PENGARUH DEBT TO EQUITY RATIO (DER), RETURN ON ASSET (ROA), REPUTASI UNDERWRITER, UMUR PERUSAHAAN DAN NILAI
TUKAR RUPIAH (KURS) TERHADAP TINGKAT UNDERPRICING SAHAM
(STUDI PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN IPO DI BEI TAHUN 2014 − 2018)
(Skripsi)
Oleh : RINDA SAFITRI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRACT
THE EFFECT OF DEBT TO EQUITY RATIO (DER), RETURN ON ASSET (ROA), UNDERWRITER REPUTATION, COMPANY AGE AND RUPIAH EXCHANGE RATE ON UNDERPRICING LEVEL OF SHARES
(STUDY ON COMPANIES THAT DID PO IN IDX YEAR 2014 - 2018)
By: Rinda Safitri
This study aims to examine the effect of debt to equity ratio (DER), return on assets (ROA), underwriter reputation, company age and the rupiah exchange rate (exchange rate) on underpricing level of shares. This test uses SPSS version 26 which is carried out both simultaneously and partially. The population in this study are companies that conduct an Initial Public Offering (IPO) listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the period 2014-2018 with a total sample of 123 companies. The data source of this research is secondary data obtained through the Indonesia Stock Exchange website. This study uses factor analysis to determine the independent variables that can represent stock underpricing variables to test their effect. The analytical method used is multiple linear regression analysis. The results of this study indicate that simultaneous debt to equity ratio (DER), return on assets (ROA), underwriter reputation, company age and the exchange rate (exchange rate) have a significant effect on stock underpricing. Partially, the reputation of the underwriter has a significant negative effect and the exchange rate has a significant positive effect, while the debt to equity ratio (DER), return on assets (ROA), and age of the company have no effect on the underpricing of shares.
ABSTRAK
PENGARUH DEBT TO EQUITY RATIO (DER), RETURN ON ASSET (ROA), REPUTASI UNDERWRITER, UMUR PERUSAHAAN DAN NILAI
TUKAR RUPIAH (KURS) TERHADAP TINGKAT UNDERPRICING SAHAM
(STUDI PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN IPO DI BEI TAHUN 2014 − 2018)
Oleh: Rinda Safitri
Asset (ROA), dan umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap underpricing saham.
PENGARUH DEBT TO EQUITY RATIO (DER), RETURN ON ASSET (ROA), REPUTASI UNDERWRITER, UMUR PERUSAHAAN DAN NILAI
TUKAR RUPIAH (KURS) TERHADAP TINGKAT UNDERPRICING SAHAM
(STUDI PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN IPO DI BEI TAHUN 2014 − 2018)
Oleh : Rinda Safitri
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA AKUNTANSI
Pada
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
Judul Skripsi : Pengaruh Debt To Equity Ratio (Der), Return On Asset (Roa), Reputasi Underwriter, Umur Perusahaan Dan Nilai Tukar Rupiah (Kurs) Terhadap Tingkat Underpricing Saham (Studi Pada Perusahaan Yang Melakukan Ipo Di Bei Tahun 2014 − 2018)
Nama Mahasiswa : Rinda Safitri Nomor Pokok Mahasiswa : 1611031003 Program Studi : S1 Akuntansi Fakultas : Ekonomi dan Bisnis
MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing
Dr. Ratna Septiyanti, S.E.,M.Si., Basuki Wibowo, S.E., M.S.Ak., Akt. NIP 197409222003032002 NIP. 195604101990031001
2. Ketua Jurusan Akuntansi
MENGESAHKAN
1. Tim Penguji
Ketua : Dr. Ratna Septiyanti, S.E.,M.Si., ...
Sekretaris : Basuki Wibowo, S.E., M.S.Ak., Akt. ...
Penguji : Dr. Usep Syaipudin, S.E., M.S.Ak. ...
2. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Dr. Nairobi, SE., M.Si. NIP 196660621 199003 1 003
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Rinda Safitri
NPM : 1611031003
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengaruh Debt To Equity Ratio (Der), Return On Asset (Roa), Reputasi Underwriter, Umur Perusahaan Dan Nilai Tukar Rupiah (Kurs) Terhadap Tingkat Underpricing Saham (Studi Pada Perusahaan Yang Melakukan Ipo Di Bei Tahun 2014 − 2018)” adalah benar hasil karya saya sendiri. Dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau
sebagian tulisan yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang menunjukan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain, yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya, selain itu atau yang saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan
pengakuan penulis aslinya. Apabila dikemudian hari terbukti bahwapernyataan saya ini tidak benar, maka saya siap menerima sanksi sesuai denganperaturan yang berlaku.
Bandar Lampung, Februari 2020
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Wonosobo, Kab Tanggamus pada tanggal 28 April 1998. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan bapak Mad Ridwan dan ibu Sumiati. Pada tahun 2004 penulis menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) di TK Aisyah Wonosobo, Tanggamus. Pendidikan Sekolah Dasar (SD) diselesaikan oleh penulis pada tahun 2010 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Metro Barat. Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditempuh oleh penulis di MTs N 1 Tanggamus dan diselesaikan pada tahun 2013. Kemudian, penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMAN 1 Kota Agung tahun 2016.
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahirobbil’alamin
Teriring doa dan rasa syukur kepada Tuhanku Allah SWT yang Maha Esa, juga shalawat bagi panutanku Nabi Muhammad SAW.
Kupersembahkan karya ini kepada:
Ayahanda Mad Ridwan dan Ibunda Sumiati
yang selalu mendukungku secara moril maupun materiil serta selalu mengasihi dan mendoakanku setiap waktu, memberi nasihat, motivasi dan semangat kepadaku. Terima kasih atas pengertian dan perhatian yang telah kalian berikan.
Adikku Febri Ulandari dan Refa Tri Julia
yang selalu mendoakan, mendukung dan menyemangatiku serta selalu memberikan bantuan kepadaku.
Seluruh keluarga besar dan sahabat-sahabatku
yang selama ini memberikan doa, nasihat dan motivasi yang tiada henti.
MOTTO
“Jadikan hidup mu bermafaat untuk orang lain, tanamkan keikhlasan dan tebarkan kebaikan”
(Rinda Safitri)
“Barang siapa bersungguh-sungguh, sesungguhnya kesungguhannya itu adalah untuk dirinya sendiri”
SANWACANA
Bismillahirrohmaanirrohiim,
Alhamdulillah, puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Debt To Equity Ratio (Der), Return On Asset (Roa), Reputasi Underwriter, Umur Perusahaan Dan Nilai Tukar Rupiah (Kurs) Terhadap Tingkat Underpricing Saham (Studi Pada Perusahaan Yang Melakukan Ipo Di Bei Tahun 2014 − 2018)”sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
Bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak yang telah diperoleh penulis dapat membantu mempermudah proses penyusunan skripsi ini. Dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Dr. Nairobi, SE., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
3. Ibu Dr. Reni Oktaviani, S.E., M.Si., selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
4. Ibu Dr. Ratna Septiyanti, S.E.,M.Si., selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah memberikan waktu, kritik, saran, dan semangat untuk penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Saya mengucapakan terima kasih banyak ibu atas ilmunya yang sangat bermanfaat.
5. Bapak Basuki Wibowo, S.E., M.S.Ak., Akt. selaku Dosen Pembimbing Pendamping. Terimakasih untuk kesediaannya memberikan waktu, bimbingan, arahan, masukan dengan penuh kesabaran selama proses penyelesaian skripsi ini.
6. Ibu Dr. Usep Syaipudin, S.E., M.S.Ak. selaku Dosen Penguji Utama yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun selama proses penyusunan skripsi ini
7. Prof. Dr. Nurdiono, S.E., M.M., selaku Pembimbing Akademik selama masa perkuliahan yang telah memberikan saran dan nasihat selama penulis menjadi mahasiswa.
8. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan pembelajaran berharga bagi penulis selama menempuh program pendidikan S1.
9. Seluruh staff Akademik, Administrasi, Tata Usaha, para pegawai, serta staff keamanan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung yang telah banyak membantu baik selama proses perkuliahan maupun penyusunan skripsi, terimakasih atas segala kesabaran dan bantuan yang telah diberikan. 10. Kedua Orangtuaku, Bapak Mad Ridwan dan Ibu Sumiati terimakasih atas
11. kepada penulis. Semoga dikemudian hari penulis dapat menjadi kebanggaan bagi kalian.
12. Adikku tersayang Febri Ulandari dan Refa Tri Julia terimakasih telah memberikan kasih sayang yang sangat luar biasa, yang sangat sabar mendengarkan keluh kesah dan selalu memberikan perhatian.
13. Muhammad Adrian Gumelar yang selalu memberi dukungan dan selalu membantu serta mengingatkan penulis bahwa ada beberapa orang yang selalu menunggu untuk dibuat bangga.
14. Untuk Mamah dan Papah, terimaksih sudah menyayangi seperti anak kandung kalian sendiri dan selalu mendukung serta mendoakan .
15. Sahabat ku Gita Azra Puspitasari dan Sefka Anggraini Putri terimaksih selalu memberi dukungan dan selalu membantu dari awal masuk kuliah sampai menyelesaikan skripsi, terimakasih juga sudah mau menjadi tempat untuk berbagi kesedihan dan kebahagian. Sukses terus dan semoga Allah selalu mepermudah jalan kalian.
16. Puti, Prakas, Farel, Danil, Acel, Anggun, Bella, Fadela, Eldam terimakasih selalu memberi dukungan dan selalu mau direpotkan dalam banyak hal, sukses terus untuk kalian semoga Allah mempermudah jalan kalian.
17. Seluruh teman-teman Akuntansi angkatan 2016. Terimakasih telah membantu belajar, berbagi canda tawa, dan sukses untuk kalian semua.
19. Seluruh presidium Himakta periode 2018/2019, terutama Ketum Faby, Febri Icak, Jimi dan Paschal terimaksih banyak sudah selalu memberi dukungan, suskses terus untuk kalian dan semoga Allah mempermudah jalan kalian. 20. Semua pihak yang terlibat dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat
penulis sebutkan satu per satu.
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak dan semoga Allah SWT memberikan rahmat, dan hidayah-Nya untuk kita semua.
Bandar Lampung, Februari 2020 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan penelitian ... 10
1.4 Manfaat Penelitian ... 10
1.5 Batasan Masalah ... .11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori ... 12
2.1.1 Teori Sinyal (Signal Theory) ... 12
2.1.2 IPO ... 13
2.1.3 Underpricing ... 14
2.1.4 Debt To Equity Ratio (DER) ... 14
2.1.5 Return on Asset (ROA) ... 15
2.1.6 Reputasi Underwriter ... 16
2.1.7 Umur Perusahaan ... 17
2.1.8 Nilai Tukar Rupiah (Kurs) ... 17
2.2 Tinjauan Pendahahuluan ... 18
2.3 Kerangka Pemikiran ... 21
2.4 Pengembangan Hipotesis ... 22
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel ... 27
3.2 Jenis dan Sumber Data ... 28
3.3 Variabel Penelitian ... 29
3.4 Definisi Operasional Penelitian... 29
3.4.1 Underpricing ... 29
3.4.2 Debt to Equity Ratio (DER) ... 30
3.4.4 Reputasi Underwriter ... 30
3.4.5 Umur Perusahaan ... 31
3.4.6 Nilai Tukar Rupiah (Kurs) ... 31
3.5 Teknik Analisis Data ... 32
3.5.1 Statistik Deskriptif ... 32
3.5.2 Uji Asumsi Klasik ... 32
3.5.2.1 Uji Normalitas ... 33
3.5.2.2 Uji Multikolinearitas ... 33
3.5.2.3 Uji Autokorelasi ... 33
3.5.2.4 Uji Heteroskedastisitas ... 34
3.5.3 Analisis Regresi Linier ... 34
3.5.4 Teknik Pengujian Hipotetsis ... 36
3.5.4.1 Uji Koefisien Determinasi (Uji R2 ) ... 36
3.5.4.2 Uji Pengaruh Simultan (Uji F) ... 36
3.5.4.3 Uji Parsial (Uji t) ... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 39
4.1.1 Deskripsi Objek Penelitian ... 39
4.2. Hasil Uji Stastistik Deskriptif ... 40
4.3. Hasil Uji Asumsi Klasik ... 43
4.3.1 Uji Normalitas ... 43
4.3.2 Uji Multikolonieritas ... 44
4.3.3 Uji Autokorelasi ... 45
4.3.4 Uji Heterokedastisitas ... 46
4.4 Hasil Uji Hipotesis ... 47
4.4.1 Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 47
4.4.2 Uji Kelayakan Model Regresi (Uji Statistik F) ... 47
4.4.3 Uji Hipotesis (Uji Stastitik t)... 48
4.5 Pembahasan ... 50
4.5.1 Pengaruh DER terhadap underpricing saham ... . 50
4.5.2 Pengaruh ROA terhadap underpricing saham ... . 52
4.5.3 Pengaruh Reputasi Underwriter terhadap underpricing saham….53 4.5.4 Pengaruh Umur Perusahaan terhadap underpricing saham ... ..54
4.5.5 Pengaruh Nilai tukar rupiah (kurs) terhadap underpricing saham 55 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... . 57
5.2 Keterbatasan Penelitian ... . 57
5.3 Saran... ... .58 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 18
3.1. Jumlah Perusahaan yang melakukan IPO ... 28
4.1. Kriteria Pengambilan Sampel ... ... 41
4.3. Hasil Uji Multikolineritas ... 44
4.4. Hasil Uji Run Test 4.5. Hasil Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) ... 47
4 6. Hasil Uji Statistik F ... 48
4.7. Hasil Uji Statistik t ... 49
...40
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
2
Perusahaan yang telah menetapkan menjadi go public, maka harus diawali dengan penawaran saham perdana yang disebut Initial Public Offering (IPO). IPO
merupakan kegiatan perusahaan yang dilakukan di pasar modal saat menjual sahamnya untuk pertama kali kepada investor yang hanya terjadi dipasar perdana. Berbagai macam alasan mengapa perusahaan ingin go public dan ingin menjual sahamnya kepada masyarakat umum, yaitu untuk memperluas usaha perusahaan, meningkatkan modal perusahaan dan mempermudah usaha pembelian perusahaan lain (Retnowati, 2013). Intial Public Offering diharapkan akan berakibat baik bagi perusahaan kerena dapat memicu harga saham yang ditawarkan menjadi lebih tinggi disebabkan dari ekspansi yang dilakukan serta prospektus perusahaan yang lebih baik (Handayani, 2008). Namun di Tahun 2018 Bursa mendapatka rekor dengan mencatatkan 58 Emiten yang melakukan IPO, jumlah ini meningkat tajam dibanding rata-rata 3 tahun terakhir yang dibawah 20 emiten pertahun.Minat emiten pada IPO sejatinya didorong oleh kondisi ekonomi domestik dan global yang kondusif serta mendukungnya kebijakan moneter, seperti rendahnya suku bunga yang mendorong investor cenderung mengalihkan investasi ke pasar modal.
Pada umumnya, perusahaan dalam melakukan penjualan saham di pasar perdana dibantu oleh underwriter (penjamin emisi) yang merupakan perantara antara
3
dan saham emiten belum pernah diperdagangkan. sehingga dapat menyebabkan kondisi harga saham di pasar perdana lebih rendah dibandingkan ketika
diperdagangkan di pasar sekunder disebut fenomena underpricing. Kondisi
underpricing perlu diminimalisir oleh emiten, agar emiten dapat memperoleh harga IPO yang wajar dan menghimpun sejumlah dana yang cukup untuk membiayai kegiatan perusahaan, sebaliknya investor akan lebih diuntungkan dalam kondisi underpricing karena investor akan menerima return atas perdagangan yang dilakukannya.
Perusahaan yang mengalami Underpricing pada saat IPO dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah debt to equity ratio (DER). Debt To Equity Ratio (DER) merupakan rasio perbandingan hutang dan modal. Besarnya DER perusahaan akan menunjukkan semakin besarnya risiko finansial atau risiko kegagalan perusahaan untuk mengembalikan pinjamannya sehingga dapat
mempengaruhi penetapan harga saham yang wajar pada saat IPO. Semakin tinggi DER perusahaan, maka akan semakin besar pula tingkat underpricing (Sartono, 2001).
4
sebaliknya, perusahaan dengan tingkat DER yang tinggi (kualitas perusahaan buruk) akan menetapkan harga IPO jauh dibawah nilai intrinsik untuk
mengkompensasi investor atas risiko informasional. DER yang tinggi menunjukkan risiko finansial atau risiko kegagalan perusahaan untuk mengembalikan pinjaman akan semakin tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena semakin tinggi DER suatu perusahaan, maka underpricing-nya semakin besar.
Namun hasil penelitian tersebut inkonsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Trikosiwi dan Aisiyah (2018) yang menyatakan bahwa DER tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing, Kondisi ini terjadi semakin tinggi tingkat DER mencerminkan kemampuan operasional yang tinggi dari perusahaan menghasilkan modal dengan memanfaatkan hutang dapat memperkecil selisih harga saham pada saat harga penutupan saham di bursa dengan harga pada saat penawaran saham perdana (IPO) sehingga perusahaan diyakini bisa lancar dalam menjalankan usahanya dan menghasilkan laba yang maksimal. Hal ini dilihat investor sebagai perusahaan yang menguntungkan, sehingga dapat mengurangi ketidakpastian IPO dan menyebabkan tingkat underpricing semakin rendah.
5
emisi cenderung menentukan harga penawaran perdana sewajarnya, atau dengan kata lain menurunkan besarnya underpricing.
Penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2008) dan Kristiantari (2012) yang menunjukkan bahwa ROA berpengaruh tidak signifikan terhadap underpricing. Semakin tinggi ROA perusahaan akan semakin rendah underpricing karena investor akan menilai kinerja perusahaan lebih baik dan bersedia membeli saham
perdananya dengan harga yang lebih tinggi. Calon investor akan
mempertimbangkan prosentase profitabilitas perusahaan sebelum menentukan keputusan investasinya sehingga nilai ketidakpastiaannya semakin rendah yang juga akan menurunkan nilai underpricing perusahaan tersebut (Yasa, 2008).
Namun hasil penelitian tersebut inkonsisten dengaan penelitian yang dilakukan Nandariko dan Yuli (2012) yang menyatakan ROA berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing saham. Kondisi ini terjadi karena dengan adanya ROA yang meningkat, maka penjamin emisi akan memberikan harga yang tinggi terhadap saham tersebut, sehingga underpricing bisa lebih kecil, sebaliknyadengan adanya ROA yang menurun, maka penjamin emisi akan memberikan harga yang rendah terhadap saham tersebut, sehingga underpricing bisa lebih meningkat.
6
terjadi antara underwriter dengan emiten. Menurut How and Yeo (2000), bagi underwriter yang belum mempunyai reputasi akan sangat berhati-hati untuk menghindari resiko membeli saham yang tidak terjual. Oleh karena itu mereka menetapkan harga saham perdana lebih rendah dibandingkan harga dipasar
sekunder. Sedangkan bagi underwriter yang memiliki reputasi tinggi mereka berani memberikan harga yang tinggi sebagai konsekuensim dari kualitas penjaminannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Utari dan Muhammad (2015) menyatakan bahwa reputasi underwriter berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat underpricing, hal ini dibuktikan bahwa reputasi underwriter yang tinggi tidak menjamin
penentuan harga saham perdana yang tinggi. Meskipun emiten memiliki underwriter yang bereputasi baik, underpricing yang akan terjadi tidak dapat ditekan ke tingkat yang rendah. Reputasi underwriter tidak berpengaruh juga disebabkan karena penggunaan underwriter yang bereputasi baik oleh emiten tidak memberikan sinyal bagi investor untuk memperkirakan nilai yang pantas bagi perusahaan IPO.
7
underwriter yang memiliki reputasi tinggi akan menetapkan penawaran yang lebih tinggi untuk konsekuensi dari kualitas penjaminannnya. underwriter bereputasi tinggi lebih mengetahui kinerja perusahaan yang melakukan IPO tersebut yang menggunakan jasa penjaminannya, karena dengan hal ini underwriter mampu memanfaatkan kualitas yang dimiliki oleh perusahaan untuk menjualkan saham perusahaan tersebut dengan penawaran yang lebih menguntungkan.
Ketika suatu perusahaan baru saja berdiri maka informasi mengenai perusahaan tersebut masih jarang tersebar luas dan sulit diketahui masyarakat terutama para investor dibandingkan dengan perusahaan yang telah lama berdiri. Informasi yang sulit didapatkan oleh investor akan memperbesar tingkat ketidakpastian perusahaan. Hal ini menjadikan umur perusahaan memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap underpricing saham. Dimana ketika perusahaan baru berdiri, memiliki
kemungkinan besar underpricing dibandingkan perusahaan yang telah berdiri sejak lama.
Penelitian yang dilakukan Wahyu (2010), Yustisia&Roza (2011), menyatakan variabel umur perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat underpricing saham. Tidak adanya pengaruh umur perusahaan terhadap
8
melakukan penerbitan saham perdana juga menjadi pertimbangan bagi investor akan saham yang ditawarkan.
Penelitian tersebut inkonsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosyati dan Sabeni (2002) menyatakan bahwa umur perusahaan berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Ketika perusahaan baru berdiri, memiliki kemungkinan besar underpricing dibandingkan perusahaan yang telah berdiri sejak lama.
Nilai tukar rupiah (kurs) yang berubah akan mempengaruhi harga barang yang masuk dan keluar dari Indonesia. Pengaruh kurs membawa dampak secara nasional pada industri dalam negeri. Pergerakan kurs yang dinamis dapat diperdagangkan sehingga menjadi salah satu pilihan investasi . Penelitian Yolana dan Dwi Martani (2005) menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan positif antara kurs terhadap tingkat underpricing. Ketika kondisi kurs rupiah melemah dan dollar AS meningkat maka ada kecenderungan investor untuk memilih tidak berinvestasi di pasar saham. Akibatnya pasar saham menjadi tidak terlalu diminati investor. Dengan kondisi seperti ini, emiten yang akan melakukan IPO dan penjamin emisinya akan cenderung memurahkan harga penawaran dengan harapan investor tertarik membeli. Atau dengan kata lain, pertimbangan atas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan membantu penjamin emisi dan emiten dalam menetapkan harga penawaran saham perdana.
9
terkait dengan sasaran masing-masing perusahaan yang sebagian mengandalkan impor dan sebagian lagi pada kegiatan ekspor. Alasan lain adalah karena investor jangka panjang menganggap dampak fluktuasi nilai tukar rupiah hanya sementara, sehingga tidak terlalu besar mempengaruhi keputusan investor .
Dengan melihat belum adanya konsistensi hasil pada penelitian-penelitian sebelumnya mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi underpricing. Maka penelitian ini ingin meneliti kembali dan mengkaji lebih lanjut tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi underpricing .
1.2. Rumusan Masalah
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut : 1. Apakah debt to equity ratio berpengaruh terhadap tingkat underpricing
saham?
2. Apakah return on asset berpengaruh terhadap tingkat underpricing saham? 3. Apakah reputasi underwriter berpengaruh tehadap tingkat underpricing
saham?
4. Apakah umur perusahaan berpengaruh terhadap tingkat underpricing saham?
10
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam peneliti antara lain.
1. Untuk mengetahui pengaruh debt to equity ratio terhadap tingkat underpricing saham.
2. Untuk mengetahui pengaruh return on asset terhadap tingkat underpricing saham.
3. Untuk mengetahui pengaruh reputasi underwriter terhadap tingkat underpricing saham.
4. Untuk mengetahui pengaruh umur perusahaan terhadap tingkat underpricing saham.
5. Untuk mengetahui pengaruh nilai tukar rupiah (kurs) terhadap tingkat underpricing saham.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini, antara lain: 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah bukti empiris pengaruh debt to equit ratio (DER), return on asset (ROA), reputasi underwriter, umur perusahaan dan nilai tukar rupiah (kurs) terhadap tingkat underpricing saham.
2. Manfaat Praktis
11
terkait dengan perusahaan tersebut. Penelitian ini juga berguna untuk membantu perusahaan dalam mengambil keputusan keuangan yang berkaitan dengan pengelolaan perusahaan.
1.5. Batasan Masalah
12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1 Teori Sinyal (Signaling Theory)
Teori sinyal merupakan teori yang menjelaskan bahwa laporan keuangan yang baik merupakan sinyal atau tanda bahwa perusahaan juga telah beroperasi dengan baik. Sinyal yang baik pasti akan direspon dengan baik oleh pihak lain. Pengumuman yang sudah dipublikasi merupakan suatu sinyal yang dapat diberikan kepada investor untuk melakukan penanaman modal. Saat informasi yang akan di terima oleh investor maka diharapkan akan mengandung sebuah reaksi apakah menjadi sinyal yang baik atau sinyal yang buruk (Hartono, 2016). Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan pada laporan keuangan laporan apa saja yang sudah dilakukan oleh manajer untuk dapat merealisasi keinginan pemilik dan juga berisi informasi berupa promosi dan informasi yang lain yang menujukan perusahaan itu lebih baik dibandingkan perusahaan yang lain.
13
perusahaan merupakan sinyal bagi investor dalam keputusan berinvestasi karena informasi merupakan gambaran mengenai prospek perusahaan di masa yang akan datang. Investor akan menilai perusahaan itu baik apabila kondisi perusahaan baik dengan menawarkan harga tinggi atas saham perdana, sehingga ketika
diperjualbelikan akan meningkat dan terjadi underpricing. .
Oleh karena itu, perusahaan yang baik akan memilih untuk underpricing sebagai sinyal bagi investor. Meskipun menderita kerugian saat penawaran saham perdana, tetapi diharapkan dengan terjadinya fenomena underpricing maka menjadi sinyal yang ampuh bagi investor dan selanjutnya dapat menutup kerugian melalui kinerjanya yang akan datang. Demikian pula hanya perusahaan yang kurang baik, mereka tidak akan memberikan sinyal karena mereka mengetahui bahwa mereka tidak akan dapat mengganti kerugian yang timbul akibat Underpricing .
2.1.2. IPO (Initial Public Offering)
IPO (Initial Public Offering) merupakan kegiatan yang dilakukan perusahaan dalam melakukan penawaran dipasar perdana oleh investor. IPO diharapkan akan
mengakibatkan membaiknya prospek perusahaan disebabkan karena ekspansi yang dilakukan. Hal tersebut memicu harga saham yang ditawarkan menjadi lebih tinggi karena prospek perusahaan yang membaik tersebut.
Perusahaan yang membutuhkan dana dapat melakukan penerbitan surat berharga seperti saham (stock), obligasi (bond), dan sekuritas lainnya. Surat berharga yang baru dijual dapat berupa penawaran perdana ke publik (Initial Publicoffering atau IPO) atau tambahan surat berharga baru jika perusahaan sudah go public
14
sekunder (listing). Setelah dijual di pasar sekunder, maka saham tersebut dapat diperdagangkan di bursa efek dengan efek lainnya. Perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana sering juga dikenal dengan go public. manfaat dari melakukan go public diantaranya ialah kemudahan meningkatkan modal di masa mendatang, meningkatkan likuiditas bagi pemegang saham dan nilai pasar perusahajan diketahui (Hartono, 2016).
2.1.3. Underpricing
Menurut Kristiantari (2012) Apabila harga saham dipasar perdana (IPO) lebih rendah dibandingkan dengan harga saham pada pasar sekunder pada hari pertama, maka akan terjadi fenomena harga rendah di pasar penawaran perdana, yang disebut dengan istilah underpricing. Kondisi tersebut sangat merugikan untuk perusahaan yang melakukan go public, sebab dana yang didapat dari masyarkat tidak maksimum. Fenomena underpricing sering terjadi di pasar modal seluruh dunia bukan hanya indonesia saja, hal ini disebab kan adanya asimetri informasi. Untuk mengurangi asimetri informasi tersebut maka dilakukannya penerbitan prospektus oleh perusahaan yang melakukan IPO. Informasi yang terdapat di penertiban prospektus antara lain informasi yang sifatnya keuangan dan non keuangan . Informasi tersebut akan mempermudah investor dalam
mempertimbangkan dan membuat keputusan mengenai resiko nilai saham yang sesungguh yang ditawarkan oleh emiten.
2.1.4. Debt to Equity Ratio (DER)
15
(2009), DER merupakan salah satu alat analisis dari rasio hutang. DER merupakan jenis dari rasio leverage yaitu rasio yang mengukur sejauh mana perusahaan mendanai operasi bisnisnya dengan membandingkan antara ekuitas sendiri dan pinjaman dari kreditor atau dengan kata lain, DER merupakan rasio yang menggambarkan seberapa besar bagian dari modal sendiri yang dimiliki oleh emiten untuk dijadikan jaminan terhadap hutang. Semakin banyak hutang yang dimiliki perusahaan, maka semakin besar risiko perusahaan tersebut. Hutang yang dimiliki perusahaan akan memberikan pihak ketiga klaim atas perusahaan. Ketika perusahaan hendak mengajukan hutang yang lebih besar, maka perusahaan harus berkomitmen untuk menanggung arus kas keluar yang tetap selama periode ke depan.
Di lain hal, perusahaan belum tentu mempunyai arus kas masuk yang tetap selama periode tersebut. Arus kas masuk yang sangat tidak pasti ini yang kemudian dikombinasikan dengan arus kas keluar yang sudah pasti sehingga hal ini dapat menimbulkan risiko keuangan. Oleh karena itu, besarnya pinjaman dapat memperbesar risiko keuangan suatu perusahaan yang harus ditanggung (Walsh, 2003). Alasan perusahaan mengambil hutang beserta dengan risikonya adalah bergantung dari biaya relatif hutang tersebut. Biaya hutang itu lebih kecil daripada dana ekuitas. Neraca yang ditambahkan dengan hutang akan meningkatkan
profitabilitas perusahaan yang kemudian akan menaikkan harga sahamnya, sehingga kesejahteraan pemegang saham juga akan meningkat (Walsh, 2003).
2.1.5. Return On Asset (ROA)
16
keuntungan pada tingkat penjualan, asset dan modal saham yang tertentu. Return On Asset (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas untuk mengetahui tingkat pengembalian saham atas harta yang dimiliki oleh perusahaan. ROA digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan cara memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Nilai ROA yang semakin tinggi akan menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba di masa yang akan datang dan laba merupakan informasi penting bagi investor sebagai pertimbangan dalam menanamkan modalnya. ROA yang tinggi akan mengurangi tingkat ketidakpastian perusahaan pada saat penawaran perdananya sehingga dapat mengurangi tingkat underpricing (Yasa, 2008).
2.1.6. Reputasi Underwriter
Underwriter atau penjamin emisi berfungsi sebagai pihak yang yang membuat kontrak dengan emiten serta melakukan penawaran umum bagi kepentingan emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek yang tidak terjual.
Underwriter ini merupakan perusahaan sekuritas yang membuat kontrak dengan emiten untuk melakukan penawaran umum terkait dengan saham bagi kepentingan emiten atau perushaaan yang ingin menjual sahamnya tersebut (Tjiptono dan Hendry, 2012). Oleh sebab itu underwriter adalah lembaga penunjang yang
17
Bagi underwriter yang belum mempunyai reputasi akan lebih berhati hati dalam menghindari resiko membeli saham yang tidak terjual (How and Yoe, 2000). Oleh sebab itu underwriter menetapkan harga saham perdana lebih rendah dibandingkan harga saham sekunder. Sedangkan underwriter yang sudah memiliki reputasi yang tinggi memberika harga yang tinggi sebagai konsekuensi dari kualitas
penjaminnya..
2.1.7. Umur Perusahaan
Umur perusahaan menunjukan kemampuan perusahaan dapat bertahan hidup dan banyaknya informasi yang bisa diserap oleh public. Semakin panjang umur
perusahaan semakin banyak informasi yang bisa diserap masyarakat (Daljono, 2000 dalam Hadri Kusuma, 2001). Perusahaan yang beroperasi lebih lama mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menyediakan informasi perusahaan yang lebih banyak dan luas daripada perusahaan yang baru saja berdiri. Dengan demikian akan mengurangi adanya asimetri informasi dan memperkecil ketidakpastian pasar dan pada akhirnya perusahaan dan penjamin emisi cenderung menentukan harga penawaran perdana yang sewajarnya (How et al., 1995), atau dengan kata lain mengurangi tingkat underpricing.
2.1.8. Nilai Tukar Rupiah (kurs)
18
dan keluar saat adanya perubahan. Pergerakan kurs yang stabil maupun dinamis akan memepengaruhi perdagangan sehingga menjadi salah satu pilihan investasi.
Pada saat mata uang rupiah menurun maka mata uang asing memiliki pengaruh yang negatif terhadap ekonomi dan pasar modal. Bukan hanya itu saja saat rupiah melemah akan memberikan pengaruh yang negatif terhadap ekuitas, karena menyebabka pasar ekuitas menjadi tidak tertarik. Maksudnya apabila nilai tukar rupiah naik maka permintaan saham di pasar sekunder juga akan meningkat dan menyebabkan harga dipasar perdana akan rendah atau terjadinya underpricing
[image:37.595.119.518.400.755.2]2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2. Ringkasan Penelitian Terdahulu
NO Penelitian Judul Hasil
1) Ayu Wahyusari (2013)
Analisis Faktor−Faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham saat IPO di BEI
Solvability, DER, dan umur perusahaan berpengaruh signifikan terhadap underpricing saham, sedangkan ROA, dan reputasi underwriter tidak berpengaruh signifikan terhadap underpricing saham. 2) Gatot Nazir
Ahmad (2013)
Pengaruh DER, ROI, Current Ratio Dan Rata-Rata Kurs Terhadap Undepricing Pada Initial Public Offering
Studi Kasus Pada Perusahaan Non
Keuangan Di Indonesia
Hasil penelitian yang didapat yaitu, debt To equity ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap tingkat underpricing untuk periode hot market sedangkan untuk periode cold market variabel DER tidak berpengaruh
19
yang positif. Return on investment (ROI) baik pada periode hot market maupun cold market tidak berpengaruh namun mempunyai arah yang positif terhadap tingkat underpricing pada
perusahaan non keuangan yang go public di BEI 3) David Tri
Rachmadhanto (2014)
Analisis Pengaruh Faktor Fundamental Perusahaan dan Kondisi Ekonomi Makro terhadap Tingkat Underpricing saat Penawaran Umum Perdana (Studi Empiris Pada Perusahaan Go Publik yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2011)
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel DER yang berpengaruh negatif terhadap tingkat
underpricing. Sedangkan faktor-faktor lain yaitu TATO, ROE, CR, tingkat inflasi, tingkat suku bunga, dan nilai tukar rupiah terbukti tidak berpengaruh terhadap tingkat underpricing. 4) Anggelia Hayu
Lestari (2015)
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underpricing
Saham Pada Penawaran Umum Perdana Di Bei Periode 2012-2014 (Studi Pada Perusahaan Yang Melaksanakan Ipo Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2014)
Hasil penelitian menunjukkan secara simultan reputasi underwriter, reputasi auditor, umur perusahaan, persentase penawaran saham, dan jenis industri berpengaruh tidak
signifikan terhadap tingkat underpricing. Secara parsial, hanya variabel reputasi auditor yang memiliki pengaruh signifikan dan negatif terhadap underpricing. 5) Yuan Tian
(2012)
An Examination Factors Influencing Under-Pricing Of Ipos On The London Stoc
k Exchange
Hasil penelitian
menunjukan variabel stock exchange, ukuran
20
underpricing Saham. Sementara itu, usia perusahaan, reputasi penjamin emisi, rasio P / E, dan ROA tidak berpengaruh secara signifikan terhadap underpricing saham.
6) Muhamad Rexy Aji Mahatidana (2017 )
An Examination Factors Influecing Underpricing of IPOs in Financial and Manufacturing Industries on the Indonesia Stock Exachange Over the Period of 2011-2016
Hasil dari penelitian ini bahwa reputasi
underwriter dan reputasi auditor masing-masing memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap underpricing. Usia perusahaan, konsentrasi kepemilikan masing-masing memiliki pengaruh negatif tetapi tidak
signifikan pada
underpricing. Sementara leverage keuangan, dan ROA masing-masing memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan pada underpricing.
7) Abrar Rahman Raharjo (2015)
Analysisi of Factors that Influence Underpricing in Tnnonnsi Srock Initial Public Offering:
Empirical Stufy of Go Public Companies In 2005-2011
Menurut hasil penelitian, analisis regresi
menunjukkan bahwa reputasi underwriter ditemukan berhubungan negatif dengan tingkat underpricing. Namun untuk variabel lainnya ternyata tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat
underpricing IPO di Bursa Efek Indones
8) M Ferry Kurniawan (2014)
Analysis Of Factors Affecting Underpricing Stock Levels At Initial Public Offering (Ipo)
21
In Indonesia Stock Exchange
terhadap fenomena underpricing. Reputasi penjamin variabel, reputasi auditor, dan leverage keuangan tidak berpengaruh signifikan terhadap fenomena underpricing. .
[image:40.595.146.549.288.528.2]2.3.Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran DER (X1)
Reputasi Underwriter (X3)
Nilai Tukar Rupiah (kurs) (X5)
Underpricing (Y)
H1
H2
H3 ROA (X2)
Umur Perusahaan (X4)
H4
22
2.4. Pengembangan Hipotesis
2.4.1 Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Tingkat Underpricing Saham
Debt to Equity Ratio (DER) merupakan alat untuk menganalisis solvabilitas. DER menunjukan bahwa kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajiban perusahaan baik jangka panjang dan jangka pendek. Jaminan yang diberikan oleh rasio ini tentang seberapa besar perusahaan dijamin oleh modal perusahaan yang digunakan sebagai sumber pendanaan sendiri. DER yang tinggi menunjukan bahwa resiko perusahaan yang tinggi, sehingga investor sebelum berinvestasi melihat DER perusahaan terlebih dahulu apabila DER perusahaan yang tinggi maka investor akan enggan dalam berinvestasi. Maka rasio DER yang tinggi merupakan sinyal negatif perusahaan untuk pihak luar perusahaan sehingga dapat
meningkatkan tingkat underpricing.
Kondisi tersebut didukung oleh penelitian Arintia (2018) dan Aini (2013) yang menunjukan bahwa debt to equity ratio berpengaruh positif signifikan terhadap tingkat underpricing saham. Sehingga untuk variabel DER hipotesis sebagai berikut :
H1 : DER berpengaruh positif terhadap tingkat underpricing saham.
23
usahanya. Return on Asset yang tinggi dari suatu perusahaan akan menaikan harga saham. Maka ROA yang tinggi akan mengurangi ketidakpastian di masa yang akan datang sehingga menjadi sinyal positif untuk underwriter maupun investor dan sekaligus dapat mengurangi terjadinya tingkat underpricing pada saat IPO. Sebaliknya tingkat ROA yang rendah dapat membuat investor menarik dananya dan underwriter menentukan harga yang terlalu rendah. ROA yang rendah
memungkinkan terjadinya underpricing lebih besar. Hal ini terjadi karena investor berpendapat bahwa perusahaan dengan ROA yang tinggi berarti memiliki kinerja yang sehat, sehingga mereka bersedia membeli saham perdana dengan harga yang tinggi. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Munawaroh (2015) yang mengatakan terdapat pengaruh negatif terhadap tingkat underpricing saham pada penawaran perdana di Bursa Efek Indonesia. Oleh sebab itu dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H2: Return On Asset (ROA) berpengaruh negatif terhadap tingkat underpricing
2.4.3. Pengaruh Reputasi Underwriter terhadap Tingkat Underpricing Saham Underwriter merupakan lembaga atau perusahaan efek yang bergerak dibidang penjaminan emisi. Underwriter berfungsi menjamin terjualnya saham/efek yang ditawarkan pada penawaran umum. Underwriter sebagai penjamin emisi dapat mengetahui atau memiliki banyak informasi pasar modal dan akan memberikan saran-saran penting yang diperlukan selama proses penjualan saham ke publik (Munawaroh, 2015).
24
kepada calon investor. Pasar percaya bahwa underwriter yang baik menjamin emiten berkualitas baik sehingga dapat menarik calon investor untuk membeli. Akan tetapi underwriter yang bereputasi tinggi lebih berani menentukan harga yang tinggi atas konsekuensi dari kualitas penjaminannya (Risqi & Harto,2013). Underwriter yang bereputasi tinggi, maka tingkat underpricing pada perusahaan yang melakukan IPO akan semakin rendah karena investor meyakini bahwa
underwriter yang bereputasi tinggi tidak menjamin emiten yang berkualitas rendah. Oleh sebab itu, reputasi underwriter yang tinggi merupakan sinyal positif
perusahaan untuk mengurangi terjadinya konflik saat penetapan harga saham perdana emiten, sehingga dapat mengurangi underpricing. Kondisi tersebut didukung oleh penelitian Risqi & Harto (2013) dan Purwanto et al (2014) yang mengatakan terdapat pengaruh negatif dan signifikan terhadap underpricing saham. Berdasarkan penjelas di atas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H3 : Reputasi underwriter berpengaruh negatif terhadap tingkat underpricing
saham
25
Selain itu perusahaan-perusahaan yang umumnya lebih tua bisa dipersepsikan sebagai perusahaan sudah tahan uji sehingga tingkat resikonya rendah. Selain itu perusahaan-perusahaan yang umurnya lebih tua bisa dipersepsikan sebagai
perusahaan yang sudah tahan uji sehingga tingkat risikonya rendah. Pada umumnya investor dan masyarakat luas lebih percaya dengan perusahaan yang sudah terkenal dan telah lama berdiri sehingga mereka bersedia membeli saham yang relatif tinggi pada perusahaan tersebut. Dengan demikian umur perusahaan yang lebih lama merupakan sinyal positif perusahaan sehingga dapat memperkecil ketidakpastian pasar yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat underpricing saham.
Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Pahlevi (2014) yang mengatakan bahwa umur perusahaan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap underpricing. Berdasarkan pertimbangan di atas, dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4: Umur perusahaan berpengaruh negatif terhadap tingkat underpricing
2.4.5. Pengaruh Nilai Tukar Rupih (kurs) terhadap Tingkat Underpricing Saham
26
ekonomi dan pasar modal (Sunariyah,2004). Yang artinya saat nilai rupiah naik maka akan ada nya peningkatan permintaan dipasar sekunder, sehingga harga dipasar perdana akan rendah atau underpricing. Penelitian Yolana dan Dwi Martani (2005) telah membuktikan bahwa nilai tukar rupiah (kurs) berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat underpricing saham. Sehingga variabel nilai tukar rupiah (kurs) hipotesis sebagai berikut :
H5 : Nilai tukar rupiah (kurs) berpengaruh positif terhadap tingkat underpricing
27
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang melakukan IPO yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014−2018. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling methode, yang artinya bahwa populasi yang dijadikan sampel merupakan populasi yang memenuhi kriteria atau ciri−ciri tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitan. Kriteria tersebut antara lain :
1. Perusahaan yang telah melakukan IPO pada periode 1 januari 2014 sampai 31 desember 2018
2. Perusahaan yang Underpricing pada periode 1 januari 2014 sampai 31 desember 2018
3. Tersedia data harga penawaran umum dan harga saham pada saat listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode penelitian.
4. Tersedia data laporan keuangan satu tahun atau dua tahun sebelum IPO. 5. Tersedia nama-nama underwriter.
28
[image:47.595.130.461.194.437.2]7. Memiliki informasi atau ketersedian data yang akan digunakan dalam penelitian.
Tabel. 3.1. Jumlah perusahaan yang melakukan IPO tahun 2014-2018
NO Tahun Jumlah
1 Jumlah Perusahaan IPO tahun 2014 23
2 Jumlah Perusahaan IPO tahun 2015 17
3 Jumlah Perusahaan IPO tahun 2016 15
4 Jumlah Perusahaan IPO tahun 2017 36
5 Jumlah Perusahaan IPO tahun 2018 58
Jumlah Perusahaan yang diambi Sampel 149
Sumber: www.e-bursa.com, www.idx.co.id
Data-data yang digunakan dalam penelitian ini diakses secara online bersumber dari website Bursa Efek Indonesia. Total perusahaan yang melakukan IPO pada periode 2014-2016 adalah sebanyak 149 perusahaan.
3.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan untuk penelitian ini adalah data kuantitatif . sumber data ini bersifat sekunder yaitu data yang digunakan dari pihak lain yang telah
29
3.3. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan dua varaibel, yaitu
1. Variabel Terikat (independent variable)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat underpricing saham.
2. Variabel Bebas (dependent variabke)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah debt to equity ratio (DER), return on asset (ROA), reputasi underwriter, umur perusahaan dan nilai tukar rupiah (kurs).
3.4. Definisi Operasional Penelitian
Berikut ini definisi operasional variabel−variabel yang terlibat dalam penelitain beserta pengukuran.
3.4.1. Underpricing Saham
Underpricing adalah kondisi saat harga saham dipasar perdana lebih rendah
dibanding harga saham dipasar sekunder. Underpricing dapat diukur dengan initial return yaitu selisih antara harga saham ataupun keuntungan yang berasal dari pemegang saham karena adanya perbedaan harga pada saat harga buka dan harga tutup. Didalam penelitian Kunz dan Aggarwal, 1994 rumus untuk menghitung tingkat underpricing sebagai berikut:
30
3.4.2. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to equity ratio (DER) dapat dihitung dengan cara membandingkan hutang keseluruhan termasuk hutang ekuitas dan hutang lancar. Fungsi dari rasio ini untuk melihat seberapa besar modal sendiri akan menjamin hutang perusahaan. Tidak ada batasan seberapa besar debt to equity ratio sebuah perusahaan dikatakan aman, namun biasanya saat deb to equity ratio sudah mencapai angka 66% maka
perusahaan sudah beresiko (Trikosiwi dan Aisyiah, 2018), didalam buku (Hartono, 2016) variabel DER dapat diukur dengan rumus:
DER = Total Debt x 100% Total Equity
3.4.3. Return On Asset (ROA)
Profitabilitas perusahaan memberikan informasi kepada investor mengenai kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam suatu periode tertentu sehingga dapat membantu investor dalam mengambil keputusan. Profitabilitas perusahaan pada penelitian diukur dengan menggunakan return on asset (ROA). ROA mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset yang tertentu. Menurut penelitian Kristiantari (2013) rumus ROA sebagai berikut:
Return on Assets = Earnings After Tax Total Assets
3.4.4. Reputasi Underwriter
31
underwriter dapat dinilai dengan menggunakan dummy memberikan nilai 1 kepada underwriter yang masuk top 10 dalam 20 most active brokerage in total frequency IDX berdasarkan total frekuensi perdagangan pada tiap periode IPO dan
memberikan nilai 0 untuk underwriter yang termasuk dalam top 11−20 ataupun lebih dari 10 (Anggita Ratnasari dan Hudiwinarsih, 2013).
3.4.5. Umur Perusahaan
Umur perusahaan emiten menunjukkan seberapa lama perusahaan mampu bertahan dan menjadi bukti perusahaan mampu bersaing dan dapat mengambil kesemptan bisnis yang ada dalam perekonomian (Aini, 2013). Umur perusahaan diukur dari sejak perusahaan berdiri berdasarkan akte pendirian sampai perusahaan melakukan penawaran umum saham perdana. Umur perusahaan diukur dengan skala tahunan (Kristiantari, 2013).
3.4.6. Nilai Tukar Ruiah (Kurs)
32
dan kurs beli mata uang Rupiah terhadap US Dollar ( Rachmadhanto, 2017). Nilai tukar rupiah dapat dihitung dengan rumus:
Nilai Tukar = Kurs Jual +Kurs Beli 2
3.5. Teknik Analisis Data
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi linier berganda. Penelitian ini diuji dengan beberapa uji statistik yang terdiri dari statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi dan pengujian hipotesis.
3.5.1. Statistik Deskriptif
Analisi statistik deskriptif merupakan pengolah data yang tujuannya untuk
memberikan suatu deskripsi atau gambaran suatu data dilihat dari rata –rata (mean), varian, standar deviasi, sum, range, maksimum dan minimun, kurtosis serta
skewness.
3.5.2. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah pengolahan data yang tujuannya untuk mengetahui
kelayakan penggunaan model dalam penelitian. Ada beberapa pengujian yang harus dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui apakah model yang digunakan tersebut mendekati kenyataan yang ada. Untuk mengetahu apakah asusmi klasik
ekonometrika ada pelanggaran maka dapat dilakukan pengujian terhadap asumsi klasik ekonometrika yaitu normalitas, multikolonieritas, autokorelasi dab
33
3.5.2.1 Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2016) uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel independen dan variabel dependen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan grafik normal probability-plot. Dasar pengambilan keputusan apakah model regresi terdistribusi normal atau tidak dapat dilihat dari pola yang terbentuk dari grafik normal probability-plot. Menurut Ghozali (2016) distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data residual normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya.
3.5.2.2. Uji Multikolenieritas
Tujuan dari multikolenieritas adalah menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen, untuk mendeteksi ada atau tidak
multikolonieritas dalam model regresi tersebut dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF).Nilai cut off yang umum dipakai untuk
menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Setiap peneliti harus menentukan tingkat kolonieritas yang masih dapat ditolerir (Ghozali, 2016).
3.5.2.3. Uji Autokorelasi
34
waktu berkaitan satu sama lainnya (Ghozali, 2016). Untuk mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi dapat digunakan uji Run Test. Menurut Ghozali (2016) dasar pengambilan keputusan uji statistik dengan Run test adalah sebagai berikut:
1. Jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) kurang dari 0,05, maka H0 ditolak dan Ha
diterima. Hal ini berarti data residual terjadi secara tidak random (sistematis). 2. Jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih dari 0,05, maka H0 diterima dan Ha
ditolak. Hal ini berarti data residual terjadi secara random (acak).
3.5.2.4. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi
heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat grafik plot antara prediksi nilai variabel terikat dengan residualnya. Menurut Ghozali (2016) dasar pengambilan keputusan dalam uji ini jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada
membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian
menyempit) maka telah terjadi heteroskesdatisitas. Sebaliknya, jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskesdatisitas.
3.5.3. Analisis Regresi
35
rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui (Gujarati, 2003). Penelitian ini menggunakan teknik Analisis Regresi Linier Berganda dengan metode stepwise, dengan model sebagai berikut.
UP= α +β1DER+ β2 ROA + β3RU + β4UMP + β5 KURS + e
Keterangan :
UP = Underpricing Saham α = Konstanta
β = Koefesien
DER = Debt to Equity Ratio ROA = Return on Asset RU = Reputasi Underwriter UMP = Umur Perusahaan
KURS = Nilai Tukar Rupiah (kurs) e = Error
Analisis regresi diatas untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan
independen. Jadi analisis regresi berganda merupakan analisa untuk mengukur seberapa debt to equity ratio, reputasi underwriter, nilai tukar rupiah (kurs)
36
demikian pula sebaliknya, apabila koefisien β bernilai positif (-) hal ini
menunjukkan adanya pengaruh negatif dimana kenaikan nilai variabel independen akan mengakibatkan penurunan nilai variabel dependen.
3.5.4. Teknik Pengujian Hipotesis 3.5.4.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai kofisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-veriabel independen dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang
mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2016).
Untuk menentukan model terbaik para peneliti telah menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R Square. Koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel Model Summary pada tabel Adjusted R Square. Besarnya nilai Adjusted R Square menunjukan seberapa besar variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen (Ghozali, 2016).
3.5.4.2.Uji Pengaruh Simultan (F test)
37
yang ditentukan adalah dasar pengambilan keputusan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:
a) Jika Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima.
b) Jika Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak.
Dengan kriteria pengambilan keputusan berdasarkan p-value dengan taraf signifikan sebesar 0.05 adalah sebagai berikut :
a) Jika p-value > 0.05, maka H0 diterima. Artinya, tidak berpengaruh signifikan secara simultan.
b) Jika p-value < 0.05, maka H0 ditolak. Artinya, terdapat pengaruh signifikan secara simultan.
3.5.4.3 Uji Parsial (t test)
Menurut Ghozali (2013) uji parsial pada dasarnya menunjukkan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Taraf signifikan yang digunakan adalah pada 0.05. Kriteria penerimaan atau penolakan H0 yaitu sebagai berikut:
a. Jika t hitung < t tabel atau –t hitung > -t tabel, maka H0 diterima.
b. Jika t hitung > t tabel atau –t hitung <- t tabel, maka H0 ditolak.
38
a. Jika p-value > 0.05, maka H0 diterima. Artinya, tidak berpengaruh signifikan secara parsial.
57
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti tentang “Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Return on Asset (ROA), Reputasi Underwtriter, Umu Perusahaan dan Nilai Tukar Rupiah (kurs) terhadap tingkat Underpricing Saham studi pada Perusahaan yang melakukan IPO di BEI Tahun 2014-2018” diperoleh hasil uji nomalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas yang menunjukkan tidak adanya variabel yang menyimpang dari asumsi klasik. Kemudian, berdasarkan uji statistik t diketahui bahwa dalam model regresi terdapat dua variabel bebas yang terdukung, yaitu reputasi underwriter berpengaruh negatif signifikan dan nilai tukar rupiah (kurs) berpengaruh positif signifikan terhadap tingkat underpricing saham. Sedangkan, tiga variabel bebas lainnya dinyatakan tidak terdukung, antara lain debt to equity ratio (DER), return on asset (ROA) dan umur perusahaan .
5.2 Keterbatasan Penelitian Adapun keterbatasan dalam penelitian ini yaitu penelitian ini melakukan studi
58
membedakan sampel perusahaan berdasarkan jenis industri yang sudah jenuh atau padat
dan industri yang baru sehingga menyebabkan adanya kemungkinan pengaruh variabel
terhadap masing-masing industri tidak diketahui.
5.3 Saran
Berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan penelitian yang telah disampaikan oleh penulis, maka saran untuk peneliti selanjutnya sebaiknya mengelompokan
DAFTAR PUSTAKA
Aini, S. N. 2013. “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underpricing Saham PadaPerusahaan IPO di BEI Periode 2007-2011”. Jurnal Ilmiah Manajemen.Vol 1. No 1. Universitas Negeri Surabaya: Surabaya. Beatty, R.P. 1989. “Auditor Reputation and The Pricing of IPO”. The
Accounting Review. Vol LXIV No 4. p 693-707.
David Tri Rachmadhanto, dan Raharja. (2014). Analisis Pengaruh Faktor
Fundamental Perusahaan dan Kondisi Ekonomi Makro Terhadap Tingkat Underpricing Saat Penawaran Umum Perdana (Studi Empiris pada Perusahaan Go Publik yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008 – 2011). Diponegoro Journal of Accounting. Vol. 3, Nomor 4. Darmadji, Tjiptono dan Hendy M. Fakhruddin. 2012. Pasar Modal di Indonesia
Pendekatan Tanya Jawab. Edisi Ketiga. Jakarta: Salemba Empat. Gujarati, Damodar. 2003. Ekonometri Dasar. Terjemahan: Sumarno Zain,
Jakarta:Erlangga.
Ghozali, Imam, (2016). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Yogyakarta: Badan Penerbit BPFE.
Hartono, Jogiyanto. (2016). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta : BPFE UGM.
Hayu, Anggelia Ayu.2015” Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underpricing Saham Pada Penawaran Umum Perdana Di Bei Periode 2012-2014 (Studi Pada Perusahaan Yang Melaksanakan Ipo Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2014)” Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)| Vol. 25 No. 1 Agustus 2015| administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id How, Janice C.Y., and Julian Yeo. 2000. “The Pricing of Underwriting Services
in the Australian Capital Market”. Pasific-Basin FinanceJournal. Vol 8. No 3-4. Pp 347-373.
Koco, Trikosiwi S. & Aisyah, Siti S.2018.” Analisis Tingkat Underpricing Saham Pada Perusahaan Yang Melakukan Penawaran Saham Perdana (Ipo) Di Bei Periode 2012-2016” Accounting Analysis Journal. Universitas Islam Sultan Agung: Semarang.
Kristiantari, I.D.A. 2012. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi UnderpricingSaham pada Penawaran Saham Perdana Di BEI. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Humanika, 2(2): 3-109.
Kunz, R. M, & Aggarwal, R. 1994. Why initial public offerings are
underpriced: Evidence from Switzerland. Journal of Banking & Finance. Vol. 18. P 705-723.
Leila, Bateni dan farsid Agshari(2014)” Study of Factors the Affering the initial Prices of the Shares on The Tehran Stock Exchange” research in word economy.
Mahatidana, Muhammad Rexy dan Irni Yunita (2017)”An Examination Factors Influecing Underpricing of IPOs in Financial and Manufacturing
Industries on the Indonesia Stock”International Journal of Scientific and Research Publications, Volume 7, Issue 11,November 2017.
Madura, Jeff. (2006). Keuangan Perusahaan Internasional. Edisi Kedelapan. Jakarta: Salemba Empat.
Munawaroh, L. (2015). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham
PadaPenawaranUmumPerdanaDiBursaEfekIndonesia.Jurn alAkuntansi Bisnis,1-13.
Nazir, Gatot Ahmad.2013”Pengaruh Der, Roi, Current Ratio Dan Rata-Rata Kurs Terhadap Undepricing Pada Initial Public Offering Studi Kasus Pada Perusahaan Non Keuangan Di Indonesia” Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 4, No. 2, 2013
Nuryanti, Idhar.2018” Pengaruh Reputasi Underwriter, Financial Leverage, Profitabilitas, Jenis Industri Terhadap Tingkat Underpricing Pada Perusahaan Saat Initial Public Offering” Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas: Surabaya.
Rahmadhanto, David Tri. 2017”Analisis Pengaruh Faktor Fundamental Perusahaan Dan Kondisi Ekonomi Makro Terhadap
TingkatUnderpricing Saat Penawaran Umum Perdana(Studi Empiris Pada Perusahaan Go Publik Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun2008-2011).
Underpricing Pada Perusahaan Ketika Ipo” Jurnal Buletin Studi Ekonomi, Vol. 18, No. 2, Agustus 2013
Rexy, Muhammad Aji Mahatidana.2017”An Examination Factors Influencing Underpricing of IPOs in Financial and Manufacturing Industries on The Indonesia Stock Exchange over The Period of 2011-2016” International Journal of Scientific and Research Publications, Volume 7, Issue 11, November 2017
Riyanto, B. (2014). Dasar - Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE.
Retnowati, E. 2013. “Penyebab Underpricing Pada Penawaran Saham Perdana diIndonesia”. Accounting Analysis Journal. Universitas Negeri
Semarang:Semarang.
Sartono, Agus. 2001. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Edisi Keempat. Yogyakarta: BPFE.
Sunariyah. 2004. Manajemen Keuangan Teori danPenerapan (Keputusan Jangka Panjang). BukuSatu. Edisi Keempat. Yogyakarta BPFE. Tandelilin, Eduardus. (2000) Pasar modal Indonesia: Problem dan Prospek.
Wahana, Vol. 3, No.2.
Tian, Yuan.2012” An Examination Factors Influencing Under-Pricing Of Ipos On The London Stock Exchange” A Research Project Submitted In Partial Fulfillment Of The Requirements For The Degree Of Master Of Finance Saint Mary’s University
Utari, Dhany F. & Muharam, Harjum. 2015 ” Analisis Pengaruh Informasi Non Keuangan, Informasi Keuangan, Dan Ownership Terhadap Underpricing Pada Perusahaan Non Keuangan Yang Melakukan Initial Public Offering (Ipo) Di Bei Periode 2008-2014 “Diponegoro Journal Of Management. Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, Halaman 1-12. Universitas
Diponegoro: Semarang.
Pahlevi, Rezha Widhar.2014”Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham Pada Penawaran Saham Perdana” Jurnal Siasat Bisnis Vol 18 No 2, Juli 2014 hal 291-232.
Puspita, R. I. 2014. Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing Saham Pada Saat Initial Public Offering (IPO) Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010
Walsh, Ciaran, 2003. Key management Ratios: Rasio-rasio manajemen penting penggerak dan pengendali bisnis. Edisi ketiga. Jakarta: Erlangga. Yolana, Chastina dan Dwi Martani. 2005”Variabel-Variabel yang
Mempengaruhi Fenomena Underpricing Pada Penawaran Saham Perdana di BEJ Tahun 1994 – 2001”. SNA VIII Solo: 538-553. www.e-bursa.com.