STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI
KABUPATEN TANGGAMUS
Skripsi
Oleh
BOBY SATRIAWAN
EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
ABSTRACT
TANGGAMUS REGENCY REGIONAL DEVELOPMENT STRATEGY By
BOBY SATRIAWAN
This study aims to determine the development strategy of marine tourism areas and determine internal and external factors that support and hinder the development of marine tourism Tanggamus Regency. The number of samples in this study were 85 respondents. The analysis used in this study is a SWOT analysis, namely the systematic identification of various factors to formulate a strategy. The results in this study are the strategies of developing coastal areas as objects of coastal tourism carried out by the local government of Tanggamus Regency are not optimal. Based on the SWOT diagram that is carried out on strengths, weaknesses, opportunities and threats in the development of marine tourism objects in Tanggamus Regency has greater opportunities and strengths compared to threats and weaknesses.
ABSTRAK
STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
BOBY SATRIAWAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengembangan kawasan wisata bahari dan menentukan faktor-faktor internal dan ekternal yang mendukung dan menghambat pengembangan pariwisatan bahari Kabupaten Tanggamus. Jumlah sampel dalam penlitian ini sebesar 85 responden. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis SWOT yaitu identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. Hasil dalam penelitian ini adalah strategi pengembangan daerah pesisir sebagai objek pariwisata pantai dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Tanggamus belum optimal. Berdasarkan diagram SWOT yang dilakukan terhadap kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pengembangan objek wisata bahari di Kabupaten Tanggamus memiliki peluang dan kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan ancaman dan kelemahan.
Kata Kunci: Analisis SWOT, Kabupaten Tanggamus, Strategi Pengembangan, dan Wisata Bahari.
STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh Boby Satriawan
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA EKONOMI
Pada
Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Nama lengkap penulis adalah Boby Satriawan dilahirkan pada tanggal 23 agustus 1994 di Kota Batu Kec Warkuk Ranau Selatan Kab OKUS. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Ayah Kamisrun dan Ibu Nur Hayati
Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD N 3 Kota Batu Tahun 2007 Madrasyah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Kota Batu pada tahun 2010 dan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Sukau Kab. Lampung Barat pada tahun 2013.
MOTO
SUNYIN
Selalu, Usaha, Niat, Yakin, Nikmati
“ Selalu Berusaha Syukur, Sabar Seindah dan Sebaik Mungkin Demi Bermanfaat Bagi Orang Lain”
PERSEMBAHAN
Alhamdulilahirabbil‟alamin..
Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT atas segara rahmat dan nikmat yang diberikan, serta shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, kupersembahkan karya terbaikku ini kepada :
Ayah Kamisrun dan Ibu tercinta Nur Hayati yang selalu memberikan kasih sayang dan mendo’akan dalam setiap perjalanan hidupku, serta tak lupa ku ucapan terima kasih yang amat terdalam atas segala pengorbanan yang sudah dilakukan. Kedua saudaraku yang tersayang, Silvina Gustirahayu dan Tegar Ramadhan, yang selalu mendo’akan dan selalu memberikan dukungan serta kasih dan sayang.
Dan untuk Bapak Triyono dan Ibu Siti Hendriyani serta buah hatinya Lilis Handayani yang selalu memberi dukungan dan mendo’akan yang terbaik.
Sahabat-sahabatku terutama kakak Encep Supriyadi dan embak Annisa Fitri Dwi Mardiah yang telah menjadi Kakak Angkat yang senantiasa menemaniku dalam perjalanan hidup ini di perantauan.
SANWACANA
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Strategi Pengembangan Kawasan Wisata
Bahari Kabupaten Tanggamus” sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak terbantu dan didukung oleh berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini dengan ketulusan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Nairobi, S.E., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
2. Ibu Dr. Neli Aida, S.E., M.Si. selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
3. Bapak Dr. Heru Wahyudi, S.E., M.Si selaku Sekertaris Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
5. Ibu Dr. Ida Budiarty DA.,S.E.,M.Si selaku dosen pembimbing akademik, terimakasih atas saran dan bimbinganya kepada penulis.
6. Seluruh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung yang telah membekali penulis dengan ilmu dan pengetahuan selama masa perkuliahan. seluruh staff dan karyawan di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah banyak membantu kelancarkan proses skripsi ini.
7. Kedua orang tuaku tercinta, Ayah Kamisrun dan Ibu Nur Hayati yang telah merawat, mendidik, menyayangi, mendoakan, memotivasi, dan mendukungku sehingga penulis dapat menyelesaikan poses perkulihan dan skripsi ini.
8. Kedua Adikku tersayang, Silvina Gustirahayu dan Tegar Ramadhan dan semua keluarga besar yang selalu mendoakan dan senantiasa memberikan motivasi penulis selama proses perkuliahan ini.
9. Kakek Dan Neneku dan semua kelurga ku tercinta, yang telah mendidik, menyayangi, mendoakan, memotivasi, dan mendukungku sehingga penulis dapat menyelesaikan poses perkulihan dan skripsi ini
10. Orang tua keduaku, Bapak Triyono dan ibu Siti Hendriyani dan Keluarga besar yang sudah membimbing, membantu, memotivasi dan mendukung dalam menyelesaikan proses skripsi ini
11. Lilis Handayani, terimakasih sudah mendoa’kan dan menjadi penyemangat, pendorong dan bertukar fikiran dalam menyelesaikan selama proses perkulihan dan skripsi ini.
13. Sahabat-Sahabatku, Edi Nurmanto, Ilham, Wayan, Kak Boedi, Ismail, Nopry, Regy, Irul, Azhar, Tipan terima kasih atas doa dan dukungannya selama ini dengan bercandaan, kegilaan, keceriaan dan motivasi yang diberikan kepada penulis.
14. Teman-teman satu bimbingan skripsi, Ridho, Suci, Putri, Sekar, Hevix, Bella terima kasih atas doa, dan semangatnya yang membuat penulis juga bersemangat menyelesaikan skripsi ini.
15. Teman – teman Ekonomi Pembangunan 2013, Edi Nurmanto, Fadli Yusuf, Ilham Rusdi Choir, Wayan Muryana, Lulu Munifah, Fajar, Adi Hermawan, Adi Sasongko, Mahmud ferianto, Agung Dwi Handoko, Wiwit Suryani, Isti Farida, Nurhalimah, sigit, hardiyansyah dan teman-teman EP lainya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.Terimakasih telah memberikan semangat dan dukungannya selama proses perkuliahan sampai selesai, serta kebersamaan dalam canda tawa.
16. Untuk Crew-Crew ku di CV. Hayat Handayani, Arif, Agus, Mono, Emet, Jujuk, jajang, Sugeng, Ujek, Dudung, Juber, Ujang, Dan seluruh Vendor CV. Hayat Handayani yang tidak bisa saya sebutkan terimakasih
17. Teman-teman Komunitas Peduli Generasi, Bang Firman,Kakak Encep, Bang Hendi, Hanif, Candra, Wulan, Indah, Mak Atika, Nida, Ayu, Embak Een dan seluruh relawan komunitas peduli generasi yang tidak bias saya sebutkan. Terimakasih sudah mendoa’akan untuk menyelesaikan skirpsi ini.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi penulis berharap semoga karya sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak. Aamiin.
Bandar Lampung, 03 Februari 2020 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
COVER ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... v
I. PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORITIS, PENELITIAN TERDAHULU A. Konsep Penelitian ... 7
1. Peran Pemerintah ... 7
2 Peran Penting Kegiatan Pariwisata ... 8
3 Konsep Wisatawan ... 9
4 Konsep Strategi ... 11
5 Konsep Pengembangan ... 12
B. Kerangka Teoritis ... 13
1 Pengertian pariwisata Penurut Para ahli ... 14
2 Potensi Obyek Wisata ... 16
3 Pengembangan Obyek Wisata ... 18
4 Obyek wisata ... 20
C. Analisis Swot ... 20
III. METODELOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ... 26
B. Obyek Penelitian ... 26
C. Variabel Peneitian ... 27
D. Jenis dan Sumber Data ... 28
E. Tehnik Pengumpulan Data ... 28
F. Metode Penentuan Sample ... 29
G. Metode Analisis Data ... 30
H. Anilisis SWOT ... 30
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A.Hasil... 38
1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 38
2 Objek Wisata ... 39
3 Analisi SWOT ... 42
B. Pembahasan ... 55
V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 71
B. Saran ... 73
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Penelitian Terdahulu ... 23 2. Model Matrik Analisis SWOT ... 37 3. Faktor – Faktor Internal Pengembangan Obyek Wisata Bahari Di
Kabupaten Tanggamus ... 43 4. Faktor-Faktor Strategi Internal Pengembangan Obyek Wisata di
Kabupaten Tanggamus ... 44 5. Matrik SWOT Strategi Pengembangan Obyek Wisata Bahari di
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pariwisata merupakan suatu industri yang kompleks, dapat meliputi
permintaan industri-industri lainnya seperti industri perhotelan, industri rumah
makan, industri kerajinan/cinderamata, industri perjalanan dan sebagainya. Seperti
yang tercantum dalam Instruksi Presiden No. 9 Tahun 1969 Bab II Pasal 2
(2012:26) berbunyi pembangunan pariwisata bertujuan untuk meningkatkan
pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan negara dan masyarakat pada
umumnya.
Dalam upaya peningkatan dan pengelolaan sumber daya alam tata ruang dan
lingkungan hidup, sektor pariwisata dan kebudayaan dapat dijadikan sektor
andalan perekonomian daerah yang berbasiskan sumber daya alam dan budaya
yang lestari dan agamis. Dengan melibatkan sumber daya manusia yang handal
menuju pertumbuhan perekonomian rakyat dan kesejahteraan masyarakat.Sektor
pariwisata berpotensi di Indonesia merupakan negara tropis, sehubugan dengan itu
juga memilki laut tropis, pantai pasir yang putih bersih, dan air laut yang jernih
membiru. Sehingga banyak wisatawan mancanegara yang datang mengharapkan
dapat menikmati udara segar dan keindahan pantai, selain itu juga untuk
melakukan kegiatan olahraga air seperti selancar-air, ski-air, menyelam, dan
2
Indonesia telah menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor ekonomi penting.
Sebagai sektor ekonomi penting, pariwisata mendapatkan perhatian serius
dari pemerintahnya, dikeluarkannya Undang-undang No 10 tahun 2009
tentang kepariwisataan.Beberapa langkah konkrit yang dilakukan oleh
pemerintah sebagai upaya pengembangan potensi obyek-obyek wisata alam antara
lain dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang obyek wisata
dalam merawat dan melestarikan lingkungan serta menjalin kerjasama dengan
pihak swasta. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan pariwisata
untuk masyarakat sebagai upaya pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani,
intelektual masyarakat serta untuk meningkatkan pendapatan negara untuk
mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Sektor pariwisata dapat dijadikan komoditi andalan disamping migas di
karenakan : a) pola perjalanan wisata yang terus-menerus meningkat dari
tahun ketahun, b) pariwisata tidak begitu terpengaruh gejolak ekonomi dunia,
disamping pertumbuhannya lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi dunia, c)
meningkatkan kegiatan ekonomi daerah dan pengaruh ganda dari pengembangan
pariwisata tampak lebih nyata, d) komoditi pariwisata tidak mengenal proteksi
atau quota seperti komoditi lainnya, e) potensi pariwisata di Indonesia yang
tersebar di seluruh Indonesia tidak akan habis terjual , f) pariwisata sudah
menjadi kebutuhan hidup manusia pada umumnya (Gamal Suwantoro, 2012 :
13).
Kabupaten Tanggamus dengan keberagaman suku bangsa yang hidup dalam
3
jumlah penduduk Kabupaten Tanggamus pada tahun 2017 mencapai 580.383 jiwa
atau meningkat sebesar 1,14 persen dari tahun 2016, dengan jumlah penduduk
laki-laki sebesar 299,214 jiwa dan jumlah penduduk wanita 281,169 jiwa yang
berarti memiliki angka sex ratio sebesar 106.418 Berdasarkan hasil penghitungan,
rata-rata tingkat kepadatan penduduk per kecamatan di Kabupaten Tanggamus
adalah 192 orang per km2pada tahun 2017.Obyek wisata di kabupaten tanggamus
yang beragam juga akan menambah daya tarik wisatawan. Aset inilah yang
membuat seni, budaya dan tradisi di kabupaten yang dikenal dengan sebutan
Bumi Duan Lolat, menjadi lebih unik, kaya, beragam dan berkarakter.
Dalam pengelolaan sektor pariwisata, pemerintah Kabupaten Tanggamus tidak
bisa berdiri sendiri harus bekerjasama dengan pihak beberapa pihak sebagaimana
yang berjalan sekarang. Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya
yang penting dalam pengelolaan sektor pariwisata. Oleh karena itu SDM di
Kabupaten Tanggamus harus bisa di direkrut untuk melakukan pengelolaan
pariwisata di daerahnya oleh pemerintah hal ini harus ditunjang oleh pendidikan
dan keterampilan di bidang pariwisata, RPJM dan RPJDoleh pemerintah
setempat.yang dijabarkan dalam Visi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Tanggamus, yakni terwujudnya pengembangan pariwisata, industri
pariwisata dan ekonomi kreatif kabupaten tanggamus yang sejahtera, agamis
mandiri unggul dam berdaya saing berbasis ekonomi kerakyatan.
Sektor pariwisata merupakan sektor andalan yang mampu menggerakkan kegiatan
ekonomi terkait, sehingga pendapatan masyarakat dan pengembangan wisata
4
Pembangunan pariwisata di Kabupaten Tanggamus diarahkan untuk mewujudkan
kepariwisataan yang kompetitif dan berkelanjutan.Pembangunan Destinasi Objek
Wisata dan melestarikan nilai-nilai seni dan budaya Kabupaten Tanggamus yang
berbasis Ekohistorikal adalah pilar utama dalam program kepariwisataan.
Perkembangan kunjungan wisatawan memberikan kontribusi besar dalam
perkembangan pariwisata.
Pemerintah daerah telah membuat strategi guna pengembangan pariwisata di
Kabupaten Tanggamus, namun strategi ini belum mampu memberi hasil yang
signifikan dalam mengoptimalkan potensi wisata yang ada.belum dilibatkannya
masyarakat lokal, dan masih pengelolannya apa adanya. Mengoptimalkan potensi
yang ada dengan meningkatkan kunjungan wisatawan di perlukan suatu strategi
lain untuk mengembangkan sektor pariwisata di Kabupaten Tanggamus.
Strategi ini dijaring melalui persepsi wisatawan, masyarakat lokal, Peran
Pemerintah dan pelaku usaha. Strategi ini diharapkan mampu mengoptimalkan
dan menjawab kebutuhan wisatawan serta dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat lokal dan daerah disamping tetap mempertahankan keberlangsungan
dalam pembangunan pariwisata.Potensi pariwisata yang di Kabupaten Tanggamus
yang sudah cukup terkenal seperti air terjun Way Lalaan, Taman Nasional Bukit
Barisan Selatan (TNBBS), Laguna Gayau Kelumbayan dan Teluk Kiluan
Kelumbayan. Bidang pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi potensial
yang dimiliki Kabupaten Tanggamus dan bisa menjadi sumber dalam pengelolaan
wisata bahari.Dengan membaiknya kondisi perekonomian serta jaminan
5
wilayah Kabupaten Tanggamus. Saat ini potensi wisata di Kabupaten Tanggamus
baru dikelola secara apa adanya dan masih kurang dikelola dengan baik, sehingga
para wisatawan masih kurang tertarik untuk mendatangi lokasi pariwisata di
Kabupaten Tanggamus. Kurangnya sosialisasi pada program pengembangan
pariwisata di Kabupaten Tanggamus dan kurang dirasakan manfaatnya oleh
masyarakat sekitar. Selain itu beberapa hal lain yang menghambat pengembangan
Wisata Bahari diantaranya:
Faktor rendahnya kualitas sumber daya manusia local (keterbatasan sumber daya
manusia yang handal dalam pengelolaan lingkungan), infrastruktur yang buruk,
seperti jalan yang buruk serta fasilitas penginapan yang kurang memadai,
kurangnya perawatan terhadap infrastruktur yang telah tersedia, serta kurangnya
perhatian atau kerjasama dengan para stakeholders.
Kunci dari semua permasalahan tersebut di atas adalah pada pengembangan
sosialisasi dan kegiatan fasilitasi kepada masyarakat di Kabupaten Tanggamus.
Termasuk di dalamnya pemilihan metode dan alat bantunya serta pada penguatan
fungsi berbagai kelembagaan yang dapat melakukan kegiatan pemberdayaan
masyarakat antara lain dengan berbagai kegiatan seperti, konservasi dan
pengembangan usaha pariwisata berkelanjutan yang berbasiskan pada komunitas
setempat, pembentukan forum masyarakat di Kabupaten Tanggamus secara
terpadu dan berkelanjutan, bekerjasama dengan para stake holders, dengan
6
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana strategi pengembangan kawasan wisata bahari di Kabupaten
Tanggamus dan Faktor-faktor internal dan eksternal apakah yang mendukung
dan menghambat pengembangan pariwisata bahari di Kabupaten Tanggamus?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Menentukan strategi pengembangan kawasan wisata bahari Kabupaten
Tanggamus dan Menentukan faktor-faktor internal dan ekternal yang
mendukung dan menghambat pengembangan pariwisatan bahari Kabupaten
Tanggamus.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bahan masukan bagi masyarakat
Kabupaten Tanggamus dalam mengembangkan usaha pariwisata, selain itu
sebagai bahan masukan bagi pihak pemerintah daerah dalam penentuan
perumusan kebijakan di sektor Pariwisata.Semoga penelitian ini dapat menambah
khasanah keilmuan dalam bidang pariwisata dan bermanfaat bagi peneliti-peneliti
7
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Penelitian
1. Peran Pemerintah
Dalam setiap sistem perekonomian, baik sistem perekonomian kapitalis sosialis,
maupun campuran Pemerintah mempunyai peranan yang penting didalamnya.
Pemerintah memiliki peran yang sangat besar dalam sistem perekonomian
sosialis, dan memiliki peran yang sangat terbatas dalam sistem perekonomian
kapitalis murni, seperti yang dikemukakan oleh Adam Smith bahwa pemerintah
hanya memiliki tiga fungsi yaitu :
1. Fungsi pemerintah untuk memelihara keamanan dalam negeri dan pertahanan.
2. Fungsi pemerintah untuk meyelenggarakan peradilan.
3. Pemerintah untuk menyediakan barang-barang yang tidak disediakan oleh
pihak swasta, seperti halnya dengan jalan, dam-dam dan sebagainya.
Adam Smith sebagai konseptor sistem kapitalis murni, mengemukakan
ideologinya karena dia menganggap bahwa dalam perekonomian kapitalis, setiap
individu yang paling tahu apa yang paling baik bagi dirinya, sehingga dia akan
melaksanakan apa yang dianggap terbaik bagi dirinya sendiri.Prinsip kebebasan
ekonomi dalam prakek menghadapi perbenturan kepentingan, karena tidak adanya
koordinasi yang menimbulkan harmonis dalam kepentingan masing-masing
8
memperbaiki atau mengarahkan aktivitas sektor swasta. Dalam perekonomain
modern, peranan pemerintah dapat diklasifikasikan dalam 3 golongan besar, yaitu:
1. Peranan alokasi
2. Peranan distribusi
3. Peranan stabilisasi.
Sementara itu, Barton (2000) menyebutkan peran utama pemerintah secara garis
besar adalah :
1. Peran alokasi sumber daya
2. Peran regulator
3. Peran kesejahteraan sosial
4. Peran mengelola ekonomi makro.
2. Peran Penting Kegiatan Pariwisata
Kegiatan kepariwisataan adalah kegiatan yang mengutamakan pelayanan dengan
berorientasi pada kepuasan wisatawan, pengusaha di bidang pariwisata,
pemerintah dan masyarakat.Sebagai salah satu aktifitas fisik dan psikis manusia,
pariwisata didefinisikan oleh banyak ahli dengan definisi yang tidak terlalu jauh
berbeda. Berdasarkan pasal 1 angka 3 Undang-undang No.9 Tahun 1990 tentang
Kepariwisataan jo Pasal 1 angka 3 PP No.67 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Kepariwisatan Republik Indonesia serta pasal 1 huruf f Perda Propinsi Bali No.3
Tahun 2010 tentang Pariwisata Budaya, kata pariwisata diartikan sebagai segala
sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan obyek dan daya
tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut. Definisi tentang
9
berikut:“tourism is temporary movement to destination outside the normal home
and workplace, the activities undertaken during the stay and the facilities created
to cater for the needs of tourist”(Cooper, et al, 1993).
Dari pengertian tersebut dapat dilihat bahwa kegiatan kepariwisataan terjadi
semata-mata merupakan kegiatan yang menempuh jarak dan waktu tertentu yang
terlepas dari aktifitas keseharian seperti aktifitas kerja, berbisnis dan yang lainnya,
tetapi aktifitas yang dilakukan jelas-jelas di luar kegiatan tersebut melibatkan
berbagai pihak lainnya terutama dalam pemakaian fasilitas yang berhubungan
dengan pariwisata.Pemberian batasan tentang pariwisata memang sering tidak
dapat menghasilkan satu batasan yang memuaskan untuk berbagai
kepentingan.Melihat batasan yang begitu luas dan beragam, Richardson dan
Fluker dalam Pitana (2012:45) membedakan batasan pariwisata atas dua batasan,
yaitu batasan konseptual danbatasan teknis.
3. Konsep Wisatawan
Wisatawan (tourist) adalah sebagai objek dalam kegiatan pariwisata.Wisatawan
disebut sebagai objek karena kegiatan pariwisata tidak bisa terlepas dari pelayanan
terhadap wisatawan atau orang sebagai objek pelayanan.The tourist is the actor in
this sistem (Cooper, et al, 1993:3). Maksudnya adalah bahwa wisatawan
merupakan yang menjadi perhatian oleh siapa pun yang terlibat dalam kegiatan
pariwisata.Dari pendapat Cooper tersebut dapat dikatakan bahwa tidak selamanya
wisatawan diperlakukan sebagai obyek, tetapi terkadang bisa saja sebagai subyek
10
Definisi mengenai wisatawan juga ditegaskan oleh IUOTO (International Union
of Official Travel Organization) dalam Pitana (2012: 43), pengertian wisatawan
ini hanya berlaku untuk wisatawan internasional, tetapi secara analogis dapat juga
berlaku untuk wisatawan domestik. Selanjutnya wisatawan dibedakan atas dua
bagian, yakni (1) Wisatawan (tourist), yaitu mereka yang mengunjungi suatu
daerah lebih dari 24 jam, dan (2) Pelancong/pengunjung (excursionists), yaitu
mereka yang tinggal di tujuan wisata kurang dari 24 jam. Dari sisi yang lain,
Inskeep (2010) mengidentifikasikan karakteristik wisatawan yang berkunjung ke
suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW) dimana mempengaruhi tingkat kunjungan
wisatawan ditentukan oleh beberapa hal, antara lain; asal negara wisatawan, tujuan
dari pada kunjungannya, lama tinggal, umur, jenis kelamin dan jumlah keluarga
yang ikut berkunjung, pekerjaan dan tingkat penghasilan, jumlah kunjungan,
individu atau kelompok, jumlah uang yangdihabiskan selama kunjungan serta
perilaku dari kepuasan wisatawan itu sendiri.
Potensi menurut beberapa penulis seperti Pendit (2008: 21) menerangkan bahwa
potensi wisata adalah berbagai sumber daya yang terdapat di sebuah daerah
tertentu yang bisa dikembangkan menjadi atraksi wisata. Dengan kata lain, potensi
wisata adalah berbagai sumber daya yang dimiliki oleh suatu tempat dan dapat di
kembangkan menjadi suatu atraksi wisata (tourist attraction) yang dimanfaatkan
untuk kepentingan ekonomi dengan tetap memperhatikan aspek-aspek lainnya.
Potensi menurut Kamus Besar Bahasa indonesia (2012: 890)adalah kemampuan
yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan; kesanggupan; kekuatan;
daya. Daya tarik atau atraksi wisata menurut Yoeti (2010:5) adalah segala sesuatu
11
seperti:
a. Natural attraction: landscape, seascape, beaches, climate and other
geographical features of the destinations.
b. Cultural attraction: history and folklore, religion, art and special events,
festivals.
c. Social attractions: the way of life, the resident populations, languages,
opportunities for social encounters.
d. Built attraction: building, historic, and modern architecture, monument, parks,
gardens,marina,etc.
Adapun potensi wisata yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah semua daya
tarik wisata yang terdapat di Desa Pelaga yang bisa dikembangkan menjadi daya
tarik (tourism atraction) alternatif.
4. Konsep Strategi
Menurut Stanton (2010: 4) mengatakan strategi sebagai suatu rencana dasar yang
luas dari suatu tindakan organisasi untuk mencapai suatu tujuan.Rencana dalam
mencapai tujuan tersebut sesuai dengan lingkungan eksternal dan internal
perusahaan.Begitu juga dengan Christensen dalam Rangkuti (2012:3)
mengungkapkan bahwa strategi merupakan alat untuk mencapai keunggulan
bersaing.
Menurut Alfred (2012: 3) strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan
perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut
serta prioritas alokasi Dari beberapa tinjauan di atas, maka dapat dicapai sebuah
12
kesatuan rencana dalam bentuk program-program yang terpadu dan menyeluruh
untuk mencapai keunggulanbersaing dalam mencapai tujuan.
5. Konsep Pengembangan
Ada beberapa pendapat para ahli tentang arti dari pengembangan itu sendiri.
Menurut Paturusi (2001) mengungkapkan bahwa pengembangan adalah suatu
strategi yang dipergunakan untuk memajukan, memperbaiki dan meningkatkan
kondisikepariwisataan suatu objek dan daya tarik wisata sehingga dapat
dikunjungi wisatawan serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat
disekitar objek dan daya tarik wisata maupun bagi pemerintah. Selanjutnya
Suwantoro (2004:120) pengembangan bertujuan untuk mengembangkan produk
dan pelayanan yang berkualitas, seimbang dan bertahap. Sedangkan
Poerwadarminta (2009:474). Lebih menekankan kepada suatu proses atau suatu
cara menjadikan sesuatu menjadi maju, baik sempurna dan berguna.
Disamping itu pengembangan pariwisata bertujuan untuk memberikan keuntungan
bagi wisatawan maupun komunitas tuan rumah. Dengan adanya pembangunan
pariwisata diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui
keuntungan secara ekonomi yang dibawa ke kawasan tersebut. Dengan kata lain
pengembangan pariwisata melalui penyediaan fasilitas infrastruktur, wisatawan
dan penduduk setempat akan saling diuntungkan. Pengembangan tersebut
hendaknya sangat memperhatikan berbagai aspek, seperti aspek budaya, sejarah
dan ekonomi daerah tujuan wisata. Pada dasarnya pengembangan pariwisata
dilakukan untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan permasalahan.
13
seperti : (1) Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan, (2) Pembangunan Wilayah
Terpadu dan Pengembangan Produk Wisata; (3) Pembangunan Ekonomi
Pariwisata; serta (4) Pengembangan Lingkungan.
B. Kerangka Teoritis
Untuk lebih mengetahui penelitian ini selanjutnya akan dikaji konsep dasar yang
perlu dipahami dan diuraikan dalam studi pustaka serta penelitian terkait
sebelumnya. Adapun uraian tersebut terdiri dari : a) Pariwisata, b) Obyek wisata,
c) Potensi obyek wisata, d) Pengembangan obyek wisata, e) Analisis SWOT untuk
strategi pengembangan obyek wisata.
Kondisi geografis yang berbeda meyebabkan keanekaragaman dan
karakateristik pada suatu daerah meliputi lithosfer, pedosfer, hidrosfer, atmosfer,
biosfer,dan antroposfernya. Jenis, bentuk dan persebaran dari obyek wisata tidak
lepas dari perbedaaan kondisi geografis di atas, semakin beragam dan semakin
unik maka merupakan potensi besar untuk menjadi obyek wisata unggulan.
Masing-masing obyek wisata memiliki keunikan dalam menarik kunjungan
wisatawan. Potensi yang dimiliki tentunya beragam tergantung pada pengelolaan
dan daya dukung, baik sarana dan prasarana, sosial ekonomi beserta masyarakat
yang tinggal di daerah tersebut. Oleh karena itu perhatian dari pemerintah
sangat berpengaruh terhadap berkembang atau tidaknya suatu obyek wisata.
Dalam rangka mewujudkan tujuan dikembangkannya pariwisata antara lain
adalah untuk kesejahteraan masyarakat serta mengurangi pengangguran,
pemerintah daerah khsususnya Pemerintah Kabupaten Tanggamus harus
14
kecamatannya, khususnya obyek wisata pantai. Strategi-strategi terencana dan
terukur untuk menambah daya tarik obyek wisata dengan menambah fasilitas yang
belum ada ataupun melengkapi fasilitas-fasilitas yang masih kurang adalah sangat
penting sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
Pengembangan obyek wisata diharapkan menjadi batu loncatan untuk
pengembangan obyek yang lain dalam satu kelompok. Sampai tahap ini
dibutuhkan penentuan strategi pengembangannya. Penentuan strategi
pengembangannya dapat dilakukan dengan analisis SWOT yang
mempertimbangkan faktor internal dan eksternal. Potensi/kekuatan dan
kendala/kelemahan merupakan sebagai faktor internal, peluang/kesempatan dan
tantangan/hambatan sebagai faktor eksternal.Untuk mengetahui lebih luas tentang
obyek yang diteliti dibutuhkan informasi dari hasil wawancara dengan instansi
terkait atau orang-orang yang dianggap tahu tentang hal itu. Penekanannya adalah
bagaimana potensi yang ada dioptimalkan dengan mengurangi resiko atau
hambatan yang dihadapi.
1. Pengertian Parawisata menurut Para Ahli
Menurut Meyer (2009), parawisata adalah aktivitas perjalanan yang dilakukan
oleh seseoarang sementara waktu dari tempat tinggal dengan alasan bukan untuk
menetap atau mencari nafka melainkan hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu,
mneghabiskan waktu senggang atau libur serta tujuan-tujuan lainya. Menurut
WTO (2010), Parawisata adalah kegiatan manusia yang melakukan perjalannan
suatu tempat dan tinggal di daerah tujuan diluar lingkungan keseharianya. Dalam
15
baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam
panyediaan lapangan kerja. Hamalik (1978: 14) juga mengemukakan pariwisata
yaitu melakukan perjalanan bertujuan untuk beristirahat dan hanya dinikmati
oleh segolongan manusia.
Menurut undang-undang No. 10 Tahun 2009, pariwisata adalah berbagai macam
kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan
oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. Wisata
adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok
orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan
pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam
jangka waktu sementara. Orang yang melakukan wisata dikatakan sebagai
wisatawan.
Daya tarik wisata adalah segalah sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan dan
nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam buadaya dan hasil buatan
manusia yang menjadi sasaran atau tujuan daerah wisatawan. Daerah tujuan wisata
atau destinasi parawisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau
lebih wilaya administrasi yang dalamnya terdapat daya tarik wisata.
Kegiatan wisatawan dalam berwisata tentulah dipengaruhi oleh faktor- faktor
tertentu, baik faktor penarik maupun faktor pendorong dalam melakukan kegiatan
pariwisata. Fandeli (2010 : 40) menjelaskan sebagai berikut :
a. Faktor Pendorong
Faktor yang mendorong seseorang untuk berwisata adalah ingin terlepas,
16
tercemar, kemacetan lalu lintas, dan hiruk pikuk kehidupan kota.
b. Faktor Penarik
Faktor ini berkaitan dengan adanya atraksi wisata di daerah atau di tempat
wisata.Sesuai dengan fungsi dari kegiatan pariwisata, Sujali (2011 : 21)
membedakan pariwisata menjadi enam jenis. Yakni diuraikan sebagai berikut:
1. Pariwisata pendidikan
2. Pariwisata olahraga
3. Pariwisata kebudayaan
4. Pariwisata kesehatan
5. Pariwisata ekonomi
6. Pariwisata social
2. Potensi Obyek Wisata
Menurut Pearce (1983 : 25), faktor-faktor lokasional yang mempengaruhi
pengembangan potensi obyek wisata adalah kondisi fisis, aksesibilitas, pemilikan
dan penggunaan lahan , hambatan dan dukungan serta faktor-faktor lain seperti
upah tenaga kerja dan stabilitas politik. Selain itu unsur-unsur pokok yang harus
diperhatikan meliputi obyek dan daya tarik wisata, prasarana wisata, sarana
wisata, infrastruktur dan masyarakat/lingkungan (Gamal Suwantoro, 2010 : 19)
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi potensi pariwisata tersebut diatas
dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Kondisi Fisis
Aspek fisis yang berpengaruh terhadap pariwisata berupa iklim (atmosfer), tanah
batuan dan morfologi (lithosfer), hidrosfer, flora dan fauna.
17
Atraksi wisata adalah segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang untuk
mengunjungi suatu daerah tertentu, misal adalah tari-tarian, nyayian, kesenian
daerah, upacara adat dan lain-lain (Yoeti, 2010 : 172). Obyek wisata adalah segala
sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar
orang-orang mau berkunjung.
c. Aksesibilitas
Aksesibilitas berkaitan dengan usaha pencapaian tempat wisata. Semakin
mudah tempat tersebut dicapai maka akan menambah minat wisatawan untuk
berkunjung.
d. Pemilikan dan Penggunaan Lahan
Variasi dalam pemilikan dan penguasaan lahan dapat mempengaruhi lokasi tempat
wisata, bentuk pengembangannya, dan terhadap arah pengembangannya.
Bentuk Penguasaan lahan antara lain : a) lahan Negara/pemerintah, b) lahan
masyarakat dan c) lahan pribadi (Pearce, 1983 : 34)
e. Sarana dan Prasarana Wisata
Sarana kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan
pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung atau tidak langsung.
Prasarana kepariwisataan ini berupa prasarana perhunbungan, komunikasi, istalasi
listrik, persediaan air minum, sistem irigasi, sistem perbankan dan pelayananan
kesehatan (Yoeti, 2010 : 181)
f. Masyarakat
Pemerintah melalui instansi-instansi terkait telah menyelenggarakan
penyuluhan kepada masyarakat dalam bentuk bina masyarakat sadar wisata
18
Melihat potensi pariwisata yang telah berkembang baik obyek, infrastruktur,
maupun pengusahanya, masih terdapat peluang investasi berdasar potensi alam
yang ada yaitu keberadaan pantai sebagai salah satu suasan alam yang
memiliki daya tarik yang begitu indah, serta danau Webolar sebagai tempat
pemancingan. Di samping itu juga, untuk mengeksplorasi keindahan alam
pedesaan, keunikan karakter masyarakatnya serta keragaman budaya, wisata
pedesaan menjadi peluang yang cukup bagus untuk dikembangkan.
3. Pengembangan Obyek Wisata
Dalam UU RI No. 10 Tahun 2009 Pasal 6 dan 7,tentang pembangunan pariwisata
disebutkan bahwa pembangunan pariwisata haruslah memperhatikan
keanekaragaman, keunikan dan kekhasan budaya dan alam serta kebutuhan
manusia untuk berwisata. Pembangunan pariwisata meliputi :
a. Industri pariwisata
b. Destinasi pariwisata
c. Pemasaran, dan
d. Kelembagaan kepariwisataan.
Musanef (2010 : 1) menyebutkan bahwa pengembangan pariwisata adalah segala
kegiatan dan usaha terencana untuk menarik wisatawan, menyediakan semua
prasarana dan sarana,barang dan jasa/fasilitas yang diperlukan guna melayani
kebutuhan wisatawan. Pada prinsipnya pengembangan adalah setiap usaha untuk
memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang sekarang maupun yang akan datang
dengan memberikan informasi, memperbaiki sikap atau menambah
19
kepariwisataan yang optimal ada tiga komponen penting yang harus dipersiapkan
yaitu :
a. Tersedianya obyek wisata yang dapat dinikmati atau adanya atraksi yang dapat
dilihat tersedianya sarana transportasi dan perhubungan
b. Komponen penunjang yang berupa akomodasi dan sarana infrastruktur.
Menurut Yoeti (2010 : 181), aspek-aspek yang perlu dikaji dalam
perencanaan pariwisata adalah meliputi :
a. Wisatawan
b. Pengangkutan
c. Atraksi/obyek wisata
d. Fasilitas pelayanan
e. Informasi dan promosi
Selanjutnya suatu daerah agar dapat dikembangkan, menarik wisatawan dan dapat
dijadikan daerah tujuan wisata , harus memenuhi tiga syarat yaitu :
a. Something to see, artinya di daerah tersebut harus ada obyek wisata dan atraksi
wisata yang berbeda dengan apa yang dimiliki oleh daerah lain,
b. Something to do, artinya di daerah tersebut banyak yang dapat dilakukan,
harus ada fasilitas rekreasi yang dapat membuat mereka betah lebih lama
tinggal di tempat tersebut,
c. Something to buy, artinya didaerah tersebut harus ada tempat belanja seperti
souvenir dan oleh-oleh (Yoeti, 2010 : 178).
Pembangunan suatu obyek wisata harus dirancang dengan bersumber pada potensi
daya tarik yang dimiliki oleh objek tersebut, dan harus mengacu pada berbagai
20
kelayakan ekonomi regional, kelayakan teknis dan kelayakan lingkungan
(Gamal Suwantoro, 2012 : 20).
4. Obyek Wisata
Menurut Gamal Suwantoro (2012 : 19) obyeksi wisata adalah merupakan potensi
yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan kesuatu daerah tujuan wisata.
Dalam kedudukannya yang sangat menentukan tersebut maka daya tarik wisata
harus dirancang dan dibangun serta dikelola secara professional sehingga dapat
menarik wisatawan untuk datang.
Pada Umumnya daya tarik suatu obyek wisata berdasar pada hal-hal sebagai
berikut :
a. Adanya sumber daya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah, nyaman,
dan bersih.
b. Adanya aksesibilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya.
c. Adanya ciri khusus/spesifikasi yang bersifat langka
d. Adanya sarana/prasarana penunjang untuk melayani wisatawan yang hadir
C. Analisis SWOT
Analisis SWOT (singkatan bahasa Inggris dari "kekuatan"/strengths,
"kelemahan"/weaknesses, "kesempatan"/opportunities, dan "ancaman"/threats)
adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi
kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu proyek atau suatu
spekulasi bisnis. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari
spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal
21
Indonesia, 2009).
Strength merupakan hal-hal menjadi unggulan atau ciri khas suatu tempat
wisata.Weaknes merupakan kendala, yakni merupakan hal-hal yang dapat
menghambat pengembangan tempat wisata. Oppurtinity merupakan peluang,
yakni hal-hal yang dapat dikembangkan lebih lanjut, sedangkan threat merupakan
ancaman, yaitu hal-hal yang dapat mengganggu pengembangan tempat wisata
(Winih, 2007).
Yoeti (2010 : 135) memaparkan bagaimana analisis SWOT dalam sekenario
pengembangan pariwisata adalah sebagai berikut :
a. Kekuatan (strength).
Mengetahui kekuatan pariwisata suatu wilayah,maka akan dapat dikembangkan
sehingga mampu bertahan dalam pasar dan mampu bersaing untuk
pengembangan selanjutnya. Dalam hal ini, kekuatan dapat dimanfaatkan secara
maksimal untuk meraih peluang.
b. Kelemahan (weaknes)
Segala faktor yang tidak menguntungkan atau merugikan bagi sektor
pariwisata. Pada umumnya, kelemahan-kelemahan yang dapat didentifikasi
adalah kurangnya promosi, jeleknya pelayanan, kurang profesionalnya
pelaksana pariwisata di lapangan, terbatasnya kendaraan umum ke obyek
wisata.
b. Kesempatan (opportunity)
Semua kesempatan yang ada sebagai akibat kebijakan pemerintah, peraturan yang
22
c. Ancaman (Threats)
Ancaman dapat berupa hal-hal yang dapat mendatangkan kerugian bagi
pariwisata, seperti peraturan yang tidak memberikan kemudahan dalam
berusaha, rusaknya lingkungan, dan lain sebagainya.
Analisis SWOT merupakan sebuah alat analisis yang cukup baik, efektif, dan
efisien serta sebagai alat yang cepat dalam menemukan kemungkinan yang
berkaitan dengan pengembangan awal program-program inovasi baru dalam
kepariwisataan. Sifat analisis SWOT sangat situasional, dalam artian hasil analisis
tahun sekarang belum tentu akan sama dengan hasil analisis tahun yang akan
datang, pengaruh faktor ekonomi, politik, kemanan dan keadaan soial yang
melatarbelakanginya menyebabkan adanya perubahan.
Berdasarkan aspek-aspek diatas kemudian dimasukkan dalam matriks analisis.
Analsis ini menghasilkan suatu alternatif pengembangan usaha atau
menghindari ancaman. Ada dua hal yang mempengaruhi yaitu faktor internal dan
eksternal. Internal meliputi kekuatan yang menjadi potensi dan kelemahan yang
menjadi kendala, sedangkan eksternal meliputi peluang yang menjadi kesempatan
dan tantangan.
Secara umum dapat disampaikan perbedaan sebagai berikut :
a. Lokasi Penelitian : Tempat penelitian dilakukan di Kabupaten Tanggamus
b. Obyek Penelitian: Obyek yang diteliti difokuskan pada obyek wisata pantai.
c. Tujuan Penelitian: Bertujuan untuk Mengetahui potensi obyek wisata
pantai di Kabupaten Tanggamus dan membuat strategi pengembangan yang
23
Adapun persamaan dengan penelitian sebelumnya adalah :
a. Sama-sama menganalisis potensi wisata.
b. Sama-sama menggunakan mengumpulkan data dengan dokumentasi,
observasi, dan wawancara serta analisis SWOT
[image:42.595.109.513.230.752.2]D. Penelitian Terdahulu
Tabel 1. Penelitian Terdahulu
No Peneliti/tahun Judul Hasil Pemelitian
1 Chairani (2006)
Analisis
Pengembangan
Pesona Wisatadi Desa Air Teluk Hessa Kecamatan Air Batu Kabupaten Asahan
bertujuan untuk mengetahui keadaan lokasi wisata berdasarkan prasarana, sarana, keamanan, kebersihan, keindahan, keramah tamahan serta upaya yang dilakukan pemilik usaha dalam pengembangannya.
2 Nurchamsiah (2011)
Pengembangan
Obyek Wisata Air
Terjun Mengaya
Kecamatan Bintang
Kabupaten Aceh
Tengah
bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor pendukung pengembangan obyek wisata air terjun Mengaya, mengetahui faktor-faktor penghambat obyek wisata air terjun Mengaya, mengetahui usaha yang dilakukan dalam pengembangan obyek wisata air terjun Mangaya
3 Tri Eka Pardede
(2011) Potensi dan peluangpengembangan Sektor Pariwisata Di Kota Tebing Tinggi
bertujuan untuk memenuhi keinginan masyarakat kota Tebing Tinggi yang haus akan tempat hiburan. Dengan melihat dari potensi wista yang terdiri dari faktor fisik seperti keadaan lahan dan air serta faktor non fisik seperti sarana dan prasarana dan sapta pesona dan peluang pengembangan yang terdiri dari peran masyarakat dan pemerintah.
4 Wahyu Astuti (2008)
Strategi
Pengembangan
Obyek Wisata
Pedesaan Oleh Pelaku Wisata Di Kabupaten
24
Boyolali beraneka ragam. Potensi
tersebut antara lain adalah Sentra Kerajinan Tembaga dan Kuningan di Dusun
Tumang Desa Cepogo
Kecamatan Cepogo, Candi Lawang sebagai daya tarik peninggalan sejarah yang terdapat di desa Gedangan
Kecamatan Cepogo,
Pesanggrahan Pracimoharjo di Desa Paras Kecamatan
Cepogo, Arga
MerapiMerbabu di Desa Samiran, Lencoh, Klakah, Selo, Jrakah, Pasar Sayur Mayur Tradisional di Desa Cepogo, dan Pemandian Umbul Pengging di Desa
Bendan Kecamatan
Banyudono
5 Umu Hasanah
(2008)
Strategi Publikasi dan
Promosi Wisata
Bahari Lamongan
(WBL) Dalam
Meningkatkan Pengunjung.
Strategi promosi Wisata Bahari Lamongan (WBL)
dalam meningkatkan
pengunjung, adalah dengan melakukan komunikasi, menginformasikan adanya program atau hal baru di WBL
6 Wijaya (2008) Strategi
Pengembangan Desa Wisata Tenganan Pegringsingan,
Kecamatan Manggis, Kabupaten
Karangasem
Adapun potensi wisata yang dimiliki adalah panorama persawahan, bangunan
bersejarah, suasana
perkampungan, perumahan
penduduk, kesenian
tradisional, sistem
kelembagaan dan sistem sosial kemasyarakatan. Adapun hasil penelitiannya adalah dikembangkannya jenis wisata agro dan juga wisata budaya.
7 Puja Astawa, dkk (2010)
Pola Pengembangan Pariwisata Terpadu
Bertumpu Pada
Model Pemberdayaan
Masyarakat di
Wilayah Bali Tengah
25
sebagai model hipotetik bagi pengembangan pariwisata yang berbasiskan potensi sosial budaya dan ekologi pertanian yang dalam pengelolaannya
mengutamakan peran serta masyarakat setempat sehingga mampu memberikan manfaat kesejahteraan bagi masyarakat serta pelestarian budaya dan lingkungan setempat.
8 Luh Putu Emi Yudhiantari (2012)
Ekowisata sebagai alternatif dalam pengembangan
pariwisata yang berkelanjutan di Desa Wongaya, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali
Berdasarkan pendekatan the seven steps of planning, maka model pariwisata yang dapat dikembangkan di Desa Wongaya Gede sebagai alternatif dari pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan adalah menerapkan model ekowisata dengan menjual alam sebagai objek (atraksi) dengan berbasiskan pada masyarakat.
9 Muhammad
Ilyas (2012)
Strategi
Pengembangan
Pariwisata Kepulauan Togean di Kabupaten Tojo Una-Una
Hasil penelitian menunjukkan daya dukung yang besar dari objek dan kondisi masyarakat setempat, sedangkan daya dukung infrastruktur dan tata kelola masih rendah. Strategi
pengembangan yang
dibutuhkan adalah
peningkatan pembangunan sarana dan prasarana pendukung sektor pariwisata, peningkatan kerjasama dengan hinterland dalam mengembangkan industri kepariwisataan Kepulauan Togean, selain itu, intensitas dan efektivitas promosi pariwisata Kepualuan Togean dengan memanfaatkan media internet (pembuatan website) dan mengikuti festival tingkat nasional atau regional.
26
III. METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat Interpretif kualitatif, bersifat deskriptif yaitu suatu metode
penelitian yang berusaha mendeskripsikan atau menggambarkan/melukiskan
fenomena atau hubungan antar fenomena yang diteliti dengan sistematis, faktual
dan akurat (Natsir, 1998). Penelitian deskriptif digunakan bertujuan agar peneliti
dapat menggambarkan dengan lebih baik sifat-sifat yang diketahui keberadaannya
serta relevan dengan variable-variabel yang diteliti. Pendekatan dalam penelitian
ini merupakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk menggambarkan
tanggapan responden tehadap obyek berdasarkan kuesioner yang diberikan.
B. Obyek Penelitian
Penetapan obyek penelitian sangat penting dalam rangka
mempertanggungjawabkan data yang diperoleh. Oleh karena itu maka obyek
penelitian perlu ditetapkan terlebih dahulu. Dalam penelitian ini obyek yang
peneliti pilih adalah wilayah Kabupaten Tanggamus dengan obyek penelitian di
Obyek Wisata alam berupa wisata alam, taman laut, hutan alam, serta wisata
budaya dan peninggalan sejarah. Sedangkan subjek penelitian adalah instansi dan
orang-orang yang dapat memberikan indormasi mengenai latar belakang dan
keadaan objek penelitian sehingga dihasilkan data yang akurat diantaranya Dinas
27
C. Variabel Penelitian
Variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu
penelitian (Suharsimi, 2010: 118). Variabel dalam penelitian ini adalah :
a. Faktor-faktor pendorong dan penghambat pengembangan obyek wisata Dengan
Indikator :
1. Faktor pendorong pengembangan obyek wisata Kabupaten Tanggamus
Faktor pendorong adalah hal atau kondisi yang dapat mendorong atau
menumbuhkan suatu kegiatan, usaha atau produksi (Kamus Besar Bahasa
Indonesia).Dalam usaha pembangunan daerah menjadi daerah tujuan pariwisata
perlu diperlukan daya tarik dari obyek wisata. Dalam usahanya tesebut diperlukan
suatu pemasaran untuk mempromosikan dan mengenalkan potensi wisata yang
dimilikinya
2. Faktor penghambat pengembangan obyek wisata KabupatenTanggamus
Pengembangan obyek wisata pastilah tidak lepas dengan adanya faktor-faktor
penghambat. Beberapa permasalahan yang menyebabkan kurangnya daya tarik
wisata obyek wisata yang ada di Kabupaten Tanggamus adalah belum tertatanya
dengan baik berbagai macam potensi wisata maupun sarana dan prasarana obyek
wisata di Kabupaten Tanggamus (Heri, 2011 :24). Faktor penghambat
pengembangan Obyek Wisata Alam, antara promosi obyek wisata yang kurang
baik, program pengembangan obyek wisata yang masih sederhana, keterbatasan
anggaran untuk biaya sarana dan prasarana obyek wisata, keadaan jalan yang
28
b. Strategi pengembangan obyek wisata
Strategi pengembangan pariwisata merupakan berbagai gambaran strategi untuk
pengembangan potensi pariwisata yang telah diterapkan diKabupaten Tanggamus.
Strategi tersebut terbentuk dengan memanfaatkan sumber daya, dana/anggaran,
sumber daya manusia, dan sarana dan prasarana yang dimiliki untuk
melaksanakan pengembangan potensi pariwisata. (Heri, 2011: 23).
D. Jenis Dan Sumber Data
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan studi deskriptif
dengan mengumpulkan data yang terdiri dari data primer dan data sekunder.Data
primer diperoleh dari wawancara dalam hal ini pencatatan dan pengamatan
langsung mengenai kondisi obyek wisata pada Kabupaten Tanggamus. Data juga
diperoleh dari wawancara terhadap responden berupa wisatawan dan masyarakat
aktif pada lokasi penelitian. Data sekunder diperoleh dari beberapa instansi yang
terkait dengan penelitian ini. Data-data tersebut berupa : Data kebijakan
pemerintah yang menyangkut pariwisata; fasilitas infrastuktur pariwisata yang ada
di lokasi penelitian; data kunjungan wisatawan; keadaan geografis dan
demografis; data faktor budaya dan ekonomi, dll.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan beberapa teknik
pengumpulan data, yaitu:
1. Teknik Pengamatan atau observasi meliputi berbagai hal yang menyangkut
29
2. Teknik wawancara yaitu kegiatan mengajukan pertanyaan guna memperoleh
informasi melalui tanya jawab secara langsung dengan responden dan
informan. Esterberg dalam Sugiyono (2012:317) mendefiniskan wawancara
yaitu pertemuan dua orang untuk bertukar infomasi dan ide melalui tanya
jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
Informan dalam penelitian ini adalah mereka yang langsung terlibat dalam
perumusan dan pelaksanaan pengembangan wisata bahari di Kabupaten
Tanggamus.
3. Teknik dokumentasi adalah kegiatan pengumpulan dan pengkajian beberapa
informasi dari terbitan berkala, buku-buku, dokumen, foto-foto, surat kabar,
media elektronik, dan referensi statistik.
F. Metode Penentuan Sampel
Sampel adalah sebagian, atau subset (himpunan bagian), dari suatu populasi.
Populasi dapat berisi data yang besar sekali jumlahnya, yang mengakibatkan tidak
mungkin atau sulit untuk dilakukan pengkajian terhadap seluruh data tersebut,
sehingga pengkajian dilakukan terhadap sampelnya saja. Teknik pengambilan
sampel yang digunakan adalah dengan teknik random sampling yaitu suatu cara
pengambilan sampel yang dilakukan secara accidental random sampling, setiap
pengunjung penentuan sampel berdasarkan kebetulan dengan kriteria umur 17
tahun sampai dengan 50 tahun. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 85
orang yang dibagi menjadi 3 bagian diantaranya 28 responden dari Dinas
Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, 28 responden pengusaha sekitar
dan 28 responden masyarakat sekitar wisata bahari. Pengambilan sampel dengan
30
G. Metode Analisis Data
Analisis data pada dasarnya merupakan proses penyederhanaan data ke dalam
bentuk yang lebih mudah dibaca dan diintepretasikan, biasanya menggunakan
statistik. Setelah data dianalisis dan informasi yang lebih sederhana diperoleh,
hasilnya diintepretasi untuk mencari makna dan implikasi yang lebih luas dari
hasil penelitian (Wardiyanta, 2010: 37).Dalam penelitian ini metode yang
digunakan untuk menganalisis adalah metode analisis SWOT untuk menjawab
faktor-faktor pendorong dan penghambat pengembangan Obyek Wisata di
Kabupaten Tanggamus dan juga untuk menjawab strategi pengembangan Obyek
Wisata menggunakan analisis
No Masalah Metode Analisis Data
1 Identifikasi faktor-faktor pendorong dan penghambat pengembangan Obyek Wisata di Kabupaten Tanggamus?
Analisi SWOT
H. Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk
merumuskan strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities), namun secara
bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).
Hal ini disebut dengan analisis situasi. Model yang paling populer untuk analisis
situasi adalah analisis SWOT (Rangkuti, 2010 : 18).
Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal Peluang (opportunities)
31
Kelemahan (weakness) (Rangkuti, 2010: 19). Adapun model yang digunakan
dalam penelitian adalah sebagai berikut :
1. Wawancara langsung, pengamatan di lapangan, dokumen pribadi dandokumen
resmi.
Data-data yang ada diproses melalui pengelompokkan data, klasifikasi menurut
urutan permasalahan dan klasifikasi _actor–_actor internal dan eksternal. Setelah
itu melakukan penyusunan strategi dengan menggunakan analisis SWOT. Semua
elemen dalam SWOT akan dijaring melalui jawaban responden terhadap
pertanyaan yang diajukan. Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi dan
merumuskan suatu strategi.Analisis SWOT didasarkan pada logika untuk
memaksimalkan Kekuatan (Strength) dan Peluang (Opportunitiess), namun secara
bersamaan dapat meminimalkan Kelemahan (Weakness) dan Ancaman (Treath).
Pengertian-pengertian kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam analisis
SWOT adalah sebagai berikut :
1. Kekuatan (Strength)
Kekuatan adalah sumberdaya, ketrampilan atau keunggulan lain relatif terhadap
pesaing dan kekuatan dari pasar suatu perusahaan. Kekuatan kawasan pariwisata
adalah sumberdaya alam, pengelolaan dan keunggulan relatif industri pariwisata
dari pasar dan pesaing sejenis.
2. Kelemahan (Weakness)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumberdaya alam,
ketrampilan dan kemampuan yang secara serius menghalangi kinerja efektif suatu
32
dalam sumberdaya alam, ketrampilan dan kemampuan pengelolaan industri
pariwisata.
3. Peluang (Opportunity)
Peluang adalah situasi atau kecenderungan utama yang menguntungkan dalam
lingkungan perusahaan.Peluang kawasan.Pariwisata adalah situasi atau
kecenderungan utama yang menguntungkan industri pariwisata dalam lingkungan
suatu kawasan pariwisata.
4. Ancaman (Threats)
Ancaman adalah situasi atau kecenderungan utama yang tidak menguntungkan
dalam lingkungan perusahaan.Ancaman kawasan pariwisata adalah situasi atau
kecenderungan utama yang tidak menguntungkan industri pariwisata dalam
lingkungan suatu kawasan pariwisata.
Analisis faktor strategi internal dan eksternal adalah pengolahan factor-faktor
strategis pada lingkungan internal dan eksternal dengan memberikan pembobotan
dan rating pada setiap faktor strategis.Faktor strategis adalah faktor dominan dari
kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang memberikan pengaruh terhadap
kondisi dan situasi yang ada dan memberikan keuntungan bila dilakukan tindakan
positif.
Menganalisis lingkungan internal Internal Strategic Factors Analysis Summary
(IFAS) untuk mengetahui berbagai kemungkinan kekuatan dan kelemahan.
Menganalisis lingkungan eksternal, External Strategic Factors Analysis Summary
(EFAS) untuk mengetahui berbagai kemungkinan peluang dan ancaman.
33
(rating) berdasarkan pertimbangan professional.Pembobotan pada lingkungan
internal tingkat kepentingannya didasarkan pada besarnya pengaruh _actor
strategis terhadap posisi strategisnya, sedangkan pada lingkungan eksternal
didasarkan pada kemungkinan memberikan dampak terhadap _actor strategisnya.
Jumlah bobot pada masing-masing lingkungan harus berjumlah = 1 (satu), dengan
skala 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting).
Pemetaan posisi pariwisata bertujuan untuk mengetahui posisi pariwisata dari
suatu obyek wisata dalam kondisi perkembangannya saat ini.Pemetaan didasarkan
pada analogi sifat yang dimiliki dari faktor-faktor strategis.Kekuatan memiliki
sifat positif, kelemahan bersifat negatif, begitu juga dengan peluang bersifat
positif dan ancaman bersifat negatif. Diagram posisi perkembangan pariwisata
memberikan gambaran keadaan perkembangan pariwisata berdasarkan
kuadran-kuadran yang dihasilkan garis factor SW dan garis factor OT, setiap kuadran-kuadran
memiliki rumusan strategi sebagai strategi utamanya. Posisi perkembangan
pariwisata suatu obyek wisata atau kawasan pariwisata dapat dilihat pada gambar
berikut.
34
Rumusan setiap kuadran yang secara khusus untuk pariwisata dan beberapa
pengertian yang melalui proses adopsi, adaptasi dari penggunaan analisis SWOT
untuk perusahaan sehingga diadaptasi suatu rumusan sebagai berikut :
a. Kuadran I : Growth (Pertumbuhan)
Strategi pertumbuhan didesain untuk mencapai pertumbuhan, baik dalam
penjualan, asset, profit, atau kombinasi ketiganya.Pertumbuhan dalam pariwisata
adalah pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan (frekuensi kunjungan dan asal
daerah wisatawan), asset (obyek dan daya tarik wisata, prasarana dan sarana
pendukung), pendapatan (retribusi masuk dan jumlah yang dibelanjakan).
Pertumbuhan dalam pariwisata terbagi dua yaitu :
1) Rapid growth strategy (strategi pertumbuhan cepat), adalah strategi
meningkatkan laju pertumbuhan kunjungan wisatawan dengan waktu lebih
cepat (tahun kedua lebih besar dari tahun pertama dan selanjutnya),
peningkatan kualitas yang menjadi faktor kekuatan untuk memaksimalkan
pemanfaatan semua peluang.
2) Stable growth strategy (strategi pertumbuhan stabil), adalah strategi
mempertahankan pertumbuhan yang ada (kenaikan yang stabil, jangan sampai
turun).
b. Kuadran II : Stability (Stabilitas)
Strategi stabilitas adalah strategi konsolidasi untuk mengurangi kelemahan yang
ada, dan mempertahankan pangsa pasar yang sudah dicapai.Stabilitas diarahkan
untuk mempertahankan suatu keadaan dengan berupaya memanfaatkan peluang
35
1) Aggressive maintenance strategy (strategi perbaikan agresif), adalah strategi
konsolidasi internal dengan mengadakan perbaikan-perbaikan berbagai bidang.
Perbaikan faktor-faktor kelemahan untuk memaksimalkan pemanfaatan
peluang.
2) Selective maintenance strategy (strategi perbaikan pilihan), adalah strategi
konsolidasi internal dengan melakukan perbaikan pada sesuatu yang menjadi
kelemahan. Memaksimalkan perbaikan faktor-faktor kelemahan untuk
memanfaatkan peluang.
c. Kuadran III : Survival (Bertahan)
1) Turn around strategy (strategi memutar balik), adalah strategi yang
membalikkan kecenderungan-kecenderungan negatif sekarang yang paling
umum tertuju pada pengelolaan.
2) Guirelle strategy (strategi merubah fungsi), adalah strategi merubah fungsi
yang dimiliki dengan fungsi lain yang benar-benar berbeda.
d. Kuadran IV : Diversifikasi
Strategi penganekaragaman adalah strategi yang membuat keanekaragaman
terhadap obyek dan daya tarik wisata dan mendapatkan dana investasi dari pihak
luar. Strategi penganekaragaman yaitu :
1) Diversifikasi concentric strategy (strategi diversifikasi konsentrik), adalah
diversifikasi obyek dan daya tarik wisata sehingga dapat meminimalisir
ancaman.
2) Diversifikasi conglomerate strategy (strategi diversifikasi konglomerat), adalah
memasukkan investor untuk mendanai diversifikasi yang mempertimbangkan
36
Empat strategi dalam analisis SWOT dijelaskan sebagai berikut :
1. Strategi SO, yaitu strategi dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk
merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
2. Strategi ST, yaitu strategi dalam menggunakan kekuatan untuk mengatasi
ancaman.
3. Strategi WO, diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan
cara meminimalkan kelemahan yang ada.
4. Strategi WT, didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan
meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
Matriks SWOT adalah matriks yang menginteraksikan _actor strategis internal
dan eksternal.Matriks ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang
dan ancaman (ekternal) yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan
kelemahan (internal) yang dimiliki. Matriks SWOT menggambarkan berbagai
alternatif strategi yang dapat dilakukan didasarkan hasil analisis SWOT.
Hasil dari interaksi _actor strategis internal dan eksternal menghasilkan
alternatif-alternatif strategi. Alternatif strategi adalah hasil dari matriks analisis SWOT yang
menghasilkan berupa strategi SO, WO, ST, WT. Alternatif strategi yang
dihasilkan minimal empat strategi sebagai hasil dari analisis matriks SWOT.
37
Tabel 2.Model Matriks Analisis SWOT
I T E R N A L EXTERNAL Identification Of Factors
Opportunities (O) Threaths (T)
Tentukan Faktor Peluang
Tentukan Faktor Ancaman
Strength (S) S vs O S Vs T
Tentukan Faktor Kekutatan Strategi yang menggunakan kekuatan dan memanfatkan peluang Strategi yang menggunakan kekuatan dan mengatasi ancaman
Weakness (W) W vs O W vs T
71
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa:
Berdasarkan analisis SWOT maka diperoleh strategi pengembangan.
1. Strategi S–O
Terdiri dari Pengelolaan sumber daya alam secara efektif dan efisien, pelestarian
lingkungan pantai dengan menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan
promosi tentang potensi obyek wisata bahari yang dimiliki.
2. Strategi W–O
Terdiri dari memberdayakan masyarakat sekitar kawasan wisata dengan metode
pelatihan, perbaikan sistem jaringan jalan, utamanya yang menuju kawasan wisata
dan penambahan moda tansportasi menuju kawasan wisata, penambahan
akomodasi atau sarana penunjang obyek wisata seperti hotel, penginapan dan
sebagainya, serta pembuatan rencana induk pengembangan pariwisata daerah
sebagai acuan dalam mengembangkan kawasan wisata bahari di Kabupaten
Tanggamus.
3. Strategi S–T
Terdiri dari sosialisasi kepada masyarakat agar menjaga dan melindungi potensi
obyek wisata bahari yang dimiliki, memberi pemahaman kepada masyarakat
tentang pentingnya menjaga kebersihan pantai dan perilaku baik dan adat