• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
69
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA TOPIK PEMANASAN GLOBAL BERBASIS MODEL INQUIRY BASED-LEARNING

DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN KOLABORASI SISWA SMP

(Tesis)

Oleh

MUHAMMAD ANDI FIRMAN

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER KEGURUAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(2)

iii ABSTRAK

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA TOPIK PEMANASAN GLOBAL BERBASIS MODEL INQUIRY BASED-LEARNING

DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN KOLABORASI SISWA SMP

Oleh

Muhammad Andi Firman

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKS) topik pemanasan global berbasis model inquiry based-learning yang valid, praktis dan efektif dalam menumbuhkan keterampilan kolaborasi siswa SMP. Desain penelitian dan pengembangan digunakan untuk menghasilkan produk berupa LKS. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII 3 dan kelas VII 4 di SMP Negeri 1 Gunung Sugih yang keduanya merupakan kelas eksperimen. Kevalidan LKS yang dikembangankan dilihat dari aspek substansi dan konstruksi LKS. Kepraktisan LKS dilihat dari uji coba terbatas dengan menggunakan satu kelas selain kelas sampel eksperimen. Keefektifan dilihat berdasarkan lembar observasi yang dinilai oleh observer. Hasil Penelitian menunjukan bahwa kevalidan aspek substansi dan konstruksi berkategori valid. Peningkatan keterampilan kolaborasi pada pertemuan 1 dan 2, yaitu data

(3)

iv

Muhammad Andi Firman global dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi efektif dengan melihat persentase yang dihasilkan meningkat dengan kategori sangat baik terutama pada aspek berkonstribusi dan manajemen waktu.

(4)

v ABSTRACT

DEVELOPING OF STUDENT WORK SHEET ON GLOBAL WARMING TOPICS BASED OF INQUIRY BASED-LEARNING MODELS TO

IMPROVING STUDENT COLLABORATION SKILLS OF JUNIOR HIGH SCHOOL

By

Muhammad Andi Firman

(5)

vi

(6)

ii

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA TOPIK PEMANASAN GLOBAL BERBASIS MODEL INQUIRY BASED-LEARNING

DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN KOLABORASI SISWA SMP

Oleh

MUHAMMAD ANDI FIRMAN

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER PENDIDIKAN

Pada

Program Pascasarjana Magister Keguruan IPA

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER KEGURUAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(7)
(8)
(9)
(10)

x

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Desa Harapan Mukti yang sekarang berada di Kabupaten Mesuji pada tanggal 22 Oktober 1994. Penulis merupakan anak pertama dari pasangan Bapak Sholihin (Alm) dan Ibu Sobiratun. Adapun penulis memiliki tiga adik yaitu Muhammad Rizqi Maulana Hakin, Muhammad Fahrul Irham dan Zaura Viqta Rima.

Pendidikan pertama penulis, yaitu di TK Kartika Harapan Mukti, penulis

kemudian menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 1 Harapan Mukti pada tahun 2007, pendidikan menengah pertama di SMPN 3 Tanjung Raya lulus pada tahun 2010, dan pendidikan menengah atas di SMAN 1 Tanjung Raya lulus pada tahun 2013. Penulis memperoleh gelar sarjana di Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Muhammadiyah Metro. Penulis menyelesaikan gelar Sarjana

Pendidikan (S.Pd) pada tahun 2017.

(11)

xi

PERSEMBAHAN

Syukur Alhamdulillah atas segala yang diberikan oleh Allah SWT sehingga penulis dengan bangga dan penuh rasa syukur dapat menyelesaikan tesis ini. Dengan segala kerendahan hati tesis ini dipersembahkan kepada:

1. Ayahanda Setia Budi dan Ibunda Sobiratun tercinta yang selalu mencurahkan kasih sayang dan limpahan doa kepada penulis tanpa kenal lelah, yang selalu membimbing, mendukung, memotivasi, dan mengarahkan penulis agar dapat menjadi seseorang yang berhasil.

2. Ayahanda Sholihin (Alm) yang selalu menjadi semangat untuk menyelesaikan tugas akhir.

3. Keluarga besar penulis yang selalu memberikan semangat dan selalu mendo’akan penulis yang terbaik.

4. Para Dosen pembimbing, Dosen-dosen Magister Keguruan IPA telah memberikan pelajaran berharga dan mengarahkan penulis selama ini dalam proses belajar.

5. Julita Dewi yang selalu mendukung, mendengarkan keluh kesah dan pemberi semangat penulis untuk menyelesaikan tesis.

(12)

xii MOTTO

(13)

xiii SANWACANA

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Magister Keguruan IPA, Jurusan Pendidikan MIPA, FKIP di Universitas Lampung. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda nabi Muhammad SAW atas suri tauladan serta syafa’atnya kepada manusia. Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Karomani, M.Si., selaku Rektor Universitas Lampung. 2. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M. S., selaku Direktur

Pascasarjana UNILA.

3. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan FKIP UNILA. 4. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP UNILA. 5. Bapak Dr. Dewi Lengkana, M.Sc., selaku Ketua Program Studi MKIPA

dan Penguji II.

6. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si., selaku Pembimbing I atas kesediaan dalam membimbing dengan keikhlasan, motivasi dan nasihatnya.

7. Bapak Dr. Undang Rosidin, M.Pd., selaku Pembimbing II atas kesediaan dalam membimbing dengan keikhlasan, motivasi dan nasihatnya.Bapak 8. Ibu Dr. Noor Fadiawati, M.Si. selaku Penguji I dan validator aspek

(14)

xiv

9. Bapak Dr. I Wayan Distrik, M.Si. selaku validator aspek konstruksi LKS atas segala masukan, kritik dan saran, bimbingan untuk produk yang dihasilkan.

10.Para dosen di Magister Keguruan IPA dan guruku atas ilmu, nasihat, motivasi, dan arahan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. 11.Segenap civitas akademik Jurusan Pendidikan MIPA.

12.Ibu Yenni Yunartin, M.Pd sebagai validator oleh praktisi LKS atas segala masukan, kritik dan saran, bimbingan untuk produk yang dihasilkan. 13.Bapak Hamzah, S.Pd., guru IPA di SMP Negeri 1 Gunung Sugih, atas

waktu dan kerjasamanya yang telah diberikan kepada penulis untuk melakukan penelitian.

14.Teman-teman seperjuangan di MKIPA angkatan 5 (2017) yang selalu saling memotivasi agar cepat menyelesaikan tugas kuliah dan tesis. 15. Almamater tercintaku, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Lampung.

Akhir kata, Semoga Allah SWT akan melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, semoga tesis ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin.

Bandar Lampung, 2020 Penulis

(15)

xv DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xviii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 9

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Lembar Kerja Siswa ... 11

B. Model Inquiry Based-Learning ... 14

C. Keterampilam Kolaborasi ... 18

D. LKS, Inquiry Based Learning dan Ketelampilan Kolaborasi ... 23

E. Hipotesis Penelitian ... 25

III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 26

B. Subjek Penelitian ... 27

(16)

xvi

A. Instrumen Penelitian... 35

B. Teknik Pengumpulan Data ... 38

C. Teknik Analisis Data ... 40

I. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 46

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 67

II. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 78

B. Saran ... 79

DAFTAR PUSTAKA ... 80

LAMPIRAN 1. Kuisioner Analisis Kebutuhan Guru ... 86

2. Kuisioner Analisis Kebutuhan Siswa ... 91

3. Rekapitulasi Analisis Kebutuhan Guru ... 94

4. Rekapitulasi Analisis Kebutuhan Siswa ... 97

5. Hasil Validasi Ahli Substansi ... 99

6. Hasil Validasi Ahli Konstruksi ... 104

7. Analisis Hasil Validasi Substansi oleh Ahli ... 108

8. Analisis Hasil Validasi Konstruksi oleh Ahli ... 111

9. Analisis Hasil Validasi Substansi oleh Praktisi ... 114

10. Analisis Hasil Validasi Konstruksi oleh Praktisi ... 117

11. Lembar Observasi Kolaborasi ... 120

12. Analisis Lembar Observasi Kolaborasi ... 122

13. Buku Bimbingan Tesis ... 126

14. Surat Izin Penelitian ... 131

15. Surat Balasan Izin Penelitian ... 132

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Lima Levels Model Inquiry ... 18

2. Kategori Validitas Konstruksi dan Substansi ... 42

3. Rublik Penilaian Aspek Kolaboratif ... 42

4. Konversi Skor Angket Kolaborasi ... 44

5. Draf LKS Model Inquiry Based-Learning Materi Pemanasan Global dalam Menumbuhkan Keterampilan Kolaborasi ... 48

6. Revisi Bagian Konstruksi LKS ... 51

7. Revisi bagian substansi LKS ... 53

8. Hasil Angket Respon Siswa ... 57

[image:17.595.113.506.139.434.2]
(18)

xviii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Tingkat Model Pembelajaran Sains Pengajaran... 17

2. Langkah-langkah Pengembangan LKS berdasarkan R&D ... 28

3. Persentase Rata-rata Keterampilan Kolaborasi Kelas VII2 pada Pertemuan pertama ... 59

4. Persentase Rata-rata Keterampilan Kolaborasi Kelas VII3 pada Pertemuan pertama ... 60

5. Persentase Rata-rata Keterampilan Kolaborasi Kelas VII2 pada Pertemuan Kedua... 61

6. Persentase Rata-rata Keterampilan Kolaborasi Kelas VII3 pada Pertemuan Kedua... 62

7. Persentase Rata-rata Keterampilan Kolaborasi Kelas VII2 dan VII3 pada Pertemuan Satu dan Dua yang Dilihat dari Masing-masing Aspek ... 64

8. Skor Rata-Rata Gabungan Keterampilan Kolaborasi Perkelas pada LKS 1 dan LKS 2 ... 65

9. Persentase Rata-rata Keterampilan Kolaborasi dari Setiap Kelas ... 66

10.Hasil Jawaban Siswa ... 74

11.Catatan Siswa Saat Penayangan Video ... 74

12.Hasil Jawaban Siswa ... 76

13.Dokumentasi Penelitian ... 76

14.Dokumentasi Penelitian ... 77

(19)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kepentingan membangun arah pendidikan yang lebih terang menjadi semakin signifikan ketika dituntut untuk mempertemukan kebijakan pendidikan dengan perubahan yang terjadi secara global atau internasional, hal ini akibat dari

globalisasi dan modernisasi (Luddin, 2008). Perlunya peningkatan pembangunan dalam bidang pendidikan diharapkan mampu untuk mencapai kualitas pendidikian yang baik. Tercapainya kualitas pendidikan yang baik diharapkan mampu

meningkatkan kualitas manusia dan martabat bangsa terutama bangsa Indonesia.

Penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi penting untuk ditingkatkan melalui pendidikan, dalam pendidikan nantinya dapat menyiapkan manusia yang dapat berinteraksi dengan baik pada perdagangan secara global, investasi,

perjalanan, serta budaya yang populer pada era globalisasi. Globalisasi memiliki dampak positif dan dampak negatif, dampak dari globalisasi tersebut yaitu terjadinya perubahan tata nilai dan sikap, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, tingkat kehidupan yang lebih baik, pola hidup konsumtif, sikap

(20)

2

Peningkatan jumlah industri dan sarana transportasi di dunia teryata juga diikuti oleh peningkatan penggunaan bahan bakar terutama bahan bakar minyak (BBM). Peningkatan penggunaan BBM terutama BBM dari fosil sudah barang tentu juga akan meningkatkan gas karbon dioksida (CO2) sebagai gas hasil pembakaran dari BBM fosil. Seperti diketahui gas CO2 adalah salah satu kompo-nen gas rumah kaca, diperkirakan setiap tahun dilepaskan sekitar 18,35 miliar ton CO2 hal ini mengakibatkan terjadinya pemanasan global (Ramlan, 2002). Dampak dari pemanasan global tentu terjadinya peningkatan suhu global yang dapat merugikan kehidupan mahluk hidup, sehingga pada era sekarang ini perlu adanya

pengetahuan tentang pemanasan global, dampaknya, serta pencegahan yang dapat mengurangi terjadinya pemanasan global. Mencari solusi yang tepat untuk mengatasi pemanasan global adalah salah satu hal penting yang harus dilakukan dan diajarkan sejak dini.

Melalui pendidikan diharapkan nantinya siswa sebagai calon masyarakat dapat menyelesaikan atau mengurangi dampak dari pemanasan global dan secara langsung dapat memberikan solusi yang baik dalam mengurangi pemanasan global. Perlunya model pembelajaran yang tepat dalam menangani masalah tersebut tentu juga menjadi fokus dalam penelitian dunia pendidikan, karena dalam pendidikan harus menyiapkan orang-orang yang mampu membrikan solusi yang baik agar dampak dari pemanasan global dapat diatasi atau dikurangi.

(21)

pembelaja-3

ran dalam pendidikan meliputi suatu proses interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya baik di dalam kegiatan pembelajaran yang bersifat formal, non formal, maupun informal. Melalui pendidikan diharapkan peserta didik mampu mengembangkan potensi dan baik secara materi maupun kualitas dirinya untuk mencapai kesejahteraan dalam bermasyarakat dan kehidupan berbangsa.

Pengembangan keterampilan-keterampilan menjadi penting dalam mengatasi masalah-masalah yang ada saat ini, karena keterampilan yang ada pada paradigma yang ditekankan sangat dibutuhkan saat ini, seperti masalah pemanasan global. Keterampilan abad ke-21 dalam kurikulum tidak hanya bermanfaat bagi siswa dan guru, tetapi juga diperlukan untuk mempersiapkan generasi muda untuk karier masa depan mereka (Alismail & McGuire, 2016). Di era pendidikan saat ini di mana tes standar menentukan keberhasilan sekolah, penting untuk memungkinkan kreativitas siswa dalam menggunakan kekuatan teknologi untuk mendukung keterampilan yang diperlukan dan belajar dengan cara yang unik. Berdasarkan pendapat tersebut bahwa pendidikan yang saat pada abad ini dipersiapkan untuk mengembangkan keterampilan dalam penguasaan teknologi dan kreativitasnya dalam mengatasi masalah yang ada da sebagai persiapan untuk mencapai sebuah karir dimasa depan.

Kebutuhan dalam masyarakat untuk berpikir dan bekerja sama dalam isu-isu yang menjadi perhatian kritis telah meningkat, menggeser penekanan dari upaya

(22)

4

merupakan suatu pendekatan dalam pendidikan dalam upaya meningkatkan pengajaran dan pembelajaran yang melibatkan kelompok peserta didik yang bekerja bersama untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan tugas, membuat produk dan untuk proses penyelidikan.

Keterampilan belajar dan inovasi terdiri dari 4 C pemikiran kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas (Cretu, 2017). Berdasarkan pendapat Cretu (2017) bahwa penting untuk meningkatkan keterampilan yang ada pada Abad 21, dari beberapa keterampilan yang ada pada abad 21 yang disebutkan sebelumnya, salah satu keterampilan yang sangat penting untuk dimiliki serta dikembangkan oleh siswa yaitu keterampilan berkolaborasi. Keterampilan berkolaborasi sangat penting untuk dikembangkan agar siswa dapat bekerja secara berkelompok dalam sebagai bekal untuk menghadapi tantangan di era globalisasi abad ke-21 (Hermawan, dkk 2017).

(23)

5

Adanya model yang sesuai diharapkan dapat membuat siswa lebih terampil dalam berkolaborasi. Model pembelajaran berbasis inquiri menjadi penting dalam meningkatkan kolaborasi siswa, Inquiry-based learning (IBL) bukan hanya sekedar bertanya kepada seorang siswa tentang apa yang ingin dia ketahuinya saja, akan tetapi inquiry di sini melatih keterampilan dan sikap yang

memungkinkan seseorang untuk mengajukan pertanyaan tentang resolusi dan masalah baru sehingga seseorang tersebut mendapatkan informasi baru serta mengaktifkan rasa ingin tahu siswa.

Pembelajaran berbasis inkuiri adalah pendekatan yang dapat digunakan dalam mengembangkan pembelajaran siswa berbakat dan berbakat dan pendekatan yang tumpang tindih dengan properti dan kebutuhan belajar mereka (Ozgur &Yılmaz, 2017). Meskipun banyak jenis dan tingkat pengajaran dan pembelajaran berbasis inkuiri tersedia, secara luas disepakati bahwa pengajaran berbasis inkuiri adalah upaya terorganisir dan disengaja atas nama guru untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran berbasis inkuiri. Tujuan pengajaran inkuiri bukan untuk mentransfer pengetahuan ilmiah, fakta, definisi, dan konsep, tetapi lebih untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk bernalar dan menjadi pembelajar mandiri yang mampu mengidentifikasi pertanyaan utama dan menemukan jawaban yang relevan dengan akuisisi dan perluasan bertahap dari tubuh pengetahuan dan kemampuan ilmiah. Ini adalah pendekatan yang berpusat pada siswa untuk pembelajaran sains (Ješková, dkk 2011).

(24)

6

interpretasi, manipulasi (manipulation) diintegrasikan dengan aspek analisis, generalisasi (generalization) diintegrasikan dengan aspek inferensi, verifikasi (verification) diintegrasikan dengan aspek evaluasi, dan aplikasi (aplication) diintegrasikan dengan aspek penjelasan dan pengaturan diri. Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas, dengan beberapa sintak pembelajaran pada inquiry based-learning dapat menyelesaiakan masalah pemanasan global dan serta dapat mencapai tujuan pembelajaran yang di harapkan. Inquiry-based learning juga diharapkan mampu mengembangkan keterampilankolaborasi,maka untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan suatu pengembangan bahan ajar yang dapat membantu guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran berbasis inkuiri untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa dan mengatasi dampak dari pemanasan global.

Hasil rekapitulasi angket pada penelitian pendahuluan yaitu pada sampel 120 siswa dan 10 guru yang ada dibandar lampung bahwa pendekatan yang sering dugunakan adalah pendekatan langsung dan pendekatan saintifik, penggunaan model ceramah, diskusi melebihi 50% sedangkan untuk inquiry di bawah 50%. Bahan ajar yang digunakan berupa buku paket dan LKS biasa menggunakan dari penerbit akan tetapi ada beberapa yang membuat. Siswa yang belajar tersebut sebenarnya sudah terbiasa dengan berdiskusi dan bekerja secara berkelompok, akan tetapi belum mengacu pada keterampilan kolaborasi siswa yang dilihat dari beberapa indikator yang ada pada keterampilan kolaborasi.

(25)

7

didasarkan pada pandangan bahwa pengetahuan adalah konstruksi sosial.

Kegiatan kolaboratif paling sering didasarkan pada tiga prinsip yaitu: (1) Pelajar atau siswa adalah fokus utama pengajaran, (2) Interaksi dan "melakukan" adalah yang terpenting, (3) Bekerja dalam kelompok adalah cara belajar yang penting.

Bertitik tolak pada masalah-masalah serta latar belakang di atas, maka telah dilakukan penelitian mengenai Pengembangan Lembar Kerja Siswa Topik

Pemanasan Global Berbasis Model Inquiry Based-Learning dalam Meningkatkan Keterampilan Kolaborasi Siswa SMP.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan didapatkan rumusan masalah dalam penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik LKS berbasis model inquiry based-learning yang valid dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa SMP?

2. Bagaimana karakteristik LKS berbasis model inquiry based-learning yang praktis untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa siswa SMP? 3. Bagaimana karakteristik LKS berbasis model inquiry based-learning yang

efektif untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa siswa SMP?

C. Tujuan Penelitian

(26)

8

1. Untuk mengetahui karakteristik Lembar Kerja Siswa berbasis model inquiry based-learning yang dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa SMP.

2. Untuk mengetahui kevalidan pada LKS model inquiry based learning dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa SMP .

3. Untuk mengetahui kepraktisan pada LKS model inquiry based learning untuk meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa SMP.

4. Untuk mengetahui keefektivan pada LKS model inquiry based learning dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa SMP.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu: 1. Peneliti

Bagi peneliti tentunya dapat penambah suatu wawasan pendidikan baik secara teoritik dan praktik, selain itu penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan bahan kajian bagi penelitian serupa di masa yang akan datang. Penambahan pemahaman, keterampilan dan meningkatkan kreativitas dalam berkreasi sebagai calon guru IPA di SMP.

2. Guru

Bagi guru diharapkan mampu bermanfaat dalam meningkatkan kualitas dalam proses kegiatan belajar mengajar serta dapat menjadi referensi dalam penyajian materi lain terkait fenomena dalam kehidupan sehari-hari sekaligus sebagai masukan bagi guru atau praktisi dalam pendidikan untuk lebih

(27)

9

dapat mengoptimalkan kemampuan diri siswa terutama dalam meningkatkan kemampuan berkolabirasi siswa.

3. Peserta Didik

Bagi siswa diharapkan bermanfaat dalam meningkatkan kualitas belajar di kelas serta dapat menjadi suatu perubahan pola pikir terkait materi-materi fenomena dalam kehidupan sehari-hari dan dapat mengenal kerja sama dengan orang lain dengan baik, serta dapat bermanfaat di sekolah maupun di kehidupan bermasyarakat nantinya.

4. Sekolah

Memberikan pengembangan pengetahuan dalam pembelajaran IPA di SMP, khususnya mengenai tahapan dan proses pengembangan yang dilakukan oleh peneliti yaitu pengembanganLKS berbasis Inquiry based-Learning dalam kaitannya dengan keterampilan kolaborasi siswa sehingga dapat menjadi tambahan sumber acuan dalam pembelajaran di sekolah.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah:

1. Model inquiry based-learning yang di kembangkan mengacu pada Wenning (2011) level: (1) Discovery Learning, (2) Interactive Demonstration, (3) Inquiry Lessons, (4) Inquiry Laboratory, (5) Real-World Applications, (6) Hypothetical Inquiry.

(28)

10

solving), bekerja dengan orang lain (Working with others), teknik penyelidikan (Research techniques) dan sintesis (Synthesis).

(29)

11

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. LKS (Lembar Kerja Siswa)

LKS adalah lembaran-lembaran yang berupa panduan untuk latihan dalam proses pembelajaran. LKS digunakan sebagai perangkat pembelajaran yang menjadi pendukung buku dalam pencapaian kompetensi dasar siswa. Trianto (2007) berpendapat bahwa Lembar Kerja siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah. Lembar kegiatan ini dapat berupa panduan untuk latihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan untuk pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen atau demonstrasi.

(30)

12

dalam merancang percobaan IPA dengan langkah percobaan yang cukup sederhana, mudah dipahami, dan dapat dengan mudah dilaksanakan.

Berdasarkan (Permendiknas, 2006) dinyatakan bahwa pada pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) pada penyajian pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dilakukan secara terpadu.

Penyampaian IPA secara terpadu diperlukan sarana berupa model pembelajaran beserta perangkat pembelajaran yang sesuai, yaitu peralatan yang dirancang dengan baik dan bahan seperti LKS (Rahayu, Syafrimen & Wati, 2017). Hal tersebut menjelaskan betapa pentingnya LKS dalam pembelajaran IPA yang dirancang secara terpadu.

Shalikhah (2016) menyimpulkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun LKS yaitu menurut Shalikhah (2016) terdapat langkah langkah sebagai berikut :

1. Analisis Kurikulum

2. Menyusun Peta Kebutuhan LKS 3. Menentukan Judul-Judul LKS 4. Menulis LKS

5. Merumuskan KD

6. Menentukan Alat Penenilaian 7. Menyusun Materi

8. Memperhatikan Struktur Bahan Ajar

(31)

13

LKS dapat berguna bagi guru dan siswa sebagai bahan dalam melaksanakan pembelajaran. LKS dalam hal ini dapat memungkinkan guru untuk mengajar secara sistematis dan maksimal. Hal ini menuntut guru untuk kreativf dalam membuat bahan ajar berupa LKS untuk diberikan kepada siswa dalam proses pembelajaran. Kreativitas guru merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatif tersebut (Nugraheni, 2018).

Tujuan adanya LKS adalah untuk memberikan pengetahuan dan mencari tahu tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah disajikan. Manfaat LKS dalam pembelajaran adalah membantu peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan yang dimiliki, membantu memahami konsep materi yang dipelajari, dan dapat mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran Suyanto dan Sartinem (2009).

Berdasarkan pendapat-pendapat yang ada di atas dengan demikian bahwa format LKS yang akan di kembangkan terdiri dari enam kompenen utama, yaitu terdiri dari judul, tujuan pembelajaran, wacana-wacana materi prasyarat pendahuluan yang dapat berisi fenomena atau fakta, wacana utama, kegiatan pralaboratorium, dan kegiatan laboratorium. Selain itu, Abdurrahman (2015) menjelaskan untuk menyusun sebuah LKS, guru dapat memulai dengan melakukan kajian kurikulum sebagai berikut:

1. Mengkaji KI, KD, Indikator serta materi yang diajarkan; 2. Melakukan pemetaan konsep yang membutuhkan LKS dalam

(32)

14

5. Menentukan alat penilaian/Intrumen penilaian dari LKS yang dibuat, yang secara umum berupa penilaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik; produk yang dihasilkan; batasan waktu yang telah ditentukan dan disepakati; jawaban siswa atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam LKS.

Adapun format LKS yang akan dikembangkan yaitu berupa: 1. Judul

2. Tujuan Pembelajaran

3. Wacana-wacana materi prasyarat berupa pendahuluan, sebagai pengetahuan dan keterampilan yang merupakan bekal awal ajar 4. Wacana Utama

5. Kegiatan mengacu pada sintak inquiry based learning a. Discovery Learning

b. Interactive Demonstration c. Inquiry Lessons

d. Inquiry Labs

e. Hypothetical Inquiry.

Berdasarkan pendapat dia atas bahwa banyak sekali fungsi dari penyususnan LKS bila dilakukan dengan benar dan secara sistematis, hal ini tentu memudahkan bagi guru sebagai fasilitator dan peserta didik dalam proses pembelajaran serta dalam mencapai tujuan belajar dan dapat mengembangkan pengetahuan baik dibantu guru maupun dalam melatih kemampuan diri.

B. Model Inquiry Based-Learning

Pembelajaran berbasis inquiri mengajarkan siswa untuku mengelola suatu fakta atau fenomena untuk memperoleh suatu pengetahuan yang baru. Menurut Mudjiono & Dimyati (2010) bahwa model inkuiri merupakan pengajaran yang mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan,

(33)

15

keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah.

Ismail & Alias (2006) dalam makalahnya menyatakan bahwa Inquiri adalah aktivitas beragam yang memandu peserta didik untuk bertanya atau menghasilkan pertanyaan yang bermakna yang mengarah pada jawaban yang relevan.

Pembelajaran berbasis inkuiri peserta didik diperlihatkan bagaimana cara

mendapatkan pengetahuan agar dapat ditransmisikan dan bagaimana mereka dapat memperoleh pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan untuk menjadi bekal pembelajar seumur hidup.

Pembelajaran berbasis inquiri juga mengajarkan siswa untuk belajar menjadi ilmuan pemula, pendekatan pembelajaran berbasis inkuiri didukung pada aspek pengetahuan tentang proses pembelajaran yang muncul dari suatu penelitian. Hal ini sesuai dengan pendapat Abdi (2014) bahwa pendidikan sains berbasis inquiry mengajarkan peserta didik untuk terlibat dalam banyak kegiatan dan proses berpikir yang digunakan para ilmuwan untuk menghasilkan pengetahuan baru.

Abdi (2014) menjelaskan bahwa dengan metode yang berorientasi penyelidikan akan melibatkan minat siswa dalam pembelajaran sains, memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan teknik yang tepat di laboratorium untuk

mengumpulkan bukti, mengharuskan siswa untuk menyelesaikan suatu

(34)

16

Bila dicari lebih jauh lagi tentang model pembelajaran berbasis inquiri ada banyak definisi berbagai ahli. Menurut Ješková, dkk (2016) bahwa inquiri merupakan suatu proses yang disengaja untuk mendiagnosis suatu masalah, mengkritisi eksperimen dan membedakan alternatif, perencanaan penyelidikan, meneliti dugaan, mencari informasi, membangun model, berdebat dengan rekan kerja dan membentuk argumen yang koheren. Secara singkat Ješková, dkk (2016)

menjelaskan bahwa penyelidikan/inquiri adalah proses dimana siswa secara aktif menyelidiki dunia mereka melalui pertanyaan-pertanyaan dan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Tidak jauh berbeda dengan sains, model pembelajaran inquiri yang dilakukan oleh siswa dapat dilakukan baik secara eksperimen aktif atau dengan memodelkan perilaku dari suatu benda atau suatu fenomena.

Ada beberapa hal berupa kemampuan yag harus dikembangkan oleh siswa dalam pembejaran berbasis inquiri, kemampuan inquiri tersebut menjadi suatu sistem pembelajaran yang sistematis. Kemampuan tersebut sebagai berikut yang dijelaskan oleh Trianto (2010: 168) yaitu:

1. Mengajukan Pertanyaan atau Permasalahan

Adalah kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan diajukan.

2. Merumuskan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data.

3. Mengumpulkan Data

Hipotesis digunakan untuk membantu proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dapat berupa tabel, metrik, atau grafik.

4. Analisis Data

(35)

17

5. Membuat Kesimpulan

Langkah penutup dari pembelajaran inkuiri adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang diperoleh siswa.

Terdapat enam tahap dalamkegiatan IBL (Inqury Based Learning) atau model pembelajaran berbasis inkuiri, hal ini diungkapkan oleh Konstelnikova & Ozvoldova, (2013) yaitu tahap kegiatan pembelajaran inkuiri diawali dari

menemukan masalah, bertanya, menyelidiki, mengumpulkan data, mendiskusikan dan merefleksikan atau mengkomunikasikan

[image:35.595.116.509.445.558.2]

Levels of Inquiry Model of Science Teaching mempertimbangkan faktor-faktor ini dan menggunakan bentuk siklus pembelajaran yang lebih canggih yang lebih mirip dengan karya ilmuwan profesional. Siklus pembelajaran 5 fase yang lebih baru ini dan hubungannya dengan spektrum pertanyaan ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Tingkat Model Pembelajaran Sains Pengajaran Sumber : Wenning (2011)

(36)
[image:36.595.159.507.81.586.2]

18

Tabel 1. Lima Levels Model Inquiry

Level inquiri Tujuan Pedagogis Utama Discovery Learning Siswa mengembangkan konsep

berdasarkan pengalaman langsung (fokus pada keterlibatan aktif untuk membangun pengetahuan).

Interactive Demonstration Siswa terlibat dalam pembuatan penjelasan dan prediksi yang memungkinkan guru untuk memperoleh, mengidentifikasi, menghadapi, dan menyelesaikan konsepsi alternatif (membahas pengetahuan sebelumnya). Inquiry Lesson Siswa mengidentifikasi

prinsip-prinsip ilmiah dan / atau hubungan (kerja kooperatif yang digunakan untuk membangun pengetahuan yang lebih rinci).

Inquiry Laboratory Siswa membuat hukum empiris berdasarkan pengukuran variabel (kerja kolaboratif yang digunakan untuk membangun pengetahuan yang lebih rinci).

Real-world Applications Siswa memecahkan masalah yang berkaitan dengan situasi otentik saat bekerja secara individu atau dalam kelompok kooperatif dan kolaboratif menggunakan pendekatan berbasis masalah & proyek.

Hypothetical Inquiry Siswa menghasilkan penjelasan untuk fenomena yang diamati (mengalami bentuk sains yang lebih realistis).

Sumber : Wenning (2011)

C. Keterampilan Kolaborasi

(37)

19

yang terampil dan mampu berkolaborasi sehingga persaingan yang terjadi secara sehat, berkualitas dan menghargai keberagaman (Cretu, 2017).

Menuruy Cretu (2017) bahwa kompetensi Pengajaran pada abad 21 yang

menekankan kepada kemampuan komunikasi dan kolaborasi sekaligus merupakan implikasi dari globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga pembelajaran pada abad 21 tidak hanya sebagai sebuah proses

pembelajaran transfer pengetahuan, akan tetapi juga sebuah proses berkomunikasi dan berinteraksi sosial antar sesama peserta didik dalam membangun suatu

pengetahuan yang baru. Kolaborasi diterima sebagai pengembangan keterampilan yang berguna untuk mencapai keberhasilan belajar maupun bekal pekerjaan yang efektif yang bermanfaat.

Menurut Hermawan, dkk (2017) bahwa Kemampuan berkolaborasi merupakan satu dari kompetensi penting yang ada pada abad ke-21 yang mengharuska guru di lapangan harus memiliki rubrik tersendiri sebagai pengukur kemampuan

berkolaborasi siswa. Dekade sekarang memungkinkan kolaborasi tidak hanya penting sebagai keterampilan siswa saja tetapi juga diperlukan semua orang dalam bermasyarakat.

Menurut Anantyarta & Sari (2017) bahwa kolaboratif sejalan dengan dengan salah satu keterampilan yang dibutuhkan pada abad 21, dengan pembelajaran yang menekankan hubungan saling belajar, akan menjadikan siswa yang tidak paham menjadi paham karena bantuan teman sejawat. Hubungan timbal balik yang positif akan mendatangkan manfaat. Siswa dapat saling belajar untuk

(38)

20

Siswa-siswi dituntut dalam mengembangkan kemampuan berkolaborasi satu dengan yang lainya dalam kehidupan bermasyarakat secara global. Kemampuan berkolaborasi adalah kemampuan yang perlu dikembangkan dan sangat penting karena merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa pada abad 21 (Hermawan, dkk 2017).

Maridi (2009) mengungkapkan bahwa pengetahuan yang dibangun sebagai hasil dari pembicaraan bersama-sama dan mencapai kesepakatan merupakan

pembelajaran kolaborasi. Esensi dari pembelajaran kolaborasi yaitu dengan bekerja sama secara harmonis dalam mencari solusi terhadap materi atau masalah yang timbul saat pembelajaran. Tujuan pembelajaran kolaborasi adalah

mengembangkan kemampuan berfikir sendiri dan untuk mengurangi watak yang penyendiri/idealis dalam pembelajaran kolaborasi. Pembelajaran kolaborasi lebih cocok untuk pendidikan anak-anak.

Lamb, Maire Dan Doecke (2017) menjelaskan dalam laporanya bahwa kolaborasi sering dianggap sebagai keterampilan sosial, di samping ketegasan, tanggung jawab, dan empati. Sebagian besar pendidikan disusun berdasarkan pembelajaran dan penilaian individu, dan peran kolaborasi dan kerja sama hanya diakui pada batas pembelajaran siswa secara individu.

(39)

21

cukup untuk mengubah keterampilan ini menjadi hasil belajar yang sah, kurangnya hubungan antara keterampilan interpersonal dan prestasi akademik tidak cukup untuk menganggap keterampilan sebagai hasil belajar yang sah.

Child dan Simon (2016) menyatakan bahwa aspek dasar dari kegiatan kolaboratif merupakan kegiatan yang cukup baik bila dilatih dalam literatur. Kompetensi pemecahan masalah kolaboratif adalah kapasitas individu yang secara efektif terlibat dalam suatu proses di mana dua atau lebih agen berusaha untuk

memecahkan masalah yang berbagi pemahaman dan upaya yang diperlukan untuk mencapai solusi dan mengumpulkan pengetahuan, keterampilan dan upaya

mereka untuk mencapai sebuah solusi. kolaborasi sebagai "situasi di mana dua orang atau lebih belajar atau berusaha untuk belajar sesuatu bersama". Di sisi lain kolaborasi sebagai hasil menyiratkan bahwa produk akhir lebih diutamakan daripada cara untuk mencapai tujuan.

Child dan Simon (2016) telah mengidentifikasi enam aspek mendasar dari proses kolaboratif, ke enam aspek tersebut yaitu:

1. Social interdependence (Saling ketergantungan sosial) 2. Introduction of new ideas (Pengenalan ide-ide baru) 3. Cooperation/task division (Divisi kerja sama / tugas) 4. Conflict resolution (Resolusi konflik)

5. Sharing of resources (Mencari berbagi sumber daya) 6. Communication (Komunikasi)

(40)

22

Olakanmi (2016) dalam penelitianya menyimpulkan bahwa CRSLQ (co-regulated strategy for learning questionnaire /strategi co-regulated untuk pembelajaran kuesioner) yang dikembangkan memiliki skor validitas dan reliabilitas yang tinggi. Oleh karena itu, ini dapat berfungsi sebagai alat yang berguna bagi para peneliti dan guru untuk menyelidiki aspek penting dari keterlibatan belajar siswa selama pembelajaran sains. Informasi ini dapat membimbing guru kelas dalam memfokuskan kembali praktik mengajar mereka dan memberikan peluang untuk pengembangan kepercayaan motivasi siswa dan peraturan bersama.

Menurut Hermawan, dkk (2017) bahwa Rubrik standar kemampuan berkolaborasi dari International Reading Association (IRA) ini memiliki 5 aspek yaitu kontribusi (Contributions), manajemen waktu (Time management), pemecahan masalah (Problem solving), bekerja dengan orang lain (Working with others), teknik penyelidikan (Research techniques) dan sintesis (Synthesis).

Penjelasan dari masing-masing aspek kolaborasi sebagai berikut,

1. Aspek kontribusi (Contributions) merupakan aspek yang menjelaskan bagaimana karakteristik sikap siswa dalam memberikan gagasan atau ide sehingga mampu berpasrtisipasi ketika kegiatan diskusi kelompok. 2. Aspek manajemen waktu (Time management) merupakan aspek yang

menjelaskan karakteristik sikap siswa dalam mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas kelompok dengan tepat waktu. Aspek pemecahan masalah (Problem solving) merupakan aspek yang menjelaskan

(41)

23

3. Aspek bekerja dengan orang lain (Working with others) merupakan aspek yang menjelaskan karakteristik sikap siswa dalam mendengarkan

pendapat/ide rekan kelompok dan membantu menyelesaikan tugas kelompok.

4. Aspek teknik penyelidikan (Research techniques) merupakan aspek yang menjelaskan karakteristik sikap siswa dalam mencari sumber-sumber konten atau teori untuk menjawab/memecahkan permasalahan.

5. Aspek sintesis (Synthesis) merupakn aspek yang menjelaskan karakteristik sikap siswa dalam menyusun gagasan yang kompleks kedalam susunan yang struktur. Namun dalam penelitian ini, aspek sintesis tidak digunakan karena siswa SMP dianggap belum siap untuk mensintesis gagasan yang kompleks.( Hermawan, dkk 2017)

Berdasar pada pendapat Hermawan, dkk (2017) maka kompetensi kolaborasi yang dikembangkan pada penelitian ini yaitu kontribusi,manajemen waktu, pemecahan masalah, bekerja dengan orang lain,teknik penyelidikandan sintesis.

D. LKS, Inquiry Based Learning dan Ketelampilan Kolaborasi

Pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini akan mengutamakan

(42)

24

merangkum atau menyimpulkan sebuah informasi berupa pesan dalam proses pembelajaran.

Penggunaan LKS (Lembar Kerja Siswa) pada penelitian menjadi fokus utama serta meningkatkan keterampilah kolaboratif, LKS di buat dengan menggunakan model pembelajaran berbasis inquiri (inquiry based learning). Inquiry based learning terdiri dari beberapa langkah pembelajaran yaitu langkah pertama

memberikan stimulasi kepada siswa, langkah kedua memberikan kesempatan pada siswa untuk mengidentifikasi masalah, langkah ketiga, yaitu untuk mengetahui kebenaran hipotesis maka siswa diberikan kesempatan untuk mengumpulkan data, langkah keempat mengolah data yang diperoleh dari pengumpulan data, langkah kelima membuktikan hasil data yang telah diolah, dan menarik dan yang terakhir menarik kesimpulan atau generalisasi.

LKS model inquiry based learning yang dibuat dalam pengembangan ini disesuaikan dengan Depdiknas (2008), yaitu teridri dari: Judul, Petunjuk belajar (Petunjuk siswa), Kompetensi yang akan dicapai, Informasi pendukung, Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja, serta Penilaian. LKS dengan model ini menekankan pada lembar kegiataan pembelajaran, kegiatan pembelajaran memaksimalkan siswa untuk aktif dalam mengisi dan mengikuti segala petunjuk yang ada dalam LKS yang menggunakan model inquiry based learning.

(43)

25

Sejalan dengan hal tersebut bahwa hubungan saling belajar antara siswa satu dengan yang lain merupakan pembelajaran yang berangkat dari pertanyaan siswa yang paham dan yang tidak paham sehingga mendapatkan manfaat serta terjadi hubungan timbal balik antara keduanya. Jadi, dalam hal ini yaitu keterampilan kolaborasi siswa didapatkan dengan saling belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka dengan demikian maka model inquiry based learning ini efektif dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa.

E. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pikir di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: 1. LKS berbasis model inquiry based learning hasil pengembangan dalam

meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa SMP memiliki kevalidan yang valid.

2. LKS berbasis model inquiry based learning hasil pengembangan dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa SMP memiliki kepraktisan yang praktis.

(44)

26

III. METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian menggunakan teori Borg dan Gall (1983) yaitu Research and Development (R&D)yang merupakan suatu desain penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2010). Menurut Borg dan Gall (1983) bahwa “ educational reasearh and development ( R & D) is a process used to develop and validate educational

production”. Pernyataan tersebut telah jelas bahwa rangkaian langkah-langkah dalam penelitian dan pengembangan dilakukan secara siklis dan pada setiap langkah yang dilalui selalu mengacu pada hasil langkah sebelumnya hingga pada akhir dari penelitian diperoleh produk yang terbaru.

Borg & Gall (1983) menyatakan bahwa ada beberapa langkah atau tahap dalam penelitian pengembangan yaitu “ Reseach and information collecting, planning, develop preliminary form of product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, operational product revision, operational field testing, final product revision, and dissemination and implementation”. Tahap-tahap tersebut terdiri dari 10 (sepuluh) tahap dalam penelitian dan pengembangan yang dikemukanan oleh Borg & Gall (1983).

(45)

27

pengembangan. Namun pada penelitian ini digunakan 7 langkah saja, yang terdiri dari: (1) penelitian dan pengumpulan informasi (reseach and information

collecting), (2) perencanaan (planning), (3) pengembangan produk awal (develop preliminary form of product), (4) uji coba terbatas(preliminary field testing), (5) revisi produk awal (main product revision), (6) uji coba lapangan )main field testing), (7) revisi produk akhir (operational product revision). (8) uji coba operasional (operasional field testing), (9) revisi produk akhir (final product revision), dan (10) desiminasi dan distribusi (desimination and distribution).

Metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan atau menvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan dan pembelajaran. Penelitian dan pengembangan merupakan jembatan antara penelitian dasar dengan penelitian terapan dimana penelitian ini bertujuan menemukan pengetahuan yang secara praktis dan dapat diaplikasikan (Sugiyono, 2010: 11)

B. Subjek Penelitian

(46)

28

C. Prosedur Pengembangan

[image:46.595.144.491.228.624.2]

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengacu pada desain penelitian yang dikemukakan oleh Borg & Gall (1983). Produk yang dikembangkan berupa LKS materi Pemanasan Global dengan model pembelajaran inquiry based learning dalam menumbuhakan keterampilan kolaborasi siswa.

Gambar 2. Langkah-langkah Pengembangan LKS berdasar metode R&D

1. Penelitian dan Pengumpulan Informasi

Penelitian dan pengumpulan informasi diartikan sebagai penelitian awal dengan melakukan penyebaran angket guru dan siswa atau ang biasa

Penelitian dan

pengumpulan informasi

Perencanaan

Pengembangan produk awal

Uji coba terbatas

Revisi produk awal

Uji coba lapangan

Revisi produk akhir

Need Assesment, Analisis Teori/pustaka

kepraktisan LKS

Perbaikan produk

Pengujian produk LKS pada siswa

Penyempurnaan Produk akhir

Rancangan awal LKS

(47)

29

disebut dengan Need Assessment tentang model pembelajaran yang telah digunakan di sekolah dan pencarian informasi berupa teori-teori yang dapat mendukung penelitian.

2. Perencanaan

Perencanaan pengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan penelitian, bahan ajar yang akan dikembangkan berupa LKS.

3. Pengembangan Produk Awal

Pengembangan produk awal Membuat desain LKS, pengembangan LKS, hingga pembuatan layout yaitu mengembangan LKS dengan langkah pengembangan bahan ajar menurut depdiknas (2008: 20) dengan langkah-langkah yaitu: (1) Analisis SK dan KD, (2) Menentukan judul LKS, (3) Penulisan LKS (Perumusan KD yang harus dikuasai, Menentukan alat evaluasi/penilaian, Penyusunan Materi, Urutan pembelajaran, Struktur bahan ajar/LKS), pengembangan menyesuaikan dengan kurikulum terbaru, dalam hal ini analisis Sk diganti dengan Analisis KI dan KD.

a. Analisis Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Analisis dimaksudkan untuk menentukan materi-materi yang akan digunakan dalam pengembangan dan yang memerlukan bahan ajar dalam penerapanya. Penentuan materi dianalisis dengan cara melihat inti dari materi yang akan diajarkan, kemudian kompetesi apa yang harus dimiliki siswa dan hasil belajar yang harus dimiliki oleh siswa (critical learning outcomes)..

b. Menentukan Judul LKS

(48)

30

dari analisis KD-KD yang terdapat pada silabus tersebut maka dipilih materi Pemanasan Global sebagai LKS yang dikembangakan untuk proses penelitian

c. Penulisan LKS

Penulisan LKS dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Perumusan KD yang harus dikuasai

Perumusan KD pada LKS merupakan suatu spesifikasi kualitas yang seharusnya dimiliki peserta didik dalam menyelesaikan LKS tersebut pada Pemanasan Global. KD yang tercantum dalam LKS diambil dari pedoman khusus kurikulum 2013 Revisi terbaru. Apabila terjadi ketidak berhasilan pada perseta didik sebagai yang dirumuskan dalam KD yang digunakan, maka KD pembelajaran dalam LKS itu harus dirumuskan kembali, dengan demikian maka perlu adanya revisi sampai tujuan pembelajaran pada materi Pemanasan Global dapat tercapai.

2) Menentukan alat evaluasi/penilaian

Penentuan evaluasi dapat disusun setelah penentuan KD yang akan dicapai dan dapat ditentukan sebelum menyusun materi dan lembar kerja berupa tugas-tugas yang akan dikerjakan oleh peserta didik nantinya, sehingga pengerjaan evaluasi benar-benar akan sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh peserta didik.

d. Penyusunan Materi

(49)

31

Tugas yang akan dikerjakan oleh siswa harus ditulis secara jelas agar mengurangi pertanyaan yang datang dari siswa mengenai hal-hal yang seharusnya siswa dapat dikerjakanya sendiri. Penggunaan LKS pada penelitian ini dibuat dengan model Inquiry Based Learning agar siswa dapat menemukan sendiri dari sebuah penyelidikan yang dilakukanya, sehingga tercapailah tujuan pembelajaran yang di inginkan KD dan menjadi inovasi dalam proses belajar mengajar.

e. Urutan pembelajaran

Urutan pembelajaran dapat diberikan dalam petunjuk menggunakan LKS. Dibuatkan petunjuk bagi guru yang akan mengajarkan materi tersebut dan petunjuk bagi siswa. Petunjuk siswa diarahkan kepada hal-hal yang harus dikerjakan sehingga pembelajaran lebih tertib dan terarah dalam mencapai tujuan pembelajaran.

f. Struktur bahan ajar/LKS

Berdasarkan Abdurrahman (2015) tentang format LKS, struktur LKS dapat bervariasi, tergantung pada karakter materi yang akan disajikan, ketersediaan sumber daya dan kegiatan belajar yang akan dilakukan. Secara umum LKS harus memuat paling tidak:

1) Judul

Judul pada penelitian pengembangan ini yaitu berdasarkan analisis dari KI dan KD pada mata pelajaran IPA SMP kelas VII materi Pemanasan Global sebagai judul dalam penelitian pengembangan ini.

2) Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)

(50)

32

dengan petunjuk belajar kepada hal-hal yang akan dikerjakan sehingga pembelajaran akan lebih tertib dan tencapainya tujuan pembelajaran sesuai dengan KD yang diinginkan.

3) Kompetensi yang akan dicapai

Berupa analisis tujuan pembelajaran berdasarkan KD yang terdapat dalam materi Pemanasan Global dengan menggunakan model Inquiry Based Learning dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa.

4) Petunjuk kerja,

Berupa Lembar Kerja (LK), Pada penelitian ini LK menggunakan tahapan model inkuiri.

5) Informasi pendukung

Berupa sumber-sumber dari media lain seperti internet, buku yang tidak dicantumkan dalam LKS secara keseluruhan akan tetapi siswa dapat mengaksesnya dengan mencantumkan alamat internet yang dapat di akses secara langsung.

6) Proses pembelajaran menggunakan inquiry based-learning Discovery

Learning

Pada langkah ini, siswa mengamati perubahan suhu, curah hujan dan perubahan angin serta awan berdasarkan data; mengidentifikasi jumlah yang mungkin terukur (secara kualitatif). Setelah pengamatan, siswa dapat membangun konsep perubahan iklim dan pemanasan global. Kemudian siswa menyimpulkan pengertian pemansan global serta perubahan iklim. Melalui kegiatan ini siswa dapat membedakan proses terjadinya perubahan iklim dan pemansan global. Siswa pada level ini diperkenalkan dengan grafik data.

Interactive Demonstrations

(51)

33

berbagai sumber penyebab, menentukan penyebab alami dan buatan manusia, membuat tabel perbedaan penyebabnya. Siswa menjelaskan penyebab pemanasan global melaui tabel yang dibuat serta grafik bila ada

Inquiry Lessons Pada tahap ini, siswa diajak untuk membuat grafik hubungan penumpukan senyawa karbon diaoksida dengan aktivitas manusia baik secara alamami maupun kegiatan yang berupa industri. Guru membantu siswa menentukan sumber CO2 apa yang diamati pada setiap kelompok.

Inquiry Laboratory

Pada tahap ini, siswa diberi beberapa data tentang luas hutan saat ini, luas es di kutub dari tahun-ketahun serta perkiraan musim yang terjadi di indonesia; siswa diberikan data berupa penumpukan CO2 di atmosfer setelah itu siswa membuat dan menganalisis pegaruhnya terhadap pemanasan global. serta; generalisasi dari jumlah senyawa CO2 yang berlebihan menyebabkan pemanasan global. Merumuskan prinsip dan membuat generalisasi bahwa penyebab utama pemanasan global adalah senyawa CO2 yang jumlahnya berlebihan di atmosfer. Real-world

Applications

Pada tahap ini, siswa diberi permasalahan tentang usaha dalam menanggulangi kasus pemanasan global yang terjadi. Siswa menganalisis data-data yang diberikan, mengajukan ide solusi

permasalahan. Siswa dapat menggunakan data dalam menyelesaikan masalah terkait dengan penganggulangan serta pencegahan dar pemanasan global

Hypothetical Inquiry

Pada tahap ini, siswa menghasilkan dan menguji penjelasan

7) Latihan-Latihan

Latihan-latihan soal ini dalam LKS berupa pertanyaan diskusi yang dibuat untuk melatih tingkat pemahaman siswa.

(52)

34

Setelah selesai mengembangkan produk maka dilakukan validasi produk yang dilakukan oleh ahli. Validasi ahli dilakukan dengan melibatkan 2 dosen Universitas Lampung yang terdiri dari aspek konstruksi dan aspek substansi LKS, selain itu validasi oleh ahli, pneliti juga melakukan validasi kepada satu orang gurun sebagai praktisi.

4. Uji Coba Terbatas

Uji coba terbatas dilakukan dengan cara mengambil sampel satu kelas menggunakan produk yang sudah divalidasi. Uji coba terbatas yang telah dilakukan menggunakan satu kelas di SMPN 1 Gunung Sugih yangbukan merupakan kelas yang akan digunakan saat uji coba lapangan. Uji coba terbatas yang dilakukan yaitu untuk melihat respon siswa dan guru mengenai kepraktisan dari LKS yang telah dikembangkan.

5. Revisi Produk Awal

Revisi produk dilakukan dengan merevisi produk yang telah dibuat sesuai dengan masukan dari beberapa ahli yang memvalidasi produk, dari produk

yang direvisi tersebut kemudian dihasilkan produk yang siap di uji coba

lapangan.

6. Uji Coba Lapangan

Uji coba lapangan yaitu penggunaan produk yang telah direvisi dan dinyatakan valid oleh ahli untuk dilakukan uji coba pada pembelajaran IPA kelas VII di

(53)

35

Desain penelitian ini akan menggunakan one-shot case study. Desain 2 kelompok eksperimen dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria yang diinginkan.

7. Revisi Produk Akhir

Revisi produk akhir dilakukan setelah pengujian lapangan selesai, revisi produk

akhir dilakukan dengan melihat catatan dan masukan yang didapatkan dari hasil

uji coba lapangan selama penelitian.

D. Intrumen Penelitian

Instrumen secara umum merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mempermudah dalam pengukuran atau pelaksanaan sesuatu kegiatan

pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data merupakan alat yang digunakan oleh pengumpul data untuk melaksanakan tugasnya mengumpulkan data

(Arikunto, 2010). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket analisis kebutuhan, instrumen uji validitas LKS, lembar observasi kepraktisan dan lembar obervasi keefektifan keterampilan kolaborasi siswa. Berikut merupakan gambaran secara umur instrumen yang digunakan dalam pengembangan ini.

1. Studi Pendahuluan

(54)

36

a) Instrument Analisis Kebutuhan Guru

Angket yang diberikan kepada guru diisi oleh guru sebagai angket pendahuluan mengenai pengembangan LKS yang berbasis inquiry based-learning. Beberapa aspek yang ditanyakan tentunya berkaitan dengan LKS yang digunakan saat proses pembelajaran di sekolah, pembelajaran yang dilakukan selama ini pernah menggunakan LKS berbasis inquiry based-learning dan LKS yang digunakan selama ini mampu mengukur keterampilan kolaborasi siswa.

b) Instrumen Analisis Kebutuhan Siswa

Pengisian angket dilakukan oleh siswa sebagai data pendahuluan mengenai pengembangan LKS yang berbasis inquiry based-learning. Beberapa aspek yang ditanyakan pada angket ini yaitu berkaitan dengan LKS yang sering dikerjakan siswa saat proses pembelajaran, pembelajaran yang dilakukan selama ini pernah menggunakan LKS berbasis inquiry based-learning dan LKS yang digunakan apakah pernah mengukur aspek-aspek pada

keterampilan kolaborasi siswa.

2. Instrumen Validasi Ahli dan Praktisi (Guru)

Instrument yang selanjutnya yaitu Instrument Validasi Ahli dan Praktisi (Guru) yang terdiri dari angket kesesuaian isi dan konstruk terhadap LKS berbasis inquiry based-learning.

a) Instrument Validasi Aspek Isi

(55)

37

dikembangkan, dan kesesuaian materi yang berdasarkan indikator yang dikembangkan. Instrumen yang dikembangkan juga melihat bagaimana kesesuaian isi sintak LKS berbasis inquiry based-learning. Pembuatan Iinstrumen ini tentunya dilengkapi juga kolom saran sebagai saran/ masukan guna perbaikan produk yang dilakukan oleh validator.

b) Instrumen Validasi Konstruk

Instrumen validasi konstruk berupa angket yang disusun untuk mengetahui kesesuaian konstruk LKS berbasis inquiry based-learning pengorganisasian LKS yang akan dikembangkan, proses kegiatan pembelajarandan pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam LKS. Selain itu aspek keterbacaan pada LKS harus disesuaikan dengan konsep penulisan yang jelas dan format LKS yang ideal. Pembuatan instrumen ini tentunya dilengkapi juga kolom saran sebagai saran/ masukan guna perbaikan produk yang dilakukan oleh validator.

3. Instrument Uji Kepraktisan a) Instrumen Keterlaksanaan Produk

Instrumen keterlaksanaan produk berupa lembar observasi berupa

pernyataan-pernyataan yang dimaksudkan untuk menilai keterlaksanaan LKS berbasis inquiry based-learning yang dikembangkan, pembuatan instrumen ini dilengkapi dengan kolom saran sebagai masukan guna perbaikan produk yang dilakukan oleh observer.

4. Instrument Keefektifan

(56)

38

dan peran siswa dalam kelompok serta melihat keterampilan kolaborasi yang dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran menggunakan LKS berbasis

inquiry based-learning. Lembar observasi ini diisi oleh Observer, penyusunan lembar obervasi mengadopsi instrumen yang dikembangkan oleh Hermawan, dkk (2017).

E. Teknik Pengumpulan Data

Sumber data dalam penelitian ini berasal dari uji validasi oleh validator, serta data penelitian dari observer, guru dan siswa. Pada tahap studi pendahuluan, sumber data diperoleh dari hasil pengisian angket analisis kebutuhan yang dilakukan oleh guru IPA dan siswa. Pada tahap validasi, sumber data diperoleh dari hasil validasi kesesuaian isi dan konstruk oleh ahli. Pada tahap uji coba terbatas sumber data diperoleh dari hasil respon tanggapan guru mengenai isi dan kemenarikan LKS hasil pengembangan dan siswa mengenai kemenarikan LKS hasil pengembangan. Pada tahap uji lapangan atau implementasi untuk mengetahui keefektifan LKS, pengumpulan data dilakukan dengan memberikan pretes pada siswa diawal pembelajaran pertemuan pertama dan postes pada akhir pembelajaran. Untuk mengetahui kepraktisan pada uji ini data dikumpulkan dari lembar observasi keterlaksaan pembelajaran dengan menggunakan LKS, lembar observasi kemampuan guru mengelola kelas, lembar respon siswa (aspek kemenarikan pembelajaran) dan lembar observasi aktivitas siswa.

(57)

39

responden untuk dijawab. Angket merupakan teknik pengumpulan data dengan memberikan seperangkat pernyataan tertulis kepada responden untuk ditanggapi (Arikunto, 2010). Pada penelitian ini, angket yang digunakan yaitu berupa angket dengan jawaban tertutup, serta ditanggapi dengan memberi saran pada kolom yang telah disediakan pada intrumen validasi ahli dan praktisi, dan respon siswa terhadap LKS hasil pengembangan. Observasi dilakukan dengan mengamati keterlaksanaan LKS yang digunakan untuk membelajarkan materi Pemanasan Global, mengamati kemampuan kolaborasi siswa dalam pembelajaran oleh Observer.

Kuisioner dilakukan pada validasi, pada uji coba terbatas LKS, dan uji implemenasi. Validasi LKS terdiri dari validasi ahli oleh 2 dosen dan praktisi yaitu 1 orang guru IPA SMP. Pada validasi kesesuaian isi dan konstruk,

pengumpulan data dilakukan dengan menunjukan LKS materi pemanasan global model Inquiry Based Learning, kemudian meminta validator untuk mengisi angket validasi LKS yang dikembangkan. Pada uji coba terbatas untuk

mengetahui kepraktisan LKS, pengumpulan data dilakukan dengan menunjukkan LKS, kemudian meminta guru mengisi angket respon tanggapan guru.

(58)

40

F. Teknik Analisis Data

Sumber data yang didapatkan dalam penelitian ini berasal dari validator ahli yaitu dosen serta guru, observer dengan menggunakan lembar observasi, guru dan siswa. Pada tahap studi pendahuluan, sumber data yang diperoleh berasal dari hasil pengisian angket kebutuhan dari guru dan siswa tingkat SMP pada mata pelajaran IPA. Pada tahap validasi, sumber data diperoleh dari hasil validasi substansi dan konstruk oleh ahli..

Teknik analisis data dilakukan di SMP Negeri 1 Gunung Sugih, untuk uji kevalidan bertujuan untuk mengetahui kesesuaian materi pembelajaran maka dilakukan uji ahli materi dan uji ahli desain, melalui uji kevalidan. Kesesuaian data tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan produk. Untuk mengetahui kepraktisan produk dilakukan uji coba lapangan secara langsung kepada siswa melalui uji coba terbatas. Selanjutnya untuk megetahui keefektivitas produk dilakukan lembar observasi kolaborasi siswa.

Uji kevalidan dan uji coba lapangan yang dilakukan bertujuan untuk menilai kesesuaian produk sebagai media pembelajaran. Penilaian uji kevalidan memiliki 2 pilihan jawaban yaitu: “ Ya” atau “tidak”. Jawaban tersebut memberikan arti tentang kelayakan produk tersebut. Untuk jawaban tidak maka perlu dilakukan revisi kembali.

(59)

41

digunakan oleh semua orang (observer) dalam kegiatan pembelajaran pada semua materi.

Teknik analisis data dilakukan dengan melakukan tabulasi data berdasarkan klasifikasi yang dibuat, bertujuan untuk memberikan gambaran frekuensi dan kecenderungan dari setiap jawaban berdasarkan pertanyaan yang tertera di angket pada siswa dan guru. Menghitung persentase jawaban, bertujuan untuk melihat besarnya persentase setiap jawaban dari pertanyaan, sehingga data yang diperoleh dapat dianalisis sebagai temuan. Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase jawaban responden setiap item adalah sebagai berikut:

Keterangan: %Jin = Persentase pilihan jawaban-i



Ji= Jumlah responden yang menjawab jawaban-i N = Jumlah seluruh responden

Untuk hasil validasi ahli dan praktisi akan digunakan untuk merevisi produk LKS berbasis model inquiry based-learning yang dikembangkan, jika hasil validasi oleh 3 orang ahli berkategori valid dan persentasenya minimal 69,00 % maka produk tersebut layak digunakan.

Validitas terhadap LKS berbasis model inquiry based-learning yang

dikembangkan dan perangkatnya dihitung berdasarkan skor yang diberikan oleh validator dengan menghitung jumlah skor yang diberikan validator, menghitung persentase ketercapaian skor dari skor maksimal untuk setiap aspek yang dinilai, dan menghitung rata-rata persen keterapaian skor oleh 3 orang ahli lalu

(60)
[image:60.595.120.457.92.200.2]

42

Tabel 2. Kategori Validitas Konstruksi dan Substansi

No Persentase Kriteria

1 21,00 % - 36,00% Tidak valid

2 37,00 % - 52,00% Kurang valid

3 53,00 % - 68,00% Cukup valid

4 69,00 % - 84,00% Valid

5 85,00 % - 100,00% Sangat valid

(Ratumanan, 2003)

Analisis keefektivan dilakukan dengan menggunakan analisis lembar observasi dengan rubrik yang ditampilkan pada Tabel 3. sebagai berikut.

Tabel 3. Rublik Penilaian Aspek Kolaboratif Aspek

Kolaborasi Kegiatan Penilaian Skor Penilaian

Kontribusi Dalam diskusi kelompok kecil tidak memberi

gagasan dan tidak ikut berpartisipasi. 1

Dalam diskusi kelompok kecil jarang (hanya 1 kali) member gagasan. Namun sedikit (hanya 1 kali) berpartisipasi.

2

Dalam diskusi kelompok kecil sering (hanya 2 kali) member gagasan. Namun tidak sering (hanya 2 kali) berkontribusi dalam

berpartisipasi

3

Dalam diskusi kelompok kecil sangat sering (lebih dari 2 kali) memberi gagasan yang menjadi acuan dalam diskusi. Mampu memimpin diskusi dan sering (lebih dari 2 kali) berkontribusi dalam berpartisipasi.

4

Manajemen Waktu

Tidak mengerjakan tugas, sehingga

menyebabkan kelompok memperpanjang batas waktu pengerjaannya

1

Tugas diselesaikan, namun terlambat > 3 menit dari waktu yang ditentukan. Sehingga

menyebabkan kelompok Memperpanjang batas waktu pengerjaannya.

2

Tugas diselesaikan, namun terlambat ≤ 3 menit dari waktu yang ditentukan. sehingga masih tidak menyebabkan kelompok memperpanjang batas waktu pengerjaannya

3

Menyelesaikan tugas tepat waktu atau selesai sebelum batas waktu, sehingga tidak pernah menyebabkan kelompok memperpanjang batas waktu pengerjaannya.

4

Pemecahan Masalah

Tidak ada usaha untuk menemukan dan memberi jawaban atas permasalahan serta memberikan semua tugas (mengandalkan)

[image:60.595.115.515.278.746.2]
(61)

43

Aspek

Kolaborasi Kegiatan Penilaian Skor Penilaian

Pemecahan Masalah

kepada orang lain.

Jarang (hanya 1 kali) melakukan usaha untuk mencari jawaban atas permasalahan dan menggu-nakan solusi yang digagaskan oleh orang lain.

2

Sering (hanya 2 kali) melakukan usaha untuk mencari jawaban atas permasalahan, tetapi solusi yang ditemukan hasil pengembangan dari gagasan orang lain.

3

Sangat sering (lebih dari 2 kali) melakukan usaha yang jelas untuk menemukan dan memberikan gagasan sendiri untuk menjawab permasalahan.

4

Bekerja Dengan Orang Lain

Tidak mendengarkan pendapat orang lain atau tidak membantu orang lain dan tidak

berpartisipasi dalam kerja kelompok.

1

Jarang (hanya 1 kali) mendengarkan pendapat orang lain dan jarang (hanya 1 kali) membantu orang lain dikarenakan kesulitan untuk kerja kelompok.

2

Sering (hanya 2 kali) mendengarkan pendapat orang lain dengan baik dan sering (hanya 2 kali) membantu orang lain, namun tidak memudahkan dalam kerja kelompok.

3

Sangat sering (lebih dari 2 kali) mendengarkan pendapat orang lain dengan baik dan sangat sering (lebih dari 2 kali) membantu orang lain sehingga memudahkan dalam kerja kelompok.

4

Teknik Peyelidikan

Mengerjakan sedidaknya satu prosedur saja dari semua prosedur teknik penyelidikan pada LKS. 1 Mengerjakan sekurang-kurangnya seperempat

dari semua prosedur teknik penyelidikan pada LKS.

2

Mengerjakan sekurang-kurangnya setengah dari semua prosedur teknik penyelidikan pada LKS. 3 Mengerjakan semua prosedur teknik

penyelidikan pada LKS. 4

Instrumen yang digunakan memiliki 4 pilihan jawaban, sehingga penilaian total dapat dicari dengan menggunakan rumus:

𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖𝑎𝑛 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ

(62)

44

Dari hasil penilaian tersebut kemudian dicari rata-ratanya dari sejumlah subjek sampel uji coba dan dikonversikan untuk menentukan keefektifan produk LKS dalam meningkatkan kemampuan kolaborasi siswa.

[image:62.595.146.408.283.388.2]

Hasil konversi ini diperoleh dengan melakukan analisis secara deskriptif terhadap skor penilaian yang diperoleh. Pengkonversian skor menjadi pernyataan penilaian ini dapat dilihat dalam Tabel 4.

Tabel 4. Konversi Skor Angket Kolaborasi Presentase (%) Kategori

(63)

78

78

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Pengembangan lembar kerja siswa berbasis model inquiry based-learning

memiliki karakteristik (1) Discovery Learning, (2) Interactive

Demonstration, (3) Inquiry Lessons, (4) Inquiry Laboratory, (5)

Real-World Applications, (6) Hypothetical Inquiry pada topik pemanasan global dalam menumbuhkan keterampilan kolaborasi dengan uji validasi substansi dan konstruksi dinyatakan valid.

2. Kepraktisan lembar kerja siswa berbasis model inquiry based-learning memiliki karakteristik (1) Discovery Learning, (2) Interactive

Demonstration, (3) Inquiry Lessons, (4) Inquiry Laboratory, (5) Real-World Applications, (6) Hypothetical Inquiry pada topik pemanasan global dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi berkategori tinggi. 3. Keefektivan LKS menggunakan inquiry based learning model inquiry

based-learning memiliki karakteristik (1) Discovery Learning, (2) Interactive Demonstration, (3) Inquiry Lessons, (4) Inquiry Laboratory, (5) Real-World Applications, (6) Hypothetical Inquiry pada topik

(64)

79

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan LKS berbasis model inquiry based learning topikpemanasan global dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:

1. Bagi calon peneliti dapat sebagai sumber mengenai inquiry based learning dan materi yang akan dikembangkan, sehingga LKS yang dikembangkan lebih baik lagi selain itu peneliti harus sangat memahami keterampilan kolaborasi dan inquiry based learning.

2. Bagi guru yang akan mengajar dapat menjadi pengetahuan mengenai inquiry based learning dan materi pemanasan global yang efektif agar pembelajaran lebih berarti karena terbukti dapat meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa.

Figure

Tabel  1. Lima
Gambar 1.
Tabel 1. Lima Levels Model Inquiry Level inquiri Tujuan Pedagogis Utama
Gambar 2. Langkah-langkah Pengembangan LKS berdasar metode R&D
+3

References

Related documents

In the SEASIDE project we aim to bridge the gap between discourse processing and semantic argument structure information by (i) enriching semantic role labelling with

One pos- sible reason is that the transition actions for the parser in this paper already include graph infor- mation, such as the label of the newly gener- ated constituent, while

Proceedings of NAACL HLT 2007 Proceedings of SSST, NAACL HLT 2007 / AMTA Workshop on Syntax and Structure in Statistical Translation, pages 49?56, Rochester, New York, April 2007

Index Terms- Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD); emphysema; dyspnea; COPD treatment; bronchodilator; tobacco

IJRAT paper format International Journal of Research in Advent Technology, Vol 6, No 12, December 2018 E ISSN 2321 9637 Available online at www ijrat org 3335 Development of Hybrid

Selim “Automated Brain Tumor Detection and Identification Using Image Processing and Probabilistic Neural Network Techniques” International Journal of Image

paper ID 312201512 International Journal of Research in Advent Technology, Vol 3, No 12, December 2015 E ISSN 2321 9637 Available online at www ijrat org 81 A Performance Analysis of

What is NLG? Roger Evans and Paul Piwek and Lynne Cahill Information Technology Research Institute University of Brighton, UK email Firstname Lastname@itri brighton ac uk Abstract Giving