• No results found

Mata Ketiga (preview)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Share "Mata Ketiga (preview)"

Copied!
104
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)
(2)

MATA KETIGA

Cerita dari

Seorang Lama Tibet

yang Memiliki Mata Ketiga

T. Lobsang Rampa

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Kompas Gramedia

Format epub by :

(3)

Judul asli: The Third Eye

By: Tuesday Lobsang Rampa Copyright © T. Lobsang Rampa 1956 First Published in 1956 by Martin Seeker & Wargurg Limited

MATA KETIGA

Oleh: Tuesday Lobsang Rampa

GM 204 01 12 00.32 Alih bahasa: Yovita Hardiwati Desain cover: Hendy Irawan Layout isi: Sukoco Ilustrasi: Tessa Theobald

Hak cipta teriemahan Bahasa Indonesia pada Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Copyright © 2000 PT Gramedia Pustaka Utama Kompas Gramedia Building, Blok I Lantai 5 Jl. Palmerah Barat 29-37, Jakarta 10270

Diterbitkan pertama kali dalam terjemahan bahasa Indonesia oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota 1KAPI, Jakarta, April 2000

Cetakan keempat: Januari 2012

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan

Untuk E. E. G.,

Satu dari sedikit teman yang seialu hadir ketika dibutuhkan.

(4)
(5)

DAFTAR ISI

Pengantar Penulis ix

1. Masa Kecil di Rumah 1

2. Akhir Masa Kanak-Kanak Saya 33 3. Hari-Hari Terakhir di Rumah 52 4. Di Gerbang Kuil 64

5. Kehidupan sebagai Seorang Chela 85 6. Kehidupan di Biara 104

7. Terbukanya Mata Ketiga 118 8. Potala 127

9. Di Pagar Mawar Liar 149 10. Kepercayaan di Tibet 165 11. Trappa 192

12. Tumbuhan dan Layang-Layang 204 13. Kunjungan Pertama ke Rumah 240 14. Menggunakan Mata Ketiga 253

15. Daerah Utara yang Misterius---dan Yeti 272 16. Kehidupan sebagai Seorang Lama 289

17. Inisiasi Terakhir 316

(6)

PENGANTAR PENULIS

Saya orang Tibet. Satu dari sedikit orang Tibet yang telah mencapai dunia Barat yang aneh ini. Susunan dan tata bahasa dalam bnku ini masih jauh dari yang diharapkan, karena saya memang tidak pernah mendapat pendidikan formal bahasa Inggris. "Sekolah Bahasa Inggris" saya adalah kamp penjara Jepang. Di tempat itu saya berusaha mempelajari bahasa Inggris dengan sebaik-baiknya dari para tahanan wanita Inggris dan Amerika. Saya belajar menulis dalam bahasa Inggris "dari kesalahan-kesalahan yang saya buat".

Sekarang negeri yang saya cintai diserbu gerombolan komunis---seperti yang telah diramalkan. Karena alasan inilah saya menyamarkan nama asli saya dan nama teman-teman saya. Dengan adanya begitu banyak perlawanan yang telah dilakukan terhadap kaum komunis, saya tahu teman-teman saya di negara-negara komunis akan menderita bila identitas saya dapat dilacak. Saya sudah pernah berada di tangan kaum komunis, juga Jepang. Karena itu, saya tahu dari pengalaman pribadi siksaan-siksaan apa yang akan diperoleh. Tetapi buku ini tidak akan berkisah tentang penyiksaan tersebut, melainkan tentang sebuah negara yang ciiita damai, yang kurang dipahami dan telah begitu lama disalahtafsirkan.

Beberapa pernyataan saya, konon, sangat sulit dipercayai. Itu hak Anda. Tibet memang sebuah negeri yang tidak begitu dikenal di dunia. Bahkan seseorang yang bukan orang Tibet, yang menulis "penduduknya mengendarai kura-kura di lautan", pun ditertawakan. Nasib yang sama juga dialami mereka yang melihat sendiri ikan "fosil hidup". Namun, belum lama ini telah ditemukan ikan "fosil hidup" itu. Mereka membawa ikan itu dengan pesawat berpendingin ke Amerika Serikat untuk diteliti. Mereka pada mulanya tidak dipercayai. Namun, lambat laun, semua yang mereka saksikan dan katakan terbukti benar dan akurat. Demikian pula halnya dengan saya.

T. LOBSANG RAMPA

(7)

1. MASA KECIL DI RUMAH

Oe,Oe sudah empat tahun dan belum bisa menunggang kuda! Kau tidak akan jadi laki-laki dewasa! Apa nanti kata ayahmu yang terhormat itu?" Sambil berkata-kata demikian, Tzu Tua menepuk-nepuk sayang bagian belakang kuda poni---dan penunggangnya yang malang---lalu meludah ke tanah.

Atap-atap dan kubah-kubah keemasan di Potala gemerlapan terkena sinar matahari yang cerah. Di dekatnya, air yang biru di Danau Kuil Naga berdesir menandai lewatnya burung air. Di kejauhan, di sepanjang jalan yang berbatu, terdengar suara orang-orang yang baru berangkat dari Lhasa berteriak-teriak pada yak-yak mereka yang bergerak lamban. Dari tempat yang lebih dekat terdengar bunyi berat meratap yang berasal dari terompet bas para rahib---musisi yang sedang berlatih di ladang yang jauh dari keramaian.

Tetapi saya tidak punya waktu untuk hal-hal yang biasa terjadi sehari-hari. Saya sendiri punya tugas berat---menunggangi kuda poni saya yang ogah-ogahan. Nakkim sendiri punya keinginan lain---ingin terbebas dari penunggangnya, sehingga ia bisa bebas merumput dan berguling-guling serta menendang-nendangkan kakinya ke udara.

Tzu Tua adalah pelatih berwajah keras dan tegas. Sepanjang hidupnya dia terbiasa bersikap keras dan ketat. Sekarang, sebagai pengawal dan pelatih menunggang kuda seorang anak berumur empat tahun, kesabarannya sering habis. Sebagai orang Kham, dia bersama orang sekampungnya dipilih karena ukuran tubuh dan kekuatannya. Tingginya lebih dari dua meter dan badannya tegap. Pakaiannya yang berbantalan padat pada bagian bahu membuat tubuhnya kelihatan lebih besar. Di Tibet bagian timur ada suatu daerah yang rata-rata penduduknya bertubuh sangat tinggi dan kuat. Sebagian besar mereka memiliki tinggi tubuh lebih dari dua meter. Mereka dipilih sebagai rahib pengawas di seluruh kompleks tempat tinggal para lama. Mereka memasang bantalan pada bahunya supaya ukuran tubuhnya kelihatan lebih besar, menghitamkan wajah mereka supaya kelihatan lebih galak, dan membawa tongkat panjang untuk menghardik

(8)

para pengacau.

Dulu Tzu adalah rahib pengawas. Sekarang dia menjalankan tugas yang membosankan sebagai pengawal seorang pangeran kecil! Tzu berjalan timpang karena cacat, sehingga ke mana pun pergi dia selalu menunggang kuda. Pada tahun 1904 Inggris di bawah kepemimpinan Kolonel Younghusband menyerbu Tibet dan menimbulkan banyak kerusakan. Tampaknya bagi mereka cara termudah untuk memastikan hubungan persahabatan kami adalah dengan menembaki bangunan-bangunan kami dan membunuhi penduduk. Tzu ikut mempertahankan Tibet. Dalam serangan itu bagian pinggul kirinya tertembak.

Ayah saya termasuk tokoh terkemuka dalam pemerintahan Tibet. Keluarganya, juga keluarga Ibu, termasuk dalam sepuluh keluarga tingkat atas, sehingga di antara keluarga-keluarga tersebut orangtua saya memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan di negeri ini. Nanti akan saya ceritakan secara lebih terperinci mengenai bentuk pemerintahan kami.

Ayah saya bertubuh besar, tegap, dan tingginya sekitar 180 sentimeter. Kekuatannya mengagumkan. Ketika muda, dia mampu mengangkat seekor kuda poni. Dia termasuk satu dari sedikit orang yang mampu menang dalam adu gulat melawan orang-orang Kham.

Pada umumnya orang Tibet berambut hitam dan bermata cokelat gelap. Ayah termasuk dalam pengecualian---rambutnya kecokelatan dan matanya abu-abu. Sering kali amarahnya meledak dengan tiba-tiba tanpa alasan yang dapat kami pahami.

Kami jarang bertemu Ayah. Ketika itu Tibet sedang mengalami masa-masa sulit. Inggris menyerang kami pada tahun 1904, sehingga Dalai Lama mengungsi ke Mongolia. Ayah dan para pemimpin lainnya di kabinet mengambilalih pemerintahan selama kepergian Dalai Lama. Pada tahun 1909 Dalai Lama kembali ke Lhasa, setelah berk.unjung ke Peking. Pada tahun 1910 Cina, yang terdorong keberhasilan penyerbuan Inggris menggempur Lhasa. Dalai Lama mengungsi lagi, kali ini ke India. Pasukan Cina berhasil diusir dari Lhasa pada tahun 1911 selama masa Revolusi Cina. Namun, sebelum itu mereka telah melakukan penyiksaan-penyiksaan terhadap rakyat kami.

Pada tahun 1912 Dalai Lama kembali lagi ke Lhasa. Selama kepergiannya, dalam masa-masa yang paling sulit itu, Ayah bersama pemimpin lain dalam kabinet memikul tanggung jawab penuh dalam memerintah Tibet. Ibu sering berkata bahwa sejak saat itu perangai Ayah berubah. Tentu saja Ayah tidak mem-punyai waktu bagi kami anak-anaknya. Dapat dikatakan kami tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah darinya.

(9)

Tampaknya sayalah yang paling sering membuatnya marah, sehingga saya diserahkan ke tangan Tzu---yang amat jarang bersikap ramah itu--- "untuk dididik" apa pun jadinya, begitu kata Ayah.

Prestasi saya yang buruk dalam berkuda dianggap Tzu melecehkan dirinya. Di Tibet anak-anak dari kalangan atas dilatih menunggang kuda bahkan sebelum mereka dapat berjalan. Keahlian berkuda sangat penting di negeri ini karena tidak ada kendaraan beroda. Perjalanan harus dilakukan dengan berjalan kaki atau berkuda. Kaum bangsawan Tibet biasa berlatih menunggang kuda sampai berjam-jam, berhari-hari. Mereka bisa berdiri di atas sadel kayu yang sempit di atas kuda yang berlari sambil menembakkan senapannya pada sasaran yang bergerak, kemudian mengganti senjatanya dengan busur dan anak panah. Kadang-kadang para penunggang kuda yang ahli berkuda di lapangan membentuk formasi tertentu lalu saling bertukar kuda dengan melompat dari satu sadel ke sadel lainnya. Saya, pada umur empat tahun, duduk di satu sadel saja sudah kesulitan!

Kuda poni saya, Nakkim, berbulu panjang dan kusut. Ekor-nya pun panjang. Namun, sekalipun kepalanya kecil, ia cerdas. Ia tahu sejumlah cara vang mengejutkan untuk melemparkan penunggangnya yang masih takut-takut. Ia paling suka melakukan tipuan dengan berlari cepat lalu berhenti mendadak seraya menundukkan kepalanya. Tanpa ampun saya pun merosot ke depan melalui lehernya, lalu dengan tiba-tiba ia menyentakkan kepalanya sehingga saya terjungkir balik sebelum akhirnya menghantam tanah. Kemudian ia akan berdiri dan memandangi saya dengan wajah penuh rasa puas.

Orang Tibet tidak pernah menunggangi kudanya dengan berderap. Kuda-kuda poni berukuran kecil sehingga para penunggangnya akan kelihatan lucu bila mengendarai kuda poni yang berderap. Berjalan biasa saja sudah cukup cepat, dan berlari kencang hanya untuk latihan.

Tibet adalah negara teokrasi. Kami tidak menginginkan "kemajuan" seperti yang dialami dunia luar. Yang kami inginkan hanyalah bermeditasi dan mengatasi segala keterbatasan tubuh fisik kami. Orang-Orang Bijak kami telah lama menyadari bahwa dunia Barat sangat ingin memiliki khazanah kekayaan Tibet. Mereka tahu kalau orang-orang asing tersebut datang, kedamaian pun akan lenyap. Sekarang ini, dengan kedatangan kaum komunis di Tibet, terbukti hal itu benar adanya.

Rumah saya berada di Lhasa, di Distrik Lingkhor yang apik, di tepi jalan lingkar yang mengelilingi Lhasa, dan dipayungi bayangan Puncak. Ada tiga lingkar jalan. Jalan yang terluar--- Lingkhor---sering digunakan para peziarah. Ketika saya lahir, rumah kami bertingkat dua dan menghadap ke jalan---seperti rumah-rumah lainnya di Lhasa. Tak

(10)

seorang pun boleh melihat ke bawah, ke aiah Dalai Lama. Karena itu, batasnya adalah dua tingkat. Larangan mengenai ketinggian ini sesungguhnya hanva berlaku untuk satu prosesi dalam satu tahun. Banyak rumah di sana memiliki kerangka kayu yang mudah dilepas-lepas di atas atap rumah mereka yang rata, yang bisa digunakan selama sebelas bulan.

Rumah kami terbuat dari batu dan sudah berdiri bertahun-tahun. Bentuknya persegi, dengan bagian tengah yang terbuka sebagai halaman dalam yang luas. Semua hewan peliharaan kami ada di lantai dasar, sedang kami menempati lantai atas. Kami beruntung memiliki tangga batu. Kebanyakan rumah di Tibet memiliki tangga biasa atau, di gubuk-gubuk para petani, sebatang tonggak kayu bertakik yang bisa membahayakan tulang kering. Tonggak kayu bertakik seperti itu akan menjadi licin dan aus karena sering dipakai, juga karena tersentuh tangan-tangan yang berlumuran mentega yak, sehingga bisa membuat petani yang ceroboh tergelincir dan langsung jatuh ke lantai.

Pada tahun 1910, selama masa pendudukan Cina, sebagian rumah kami rusak dan dinding bagian dalamnya dibongkar. Ayah membangunnya kembali menjadi empat tingkat. Rumah kami tidak lagi menghadap ke Lingkaran, dan kami tidak dapat melihat kepala Dalai Lama pada waktu prosesi, sehingga tidak ada keluhan tentang hal itu.

Gerbang menuju halaman tengah berat dan hitam karena usia. Orang-orang Cina tidak bisa merobohkan tiangnya yang terbuat dari kayu keras, sehingga sebagai gantinya mereka meruntuhkan dinding. Tepat di atas jalan masuk ini terdapat kantor pengurus rumahtangga. Pengurus di situ bisa melihat semua yang masuk atau keluar. Dia mempekerjakan---dan memecat---para staf serta memastikan urusan rumahtangga berjalan lancar dan efisien. Di sini, di jendelanya, saat terompet-terompet di biara berbunyi menandai terbenamnya matahari, akan datang para pengemis Lhasa untuk menerima pembagian makanan yang akan menguatkan tubuh mereka dalam melewati gelapnya malam. Semua bangsawan yang berpengaruh menyediakan jatah untuk kaum miskin di distrik mereka. Sering kali para narapidana dalam keadaan terborgol pun ikut datang. Di Tibet terdapat beberapa penjara. Para napi itu keluyuran di jalanan untuk mengemis makanan.

Para narapidana di Tibet tidak dipandang rendah dan tidak dianggap sebagai sampah masyarakat. Kami menyadari kebanyakan dari kita pun akan menjadi terpidana----bila ketahuan---sehingga mereka yang tidak beruntung tetap diperlakukan secara layak.

Dua orang rahib tinggal di kamar di sebelah kanan kamar pengurus rumah-tangga. Mereka adalah rahib-rahib rumahtangga yang berdoa setiap hari agar segala kegiatan

(11)

yang kami lakukan selalu dilimpahi berkah. Para bangsawan yang lebih rendah memiliki seorang rahib, tetapi yang posisinya seperti kami memerlukan dua orang rahib. Sebelum melakukan sesuatu atau merayakan suatu peristiwa penting, para rahib ini dimintai nasihat dan diminta berdoa untuk memohon berkah para dewa. Setiap tiga tahun para rahib ini kembali ke biaranya dan digantikan yang lain.

Di setiap sayap rumah kami terdapat sebuah ruang doa. Di depan altar kayunya yang terukir, beberapa lampu minyak mentega selalu menyala. Tujuh mangkuk air suci selalu dibersihkan dan diisi lagi beberapa kali dalam sehari. Mangkuk-mangkuk itu harus bersih karena para dewa mungkin akan datang dan minum dari tempat itu. Para rahib diberi makanan yang enak. Mereka makan makanan yang sarna dengan yang dimakan keluarga kami, sehingga mereka dapat berdoa dengan baik dan memberi tahu para dewa bahwa makanan kami enak.

Di sebelah kiri ruang pengurus rumahtangga tinggal ahli hukum kami. Tugasnya memastikan segala urusan rumahtangga sudah dijalankan sesuai hukum dan peraturan yang benar Orang Tibet sangat patuh pada hukum, dan Ayah harus menjadi panutan yang baik dalam urusan hukum.

Saya bersama saudara laki-laki saya Paljor dan saudara perempuan saya Yasodhara tinggal di blok yang baru, di sisi halaman yang jauh dari jalan. Di sebelah kiri blok kami ada sebuah ruang doa. Di sebelah kanan blok kami ada ruang kelas, tempat anak-anak para pelayan juga ikut disekolahkan. Pelajaran yang kami terima lama dan beragam. Paljor tidak hidup lama di dunia ini. Badannya lemah sehingga dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan keras yang sudah digariskan bagi kami berdua. Sebelum berumur tujuh tahun dia meninggalkan kami untuk kembali ke Tanah dengan Banyak Kuil. Ketika Paljor meninggalkan dunia ini, Yaso berumur enam tahun dan saya berumur empat tahun. Saya masih ingat bagaimana Petugas Ke-matian (Men of the Death) menjemputnya ketika dia terbaring seperti butir padi yang kosong, dan bagaimana mereka mem-bawa jasad kosongnya untuk dipotong-potong serta diberikan kepada burung-burung pemakan bangkai, sesuai adat kami.

Karena sekarang menjadi Pewaris Keluarga, saya diharuskan berlatih lebih intensif. Saya berumur empat tahun dan saya seorang penunggang kuda yang biasa-biasa saja. Ayah memang orang yang keras. Sebagai Petinggi Keagamaan Ayah ingin anaknya pun mempunyai disiplin tinggi, sehingga dia bisa menjadi contoh bagaimana seharusnya mendidik anak.

(12)

orang dari kalangan ningrat mulai berpendapat bahwa anak-anak seharusnya punya lebih banyak waktu untuk bersenang-senang. Ayah saya tidak sependapat. Menurut Ayah, anak yang miskin tidak punya harapan untuk hidup senang pada masa depan, maka berikanlah kepadanya kebaikan dan perhatian selagi dia masih muda. Anak dari kalangan yang lebih tinggi memiliki semua kekayaan dan harapan untuk dinikmati pada masa depan, jadi bersikaplah keras kepadanya selagi dia masih muda, supaya dia bisa merasakan susahnya kehidupan dan akan menunjukkan perhatiannya kepada yang lain. Sikap seperti ini juga merupakan sikap resmi di negeri kami. Dalam sistem seperti ini, mereka yang lemah tidak akan bertahan, tetapi mereka yang selamat akan mampu menghadapi hampir segala hal.

Tzu menempati ruangan di lantai dasar dan sangat dekat dengan gerbang utama. Dulu, sebagai rahib pengawas, selama bertahun-tahun dia bisa melihat segala macam tingkah laku manusia. Sekarang, setelah jauh dari semuanya itu, dia tidak tahan dengan keterasingannya. Dia tinggal di dekat kandang kuda tempat Ayah menyimpan kedua puluh ekor kudanya, semua kuda poninya, dan hewan-hewan yang biasa dipakai untuk membantu pekerjaan manusia.

Para tukang kuda tidak menyukai kehaduan Tzu, sebab dia suka ikut campur dalam pekerjaan mereka. Setiap kali pergi berkuda, Ayah harus dikawal enam orang bersenjata. Keenam orang tersebut mengenakan seragam, dan Tzu selalu memburu-buru mereka untuk memastikan apakah semua perlengkapan mereka beres.

Karena alasan tertentu, keenam orang itu selalu merapatkan bagian belakang kuda-kuda mereka ke dinding. Dengan demikian saat Ayah muncul di atas kudanya, mereka tinggal maju dan menyongsong menemuinya. Akhirnya saya tahu, kalau saya menjulurkan badan saya dari jendela gudang, saya bisa menyentuh satu dari para pengawal tersebut saat dia duduk di atas kudanya. Suatu hari, karena tidak ada yang harus saya kerjakan lagi, dengan hati-hati saya selipkan seutas tali ke ikat pinggang kulit salah satu pengawal itu selagi dia sibuk dengan peralatannya. Kedua ujung talinya lalu saya buat simpul dan saya ikatkan pada kaitan di bagian dalam jendela. Mereka sibuk berbicara dan membereskan perlengkapan sehingga mereka tidak menyadari ulah saya. Lalu Ayah mucul, dan para pengawal yang sudah menunggangi kudanya masing-masing itu pun maju menyongsongnya. Hanya lima orang. Yang keenam tersentak ke belakang dan jatuh dari

(13)

kudanya sambil berteriak bahwa setan-setan menariknya. Sabuknya robek, dan dalam keributan itu saya bisa menarik talinya lalu kabur tanpa ketahuan. Kejadian itu membuat saya senang sekali, dan saya bisa berkata: "Nah, Ne-tuk, kamu juga tidak bisa duduk di atas kuda dengan benar!"

Kehidupan kami keras. Dari dua puluh empat jam dalam satu hari, kami bangun selama delapan belas jam. Orang Tibet percaya bahwa tidaklah bijaksana tidur pada saat hari masih terang. Bila kami tidur di siang hari, setan-setan siang hari itu akan datang dan menangkap salah satu dari kami. Bahkan bayi-bayi yang masih sangat kecil pun dibuat terjaga sehingga mereka tidak dimasuki setan. Mereka yang sakit juga harus dibangunkan, dan seorang rahib akan dipanggil untuk menjaganya. Tak seorang pun dikecualikan, bahkan orang sekarat pun harus dibuat sadar selama mungkin, sehingga mereka tahu jalan mana yang harus diambil, yang akan membawa mereka ke tanah perbatasan menuju dunia berikutnya.

Kami harus mempelajari bahasa Tibet dan bahasa Cina di sekolah. Ada dua macam bahasa Tibet---yang biasa dan yang halus. Bahasa Tibet yang biasa kami gunakan bila berbicara dengan para pelayan dan mereka yang derajatnya lebih rendah. Bahasa Tibet yang halus kami gunakan bila berbicara dengan mereka yang sederajat atau yang derajatnya lebih tinggi. Bahkan kuda milik orang yang berderajat lebih tinggi pun harus disapa dengan cara terhormat! Kucing kami, bila sedang berjalan melintasi halaman untuk suatu keperluan yang misterius, akan disapa oleh pelayan: "Apakah Pus Pus yang terhormat berkenan datang dan minum susu yang hina inir' Tak peduli bagaimana "Pus Pus yang terhormat" itu disapa, kucing itu tidak akan datang sampai ia sendiri akhirnya merasa haus.

Ruang kelas kami sangat luas. Dulu ruangan itu digunakan sebagai ruang makan untuk para rahib tamu, tetapi karena bangunan-bangunan yang baru sudah selesai, ruang khusus itu diubah menjadi sekolah. Seluruhnya ada enam puluh murid. Kami duduk bersila di lantai, di meja, atau di bangku panjang yang tingginya sekitar 45 sentimeter. Kami duduk membela-kangi guru, sehingga kami tidak tahu kapan dia melihat ke arah kami. Hal itu membuat kami bekerja keras sepanjang waktu. Kertas-kertas di Tibet dibuat dengan tangan dan sangat inahal. Sedemikian mahalnya sehingga sayang bila digunakan oleh anak-anak. Kami menggunakan papan tipis berukuran sekitar 30 sentimeter kali 35 sentimeter. "Pensil" kami terbuat dari kapur keras yang diambil dari Perbukitan Tsu La, sekitar 3.600 meter lebih tinggi dari Lhasa---sementara ketinggian Lhasa saja sudah 3,600 meter di atas permukaan laut. Dulu saya sering mencoba memberi warna kemerahan pada kapur-kapur itu, tetapi Kakak Yaso sangat menyukai warna ungu yang lembut. Kami bisa memperoleh banyak warna: merah, kuning, biru, dan hijau. Beberapa dari warna itu, saya yakin, disebabkan adanya bijih logam di dalam dasar kapur yang lunak. Tapi apa pun penyebabnya, kami gembira bisa memilikinya.

(14)

Aritmetika benar-benar menyusahkan saya. Jika setiap hari 783 rahib masing-masing minum 52 cangkir tsampa, dan setiap cangkir berisi lima perdelapan pint (0,35 liter), wadah berukuran berapa yang dapat menampung kebutuhan tsampa mereka selama seminggu? Kakak Yaso bisa mengerjakan soal-soal seperti itu tanpa berpikir lama-lama. Sedangkan saya, yah, tidak begitu pintar.

Saya baru layak mendapat penghargaan dalam pelajaran mengukir. Ini pelajaran yang saya sukai dan dapat saya kerjakan dengan baik. Semua barang cetakan di Tibet terbuat dari papan-papan kayu yang diukir, sehingga kemampuan mengukir merupakan aset tersendiri. Kami anak-anak tidak boleh boros dalam menggunakan kayu. Kayu mahal karena harus dibawa dari India. Kayu Tibet terlalu keras dan memiliki urat yang tidak sesuai. Kami menggunakan sejenis bahan yang empuk, yang dapat dengan mudah dipotong dengan pisau tajam. Kadang-kadang kami malah menggunakan keju yak yang sudah basi!

Satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah Hukum, yang harus kami ucapkan saat kami memasuki ruang kelas, dan diulangi lagi sebelum kami meninggalkan kelas. Hukum tersebut berbunyi:

Balaslah kebaikan dengan kebaikan.

Jangan berkelahi melawan orang yang lemah atau baik.

Bacalah Kitab Suci dan pahamilah.

Hukum itu keras bagi mereka yang kaya, untuk mengajarkan pada mereka keadilan.

Hukum itu lembut bagi mereka yang miskin, untuk memperlihatkan pada mereka kemurahan hati.

Bayarlah utangmu secepatnya.

(15)

dan dipasang di keempat dinding ruang kelas kami.

Kehidupan kami memang tidak hanya diisi dengan belajar. Kami juga bermain dengan semangat yang sama keras dengan semangat ketika kami belajar. Semua permainan kami dirancang untuk memperkuat tubuh serta membuat kami mampu bertahan dalam kehidupan di Tibet yang keras dan suhunya yang ekstrem. Pada musim panas suhu siang hari bisa mencapai sekitar 24 derajat Celsius, tetapi suhu pada malam harinya bisa mencapai sekitar minus 4 derajat Celsius. Pada musim dingin, suhunya bisa jauh lebih dingin lagi.

Memanah sungguh menyenangkan dan kegiatan itu benar-benar mampu mengembangkan otot kami. Kami menggunakan busur dari kayu pohon cemara yang diimpor dari India, tetapi kadang-kadang kami membuatnya dari kayu Tibet. Sebagai pemeluk Buddha kami tidak memanah sasaran yang hidup. Para pelayan yang bersembunyi menarik seutas tali panjang yang akan menyentakkan sasaran ke atas atau ke bawah---kami tidak pernah tahu di sebelah mana sasaran berikutnya akan muncul. Sebagian besar teman bisa mengenai sasaran tersebut sambil berdiri di sadel kuda poni yang berlari. Saya tidak pernah bisa bertahan lama! Lain halnya dengan lompat jauh, karena tidak ada kuda yang harus dirisaukan. Kami berlari secepat mungkm sambil membawa galah sepanjang empat setengah meter. Ketika sudah cukup cepat, kami melompat dengan bantuan galah tadi. Dulu saya sering berkata bahwa mereka terlalu lama duduk di atas kuda sehingga kakinya tidak cukup kuat. Tetapi saya, yang terbiasa menggunakan kaki-kaki saya, benar-benar dapat me-lenting. Melompat dengan menggunakan galah sungguh merupakan cara yang enak untuk menyeberangi sungai, dan sangat menyenangkan melihat mereka yang mencoba mengikuti saya tercebur satu demi satu.

Berjalan dengan jangkungan juga sering kami lakukan dulu. Biasanya kami berdandan seperti raksasa, lalu bertempur dengan tetap berdiri di atas jangkungan---yang jatuh kalah. Kami membuat sendiri jangkungan, karena kami tidak bisa menyelinap keluar untuk pergi ke toko terdekat dan membeli barang-barang seperti itu. Kami memakai seluruh kemampuan kami untuk membujuk penjaga toko---biasanya pengurus rumahtangga yang menjaga---sehingga kami bisa mendapatkan potongan-potongan kayu yang cocok. Urat kayunya harus tepat dan tidak ada lubang-lubangnya. Kemudian kami harus mendapatkan potongan kayu yang sesuai untuk pijakan kaki. Karena kayu sangat berharga, kami harus menunggu dan memintanya pada saat yang tepat.

Para gadis dan wanita muda bermain bola bulu. Sepotong kayu kecil diberi lubang-lubang di bagian atasnya, lalu bulu-bulu itu ditancapkan pada lubang-lubang-lubang-lubang itu. Bola bulu itu tidak boleh menyentuh tanah, dengan cara menyepak-nyepaknya ke udara dengan kaki. Gadis-gadis itu akan mengangkat roknya sampai batas tertentu supaya lebih bebas

(16)

dalam menggerakkan kakinya. Menyentuh bola bulu dengan tangan berarti batal. Gadis yang mahir mampu mempertahankan bola bulu itu di udara selama sepuluh menit, sampai bolanya jatuh, lalu giliran yang lain.

Satu hal yang benar-benar menarik di Tibet, atau setidaknya di distrik-U, yang termasuk dalam wilayah Lhasa, adalah menerbangkan layang-layang---yang bisa disebut olahraga nasional. Kami hanya bisa melakukannya pada waktu-waktu dan musim-musim tertentu. Lama sebelumnya, telah diketahui bahwa bila layang-layang diterbangkan di pegunungan, hujan akan turun dengan derasnya, dan pada masa itu ada anggapan bahwa itu berarti Dewa Hujan murka, sehingga menerbangkan layang-layang hanya diperbolehkan pada musim gugur, yang merupakan musim kering di Tibet. Pada waktu-waktu tertentu pada masa itu, orang juga tidak akan berteriak di pegunungan karena getaran yang ditimbulkan suara mereka akan menyebabkan awan hujan yang jenuh dari India jatuh terlalu cepat dan menyebabkan hujan turun di tempat yang salah. Sekarang, pada hari pertama musim gugur, sebuah layang-layang yang panjang akan dinaikkan dari atap Potala. Dalam beberapa menit kemudian, layang-layang dengan berbagai bentuk, ukuran, dan warna akan mancul di atas Lhasa, meliuk-liuk terkena embusan angin.

Saya senang menerbangkan layang-layang dan saya selalu berusaha supaya layang-layang saya termasuk yang pertama melayang di udara. Kami semua membuat layang-layang kami sendiri, biasanya dengan kerangka bambu dan hampir selalu diselubungi dengan sutra halus. Kami tidak mengalami kesulitan mendapatkan bahan yang berkualitas ini, karena merupakan suatu kehormatan bagi seluruh anggota keluarga bila layang-layangnya termasuk dalam kelompok yang paling bagus. Untuk layang-layang yang berbentuk kotak, kami sering melengkapinya dengan kepala naga yang kelihatan ganas beserta sayap dan ekor.

Kami selalu berusaha memutuskan benang layang-layang milik saingan-saingan kami. Kami menggunakan benang layang- layang yang dilapisi adonan serbuk halus gelas kaca dan bahan perekat dengan harapan bisa memotong benang layang-layang yang lain dan kemudian melilit layang-layangnya yang jatuh.

Kadang-kadang kami menyelinap keluar pada malam hari dan menerbangkan layang kami dengan memasang lampu mentega kecil di bagian kepala dan badan layang-layang. Mungkin matanya akan bersinar merah, dan badannya akan memunculkan warna yang berbeda di kegelapan langit malam. Kami lebih senang lagi bila iring-iringan yak yang besar dari Distrik Lho-dzong datang. Dalam pikiran kami yang masih kanak-kanak, kami mengira bahwa orang-orang yang berasal dari tempat yang jauh itu masih bodoh dan belum tahu tentang penemuan-penemuan "modem" seperti layang-layang kami, sehingga kami menerbangkannya untuk menakuti-nakuti mereka.

(17)

Salah satu cara kami adalah meletakkan tiga potong kulit kerang ke dalam layang-layang sedemikian rupa sehingga bila angin berembus ke dalamnya, kulit-kulit kerang itu akan me- nimbulkan bunyi lengkingan yang aneh. Kami membayangkannya seperti naga yang menyemburkan api pada malam hari, dan kami berharap pengaruhnya pada para pedagang tersebut akan cukup mengagetkan. Kami merasa geli sekali kalau membayang-kan bagaimana orang-orang itu amembayang-kan berbaring ketakutan di membayang-kantong tidur mereka sementara layang-layang kami berputar di atasnya.

Walaupun tidak saya sadari pada waktu itu, permainan saya dengan layang-layang membawa manfaat di kemudian hari ketika saya benar-benar terbang di dalamnya. Waktu itu semuanya hanyalah permainan, meskipun menyenangkan. Kami memiliki satu permainan yang bisa jadi cukup berbahaya: kami membuat layang-layang vang sangat besar---sekitar tujuh atau delapan kaki persegi dengan sayap-sayap yang menjulur dari kedua sisinya. Biasanya kami meletakkan layang-layang tersebut di sebidang tanah datar dekat jurang. Di situ ada udara yang bergerak ke atas dengan kuat. Kami akan menunggangi kuda poni dengan satu ujung tali dililitkan ke pinggang kami, dan menyuruh kuda kami berlari sekencang-kencangnya. Layang-layang itu akan terhentak ke atas sampai bertemu dengan gerakan udara yang mendorong naik itu. Kemudian akan ada gerakan menyentak dan penunggang kudanya akan terangkat, mungkin sampai tiga meter di udara dan kemudian pelan-pelan melayang tutun ke tanah. Bila ada penunggang kuda itu yang lupa menarik kakinya dari sanggurdi, maka badannya akan terasa seperti dibelah dua. Tetapi saya, yang tidak pernah mahir naik kuda, selalu bisa melepaskan diri dan keadaan terangkat ke udara merupakan suatu kenikmatan tersendiii. Saya pun akhirnya tahu bahwa jika saya menyentakkan tali pada saat akan naik, badan saya akan terangkat lebih tinggi lagi, dan beberapa sentakan berikutnya iagi akan memperlama penerbangan saya selama beberapa detik.

Pada suatu kesempatan saya menyentak-nyentakkan talinya dengan sangat bersemangat, anginnya juga bagus waktu itu, dan saya terbawa ke atap datar rumah seorang petani---tempat bahan bakar untuk musim dingin disimpan.

Para petani Tibet tinggal di rumah-rumah beratap datar dengan tembok yang tidak terlalu tinggi di sekelilingnya untuk menampung kotoran yak yang sudah dikeringkan dan digunakan sebagai bahan bakar. Rumah petani yang satu ini terbuat dari bata tanah liat yang dikeringkan dan bukan dari batu seperti pada umumnya, juga tidak memiliki cerobong asap: satu bagian terbuka di atap yang digunakan untuk mengeluarkan asap dari perapian di bawahnya. Kedatangan saya yang mendadak melalui seutas tali tersebut memorak-porandakan persediaan bahan bakarnya, dan tubuh saya yang terseret di sepanjang atap rupanya telah menyerok hampir seluruh persediaan bahan bakar tersebut ke lubang dan menimpa penghuninya yang malang.

(18)

Saya rupanya tidak disukai. Kemunculan saya melalui lubang itu pun disambut dengan teriakan kemarahan. Setelah badan saya dibersihkan penghuni rumah yang gusar itu, saya diseret ke hadapan Ayah untuk menerima pengobatan yang lain lagi. Malam itu saya tidur tengkurap!

Hari berikutnya saya mendapatkan pekerjaan yang tidak enak, yaitu pergi ke kandang dan mengumpulkan kotoran yak, yang kemudian harus saya bawa ke rumah petani itu dan meletakkannya di atap. Bagi saya itu merupakan pekerjaan yang berat karena umur saya waktu itu saja belum ada enam tahun. Tetapi semua orang puas, kecuali saya. Anak-anak yang lain juga tertawa terbahak-bahak. Petani itu sekarang punya bahan bakar dua kali lebih banyak, dan Ayah telah menunjukkan bahwa dia adalah orang yang memiliki disiplin dan bersikap adil. Saya? Malam berikutnya saya tidur tengkurap lagi, dan saya tidak keberatan untuk tidak mengikuti pelajaran berkuda!

Mungkin semua itu dianggap perlakuan yang keras, tetapi di Tibet tidak ada tempat bagi orang-orang yang lemah. Lhasa berada pada ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut, dan memiliki suhu yang ekstrem. Distrik yang lain letaknya bahkan lebih tinggi lagi dan keadaannya lebih sulit. Orang-orang yang lemah malah bisa membahayakan yang lain. Karena alasan inilah, dan bukan karena bermaksud kejam, latihan-latihannya sangat keras.

Di tempat yang lebih tinggi orang membenamkan bayi-bayi baru lahir di sungai-sungai kecil yang aimya sedingin es untuk menguji apakah bayi-bayi itu cukup kuat untuk hidup. Sering saya melihat iring-iringan kecil orang menuju ke sungai kecil serupa itu, mungkin di ketinggian 5.200 meter di atas permukaan laut. Iring-iringan itu akan berhenti di pinggir sungai, dan sang nenek akan mengambil bayinya. Di sekitarnya berkumpul keluarga bayi tersebut: ayah, ibu, dan keluarga dekat. Pakaian si bayi dilepas, kemudian sang nenek membungkuk dan mem-benamkan tubuh mungil itu ke dalam air, sehingga hanya kepala dan mulutnya saja yang tampak. Di dalam air yang dingin menggigit tersebut tubuh bayi itu berubah menjadi merah, lalu biru, dan tangisannya yang seakan memprotes berhenti. Bayi itu kelihatannya seperti sudah meninggal, tetapi sang nenek sudah mempunyai banyak pengalaman dengan hal-hal seperti itu. Si kecil lalu diangkat dari air, dikeringkan, dan diberi pakaian. Jika sang bayi bertahan hidup, maka itu adalah kehendak para dewa. Jika meninggal, berarti dia telah dibebaskan dari penderitaan di dunia ini. Cara ini bisa diterima di negeri yang sangat dingin ini. Jauh lebih baik bayi-bayi itu meninggal daripada mereka nantinya tumbuh menjadi orang-orang cacat yang tak terobati di negeri yang sangat langka bantuan medis ini.

(19)

usia tujuh tahun nanti saya harus mengikuti latihan demi karier atau tugas saya pada masa yang akan datang, seperti yang disarankan para astrolog. Di Tibet segala sesuatu ditentukan berdasarkan astrologi, mulai dari membeli seekor yak sampai mengambil keputusan mengenai karier seseorang. Sekarang waktunya semakin dekat, usia saya mendekati tujuh tahun. Pada saat usia saya tujuh tahun nanti Ibu akan menyelenggarakan pesta besar-besaran. Para kaum bangsawan dan mereka yang pangkatnya tinggi akan diundang untuk mendengarkan ramalan para astrolog.

Ibu saya memiliki tubuh yang berisi, dengan raut muka bulat dan rambut hitam. Kaum wanita Tibet mengenakan semacam hiasan kayu di kepalanya. Bersama hiasan itu rambut mereka diatur semenarik mungkin. Hiasan-hiasan itu sangat rumit, kadang-kadang dipernis warna merah tua, bertabur batu-batu hias dan diselang-seling dengan batu permata serta karang. Bila rambutnya diberi minyak, efek yang ditimbulkannya akan sangat indah.

Kaum wanita Tibet mengenakan baju yang sangat meriah, dengan banyak warna merah, hijau, dan kuning. Biasanya ada celemek satu warna, dengan garis-garis horizontal melintang yang tampak jelas dan warna-wama yang kontras tetapi harmonis. Lalu ada anting di telinga sebelah kiri, ukurannya tergantung pada derajat pemakainya. Karena Ibu merupakan anggota dari salah satu keluarga terpandang, panjang antingnya lebih dari 15 sentimeter.

Kami percaya bahwa wanita seharusnya memiliki hak yang sama dengan lelaki, tetapi dalam penyelenggaraan rumahtangga, Ibu jauh lebih berkuasa dan merupakan diktator yang tidak dapat dibantah. Ibu adalah seorang otokrat yang tahu apa yang dia inginkan dan akan selalu mendapatkarmya.

Ibu benar-benar menikmati kesibukan dan hiruk-pikuk menyiapkan rumah dan tempat untuk pesta itu. Ada peraturan yang harus dilaksanakan, perintah yang harus diberikan, dan rencana-rencana baru yang harus dipikirkan untuk menyeleng-garakan pesta yang jauh lebih meriah dibandingkan yang per- nah diselenggarakan para tetangga. Ibu memang hebat dalam hal-hal seperti ini. Karena sering mendampingi Ayah dalam perjalanan ke India, Peking, dan Shanghai, Ibu mempunyai sumber gagasan yang kaya dan sama sekali baru.

Tanggal pesta sudah ditetapkan dan undangan-undangan sudah ditulis dengan teliti oleh para rahib penulis di kertas buatan tangan yang tebal, biasanya digunakan untuk menyampaikan hal-hal yang sangat penting. Ukuran setiap undangan sekitar 30 sentimeter kali 60 sentimeter. Di setiap undangan terdapat cap keluarga Ayah. Karena Ibu juga

(20)

berasal dari dari sepuluh keluarga terpandang, capnya juga harus diterakan. Ayah dan Ibu sendiri punya cap bersama. Jadi semuanya ada tiga cap yang tertera pada setiap undangan. Secara keseluruhan undang- an tersebut merupakan dokumen yang sangat kuat. Sungguh sangat menakutkan bagi saya memikirkan semua kesibukan itu demi saya. Saya tidak menyadari sesungguhnya saya tidaklah terlalu penting. Yang paling penting adalah "peristiwa sosial" itu sendiri. Seandainya saya diberitahu kehebatan pesta itu hanya akan memberikan prestise yang besar bagi orangtua saya, pesta itu tidak akan membawa dampak apa pun pada diri saya. Tetapi tidak seorang pun memberitahu saya sehingga saya terus merasa ketakutan.

Kami menyewa sejumlah kurir khusus untuk menyebarkan semua undangan. Setiap kurir mengendarai kuda keturunan murni, dan masing-masing membawa tongkat yang terbelah dua, temnat undangan dijepitkan. Tongkat itu dibalut replika jubah perang keluarga dan dengan indahnya dihiasi tulisan doa- doa yang berkibar tertiup angin. Halaman sangat hiruk-pikuk ketika kurir-kurir tersebut siap berangkat. Para pelayan harus berteriak sehingga suara mereka parau. Kuda-kuda meringkik dan anjing-anjing hitam yang besar menyalak dengan galak. Bir Tibet diteguk untuk terakhir kalinya, dan cangkir-cangkirnya diletakkan dengan suara berisik. Sementara itu pintu ger- bang yang berat dibuka dengan suara gemurnh. Pasukan itu pun berderap keluar sambil berteriak-teriak.

Di Tibet para kurir mengirimkan berita tertulis, tetapi di samping itu mereka juga diberi versi lisannya yang bisa sangat berbeda. Dulu, para bandit menyerang para kurir dan mengganti berita tertulisnya, lalu menyerbu rumah yang tidak terjaga atau menyerang arak-arakannya. Jadi, menulis berita yang menyesatkan sudah menjadi kebiasaan, yang sering bisa membawa para bandit ke tempat mereka bisa ditangkap. Kebiasaan memberi berita tertulis dan lisan tersebut merupakan cara dari masa lalu supaya selamat. Sekarang ini, kadang-kadang isi kedua berita itu juga berbeda, tetapi versi lisannya selalu diterima sebagai yang benar.

Situasi di dalam rumah sibuk. Dinding-dinding dibersihkan dan dicat kembali, lantai-lantai dan panggung kayu digosok sampai mengilat sehingga berjalan di atasnya saja harus sangat hati-hati. Altar kayu berukir di ruang tengah dipoles dan dipernis. Banyak lampu mentega yang baru---ada yang terbuat dari emas, ada yang dari perak, tetapi semua digosok sampai mengilat sehingga sulit membedakan mana yang emas dan mana

(21)

yang perak. Sepanjang waktu Ibu dan kepala pelayan tergesa-gesa berkeliling, mengkritik yang di sini, memerintah yang di sana--- pokoknya membuat para pelayan sangat sibuk. Waktu itu kami memiliki lebih dari lima puluh pelayan, dan sejumlah pelayan tambahan dilibatkan dalam penyelenggaraan pesta tersebut. Meskipun sibuk, mereka semua bekerja dengan bersemangat. Bahkan halaman pun digosok sampai batu-batuannya bersinar, seperti baru keluar dari penggalian. Ruang di sela-sela bebatuan itu diisi bahan berwarna untuk memperindah penampilan. Ketika semuanya selesai, para pelayan yang kecapaian itu dipanggil Ibu dan disuruh mengenakan pakaian yang terbersih dari yang bersih.

Kegiatan di dapur tidak kalah riuhnya. Makanan disiapkan dalam jumlah yang sangat banyak. Tibet merupakan kulkas alami (natural refrigerator)---makanan dapat disiapkan dan disimpan sampai waktu yang hampir tanpa batas. Cuacanya sangat dingin dan sangat kering. Meskipun suhunya naik, cuacanya yang kering membuat makanan yang disimpan tetap bagus. Daging bisa bertahan sampai satu tahun, sementara biji-bijian bisa bertahan sampai ratusan tahun.

Umat Buddha tidak membunuh, sehingga daging yang tersedia hanyalah dari hewan yang jatuh dari tebing, atau yang mati karena kecelakaan. Tempat penyimpanan makanan kami dipenuhi daging semacam itu. Di Tibet juga ada tukang jagal, tetapi mereka merupakan kasta yang "tidak tersentuh", dan keluarga yang lebih ortodoks sama sekali tidak berhubungan dengan mereka.

Ibu memutuskan menghidangkan jamuan yang langka dan manal. Dia berencana menjamu para tamunya dengan kuntum- kuntum Rhododendron. Berminggu-minggu sebelumnya, para pelayan pergi berkuda ke kaki Pegunungan Himalaya---tempat kuntum-kuntum bunga yang terbaik. Di negeri kami, pohon- pohon Rhododendron sangat tinggi, dan jenis serta baunya sangat beragam. Kuntum-kuntum bunga yang belum cukup mekar tersebut dipetik dan dicuci dengan hati-hati. Sangat hati-hati, karena kalau sampai cacat, pengolahannya bisa gagal. Lalu se¬tiap kuntum itu dimasukkan ke dalam stoples kaca besar yang berisi campuran air dan madu. Stoplesnya kemudian ditutup, dan setiap hari selama berminggu-minggu stoples-stoples itu diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari, diputar secara teratur sehingga seluruh bagian bunga itu cukup mendapat sinar. Bunganya akan tumbuh perlahan-lahan, dan akan terisi nektar yang dihasilkan air-madu tersebut. Beberapa orang suka mengangin-anginkan bunga itu selarna beberapa hari sebelum dimakan, sehingga bunganya akan mengering dan menjadi agak renyah, tanpa mengurangi rasa dan penampilannya. Mereka juga menaburkan sedikit gula di atas kelopak bunganya sehingga seperti taburan salju. Ayah menggerutu tentang biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bunga-bunga tersebut. "Kita sudah bisa membeli sepuluh yak beserta anak-anaknya dengan biaya yang kau keluarkan untuk bunga-bunga itu," katanya. Jawaban Ibu khas jawaban seorang perempuan: "Jangan bodoh! Harus ada yang bisa kita pamerkan,

(22)

dan bagaimanapun, itu urusanku di rumah ini."

Hidangan yang lain adalah sirip ikan hiu. Sirip tersebut dibawa dari Cina dalam keadaan sudah dipotong-potong, dan dibuat sup. Ada yang mengatakan "sup sirip ikan hiu adalah hidangan paling lezat di dunia". Bagi saya masakan itu rasanya mengerikan, dan untuk menelannya pun sungguh merupakan siksaan. Apalagi sesampainya di Tibet, pemilik aslinya pun sudah tidak akan bisa mengenaii bentuknya lagi. Dengan bahasa yang halus, sirip itu sudah agak "basi". Tapi bagi sebagian orang tampaknya itu justru menambah nikmat rasanya.

Makanan kegemaran saya adalah tunas bambu muda yang lezat, yang juga dibawa dari Cina. Tunas-tunas tersebut dapat dimasak dengan berbagai cara, tetapi saya lebih senang mema- kannya mentah-mentah dengan diolesi garam. Pilihan saya adalah tunas yang ujungnya baru mulai terbuka dan berwarna hijau kekuningan. Saya selalu khawatir tunas-tunas itu akan dihilangkan ujungnya oleh tukang masak sebelum dimasak! Sayang juga sebetulnya, karena tukang masaknya lebih suka yang demikian.

Tukang masak di Tibet umumnya laki-laki. Kaum perempuan tidak begitu pandai mengaduk tsampa atau membuat campuran yang repat. Kaum perempuan sekadar mengambil segenggam ba¬han ini, menambahkan sejumput bahan itu, lalu membumbuinya dengan harapan akan menjadi enak. Kaum laki-laki lebih teliti, lebih bersungguh-sungguh, sehingga mereka menjadi koki yang lebih baik. Kalau kaum perempuan bolehlah dalam urusan bersih-bersih, mengobrol, dan tentu saja beberapa hal kecil lainnya. Tetapi tidak dalam membuat tsampa.

Tsampa adalah makanan utama di Tibet. Beberapa orang hidup hanya dengan makan tsampa dan minum teh sejak mereka pertama kali makan sampai akhir hidupnya. Tsampa dibuat dari semacam gandum yang dipanggang sampai cokelat kekuningan dan rasanya renyah. Lalu biji-biji gandum itu dipecahkan sehingga tepungnya keluar dan dipanggang lagi. Tepungnya kemudian ditaruh di mangkuk dan dituangi teh panas bermentega. Campuran itu diaduk sampai adonannya cukup kenyal. Garam, boraks, dan mentega yak ditambahkan sesuai selera. Hasilnya adalah tsampa, yang bisa digulung dan diiris-iris, dibuat roti, atau bahkan dicetak dengan bentuk-bentuk yang indah. Tsampa sendiri sebetulnya membosankan, tetapi makanan ini sangat padat sehingga sangat membantu dalam mempertahankan kehi- dupan di berbagai ketinggian dan berbagai kondisi.

Sementara beberapa pelayan membuat tsampa, yang lainnya membuat mentega. Cara kami membuat mentega tidak dapat dipuji dari segi kebersihannya. Tong susu kami terbuat dari kan- tong-kantong kulit kambing yang besar, dengan bagian yang berbulu di

(23)

sebelah dalam. Kantong-kantong tersebut diisi susu yak atau kambing, lalu lehernya dipuntir, ditekuk, dan diikat supaya tidak bocor. Kantong-kantong itu lalu dibentur-benturkan ke atas dan ke bawah sampai menteganya terbentuk. Kami memiliki lantai khusus untuk membuat mentega. Di lantai tersebut terdapat tonjolan-tonjolan batu yang tingginya sekitar 45 sentimeter. Kantong-kantong yang penuh susu itu lalu diangkat dan dijatuhkan ke atas tonjolan-tonjolan batu tersebut, yang memiliki efek seperti "mengocok" susu. Sangat membosankan melihat dan mendengarkan sekitar sepuluh pelayan mengangkat dan menjatuhkan kantong-kantong itu selama berjam-jam. Ada suara meienguh saat kantongnya diangkat, dan suara berdesing yang lembut sewaktu kantongnya dijatuhkan. Kadang-kadang kantong yang ditangani dengan ceroboh, atau yang sudah tua, pecah. Saya ingat pernah ada satu pelayan yang sangat kuat me- mamerkan kekuatannya. Dia bekerja dua kali lebih cepat dari-pada yang lain, sampai urat-urat di lehernya menonjol karena tenaganya dikerahkan sepenuhnya. Seorang pelayan berkata, "Kamu sudah semakin tua, Timon, pelan-pelan saja."

Timon menggertak marah dan mencengkeram leher kantong dengan tangan-tangannya yang kekar, mengangkatnya, lalu menjatuhkan kantong itu. Tetapi rupanya kekuatannya benar-benar bekerja waktu itu. Kantongnya jatuh, tetapi tangan Timon dan leher kantong itu masih melayang di udara. Kantong yang jatuh itu menyemburkan mentega yang masih setengah jadi, langsung ke wajah Timon yang tertegun. Mentega itu mengenai mulut, mata, telinga, dan rambutnya, lalu mengalir ke bawah, membungkus tubuhnya dengan dua belas sampai lima belas galon cairan berwarna kekuningan.

Ibu yang mendengar suara gaduh itu menerobos masuk. Baru kali itulah saya melihat Ibu tidak bisa berkata-kata. Mungkin disebabkan rasa marahnya karena kehilangan mentega, atau mungkin mengira orang malang itu sedang tercekik, Ibu lalu merenggut kantong kulit kambing yang robek itu dan memukulkannva ke kepala Timon yang malang. Timon kehilangan keseimbangannya di lantai yang licin, dan jatuh ke kubangan mentega yang berceceran.

Para pekerja yang ceroboh, seperti Timon, bisa merusakkan mentega. Bila mereka tidak berhati-hati sewaktu mengayunkan kantong-kantong itu ke batu-batu yang menonjol, mereka akan menyebabkan bulu-bulu di dalam kantong rontok dan bercampur dengan mentega. Memang tidak ada yang keberatan bila mereka disuruh mencabuti selusin atau dua lusin bulu dari mentega, tetapi kalau seluruh gumpalan mentega itu bercampur bulu, ya orang akan segan melakukannya.

Mentega yang sudah bercampur dengan bulu itu lalu disisihkan untuk digunakan sebagai bahan bakar lampu-lampu atau dibagikan ke pengemis-pengemis. Pengemis-pengemis itu akan memanaskannya lagi dan menyaringnya dengan secarik kain. Masakan yang "keliru

(24)

diolah" juga disisihkan untuk para pengemis. Jika sebuah keluarga ingin menunjukkan kepada tetangganya mengenai betapa tingginya standar makanan mereka, makanan yang benar-benar bagus akan dipersiapkan dan diberikan kepada para pengemis dengan alasan "keliru diolah". Orang-orang yang sudah diberi makan enak ini merasa senang lalu berkeliling ke rumah-rumah lainnya sambil menceritakan apa yang telah mereka makan. Para tetangga akan menang- gapi dengan memastikan sendiri apa yang sudah dimakan para pengemis itu.

Banyak yang bisa diceritakan mengenai kehidupan pengemis di Tibet. Mereka tidak pernah menginginkan milik orang lain. Dengan menggunakan "tipuan perdagangan mereka"---sebagai pengemis---para pengemis itu dapat hidup layak. Mengemis tidak hina di kebanyakan negara di Timur. Banyak rahib mengemis dari satu biara ke biara lainnya. Itu sudah merupakan praktik yang diakui dan tidak dianggap lebih buruk daripada usaha mengumpulkan dana di negara lain. Mereka yang memberi makan seorang rahib yang sedang melakukan perjalanan dianggap telah melakukan perbuatan baik. Para pengemis juga memiliki aturan sendiri. Jika seseorang sudah memberi sedekah kepada seorang pengemis, pengemis itu akan pergi dan tidak akan mendatangi si pemberi lagi dalam jangka waktu tertentu.

Dua orang rahib yang tinggal di rumah kami juga mempunyai tugas sendiri dalam pesta yang akan datang ini. Mereka mendatangi tubuh-tubuh hewan di tempat penyimpanan makanan kami dan mengucapkan doa bagi jiwa para hewan yang pernah menghuni tubuh-tubuh itu. Kepercayaan kami adalah bila seekor hewan terbunuh, meskipun akibat kecelakaan, lalu dagingnya dimakan, manusia yang memakannya akan berutang pada hewan itu. Utang semacam itu dibayar dengan meminta rahib berdoa bagi tubuh hewan tersebut, dengan harapan hewan itu akan bereinkarnasi ke status yang lebih tinggi dalam kehidupan berikutnya di bumi.

Beberapa rahib di biara dan kuil-kuil menggunakan seluruh waktunya untuk berdoa bagi hewan-hewan. Sebelum melakukan perjalanan panjang, rahib-rahib kami juga bertugas mendoakan kuda-kuda supaya kuda-kuda itu tidak terlalu lelah. Karena itu, kuda-kuda kami tidak pernah bekerja dua hari berturut-turut. Jika seekor kuda sudah ditunggangi seharian, hari berikutnya kuda tersebut harus diistirahatkan. Hal yang sama juga diterapkan pada hewan-hewan peliharaan lainnya. Mereka semua mengetahuinya. Jika seekor kuda terpilih untuk dikendarai, padshal hari sebelumnya ia sudah digunakan, kuda itu akan diam saja dan tidak mau bergerak. Lalu kalau sadelnya sudah dilepaskan, ia akan berlalu dengan menggelengkan kepalanya seolah berkata: "Ah, akhirnya ketidakadilan telah disingkirkan!" Keledai lebih buruk lagi sifatnya. Mereka akan menunggu sampai beban diikat di punggung mereka, lalu mereka akan berbaring dan mencoba berguling di atas beban itu.

(25)

Kami punya tiga ekor kucing. Mereka selaiu bertugas sepanjang waktu. Satu kucing tinggai di kandang kuda dan menerapkan disiplin yang keras pada tikus-tikus. Tikus-tikus itu akhirnya harus selaiu waspada agar tetap menjadi tikus dan bukannya makanan kucing.

Kucing yang lain tinggai di dapur. Dia sudah agak tua dan sedikit tolol. Induknya ketakutan saat mendengar letusan senapan Ekspedisi Younghusband pada tahun 1904, sehingga ia harus lahir prematur dan merupakan satu-satunva anak yang bertahan hidup. Karena peristiwa itu juga ia lalu diberi nama "Younghusband".

Kucing ketiga adalah kucing pengawas yang sangat terhormat dan tinggai bersama kami. Ia merupakan contoh kucing yang menjalankan kewajibannya dengan rasa keibuan, dan dengan sepenuh hati selaiu memastikan bahwa populasi kucing tidak menurun. Bila tidak sedang merawat anak-anaknya, ia biasanya mengikuti Ibu berialan dari ruang yang satu ke ruang yang lainnya. Tubuhnya kecil dan berwarna hitam. Meskipun selera makannya bagus, ia kelihatan seperti kerangka yang berjalan.

Hewan-hewan di Tibet bukan hewan piaraan, juga bukan budak. Mereka adalah makhluk hidup yang berguna dan memiliki tujuan hidup untuk mengabdi. Mereka adalah makhluk hidup yang memiliki hak-hak sendiri seperti manusia yang mempunyai hak- hak sendiri pula. Menurut kepercayaan Buddha, semua hewan, bahkan makhluk hidup, memiliki jiwa dan akan dilahirkan kembali ke bumi dengan status yang lebih tinggi.

Dengan cepat jawaban-jawaban undangan kami berdatangan. Kuda para kurir berderap menuju pintu gerbang dan tongkat berita yang terbelah dua dikibar-kibarkan. Seorang pelayan keluar dari kamarnya untuk menghormati kurir utusan bangsawan itu. Si kurir mengambil berita dari tongkatnya, dan meneriakkan versi lisannya. Kemudian dia akan menekuk lututnya dan melorot ke tanah dengan gerakan yang indah untuk menunjukkan bahwa dia telah memberi seluruh tenaganya untuk menyampaikan berita ke Rumah Keluarga Rampa. Para pelayan kami memainkan peran mereka dengan mengerumuninya dan berkomentar: "Orang yang malang, dia sudah melakukan perjalanan dengan sangat cepat. Kasihan, orang malang yang terhormat!" Saya pernah mempermalukan diri saya sendiri dengan mengatakan: "Ah, tidak. Saya melihatnya beristirahat sebentar di luar sebelum dia menerjang masuk." Apa yang ter- jadi kemudian tidak bisa saya ceritakan di sini- Keheningan yang menyelimuti kejadian itu sungguh sangat menusuk hati.

Akhirnya hari itu pun tiba, hari yang sangat saya takuti, karena karier saya akan ditentukan dan saya tidak punya pilihan lain. Sinar matahari mulai memancar dari atas pegunungan di kejauhan ketika seorang pelayan menerobos masuk ke kamar saya. "Ya

(26)

ampun! Belum bangun juga, Tuesday Lobsang Rampa?

Wah, kamu ini tukang tidur! Sekarang sudah jam empat dan masih banyak yang harus dikerjakan. Bangun!" saya menyingkirkan selimut dan berdiri. Bagi saya hari ini adalah titik awal dari perjalanan hidup saya.

Di Tibet kami diberi dua nama, yang perlama adalah pada waktu kami dilahirkan. Saya dilahirkan pada hari Selasa (Tuesday), sehingga Tuesday adalah nama pertama saya. Lalu Lobsang adalah nama yang diberikan otangtua saya. Jika seorang anak akan masuk biara, dia akan diberi nama lagi, yaitu "nama rahib-nya". Apakah saya akan diberi nama lagi? Hanya waktulah yang niengetahuinya. Saya, pada umur tujuh tahun, ingin menjadi seorang tukang perahu di Sungai Tsang-po yang berjarak 65 kilometer jauhnya.

Tunggu dulu, benarkah itu yang saya inginkan? Tukang perahu berkasta rendah karena mereka menggunakan perahu yak yang tersembunyi di balik pohon-pohonan. Tukang perahu? Kasta yang rendah? Tidak! Saya ingin menjadi penerbang layang-layang profesional. Itu lebih baik, bebas di udara, jauh lebih baik daripada berada di perahu kulit kecil yang hina dan terapung-apung di sungai. Seorang penerbang layang-layang, itulah yang saya inginkan, dan membuat layang-layang yang indah dengan kepala yang besar dan mata yang menyala.

Namun, hari ini para rahib astrolog akan mengucapkan ramalannya. Mungkin keinginan saya itu sudah agak terlambat. Saya tidak dapat melompat dari jendela dan melarikan diri sekarang karena Ayah akan segera mengirimkan orang-orangnya untuk membawa saya pulang. Tidak, bagaimanapun saya adalah Rampa, dan saya harus mengikuti tradisi. Mungkin para astrolog itu akan mengatakan bahwa saya akan menjadi seorang penerbang layang-layang. Saya hanya bisa menunggu dan melihat.

(27)

2. AKHIR MASA KANAK-KANAK SAYA

"Aduh! Yulgye, kamu menarik kepalaku! Aku bisa jadi gundul seperti rahib kalau kamu tidak berhenti." "Tenanglah, Tuesday Lobsang. Kuncirmu harus lurus dan diminyaki semuanya. Kalau tidak, ibumu Yang Terhormat itu akan mengulitiku."

"Tapi Yulgye, kamu jangan kasar begitu. Kamu memelintir kepalaku." "Oh, aku tidak peduli, aku terburu-buru."

Yah, itulah saya. Saya duduk di lantai bersama seorang pelayan pria yang sedang memelintir kuncir saya! Akhirnya kuncir sialan itu menjadi kaku seperti yak yang beku, dan ber- sinar seperti sinar rembulan di atas telaga.

Ibu sedang berkeliling. Dia bergerak begitu cepatnya sam- pai-sampai saya merasa seperti punya beberapa ibu. Ada perintah-perintah, persiapan-persiapan terakhir, dan percakapan-percakapan. Yaso yang umurnya dua tahun lebih tua daripada saya sibuk mondar-mandir seperti wanita berumur empat puluh tahun. Ayah mengunci diri di kamar pribadinya, jauh dari suasana yang riuh rendah itu. Saya hanya bisa berharap dapat bergabung dengannya!

Karena alasan tertentu, Ibu telah mempersiapkan kami untuk pergi ke Jokhang, sebuah kuil besar dan megah di Lhasa, sebanding dengan katedral. Sepertinya kami harus memberi suasana religius pada acara yang akan segera berlangsung ini. Sekitar pukul sepuluh pagi (waktu di Tibet sangat elastis), gong yang dibunyikan tiga kali terdengar memanggii kami ke tempat pertemuan. Kami semua naik kuda: Ayah, Ibu, Yaso, dan sekitar lima orang lainnya, termasuk saya yang ogah-ogahan. Kami berbelok menyeberangi Jalan Lingkhor, dan belok ke kiri di kaki Potala. Potala merupakan kumpulan bangunan yang menjulang tinggi. Tingginya sekitar 122 meter dan panjangnya sekitar 366 meter. Kami melewati Desa Sho, menyusuri Dataran Kyi Chu, dan setengah

(28)

jam kemudian sampailah kami di depan Jokhang. Di sekeliling Jokhang berjejalan rumah-rumah kecil, toko-toko, dan kios-kios untuk menarik para peziarah. Jokhang, kuil megah dan indah yang sudah berdiri selama seribu tiga ratus tahun itu, menyambut mereka yang datang untuk berdoa. Di bagian dalam, lantai batunya melesak sedalam beberapa inci karena dilewati begitu banyak orang yang akan berdoa. Para peziarah bergerak dengan khusuk mengelilingi Lingkaran Dalam sambil tak putus-putusnya mengucapkan mantra Maha Terang: Om! Ma-ni pad-me Hum!

Tiang-tiang kayu yang besar dan berwarna hitam karena dimakan usia menyangga atap bangunan itu. Bau menyengat dari dupa yang terus-menerus dibakar meiayang-layang seperti awan musim panas yang tipis di puncak gunung. Di sekeliling dindingnya terdapat patung-patung emas---perwujudan dewa-dewa kepercayaan kami. Jeruji baja yang kokoh, dengan jarak yang cukup renggang supaya tidak menghalangi pandangan, dipasang untuk melindungi patung-patung itu dari mereka yang nafsu serakahnya mengalahkan rasa hormatnya. Tubuh patung-patung yang sangat dikenal para peziarah sebagian tertutup batu berharga dan permata yang diletakkan mereka yang datang mencari berkah. Tempat lilin yang terbuat dari emas penuh de¬ngan lilin-lilin yang terus menyala. Apinya tidak pernah padam selama seribu tiga ratus tahun terakhir ini. Dari ceruk-ceruk di dinding yang gelap terdengar suara genta, gong, dan lenguhan kulit kerang. Kami ikut berjalan mengelilingi Lingkaran Dalam.

Setelah selesai melakukan persembahan, kami pergi ke atap datar bangunan tersebut. Hanya orang-orang tertentu yang bisa berkunjung ke sini. Ayah sebagai salah seorang pengurusnya selalu datang.

Bentuk pemerintahan-pemerintahan (ya, dalam bentuk jamak) kami mungkin cukup menarik. Pemimpin Negara dan Biara, juga Pengadilan Banding yang tertinggi, adalah Dalai Lama. Setiap orang di negeri ini bisa mengajukan petisi padanya. Jika petisi atau peimohonannya adil, Dalai Lama akan mengabul- kan permohonan itu. Jika terjadi ketidakadilan, ketidakadilan itu diperbaiki. Jadi; masuk akal bahwa setiap orang di negeri ini, mungkin tanpa kecuali, mencintai atau memujanya. Dalai Lama adalah seorang autokrat. Dia menggunakan kekuasaan dan dominasinya, tetapi tidak perrxah menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Semua itu dia gunakan demi kebaikan negeri ini. Dia iuga bisa meramalkan bahwa akan terjadi penyer- buan oleh kaum komunis, meskipun itu baru terjadi beberapa tahun kemudian. Itulah sebabnya beberapa dari kami dilatih secara khusus agar kemampuan meramal yang dimiliki para rahib tidak punah.

Di bawah Dalai Lama terdapat dua dewan, itulah sebabnya saya menulis "pemerintahan-pemerintahan". Yang pertama adalah Dewan Kerohanian. Keempat anggotanya adalah ra- hib-rahib dengan status Lama. Berdasarkan bimbingan Sang Hakikat-Terdalam,

(29)

keempat rahib itu bertanggung jawab atas seluruh kegiatan di biara pria dan wanita. Semua persoalan kerohanian menjadi tanggung jawab mereka.

Dewan yang satunya lagi adalah Dewan Para Menteri. Dewan ini memiliki empat anggota, yaitu tiga orang awam dan seorang rahib. Mereka mengurusi masalah-masalah negara secara keseluruhan dan bertanggung jawab atas persatuan Biara dan Negara.

Dua pejabat, yang bisa disebut sebagai Perdana Menteri, karena memang demikianlah fungsi mereka, bertindak sebagai "Pejabat Penghubung" antara kedua dewan tersebut dan menyampaikan pandangan-pandangannya kepada Dalai Lama. Peran mereka sangat penting dalam pertemuan Majelis Nasional yang jarang diadakan itu. Majelis Nasional sendiri terdiri atas sekitar lima puluh orang, yang mewakili seluruh keluarga penting dan semua biara di Lhasa. Mereka bertemu hanya pada saat-saat yang menentukan, seperti pada tahun 1904 ketika Dalai Lama pergi ke Mongolia karena Inggris menyerang Lhasa. Pada waktu itu banyak orang Barat yang menganggap aneh mengapa Sang Hakikat-Terdalam bersikap pengecut dengan "melarikan diri". Dalai Lama tidak "melarikan diri". Perang di Tibet bisa digambarkan seperti permainan catur. jika sang raja diambil, perrnainan pun sudah dimenangkan. Dalai Lama adalah "raja" kami. Tanpa dirinya, tidak ada yang pcrlu dipertahankan. Jadi dia hams pergi ke tempat yang aman supaya negeri kami tetap bersatu. Mereka yang menuduh bahwa dia pengecut berarti tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Jumlah anggota Majelis Nasional bisa bertambah sampai hampir empat ratus orang bila pemimpin-pemimpin provinsi diikut-sertakan. Semaunya ada lima provinsi, yaitu ibukota, yang biasa disebut Lhasa dan terletak di Provinsi U-Tsang, Shigatse yang terletak di distrik yang sama, Gartok yang merupakan wilayah Tibet barat, Chang di Tibet utara, dan Kham serta Lho-dzong yang masing-masing terletak di wilayah timur dan selatan. Dengan berjalannya waktu Dalai Lama meningkatkan kekuasaanya dan lebih banyak menjalankan tugas-tugasnya tanpa bantuan Dewan atau Majelis. Negeri ini diperintah dengan lebih baik daripada sebelumnya.

Pemandangan dari atap kuil sungguh menakjubkan. Di sebelah timur terbentang Dataran Lhasa yang terlihat hijau, subur, dan dihiasi titik-titik pepohonan. Di balik pepohonan itu berkilauan air dari sungai-sungai di Lhasa yang mengalir dan bergabung dengan Sungai Tsang Po yang jaraknya lebih dari 65 kilometer. Di sebelah utara dan selatan menjulang rangkaian pegunungan yang mengelilingi lembah kami dan membuat kami seperti terpisah dari dunia lain. Biara-biara terletak di dataran yang rendah. Di atasnya pertapaan-pertapaan yang kecil bertengger di lereng tebing yang terjal. Di sebelah barat tampak gunung kembar Potala dan Chakpori. Chakpori dikenal sebagai Kuil Pengobatan. Di antara kedua gunung tersebut terlihat Gerbang Barat berkilau dalam cahaya mentari pagi

(30)

yang dingin. Langit berwarna ungu tua dipertegas putihnya salju di puncak rangkaian pegunungan di kejauhan. Gumpalan awan kecil berarak di atas kepala. Pada jarak yang lebih dekat, di wilayah perkotaan, kami melihat Gedung Dewan yang ber- sisian dengan dinding utara Kuil Jokhang. Gedung Baitulrnal terletak cukup dekat. Di sekelilingnya bertebaran kios-kios para pedagang dan pasar tempat hampir segala macam barang bisa diperoleh. Di dekatnya, sedikit ke arah timur, sebuah biara v/anita berdiri berdesakan dengan area yang dihuni para petugas Pembuang Jenazah.

Di halaman Jokhang, kuil yang megah ini, terdengar celoteh para pengunjung yang tiada putus-putusnya. Mereka adalah peziarah yang datang dari tempat yang jauh. Sekarang mereka datang membawa persembahan dengan harapan memperoleh berkah. Beberapa orang membawa hewan yang diselamatkan dari penjagal. Mereka berhasil membelinya padahal mereka sendiri tidak punya cukup banyak uang. Menyelamatkan ke- hidupan---kehidupan hewan maupun hidupan---kehidupan manusia--- adalah perbuatan baik. Karena itu, orang yang melakukannya akan memperoleh berkah berlimpah.

Sementara kami berdiri dan menikmati pemandangan yang tidak pernah berubah, tetapi selalu tampak baru itu, terdengar suara para rahib sedang berdoa, ditingkahi bunyi drum dan terompet yang mengalun dengan indahnya. Getaran nada-nadanya terasa menghanyutkan dan menimbulkan perasaan seperti tersihir.

Para rahib sibuk berkeliling mengurusi pekerjaan mereka. Ada yang berjubah kuning, ada yang berjubah ungu, dan ada lebih banyak lagi yang berjubah merah kekuningan. Mereka ini rahib "biasa". Yang berjubah warna emas, juga yang berjubah merah jambu, datang dari Potala. Para pembantu rahib yang berjubah putih dan para rahib pengawas yang berjubah merah tua sibuk berkeliling. Semuanya, atau hampir semuanya, memiliki satu kesamaan: tidak peduli bagaimanapun barunya jubah mereka, jubah-jubah itu hampir semuanya memiliki tambaian- tambalan yang merupakan tiruan dari tambalan jubah Buddha. Orang asing yang pernah melihat rahib Tibet, atau pernah melihat foto mereka, kadang-kadang mengomentari "penampilan yang bertambal-tambal" itu. Tambalan itu kemudian merupakan bagian dari pakaian rahib. Bahkan para rahib dari biara Ne-Sar yang berumur seribu dua ratus tahun selalu memasang tambalan mereka dengan hati-hati. Tambalan mereka berwarna sedikit lebih muda!

Para rahib mengenakan jubah merah sesuai ordonya. Banyak jenis warna merah yang beredar. Itu disebabkan cara memberi warna pada kain wolnya. Merah marun sampai merah bata pun masih tetap bisa disebut "merah". Beberapa rahib yang hanya bertugas di Potala mengenakan jaket emas tanpa lengan di atas jubah merah mereka. Emas adalah warna suci di Tibet, karena emas tidak bisa temoda sehingga akan selalu murni. Warna ernas ini raenjadi warna resmi Dalai Lama. Beberapa rahib, atau sejumlah lama

(31)

berpangkat tinggi yang melayani Dalai Lama secara pribadi, diperkenankan mengenakan jubah emas di atas jubah merah mereka yang biasa.

Dari atap Jokhang kami bisa melihat banyak orang berjaket emas, tetapi jarang di antaranya yang merupakan petugas-petugas di Puncak. Kami juga melihat umbul-umbul doa yang berkibar-kibar dan kubah kuil yang cemerlang ini. Langit ke- lihatan indah, bersemburatkan warna ungu dengan gulungan awan yang kecii-kecil, seakan-akan seorang seniman telah me- mercikkan cat putih ke atas kanvas surga. Kemudian Ibu menv buyarkan pesona itu: "Ayo, kita sudah membuang-buang waktu di sini. Aku ingin tahu apa saja yang sudah dikerjakan para pelayan itu. Kita harus bergegas!" Kami lalu berangkat dengan mengendarai kuda-kuda poni kami yang sabar. Mereka berjalan di sepanjang Jalan Lingkhor. Setiap langkahnya membawa saya ke sesuaru yang saya sebut "Siksaan", tetapi Ibu menyebutnya sebagai "Hari Besar" milik dia.

Sesampainya di rumah, Ibu melakukan pemeriksaan terakhir lalu kami makan untuk memperkuat tubuh kami dalam menghadapi peristiwa yang sebentar lagi akan berlangsung. Kami tahu persis pada saat-saat seperti ini para undangan akan makan enak dan terpuaskan, tetapi tuan rumahnya tidak akan punya apa-apa lagi. Tidak akan ada kesempatan lagi bagi kami untuk makan nanti-nanti.

Para musisi rahib tiba dengan peralatannya yang ramai berdenting---terompet, klarinet, gong, dan drum. Simbal mereka digantungkan di leher. Mereka dibawa ke taman. Di situ mereka mengobrol dan meminta bir yang katanya bisa membantu mereka bermain musik dengan baik. Selama setengah jam berikutnya yang terdengar hanya suara-suara yang memekakkan telinga dan lengkingan terompet yang sedang dipersiapkan

.

Di halaman, keributan pecah sewaktu tamu-tamu pertama mulai berdatangan. Mereka berkuda dengan kawalan pasukan bersenjata. Panji-panji mereka dikibar-kibarkan. Pintu gerbang masuk dibuka lebar-lebar. Dua baris pelayan kami berdiri di kedua sisinya untuk menyambut mereka. Pengurus rumahtangga dengan dua pembantunya siap dengan syal sutra pilihan, yang di Tibet digunakan sebagai bentuk sambutan. Ada delapan je- nis syal. Yang digunakan harus tepat, kalau tidak, hal itu akan diartikan sebagai penghinaan! Dalai Lama hanya memberi, dan menerima, yang terbaik. Kami menamakan syal ini "khata", dan cara memberikannya demikian: si pemberi, jika derajatnya sama, berdiri menjaga jarak dengan kedua tangan diulurkan lurus di depan tubuhnya. Si penerima juga berdiri menjaga jarak dengan kedua tangan lurus terulur ke depan. Si pemberi lalu akan membungkuk dan membentangkan syal itu di pergelangan tangan si penerima. Si penerima yang juga membungkuk akan mengambil syal itu dari pergelangan tangannya, membalikkannya sebagai tanda setuju, dan memberikannya ke pelayan yang sudah menunggu. Bila syal diberikan kepada orang yang lebih tinggi derajatnya, si pemberi

References

Related documents

An effective risk-based management system includes an enterprise asset management or resource solution that properly catalogs asset attribute data, a functional hierarchy,

2) Line-staff dichotomy may lead to conflicts, friction and eventually confusion in an organization. This situation may in turn lead to instability, disunity, rivalry,

Ocenjivanje životnog ciklusa ( eng. Life Cycle Assessment - LCA ) je revolucionaran analitički i sistematični alat koji služi za ocenjivanje negativnih uticaja na

The discussion is about the background of using available technology, particularly Facebook as an online social media in education, and then, it will be narrowed down

Healthy & root-knot infested plant and roots of Egyptian henbane (H.. colonization was observed in combined treatment, which was followed by GA, Gm and Gf. It is worth

Abstract: The application of β -1,3/1,6-glucan derived from yeast at five concentrations (0%, 0.5%, 1.0%, 1.5%, and 2.0%) in formulated diets was evaluated in juveniles for its

Antonio Iribarren y Aníbal Bascuñán Valdés (y, a través de ellos, las de Valentín Letelier y Rafael Altamira y Crevea), y la concepción polifacética, y muestra que la historia de