i UJI KUALITATIF DNA GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI PUSAT LATIHAN GAJAH TAMAN NASIONAL
WAY KAMBAS
(Skripsi)
Oleh Siti Asiyah
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
UJI KUALITATIF DNA GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI PUSAT LATIHAN GAJAH TAMAN NASIONAL
WAY KAMBAS
Oleh SITI ASIYAH
Uji kualitatif DNA merupakan analisis pendahuluan kekerabatan gajah sumatera di Pusat Latihan Gajah (PLG), Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Penelitian ini sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam upaya pencegahan inbreeding dalam pengelolaan konservasi gajah sumatera, bekerja sama dengan Rumah Sakit Gajah (RSG) Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja PLG TNWK dan Laboratorium Bioteknologi Balai Veteriner Lampung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat kualitas DNA gajah sumatera berdasarkan perbedaan umur dan jenis kelamin, serta mengetahui volume Phospat Buffer Salin (PBS) yang tepat untuk menghasilkan isolat DNA terbaik. Sebanyak 24 sampel DNA dari 8 ekor gajah sumatera telah disolasi dari sampel darah mengacu pada protokol isolasi DNeasy Blood and Tissue Kit dari QIAGEN dengan modifikasi variasi volume PBS: 100 µl (a), 50 µl (b), dan 0 µl (c). Hasil isolasi diuji secara kualitatif dengan elektroforesis gel agarosa 1%. Hasil elektroforesis menunjukkan tingkat kecerahan yang berbeda pada DNA yang terisolasi. Dua sampel memiliki tingkat kecerahan tertinggi pada variasi PBS C, tiga sampel pada variasi B, dan tiga sampel pada variasi A. Kualitas DNA gajah yang terisolasi cukup baik tanpa ada kontaminan, dan tidak ada perbedaan kualitas DNA baik berdasarkan perbedaan umur maupun jenis kelamin. Berdasarkan uji kualitatif, volume PBS yang menghasilkan isolat DNA terbaik berkisar antara 50µl–100 µl.
iii UJI KUALITATIF DNA GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI PUSAT LATIHAN GAJAH TAMAN NASIONAL
WAY KAMBAS
Oleh Siti Asiyah
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA SAINS
Pada Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi : Uji Kualitatif DNA Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas
Nama Mahasiswa : Siti Asiyah
Nomor Pokok Mahasiswa : 1317021074
Program Studi : Biologi
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing
Dra. Elly L. Rustiati, M.Sc. drh. Dedi Candra, M.Si.
NIP.196310141989022001 NIP. 197407122014071002
2. Ketua Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung
RIWAYAT HIDUP
Siti Asiyahdilahirkan pada 6 Mei 1995 di Labuhan Ratu IV, Lampung Timur sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, dengan 4 orang kakak laki-laki yaitu M. Anshori, M. Nassaikhuddin, M. Sholeh, dan M. As’adi serta seorang kakak
perempuan bernama Siti Masruroh yang lahir dari pasangan Bapak M. Sulkah Akbar dan Ibu Siti Hartini.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Labuhan Ratu IV pada tahun 2007, selanjutnya penulis menyelesaikan pendidikan menengah pertama di Madrasah Tsanawiyah Miftahul Huda Labuhan Ratu IV pada tahun 2010 dan menyelesaikan pendidikan menengah atas di Madrasah Aliyah Negeri 1 Metro Lampung Timur pada tahun 2013. Pada tahun 2013, penulis diterima di perguruan tinggi Universitas Lampung, dan terdaftar sebagai mahasiwa Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Ekologi Umum, Ekologi Hewan, Perilaku Hewan, Mamalogi, dan Mikroteknik. Penulis terdaftar sebagai anggota muda HIMBIO pada tahun 2013/2014 dan terdaftar sebagai anggota bidang Sains dan Teknologi di tahun berikutnya. Penulis juga aktif di lembaga kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), pada tahun 2014/2015 penulis mengemban amanah sebagai sekretaris Departemen Kebijakan Publik (KP) dan menjadi sekretaris Departemen Hubungan Luar dan Pengabdian kepada Masyarakat (HLPM) pada tahun
vii juga ikut serta dalam kegiatan Focus Group Discussion Global Tiger Day 2016 yang diselenggarakan oleh WCS- Indonesia Program dan Universitas Lampung, International Wildlife Symposium (IWS), dan international workshop:
Technological Innovations For Wildlife Conservation 2016 yang diselenggarakan
oleh Universitas Lampung dan WWF sebagai organizer. Penulis juga ikut serta sebagai panitia mahasiswa dalam kegiatan Penandatanganan Kerja Sama oleh Fakultas MIPA dengan Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas: Desa Braja Harjosari, sebagai desa binaan unggulan FMIPA Unila pada tahun 2017, dan pembinaan Rumah Konservasi di Desa Labuhan Ratu VII.
Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik di Desa Gunung Tapa, Kecamatan Gedung Meneng, Kabupaten Tulang Bawang dan melaksanakan kerja praktik di Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas dengan judul “ Teknik Pengambilan Sampel Darah Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas”dan telah disampaikan secara oral dalam International Wildlife Symposium 2016 di Universitas Lampungdengan judul “Blood Sampling Technique on Captive Elephant in Way Kambas National Park”, penulis juga tergabung sebagai co-author dalam publikasi presentasi oral Semirata 2017 di Universitas Jambi dengan
MOTTO
Man Jadda, Wa Jada Man Yasro’, Yahshud Man Shobaro, Zhofiro
Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi Tidak ada masalah tanpa solusi
Dan tidak ada kesulitan, kecuali diiringi kemudahan “Inna ma’al ‘usri yusro “(Al-Insyirah: 6)
Waktu, Perkataan, dan Kesempatan Adalah tiga hal yang tidak mungkin kembali
Maka,
“Katakanlah yang benar, biar pahit sekalipun” (HR. Albaihaqi)
Dan berubahlah (menuju kebaikan), karena
“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang mengubahnya”
(QS. Ar-Ra’d : 11)
ix
PERSEMBAHAN
Bismillah
Dengan mengharap rahmat dan keberkahan Allah SWT, kupersembahkan Karya ini Sebagai cinta kasih, tanda bakti,
dan terima kasihku yang terdalam kepada:
Ibu dan Bapakku terkasih,
Yang telah mendidik dan membesarkanku dengan cinta, kasih sayang, serta do’a dan dukungan terhadap segala langkahku, menuju kesuksesan.
Kakak, dan segenap keluarga besarku
Atas kebersamaan, keceriaan, kasih sayang, dan do’a serta segala bentuk dukungan
Rasa Hormatku kepada:
Ibu Dra. Elly Lestari Rustiati, M.Sc.
Bapak Priyambodo, M.Sc
drh. Dedi Candra, M.Si
atas ilmu, inspirasi, motivasi serta pengorbanan waktu dan kesabaran dalam membimbing dan menjadikanku insan yang lebih baik
Para pahlawan Konservasi
Atas dedikasinya dalam menjaga keseimbangan bumi Serta
SANWACANA
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena atas izin dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi sebagai syarat meraih gelar Sarjana Sains.
Skripsi dengan judul “Uji Kualitatif DNA Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas” yang
dilaksanakan bulan Februari 2017, bekerja sama dan dilakukan di Rumah Sakit Gajah (RSG) Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja, Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas dan Balai Veteriner Lampung.
Penulis menyadari banyak pihak yang turut membantu dalam pelaksanaan
penelitian sampai dengan penyusunan skripsi. Dengan terselesaikannya penulisan skripsi ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada :
xi 2. drh. Dedi Candra, M.Si., selaku pembimbing II yang memberi banyak
arahan, dan pengetahuan mengenai medis dan konservasi satwa liar khususnya gajah sumatera di PLG TNWK.
3. Bapak Priyambodo, M.Sc., selaku dosen penguji yang telah banyak membimbing selama proses penelitian, hingga terselesaikannya penulisan skripsi ini.
4. Dra. Nuning Nurcahyani, M.Sc, selaku Ketua Jurusan Biologi FMIPA Unila
5. Prof. Warsito selaku Dekan FMPA Unila
6. Bapak Tugiyono, Ph.D selaku dosen Pembimbing Akademik. 7. Bapak Subakir, S.H., M.H., selaku Kepala Balai TNWK
8. Bapak Syamsul Ma’arif, selakuKepala Balai Veteriner Lampung 9. Ibu Elisabeth Devi Krismurniati, S.Si., ME., selaku Koordinator PLG
TNWK
10. drh. Liza Angeliya, M.Sc., selaku koordinator Laboratorium Bioteknologi Balai Veteriner Lampung
11. drh. Diah Esti Anggraini, selaku kepala RSG Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja PLG TNWK sekaligus pembimbing lapangan yang telah sabar membimbing, dan membagi ilmu selama pelaksanaan kerja praktik 12. Bapak Firwantoni, A.Md., dan drh. Eko Agus S., M.Sc. atas bantuan
arahannya selama penelitian di Laboratorium Bioteknologi Balai Veteriner Lampung
14. Seluruh tim medis RSG dan staf PLG TNWK yang telah membantu selama pengambilan sampel dan pelaksanaan kerja praktik
15. Bapak Muhammad Sulkah Akbar dan Ibu Hartini, orang tua yang telah memberikan dukungan, do’a, kasih sayangdan semangat hingga terselesaikannya penyusunan skripsi ini.
16. Seluruh sahabat Sohib, Altika, Wiwit, Nadia, Niswa, Lathifah dan
BIOLOGI FMIPA Unila atas kebersamaan, bantuan, dan dukungan selama penelitian hingga terselesaikannya skripsi ini.
17. Dan seluruh sahabat penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu, atas segala bentuk dukungan, bantuan, dan semangat yang telah diberikan, penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Akhir kata, penulis menyadari skripsi ini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan dalam penyusunannya, akan tetapi penulis berharap karya ini dapat memberi manfaat bagi banyak pihak.
Bandar Lampung, 8 Mei 2017 Penulis,
vii DAFTAR ISI
halaman
ABSTRAK ... ... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
MOTTO ... viii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix
SANWACANA ... ... x
DAFTAR ISI... ... xiii
DAFTAR TABEL ... ... xv
DAFTAR GAMBAR... ... xvi
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Peneitian ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.5 Kerangka Pikir ... 6
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) ... 7
2.1.1 Habitat dan Perilaku... 7
2.1.2 Status Ekologi dan Klasifikasi ... 9
2.2 Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas ... 11
2.3 Identifikasi Sifat Genetik ... 13
III. METODE PENELITIAN ... 17
viii
3.2 Alat dan Bahan ... 17
3.3 Prosedur Penelitian ... 18
3.3.1 Survei Pendahuluan ... 18
3.3.2 Pengambilan Sampel Darah ... 20
3.3.3 Isolasi DNA ... 21
3.3.4 Elektroforesis Gel Agarosa ... 22
3.4 Analisis Data ... 23
3.5 Diagram Alir Uji Kualitatif DNA gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di PLG TNWK ... 24
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25
4.1 Hasil ... 25
4.1.1 Pengambilan Sampel Darah Gajah ... 25
4.1.2 Isolasi DNA ... 27
4.1.3 Elektroforesis Gel Agarosa ... 28
4.2 Pembahasan... 30
4.2.1 Pengambilan Sampel Darah Gajah ... 30
4.2.2 Isolasi DNA ... 34
4.2.3 Elektroforesis Gel Agarosa ... 39
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 46
5.1 Kesimpulan ...46
5.2 Saran ... 46
DAFTAR PUSTAKA ... 47
LAMPIRAN ... 52
1. Tabel 2-3... 52
2. Gambar 11-19 ... 53
3. Surat Permohonan Penerbitan SIMAKSI ... 56
4. Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) ... 57
5. Surat Permohonan Izin Penelitian ... 58
ix DAFTAR TABEL
halaman Tabel 1. Daftar nama mahout dan gajah sampel di PLG TNWK ... 20 Tabel 2. Biodata gajah sampel tahun 2016 ... 52 Tabel 3. Prosedur Pengambilan Sampel Darah Gajah ... 52
x DAFTAR GAMBAR
halaman
Gambar 1. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ... 8
Gambar 2. Ilustrasi elektroforesis gel agarosa ... 15
Gambar 3. Diagram alir uji kualitatif DNA gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di PLG TNWK... 24
Gambar 4. Individu gajah sampel ... 26
Gambar 5. Sampel darah gajah dalam tabung vacutainer EDTA 3 ml... 27
Gambar 6. Isolat DNA terkoleksi dalam tabung mikro 1,5 ml ... 28
Gambar 7. Hasil elektroforesis gel agarosa isolat DNA gajah sumatera ... 29
Gambar 8. Pengambilan sampel darah gajah oleh tim medis RSG Prof. Dr. Ir. Rubini Atmawidjaja PLG TNWK... 32
Gambar 9. Prosedur Isolasi DNA ... 35
Gambar 10. Elektroforesis gel agarosa ... 41
Gambar 11. Penamaan tabung ... 53
Gambar 12. Proses inkubasi 1 menit... 53
Gambar 13. Hasil isolasi DNA ... 53
Gambar 14. Bahan Elektroforesis gel agarosa : bubuk agarosa 1 mg dan buffer TAE 100 ml ... 54
Gambar 15. Bahan Elektroforesis gel agarosa : pewarna SYBR Safe dan Loading dye... 54
Gambar 16. Chumber berisi buffer TAE ... 54
Gambar 17. Proses homogenisasi sampel DNA dengan loading dye dan pipeting ke dalam sumuran gel ... 55
Gambar 18. Digi Doc ... 55
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan anggota mamalia dari Ordo Proboscidea yang kelestariannya semakin terancam (Abdullah, dkk., 2012). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, juga menurut Peraturan Perundangan RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa serta Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 No 134 dan 266 (Jajak, 2004) gajah sumatera dinyatakan sebagai satwa langka dan dilindungi. Aktivitas perburuan liar, kerusakan habitat, serta pembunuhan akibat konflik dengan manusia
merupakan ancaman bagi keberadaan gajah sumatera (World Wildlife Fund, 2005).
2 TNWK terdapat Pusat Latihan Gajah (PLG) yang didirikan sebagai upaya konservasi gajah sumatera (Mukhtar, 2010). Pusat Latihan Gajah didirikan sebagai salah satu bentuk penanganan terhadap gajah yang terlibat konflik dengan masyarakat (Alikodra, 1990).
Pada tahun 2016, di PLG TNWK terdapat 66 ekor gajah sumatera yang ditangkarkan. Gajah tersebut berasal dari berbagai daerah di Sumatera yang pernah terlibat konflik dengan manusia (Soehartono, 2007) dan juga hasil perkembangbiakan di PLG TNWK, yang juga merupakan PLG pertama di Indonesia. Saat ini PLG TNWK memiliki Rumah Sakit Gajah (RSG) Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja yang juga merupakan RSG pertama di Indonesia.
Upaya penjagaan hutan TNWK sebagai habitat alami gajah sumatera dan didirikannya RSG di kawasan PLG TNWK merupakan bentuk peningkatan upaya konservasi gajah sumatera. Selain itu, menurut Indrawan, dkk. (2007), informasi keragaman genetik juga diperlukan dalam rangka mendukung kegiatan konservasi.
3 Keragaman genetik turut menentukan keberhasilan upaya konservasi suatu populasi. Penurunan keragaman genetik salah satunya dapat terjadi akibat perkawinan silang dalam (inbreeding). Peristiwa tersebut memberi pengaruh buruk terhadap kemampuan adaptasi gajah sumatera pada
perubahan lingkungan (Frankham, dkk., 2002). Di PLG TNWK, peristiwa inbreeding berpotensi untuk terjadi.
Isolasi Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk melakukan analisis filogenetik gajah di PLG TNWK, mencegah inbreeding. Isolasi DNA dapat dilakukan menggunakan berbagai cairan
biologis salah satunya darah. Isolasi bertujuan untuk mendapatkan DNA yang murni dengan konsentrasi tinggi sehingga dapat digunakan untuk analisis molekuler tingkat lanjut (Fatchiyah, dkk., 2011).
Isolasi DNA dapat dilakukan dengan menggunakan kit dari QIAGEN DNeasyRBlood & Tissue. Keberhasilan dari proses isolasi ini menjadi hal
penting dalam analisis molekuler karena kualitas dan kuantitas DNA yang terisolasi yang akan menentukan hasil dari analisis tingkat lanjut.
Phospat Buffer Saline (PBS) merupakan larutan penyangga isotonis yang
4 Uji kualitatif diperlukan untuk melihat keberhasilan dari proses isolasi dan mengkonfirmasi keberadaan DNA. Uji kualitatif tidak memperlihatkan kuantitas DNA yang terisolasi, melainkan kualitas berupa konfirmasi keberadaan DNA dalam isolat. Uji kualitatif DNA dapat dilakukan dengan elektroforesis gel agarosa.
Prinsip yang digunakan dalam metode elektroforesis gel agarosa yaitu perpindahan molekul di dalam medium padat (gel) yang direndam oleh larutan penyangga yang berada dalam pengaruh listrik. Perpindahan molekul-molekul dalam eletroforesis ini dipengaruhi oleh muatan listrik, titik isoelektrik, dan massa molekul (Fairbanks dan Andersen, 1999).
Uji kualitatif DNA gajah sumatera yang ada di PLG TNWK dapat dilihat dengan mengisolasi DNA dari darah total (whole blood) dan elektroforesis gel agarosa. Hasil yang diperoleh dapat memberi informasi dan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan upaya pengelolaan konservasi gajah sumatera selanjutnya. Penelitian ini merupakan langkah awal analisis kekerabatan dalam upaya mendukung konservasi gajah sumatera yang ada di PLG TNWK.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut:
5 2. Berapakah volume larutan PBS yang tepat dari modifikasi protokol
isolasi DNeasyRBlood & Tissue Kit dari QIAGEN untuk menghasilkan isolat DNA yang baik?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui kualitas isolat DNA gajah sumatera di PLG TNWK berdasarkan perbedaan umur dan jenis kelamin.
2. Mengetahui volume larutan PBS yang tepat sebagai bentuk modifikasi protokol isolasi DNeasyRBlood & Tissue Kit dari QIAGEN untuk menghasilkan isolat DNA yang baik.
1.4 Manfaat Penelitian
6 1.5 Kerangka Pikir
Taman Nasional Way Kambas adalah salah satu kawasan yang menjadi habitat alami gajah sumatera. Pusat Latihan Gajah yang berada di kawasan TNWK merupakan salah satu tempat penangkaran gajah sumatera sebagai upaya konservasi dan penanganan terhadap gajah yang terlibat konflik dengan masyarakat.
Tingkat keragaman genetik memberi pengaruh terhadap kemampuan suatu populasi untuk beradaptasi pada perubahan lingkungannya. Spesies langka pada umumnya memiliki keragaman genetik yang rendah. Penurunan keragaman genetik dapat menurunkan kemampuan beradaptasi, sehingga kemungkinan untuk punah lebih cepat dari pada satwa lain dengan
keragaman genetik yang tinggi pada kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Gajah sumatera merupakan salah satu spesies langka yang perlu untuk dipertahankan keberadaannya.
7
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus ) 2.1.1 Habitat dan Perilaku
Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) termasuk ke dalam Ordo Proboscidea (Gambar 1). Di Indonesia penyebaran gajah sumatera meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung (Tarmizi, 2008). Gajah sumatera umumnya hidup di kawasan hutan hujan tropis Pulau Sumatera baik di daratan tinggi maupun rendah (Soehartono, 2007).
Habitat gajah sumatera terdiri dari beberapa tipe hutan yaitu hutan rawa, hutan gambut, hutan hujan dataran rendah, dan hutan hujan pegunungan rendah. Di Provinsi Lampung, gajah sumatera berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Gajah sumatera merupakan spesies yang hidup dengan pola
matriarchal yaitu hidup berkelompok dan dipimpin oleh betina dewasa
8 dkk., 2007). Gajah jantan dapat hidup secara sendiri (soliter) atau bergabung dengan jantan lainnya membentuk kelompok jantan. Kelompok gajah bergerak dari satu wilayah ke wilayah yang lain, dan memiliki daerah jelajah. Luasan daerah jelajah bervariasi bergantung dari ketersediaan pakan, tempat berlindung, dan berkembang biak (Soehartono, dkk., 2007).
Gambar 1. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus),di PLG TNWK.
9 Selama 1-4 minggu dalam 3-5 bulan sekali gajah jantan akan
mengalami peningkatan sifat agresivitas seperti perilaku menyerang yang sering disebut dengan musth. Perilaku tersebut biasanya ditandai dengan adanya sekresi kelenjar temporal yang terlihat di antara mata dan telinga serta memiliki aroma khas yang menyengat (Shosani dan Eisenberg, 1982).
2.1.2 Status Ekologi dan Klasifikasi
Gajah sumatera merupakan sub spesies gajah asia yang saat ini keberadaannya di alam dalam kondisi kritis. Selain akibat perburuan liar, kehilangan habitat alami akibat konversi hutan menjadi lahan pertanian atau kawasan pembangunan di sekitar hutan TNWK menjadi ancaman bagi populasi gajah sumatera (Kumar, dkk., 2010; Rood, dkk., 2010).
Gajah sumatera memiliki peranan penting dalam menjaga
10 Di Indonesia gajah sumatera dilindungi berdasarkan Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diatur dalam peraturan pemerintah PP 7/1999 tentang Pengawetaan Jenis Tumbuhan dan Satwa. International Union for Conservation of Nature (IUCN, 2012), memasukkan gajah
sumatera ke dalam daftar Red List Data Book dan tergolong sebagai satwa kritis di alam (critically endangered). Selain itu, gajah sumatera juga terdaftar dalam Apendiks I Convention on International Trade in Endangered Spesies (CITES) yaitu satwa yang dilindungi dari
berbagai bentuk perdangan ilegal (CITES, 2012).
Konversi habitat gajah sumatera menjadi lahan perkebunan, pertanian, dan pemukiman berperan terhadap terjadinya konflik antara gajah dengan manusia di kawasan TNWK. Konflik yang umum terjadi di sekitar kawasan hutan TNWK adalah penyerangan hasil panen di lahan pertanian milik warga. Akibat konflik tersebut, gajah yang terlibat akan ditangkap dan di tangkarkan atau bahkan dibunuh (Perrera, 2009).
11 Gajah sumatera memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Bangsa : Proboscidea Suku : Elephantidae
Marga : Elephas
Jenis : Elephas maximus
Anak Jenis : Elephas maximus sumatranus (Lekagul dan McNeely, 1977)
2.2 Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas
12 Pendirian PLG oleh pihak TNWK dengan luas lahan sekitar 400 ha dan mulai dioperasikan sejak 27 Agustus 1985 merupakan salah satu upaya konservasi gajah sumatera. Pemberian pakan tambahan, penggembalaan, penyediaan air, perkembangbiakan, dan perawatan medis merupakan bagian dari aktivitas gajah di PLG TNWK (Mukhtar, 2004).
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam II Tanjung Karang pada saat itu Drs. Widodo Ramono, adalah pendiri PLG di TNWK. Pusat Latihan Gajah ini merupakan yang pertama didirikan di Indonesia. Konsep pengelolaan gajah tangkapan yang dilakukan oleh pemerintah dengan menggunakan tiga liman, yaitu Tata Liman, Bina Liman, dan Guna Liman (Soehartono, 2007).
Saat ini Rumah Sakit Gajah (RSG) Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja telah didirikan di kawasan PLG TNWK dan merupakan RSG pertama di Indonesia. Didirikannya RSG tersebut merupakan bentuk peningkatan upaya konservasi gajah sumatera di Lampung. Selain itu, menurut
13 2.3 Identifikasi Sifat Genetik
Fragmentasi habitat mendorong putusnya aliran gen (gen flow) dan meningkatnya hanyutan gen (genetic drift) serta menjadi faktor terjadinya perkawinan sedarah (inbreeding) dalam suatu populasi. Populasi gajah sumatera yang semakin mengecil menjadi lebih rentan terhadap berbagai efek genetik yang merugikan, seperti penurunan keragaman karena efek inbreeding. Inbreeding dapat mengakibatkan terfiksasinya alel tertentu
dalam populasi sehingga hewan tersebut menjadi monomorf dan mengalami penurunan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang berubah-ubah (Frankham dkk., 2002). Informasi keragaman genetik gajah sumatera di PLG TNWK diperlukan dalam rangka mendukung upaya konservasi.
Identifikasi sifat genetik memiliki manfaat penting dalam upaya konservasi sumber daya hayati, terutama bagi satwa yang terancam punah. Informasi mengenai tingkat kelangkaan suatu spesies dapat diidentifikasi dengan sifat-sifat genetik yang didapat dengan melihat derajat polimorfisme.
Identifikasi genetik juga dapat memberikan informasi tambahan untuk melihat filogenetik suatu spesies dan kekebalan spesies tersebut terhadap suatu jenis penyakit. Selain itu, kegunaan penting lainnya dari hasil identifikasi genetik ini adalah dapat membantu mengurangi terjadinya inbreeding(Mas’yud, 1992).
14 Acid (DNA). Deoxyribo Nucleic Acid merupakan asam nukleat yang
tersimpan di dalam inti sel dan mitokondria, mengandung materi genetik dan bersifat dapat diturunkan (herediter) (Faatih, 2009). Untuk
mendapatkan informasi genetik gajah sumatera di PLG TNWK perlu dilakukan isolasi DNA.
Isolasi merupakan proses untuk mendapatkan DNA yang murni dengan konsentrasi tinggi sehingga dapat digunakan untuk analisis molekuler tingkat lanjut (Fatchiyah dkk., 2011). Prinsip utama dalam isolasi DNA ada tiga yakni pemecahan sel (lisis), ekstraksi atau pemisahan DNA dari bahan padat seperti selulosa dan protein, serta pemurnian DNA (Corkill dan Rapley, 2008; Dolphin, 2008). Isolasi DNA dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan sampel darah. Darah mengandung sel darah putih (leukosit) yang terdapat materi genetik di dalam inti selnya.
Lisis merupakan tahapan awal isolasi DNA yang bertujuan untuk mengeluarkan isi sel (Holme dan Hazel, 1998). Salah satu cara untuk melisiskan sel adalah dengan metode enzimatik. Proteinase K dapat digunakan untuk melisiskan membran pada sel darah (Khosravinia, dkk., 2007) dan mendegradasi protein maupun rantai polipeptida dalam
komponen sel (Brown, 2009; Surzycki, 2000).
Elektroforesis adalah teknik analisis DNA secara kualitatif dengan prinsip kerja memisahkan makromolekul berdasarkan perbedaan ukuran
15 padat (gel) yang direndam oleh larutan penyangga dibawah pengaruh listrik (Gambar 2). Perpindahan molekul-molekul dalam eletroforesis ini
dipengaruhi oleh muatan listrik, titik isoelektrik, dan massa molekul. Informasi yang dihasilkan dari proses ini adalah mengenai konfirmasi dan ukuran DNA (Fairbanks dan Andersen, 1999).
Gambar 2. Ilustrasi elektroforesis gel agarosa (Sumber : Muncy, 2017)
Molekul DNA yang akan diuji dengan elektroforesis dimasukkan ke dalam sumuran kecil pada gel. Gel agarosa dibuat dengan melarutkan agarosa dalam buffer. Pemanasan dilakukan agar agarosa dapat terlarut dengan baik. Larutan agarosa kemudian dituang ke dalam lempeng cetakan yang dilengkapi dengan sisir untuk membentuk sumuran pada gel (Yuwono, 2005). Konsentrasi agarosa yang biasa digunakan antara 1-3%. Ukuran pori gel bergantung pada konsentrasi agarosa, semakin tinggi konsentrasi agarosa maka semakin kecil ukuran pori. Sebaliknya, semakin rendah
16 konsentrasi agarosa maka semakin besar ukuran pori (Wilson dan Walker, 2010).
Penggunaan metode isolasi dan uji kualitatif ini merupakan teknik
17
III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini telah dilakukan pada Bulan Februari 2017 bekerja sama dan dilakukan di RSG Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas dan Laboratorium Bioteknologi Balai Veteriner Lampung, di bawah penelitian Dra. Elly L. Rustiati, M.Sc. dengan judul “Konstruksi Peta Filogenetis Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Di Pusat Latihan Gajah, Taman Nasional Way
Kambas Berdasarkan Analisis Sitologis dan Molekuler”.
3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat
18 visualisasi hasil elektroforesis, dan kamera Samsung Galaxy J1 5 M.P. sebagai alat dokumentasi.
3.2.2 Bahan
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan yaitu, sampel darah gajah yang telah diberi perlakuan antikoagulan EDTA untuk mencegah penggumpalan, satu set DNeasy Blood and Tissue Kit dari QIAGEN untuk isolasi DNA, PBS sebagai larutan penyangga selama proses ekstraksi berlangsung, gel agarosa sebagai fase diam, larutan penyangga Tri-Asetat-EDTA (TAE) sebagai fase gerak dan pelarut agarosa, loading dye sebagai pemberat DNA di dalam sumuran gel, SYBR Safe digunakan sebagai pewarna untuk melihat DNA yang
terisolasi setelah dilakukan elektroforesis, parafilm untuk
mencampurkan DNA dengan larutan loading dye, marker 100 bp sebagai penanda, dan
3.3 Prosedur Penelitian
Adapun tahapan pelaksanaan penelitian ini sebagai berikut: 3.3.1 Survei Pendahuluan
19 rencana pengambilan sampel darah gajah juga dilakukan pada tahap survei pendahuluan.
Jumlah minimum sampel gajah sumatera sebanyak 10 % dari total populasi gajah tangkapan yang ada di PLG TNWK. Metode ini mengacu pada Gay dan Diehl (1992), mengenai jumlah sampel
minimum pada penelitian deskriptif. Jumlah sampel darah gajah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebanyak 8 ekor gajah sumatera dari total populasi gajah sebanyak 66 ekor pada bulan September tahun 2016.
Penentuan individu sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu menentukan sampel berdasarkan pertimbangan
20 3.3.2 Pengambilan Sampel Darah
Pengambilan sampel darah gajah dilakukan di RSG Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja PLG TNWK, sesuai dengan standar teknik pengambilan sampel darah gajah yang terdiri dari 3 tahapan. Tahap pertama adalah tahap persiapan, kemudian tahap pengendalian dan tahap inti, berupa pengambilan sampel darah (Asiyah, dkk., 2016).
[image:36.595.172.484.560.754.2]Secara teknis, pengambilan sampel darah gajah dilakukan oleh dokter hewan yang bertugas di RSG Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja PLG TNWK, yaitu drh. Diah Esti Anggraini dan drh. Dedi Chandra, M.Si. Proses pengambilan sampel darah gajah melibatkan paramedis yang bertugas mempersiapkan peralatan dan bahan yang digunakan untuk mengambil sampel darah gajah. Selain itu keberadaan mahout dari masing-masing gajah juga sangat dibutuhkan dalam proses pengendalian gajah yang akan diambil sampel darahnya (Tabel 1). Proses pengambilan sampel darah juga didampingi oleh koordinator PLG TNWK, Ibu Elisabeth D. Krismurniati, S.Si., M.E.
Tabel 1. Daftar nama mahout dan gajah sampel di PLG TNWK No Nama Mahout Nama Gajah Jenis Kelamin
1 Diki Zulkifli Leo Jantan
2 Rohman Haryono Jantan
3 Edi Parwoto Rahmi Betina
4 Zainal Aripin Poniyem Betina
5 Fajar Dwi Wibowo Gadar Jantan
6 Sugiyono Fatra Jantan
7 Rekadin Queen Betina
21 Sampel darah kemudian disimpan di dalam ice box untuk
mempertahankan kondisi fisiologisnya selama perjalanan menuju laboratorium. Kemudian sampel darah di simpan di dalam refrigator 4oC, sampai perlakuan selanjutnya diberikan.
3.3.3 Isolasi DNA
Isolasi DNA genom dari sampel darah gajah dilakukan dengan mengacu pada protocol isolasi DNeasyRBlood & Tissue Kit dari QIAGEN dengan memodifikasi volume PBS. Tahapan isolasi DNA adalah sebagai berikut:
i. Sampel darah gajah yang telah diberi perlakuan anti koagulan EDTA diambil sebanyak 50-100 µl dimasukkan ke dalam tabung mikro 1,5 yang berisi 20 µl proteinase K kemudian ditambahkan larutan PBS hingga volume mencapai 220 µl. ii. Buffer AL 200 µl ditambahkan, dilakukan homogenisasi lalu
diinkubasi pada suhu 56oC selama 10 menit.
iii. Etanol 96-100% ditambahkan sebanyak 200 µl, dilakukan homogenisasi.
iv. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung spin column yang dilengkapi dengan tabung koleksi 2 ml, dan
22 v. Campuran pada tabung spin column dipindahkan ke dalam
tabung koleksi baru lalu ditambahkan 500 µl buffer AW1 dan disentifugasi selama 1 menit dengan kecepatan 8.000 rpm. vi. Perlakuan (v) diulang kembali dengan mengganti buffer AW1
dengan buffer AW2, lalu sentrifugasi selama 4 menit dengan kecepatan 14.000 rpm.
vii. Tabung koleksi kemudian diganti dengan tabung mikro 1,5 ml.
viii. Buffer AE 200 µl ditambahkan dalam tabung mikro kemudian diinkubasi selama 1 menit dalam suhu ruangan. Sentrifugasi dilakukan selama 1 menit dengan kecepatan 8.000 rpm.
ix. Isolat DNA kemudian disimpan dalam freezer dengan suhu -20oC untuk mencegah kerusakan DNA hingga proses selanjutnya.
Modifikasi volume PBS 0, 50, dan 100µl digunakan untuk mengetahui volume PBS yang tepat dengan hasil isolat DNA yang baik berdasarkan hasil uji kualitatif dengan elektroforesis gel agarosa.
3.3.4 Elektroforesis Gel Agarosa
Elektroforesis dilakukan dengan menggunakan gel agarosa 1% dalam buffer TAE. Kemudian separasi DNA pada gel dilakukan pada tegangan
23 i. Sebanyak 1 mg bubuk agarosa dalam 100 ml buffer TAE
dididihkan selama 3 menit dalam microwave, kemudian
didinginkan hingga suhu mencapai sekitar 8oC . Pewarna SYBR safe ditambahkan sebanyak 1,5 µl, dilakukan homogenisasi
ii. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan yang telah dipasangi sisir pembuat sumuran pada gel.
iii. Setelah mengeras, gel agarosa dimasukkan ke dalam chamber lalu ditambahkan buffer TAE hingga terendam.
iv. Masing-masing sampel isolat DNA dan larutan loading dye dimasukkan pada sumuran yang telah terbentuk.
v. Elektroda kemudian dihubungkan dengan power supply agar DNA melakukan pergerakan selama 10 menit dengan tegangan 100 V. Setelah selesai, gel dipindahkan dari alat elektroforesis ke digi doc untuk diamati hasilnya (Fatchiyah, 2011).
3.4 Analisis data
Data hasil penelitian yang diperoleh berupa visualisasi hasil isolasi DNA dan elektroforesis gel agarosa. Dengan data tersebut dapat diketahui
24 3.5 Diagram Alir Penelitian
[image:40.595.141.477.193.498.2]Tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini digambarkan dalam diagram alir (Gambar 3) sebagai berikut:
Gambar 3. Diagram alir uji kualitatif DNA gajah sumatera di PLG TNWK Survei Pendahuluan
Pengambilan sampel darah gajah sumatera
Isolasi DNA
Pembuatan media elektroforesis
Elektroforesis gel agarosa
Dokumentasi hasil
Analisis data
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Kualitas DNA gajah yang terisolasi cukup baik tanpa ada kontaminan, baik pada gajah yang berbeda umur maupun jenis kelamin.
2. Berdasarkan uji kualitatif, volume PBS yang menghasilkan isolat DNA terbaik adalah 50 dan 100 µl.
5.2 Saran
Selama proses koleksi sampel darah gajah perlu diperhatikan kembali kapasitas volume yang ideal dengan kandungan antikoagulan pada tabung vacutainer.
47
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Asiah, dan T. Japisa. 2012. Karakteristik habitat gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di kawasan ekosistem seulawah Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi, Biologi Edukasi. 4
Addas, P.A., Midau A., Muktar, Y.M., dan Mshelia, Z.B. 2012. Assessment of breed, age and body condition score on hematology, blood chemistry and fecal parasitic load of indigenous bulls in Adamawa State. Intern J of Agric Sci. 2
Aini, A.N., Purbowatiningrum, R.S., dan Agustina, L.N. Aminin. 2011. Pemurnian DNA plasmid Puc19 menggunakan kolom silika dengan denaturan urea. Jurnal Sains dan Matematika. 19
Ali, M.A. 2008. Studies on calving related disorders (dystocia, uterine prolapsed and retention of fetal membranes) of the river buffalo (Bubalus Bubalis), in different agroecological zones of Punjab Province, Pakistan (Tesis). University of Agriculture. Pakistan.
Alikodra, H.S. 1990. Pengelolaan Satwaliar. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Pusat Anatar Universitas Ilmu Hayat Institute Pertanian Bogor. Bogor.
Alikodra, H.S. 2002. Pengelolaan Satwa Liar Jilid 1. Penerbit IPB Press. Bogor. Alikodra, H.S. 2010. Teknik Pengelolaan Satwa Liar dalam Rangka
Mempertahankan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Penerbit IPB Press. Bogor.
Ardiana, Dwi N. 2009. Teknik Isolasi DNA Genom Tanaman Pepaya Dan Jeruk Dengan Menggunakan Modifikasi Buffer CTAB. Buletin Teknik
Pertanian. 14.
Asiyah, S., Dedi C., Diah E.A., Elly L.R., dan Priyambodo. 2016. Blood
48 Ausubel, F.M., R. Brent, R. E. Kingston, D.D. Moore, J.G. Seidman, J.A. Smith,
dan K. Struhl. (2003). Current protocols in Molecular Biology. John Wiley & Sons Ltd. United Kingdom
Brown, T.L., Lemay, H.E., Jr., dan Bursten, B.E. 2009. Chemistry Contexts Edisi 11. Pearson Education Australia. Australia
Carson, Susan., dan Robertson, Dominique. 2006. Manipulation and Expression of Recombinant DNA, 2ndEdition. Elsevier Academic Press. USA.
Convention on International Trade in Endangered Spesies [CITES]. 2000. Elephas maximus sumatranus.http://www.cites.org/eng/
results.php?cites=Elephas+maximus+sumatranus. diakses pada 10 April 2016
Corkill, G., dan Rapley, R. 2008. The Manipulation of Nucleic Acids: Basic Tools and Techniques. In: Molecular Biomethods Handbook Second Edition. Ed: Walker, J.M., Rapley, R. Humana Press, NJ. USA.
Dolphin, W.D. 2008. Biological investigations.The McGraw-Hill Companies, Inc. New York.
Faatih, Mukhlissul. 2009. Isolasi dan digesti DNA kromosom. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi. 10.
Fairbanks, D.J., dan W.R. Andersen. 1999. Genetics : The Continuity of Life. Brooks. Cole Publishing Company. California
Fatchiyah, Estri, L.A., Sri, W., dan Sri, R. 2011. Biologi Molekular. Prinsip Dasar Analisis. Erlangga. Jakarta.
Firqon, I. 2012. Melirik peran dan daya guna taman konservasi Lampung. (Online). http:// astacala.org/wp/2012/03/melirik-peran-dan-daya-guna-taman-konservasi-gajahdilampung/. diakses pada 10 April 2016
Frankham, R.J.D. Ballou dan D.A Briscoe. 2002. Introduction to conservation genetics. Cambridge University Press. Cambridge.
Gay, L.R. dan Diehl, P.L.1992. Research Methods for Business and Management. Mc Millan Publishing Company. New York
Handayani, Tri. 2009. Pengaruh Antikoagulan EDTA 10% volume 10 μL dan 50 μL Terhadap Pemeriksaan Jumlah Leukosit di Laboratorium Cendia Semarang (KTI). Universitas Muhammadiyah Semarang. Semarang. Holme, D. J., dan P. Hazel. 1998. E-book: Analytical Biochemistry Third Edition.
49 Indrawan, M., R. B. Primack dan J. Supriatna. 2007. Biologi Konservasi. Yayasan
Obor Indonesia. Jakarta.
Ishwaran, N. 1993. Ecology of the Asian elephant in lowland dry zone habitat of the Mahaweli River Basin. Sri Lanka. Journal of Tropical Ecology. 9 Jajak, M.D. 2004. Binatang-Binatang Yang Dilindungi. Progres. Jakarta.
Jean, Francois Giot. 2010. Agarose Gel Electrophoresis–Aplications in Clinical Chemistry. J Med Biochem. 29
Kementerian Kehutanan.2011. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan: Laporan Tahunan 2011. Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan Manggala Agni Sumatera Selatan.
Khosravinia, H., H.N.N. Murthy, D.T. Parasad, dan N. Piraniy. 2007. Optimizing factors influencing dna extraction from fresh whole avian blood. African Journal of Biotechnology. 6 (4).
Kumar, M.A., D. Mudappa, dan T.R.S. Raman. 2010. Asian elephant (Elephas maximus) habitat use and ranging in fragmented rainforest and plantations in the Anamalia Hills, India. Tropic Conserv Sci 3
Lager, K. dan Jordan E. 2012. The metabolic profile for the modern transition dairy cow. The Mid-South Ruminant Nutrition Conference. Texas Agrilife Extension Service. Texas.
Lekagul, B. dan J.A. McNeely, 1977. Mammals of Thailand. Sahakarnbhat Co. Bangkok.
McKay, G.M. 1973. Behavior and ecology of the Asiatic elephant in southeastern Ceylon.Smithsonian Contributions to Zoology. 125
Magdeldin, Sameh. 2012. Gel Electrophoresis-Principles and Basics. InTech Publisher. Rijeka, Croatia
Masy’ud, B. 1992. Identifikasi Sifat Genetik Satwa Dilindungi: Sisi Penting Kegiatan Konservasi Keanekaragaman Hayati. Media Konservas.3
Meytasari, P., Bakrie, S., dan Herwanti, S. 2014. Perilaku makan dan menggaram gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Resort Pemerihan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. J. Sylva Lestari. 2
50 Mulyani, Y., A. Purwanto, dan I. Nurruhwati. 2011. Perbandingan Beberapa
Metode Isolasi DNA untuk deteksi didi Koi Herpes Virus (KHV) pada Ikan Mas (Cyprinus caprio L.). J. Akuatika. 2
Adimaja, M. 2016. Taman nasional way kambas asean heritage park. M. Tempo. Online. https://m.tempo.co/read/news/2016/07/25/203790364/taman-nasional-way-kambas-jadi-taman-warisan-asean-ke-36 diakses pada 4 Maret 2017.
Muncy, Kaleb. 2017. Online. http://slideplayer.com/slide/3337819/ diakses pada 14 Maret 2017
Nugraha, Gilang. 2015. Panduan Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Dasar. CVTrans Info Media. Jakarta Timur.
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar.
Perrera, B.M.A.O. 2009. The human elephant conflict: A review of current status and mitigation methods. Gajah. 30
Qiagen. 2011. Quick-Start Protocol DNeasyRBlood & Tissue Kit. Online. http://www.protocol-online.org. diakses pada 9 November 2016 Riswanto. 2013. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Alfamedia. Yogya. Rood, E., Ganie, A.A., dan Nijman, V. 2010. Using presence-only modeling to
predict Asian elephant habitat use in tropical forest landscape : implications for conservation. Divers Distrib. 16
Russell,P.J. 1994. Fundamentals of genetics. Harper Collins College Publishers. New York.
Sambrook, J. dan Russel, D.W. 2001 . Ed. Molecular Cloning: A Laboratory Manual 3rd Ed. Cold Spring Harbor Laboratory Press. New York.
Shoshani, J. dan J.F. Eisenberg, 1982. Elephas maximus. The American Society of Mammalogists.
Soehartono, T., Herry, D.S., Arnold, R.S., Donny, G., Elisabet, M.P., Wahdi, A., Nurchalis, F., dan Christopher, F. 2007. Strategi dan Rencana Aksi
Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2007-2017. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Departemen
Kehutanan. Jakarta.
Stojevic, Z., Filipovic, N., Bozic, P., Tucek, Z., dan Daud, J. 2008. The metabolic profile of Simmental service bulls. Vet Arhiv. 78
51 Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Penerbit
Alfabeta. Bandung.
Sukumar, R.. 1989. The Asian Elephant: Ecology and Management. Cambridge University Press. Cambridge, UK.
Sukumar, R.. 2003. The Living Elephants. Oxford University Press. Oxford. Suryanto, D. 2003. Melihat Keanekaragaman Organisme Melalui Beberapa
Teknik Genetika Molekuler. USU digital library
Surzycki, S. 2000. Basic techniques in molecular biology. Springer-Verlag Berlin Heidelberg. Germany.
Suwattana, D., W., Koykul, S. Mahawangkul, S. Kanchanapangka, H. Joerg, G. Stranzinger. 2000. The GTG-Banded karyotype and telomere fish in asian elephants (Elephas maximus). Vet.Med-CZECH. 45
Tarmizi. 2008. Pemilihan Habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Cagar Alam Jantho Kabupaten Aceh Besar. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.
Tomas, M., Valvac, V., Petra, S., dan Martin, P. 2005. Denaturating RNA electrophoresis in TAE agarose gels. Analytical Biochemistry. 336 Wilson, K. dan John, M. W. 1994.Principles and Techniques of Practical
Biochemistry. Cambridge University Press. UK.
World Wildlife Fund [WWF]. 2015. Gajah Sumatera.Online.http://www.wwf.or. id/program /spesies/gajah_sumatera/ dikses pd 11 April 2016