain dengan diperoleh skor 3,50 (sangat layak), uji ahli materi dengan hasil materi sudah baik. Uji kemenarikan, kemudahan, dan kebermanfaatan yang telah dilakukan oleh siswa diperoleh kemenarikan dengan skor 3,14 (menarik), kemudahan dengan skor 3,09 (mudah), dan kebermanfaatan dengan skor 3,17 (bermanfaat).

(3)

PENGEMBANGAN PANDUAN PRAKTIKUM IPA SMP BERBASIS MODEL COLLABORATIVE TEAMWORK LEARNING

Oleh SUNDARI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Fisika

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)
(5)
(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tulang Bawang pada tanggal 04 Oktober 1994 sebagai anak ketiga dari enam bersaudara pasangan Bapak Suparmo dan Ibu Suprihatin. Penulis mengawali pendidikan formal di SD Negeri 2 Indraloka 2 pada tahun 2001 dan diselesaikan pada tahun 2007, melanjutkan di SMP Negeri 1 Way Kenanga pada tahun 2007 yang diselesaikan pada tahun 2010, lalu melanjutkan studi pada tahun 2010 di SMA Negeri 1 Way Serdang yang diselesaikan pada tahun 2013. Pada Juli 2013 penulis dinyatakan diterima untuk melanjutkan studi di Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

(8)

MOTTO

“pikirkan yang dikerjakan, kerjakan yang dipikirkan ”

(Sundari)

“Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang

tersenyum”

(Mahatma Gandhi)

“Tiadanya keyakinanlah yang membuat orang takut menghadapi tantangan; dan saya percaya pada diri saya sendiri”

(9)

PERSEMBAHAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan limpahan rahmat-Nya dan semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan kerendahan hati, penulis mempersembahkan karya sederhana ini sebagai tanda bakti kasih tulus dan mendalam kepada:

1. Orang tuaku tercinta, Bapak Suparmo dan Ibu Suprihatin yang telah sepenuh hati membesarkan, mendidik, mendo’akan, sertamendukukung segala bentuk perjuangan anaknya. Semoga Allah senantiasa menguatkan langkahku untuk selalu membahagiakan dan membanggakan kalian.

2. Kakak-kakak dan adik-adikku tersayang, yang telah memberikan doa dan semangatnya untuk segala perjuanganku.

3. Keponakan tercinta, Dhani Azzmi Novriyan beserta seluruh keluarga besarku tersayang yang senantiasa memberikan dukungan, semangat dan motivasi terbaiknya.

4. Para pendidik yang senantiasa memberikan didikan dan bimbingan terbaik kepadaku dengan tulus dan ikhlas.

5. Semua sahabat-sahabatku yang begitu sabar menemani langkah juangku dan senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

(10)

SANWACANA

Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah SWT, karena atas nikmat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fisika di FKIP Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. H. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung.

2. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.

3. Bapak Drs. Eko Suyanto, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, arahan dan motivasi dalam proses penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Dr. Undang Rosidin, M.Pd., selaku Pembimbing Akademik sekaligus Pembimbing I, atas kesabarannya dalam memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada penulis selama proses menyelesaikan skripsi.

5. Bapak Ismu Wahyudi, S.Pd., M.Pfis., selaku Pembimbing II yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang bersifat positif, motivasi dan bimbingan kepada penulis selama menyelesaikan skripsi.

(11)

7. Ibu Hj. Rinawati, S.Pd., M.Pd. selaku guru mata pelajaran IPA di SMP Negeri 22 Bandarlampung sekaligus evaluator uji ahli materi panduan praktikum, terima kasih atas waktu dan masukannya.

8. Bapak dan Ibu dosen Pendidikan Fisika Universitas Lampung yang telah membimbing penulis dalam pembelajaran di Universitas Lampung. 9. Ibu Setiyani, S.Pd. selaku guru mata pelajaran IPA di SMP Negeri 22

Bandarlampung, yang telah membimbing dan mengarahkan selama kegiatan penelitian.

10. Seluruh Bapak dan Ibu dewan guru SMPN 22 Bandarlampung, beserta staf tata usaha yang membantu penulis dalam melakukan penelitian.

11. Almamater tercinta Universitas Lampung.

12. Sahabat terbaik yang ku sayangi Riky Ardiyansyah, Dede Indra Komara, Yeni Apriyanti, Siti Ningrum, dan Nova Hartika Sari terima kasih karena selalu sabar dalam menemani dan membantu dalam menyelesaikan masa studi.

13. Sahabat seperjuanganku selama di kampus Akhwat Soleha, Safura Rizki Azizah, Nurul Rachma O, Dian Anggraini, dan Winda Wijayanti. Terima kasih atas kesabaran bersamaku selama perjalanan kuliah ini.

14. Sahabat seperjuangan kelompok microteaching, Anita Damayanti, Arwi Rinaldo, Dede Indra, Deni Mulyanto, Maghfira Alimatussaumi, Lulu Lasmita Dewi, Siti Ningrum, dan Tiara Melati. Terima kasih untuk suka duka dan cerita bersama yang luar biasa.

(12)

16. Sahabat PEPADUN, Tiara Melati, Tiara Novi A, Susi Gustina, Suhaesti Julia Ningsih, Oki Sukmawa, dan Nopian Nawawi. Terima kasih telah menjadi tim seperjuangan yang baik.

17. Seluruh teman-teman seperjuangan Pendidikan Fisika 2013 kelas A dan B yang aku sayangi dan tidak bisa ku sebutkan satu per satu, terima kasih telah menjadi bagian dari potongan puzzle dalam rangkaian kehidupanku.

18. Adik-adikku di Almafika terimakasih keceriannya selama ini.

19. Sahabat terbaikku alumni XII IPA SMA Negeri 1 Way Serdang angkatan 2010, terima kasih senantiasa menyemangati, menguatkan dan

mengingatkanku dalam kebaikan dan kesabaran.

20. Teman KKN sekaligus PPL ku di SMP Negeri 3 Gunung Sugih, Rere, Leni, Uun, Irene, Indah, Monice, Wahyu, Eka, dan Ferdi. Terima kasih untuk segenap cerita bersama.

21. Adik-adikku di SMP N 3 Gunung Sugih, terima kasih telah menorehkan warna lain dalam hidupku.

22. Kepada semua pihak yang telah membantu perjuang terselesaikannya skripsi ini.

Penulis berdoa semoga semua amal dan bantuan yang telah diberikan mendapat pahala dari Allah SWT dan semoga skripsi ini bermanfaat. Amiin.

Bandar Lampung, Mei 2017 Penulis,

(13)

i DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Ruang Lingkup ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori... 7

1. Media Pembelajaran ... 7

2. Panduan Praktikum... 10

3. Model Collaborative Teamwork Learning ... 11

4. Getaran dan Gelombang ... 16

B. Kerangka Pikir... 22

C. Desain Hipotetik... 23

III. METODE PENELITIAN A. Desain Pengembangan ... 29

B. Subjek Evaluasi Pengembangan Produk ... 30

C. Prosedur Pengembangan ... 30

1. Potensi dan masalah ... 30

2. Pengumpulan data ... 31

3. Desain Produk ... 31

4. Validasi desain ... 32

5. Revisi desain ... 32

6. Ujicoba produk ... 32

7. Revisi produk ... 32

D. Teknik Pengumpulan Data... 33

(14)

ii

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Pengembangan ... 37

1. Potensi dan Masalah... 37

2. Informasi Pendukung ... 38

3. Desain Produk ... 39

4. Validasi Produk ... 41

5. Revisi Produk ... 44

6. Uji Coba Pemakaian Produk ... 44

B. Pembahasan ... 45

1. Validasi Panduan Praktikum Berbasis Model collaborative teamwork learning... 46

2. Kemenarikan, Kemudahan, dan Kemanfaatan Panduan Praktikum Berbasis Model collaborative teamwork learning.. 47

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Simpulan... 52

(15)

iii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Desain Awal Pengembangan Panduan Praktikum ... 26 2. Skor Penilaian terhadap Pilihan Jawaban ... 35 3. Konversi Skor Penilaian Menjadi Pernyataan Nilai

Kualitas ... 36 4. Hasil Uji Ahli Desain Panduan Praktikum Berbasis Model

Collaborative Teamwork Learning... 42 5. Respon dan Penilaian Siswa dalam Uji Satu Lawan Satu terhadap

(16)

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Getaran pada Bandul ... 16

2. Arah Rambat dan Arah Getar Gelombang Tali ... 20

3. Panjang Gelombang Transversal ... 20

4. Arah Rambat dan Arah Getar Gelombang Longituinal ... 20

5. Panjang Gelombang Longitudinal pada Slinki ... 21

6. Skema Kerangka Berpikir... 23

7. Model Pengembangan dalam Penelitian Menurut Sugiyono ... 30

(17)

v

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Kisi-Kisi Angket Kebutuhan Siswa ... 58

2. Angket Kebutuhan Siswa... 59

3. Analisis Angket Kebutuhan Siswa... 61

4. Kisi-Kisi Angket Kebutuhan Guru ... 64

5. Angket Kebutuhan Guru ... 65

6. Analisis Angket Kebutuhan Guru ... 67

7. Lembar Observasi Sarana dan Prasarana ... 69

8. Storyboard Panduan Praktikum ... 70

9. Kisi-Kisi Instrumen Uji Ahli Desain ... 74

10. Instrumen Uji Ahli Desain ... 75

11. Hasil Uji Ahli Desain ... 77

12. Kisi-Kisi Instrumen Uji Ahli Materi... 80

13. Instrumen Uji Ahli Materi ... 82

14. Hasil Uji Ahli Materi ... 87

15. Kisi-Kisi Instrumen Uji Kemenarikan, Kemudahan, dan Kebermanfaatan ... 92

16. Instrumen Uji Kemenarikan, Kemudahan, dan Kebermanfaatan ... 94

17. Hasil Uji Satu Lawan Satu ... 98

18. Hasil Uji Kemenarikan, Kemudahan, dan Kebermanfaatan ... 99

(18)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu penemuan. Kurikulum 2013 lebih

menekankan pendekatan ilmiah atau scientific approach pada proses pembelajaran. Pendekatan ilmiah atau scientific approach meliputi kegiatan mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Kurikulum 2013 mengisyaratkan bahwa kegiatan pembelajaran IPA merupakan pembelajaran penemuan sebuah konsep. Oleh karena itu, pembelajaran IPA lebih menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pegembangan proses. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan menjelaskan bahwa standar kompetensi lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

(19)

2

pembelajaran collaborative teamwork learning. Model collaborative teamwork learning merupakan model pembelajaran yang menekankan

kinerja dan kekompakan tim yang dibentuk siswa dalam memecahkan permasalahan yang diberikan guru sehingga diharapkan praktikum yang dilaksanakan peserta didik dapat menunjang kerja sama siswa dalam kelompok serta seluruh siswa dapat berperan aktif pada saat pelaksanaan kegiatan praktikum.

Pembelajaran dengan menggunakan model collaborative teamwork learning menuntut setiap siswa menyumbangkan ide atau pendapatnya

tentang penyelesaian permasalahan yang disajikan untuk kemudian dikolaborasikan dan didiskusikan dalam kelompok. Model pembelajaran kolaboratif menurut Pannen dkk (2005: 63), dapat melatih siswa untuk memiliki rasa saling ketergantungan yang positif dalam proses belajar dan dalam penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota

kelompok bekerja sama. Model pembelajaran collaborative teamwork learning mengharuskan seluruh anggota kelompok bertanggung jawab

terhadap tugas masing-masing. Selain itu, siswa harus belajar dan memiliki keterampilan komunikasi interpersonal.

(20)

3

mengumpulkan data dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Fadlillah (2014: 38) mengemukakan bahwa standar kompetensi lulusan untuk tingkat SMP yang menyangkut kemampuan keterampilan proses ialah memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai yang dipelajari di sekolah.

Pembelajaran IPA di sekolah tidak dapat terlepas dari kegiatan praktikum. Basri (2012: 45) menyatakan bahwa pembelajaran dengan metode

praktikum dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada menerima kata guru atau membaca dari buku. Kegiatan praktikum juga dapat

mengembangkan sikap siswa untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu teknologi. Melalui kegiatan praktikum akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.

Melalui kegiatan praktikum siswa dituntut untuk berpartisipasi secara aktif serta bekerja secara berkelompok, sehingga kegiatan praktikum dapat meningkatkan peran aktif dan kemampuan kerja sama siswa dalam proses pembelajaran. Praktikum akan terlaksana dengan efesien dan efektif apabila tersedia sarana dan prasarana yang menunjang seperti

(21)

4

kegiatan praktikum perlu diberi petunjuk yang jelas untuk mempermudah siswa dalam melakukan percobaan.

Pembelajaran IPA di SMP Negeri 22 Bandar Lampung telah menerapkan kegiatan praktikum untuk memberikan pembelajaran yang lebih inovatif dan tidak monoton, namun disekolah tersebut belum tersedia panduan praktikum berbasis model collaborative teamwork learning yang

menekankan peran aktif dan kerja sama siswa dalam kelompok. Biasanya guru menggunakan petunjuk praktikum yang terdapat dalam buku paket atau jika dalam buku paket tidak tersedia petunjuk tentang praktikum yang akan dilaksanakan, guru harus membuat petunjuk praktikum sendiri. Panduan praktikum yang terdapat dalam buku-buku paket bercampur dengan banyak materi pelajaran sehingga kurang efektif untuk digunakan dalam kegiatan praktikum. Panduan praktikum yang tersedia buku paket atau panduan yang dibuat oleh guru mata pelajaran belum mampu menunjang peran aktif siswa serta kurang menekankan kerja sama siswa dalam kelompok, sehingga menyebabkan beberapa siswa menjadi pasif saat melakukan praktikum. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan diperoleh bahwa 100% guru dan 98% siswa di SMP Negeri 22 menyatakan perlu dilakukan pengembangan panduan panduan praktikum yang mampu meningkatkan peran aktif dan kemampuan kerja sama siswa.

(22)

5

pengembangan media pembelajaran berupa panduan praktikum berbasis model collaborative teamwork learning.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian pengembangan ini adalah perlu

dikembangkan panduan praktikum IPA SMP berbasis model collaborative teamwork learning. Pertanyaan penelitian ini adalah:

1. Bagaimana validasi panduan praktikum IPA Fisika SMP berbasis model collaborative teamwork learning.

2. Bagaimana kemenarikan, kebermanfaatan, dan kemudahan panduan praktikum IPA Fisika SMP berbasis model collaborative teamwork learning?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian pengembangan ini adalah:

1. Mengembangkan panduan praktikum IPA Fisika SMP yang berbasis model collaborative teamwork learning yang tervalidasi.

2. Mendeskripsikan kemenarikan, kebermanfaatan, dan kemudahan panduan praktikum IPA Fisika SMP berbasis model collaborative teamwork learning.

D. Manfaat Penelitian

(23)

6

teamwork learning yang mampu menunjang peran aktif dan meningkatkan

kemampuan kerja sama siswa dalam kelompok.

E. Ruang Lingkup

Untuk menghindari berbagai macam perbedaan penafsiran tentang penelitian ini maka diberikan batasan sebagai berikut:

1. Pengembangan yang dilakukan adalah membuat panduan yang digunakan dalam pelaksanaan praktikum IPA bidang Fisika dengan aktivitas-aktivitas praktikum berbasis sintak dalam model

collaborative teamwork learning.

2. Collaborative teamwork learning merupakan pembelajaran kolaboratif yang berbasis kelompok dengan menekankan kerja sama dan

kekompakan anggota-anggota kelompok.

3. Panduan praktikum yang dikembangkan memuat materi kelas VIII KD 3.10 dan 4.10 tentang getaran dan gelombang sesuai yang tercantum dalam silabus kurikulum 2013.

4. Uji validasi ahli terhadap produk dilakukan oleh ahli desain media pembelajaran dan ahli isi atau materi pembelajaran.

5. Uji kemenarikan, kemanfaatan, dan kemudahan dilakukan oleh guru dan peserta didik.

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa dalam belajar

(Arsyad, 2013: 10). Media pembelajaran menurut Musfiqon (2012: 28) dapat didefinisikan sebagai alat bantu berupa fisik maupun nonfisik yang sengaja digunakan sebagai perantara antara guru dan siswa dalam

memahami materi pembelajaran agar lebih efektif dan efisien.

Media pembelajaran merupakan sarana untuk menyampaikan pesan atau informasi dari guru kepada siswa yang dapat memudahkan siswa dalam

memahami materi pembelajaran secara efektif dan efesien.

Media pembelajaran berfungsi untuk membantu siswa meningkatkan

(25)

8

Kegunaan media pembelajaran menurut Daryanto (2013: 5-6) antara lain: a. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.

b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indra. c. Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara siswa

dengan sumber belajar.

d. Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, audiotori dan kinetestiknya.

e. Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama.

f. Merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Fungsi media pembelajaran menurut Mufsiqon (2012: 35) adalah sebagai

berikut:

a. Meningkatkan efektivitas dan efesiensi pembelajaran. b. Meningkatkan gairah belajar siswa.

c. Meningkatkan minat dan motivasi belajar.

d. Menjadikan siswa berinteraksi secara langsung dengan kenyataan. e. Mengatasi modalitas belajar siswa yang beragam.

f. Mengefektifkan proses komunikasi dalam pembelajaran. g. Meningkatkan kualitas pembelajaran.

Secara garis besar, fungsi media dalam pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: a) sebagai alat bantu pembelajar (teaching aids) seperti

papan tulis, board marker, peta, bola dunia, bagan, grafik, proyektor, dan lain sebagainya. b) sebagai media yang dapat digunakan untuk belajar sendiri tanpa bantuan guru (self instructional media) seperti modul,

komputer multimedia, paket pengajaran berprogram, buku resep, dan buku petunjuk pengoperasian suatu peralatan (Gafur, 2012: 109-110).

Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah sarana yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui komunikasi yang efektif karena peran media

(26)

9

pembelajaran juga berguna untuk memudahkan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran.

Media pembelajaran ditinjau dari perkembangan teknologi dapat

dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu: (1) media hasil teknologi cetak seperti buku dan materi visual statis terutama melalui

proses percetakan mekanis dan fotografis, (2) media hasil teknologi audio-visual seperti mesin proyektor film dan tape recorder, (3) media hasil

teknologi yang berdasarkan komputer, (4) media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer (Arsyad, 2013: 31-34).

Media dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan penggunaannya, yaitu

media proyeksi dan media nonproyeksi. Media proyeksi adalah media yang penggunaannya membutuhkan bantuan proyektor, seperti proyektor transparansi, film, film bingkai (slide), film rangkai (film strip), dan

proyektor tidak tembus pandang. Media nonproyeksi adalah media yang sudah dapat digunakan secara mandiri tanpa memerlukan bantuan alat atau

sarana lain. Media pembelajaran jenis nonproyeksi ini antara lain: whallsheets, buku cetak, dan papan tulis (Musfiqon, 2012: 102-112).

Buku adalah bahan tertulis berupa lembaran dan dijilid yang berisi ilmu pengetahuan yang diturunkan dari kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum yang berlaku untuk kemudian digunakan oleh siswa. Media

pembelajaran yang termasuk dalam buku antara lain modul, buku pegangan guru, lembar kerja siswa (LKS), dan panduan praktikum.

(27)

10

Media pembelajaran dapat dibedakan menjadi media pembelajaran cetak dan noncetak. Media pembelajaran noncetak meliputi power point, film, dan video. Media pembelajaran cetak meliputi buku pelajaran, lembar

kerja siswa, dan panduan praktikum.

Panduan praktikum merupakan salah satu contoh dari media pembelajaran

berbentuk cetakan yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar untuk memudahkan siswa dalam memahami prosedur kegiatan praktikum

yang akan dilaksanakan.

2. Panduan Praktikum

Petunjuk praktikum menurut Surat Keputusan Menteri Pendidikan

Nasional Nomor 36/D/O/2001 adalah pedoman pelaksanaan praktikum yang berisi tata cara persiapan, pelaksanaan, analisis data dan pelaporan. Pedoman tersebut disusun dan ditulis oleh kelompok staf pengajar yang

menangani praktikum tersebut dan mengikuti kaidah tulisan ilmiah. Arifah dkk (2014: 25) menyatakan bahwa buku petunjuk praktikum adalah

sebuah buku yang disusun untuk membantu pelaksanaan praktikum yang memuat judul percobaan, tujuan, dasar teori, alat dan bahan, dan

pertanyaan yang mengarah ke tujuan dengan mengikuti kaidah penulisan ilmiah. Buku petunjuk praktikum dimaksudkan untuk memperlancar dan memberikan bantuan informasi atau materi pembelajaran sebagai

(28)

11

Buku petunjuk praktikum menurut hasil penelitian yang dilakukan Arsika dan Ramadhan (2015: 10), dapat meningkatkan motivasi belajar siswa berupa perhatian, relevansi, percaya diri, dan kepuasan. Panduan

Praktikum menurut hasil penelitian Hartono dan Ibrahim (2014: 92) memiliki efek potensial terhadap keterampilan proses sains siswa sehingga

berpengaruh terhadap nilai kognitif siswa.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa panduan

praktikum adalah sebuah pedoman praktikum yang berisi tata cara melakukan aktivitas-aktivitas dalam kegiatan praktikum yang bertujuan untuk

memudahkan siswa dalam melaksanakan praktikum sehingga tujuan praktikum

dapat dicapai secara optimal.

Cara menyusun panduan praktikum menurut Prastowo (2013: 74) harus memperhatikan aspek-aspek (a) judul; (b) tujuan; (c) dasar teori; (d) alat

dan bahan; (e) cara kerja; (f) hasil pengamatan; (g) pembahasan atau analisis data; (h) kesimpulan.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, panduan praktikum tersusun atas komponen-komponen sebagai berikut: a) judul percobaan, b) tujuan

percobaan, c) dasar teori, d) alat dan bahan, e) langkah kerja, f) hasil pengamatan, g) pembahasan, dan h) kesimpulan.

3. Model Collaborative Teamwork Learning

(29)

12

Belajar kolaboratif berfokus pada berbagai kelebihan yang bersifat kognitif yang muncul karena adanya interaksi yang akrab pada saat bekerja sama (Pannen dkk, 2005: 63). Peserta didik dapat dikatakan belajar kolaboratif

apabila mereka mempelajari kasus atau permasalahan secara bersama-sama melalui serangkaian diskusi tentang pemecahan masalah. Mereka

bekerja sama untuk menentukan cara dan strategi untuk memecahkan permasalahan yang disajikan.

Kolaborasi menurut Dimitriadou et al (2008: 141) adalah,

“Collaboration is a process of common work with acceptable goals and philosophy, while the comprehension of particular

characteristics of the individuals (such as competencies, knowledge, personality, and behavior) is essential.”

Pembelajaran kolaboratif menurut Smith dan MacGregor (1992) yaitu, “Collaborative learning is an umbrella term for a variety of

educational approaches involving joint intellectual effort by students, or students and teachers together. Usually, students are working in groups of two or more, mutually searching for understanding, solutions, or meanings, or creating a product. Collaborative learning activities vary widely, but most center on student’s exploration or application of the course material, not simply the teacher’s presentation or explication of it.”

Pembelajaran kolaboratif menurut Thobroni (2015: 252) dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktik-praktik pembelajaran. Pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para

siswa dan meminimalisasi perbedaan-perbedaan antarindividu.

Belajar kolaborasi merupakan proses dua atau lebih peserta didik

(30)

13

individu (seperti kompetensi, pengetahuan, kepribadian, dan perilaku) untuk menentukan pemecahan masalah yang disajikan, sehingga seluruh siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Karakteristik utama belajar kolaboratif menurut Pannen dkk (2005: 63) adalah sebagai berikut:

a. Peserta didik belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa saling ketergantungan dalam proses belajar; penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota kelompok bekerja sama;

b. Interaksi intensif secara tatap muka atau dimediasikan antaranggota kelompok;

c. Masing-masing peserta didik bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati;

d. Peserta didik harus belajar dan memiliki keterampilan komunikasi interpersonal.

Model Collaborative Teamwork Learning merupakan model pembelajaran kolaboratif yang berbasis model team dalam pembelajarannya.

Collaborative Teamwork Learning pada hakekatnya adalah model

pembelajaran yang menonjolkan kinerja dan kekompakan tim yang dibentuk siswa dalam memecahkan permasalahan yang diberikan guru.

(Jiwa, 2013: 2).

Model collaborative teamwork learning merupakan model pembelajaran

yang berbasis kolaboratif dalam tim atau kelompok. Model collaborative teamwork learning mengacu pada model pembelajaran di mana siswa

bekerja bersama dalam satu tim yang saling membantu dalam belajar.

Model pembelajaran ini menekankan kerja sama siswa dalam kelompok untuk memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru secara

(31)

14

bertujuan untuk meningkatkan respon dan peran aktif siswa serta

mengembangkan kemampuan bekerja sama siswa dalam kelompok. Siswa yang bekerja dalam satu tim bersama-sama belajar dan memecahkan suatu

permasalahan dimana semua siswa saling menyumbangkan pemikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara tim maupun

individu serta memberi suatu ikatan kekompakan.

Pembelajaran kolaboratif menurut Thobroni (2015: 256) dapat

dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.

b. Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis. c. Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi,

mendemonstrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas serta masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.

d. Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap. e. Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya

diupayakan agar semua kelompok mendapat kesempatan) untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan, dan menanggapi hasil presentasi.

f. Masing-masing siswa dalam kelompok melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulkan. g. Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah

dikumpulkan dan disusun per kelompok.

h. Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dan dikembalikan pada pertemuan berikutnya serta didiskusikan.

Model Collaborative Teamwork Learning memiliki beberapa tahapan menurut Frances (2008: 11-17), yaitu:

a. Forming, kegiatan pembentukan team serta mendiskusikan permasalahan yang diberikan guru.

(32)

15

c. Norming, menentukan sumber-sumber yang berkaitan untuk

memecahkan permasalahan yang dibahas dalam LKS. Selain sumber dari buku-buku yang terkait, siswa juga dapat melakukan suatu penyelidikan sebagai sumber lain dalam pemecahan masalah. d. Perfoming, mengkomunikasikan hasil pemecahan masalah melalui

kegiatan presentasi tim.

e. Adjourning, mencakup kegiatan pengkolaborasian pemahaman berdasarkan persentasi yang telah dilakukan.

Model pembelajaran collaborative teamwork learning yang digunakan

dalam mengembangkan produk ini dapat dilaksanakan melalui beberapa tahap yaitu:

a. Tahap pembentukaan tim atau kelompok serta penyajian permasalahan

yang disebut dengan tahap forming.

b. Tahap perencanaan penyelesaian masalah atau merumuskan hipotesis

dari permasalahan yang disajikan yang disebut dengan tahap storming. Kegiatan pada tahap ini memberikan kesempatan pada setiap anggota kelompok untuk menyumbangkan ide atau pendapatnya tentang

penyelesaian permasalahan yang disajikan sehingga tahap ini mampu mengembangkan kemampuan pemecahan masalah siswa.

c. Tahap pengumpulan informasi dari berbagai sumber terkait dengan

permasalahan dan melakukan suatu penyelidikan atau percobaan

sebagai sumber lain dalam pemecahan masalah yang disebut tahap norming.

d. Tahap mengkomunikasikan hasil pemecahan masalah yang diperoleh

kelompok setelah melakukan penyelidikan dan diskusi yang disebut tahap perfoming. setiap kelompok mendapat kesempatan untuk

(33)

16

e. Tahap pengkolaborasian pemahaman berdasarkan presentasi yang telah

dilakukan setiap kelompok yang disebut tahap adjourning. Tahap ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk meningkatkan

pemahaman dengan memeriksa kembali hasil pemecahan masalah dan merangkum dari setiap presentasi kelompok.

4. Getaran dan Gelombang

a. Getaran

Getaran didefinisikan sebagai gerak bolak-balik disekitar

kesetimbangan. Getaran dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari seperti getaran yang terjadi pada kaca-kaca jendela rumah ketika

terjadi guntur yang kuat. Contoh lain peristiwa getaran yang sering kita lihat adalah getaran pada bandul jam dinding. Getaran pada bandul dapat dilihat seperti Gambar 1.

Gambar 1. Getaran pada bandul

Bandul pada awalnya diam di titik B, ketika bandul ditarik ke titik A dan kemudian dilepaskan maka bandul akan berayun ke titik C

melewati lintasan B-C, kemudian bandul berayun kembali ke titik A A

(34)

17

melewati lintasan C-B, begitu seterusnya. Semakin lama simpangan AB atau BC akan semakin kecil sehingga akhirnya bandul berhenti. 1) Amplitudo

Gerakan bandul pada gambar 1 ketika diberi simpangan sejauh titik A kemudian dilepaskan bandul akan bergerak ke titik B, C, B,

dan kembali ketitik A yang disebut satu getaran. Simpangan bandul tidak pernah melebihi titik A dan titik C. Simpangan bandul selalu berbah-ubah sesuai dengan kedudukannya, ketika

bandul berada di titik A atau titik C maka simpangan bandul adalah maksimum. Saat bandul berada di titik B artinya bandul

berada di titik kesetimbangan sehingga simpangannya minimum atau sama dengan nol. Simpangan bandul dari titik B ke titik A atau dari titik B ke titik C disebut dengan amplitudo. Amplitudo

didefinisikan sebagai simpangan getaran paling besar.

2) Periode dan Frekuensi

Waktu yang dibutuhkan bandul untuk melakukan satu getaran yaitu dari titik A-B-C-B-A disebut dengan periode getaran. Periode getaran dilambangkan dengan T. Periode getaran dapat

diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut:

keterangan:

T = periode getaran (sekon)

(35)

18

Jumlah getaran setiap satu detik disebut dengan frekuensi. Frekuensi dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut:

keterangan:

f = frekuensi getaran (Hertz)

t = waktu yang diperlukan selama getaran (sekon) n = jumlah getaran

Hubungan periode getaran dengan frekuensi getaran dapat

dinyatakan dalam persamaan berikut:

b. Gelombang

Batu yang dijatuhkan ke dalam kolam akan menimbulkan sebuah gelombang kecil tepat di tempat jatuhnya batu dalam air. Gelombang

yang terbentuk akibat batu tersebut akan menjauhi titik tempat jatuh batu dan membentuk seperti sebuah lingkaran. Selain itu, senar gitar

yang dipetik dapat menimbulkan getaran yang dapat menghasilkan bunyi. Gelombang didefinisikan sebagai getaran yang merambat.

Gelombang dapat dibedakan berdasarkan medium perambatannya, yaitu gelombang mekanik dan gelombang elektromagnetik.

1) Gelombang Mekanik

Gelombang mekanik adalah gelombang yang dalam

(36)

19

dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari seperti

gelombang pada permukaan air, gelombang bunyi, gelombang tali, dan gelombang pada slinki. Gelombang-gelombang ini

memerlukan medium untuk dapat merambat yaitu medium air, udara, tali, dan slinki.

2) Gelombang Elektromagnetik

Gelombang yang tidak memerlukan medium untuk merambat disebut dengan gelombang elektromagnetik. Contoh gelombang

elektromagnetik adalah gelombang TV, gelombang radio, dan gelombang sinar matahari (cahaya). Televisi dapat menagkap

gelombang yang dipancarkan oleh satelit yang berada di luar angkasa. Gelombang yang ditangkap televisi dapat merambat dari luar angkasa ke bumi, padahal di luar angkasa merupakan ruang

hampa yang tidak terdapat medium untuk merambatkan gelombang.

Gelombang ditinjau dari arah rambatan dan arah getarannya dapat dibedakan menjadi gelombang transversal dan gelombang

longitudinal.

1) Gelombang transversal merupakan gelombang yang arah

rambatannya tegak lurus terhadap arah getarannya. Gelombang

pada tali yang digerakkan naik turun merupakan salah satu contoh dari gelombang transversal yang arah getarannya adalah vertikal sedangkan arah rambatannya horizontal seperti terlihat pada

(37)

20

Gambar 2. Arah rambat dan arah getar gelombang tali

Gelombang transversal berbentuk bukit gelombang dan lembah gelombang yang merambat, seperti terlihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Panjang gelombang transversal

2) Gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah getarannya

searah dengan arah rambatanya, contohnya gelombang pada slinki

seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. Arah rambat dan arah getar gelombang longitudinal

Ketika slinki digerakkan secara horizontal maka akan terbentuk rapatan dan renggangan seperti Gambar 5.

Arah Rambatan Arah Getaran

Arah Getaran

Arah Rambatan

Puncak Panjang Satu Gelombang

Amplitudo

(38)

21

Gambar 5. Panjang gelombang longitudinal pada slinki

Panjang gelombang adalah panjang suatu gelombang yang terdiri dari

satu bukit dan satu lembah pada gelombang transversal, sedangkan pada gelombang longitudnal satu gelombang terdiri dari satu rapatan dan satu renggangan. Panjang gelombang di lambangkan dengan lamda (λ) dan satuanya adalah meter (m).

Besaran-besaran dalam gelombang selain panjang gelombang adalah

sebagai berikut:

1) Peride gelombang (T) yaitu waktu yang di prlukan untuk

menempuh satu gelombang,satuanya adalah sekon (s).

2) Frekuensi gelombang((f) yaitu jumlah gelombang yang terbentuk

dalam satu detik,satuanya adalah Hertz (Hz).

3) Cepat rambat gelombang (v) yaitu jarak yang di tempuh

gelombang dalam waktu satu detik dan satuanya adalah meter/detik (m/s).

(39)

22

Pemanfaatan gelombang dalam kehidupan sehari-hari mudah kita temui, antara lain satelit buatan, sel surya, eksplorasi minyak dan gas bumi, serta sonar.

Ketika kita memberi gangguan pada air di dalam baskom, timbul gelombang yang bergerak menjauhi titik gangguan yang kita berikan.

Saat gelombang tersebut sampai di tepi baskom, gelombang tersebut dipantulkan oleh dinding baskom. Sebagian energi yang dibawa

gelombang tersebut dipantulkan oleh dinding baskom sehingga kita dapat melihat gelombang kecil bergerak menjauhi dinding baskom.

B. Kerangka Pikir

Pembelajaran IPA terutama bidang fisika sering dianggap pelajaran yang sulit dipahami karena pembelajaran ini biasanya berupa ceramah materi yang berisi sangat banyak rumus yang sulit dipahami. Pembelajaran IPA haruslah

dibuat lebih menarik sehingga siswa tidak lagi menganggap bahwa IPA itu menakutkan dan sangat sulit dipelajari. Kreativitas dan kemampuan guru

dalam membelajarkan IPA sangat diperlukan untuk menciptakan

pembelajaran yang menarik dan tidak monoton seperti dengan mengadakan

kegiatan praktikum.

Pelaksanaan kegiatan praktikum sangat membutuhkan media atau perangkat pembelajaran yang mampu mendukung berlangsungnya kegiatan praktikum

(40)

23

yang diberikan sangat singkat dan sulit dipahami, selain itu petunjuk praktikum juga biasanya didapat dari buku paket yang bercampur dengan materi pelajaran yang sangat banyak sehingga kurang efektif digunakan. Oleh

karena itu perlu dikembangkan panduan praktikum yang mengikuti sintak model collaborative teamwork learning yang mampu meningkatkan

kemampuan kerja sama dan keaktifan siswa.

C. D.

Gambar 6. Skema kerangka berpikir

C. Desain Hipotetik

Panduan praktikum yang dikembangkan terdiri dari komponen-komponen berikut:

1. Judul percobaan, berisi keterangan tema yang akan dipraktikumkan.

2. Tujuan percobaan, mengemukakan hal yang akan dicapai setelah

praktikum dilaksanakan. Potensi dan masalah di sekolah:

1. Hanya menggunakan buku paket atau lembaran-lembaran dan belum dibukukan dalam praktikum.

2. Siswa kelas VIII masih memerlukan banyak bimbingan dalam menemukan jawaban berbagai permasalahan.

3. Peran aktif dan kemampuan kerja sama siswa masih kurang.

Pengembangan buku Panduan praktikum IPA Fisika berbasis model Collaborative Teamwork Learning

Validasi Ahli

Panduan praktikum berbasis model Collaborative Teamwork Learning yang tervalidasi, menarik, mudah, dan bermanfaat.

(41)

24

3. Teori Dasar, berisi teori tentang materi yang dipraktikumkan. 4. Forming, merupakan kegiatan pembentukan kelompok dan

mendiskusikan permasalahan yang disajikan. Tahap forming dalam

panduan praktikum di terapkan dalam bagian berikut:

a. “Mari Berkelompok” bagian ini menjelaskan berapa jumlah anggota

kelompok yang dibutuhkan untuk melakukan praktikum agar semua anggota kelompok mendapatkan peran dan tugas dalam pelaksanaan kegiatan praktikum.

b. “Mari Berdiskusi” merupakan penyajian masalah yang harus

dipecahkan oleh kelompok dengan melakukan diskusi dan

mengumpulkan teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan dari berbagai sumber. Pada bagian ini semua anggota kelompok

menyumbangkan pendapat tentang permasalahan yang disajikan.

Setiap argumen dari masing-masing anggota kelompok

dikolaborasikan untuk memperoleh penyelesaian masalah yang paling

baik.

5. Stroming, mencakup kegiatan pengungkapan hipotesis dari siswa terkait

dengan permasalahan yang diberikan. Tahap stroming dalam panduan praktikum di terapkan dalam bagian “Mari Berhipotesis”. Jawaban

sementara yang dibuat siswa adalah jawaban yang merupakan kolaborasi

dan hasil diskusi dari pendapat setiap anggota kelompok.

6. Norming, melakukan suatu penyelidikan untuk membuktikan kebenaran

dari hipotesis yang telah dibuat. Tahap norming dalam panduan

(42)

25

a. Alat dan Bahan, merupakan keterangan tentang alat dan bahan yang

dibutuhkan dalam melakukan percobaan.

b. Langkah percobaan, merupakan petunjuk percobaan berupa

langkah-langkah yang harus dilakukan.

c. Hasil pengamatan, merupakan data hasil percobaan yang diperoleh

setiap kelompok.

d. Diskusi, pada bagian ini siswa diberi kesempatan untuk menganalisis

data hasil pengamatan dengan mendiskusikan secara bersama-sama

dalam kelompok mengenai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang disajikan.

7. Perfoming, mengkomunikasikan hasil pemecahan masalah melalui

kegiatan presentasi kelompok. Tahap perfoming pada panduan praktikum berupa bagian “Mari Presentasi”, pada bagian ini siswa merangkum dan

mengkolaborasikan hasil presentasi dari setiap kelompok yang ada. 8. Adjourning, mencakup kegiatan pengkolaborasian pemahaman

berdasarkan persentasi yang telah dilakukan . Tahap adjourning diterapkan pada bagian “Mari menyimpulkan”, siswa membuat

kesimpulan berdasarkan pengkolaborasian hasil diskusi kelompok yang telah dipresentasikan.

Desain awal pengembangan panduan praktikum yang mengikuti sintak model

collaborative teamwork learning menurut Frances (2008: 11-17) dapat dilihat

pada Tabel 1.

(43)

26

Format Panduan Praktikum

Keterangan

Sintak Model Collaborative

Teamwork Learning Judul dan

tujuan percobaan

Memuat tema yang akan dipraktikumkan dan mengemukakan mengenai hal-hal yang akan dicapai setelah praktikum.

(44)

27

Format Panduan Praktikum

Keterangan

Sintak Model Collaborative

Teamwork Learning Mari

Berkelompok

Petunjuk pembentukan kelompok dengan jumlah anggota yang sesuai kebutuhan praktikum.

Forming Mari

Berdiskusi

Permasalahan yang harus dicari penyelesaiannya dengan berdiskusi.

Mari

Berhipotesis

Bagian yang harus diisi siswa dengan hipotesis yang dibuat dalam kelompok.

(45)

28

Format Panduan Praktikum

Keterangan

Sintak Model Collaborative

Teamwork Learning Mari

Bereksperimen

Memuat keterangan tentang alat dan bahan, langkah percobaan, tabel hasil pengamatan, dan diskusi.

Norming

Mari Presentasi

Bagian yang harus diisi siswa berdasarkan kolaborasi hasil diskusi setiap kelompok yang dipresentasikan.

Performing

Mari

menyimpulkan

Berupa bagian yang harus diisi siswa dengan kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil pengkolaborasian antarkelompok

(46)

III. METODE PENELITIAN

A. Desain Pengembangan

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metoderesearch and development atau penelitian dan pengembangan. Metode research and development (R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2012: 407). Pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan panduan praktikum siswa bebasis model Colaborative Teamwork Learning untuk mata pelajaran IPA materi getaran dan

Gelombang di SMP.

(47)

30

B. Subjek Evaluasi Pengembangan Produk

Subjek evaluasi terdiri atas ahli bidang isi atau materi, ahli media/desain pembelajaran instruksional, dan uji kelompok kecil. Uji ahli materi dilakukan oleh ahli bidang isi materi untuk mengevaluasi isi materi pembelajaran pada panduan praktikum IPA materi fisika dan uji ahli desain dilakukan oleh ahli desain media instruksional untuk mengevaluasi desain pada panduan praktikum IPA. Uji kelompok kecil pada uji lapangan diambil sampel satu kelas yaitu kelas VIII E SMP Negeri 22 Bandar Lampung.

C. Prosedur Pengembangan

Pengembangan buku panduan praktikum IPA Fisika SMP menurut Sugiyono (2012: 409) melalui tahap-tahap sebagai berikut:

Gambar 7. Model pengembangan dalam penelitian

Pelaksanaan penelitian pada gambar dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Potensi dan Masalah

potensi yang dimiliki di sekolah tempat penelitian adalah tersedianya sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran IPA seperti tersedianya laboratorium IPA, adanya KIT IPA yang dilengkapi

(48)

31

alat praktikum. Kegiatan praktikum telah diterapkan dalam pembelajaran IPA di sekolah tersebut, namun belum tersedia panduan praktikum khusus, sehingga guru harus membuat petunjuk dalam bentuk lembaran sebagai panduan siswa dalam melakukan praktikum.

2. Pengumpulan data

Permasalahan yang ada terutama mengenai praktikum IPA materi fisika diteliti dengan angket yang diberikan pada siswa dan guru serta metode wawancara yang dilakukan terhadap guru mata pelajaran IPA dan peserta didik di SMP Negeri 22 Bandar Lampung. Data hasil analisis angket dan wawancara yang diperoleh dari guru dan siswa digunakan untuk

menyusun latar belakang dan mengetahui tingkat kebutuhan sebagai dasar dalam melakukan pengembangan sebuah produk berupa panduan

praktikum IPA. 3. Desain produk

Langkah-langkah dalam mendesain panduan praktikum IPA yang

(49)

32

4. Validasi desain

Produk awal/draft panduan praktikum diserahkan kepada ahli untuk

dievaluasi dan divalidasi. Ahli yang mengevaluasi dan memvalidasi adalah dosen Pendidikan Fisika Universitas Lampung dan guru IPA SMP Negeri 22 Bandar Lampung.

5. Revisi desain

Setelah produk/draft awal panduan praktikum divalidasi oleh ahli, kemudian dilakukan revisi untuk memyempurnakan desain produk sebelum produk diujicobakan.

6. Uji coba produk

Uji coba produk dilakukan di kelas VIII E SMP Negeri 22 Bandar Lampung. Uji coba ini dilakukan dengan mengambil satu kelas peserta didik secara acak sebagai subyek uji coba. Peserta didik-peserta didik tersebut dibagi menjadi 5 kelompok untuk melakukan kegiatan praktikum. Peserta didik kemudian diberikan draft panduan praktikum IPA berbasis model collaborative teamwork learning untuk dipelajari, kemudian setiap kelompok melakukan kegiatan praktikum menggunakan panduan tersebut. Peserta didik diminta mengisi angket dan memberi pendapat mengenai kemenarikan, kemudahan, dan kemanfaatan panduan praktikum setelah melaksanakan praktikum dengan menggunakan panduan praktikum IPA berbasis model collaborative teamwork learning.

7. Revisi produk

(50)

33

penyempurnaan untuk memperbaiki kekurangan yang ada sebelum dilakukan tahap pembuatan produk.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara, teknik angket dan teknik tes khusus.

1. Teknik Observasi dan Wawancara

Pengumpulan data dengan teknik observasi dan wawancara digunakan untuk mengetahui proses kegiatan pembelajaran IPA yang ada di sekolah dan mengetahui kelengkapan sarana dan prasarana di SMP Negeri 22 Bandar Lampung yang menunjang proses pembelajaran IPA, seperti keberadaan laboratorium IPA, kelengkapan alat praktikum, dan keberadaan panduan praktikum.

2. Teknik Angket

Instrumen angket diberikan kepada siswa dan guru IPA di SMP Negeri 22 Bandar Lampung untuk mengetahui kebutuhan akan media

(51)

34

E. Teknik Analisis Data

Data hasil analisis kebutuhan yang diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara dan angket digunakan untuk menyusun latar belakang dan mengetahui tingkat kebutuhan produk yang akan dikembangkan.

Instrumen uji ahli materi digunakan untuk mengevaluasi kelengkapan materi, kebenaran materi, sistematika materi dan permasalahan awal yang berkaitan dengan materi yang dipraktikumkan. Analisis data yang

dilakukan berdasarkan instrumen uji validasi ahli dan uji lapangan, bertujuan untuk menilai sesuai atau tidak produk yang dihasilkan sebagai salah satu media pembelajaran. Instrumen angket penilaian uji validasi ahli memiliki 2 pilihan jawaban yang sesuai dengan konten pertanyaan.

Instrumen penilaian kesesuaian materi pembelajaran dan desain pada produk memiliki 2 pilihan jawaban, yaitu: “ Ya” dan “Tidak”. Masing-masing pilihan jawaban mengartikan tentang kelayakan produk menurut ahli.

(52)

35

menarik”.Instrumen angket yang digunakan untuk memperoleh data kemudahan produk memiliki 4 pilihan jawaban, yaitu: “tidak

mempermudah”, ” cukup mempermudah”, ”mempermudah”, dan “sangat mempermudah”.

Data kemanfaatan produk juga memiliki 4 pilihan jawaban, yaitu: “tidak bermanfaat”, ”cukup bermanfaat”, ”bermanfaat”, dan “sangat bermanfaat”. Masing-masing pilihan jawaban memiliki skor yang berbeda. Penilaian instrumen total dilakukan dari jumlah skor yang diperoleh, kemudian dibagi dengan jumlah total skor tertinggi dan hasilnya dikali dengan banyaknya pilihan jawaban. Skor penilaian tiap pilihan jawaban dan pengkonversian skor menjadi pernyataan penilaian menurut Suyanto dan Sartinem (2009: 227) dapat dilihat dalam Tabel 2 dan 3.

Tabel 2. Skor Penilaian terhadap Pilihan Jawaban Pilihan Jawaban Uji

Kemenarikan Uji Kemudahan Uji Kemanfaatan Skor Sangat Menarik Sangat Mempermudah Sangat Bermanfaat 4

Menarik Mempermudah Bermanfaat 3

Cukup Menarik Cukup Mempermudah Cukup Bermanfaat 2 Tidak Menarik Tidak Mempermudah Tidak Bermanfaat 1

Instrumen yang digunakan memiliki 4 pilihan jawaban, sehingga penilaian total dapat dicari dengan menggunakan rumus :

Skor Penilaian = Jumlah nilai total skor tertinggi X 4Jumlah skor pada instrumen

(53)

36

menentukan kemenarikan, kemudahan, dan kemanfaatan produk yang dihasilkan. Hasil konversi ini diperoleh dengan melakukan analisis secara deskriptif terhadap skor penilaian yang diperoleh.

Tabel 3. Konversi Skor Penilaian Menjadi Pernyataan Nilai Kualitas Skor Penilaian Pernyataan Penilaian

Kemenarikan

Peryataan Penilaian Kualitas 3,26 - 4,00 Sangat menarik Sangat baik

2,51–3,25 Menarik Baik

(54)

52

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Dihasilkan panduan praktikum berbasis model collaborative teamwork learning yang dapat digunakan siswa dalam melakukan

kegiatan praktikum IPA untuk kelas VIII pada materi getaran dan gelombang yang tervalidasi.

2. Panduan praktikum berbasis model collaborative teamwork learning layak digunakan sebagai penunjang dalam kegiatan praktikum, dengan skor kemenarikan 3,12 (menarik), kemudahan 3,17 (memudahkan), dan kebermanfaatan sebesar 3,30 (sangat bermanfaat).

B. Saran

Saran penelitian ini adalah:

(55)

53

2. Langkah-langkah dalam kegiatan praktikum sebaiknya dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan agar seluruh kegiatan yang tersaji dalam panduan praktikum dapat dilaksanakan dengan optimal. 3. Guru sebaiknya lebih aktif memfasilitasi belajar siswa serta selalu

(56)

54

DAFTAR PUSTAKA

Alifah, Al. 2010. Collaborative Teamwork Learning (CTL) Pengaruhnya

Terhadap Hasil Belajar Ekonomi pada MTs Muhammadiyah Blimbing

Sukoharjo. jurnal Varia Pendidikan Volume 22 Nomor 1 Halaman 39-48.

(Online). Tersedia dihttp://pasca.undiksha.ac.id. diakses pada 12 Mei 2016. Anonim. 2010.Getaran dan Gelombang. (Online). Tersedia di https://mediabelajar

online.blogspot.co.id. diakses pada 06 oktober 2016.

Arifah, Isnaeni,. Maftukhin, Arif,. & Fatmaryanti, Siska Desy. 2014. Pengembangan Buku Petunjuk Praktikum Berbasis Guided Inquiry untuk Mengoptimalkan Hands On Mahasiswa Semester II Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Purworejo Tahun Akademik 2013/2014. Jurnal Pendidikan Fisika Volume 5 Nomor 1 Halaman 24-28. (Online). Tersedia di https://www.google.com/search?artikel.org. diakses pada 12 Mei 2016.

Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arsika, Reza, & Ramadhan, M. Firman. 2015. Pengembangan Buku Petunjuk Praktikum IPA Fisika untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas VII SMPN 1 Lembar Tahun Pelajaran 2014/2015. Jurnal Fisika dan Pendidikan Fisika Volume 1 Nomor 1 Halaman 10-18. (Online). Tersedia di https://

www.google.com/journal.co.id.diakses pada 12 Mei 2016.

Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Basri, Muhammad. 2012. Perancangan Pembelajaran. Bandarlampung: Universitas Lampung.

Daryanto. 2013. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.

(57)

55

Fadlillah, M. 2014. Implememntasi Kurikulum 2013 dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTs, & SMA/MA. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Frances, Mary. 2008. Stages of Group Development–A Pcp Approach. Personal Construct Theory & Practice. [Online]. Tersedia di http://www.pcp-net.org. diakses pada 26 Oktober 2016.

Gafur, Abdul. 2012. Desain Pembelajaran: Konsep, Model, dan Aplikasinya dalam Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Hartono, Zulaiha & Ibrahim, A. Rachman. 2014. Pengembangan Buku Panduan Praktikum Kimia Hidrokarbon Berbasis Keterampilan Proses Sains di SMA. Jurnal Pendidikan.Kimia Voume 1 Nomor 1 Halaman 87—93. (Online). Tersedia di http://lib.unsri.ac.id. diakses pada 12 Mei 2016.

Jiwa, I Wayan Merta., Atmadja, Nengah Bawa., & Yudana, Made. 2013.Pengaruh Model Collaborative Teamwork Learning terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Sosoilogi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Amlapura. e-Journal Pendidikan Ganesha Volume 4 Nomor 3 Halaman 119-126. (Online).

Tersedia di http://119.252.161.254/ejournal/index. diakses pada 12 Mei 2016. Kemendikbud. 2013. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 Tentang

Standar Nasional Pendidikan. (Online). Tersedia di http://sdm.data. kemdikbud.gi.id. diakses pada 12 Mei 2016.

. 2014. Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Menengah. (Online). Tersedia di http://sdm.data.kemdikbud.gi.id. diakses pada 12 Mei 2016.

Lestari, Ika. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi. Padang: Akademia Permata.

Musfiqon, HM. 2012. Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran. Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya.

Pannen, Paulina., Mustafa, Dina., & Sekarwinahyu, Mestika. 2005. Konstruktivisme dalam Pembelajaran. Jakarta: PAU-PAI-UT.

Patmasari, Ruliana., Sutarman., & Winarto. 2013. Pengembangan Buku Petunjuk Praktikum Fisika Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Siswa SMA Kelas X. Jurnal Pendidikan Volume 1 Nomor 1 Halaman 10-18. (Online). Tersedia di http://digilib.um.ac.id. diakses pada 12 Mei 2016.

(58)

56

Smith, Barbara L & MacGregor, Jean T. 1992. What Is Collaborative Learning?. A Sourcebook for Higher Education. [Online]. Tersedia di http://evergreen. edu. diakses pada 26 Oktober 2016.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

.2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suyanto, Eko & Sartinem. 2009. Pengembangan Contoh Lembar Kerja Fisika Siswa dengan Latar Penuntasan Bekal Awal Ajar Studi Pustaka dan keterampilan Proses Untuk SMA Negeri 3 Bandar Lampung. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan 2009. Bandar Lampung: Unila.

Thobroni, M. 2015. Belajar & Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

References

Related documents

(2012) about the combination of relevant accounting ratios, equity market information and credit default swap spreads, the following variables are chosen: Return on assets,

This publication discussed about implementation linguistic approach in schema matching and focused on measure similarity to finding string in the schema matching process..

Contains data concerning Netherlands patent applications which have been entered in the patent register under the Patents Act 1995..

I Variables are the set of valid strings that are allowed as names in a computer language such as Python.. I The rules for forming Python

vision of the goals assigned to the entity concerned and an in-depth knowledge of its existing activities, processes and accounting flows. A good practice is to define from the

With the addition of a quality factor, the Northern Trust low-volatility solution over-weights stocks with more stable return volatilities, resulting in a higher-returning,

Omanhin Mbra III later described (albeit somewhat obscurely) how the government had tried to attract indigenous cases and educated Fante had taken advantage of the opportunity,

Little evidence that consumer remedies have created a significant change in consumer behaviour. • PCA Banking (only