(Skripsi)
oleh :
RAHMA SEFTIARANI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
iii ABSTRAK
HUBUNGAN KREATIVITAS GURU DENGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK DI PAUD KECAMATAN PENENGAHAN LAMPUNG
SELATAN
OLEH
RAHMA SEFTIARANI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kreativitas guru dengan
kompetensi pedagogik di PAUD Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif asosiatif,
dengan analisis data korelasi. Sampel dalam penelitain berjumlah 30 guru di PAUD Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data pada penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi dan kuesioner, sedangkan data dianalisis dengan menggunakan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan positif namun kurang erat antara kreatifitas
guru dengan kompetensi pedagogik pada guru Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.
ii CORRELATION BETWEEN TEACHER CREATIVITY AND
PEDAGOGIC COMPETENCE IN SOUTH LAMPUNG DISTRICT
By
RAHMA SEFTIARANI
This research aimed to determine the relationship between teachers’s creativity and pedagogical competence in PAUD Penengahan districts South Lampung. The research method was associative quantitative research with correlation data analysis. The research subject were 30 teachers in PAUD Penengahan Districts South Lampung. The sampling technique was purposive sampling. Data were collected by using documentation and questionnaire, and data was analyzed by using product moment correlation. The result show that there was a positive but less close relationship between teacher creativity and teachers pedagogic competence in penengahan districts south lampung .
Oleh
Rahma Seftiarani
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
pada
Program Studi PG-PAUD Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
viii Penulis bernama lengkap Rahma Seftiarani dilahirkan di
Bandar Lampung, pada tanggal 05 September 1996,
anak kedua dari pasangan Bapak Rafian Alnedi dan Ibu
Sarlina. Penulis memiliki satu kakak laki-laki yang
bernama Rahmanda Ispermaji.
Penulis mengawali pendidikan di TK Tunas Harapan Belambangan, Kecamatan
Penengahan Lampung Selatan pada tahun 2001-2002, pendidikan Sekolah Dasar
(SD) Negeri II Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan pada tahun
2002-2008. Setelah itu melanjutkan di SMP Negeri I Penengahan Lampung
Selatan pada tahun 2008-2011. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di
SMA Negeri I Kalianda Lampung Selatan pada tahun 2011-2014. Tahun
2014-sekarang, penulis terdaftar sebagai mahasiswa angkatan keempat Program Studi
Pendidikan Guru-Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Jurusan Ilmu
Pendidikan FKIP Universitas Lampung melalui jalur SNMPTN.
Pada semester tujuh, penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa
Sri Menanti, Kecamatan Air Hitam, Lampung Barat dan Program Pengalaman
Lapangan (PPL) di PAUD Ramadhan, Sri Menanti, Kecamatan Air Hitam,
viii Fa kuluu mimmaa rozaqokumullohu halaalan thoyyibaw wasykuruu ni’matallohi
ing kuntum iyyaahu ta’buduun
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah
kepada-Nya”
(Q.S An-Nahl :114)
“dengan ilmu akan selamat, dengan harta jiwa tersesat, memiliki keduanya hidup akan lebih bermanfaat”
ix Bismillahirrohmanirohim...
Ku persembahkan karya ini sebagai rasa syukur kepada ALLAH SWT beserta Nabi junjungan kami Muhammad SAW yang telah memberikan cahaya cinta dan
ilmu dalam kehidupan di dunia.
Dan ucapan terimakasih serta rasa banggaku kepada:
Almamater tercinta Universitas Lampung
Sebagai tempat mencari ilmu, serta pengalam baru dalam kehidupan, sehingga menjadikan sosok yang tegar.
TK se- Kecamatan Penengahan Lampung Selatan
xi Bismillahirrohmanirrohim
Penulis ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas nikmat dan
hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi “Hubungan Kreativitas Guru
dengan Kompetensi Pedagogik di PAUD Kecamatan Penengahan Lampung
Selatan” adalah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Program
Studi PG-PAUD Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Lampung.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terle[as dari
bantuan, motivasi, bimbingan dan saran dari berbagai pihak. Oleh sebab itu,
penulis mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd selaku Dekan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
2. Ibu Riswanti Rini, M.Si selaku Ketua jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
3. Ibu Ari Sofia, S.Psi., M.A., Psi selaku Ketua Program Studi PG-PAUD
sekaligus pembimbing utama yang telah membimbing, mengarahkan,
menyempatkan waktu, membantu serta memberikan saran dan motivasi guna
xii membangun dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Dr. Lilik Sabdaningtias, M.Pd selaku penguji skripsi yang telah memberikan
masukan dan saran guna perbaikan dan penyempurnaan dalam penyusunan
skripsi ini.
6. Dosen-dosen PG-PAUD terutama ibu Gian Fitria Anggraini, S.Psi., M.Pd.
Yang telah meluangkan waktu dalam membimbing dan Dosen FKIP
Universitas Lampung, yang telah memberikan ilmu dalam membantu proses
penyelesaian skripsi ini.
7. Kedua orangtua, Bapak Rafian Alnedi dan Ibu Sarlina, yang mendidik,
membimbing, memotivasi, merawat dengan penuh kasih dan sayang, serta
doa-doa yang selalu kalian ucapkan. Terimakasih untuk semua yang telah
kalian berikan.
8. Kakak tersayang, Rahmanda Ispermaji terimakasih atas semangat, doa serta
motivasi dalam mencari ilmu.
9. Sahabat-sahabatku Siti, Rizki, Aliva, Lidia, Revi, Shelly, Laras, May
terimakasih atas bantuan, dukungan, semangat dan motivasi yang kalian
berikan.
10. Teman-teman seperjuangan PG-PAUD angkatan 2014 terimakasih telah
membantu menuliskan cerita selama di perkuliahan.
11. Teman-teman KKN, Novia Nisa Fairuza, Rahayu Purnama Sari, Muthia Sari
Olva, Petrina, Dwi Okta, Indah Purnamasari, Agung wibowo, Tyas, Rika,
xiii 13. Ibu Nurhayati, S.Pd selaku kepala sekolah TK Dharma Wanita Penengahan
terimakasih atas bantuan yang diberikan selama penelitian
14. Ibu Musriyati, S.Pd selaku kepala sekolah TK ABA Penengahan terimakasih
atas bantuan yang diberikan selama penelitian
15. Ibu Ida Nursanti S.Pd selaku kepala sekolah TK Tunas Harapan Penengahan
terimakasih atas bantuan yang diberikan selama penelitian.
16. Ibu Rusdiana selaku kepala sekolah TK Ananda Penengahan terimakasih atas
bantuan yang diberikan selama penelitian.
17. Ibu Rumsih selaku kepala sekolah TK PGRI Penengahan terimakasih atas
bantuan yang diberikan selama penelitian.
18. Ibu Anisa Khoirina selaku kepala sekolah TK Annisa Penengahan
terimakasih atas bantuan yang diberikan selama penelitian.
19. Guru-guru TK se- Kecamatan Penengahan terimaksih atas bantuan serta
kerjasamanya selama penelitian.
20. Almamater tercinta yang telah memberikan kebanggaan dan semangat bagi
xiiii telah dilakukan semoga mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT. Amin.
Bandar Lampung, November 2018 Penulis
i XIV
Halaman
DAFTAR ISI... xiv
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 7
C. Pembatasan Masalah ... 7
D. Rumusan Masalah ... 7
E. Tujuan Penenlitian... 8
F. Manfaat Penenlitian... 8
II. KAJIAN PUSTAKA... 10
A. Hakikat Kreativitas Guru... 10
1. Pengertian Kreativitas ... 10
2. Karakteristik Kreativitas... 19
3. Pentingnya Kreativitas bagi Guru ... 21
B. Kompetensi Guru... 30
C. Kompetensi Pedagogik ... 32
D. Hubungan Kreativitas Guru dengan Kompetensi Pedagogik ... 39
E. Penelitian yang Relevan ... 41
F. Kerangka Berfikir ... 43
G. Hipotesis Penenlitian ... 46
III. METODE PENELITIAN ... 47
A. Jenis Penelitian ... 47
B. Waktu dan Tempat Penenlitian ... 47
C. Definisi Konseptual Operasional Variabel ... 48
i XIV
G. Instrumen Penelitian ... 52
H. Kisi-kisi Penelitian ... 55
I. Teknik Analisis Data ... 58
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN... 62
A. Gambaran Umum Lokasi Penenlitian ... 62
B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 64
C. Hasil Analisis Uji Instrumen ... 65
D. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ... 67
E. Deskripsi Data Penelitian ... 68
F. Ananlisis Uji Hipotesis... 71
G. Pembahasan Hasil Penenlitian... 72
V. KESIMPULAN DAN SARAN... 86
A. Kesimpulan... 86
B. Saran ... 86
DAFTAR PUSTAKA ... 90
i XIV
Tabel Halaman
1. Jumlah Guru di PAUD Keamatan Penengahan ... 50
2. Instrumen Penelitian Kisi- Kisi Kreativitas Guru ... 55
3. Alternatif Pilihan Jawaban Kreativitas Guru ... 56
4. Instrumen Penenlitian Kisi-Kisi Kompetensi Pedagogik ... 57
5. Alternatif Pilihan Jawaban Kompetensi Pedagogik... 58
6. Tabel Pedoman Interprestasi terhadap Koefisien Kolerasi ... 60
7. Analisis Tabel Variabel (X) ... 69
8. Distribusi Frekuensi Hasil Variabel (X) ... 69
9. Analisis Tabel Variabel (Y) ... 70
10 Distrubusi Frekuensi Hasil Variabel (Y)... 70
i XIV
Gambar Halaman
1. Ruag Lingkup Kompetensi Pedagogik ... 35
2. Kerangka Pikir Penelitian ... 45
3. Rumus Spearman Brown ... 54
4. Rumus Katagori Data... 58
5. Rumus Koefisien Determinasi ... 61
6. Histrogram Hasil Variabel Kreativitas Guru ... 69
7. Histogram Hasil Variabel Kompetensi Pedagogik ... 71
i XIV
Lampiran Halaman
1. Angket ... 94
2. Skor Angket Variabel X... 98
3. Skor Angket Variabel Y... 99
4. Frekuensi Variabel X ... 101
5. Frekuensi Variabel Y ... 110
6. Uji Validitas Variabel X... 111
7. Uji Validitas Variabel Y... 113
8. Tabel Penolong... 116
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar. Proses pembelajaran yang ditujukan kepada anak harus
disesuaikan dengan karakteristik dan tahapan pengembangan anak. Pemberian rangsangan dalam upaya membantu pertumbuhan dan
pengembangan anak dapat diperolehnya dari lingkungan, seperti guru yang dapat memberikan kesempatan anak untuk mengeskplorasi berbagai pengalaman untuk menumbuh kembangkan semua kemampuan, bakat,
kreativitas dan kemandirian anak. Guru pasti sudah mengenal pendidikan, namun tidak semua menjalankan pendidikan sebagaimana mestinya.
Tugas guru bukan hanya mengajar, menyampaikan, atau mentransformasikan pengetahuan kepada anak di sekolah, melainkan guru
mengemban tugas untuk mengembangkan kepribadian anak didiknya secara terpadu. Menurut Peraturan Pemerintahan No. 20 Tahun 2003 Pasal 39 ayat 2 Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan bahwa tugas guru adalah
mengembangkan kesempatan belajar dalam menggali berbagai potensi. Guru harus semakin professional dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Guru yang melaksanakan tugas dan fungsinya secara maksimal,
akan ditandai oleh semangat kerja yang tinggi, tidak mudah menyerah, terbuka terhadap berbagai pengalaman, senantiasa mengembangkan diri,
berfikir positif, berusaha menemukan berbagai alternatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, menerapkan cara-cara baru dan unik untuk mencapai hasil yang terbaik.
Kemampuan dalam menjalankan tugas guna mencerdaskan peserta didik, seorang guru harus memiliki 4 kompetensi dasar guru. Menurut Peraturan
Pemerintah No. 137 Tahun 2014 Pasal 25 Ayat 2 Standar Pendidikan Nasional Bab VII mengatur Kompetensi Guru TK mencakup (1) kompetensi pedagogik (2) kompetensi kepribadian (3) kompetensi
keprofesionalan, (4) kompetensi sosial. Keempat kompetensi tersebut menjadi kriteria yang harus dipenuhi oleh guru. Guru yang memiliki kreativitas tinggi tidak akan puas dengan kemampuan yang telah dimiliki.
Kreativitas akan mendorong guru untuk mencoba hal-hal yang baru, baik berupa penerapan maupun modifikasi berbagai model-model, pendekatan,
metode-metode, dan strategi agar terciptanya tujuan pembelajaran yang efektif. Tujuan pembelajaran tersebut sejalan dengan kompetensi pedagogik yang dimiliki guru.
beluk pendidikan anak, guru tidak hanya pandai dalam teori juga harus pandai dalam praktek. Kompetensi Pedagogik sebagai ilmu sangat dibutuhkan oleh guru dalam mendidik, khususnya guru Taman Kanak-
Kanak dalam mengemas ilmu yang diketahui dengan cara yang menarik dan mudah dipahami oleh peserta didik, mampu membuat perencanaan
kegiatan, mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memberikan lingkungan belajar yang nyaman, melakukan evaluasi ketika anak melakukan kegiatan dan memilih media yang tepat dan aman untuk
anak dalam memahami berbagai konsep yang dikemas dalam kegiatan bermain yang menyenangkan sehingga anak tidak bosan.
Kondisi tersebut diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Brownlee & Berthelsen (2006) dalam Biggs (1993) mengatakan bahwa, “Description of how learning takes place by discussing presage
(environmental and personal factors that influence learning), process
(approaches to learning) and product (outcome)factors”. Pernyataan ini menjelaskan bahwa pembelajaran berlangsung dengan menerapkan model
of learning atau sebuah kerangka fikir dalam memahami sifat pembelajaran dalam pendidikan yang membahas faktor-faktor penentu
melalui pribadi maupun lingkungan, kemudian faktor tersebut bergerak melalui berbagai pendekatan pembelajaran yang efektif kemudian proses tersebut membuahkan produk yang merupakan hasil daya cipta
Guru yang memiliki Kreativitas dapat diwujudkan pada seluruh tahap perkembangan anak usia dini dini dalam keterampilan mengajar seperti merencanakan, melaksanakan, dan penilaian. Sebuah perencanaan
pembelajaran yang matang, akan memberikan umpan balik yang dapat mengembangkan berbagai kelemahan yang terjadi. Umpan balik seorang
guru yang kreatif akan selalu memperbaiki berbagai pengalaman dan berupaya berinovasi menemukan hal-hal baru.
Proses pelaksanaan pembelajaran yang kreatif, dapat diwujudkan melalui
pengelolaan kelas, penataan kelas, kombinasi pembelajaran di dalam dan diluar kelas, dan modifikasi berbagai strategi atau ilmu mendidik, dan
teknik penilaian. Kreativitas guru dapat dilihat dari upaya yang dilakukan dalam mengembangkan profesi seperti melakukan tindakan reflektif, seperti penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan
penguasaan sejumlah subjek akademik.
Pentingnya pengembangan kreativitas di dalam proses pembelajaran pun tertuang di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun
2003 Bab III tentang Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan, menyebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan member keteladanan,
membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Setiap orang pada dasarnya memiliki potensi kreatif, sehingga yang lebih penting adalah bagaimana
(internal) maupun dari luar (eksternal). Dikaitkan dengan guru, faktor- faktor yang mempengaruhi kreativitas yang berasal dari diri sendiri antara lain motivasi kerja, minat terhadap profesi,dan keinginan untuk
mengaktualisasikan diri. Sosok guru yang selalu mengembangkan kreativitas sama pentingnya dengan penguasaan guru terhadap kompetensi,
baik kompetensi pedagogik maupun professional. Guru yang menguasai kompetensi pedagogik dengan baik diharapkan dapat mengembangkan kreativitas pembelajaran secara inovatif dan berfariasi, sehingga subtansi
pembelajaran yang menjadi inti dapat dicapai dengan efektif. Faktor yang berasal dari luar antara lain adalah lingkungan belajar yang kondusif untuk
tumbuh kembang dan berkembangkan kreativitas.
Berdasarkan Hasil diklat yang pernah diikuti oleh guru pendidikan anak usia dini di Kecamatan Penengahan Lampung Selatan tahun 2016 terdapat
59,10% guru dengan katagori rendah, dalam berinovasi pembuatan media/APE, kurangnya keterampilan guru dalam merancang topik dalam RPP, kurangnya pemahaman guru mengenai K13, minimnya kegiatan
evaluasi saat proses pembelajaran berlangsung. Kondisi tersebut diperkuat dengan Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015 terutama untuk
kompetensi pedagogik guru- guru di Indonesia berada pada posisi yang paling rendah dengan rata- rata nasional hanya mencapai skor 49,94. Berkenaan dengan kreativitas di Indonesia dapat dilihat dari hasil Indeks
Kreativitas Dunia/GlobalCreativity Index(CGI) yang dipublikasikan oleh Martin Prosperity Institute (MPI) pada tahun 2011 Indonesia menempati
sistem pendidikan di negara kita belum mampu untuk mengembangkan kreativitas pendidik selama proses pembelajaran berlangsung.
Harapan bagi pendidik anak usia dini agar senantiasa lebih berinovasi dan
kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran. Memberikan solusi akan pentingnya strategi pengajaran dengan menerapkan sistem belajar sambil
bermain, bermain seraya belajar, dengan permainan - permainan yang menarik. Pembelajaran yang bermakna yang diberikan oleh guru akan sangat berarti bagi anak jika pembelajaran tersebut disandingkan dengan
aktifitas bermain yang syarat akan ide kreatif. Kemudahan belajar yang dirasakan anak sangat dipengaruhi oleh keterampilan mengajar. Kreativitas
guru memiliki peranan yang penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Peserta didik yang kreatif hanya akan dihasilkan melalui pembelajaran yang difasilitasi dengan guru kreatif.
Dengan pertimbangan tersebut peneliti tertarik untuk mengkaji Hubungan Kreativitas Guru dengan Kompetensi Pedagogik, yaitu kompetensi pedagogik mengacu pada kualitas pendidikan dan pembelajaran.
Kompetensi pedagogik sangat penting dimiliki oleh setiap guru khususnya guru anak usia dini, hal ini diyakini dapat menjembatani pembelajaran
yang efektif dengan kemudahan belajar anak. Guru PAUD di Kecamatan Penengahan belum seutuhnya menguasai kompetensi pedagogik, meliputi keterampilan mengajar, pengetahuan teoritis, dan sikap. Peneliti berharap
mengenai pentingnya kompetensi pedagogik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, khususnya dalam pengembangan kreativitas anak.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas permasalahan yang ada dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Masih terdapat guru yang kurang dalam pemahaman K13.
2. Masih terdapat guru tidak berinovasi dalam pembuatan media/APE yang kreatif.
3. Masih terdapat guru yang menerapkan teacher center.
4. Masih terdapat guru yang mengabaikan evaluasi saat kegiatan
kreativitas berlangsung.
C. Pembatasan Masalah
Menghindari kesalahan dan penafsiran dan menghindari penyimpngan dari
objek yang akan di teliti perlu adanya pembatasan masalah. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimana hubungan kreativitas guru dengan kompetensi pedagogik di Kecamatan Penengahan Lampung
Selatan.
D. Rumusan Masalah Masalah
Sebagian besar guru belum memiliki kompetensi pedagogik dalam pelaksanaan pembelajaran krativitas di TK Kecamatan Penengahan
Permasalahan:
Apakah ada hubungan krativitas guru dengan kompetensi pedagogik di PAUD Kecamatan Penengahan Lampung Selatan? dengan demikian judul
peneliti adalah “Hubungan Kreativitas guru dengan Kompetensi Pedagogik di Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan.”
E. Tujuan Penenlitian
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah dikemukakan didepan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan krativitas guru
dengan kompetensi pedagogik di Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan.
F Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mempunyai beberapa manfaat, yaitu: 1. Manfaat Teoritis
Untuk menambah pemahaman akan pentingnya kreativitas guru dengan kompetensi pedagogik dalam menyusun konsep dan strategi baru bagi
pengembangan kemampuan dan wawasan.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru
1. Untuk mengembangkan kompetensi pedagogik guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
2. Dapat mengemas kegiatan yang dilakukan dengan cara yang menarik dan nyaman bagi anak.
mengembangkan kreativitas, khususnya berkaitan dengan kompetetensi pedagogik, demi tercapainya process dan hasil belajar yang efektif.
b. Bagi Anak
1. Dapat mengembangkan kemampuan kreativitas anak.
2. Dapat membuat anak termotivasi dalam pembelajaran.
3. Mengortimalkan tumbuh kembang anak dengan mendapatkan guru yang berkompetensi.
c. Bagi Kepala Sekolah
Hasil penelitian ini akan menjadi pertimbangan bagi kepala
sekolah dalam meningkatkan kualitas guru dalam pembelajaran di kelas dan mengetahui pentingnya kompetensi pedagogik guru agar dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran kreatif akan
mendapatkan hasil yang diharapkan.
d. Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengalaman langsung tentang
kreativitas guru dan pentingnya kompetensi pedagogik.
e. Bagi Peneliti Lain
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Hakikat Kreativitas Guru 1. Pengertian Kreativitas
Kreativitas adalah kebutuhan esensial untuk pertumbuhan dan
keberhasilan bagi pengembangan potensi anak secara utuh dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Menurut Abraham Maslow (1908-1970) pendukung utama dari teori Humanistik,
manusia mempunyai naluri- naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan ini harus dipenuhi dalam urutan tertentu, kebutuhan prmitif muncul pada saat lahir, dan kebutuhan tingkat
tinggi berkembang sebagai proses pematangan. James J. Gallagher (1985) mengatakan bahwa “ Creativity is a mental process by which
an individual creates new ideas or products, or recombines existing
ideas and product, in fashion that is novel to him or her” (kretivitas merupakan suatu proses mental yang dilakukan individu berupa
gagasan ataupun produk baru, atau mengombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya).
Lebih lanjut Supriadi (1994) mengutarakan bahwa “kreativitas adalah
berupa gagasan maupun kerja nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada”. Kreativitas merupakan kompetensi berfikir tingkat
tinggi yang mengimplikasikan terjadinya skalasi dalam kompetensi
berfikir, ditandai oleh suksesi, diskontinuitas, diferensiasi, dan integrasi natar setiap tahap pengembangan.
Menurut Carl Rogers (1902-1987) tiga kondisi dari pribadi yang kreatif ialah:
a. Keterbukaan dengan pengalaman.
b. Kompetensi untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi seseorang (internal locus of evalution), dan
c. Kompetensi untuk bereksperimen, untuk “bermain” dengan konsep-konsep.
Apabila seseorang memiliki ketiga ciri diatas maka kesehatan
psikologisnya sangat baik. Orang tersebut akan berfungsi sepenuhnya menghasilkan karya-karya kreatif, dan hidup secara kreatif. Ketiga ciri atau kondisi tersebut merupakan dorongan dari dalam (internal press)
untuk kreasi, khususnya guru anak usia dini.
Berdasarkan kutipan kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa semua
guru, khususnya guru pendidikan anak usia dini hakikatnya memiliki jiwa kreatif. Lebih matangnya apabila kreativitas itu dapat
dikembangkan dengan optimal. apabila anak diberikan proses pematangan sejak lahir sesuai tahap perkembangannya yang akan menjadi pembiasaan dan melekat pada diri anak, dan menjadi
Prinsip umum pembinaan guru kreatif menurut Cropley (1997) tentang Sembilan prilaku guru kreatif yaitu:
1. Independence (penyesuaian) : memahami kemampuan awal peserta
didik, melakukan pendekatan terhadap seluruh siswa dengan memahami tiap karakter peserta didik.
2. Integration (pembaharuan) : guru yang berintegrasi berarti
kesempurnaan atau keseluruhan, dimaksudkan guru kreatif memiliki penyesuaian diri dalam pembentukan karakter baru.
Guru kreatif selalu mencari perbaikan atau perubahan dan senang melakukan pencaharian gagasan yang disatukan menjadi sesuatu
yang baru. Guru kreatif tidak menyukai hal atau cara yang konvensional.
3. Motivation (motivasi): memberikan dorongan pengetahuan,
seorang guru kreatif dapat memotivasi dirinya dan orang lain dalam berbagai kegiatan kreatif. Guru kreatif menyediakan fasilitas dan sarana untuk berkreasi dan tidak membatasi ruang gerak
peserta didik.
4. Judgment (pertimbangan): memberi saran dengan tidak
menghakimi. Menghargai hasil dan keunikan kreativitas anak dengan tidak membandingkan- bandingkan
5. Flexibility (fleksibel): berfikir fleksibel terhadap setiap perubahan
6. Evaluation (evaluasi) selalu melakukan kegiatan penilaian, baik
dalam proses maupun hasil peserta didik, menyimpulkan dan memberikan. Evaluasi proses menyangkut mental guru dalam
berfikir kreatif yang terbentuk melalui pembelajaran, dan evaluasi hasil kreatifitas yang dapat dibentuk dari gagasan sikap atau
produk final.
7. Question (pertanyaan) guru kreatif senang mengajukan pertanyaan yang baik, mendengarkan dan mempertimbangkan ide siswa serta
memberikan pertanyaan sederhana.
8. Opportunities (peluang) menciptakan peluang lingkungan belajar
yang bervariasi, dengan menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat dan konstruktif bagi pengembangan diri.
9. Frustration (frustasi) guru yang kreatif memiliki citra diri dan
stabilitasi yang baik, menyediakan jaring pengamananan untuk dalam mengatasi frustasi atau kegagalan dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, Cropley (1997) menyebut 4 (empat) hal yang diperlukan untuk mendorong potensi kreatif muncul, Pertama,
seseorang memiliki pengetahuan dalam bidang tertentu, misalnya, melalui penerapan conventional learning skills, ini merupakan prasyarat bagi seseorang untuk menjadi kreatif. Kedua, ada bakat atau
talenta. Talenta adalah kombinasi antara sensori motor dan kemampuan intelektual yang menyebabkan seseorang dapat
usaha besar (great effort) dilakukan untuk menghasilkan produk. seorang kreatif memiliki motivasi tinggi. Motivasi tinggi seorang kreatif mempunyai kepercayaan diri tinggi bahwa ia akan dapat
mencapai tujuan atau yang ingin dicapai (expectation of mastery). Motivasi tinggi dan percaya diri melahirkan sifat “lapar atau haus”
akan pengalaman atau obsesif dengan ide atau tugas. Keempat, kesempatan yang tersedia. Potensi kreatif seorang akan muncul apabila seseorang diberi kesempatan.
Cropley(1997) mengungkapkan ada 3 (tiga) hal atau komponen yang dapat memperkaya pandangan Fisher dan Williams, yaitu (a)
pengetahuan, (b) talenta dan (c) usaha keras secara maksimal untuk mewujudkan potential kreatif menjadi actual. Seseorang kreatif dapat dilihat dari kecerdasannya dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan
yang sulit. Seorang kreatif selalu mencari perbaikan atau perubahan dan senang melakukan pencaharian gagasan, dan tidak suka mengikuti
hal atau cara yang konvensional.
Guru kreatif, menurut Cropley (1997) yaitu fleksibel, luas pangaruh dalam menyajikan materi dan menemukan cara penyajikan kepada
anak (peserta didik). Guru kreatif mampu membangun hubungan yang menyenangkan dan dengan konsisten mengembangkan berfikir
diverjen, guru kreatif tidak bersikap manut namun kritis dalam relasi dengan kolagennya. Evaluasi pembelajaran proses kreatif ditujukan pada dua sasaran, pertama, evaluasi proses menyangkut mental berfikir
kreativitas yang dapat berbentuk gagasan sikap dan produk benda yang mungkin sudah final atau masih sementara. Menurut Cropley (1997), dapat dikembangkan dengan menggunakan berbagai cara atau
pendekatan. Para guru, misalnya membantu peserta didik melahirkan gagasan baru (invensi dan orisinal); menata kelas yang memberi
banyak kesempatan peserta didik untuk memiliki gagasan baru (invensi dan original) seperti menata kelas yang diberikan banyak peserta didik untuk memunculkan kreativitas, bersedia menerima atau
menghargai atau toleran terhadap prilaku kreatif; mengembangkan minat peserta didik berkreasi (kreatif) dan meyakinkan mereka bahwa
mereka memiliki potensi menjadi insan kreatif. Para guru dapat menstimulasi kreativitas dikelas dengan memperhatikan sikap dan prilaku kreatif (role model), secara singkat dapat disimpulkan bahwa
ada beberapa syarat yang diperlukan untuk menumbuhkan prilaku, sikap dan tindak kreatif di lingkungan sekolah. Para guru yang yang memiliki kemampuan divergen tinggi dapat mendorong
pengembangan daya kreatif di kalangan peserta didiknya, meski para guru tidak membuat suatu upaya khusus dan disengaja untuk
menumbuhkan kreativitas. Prilaku kreatif dari para guru teladan merupakan suatu faktor yang sangat kuat mendukung pengembangan kreativitas dikalangan peserta didik .
Proses hanya akan terjadi jika dibangkitkan melalui masalah yang memacu pada lima macam prilaku kreatif, sebagaimana yang
a. Flunecy (kelancaran), yaitu kompetensi mengemukakan ide yang serupa untuk memecahkan suatu masalah.
b. Flexibility ( keluwesan), yaitu kompetensi untuk menghasilkan
berbagai macam ide guna memecahkan suatu masalah diluar katagori yang biasa.
c. Originality( keaslian), yaitu kompetensi memberikan respons yang unik atau luar biasa. Guru membantu peserta didik memiliki gagasan baru dan bersedia menerima atau menghargai tiap prilaku
kreatif.
d. Elaboration (keterperincian), yaitu kompetensi menyatakan
pengarahan ide secara terperinci untuk mewujudkan ide menjadi kenyataan.
e. Sensitivity (kepekaan), yaitu kepekaan menangkap dan
menghasilkan masalah sebagai tanggapan dengan suatu situasi. Memahami (peka) terhadap perubahan peserta didik.
Kreativitas dapat dipandang sebagai sebuah bentuk intelejensi. Garrdner (1978) memandang kreativitas merupakan salah satu dari „multiple intelejensi‟ yang meliputi berbagai macam fungsi otak.
Kreativitas merupakan sebuah komponen penting dan memang perlu. Tanpa kreativitas pembelajarn hanya akan bekerja pada sebuah tingkat
kognitif yang sempit.
a. “Press”
Kreativitas agar dapat terwujud membutuhkan adanya dorongan dalam diri individu (motivasi instrinsik) maupun dorongan dari
lingkungan (motivasi ekstrinsik) 1. Motivasi untuk kreativitas
Pada setiap orang ada kecenderungan atau dorongan untuk mewujudkan potensinya, untuk mewujudkan dirinya, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang,
dorongan untuk mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas seseorang. Dorongan ini merupakan motivasi
primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan- hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya menjadi diri yang sepenuhnya (Roger, dalam
Vernon, 1982). Dorongan ada pada setiap orang dan bersifat internal ada dalam diri individu sendiri, namum
membutuhkan kondisi yang tepat untuk di ekspresikan.
2. Kondisi eksternal yang mendorong prilaku kreatif
Kreativitas tidak dapat dipaksakan, namun harus
dimungkinkan untuk tumbuh. Bibit unggul memerlukan konsisi yang memupuk dan memungkinkan bibit itu
mengembangkan sendiri potensinya. Bagaimana kita dapat mengupayakan lingkungan (kondisi eksternal) yang dapat memupuk dorongan dalam diri anak (internal) dalam
b. Proses kreatif
Teori Wallas yang dikemukakan tahun 1926 dalam bukunya The Art of Thought (Piirto, 1992), yang menyatakan bahwa proses
kreatif meliputi empat tahap (1) persiapan, (2) inkubasi, (3) iluminasi, dan (4) verivikasi. Pada tahap pertama seseorang
mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang, dan sebagainya. Pada tahap kedua, kegiatan mencari dan menghimpun
data/ informasi tidak dilanjutkan. Tahap inkubasi adalah tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk semantara
dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam
prasadar. Tahap iluminasi adalah tahap timbulnya “insight” atau
Aha-Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru. Tahap verivikasi atau
tahap evaluasi ialah tahap dimana idea tau kreasi baru tersebut harus diuji dengan realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan
konvergen, dengan kata lain, proses divergence (pemikiran kreatif) harus diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis).
c. Produk
atau peluang untuk bersibuk diri secara kreatif maka diprediksikan bahwa produk kreatifnya akan muncul.
Cropley (1994) menunjukan hubungan antara tahap tahap proses
kreatif (Wallas) dan produk yang dicapai,ia menekankan bahwa prilaku kreatif memerlukan kombinasi antara ciri-ciri psikologis
yang berinteraksi sebagai hasil dari berfikir konvergen atau intelegensi (memperoleh pengetahuan dan pengembangan keterampilan), manusia memiliki seperangkat unsur-unsur mental.
Jika dihadapkan dengan situasi yang menuntut tindakan (pemecahan masalah dalam arti luas) individu mengerjakan dan
menggabung usnur-unsur mental sampai timbul „konfiguasi‟. Konfigurasi ini dapat berupa gagasan model, tindakan, cara
menyusun kata, melodi atau bentuk.
Berdasarkan kutipan kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa Kreativitas merupakan tindakan atau gagasan membutuhkan adanya
Keempat P ini saling berkaitan: Pribadi yang kreatif yang melibatkan diri dalam proses kreatif, dan dengan dukungan dan dorongan (press) dan lingkungan, akan menghasilkan produk kreatif.
2. Karakteristik Kreativitas
Salah satu aspek penting dalam kreativitas adalah memahami
mengitarinya. Guru yang kreatif biasanya selalu ingin tau, memiliki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktifitas yang kreatif. Guru yang kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya
diri, mereka lebih berani mengambil resiko (dengan perhitungan).
Supriadi (1994) mengatakan bahwa cirri-ciri kreativitas dapat
dikelompokan dalam dua katagori, kognitif dan nonokognitif. Ciri kognitif diantaranya orisinalitas, fleksibilitas, kelancaran, dan elaborasi. Sedangkan cirri nonkognitif diantaranya motivasi sikap dan
pribadi kreatif. Kedua ciri ini sama pentingnya, kecerdasan yang tidak ditunjang dengan kepribadian kreatif tidak akan menghadilkan
apapun. Kreativitas hanya dapat dilahirkan dari orang cerdas yang memiliki kondisi psikologis yang sehat. Kreativitas tidak hanya pembuatan otak saja namun variabel emosi dan kesehatan mental
sangat berhubungan dengan lahirnya sebuah karya kreatif. Kecerdasan tanpa mental yang sehat sulit sekali dapat menghasilkan karya kreatif.,
Sedangkan mengenai 24 ciri kepribadian yang ditemukan dalam
berbagai studi dalam (Rachmawati & Kurniarti 2010: 15), adalah sebagai berukut:
a. Terbuka terhadap pengalaman baru b. Fleksibel dalam berfikir dan merespons
c. Bebas dalam menyatakan pendapat dan perasaan d. Menghargai fantasi
e. Tertarik pada kegiatan kreatif
f. Mempunyai pendapat sendiri dan tidak terpengaruh oleh orang lain
g. Mempunyai rasa ingin tahu yang besar.
i. Berani mengambil resiko yang diperhitungkan j. Percaya diri dan mandiri
k. Memiliki tanggung jawab dan komitmen kepada tugas l. Tekun dan tidak mudah bosan
m. Tidak kehabisan akan dalam memecahkan masalah. n. Kaya akan inisiatif
o. Peka terhadap situasi lingkungan
p. Lebih berorientasi ke masa kini dan masa depan daripada masa lalu.
q. Memiliki citra diri dan stabilitas emosi yang baik.
r. Tertarik kepada hal- hal yang abstrak. Kompleks, holistis, dan mengandung teka-teki.
s. Memiliki gagasan yang orisinil t. Mempunyai minat yang luas.
u. Menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat dan konstruktif bagi pengembangan diri
v. Kritis terhadap pendapat orang lain. w. Senang mengajukan pertanyaan yang baik.
x. Memiliki kesadaran etika-moral dan estetik yang tinggi.
Berdasarkan kutipan kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa adapun
ciri- ciri kreativitas pada diri seorang guru PAUD yang mendominasi ciri kreatif pada seorang guru akan membantu pendidik mengenali diri anak, sehingga akan dengan siaga guru mengembangkan potensi
tersebut lebih optimal. Kreativitas pada guru dapat tumbuh secara almiah, kondidi psikologis maupun lingkunan yang mendukung,
sebagai suatu proses aktifitas kreatif sehingga dapat melahirkan karya kreatif, lingkungan yang mendukung ialah guru anak usia dini.
10. Pentingnya Kreativitas bagi Guru
Kaitan antara kreativitas dengan dunia pendidikan sudah banyak dikaji oleh banyak ahli, Piaget dalam Mulyasa (2012) mengutip “The
principle goal of education is to create man who are capable of doing
doneman who are creative, inventive, and discoverers”. Kalimat tersebut menunjukan betapa kreativitas dan orang-orang yang kreatif sangat penting untuk menciptakan manusia dengan hal-hal baru.
Pribadi kreatif memiliki inovasi dalam menyelesaikan semua masalah, dan memiliki ide-ide baru yang kreatif dan konstruktif.
Kreativitas penting dimiliki oleh guru, khususnya guru anak usia dini dalam mengoptimalkan tumbuh kembang dan tujuan yang diharapkan. Kreativitas yang dipupuk sejak dini akan menghasilkan anak bangsa
yang syarat akan ide-ide kreatif. Guru yang kreatif akan melakukan hal-hal dengan inovatif seperti metode, strategi, dalam kegiatan
pembelajaran dikelas. Merujuk pada kurikulum disebutkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak menerapkan aspek-aspek nilai moral agama, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosiaonal, serta
seni. Semua aspek tersebut dapat tercover dengan kreativitas yang guru miliki. Kreativitas memicu guru lebih maksimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mengembangkan diri,
terbuka terhadap pengalaman baru, memiliki semangat kerja yang tinggi, tidak mudah menyerah, berfikir positif, dan berupaya
menemukan berbagai alternatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Menurut Rachmawati & Kurniarti (2010: 15) ada empat hal yang
a. Rangsangan Mental
Suatu karya kreatif dapat muncul jika anak mendapatkan rangsangan mental yang mendukung. Pada aspek kognitif anak
distimulasi agar mampu memberikan berbagai alternative pada setiap stimulant yang muncul. Pada aspek kepribadian anak
distimulasi untuk mengembangkan berbagai macam potensi pribadi kreatif seperti percaya diri, keberanian, ketahanan diri, dan lain sebagainya. Pada aspek suasana psikologis
(psychological athmosphere) distimulasi agar anak memiliki rasa aman, kasih saying, dan penerima. Menerima anak dengan segala
kekurangan dan kelebihannya akan membuat anak berani mencoba, berinisiatif dan berbuat sesuatu secara spontan. Sikap ini sangat diperlukan dalam pengembangan kreativitas.
Hal ini berarti para pendidik harus siap untuk menerima apapun karya anak dukungan mental bagi anak sangat diperlukan. Dengan adanya dukungan mental anak akan merasa merasa dihargai dan
diterima keberadaannya sehingga ia akan berkarya dan memiliki keberanian untuk memperlihatkan kompetensinya. Sebaliknya,
tanpa dukungan mental yang positif bagi anak maka kreativitas tida akan terbentuk
b. Iklim dan kondisi lingkungan
sempit, pengap dan menjemukan akan terasa muram tidak bersengamat dalam mengumpulkan ide yang cemerlam. Kreativitas dengan sendirinya akan mati dan tidak berkembang
dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
Cherry (1976) dan Ayan (2002) mengemukakan beberapa kondisi
lingkungan yang harus diciptakan untuk menumbuhkan jiwa kreatif sebagai berikut
1. Pencahayaan
Cahaya merupakan salah satu sumber energy kreatif paling ampuh, bahkan cahaya matahari yang terang langsung
memiliki kaitan biologis dengan tubuh dan pikiran.Kaitan antara cahaya dan energy lahir dan batin ditimbulkan oleh hubungan cahaya dengan kelenjar pineal, penghasil hormone
melatonin.Melatonin memhubungani kelenjar hipotalamus, yang merupakan pengatur irama siang malam biologis tubuh. Karena sinar matahari menghambat aliran melatonin, yang
mencapai titik tertinggi dalam gelap, para peneliti yakin bahwa melatonin berperang penting dalam mengatur
kesiagaan dan kompetensi kerja fisik dan mental, sebagaimana unsur kimiawi tubuh lain yang dihubungani
2. Sentuhan warna
Warna memiliki aspek tertentu dengan lingkungan, warna dapat membuat kita merasa penuh energy. Sementara warna
lain punya efek menenangkan. Ada beberapa cara dasar penggunaan warna untuk menciptakan lingkungan kreatif.
Pertama, warnbailah sebagian besar ruang kerja untuk mendapatkan perasaan yang anda inginkan. Kedua, buatlah variasi warna sesuatu dengan suasana hati dan kebutuhan
yang berbeda. Ketiga, banyaknya warna merangsang berbagai pikiran dan perasaan.
3. Seni dalam lingkungan
Seni bernuasa lingkungan tidak harus sempurna atau abadi, namun ia dapat diubah dan diganti karena “keanekaragaman adalah bumbu kehidupan”.
4. Bunyi dan musik
Sebagian orang lebih sennag bekerja dalam keheningan, walaupun ada pula orang yang lebih suka bekerja dengan diiringi musik. Musik dan bunyi mempunyai dua fungsi:
Jenis musik tertentu dapat meningkatkan fungsi otak dan
Musik dapat mengeluarkan anda dan zona kenyamanan menuju pikiran dan perasaan baru, tepat pada bidang yang kita butuhkan agar menjadi kreatif.
5. Aroma
Aroma secara langsung merangsang bagian otak- system
limbic- yang bekerja atas emosi dan ingatan primitive. Akibatnya satu jenis bau mampu mengeruk segunung emosi dan menggugah ingatan lama
6. Sentuhan
Unsur sentuhan dan cara tekstur agar memengaruhi suasana
hati dan kreativitas, di antaranya:
Gunakan sentuhan untuk menghadirkan kenyamanan
fisik dan reaksi.
Gunakan sentuhan untuk mencapai ketenangan.
Gunakan sentuhan dan gerak untuk mendapatkan
rangsangan.
7. Cita rasa
Santapan memhubungani suasana mental dan emosional
menurut Judith Wurtman, ada tiga prinsip penting dalam masalah gizi yang harus diingat:
Karbohidrat menyebabkan kantuk, dan akan mengurangi
Protein meningkatkan kesiagaan. Sedangkan lemak
menumpulkan ketajaman mental.
Pola makan terbaik adalah yang mementingkan
buah-buahan segar dan sayuran, hindari makanan yang diproses, bahan sintesis, gula, tepung, kafein, dan
alcohol.
c. Peran guru
Guru adalah tokoh bermakna dalam kehidupan. Guru memegang
peranan lebih dari sekedar pengajar, melainkan pendidik dalam arti yang sesungguhnya. Guru melakukan proses identifikasi peluang „untuk munculnya siswa yang kreatif harus ada pula guru
yang kreatif. Guru yang kreatif adalah guru yang secara kreatif mampu menggunakan berbagai pendekatan dalam proses kegiatan
belajar dan membimbing siswanya. Guru juga adalah figur yang yang sedang melakukan kegiatan kreatif dalam hidupnya.
Beberapa hal yang dapat mendukung peran guru dalam mengembangkan kreativitas siswa adalah sebagai berikut:
1. Percaya diri
Kepercayaan diri pada guru dapat ditumbuhkan melalui sikap penerimaan dan menghargai prilaku anak. Kepercayaan diri
menampilkan karya alami mereka jika lingkungan terutama guru menghargainya.
2. Berani mencoba hal baru
Untuk menumbuhkan kreativitas anak mereka perlu dihadapkan pada berbagai kegiatan baru yang bervariasi.
Kegiatan baru ini akan memperkaya ide dan wawasan anak tentang segala sesuatu. Jika seorang guru hanya mengandalkan kegiatan rutin saja, ia akan kehilangan semangat dan motivasi
untuk mengajar. Begitupun dengan anak mereka akan kehilangan „rasa ingin tahu‟ dan motivasi untuk belajar
.seorang pendidik yang kreatif akan sangat memahami kondisi anak, sehingga terus mengembangkan dirinya dan berinteraksi
dengan hal baru.
3. Memberikan contoh
Seorang pendidik yang baik tidak akan pernah mengajarkan
apa yang tidak dia lakukan, demikian juga dalam pengajaran kreativitas. Seorang guru yang tidak kreatif, tidak mungkin dapat melatih anak didiknya untuk menjadi kreatif. Oleh karena
4. Menyadari keberagaman karakteristik anak
Setiap anak adalah unik dan khas, masing-masing berbeda satu sama lain. Pemahaman dan kesadaran akan membantu guru
menerima keragaman prilaku dan karya mereka dan tidak memaksakan kehendak.
5. Memberikan kesempatan pada anak untuk berekspresi dan bereksplorasi
Mengembangkan kreativitas anak guru sebaikanya
memberikan kesempatan bagi anak untuk berekspresi dan mengeksplorasi kegiatan yang mereka inginkan. Dengan
demikian guru perlu menyiapkan berbagai pendekatan, metode, dan media pembelajaran yang akan membuat anak
bebas mengeksplorasi dan mengekspresikan dirinya.
6. Positive thingking
Sikap penting seorang guru adalah positif thingking.Banyak
anak cerdas dan kreatif menjadi korban, karena sikap guru dan lingkungannya yang negative thingking. Anak yang aktif tifak bisa diam, punya cara dan kehendak sendiri dalam
mengerjakan tugas, tidak bisa langsung diberikan lebel nakal, guru harus memprioritaskan positivethingkingnya daripada
B. Kompetensi Guru
Kompetensi dalam bahasa Indonesia merupakan bahasa serapan dari bahasa inggris “competence” yang berarti kecakapan dan kompetensi.
Menurut McLeod dalam Suryanto (2013:1) Kompetensi adalah:
Kompetensi sebagai prilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kompetensi guru sendiri merupakan kompetensi seorang guru dalam melaksanakan kewajiban secara bertanggung jawab dan layak dimata pemangku kepentingan
Menurut Kunandar (2009:55) “kompetensi guru adalah seperangkat
penguasaan kompetensi yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerja secara tepat efektif”. Alkornia (2014) “Kompetensi
guru merupakan kompetensi dan kewenangan guru dalam menjalankan kewajiban- kewajibannya dengan tanggung jawab dan tugasnya menjadi guru”.
Kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintahan No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
yaitu:
1. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik yang harus dikuasai guru meliputi pemahaman guru terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk
2. Kompetensi Kepribadian
Kempetensi kepribadian bagi guru merupakan kompetensi personal mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif
,berakhlak mulia dan berwibawa, dan dapat menjadi teladan bagi siswa.
3. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial merupakan kompetensi yang harus dimiliki guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan siswa, sesame
pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali siswa, dan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi Profesional
Kompetensi professional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang harus dikuasai guru mencakup
penguasaan materi kurikulum mata pelajaran disekolah dan subtansi keilmuan yang menaungi materi, serta penguasaan terhadap struktur metodologi keilmuan.
Berdasarkan pendapat – pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru adalah kecakapan sekaligus tanggung jawab mutlak yang
diperlukan bagi setiap guru dalam mendidik anak. Kompetensi guru bertujuan menjadikan kegiatan belajar berjalan sesuai tujuan yang diharapkan. Guru yang kompeten dalam bidangnya merupakan salah satu
C. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi Pedagogik didasarkan pada suatu pengetahuan sebagai gambaran profesionalan seorang guru dalam pembelajaran aktif dikelas.
Menurut Haenilah (2017:20) Kompetensi Pedagogik merupakan serangkaian aktivitas professional mulai dari merumuskan perencanaan,
mengembangkan pembelajaran, merefleksi perencanaan dan pembelajaran, hingga membangun hubungan riset dengan pembelajaran. Aktivitas tersebut menjadi sebuah siklus yang berkesinambungan yang diiringi
keterampilan mengajar serta perspektif belajar mengajar dan bermuara pada keberhasilan belajar siswa.
Kompetensi Pedagogik adalah; (1) sejumlah pilar kompetensi pedagogik yang harus dibangun untuk menjadi seorang ahli pendidik; (2) upaya menggembangkan kompetensi pedagogik dengan menggunakan pola yang
jelas; (3) mengevaluasi kompetensi pedagogik (Haenilah, 2017:21). Kompetensi pedagogik mengacu pada kualitas pendidikan dan
pembelajaran. Menilai kompetensi pedagogik, kualitas pembelajaran harus menjadi pertimbangan utama, didalamnya meliputu keluasaan dan kedalaman tentang materi yang diajarkan, kompetensi merencanakan,
mengembangkan pembelajaran, (memulai, inti, penutup), memimpin, serta mengembangkan pembelajaran berdasarkan penelitian yang relevan.
Ryegard, Apelgren & Olsson (2010) mengutarakan hal lainnya seperti kompetensi untuk berinteraksi dengan isu- isu yang berkaitan dengan pembelajaran aktif juga termasuk dalam lingkungan kompetensi
Badan Standar Nasional Pendidikan dalam Musfah (2011:30) menjelaskan Kompetensi pedagogik adalah kompetensi dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi, pemahaman wawasan atau landasan peserta didik,
pemahaman tentang peserta didik, pengembangan kurikulum/silabus, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan
dialogis, evalusi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya
Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, tentang Standar
Nasional Pendidikan Kompetensi Pedagogik yang harus dikuasai guru meliputi pemahaman guru dengan siswa, perancangan dan pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, secara rincitiap subkompetensi dijabarkan menjadi indikator esensial sebagai berikut:
a. Memahami siswa secara mendalam, dengan indikator esensial:
Memahami siswa dengan memanfaatkan prinsip-prinsip pengembangan kognitif, memahami siswa dengan memanfaakan prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal
siswa merancang pembelajaran termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran, dengan indikator
esensial: memahami landasan kependidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran berdasarkan karakteristik siswa, menetapkan kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun
b. Melaksanakan pembelajaran, dengan indikator esensial, seperti menata latar pembelajaran dan melakukan pembelajaran yang kondusif.
c. Merancang melaksanakan evaluasi pembelajaran, dengan indicator esensial: merancang dan melaksanakan evaluasi proses dan hasil
belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode menganalisis hasil evaluasi proses dan ahsil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar, dan memanfakan hasil penilaian
pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran.
Berdasarkan kutipan di atas beberapa para ahli dapat disimpulkan bahwa
kompetensi pedagogik yang dimiliki guru, akan mampu memotivasi siswa dalam belajar, selain itu siswa juga semangat dan aktif dalam proses pembelajaran. Kompetensi pedagogik yang tinggi, akan memperoleh
pengalaman belajar yang tinggi pula. Kompetensi guru rendah, maka pengalaman belajar dan hasil belajar siswanya akan rendah pula.
Menurut Haenilah (2017:3) terdapat ruang lingkup pedagogik, yang secara garis besar berkenaan dengan keterampilan mengajar, pengetahuan teoritis, dan sikap tentang kemauan dan kemampuan untuk berkembang. Baik
pengetahuan umum dan pengetahuan khusus tentang bagaimana siswa belajar adalah prasyarat dan juga untuk pengembangan kompetensi
Gambar.1 Ruang Lingkup Kompetensi Pedagogik
Sumber: Haenilah (2017)
1. Keterampilang Mengajar
Interstate New Teacher Assessment and Support Consotium (INTASC) di Amerila menjelaskan sejumlah kompetensi yang harus
dipenuhi oleh guru pemula;
a. Penguasaan materi pembelajaran;
b. Pemahaman akan pengembangan belajar siswa;
c. Menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual siswa;
d. Menguasai beragam strategi pembelajaran; e. Terampil mengelola kelas;
f. Terampil berkomunikasi;
g. Terampil dalam merencanakan pembelajaran; h. Menguasai evaluasi pembelajaran siswa;
i. Memiliki komitmen dan tanggung jawab professional;
K
o
mpete
nsi Pe
da
g
o
g
ik
Keterampilan mengajarSegala kemampuan dan pengalaman praktis yang membawa kontribusi terhadap belajar siswa: merancang, melaksanakan, mengevaluasi, memimpin mengorganisasi
pembelajaran, dan memproduksi segala bahan ajar.
Sikap ditandai oleh kemauan dan kemampuan untuk berkembang
1. Bekerja dibawah aturan yang ditetapkan dan peraturan dengan tujuan mencapai target dan
meningkaPAUDan hasil. 2. Memiliki pandangan keseluruhan yang
mengintergrasikan teori dan praktek, serta pendekatan yang terus menerus mengembangkan
pengajaran dan pembelajaran siswa 3. Memiliki pendekatan reflektif dan kritis
(mengamati,memberikan umpan balik, mengevaluasi,dan mengembangkan) untuk pengajaran, pembelajaran serta pengembangan
pedagogik. Pengetahuan Teoritis
1. Pengetahuan tentang belajar dan mengajar 2. Teori- teori belajar
3. Penguasaan sejumlah subjek akademik secara mendalam, luas, kekinian, dan ilmiah yang tepat
Point diatas menerangkan bahwa kompetensi yang dimiliki oleh guru saat berada didalam kelas ialah menguasai konsep- konsep yang akan diajarkan oleh guru dan menarik makna dari pembelajaran tersebut,
peserta didik harus mendapatkan kesempatan belajar yang sama didalam kelas dengan memperhatikan usia dan personal siswa. Guru
yang berkompetensi selayaknya memiliki strategi evaluasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kemajuan intellectual siswa.
2. Pengetahuan Teoritis
Terdapat dua kelompok konsep yang harus dikuasai oleh guru, 1) Subject Specific Pedagogy (SSP) yang merupakan pengemasan materi
bidang studi menjadi perangkat pembelajaran yang mendidik yang komprehensif dan solid, mencakup;kompetensi, subkompetensi, materi metode, strategi,media, serta evaluasi. Kompenen Subject
Specific Pedagogy terdiri dari: pendahuluan, inti, penutup, penilaian, pengajaran remidi, pengayaan/penerapan dan multimedia.SSP berwujud dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2)
penguasaan sejumlah subjek akademik akademik secara mendalam, luas, kekinian dan ilmiah yang tepat untuk diajarkan.
3. Sikap
Sikap seorang yang kompeten ditandai oleh kemampuan dan kemauan untuk berkembang. Sikap menjadi muara dari kompetensi seorang
a. Bekerja dibawah aturan aturan yang ditetapkan dan peraturan dengan tujuan untuk mencapai target dan meningkatkan hasil. b. Memiliki pandangan keseluruhan yang mengintegrasikan teori
dan praktek, serta pendekatan yang terus menerus mengembangkan pengajaran dan pembelajaran siswa.
c. Memiliki pendekatan reflektif dan kritis (mengamati, memberikan umpan balik, mengevaluasi dan mengembangkan) untuk pengajaran, pembelajaran dan pengembangan pedagogik.
Berdasarkan kutipan di atas beberapa para ahli dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik digambarkan sebagai keprofesionalisan seorang
guru. Kompetensi yang harus dikuasai oleh guru terkait kemampuan mengajar, pengetahuan teoritis, dan sikap. Perancangan serta pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tahap
perkembangan anak, diiringi dengan kegiatan evaluasi untuk melihat tingkat kemajuan peserta didik.
1. Pengertian Pendagogik
Pedagogik merupakan ilmu yang membahas pendidikan, yaitu ilmu mendidik anak, berasal dari kata Yunani “paedos”, yang berarti anak
laki- laki, dan “agogos” artinya mengantar, membimbing. Pedagogik secara harfiah berarti pembantu anak laki- laki pada zaman Yunani
Menurut Prof. Dr. J. Hoogveld dalam Sadulloh, 2010;2, pedagogik adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu “supaya ia kelak mampu secara mandiri
menyelesaikan tugas hidupnya”. Menurut penelitian Yunani, pedagogik adalah ilmu menuntun anak yang membicarakan masalah
atau persoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya.
Pedagogik di pandang sebagai suatu proses atau aktifitas yang bertujuan agar tingkah laku manusia mengalami perubahan.
Kompetensi pedagogik merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang guru dalam mengolah kegiatan pembelajaran dikelas. Kompetensi pedagogik itu dapat membedakan guru dengan
tingkat keberhasilannya dalam proses dan hasil pembelajaran peserta didik di kelas
Berdasarkan kutipan di atas beberapa para ahli dapat disimpulkan
bahwa pedagogik adalah kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik melalui pendekatan langsung kepada
peserta didik, seorang guru yang mempunyai kompetensi ini dapat dilihat dari tingkat keberhasilannya proses dan hasil peserta didiknya.
pembelajaran, etos sekolah, serta sekolah dan kelas yang sesungguhnya, meliputi unsur-unsur seperti:
a. Lingkungan fisik luar dan dalam ruangan.
b. Lingkungan sosial sekolah dan pendidikan sekolah (misalnya apakah anak merupakan keluaran dari konteks tersebut atau apakah konteksnya telah menghubungksn si anak).
c. Lingkungan psikologis sekolah dan pelaksanaan pendidikan sekolah.
d. Pertimbangan filosofis di sekolah dan aspek-aspek seperti keyakinan dan nilai- nilai yang diyakini guru.
e. Konteks kurikulum, termasuk Kurikulum Nasional dimana semua masalah ini relevan dan sesuai, namun tetap berusaha menunjukan dimana konteks tidak perlu harus memenuhi tuntutan pedagogis.
f. Kerangka dimana sleuruh konsep pendidikan sekolah ini berlangsung dan dibagian manakah semuanya ini sesuai dengan pendidikan dalam artian yang lebih luas.
Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan saat kompetensi
pedagogik itu berlangsung, tentu ada konteks pedagogik yang mendukung keberhasilan seperti lingkungan yang tepat dimana konsep pendidikan berlangsung.
D Hubungan Kreativitas Guru dengan Kompetensi Pedagogik
Florence Beetlestone (2013) mengeksplorasi berbagai bagian yang
heterogen yang membentuk konsep kreativitas dalam konteks pedagogik, yang sangat mendorong para praktisi untuk mempertimbangkan kreativitas jauh di luar tataran „seni‟. Tataran yang sering kali diasosisikan dengan
kreativitas, dia menunjukan bahwa apabila orang memandang kreativitas hanya dalam konteks kurikulum pokok maka akan mempersempit apa
bermakna dan menyenangkan, mengajar menjadi sesuatu yang lebih menstimulasi dan imajinatif.
Menurut Fryer (1996:75) mengemukakan bahwa guru yang kreatif akan
menunjukan: 1. Komitmen
2. Pengetahuan tentang pokok bahasan 3. Pengetahuan tentang teknik/skill 4. Keterlibatan dengan tugas
Guru juga menunjukan kemampuan untuk: 1. Memberikan bimbingan
2. Memberikan pengarahan dan fokus 3. Sensitive dan menyadari
4. Mendengarkan secara aktif
5. Melindungi siswa dari olok-olok dan meremehkan
6. Mengenali kapan usaha nyata memerlukan dorongan lebih jauh 7. Menggalakan iklim yang mendukung ide- ide kreatif
Pembelajaran yang kreatif melibatkan saling keterkaitan yang kompleks antara para murid, guru dan konteksnya dalam suatu cara tertentu sehingga
masing- masing unsur terdorong kedepan, berusaha mencari batasan- batasan baru, berusaha untuk menapaki wilayah baru, dan berusaha berkembang dalam rangka mencari sesuatu yang baru. Beetlestone
(2013:9) mengemukakan “Peran guru semakin menyadari tentang kebutuhan untuk mengadopsi berbagai strategi yang lebih kreatif untuk
mengelola kurikulum dan mempertimbangkan konteks yang dapat memberikan kerangka yang lebih kreatif bagi pengajaran dan pembelajaran”.
Venkatraman (2012) menyatakan bahwa “Good teaching involves the head
diajarkan kepada siswa tetapi mencakup proses psikologi, budaya, politik, dan sosial-ekonomi yang secara implicit menyertai mengajar. Siswa membutuhkan guru tidak hanya mengerti apa yang mereka butuhkan untuk
belajar seperti yang dimuat dalam struktur kurikulum, tetapi mereka memerlukan guru yang memahami bagaimana membantu mereka agar bisa
belajar .
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa guru jelas menjadi orang pertama yang membuat keputusan mengenai pembelajaran apa yang
akan berlangsung, berapa banyak waktu yang dibutuhkan, namun guru harus bisa berinovasi dengan membuat pembelajaran yang bisa di akses
oleh anak sehingga akan berlangsung dengan inisiatif. Memperkaya devinisi bukan hanya terpaku pada kurikulum terkait membuat seorang guru lebih menguasai hakikat pedagogik, khususnya dalam pengembangan
kreativitas anak. Guru yang kreatif akan menghasilkan anak didik yang kreatif pula. Guru yang berkompetensi dalam mengembangkan kreativitas anak sudah pasti kaya akan inovasi pengemasan pembelajaran yang syarat
akan ide kreatif. Anak usia dini mengembangkan pengetahuan memalui apa yang dilihat dari lingkungan sekitar, termasuk guru harus menjadi
contoh bagi anak khususnya dalam pengembangan kreativitas.
E Penelitian yang Relevan
Untuk mendukung penyusunan skripsi ini maka penulis mengkaji
1. Penelitian yang dilakukan Young, Choe dan Sik (2016) yang membahas keahlian mengajar dan prilaku mengajar kreatif. Menunjukan bahwa subyek penelitian terdiri dari 304 guru, Variabel
utama penelitian ini adalah kreativitas guru, keahlian mengajar, dan perilaku mengajar kreatif. Kuesioner memiliki total 129 item terdiri
dari tiga kategori utama dan 22 sub-kategori. Item diukur dengan menggunakan 5-point skala Likert-type. Hasil ini menunjukan bahwa kreativitas guru dan keahlian mengajar memiliki dampak berarti dan
positif terhadap prilaku mengajar kreatif, ditunjukan dengan besaran korelsioanal 0,865.
2. Penelitian yang dilakukan Kay (2011) yang membahas indeks Kreativitas yaitu prilaku guru kreatif. Menunjukan bahwa peneliti menggunakan kuesioner yang dibentuk oleh Sembilan skala untuk 117
guru, satu item satu skala diikuti oleh satu item dari skala berikutnya dan seterusnya. Pertanyaan- pertanyaan ini kemudian membentuk 6 point skala frekuensi untuk laporan diri oleh para guru. 45 item yang
dihasilkan diteliti oleh 20 lulusan siswa yang merupakan guru berpengalaman yang hadir saat ini. Hasil penelitian ini menunjukan
seorang guru memperkuat kreativitasnya melalui interaksinya dengan siswa melalui 9 prilaku kreatif dependence, integration, motivation, judgment, flexibility, evaluation, question, opportunities, frustration.
dikembangkan dan divalidasi dengan self-describing kemudian di kanalisis melalui uji validitas konstruk dalam membina prilaku guru
etnis. Pembahasan sembilan prilaku guru kreatif secara keseluruhan dituangkan dalam (CFTIndec) Creativity Fostering Teacher Indeks.
3. Penenlitian yang dilakukan Rahmadhana (2016) membahas hubungan
kompetensi pedagogik dengan kreativitas guru. Menunjukan hasil penelitian sebagai berikut: Terdapat hubungan positif yang sangat
signifikan antara Kompetensi Pedagogik dengan Kreativitas Guru, dengan persamaan regresi Y = 68,95 + 2,84 X dengan nilai koefisien Kekuatan hubungan antara variabel kompetensi pedagogik (X) dengan
kreativitas guru (Y) ditunjukkan oleh koefisien korelasi ry.1 = 0,619 dengan koefisien determinasi r²y.1 = 0,383. Hasil uji
signifikansi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara variabel kompetensi pedagogik (X) dengan variabel kreativitas guru (Y).
4. Penenlitian yang dilakukan Nelfuad (2015) membahas hubungan kompetensi pedagogik dan kecerdasan adversitas dengan kreativitas kerja guru. Menunjukan hasil penelitian sebagai berikut: Terdapat
hubungan positif yang sangat signifikan antara Kompetensi Pedagogik dengan Kreativitas Kerja Guru, dengan persamaan regresi Ŷ = 85,257 + 1,854X, dengan nilai koefisien korelasi
ry.1= 0,606 serta nilai koefisien determinasi r2y.1= 0,367
F Kerangka Berfikir