• No results found

Text abstrak pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text abstrak pdf"

Copied!
84
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGEMBANGAN MODEL GUIDED INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR

KRITIS MATEMATIS SISWA

(Tesis)

Oleh Indri Kurnia

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG

(2)

ABSTRACT

DEVELOPMENT OF GUIDED INQUIRY MODEL TO IMPROVE STUDENTS CRITICAL THINKING MATHEMATIC SKILLS

By Indri Kurnia

(3)

ABSTRAK

PENGEMBANGAN MODEL GUIDED INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR

KRITIS MATEMATIS SISWA Oleh:

Indri Kurnia

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk (a) menghasilkan produk berupa model guided inquiry yang valid dan praktis meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa, dan (b) mengetahui model guided inquiry hasil pengembangan efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Penelitan ini mengacu pada Borg & Gall. Prosedur penelitian yang dilakukan yaitu penelitian dan pengumpulan data (analisis kebutuhan), perencanaan pengembangan desain produk awal, uji coba lapangan awal, revisi hasil uji coba lapangan awal dan uji coba lapangan. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Bandar Lampung tahun pelajaran 2019/2020. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, angket, dan tes kemampuan berpikir kritis matematis. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan Uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (a) model guided inquiry hasil pengembangan memiliki kriteria valid dan praktis, dan (b) model guided inquiry hasil pengembangan efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Dilihat dari kemampuan berpikir kritis matematis siswa, terdapat perbedaan rata-rata peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan model guided inquiry hasil pengembangan dengan rata-rata 0,52 dan model guided inquiry biasa dengan rata-rata 0,41.

(4)

PENGEMBANGAN MODEL GUIDED INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR

KRITIS MATEMATIS SISWA

Oleh Indri Kurnia

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Magister Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, pada tanggal 15 Juni 1994. Penulis

merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara pasangan dari Bapak Sohip, S.T. dan Ibu Samsiati, memiliki dua orang kakak bernama Mutia Oktiana dan Rizky Pristian serta seorang adik bernama Indira Widya Ningrum.

Penulis menyelesaikan pendidikan taman kanak-kanak di TK Aisyah 3 Bandar Lampung pada tahun 2000, pendidikan dasar di SD Negeri 5 Suka Jawa pada tahun 2006, pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 10 Bandar Lampung

pada tahun 2009, pendidikan menengah atas di SMA Negeri 16 Bandar Lampung pada tahun 2012, dan program sarjana Pendidikan Matematika di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung pada tahun 2016. Pada tahun 2017,

penulis diterima sebagai mahasiswa Magister Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan

(9)

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Segala puji bagi Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna

Sholawat serta Salam selalu tercurah kepada Uswatun Hasanah Rasulullah Muhammad SAW, kupersembahkan karya ini sebagai tanda cinta dan

kasih sayangku kepada:

Bapak ( Sohip, S.T.) dan Ibu (Samsiati), yang telah membesarkan dan mendidik dengan penuh cinta kasih, memberikan semangat dan selalu mendoakan yang

terbaik untuk keberhasilan dan kebahagiaan putrinya

Kakakku (Mutia Oktiana, Rizky Pristian dan Lukmansyah), Adikku (Indira Widya Ningrum) serta Keponakanku (Ghaisan Attya Teymurian) yang selalu

memotivasiku dan memberikanku semangat untuk berjuang dan meraih kesuksesan

Seluruh keluarga besar Magister Pendidikan Matematika 2017 yang terus memberikan doanya, terima kasih

Para pendidik yang telah mengajar dan mendidik dengan penuh kesabaran.

Semua sahabat-sahabatku yang begitu tulus menyayangiku dengan segala kekuranganku

(10)

Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan

(Al-Insyirah: 6)

Segala sesuatu yang sudah menjadi rezeki kamu, tidak akan

tertukar walaupun sekecil apapun

(11)

ii Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Alhamdulillahirobbil‘alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan tesis ini dapat diselesaikan. Sholawat serta salam selalu tercurah atas manusia yang akhlaknya

paling mulia, yang telah membawa perubahan luar biasa, menjadi uswatun hasanah, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.

Penyusunan tesis ini disadari sepenuhnya tidak terlepas dari bantuan berbagai

pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus ikhlas kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Karomani, M.Si., selaku Rektor Universitas Lampung,

beserta staf dan jajarannya yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S., selaku Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Lampung, beserta staf dan jajarannya yang telah memberikan bantuan dan kemudahan dalam menyelesaikan tesis ini.

3. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung, beserta staf dan jajarannya yang telah memberikan bantuan dan

(12)

iii

Dosen Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan sumbangan pemikiran, kritik, saran, motivasi, dan

semangat selama penyusunan tesis sehingga dapat terselesaikan dengan baik. 5. Bapak Drs. Suharsono. S., M.Sc., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing II yang

telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan motivasi, serta memberikan sumbangan pemikiran, kritik, dan saran selama penyusunan tesis sehingga dapat terselesaikan dengan baik.

6. Bapak Dr. Undang Rosidin, M.Pd., selaku Dosen Pembahas I yang telah memberikan masukan, kritik, dan saran yang membangun kepada penulis

sehingga tesis ini selesai dan menjadi lebih baik.

7. Bapak Dr. Sugeng Sutiarso, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan Matematika dan Dosen Pembahas II serta validator produk

(desain, media, dan materi) dalam penelitian ini yang telah banyak memberikan masukan, kritik, dan saran yang membangun kepada penulis sehingga tesis ini selesai dan menjadi lebih baik.

8. Ibu Dr. Nurhanurawati, M.Pd., selaku validator produk (desain, media, dan materi) yang telah memberikan penilaian dan sarannya.

9. Bapak Dr. Bambang Sri Anggoro, M.Pd., selaku validator produk (desain, media, dan materi) yang telah memberikan penilaian dan sarannya.

10. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Magister Pendidikan Matematika di

(13)

iv

beserta Wakil, staf, dan karyawan yang telah memberikan kemudahan selama penelitian.

12. Bapak Ma’ruf Darmawan, S.Pd., selaku guru matematika kelas VII yang telah banyak membantu dalam penelitian.

13. Siswa kelas VII dan VIII SMP Negeri 1 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020, atas semangat dan kerjasamanya.

14. Andri Santari, selaku teman terbaik yang selalu mendoakan, memberikan

perhatian, motivasi dan semangat demi terselesaikannya tesis ini.

15. Sahabat-sahabatku, Ima, Maya, Sinta, Nilam, dan Vera terimakasih atas

segala kebersamaan dan kepedulian.

16. Teman-teman karibku tersayang seluruh angkatan 2017 Magister Pendidikan Matematika.

17. Almamater Universitas Lampung tercinta yang telah mendewasakanku. 18. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tesis ini.

Semoga dengan kebaikan, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan pahala dari Allah SWT, dan semoga tesis ini

bermanfaat. Aamiin ya Rabbal’aalamiin.

Bandar Lampung, Januari 2020 Penulis

(14)

iv DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... ... 1

B. Rumusan Masalah ... ... 8

C. Tujuan Penelitian ... ... 9

D. Manfaat Penelitian ... ... 9

II. TINJAUAN PUSTAKA A.Teori Belajar Kontruktivisme ... .... 11

B.Model Guided Inquiry... 14

C.Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 20

D.Rancangan Model Guided Inquiry ... 25

E. Penelitian yang Relevan ... .... 27

F. Kerangka Berpikir ... 28

G.Definisi Operasional ... 29

H.Hipotesis Penelitian ... 30

III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 31

B. Tempat, Waktu dan Subjek Penelitian ... 31

C. Prosedur Penelitian ... 33

D. Desain Penelitian ... 34

E. Teknik Pengumpulan Data ... 39

F. Instrumen Penelitian ... 41

1. Instrumen Nontes ... 41

2. Instrumen Tes ... 45

G. Teknik Analisis Data ... 51

1. Analisis Data Studi Pendahuluan ... 52

2. Analisis Validitas Perangkat Pembelajaran ... 52

3. Analisis Kepraktisan Pembelajaran ... 54

(15)

v

1. Hasil Analisis Kebutuhan ... 60

2. Hasil Perencanaan Pengembangan Model Guided Inquiry ... 60

3. Hasil Validasi Ahlii ... 63

4. Hasil Revisi Validasi Ahli ... 67

5. Uji Coba Lapangan Awal ... 67

6. Hasil Uji Coba Lapangan Awal ... 73

7. Uji Coba Lapangan ... 73

B. Pembahasan ... 77

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 89

B. Saran ... 90

(16)

vi

Tabel Halaman

2.1 Rancangan Model Guided Inquiry... 26

3.1 Rancangan Uji Coba Lapangan ... 39

3.2 Pedoman Pemberian Skor Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa... 46

3.3 Hasil Validitas Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa... 48

3.4 Interpretasi Reliabilitas ... 48

3.5 Interpretasi Indeks Tingat Kesukaran ... 49

3.6 Hasil Tingkat Kesukaran Butir Soal ... 50

3.7 Interpretasi Indeks Daya Pembeda ... 51

3.8 Hasil Daya Pembeda Butir Soal ... 51

3.9 Kriteria Tingkat Kevalidan dan Revisi Produk ... 53

3.10 Kriteria Kepraktisan Analisis Rata-Rata ... 54

3.11 Kriteria Indeks Gain ... 55

3.12 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa... 57

3.13 Hasil Uji Homogenitas Kemampuan Berpikir Matematis Siswa Kritis... 58

4.1 Hasil Validasi Oleh Ahli Desain ... 64

4.2 Hasil Uji Validasi Terkait Materi dan Media ... 65

4.3 Rekapitulasi Angket Tanggapan Guru terhadap Model Guided Inquiry... 68

4.4 Rekapitulasi Angket Tanggapan Guru Matematika terhadap Silabus... 69

4.5 Rekapitulasi Angket Tanggapan Guru Matematika terhadap RPP ... 70

4.6 Rekapitulasi Angket Tanggapan Guru terhadap LKK... 71

4.7 Rekapitulasi Angket Respon Siswa terhadap LKK ... 72

4.8 Rekapitulasi Angket Respon Siswa terhadap Model Guided Inquiry... 73

4.9 Data Skor Awal Kemampuan Berpikir Kritis Matematis... 75

4.10 Hasil Uji-t Skor Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 75

4.11 Hasil Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 76

(17)

vii

Gambar Halaman

(18)

viii

Lampiran Halaman

A. Perangkat Pembelajaran

A.1 Silabus... 98

A.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 103

A.3 Lembar Kerja Kelompok ... 119

B. Instrumen Penelitian B.1 Kisi-Kisi Soal Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 156

B.2 Soal Pretest & Posttest Kemampuan Berpikir Kritis Matematis... 158

B.3 Kunci Jawaban Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis dan Pedoman Penskoran Soal ... 160

C. Analisis Data C.1 Analisis Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis... 168

C.2 Analisis Validasi Model Guided Inquiry ... 169

C.3 Analisis Validasi Ahli Materi ... 172

C.4 Analisis Validasi Ahli Media... 182

C.5 Analisis Angket Tanggapan Guru terhadap Model ... 185

C.6 Analisis Angket Tanggapan Guru terhadap Perangkat Pembelajaran . 187 C.7 Analisis Angket Tanggapan Guru terhadap LKK... 190

C.8 Analisis Angket Respon Siswa Terhadap LKK... 192

C.9 Analisis Angket Respon Siswa Terhadap Model... 194

C.10 Normalitas Data Pretest, Posttest dan Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis ... 197

C.11 Homogenitas Data Pretest, Posttest dan Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis ... 198

C.12 Uji-t Data Pretest Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol... 198

C.13 Uji-t Data Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis... 199

C.14 Deskripsi N-Gain Kelas Eksperimen ... 200

C.15 Deskripsi N-Gain Kelas Kontrol... 201

(19)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat mengakibatkan suatu perubahan di berbagai bidang, tak terkecuali bidang pendidikan. Melalui pendidikan siswa dapat mengembangkan kemampuan secara optimal, serta dapat mewujudkan fungsi dirinya sesuai dengan kebutuhan pribadi dan masyarakat. Pendidikan merupakan bagian dari penentu keberhasilan pembangunan nasional. Melalui pendidikan dapat diciptakan generasi penerus yang berkualitas dan ahli dalam berbagai bidang. Oleh karena itu pembaharuan pendidikan di Indonesia perlu terus dilakukan untuk menciptakan dunia pendidikan yang fleksibel terhadap perubahan zaman.

(20)

proses pembelajaran yang diselenggarakan dengan tujuan agar siswa mencapai pemahaman yang optimal terhadap materi yang diajarkan.

Permendikbud Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Oleh karena itu, setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksaan proses pembelajaran dan penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.

Pembelajaran matematika menuntut siswa untuk berpikir matematis, kritis, logis, analisis dan kreatif, menentukan konsep sendiri, mengaitkan antara konsep dan mengkomunikasikannya dalam proses pembelajaran, serta mendorong siswa untuk memiliki kemampuan bekerjasama. Hal tersebut sejalan dengan Greenstein (2012: 2) yang menyatakan bahwa hasil belajar siswa tidak terbatas pada penguasaan konsep, tetapi siswa diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi dan berkolaborasi.

(21)

pula tingkat keberhasilan pembelajaran. Namun keberhasilan pembelajaran matematika di Indonesia pada saat ini belum dapat dikatakan baik, karena belum mencapai hasil yang diharapkan.

Hal ini dapat terlihat dari hasil TIMSS (Trends in Internasional Mathematics and Science Study) 2015 rata-rata skor kemampuan matematika berada pada rangking 45 dari 50 negara dengan skor perolehan 397 dari skor ideal 500. Tidak jauh berbeda dari hasil TIMSS, hasil PISA (Programme For Internasional Students Assesment) 2015 menunjukkan bahwa Indonesia berada pada rangking 63 dari 70 negara dalam kemampuan literasi matematika dengan skor perolehan 386 dari skor ideal 490. Peringkat dan skor tersebut menunjukan kemampuan literasi matematika siswa Indonesia masih tergolong rendah.

Penguasaan ilmu yang menjadi aspek utama dalam penilaian internasional PISA adalah kemampuan literasi matematika. Literasi matematika menekankan penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan penilaian TIMSS mengukur domain kognitif yang meliputi pengetahuan, penerapan, dan penalaran. Domain pengetahuan mencakup fakta-fakta, konsep, dan prosedur yang harus diketahui siswa, domain penerapan berfokus pada kemampuan siswa menerapkan pengetahuan dan pemahaman konsep untuk menyelesaikan masalah rutin, dan domain penalaran yang berfokus pada penyelesaian masalah non rutin, konteks yang kompleks dan melakukan langkah penyelesaian masalah yang dilakukan melalui beberapa tahapan berpikir.

(22)

baik, maka kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikatakan baik pula. Hasil PISA dan TIMSS yang rendah mengindikasikan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa yang rendah pula. Siswa belum diarahkan untuk berpikir kritis dan selalu dihadapkan pada permasalahan yang rutin.

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian pendahuluan siswa kelas VII SMP Negeri 1 Bandar Lampung, diketahui masih banyak siswa yang belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) pada pembelajaran matematika, yaitu sebanyak 80,6% dari 314 siswa. Hasil observasi di kelas diketahui bahwa pembelajaran matematika masih terfokus pada guru sehingga kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan cara berpikir dan kemampuan berpikir kritis. Hal tersebut menjadi penyebab kemampuan berpikir kritis yang diperoleh siswa rendah. Menurut guru matematika, siswa kesulitan dalam mengidentifikasi dan menganalisa masalah dari suatu persoalan matematika. Sebagian besar siswa juga mengalami kesulitan dalam menerima pembelajaran. Ketika guru menyampaikan materi pembelajaran dan memberikan contoh soal, siswa paham terhadap contoh soal tersebut tetapi ketika soal diganti angka, siswa mulai merasa kebingungan dalam mengerjakan soal.

(23)

kesimpulan mengalami penurunan dari 29,35% menjadi 21,17%. Penurunan tersebut kemungkinan disebabkan oleh banyak faktor salah satunya pembelajaran dengan metode langsung tidak membiasakan siswa dalam membuat kesimpulan dari hasil pekerjaan yang siswa lakukan.

Berpikir kritis merupakan komponen penting untuk keterampilan abad ke-21 dan landasan untuk standar umum inti pembelajaran (Fortino, 2015: 62). Berpikir kritis sangat diperlukan oleh setiap siswa untuk menyikapi permasalahan, dengan berpikir kritis seseorang dapat mengatur, menyesuaikan, mengubah, atau memperbaiki pikirannya, sehingga dapat mengambil keputusan untuk bertindak lebih tepat. Berpikir kritis dapat juga diartikan sebagai kemampuan menganalisis suatu masalah secara mendalam. Menurut Thompson (2011: 2-3) siswa yang berpikir kritis adalah siswa yang memiliki rasa penasaran yang tinggi, sehingga ketika siswa berpikir kritis maka akan terus berusaha untuk menyelesaikan masalah yang diberikan.

Kemampuan berpikir kritis telah menjadi perhatian penting dalam kurikulum 2013 yang didesain agar siswa terbiasa untuk berpikir kritis dalam menyelesaikan permasalah matematika yang diberikan. Hal ini menyebabkan kemampuan berpikir kritis siswa sangat diperlukan oleh setiap siswa untuk dapat

menghadapi permasalahan-permasalahan khususnya permasalahan matematika. Cottrel (2005: 4) menyatakan bahwa salah satu kelebihan seorang pemikir kritis

(24)

Melihat pentingnya kemampuan berpikir kritis maka diperlukan pembenahan dalam proses pembelajaran agar dapat meningkatkan kemampuan tersebut. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah paradigma pembelajaran yang semula berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa baik secara individu atau kelompok, mereka mendapat kesempatan untuk aktif membangun pengetahuan mereka sendiri dari berbagai sumber belajar tidak hanya berasal dari guru sehingga pengetahuan tersebut akan lebih bermakna bagi siswa.

Menurut Sudjana (2005: 147) bahwa dalam proses pembelajaran di sekolah, guru hendaknya memilih dan menggunakan pendekatan, metode, strategi dan teknik yang dapat melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik maupun sosial. Pembelajaran yang menyenangkan dapat menciptakan pembelajaran yang kondusif bagi siswa untuk berpartisipasi aktif dan turut serta bekerja sama, sehingga antar siswa akan berdiskusi bersama dan berbuat ke arah tujuan yang sama.

(25)

mengidentifikasi konsep atau metode, dan mendorong siswa menemukan cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Riyadi, 2015: 83).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nuriali (2017: 63) menyimpulkan bahwa pembelajaran guided inquiry menekankan pada penyelidikan permasalahan. Pada proses penyelidikan masalah tersebut, siswa menggunakan segala potensi yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang diberikan. Kegiatan tersebut dapat mengembangkan proses berpikir kritis siswa sehingga dapat mempermudah siswa menemukan apa yang dicari untuk memecahkan masalah tersebut. Meskipun guided inquiry memiliki kelebihan, guided inquiry juga memiliki kelemahan.

Kelemahan guided inquiry terletak pada aktivitas siswa karena tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara penyelidikan. Hal ini juga diungkapkan oleh Isrok’atun (2018: 59) sebagai salah satu kelemahan dari guided inquiry yaitu

pembelajaran guided inquiry memerlukan pembelajaran aktif dalam menyelesaikan tahapan menemukan konsep materi, dalam proses pembelajaran terkadang masih ada siswa yang pasif dalam melakukan kegiatan belajar. Siswa hanya diam dan mengikuti kegiatan yang dilakukan siswa lain yang sedang berusaha menemukan konsep.

(26)

menggunakan pembelajaran guided inquiry pada siswa yang memiliki keterbatasan dalam belajar mampu meningkatkan keterlibatan siswa untuk berkolaborasi dan berdampak positif bagi diri siswa

Pembelajaran guided inquiry dirasa cocok karena dapat membantu siswa memperoleh kompetensi meneliti dan kompetensi pengetahuan yang disertai pula dengan kompetensi pemahaman, kompetensi menulis, kompetensi bekerjasama, kompetensi berpikir kritis, kreatif dan inovatif sekaligus mampu digunakan untuk mengembangkan minat dan motivasi belajar (Abidin, 2014: 149). Dengan pembelajaran penyelidikan siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik, membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada proses belajar yang baru dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa (Sutama, 2014: 5). Berdasarkan permasalahan di atas, pengembangan model pembelajaran menjadi hal yang penting dilakukan oleh guru. Pengembangan model pembelajaran yang tepat diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana produk model guided inquiry hasil pengembangan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa?

(27)

C. Tujuan Pengembangan

Tujuan Penelitian mengacu pada latar belakang masalah dan rumusan masalah penelitian. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1. Produk model guided inquiry hasil pengembangan dapat meningkatkan

kemampuan berpikir kritis matematis siswa.

2. Efektivitas model guided inquiry hasil pengembangan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan dalam pengembangan inovasi pembelajaran terutama model guided inquiry untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.

2. Manfaat Praktis a) Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang baik untuk sekolah yang bersangkutan atau sekolah lain sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

b) Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan guru dapat memperoleh suatu pendekatan belajar yang lebih efektif.

c) Bagi Siswa

(28)

pengetahuan sehingga prestasi belajarnya menjadi lebih baik, serta lebih siap untuk menghadapi pelaksanaan kurikulum 2013.

d) Bagi Peneliti Lain

(29)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Belajar Kontruktivisme

Teori konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Hal ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.

Teori konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih menekankan pada proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar, cara belajar, dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir dan skema berpikir seseorang.

(30)

menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan siswa proses pemahaman seperti anak tangga dari tingkat pemahaman yang rendah ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri yang menemukan konsep dan menyimpulkannya dengan bahasa dan kata-kata mereka sendiri (Hamzah, 2008).

Prinsip dasar yang melandasi kontruktivisme adalah bahwa semua pengetahuan dikontruksikan dan bukan dipersepsi secara langsung oleh indera (penciuman, perabaan, pendengaran, perabaan). Selain itu tidak ada teori kontruktivisme tunggal, tetapi sebagian besar para kontruktivis memiliki setidaknya ada dua ide utama yang sama yaitu (1) pembelajar aktif dalam mengkontruksikan pengetahuannya sendiri dan (2) interaksi sosial merupakan aspek penting bagi pengkonstruksian pengetahuan (Brunning, 2004: 195).

Dengan demikian, belajar menurut teori konstruktivisme bukanlah sekedar menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil ”pemberian” dari orang lain seperti guru, akan tetapi

hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap peserta didik. Pengetahuan hasil dari ”pemberian” tidak akan bermakna. Adapun pengetahuan

(31)

proses menyelesaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya (Shymansky,1992).

Menurut Supardan (2016, 6-7) secara garis besar di dalam pembelajaran kontruktivisme, konstruktor pengetahuan aktif memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Belajar selalu merupakan sebuah proses aktif. Pembelajar secara aktif mengkonstruksikan belajarnya dari berbagai macam input yang diterimanya. Hal ini mengisyaratkan bahwa pembelajar perlu bersikap aktif dapat belajar secara aktif.

2. Siswa belajar paling baik dengan menyelesaikan berbagai konflik kognitif (konflik dengan berbagai ide dan konsepsi lain) melalui pengalaman, refleksi dan metakognisi.

3. Belajar adalah pencarian makna. Pembelajar secara aktif berusaha mengontruksikan makna. Dengan demikian guru mengkonstruksikan berbagai kegiatan yang memungkinkan pembelajar untuk mengkonstruksikan makna. 4. Konstruksi pengetahuan bukan sesuatu yang bersifat individual. Belajar juga

dikonstruksikan secara sosial, melalui interaksi dengan teman sebaya, guru, dan sebagainya.

5. Guru harus memiliki pengetahuan yang baik tentang perkembangan siswa dan teori belajar.

6. Belajar selalu dikonseptualisasikan. Belajar tidak mempelajari fakta-fakta murni akan tetapi selalu dalam hubungan dengan apa yang telah diketahui. 7. Belajar dalam mengkonstruksikan pengetahuan secara menyeluruh, dengan

(32)

Sedangkan menurut Suparno (2001:70) prinsip-prinsip kontrukvisme yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri; (2) pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar, (3) siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah; (4) guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus. Hal ini sejalan dengan model guided inquiry, pada saat siswa dalam proses penyelidikan, permasalahan dibangun dari pengetahuan yang direkontruksi oleh siswa sendiri dan siswa mengembangkan ide-idenya sesuai dengan persepsinya, guru bertindak sebagai fasilitator serta membimbing ketika diperlukan.

B. Model Guided Inquiry

Inquiry adalah suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa yang menemukan dan menggunakan berbagai sumber informasi serta ide-ide untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap masalah atau topik. Siswa tidak hanya mengajukan pertayaan atau menjawab pertanyaan dengan benar, namun harus didukung oleh investigasi, eksplorasi, pencarian, dan penyelidikan (Kuhlthau, 2007: 2). Pembelajaran inkuiri menekankan pada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung melainkan siswa difasilitasi oleh guru untuk melakukan proses pencarian sehingga menemukan materi sesuai target kurikulum. (Majid, 2013:221).

(33)

dan memahami secara mendalam untuk memperoleh pengetahuan umum melalui penyelidikan. Sedangkan Moore (2009) mengatakan bahwa pada guided inquiry guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberikan pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Inquiry sering dianggap sebagai penyelidikan individu, ditingkatkan dengan keterlibatan dalam kolompok, dan masing-masing individu belajar dari yang lainnya dalam interaksi sosial, namun tanpa bimbingan dapat menjadi sesuatu yang membingungkan (Kuhlthau, 2007). Akibatnya peran guru di sini sangatlah penting. Guru dapat memberikan pendampingan kepada siswa sehingga mereka tidak akan menemukan konsep yang salah. Guru juga dapat memberikan batasan masalah yang akan diselesaikan siswa sesuai dengan kemampuannya.

Guided inquiry memfasilitasi siswa belajar satu sama lain di seluruh proses penyelidikan dengan memberikan kesempatan untuk berkolaborasi. Beberapa siswa bekerja secara berpasangan, di waktu yang lain dalam diskusi kelompok kecil, namun di lain waktu dengan seluruh kelas. Interaksi dalam kelompok ini membiasakan siswa untuk berpikir kritis yang mengarah pada pembelajaran yang mendalam (Kuhlthau, 2007: 90)

(34)

informasi sumber belajar. Sejalan dengan itu, Gerald (2011) menyatakan bahwa guided inquiry merupakan pendekatan pembelajaran konstruktivis yang memfasilitasi siswa untuk melakukan penyelidikan. Guru dibantu oleh pustakawan membimbing siswa menyelesaikan tugas yang bersifat open-ended.

Melalui guided inquiry, siswa memperoleh kemampuan untuk menggunakan alat-alat dan sumber daya untuk belajar di dalam dan di luar kelas. Guided inquiry membantu siswa mengembangkan motivasi, pemahaman bacaan, perkembangan bahasa, kemampuan menulis, pembelajaran kooperatif, dan keterampilan sosial. Semua ini telah diidentifikasi sebagai hal penting untuk keberhasilan belajar sepanjang hayat (Kuhlthau, 2007). Guided inquiry pada umumnya menekankan pertanyaan-pertanyaan dan ide-ide yang memotivasi siswa untuk ingin belajar lebih banyak dan menciptakan cara-cara untuk membagikan apa yang telah mereka pelajari.

Menurut Kuhlthau (2007: 25) terdapat enam karakteristik guided inquiry adalah: 1) Siswa dibimbing agar aktif dalam belajar dan mampu merefleksikan

pengalamannya.

2) Siswa belajar dengan membangun pengetahuan dari apa yang telah diketahuinya.

3) Siswa dibimbing mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang ditunjukkan dengan sikap kritis pada proses pembelajaran.

(35)

5) Siswa memiliki cara yang berbeda dalam belajar. 6) Siswa belajar melalui interaksi sosial dengan orang lain.

Pembelajaran guided inquiry lebih konstruktif, memberikan siswa kesempatan untuk bertanya dan berbagi pengalaman belajar, serta meningkatkan pengetahuan siswa dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Siswa mengumpulkan data melalui kegiatan percobaan untuk memecahkan masalah sehingga siswa mampu membangun dan menemukan konsep pengetahuan sendiri (Ketpichainarong, 2010). Proses pencarian informasi merupakan inti dari guided inquiry, hal tersebut karena didukung oleh banyak bukti saat pencarian informasi untuk menyelesaikan masalah.

Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa guided inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara sistematis, kritis, logis, analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Dengan pembelajaran inkuiri terbimbing siswa dapat lebih tertarik pada pembelajaran yang diajarkan karena siswa mendapatkan pengalaman secara langsung. Penerapan metode inkuiri terbimbing memfasilitasi siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi belajar, sehingga siswa menjadi aktif, kreatif, merasa senang, dan termotivasi untuk belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.

(36)

(3) open inquiry, yaitu siswa harus merumuskan masalah dan menemukan solusinya. Sedangkan menurut Bell & His colleagues (Pyle, 2008: 3) tahapan atau proses inkuiri meliputi (a) proses informasi terhadap siswa, (b) cara-cara guru memberikan motivasi kepada siswa dengan pertanyaan atau metode yang sesuai, (c) siswa menggunakan prosedur yang selektif didalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru dan (d) bagaimana siswa menjawab secara terbuka atas semua pertanyaan atau metode secara umum yang disampaikan oleh guru.

Langkah-langkah guided inquiry menurut Kuhlthau (2007: 20) yaitu: (1) initiation, (2) selection, (3) eksploration, (4) formulation, (5) collection, (6) presentation, (7) assessment. Berikut adalah penjelasan dari setiap langkah guided inquiry:

1. Inisiasi

Guru memulai proses penyelidikan dengan menjelaskan materi yang akan dipelajari. Guru memotivasi siswa sebelum memulai topik pelajaran dengan harapan siswa tidak merasa tertekan dalam mempelajari materi.

2. Seleksi

Siswa menelaah dan menyeleksi permasalahan yang diberikan oleh guru sebagai petunjuk untuk melakukan penyelidikan.

3. Eksplorasi

(37)

membutuhkan bimbingan dan instruksi dalam bekerja dengan sumber-sumber untuk membantu mereka melakukan proses informasi kompleks yang terlibat. 4. Formulasi

Guru membimbing siswa dalam membentuk sebuah kejelasan penyelidikan pada topik yang ditemukan dalam berbagai sumber.

5. Koleksi

Tahap ini merupakan tahapan yang mendukung dan memperluas kejelasan untuk membentuk pemahaman baru. Pada tahap ini siswa mengumpulkan informasi yang rinci beserta fakta-fakta.

6. Presentasi

Tahap ini adalah puncak dari proses penyelidikan. Siswa terlibat dalam tugas mempersiapkan untuk mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari dengan orang lain. Mereka biasanya membutuhkan bimbingan dan instruksi dalam mengkomunikasikan ide-ide mereka dengan jelas dan efektif.

7. Penilaian

Semua siswa bersama-sama merefleksi penyelidikan yang telah mereka lakukan. Tugas guru pada tahapan ini adalah mengevaluasi dan merefleksikan proses penyelidikan secara keseluruhan.

1. Kelebihan Guided Inquiry

(38)

pemecahan masalah siswa; (4) memberikan wahana interaksi pembelajaran untuk mencapai tingkat kemampuan siswa yang tinggi

Kelebihan pembelajaran inquiry menurut Hosnan (2014: 348) adalah sebagai berikut:

a. Membangun pemahaman konsep dan gagasan yang baik.

b. Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.

c. Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisitif sendiri.

d. Membantu siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri. e. Mendorong kepuasan yang bersifat intrinsik.

f. Mendorong terjadinya proses belajar yang lebih menantang.

C. Kemampuan Berpikir Kritis Matematis

Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih, dan rasional. Schafersman (1991: 3) mendefinisikan berpikir kritis sebagai kegiatan berpikir dengan benar dalam memperoleh pengetahuan yang relevan dan reliabel. Berpikir kritis diartikan sebagai berpikir nalar, reflektif, bertanggungjawab, dan mahir berpikir. Pendapat yang sama diungkapkan oleh Ennis (1993: 180) yang mengatakan bahwa berpikir kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif yang berfokus untuk menentukan apa yang mesti dipercaya atau dilakukan.

(39)

sasaran. Berpikir kritis merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi, mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendudukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis juga bisa disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus yang ditunggu.

Moon (2008: 21) Berpikir kritis adalah kemampuan untuk mempertimbangkan

berbagai informasi yang diperoleh dari berbagai sumber. Proses informasi ini

dilakukan dengan cara kreatif dan logis, menantang, menganalisis dan sampai

pada kesimpulan yang dipertimbangkan yang dapat dipertahankan kebenarannya.

Paul (Moon, 2008: 36) berpendapat bahwa berpikir kritis adalah proses disiplin

intelektual yang aktif dan terampil mengkonseptualisasikan, mensintesis,

mengevaluasi informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan oleh pengamatan,

pengalaman, refleksi, penalaran atau komunikasi, sebagai panduan untuk

keyakinan dan tindakan. Sedangkan menurut ACARA (Sanders, 2016: 22)

berpikir kritis adalah proses pengolahan informasi untuk mengembangkan

argumen atau memecahkan masalah.

(40)

pemikiran yang unik yang menjadi pemikir secara sistematis dan biasanya membebankan kriteria dan standar intelektual pada pemikiran, mengambil alih konstruksi pemikiran, membimbing pembangunan pemikiran menurut standar, menilai efektivitas dari pemikiran sesuai dengan tujuan, kriteria, dan standar.

Menurut Abdullah (2013) berpikir kritis matematis adalah aktivitas mental dalam bidang matematika yang dilakukan menggunakan langkah-langkah metode ilmiah. Selain itu, Moon (2008: 21) mengatakan bahwa berpikir kritis merupakan cara dalam mengembangkan argumen diri sendiri, mendekonstruksi gagasan atau mensintesis serangkaian ide yang terkait dengan ide-ide kompleks.

Fisher (Susanto, 2013: 122) mengungkapkan bahwa proses berpikir kritis adalah menjelaskan bagaimana sesuatu itu dipikirkan. Belajar berpikir kritis berarti belajar bagaimana bertanya, kapan bertanyam dan apa metode penalaran yang dipakai. Seseorang siswa hanya dapat berpikir kritis atau bernalar sampai sejauh ia mampu menguji pengalamannya, mengevaluasi pengetahuannya, ide-ide, dan mempertimbangkan argumen sebelum mencapai suatu justifikasi yang seimbang. Berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan yang digunakan pada kehidupan sehari-hari untuk menyelesaikan masalah karena berpikir kritis melibatkan alasan yang logis, menginterpretasikan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang memungkinkan membuat keputusan yang reliabel dan valid (Chukwuyenum, 2013: 13).

(41)

membuat, menganalisa argumen, menganalisis evaluasi serta menemukan jalan keluar dan mengambil keputusan tentang apa yang diyakini dan dilakukan.

1. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Ennis dan Noris (Nitko, 2011: 237) membagai komponen kemampuan penguasaan pengetahuan menjadi lima keterampilan yaitu:

a. Klarifikasi dasar (elementary clarification) meliputi aktivitas memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan dan tantangan.

b. Dukungan dasar (basic support) meliputi aktivitas mempertimbangkan kredibilitas sumber dan melakukan pertimbangan observasi.

c. Penarikan kesimpulan (inference) meliputi kegiatan melakukan dan mempertimbangkan deduksi, melakukan dan mempertimbangkan induksi, melakukan dan mempertimbangkan nilai keputusan.

d. Klarifikasi lanjut (advances clarification) meliputi kegiatan mengidentifikasi istilah dan mempertimbangkan definisi serta mengidentifikasi asumsi.

e. Strategi dan taktik (strategies and tactics) meliputi kegiatan menentukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.

Facione (2015, 9) mengemukakan enam kemampuan berpikir kritis yaitu: a. Interpretasi

(42)

b. Analisis

Kemampuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pernyataan, pertanyaan, konsep, deskripsi atau bentuk representasi lainnya yang dipergunakan untuk mengekspresikan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi dan pendapat.

c. Evaluasi

Kemampuan untuk menguji kebenaran dari informasi yang digunakan dalam mengekspresikan pemikiran atau pendapat.

d. Inferensi

Kemampuan untuk mengidentifikasi dan memperhatikan unsur-unsur yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan. Hal ini memerlukan pertimbangan informasi yang relevan.

e. Eksplanasi

Kemampuan untuk menjelaskan atau menyatakan hasil pemikiran dalam bentuk argumen-argumen yang didasarkan bukti, konsep, metode, kriteria dan konteks.

f. Regulasi diri

Kemampuan untuk memantau aktivitas kognitif seseorang dalam memperoleh kesimpulan penilaian pribadinya dengan cara menerapkan analisis dan evaluasi dalam mempertanyakan, mengkonfirmasi, memvalidasi atau membenarkan penalaran atau hasil pemikiran orang lain.

(43)

indikator ini berdasarkan pertimbangan kesesuaian dan karakteristik mata pelajaran matematika dan mempertimbangkan bahwa tidak semua indikator dapat terlihat dari hasil jawaban siswa atas suatu tes. Sebagai contoh, indikator regulasi diri akan lebih dapat diukur jika menggunakan teknik nontes serta mempertimbangkan banyaknya penelitian yang telah menggunakan indikator tersebut diantaranya penelitian dari Zhou, Huang dan Tian (2013) yang berjudul developing students critical thinking skills by task-based learning in chemistry experiment teaching dan penelitian Susilowati (2017) yang berjudul analisis keterampilan berpikir kritis siswa Madrasah Aliyah Negeri di Kabupaten Magetan.

D. Rancangan Model Guided Inquiry

Tahapan penelitian dan pengembangan sistem pembelajaran dapat dianalisis dari serangkaian tugas seorang guru dalam melaksanakan tugas pokoknya mulai dari merancang, melaksanakan sampai dengan mengevalusi suatu proses pembelajaran. Pada penelitian ini, akan dikembangkan model guided inquiry. Guided inquiry adalah pendekatan pembelajaran kontruktivis yang berdasarkan pada proses pencarian informasi untuk mengembangkan kompetensi dan meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran (Kuhlthau, 2007). Guided inquiry adalah sebuah metode pembelajaran dengan pendekatan keaktifan siswa yang direncanakan oleh guru berbasis penyelidikan untuk membangun pengetahuan dan pemahaman yang mendalam.

(44)

pengetahuan dan aktivitas penyelidikan. Melalui kelompok, siswa saling bekerjasama sehingga memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk menyampaikan ide-ide dan membuat suatu kesimpulan terhadap proses penyelidikan yang dilaksanakan. Proses pengembangan model guided inquiry yang dimulai dari penerapan sintaks guided inquiry yaitu inisiasi, seleksi, eksplorasi, formulasi, koleksi, kesimpulan, presentasi dan penilaian.

Langkah-langkah model guided inquiry sebelum dan sesudah dikembangkan, dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Rancangan Model Guided Inquiry

Sintaks Kegiatan

Sebelum Pengembangan Sesudah Pengembangan

Inisiasi Guru memberikan permasalahan kepada siswa untuk melakukan proses penyelidikan.

Seleksi Siswa melakukan seleksi pada sebuah topik atau pertanyaan sebagai petunjuk untuk melakukan investigasi

Siswa bekerjasama dalam kelompok melakukan seleksi pada suatu pertanyaan yang diberikan oleh guru

Eksplorasi Siswa mengeksplor pertanyaan dan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri yang muncul ketika mereka mulai belajar tentang topik.

Siswa bekerjasama dalam

kelompok memahami,

memberi makna, mengeksplor pertanyaan dan menyelidiki permasalahan

Formulasi Guru membimbing siswa dalam membentuk sebuah kejelasan penyelidikan pada topik yang ditemukan dalam berbagai sumber.

Siswa bekerjasama dalam

kelompok merumuskan

masalah yang diberikan dan guru membimbing siswa dalam membentuk sebuah kejelasan penyelidikan

Koleksi Siswa mengumpulkan informasi yang rinci beserta fakta-fakta untuk menyelesaikan permasalahan

Kesimpulan Siswa bekerjasama dalam

kelompok mengidentifikasi dari proses penyelidikan yang dilakukan untuk menarik kesimpulan

Presentasi Siswa menyiapkan untuk mempresentasikan apa yang mereka peroleh. Guru membimbing siswa dalam mengkomunikasian ide yang mereka dapat.

(45)

E. Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian yang relevan yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian dari Prasojo pada tahun 2016. Hasilnya menunjukkan bahwa produk perangkat pembelajaran yang dikembangkan berbasis inkuiri terbimbing berupa silabus, RPP, LKPD dan instrumen penilaian termasuk pada kategori sangat valid dan efektif sehingga perangkat tersebut layak digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Hasil penelitian Hamimi pada tahun 2018. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran menggunakan model Guided Inquiry layak digunakan karena termasuk pada kategori valid, praktis dan efektif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, didapatkan kesimpulan bahwa penggunaan model guided inquiry dapat dijadikan sebagai model untuk mengembangkan perangkat pembelajaran, oleh karena itu peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan menggunakan model guided inquiry dan mengukur sejauh mana kemampuan berpikir kritis matematis.

(46)

F. Kerangka Pikir

Proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, apabila proses itu direncanakan dengan baik. Pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik. Salah satu kemampuan yang penting dalam proses pembelajaran adalah berpikir kritis matematis. Berpikir kritis matematis merupakan kemampuan yang penting untuk dimiliki oleh setiap siswa, agar dapat memecahkan persoalan–persoalan yang dihadapi dalam dunia matematika yang selalu berubah dan semakin kompleks.

Kemampuan berpikir kritis matematis merupakan suatu kecakapan berpikir secara efektif yang dapat membantu siswa untuk membuat, mengevaluasi, serta mengambil keputusan tentang apa yang diyakini atau dilakukan. Masalah mendasar yang sering terjadi dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan siswa dalam memahami materi, ketidakmampuan siswa memahami materi dapat menyebabkan siswa menjadi pasif, siswa tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dalam upaya menunjang siswa agar dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis maka diperlukan model pembelajaran yang dapat mendorong siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Model pembelajaran yang dapat mendukung ketercapaian kemampuan berpikir kritis matematis siswa adalah penggunaan model pembelajaran guided inquiry.

(47)

dalam menemukan konsep sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan dan petunjuk-petunjuk yang diberikan, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dalam memberikan bimbingan dan arahan melalui LKK. LKK yang berikan mengacu pada langkah-langkah guided inquiry yang digunakan siswa dalam menemukan konsep dari materi yang sedang dipelajari. Melalui pembelajaran guided inquiry, pembelajaran matematika diharapkan akan lebih aktif dan meningkatkan semangat belajar siswa karena siswa termotivasi dalam penyelidikan konsep-konsep baru tentang materi yang diberikan.

G. Definisi Operasional

Definisi operasional pada penelitian ini adalah:

1. Teori konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. 2. Guided inquiry adalah rangkaian kegiatan yang menekankan pada proses

berpikir secara sistematis, kritis, logis, analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan

(48)

H. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan kajian teoritis maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

1. Model guided inquiry yang dikembangkan memenuhi kriteria valid dan praktis dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. 2. Pembelajaran dengan menggunakan model guided inquiry efektif dalam

(49)

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini penelitian pengembangan yang mengacu pada metode penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D). Research and development adalah penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2013). Menurut Borg & Gall (1983) menjelaskan bahwa penelitian dan pengembangan dalam pendidikan adalah pengembangan dan validasi suatu produk pendidikan, di mana temuan penelitian digunakan untuk merancang produk dan prosedur baru, yang kemudian secara sistematik diuji di lapangan, dievaluasi, dan disempurnakan sampai memenuhi kriteria tertentu, yaitu keefektifan.

B. Tempat, Waktu dan Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bandar Lampung pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Subjek dalam penelitian ini dibagi dalam beberapa tahap berikut:

1. Subjek Studi Pendahuluan

(50)

VII-5 yang terdiri dari 32 siswa dan subjek pada saat wawancara adalah enam siswa kelas VII dan guru yang mengajar matematika di kelas VII yaitu Bapak Ma’ruf Darmawan, S.Pd. Pemilihan keenam siswa tersebut berdasarkan saran dari

guru dan didasarkan pada kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

2. Subjek Validasi Model Pembelajaran

Subjek validasi ahli yang digunakan dalam penelitian ini adalah tiga orang ahli yang terdiri dari ahli desain, ahli media dan ahli materi. Validator dalam penelitian ini yaitu Bapak Dr. Sugeng Sutiarso, M.Pd., Ibu Dr. Nurhanurawati, M.Pd., dan Bapak Dr. Bambang Sri Anggoro, M.Pd. yang masing-masing memvalidasi desain model, silabus, RPP, LKK dan instrumen tes kemampuan berpikir kritis.

3. Subjek Uji Coba Lapangan Awal

(51)

4. Subjek Uji Coba Lapangan

Subjek pada tahap ini yaitu seluruh siswa kelas VII-4 sebagai kelas eksperimen berjumlah 29 siswa dan kelas VII-5 sebagai kelas kontrol berjumlah 32 siswa yang dipilih dengan teknik pengambilan sampel secara acak terhadap kelas (cluster random sampling).

C. Prosedur Pengembangan

Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D). Penelitian pengembangan ini dilakukan dengan

mengacu pada prosedur R&D dari Borg dan Gall (1983, 775) ada 10 langkah pelaksanaan strategi penelitian dan pengembangan, yaitu:

1. Penelitian dan pengumpulan data (Research and information collecting). 2. Perencanaan (Planning).

3. Pengembangan desain/draf produk awal (Develop preliminary form of product).

4. Uji coba lapangan awal (Preliminary field testing).

5. Revisi hasil uji coba lapangan awal (Main product revision). 6. Uji coba lapangan (Main field testing).

7. Penyempurnaan produk hasil uji coba lapangan (Operasional product revision).

8. Uji pelaksanaan lapangan (Operasional field testing). 9. Penyempurnaan produk akhir (Final product revision).

(52)

Tetapi penelitian ini bersifat terbatas, artinya tahapan R&D hanya dilakukan hingga hasil uji coba lapangan (Main field testing). Pembatasan tahapan R&D ini dilakukan karena mengingat keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya dari peneliti dalam menyelesaikan penelitian pengembangan ini.

D. Desain Penelitian

[image:52.595.114.510.364.601.2]

Desain penelitian yang digunakan pada pengembangan model guided inquiry menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang mengacu pada penelitian pengembangan menurut Borg dan Gall. Desain penelitian dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1

Gambar 3.1 Alur Desain Penelitian

Penjelasan mengenai langkah penelitian dan pengembangan di atas sebagai berikut:

1. Penelitian dan pengumpulan data (Research and Information Collecting) Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan penelitian pendahuluan berupa analisis kebutuhan dan studi literatur. Analisis kebutuhan dilakukan

Penelitian dan Pengumpulan Data (Analisis Pendahuluan dan studi

literatur)

Perencanaan Pengembangan Model

Guided Inquiry

Pengembangan Desain Model Guided Inquiry

Draf Model: Pengembangan Model

Guided Inquiry Uji Validasi Ahli

Uji Coba Lapangan Awal

Revisi Hasil Uji Coba Lapangan Awal

Penyempurnaan Produk Uji

(53)

dengan mencari tahu masalah pembelajaran apa yang dihadapi guru dan siswa. Pengumpulan informasi tersebut dilakukan dengan observasi di kelas. Tahap berikutnya yaitu melakukan wawancara dengan Bapak Ma’ruf Darmawan, S.Pd. selaku guru matematika kelas VII terkait hasil observasi agar hasil pengamatan yang diperoleh lebih akurat dan memperjelas beberapa hal mengenai kebutuhan siswa dalam pembelajaran dan wawancara pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Bandar Lampung.

Langkah selanjutnya dalam tahap ini yaitu studi literatur, berkaitan dengan mengumpulkan buku teks kurikulum 2013 yang digunakan guru saat mengajar, kemudian mengkaji buku-buku dan penelitian yang relevan sebagai acuan penyusunan LKK dalam pembelajaran model guided inquiry yang dikembangkan. Analisis juga dilakukan terhadap kompetensi inti dan kompetensi dasar matematika, silabus matematika kelas VII, serta indikator kemampuan berpikir kritis yang dilakukan sebagai bahan pertimbangan penyusunan materi dan evaluasi.

2. Perencanaan (Planning)

(54)

kelompok (LKK). Tahap selanjutnya yaitu menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol, menentukan ahli desain, ahli media dan ahli materi untuk pengembangan model dan perangkat.

3. Pengembangan desain (Develop Preliminary of Product)

Berdasarkan hasil studi pendahuluan dan perencanaan desain pengembangan model guided inquiry di atas, peneliti kemudian membuat pengembangan model guided inquiry yang di dalamnya termasuk perangkat pembelajaran berupa Silabus, RPP, LKK, dan instrumen tes kemampuan berpikir kritis serta

menentukan ahli (desain, materi dan media). Model guided inquiry selanjutnya didesain dengan mencakup komponen-komponen model pembelajaran yaitu mencakup sintaks, dampak intruksional dan dampak pengiring. Desain model pembelajaran tersebut selanjutnya disajikan dalam bentuk buku model

pembelajaran guided inquiry.

Selain komponen-komponen dari model pembelajaran, perangkat pendukung yaitu silabus, RPP, LKK dan instrumen tes kemampuan berpikir kritis siswa juga disajikan. LKK berfungsi menuntun siswa bekerja sama dalam kelompok untuk mengonstruksi pengetahuan baru dalam setiap pertemuan. Tes kemampuan berpikir kritis digunakan untuk mengetahui ketercapaian model guided inquiry untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan demikian, pada tahap desain produk ini akan dihasilkan buku model pembelajaran serta perangkat pendukung.

(55)

kepraktisan dan keefektifan. Sebelum model guided inquiry hasil pengembangan beserta perangkat pembelajaran diterapkan pada kelas uji coba lapangan awal, dilakukan uji ahli, yaitu uji validasi yang dilakukan oleh dosen ahli desain pembelajaran. Setelah model guided inquiry hasil pengembangan dan perangkat pembelajaran dinyatakan valid, maka dilakukan uji coba lapangan awal.

4. Uji coba lapangan awal (Preliminary field testing)

Setelah pengembangan produk awal selesai, maka tahap berikutnya adalah uji coba produk awal. Instrumen tes kemampuan berpikir kritis matematis yang telah direvisi pada tahap sebelumnya kemudian diujicobakan kepada siswa yang telah menempuh materi persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel yaitu kelas VIII.9 yang berjumlah 29 siswa. Selanjutnya pada tahap ini LKK diujicobakan pada enam siswa kelas VII yang berbeda dengan kelas penelitian. Enam siswa tersebut dipilih dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, rendah. Hal ini dilakukan agar LKK nantinya bisa digunakan oleh seluruh siswa baik dari kemampuan tinggi, sedang maupun rendah.

Peneliti selanjutnya memberikan angket respon siswa terhadap pembelajaran model guided inquiry berisi uji kemenarikan, kejelasan model dan materi serta daya guna dan angket respon siswa terhadap LKK berisi uji keterbacaan berupa tampilan, penyajian materi dan manfaat. Selain itu, diberikan angket tanggapan guru matematika terhadap model pembelajaran, silabus, RPP, LKK model guided inquiry.

(56)

media yang berkompeten dibidangnya melalui lembar validasi silabus, RPP, LKK dan instrumen tes kemampuan berpikir kritis matematis. Perangkat pembelajaran yang telah divalidasi oleh ahli kemudian direvisi sesuai dengan saran dan masukan dari para ahli. Validasi ahli pengembangan model dilakukan untuk mengetahui teori pendukung dan struktur pengembangan model guided inquiry. Validasi ahli materi materi dilakukan untuk mengetahui kebenaran isi dan format silabus, RPP, LKK dan instrument tes kemampuan berpikir kritis matematis. Validasi ahli media dilakukan untuk mengetahui kelayakan kegrafikan dan bahasa pada LKK model guided inquiry untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis.

5. Revisi hasil uji coba lapangan awal (Main product revision)

Revisi hasil uji coba lapangan awal dilakukan setelah pelaksanaan uji coba lapangan awal dengan mengacu pada hasil analisis angket yang diberikan kepada siswa pada kelas uji coba dan guru mata pelajaran matematika sehingga produk siap digunakan dalam uji lapangan.

6. Uji coba lapangan (Main field testing)

(57)

Tabel 3.1 Rancangan Uji Coba Lapangan

Kelas Pretest Perlakuan Posttest

Eksperimen Guided inquiry pengembangan

Kontrol Guided inquiry biasa

Keterangan:

Y1 : Skor pretest kemampuan berpikir kritis matematis kelas eksperimen

Y2 : Skor posttest kemampuan berpikir kritis matematis kelas kontrol

Y3 : Skor pretest kemampuan berpikir kritis matematis kelas eksperimen

Y4 : Skor posttest kemampuan berpikir kritis matematis kelas kontrol

Sebelum melakukan uji coba produk, terlebih dahulu diberikan pretest pada siswa di kelas eksperimen dan kontrol. Pretest bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa mengenai materi yang akan dipelajari. Langkah berikutnya yaitu melakukan pembelajaran model guided inquiry pengembangan pada kelas eksperimen, sedangkan pada kelas kontrol dilakukan pembelajaran guided inquiry biasa. Setelah keseluruhan pembelajaran selesai diberikan pada siswa di kedua kelas, berikutnya diberikan posttest untuk mengetahui efektivitas dari pembelajaran model guided inquiry pengembangan dan mengacu pada kemampuan berpikir kritis siswa.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian dan pengembangan ini adalah sebagai berikut.

1. Observasi

(58)

terhadap fenomena-fenomena yang dijadikan sasaran pengamatan (Sudjana, 2005). Pada penelitian ini, observasi dilakukan pada tahap studi pendahuluan yaitu mengobservassi proses pembelajaran yang berlangsung untuk menemukan masalah yang terjadi di sekolah tempat penelitian.

2. Wawancara

Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur yaitu dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara yaitu bapak Ma’ruf Darmawan, S.Pd. diminta mengenai pendapat, dan ide-idenya.

3. Angket Kevalidan dan Kepraktisan

Data mengenai kevalidan produk yang berupa pengembangan model beserta perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pendukung diperoleh melalui lembar validasi. Lembar validasi yang digunakan antara lain lembar penilaian kevalidan komponen model guided inquiry, RPP, LKK, dan tes kemampuan berpikir kritis matematis. Data mengenai kepraktisan model guided inquiry hasil pengembangan diperoleh dari angket kepraktisan guru untuk mempertimbangkan model tersebut dapat diterapkan di kelas berdasarkan penilaian guru dan siswa.

4. Tes

(59)

berpikir kritis siswa pada pembelajaran model guided inquiry. Instrumen yang akan digunakan berupa soal tes uraian.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari dua jenis instrumen, yaitu nontes dan tes. Instrumen – instrumen tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Instrumen Non Tes

Instrumen nontes ini terdiri dari beberapa bentuk yang disesuaikan dengan langkah – langkah dalam penelitian pengembangan. Terdapat dua jenis instrumen nontes yang digunakan yaitu wawancara dan angket. Wawancara digunakan saat studi pendahuluan, untuk mengetahui kondisi awal siswa, model yang digunakan dan pemakaian bahan ajar di sekolah. Instrumen yang kedua yaitu angket berupa skala Likert yang disesuaikan dengan tahapan penelitian. Instrumen ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai pendapat para ahli (validator), guru matematika dan siswa uji coba lapangan awal terhadap perangkat pembelajaran yang disusun. Instrumen ini akan menjadi pedoman dalam merevisi dan menyempurnakan model dan perangkat pembelajaran model guided inquiry yang disusun. Beberapa jenis angket dan fungsinya dijelaskan sebagai berikut:

a. Angket Validasi Model Pembelajaran

(60)

b. Angket Uji Validasi Materi

Instrumen ini digunakan untuk menguji perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Instrumen ini meliputi kesesuaian indikator dengan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) yang mencakup aspek kelayakan isi/materi, aspek kelayakan penyajian, dan penilaian pembelajaran. Adapun kisi-kisi instrumen untuk validasi materi yaitu:

1) Validasi Silabus

Kisi-kisi instrumen untuk validasi instrumen silabus yaitu: (1) isi yang disajikan meliputi keterkaitan antara kompetensi dasar (KD) dan indikator pencapaian kompetensi (IPK) dalam mata pelajaran, kegiatan pembelajaran yang dirancang dan dikembangkan berdasarkan model guided inquiry, menentukan sumber belajar yang disesuaikan dengan KD, IPK, materi pokok, dan kegiatan pembelajaran, dan penentuan jenis penilaian, (2) bahasa, meliput penggunaan bahasa yang sesuai dengan EYD dan kesederhanaan struktur kalimat.

2) Validasi RPP

(61)

struktur kalimat, dan (3) waktu, meliputi kesesuaian alokasi waktu dan pemilihan alokasi waktu berdasarkan tuntutan kompetensi dasar.

3) Angket Validasi LKK

Instrumen untuk memvalidasi LKK diserahkan kepada ahli materi dan ahli media. Kisi-kisi instrumen untuk validasi instrumen LKK yaitu: (1) Aspek kelayakan isi, meliputi kesesuaian materi dengan KD, keakuratan materi, keberadaan modul dalam mendorong keinginan siswa; (2) Aspek kelayakan penyajian, meliputi teknik penyajian, kelengkapan penyajian, penyajian pembelajaran, koherensi dan keruntutan proses berpikir; serta (3) Aspek penilaian strategi pembelajaran guided inquiry. Tujuan pemberian skala ini adalah menilai kesesuaian isi LKK dengan model guided inquiry dan kemampuan berpikir kritis matematis.

4) Angket Validasi Instrumen Kemampuan Berpikir Kritis Matematis

Kisi-kisi instrumen untuk validasi instrumen soal kemampuan berpikir kritis matematis meliputi kesesuaian teknik penilaian, kelengkapan instumen, kesesuaian isi, konstruksi soal, dan kebahasaan.

c. Angket Uji Validasi Media

(62)

d. Angket Tanggapan Guru Matematika

Instrumen ini digunakan untuk mengetahui tanggapan guru matematika mengenai perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan. Adapun kisi-kisi instrumen untuk angket tanggapan guru matematika yaitu:

1) Angket Tanggapan Guru matematika terhadap Pengembangan Model Guided Inquiry

Adapun kisi-kisi instrumen angket tanggapan guru matematika terhadap pengembangan model guided inquiry yaitu (1) aspek petunjuk meliputi kejelasan petunjuk, (2) aspek cakupan meliputi ketercapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran, respon siswa, tingkat kesulitan dalam implementasi, ketercukupan waktu, dan (3) aspek bahasa meliputi menggunakan bahasa Indonesia yang benar, sederhana, komunikatif.

2) Angket Tanggapan Guru Matematika terhadap Silabus

Adapun kisi-kisi instrumen angket tanggapan guru matematika terhadap silabus meliputi kesesuaian format silabus, kesesuaian KI, KD, indikator, pengalaman belajar, alokasi waktu,teknik penilaian, dan sumber belajar.

3) Angket Tanggapan Guru Matematika terhadap RPP

Adapun kisi-kisi instrumen angket tanggapan guru matematika terhadap RPP meliputi identitas mata pelajaran, rumusan tujuan/indikator, materi, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, pemilihan media/sumber belajar, penilaian hasil belajar, kebahasaan, dan pengembangan karakter.

4) Angket Tanggapan Guru Matematika Terhadap LKK

(63)

meliputi penampilan fisik, (3) syarat konstruksi meliputi kebahasaan, dan (4) syarat lain meliputi penilaian dan keterlaksanaan.

e. Angket Respon Siswa

Instrumen ini berupa angket yang diberikan kepada siswa sebagai pengguna produk. Lembar ini berfungsi untuk mengetahui respon siswa terhadap pengembangan model guided inquiry. Lembar ini sebagai dasar untuk merevisi lembar kerja kelompok. Adapun kisi-kisi angket respon siswa yaitu.

1) Angket Respon Siswa terhadap Pembelajaran Model Guided Inquiry

Adapun kisi-kisi instrumen angket respon siswa terhadap model guided inquiry yaitu (a) kemenarikan (menarik perhatian peserta didik), (b) kejelasan (kejelasan model dan materi), dan (c) daya guna.

2) Angket Respon Siswa terhadap LKK

Adapun kisi-kisi instrumen angket respon siswa terhadap LKK yaitu (1) aspek tampilan meliputi kejelasan teks dan kesesuaian gambar /ilustrasi dengan materi, (2) aspek penyajian materi meliputi kemudahan pemahaman materi, ketepatan penggunaan lambang atau simbol, kelengkapan dan ketepatan sistematika penyajian dan kesesuaian contoh dengan materi, dan (3) aspek manfaat meliputi kemudahan belajar, peningkatan motivasi belajar dan ketertarikan mengunakan lembar kerja kelompok.

2. Instrumen Tes

Figure

Gambar 3.1 Alur Desain Penelitian
Tabel. 3.2 Pedoman  Pemberian  Skor  Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Tabel 3.8 Hasil Daya Pembeda Butir Soal
Tabel 3.11 Kriteria Indeks N-Gain
+2

References

Related documents

Access provided by Cambridge University on 01/10/17. For personal use only... research on racial disparity. Because of severe racial disparities in incarceration, any negative

The maximal genetic distance increased to 11 nt (0.72%) in the P gene when the 11 other MV variants with slightly different NP-HVR sequences were included in the analysis, but it

Similarly, co-treatment with trametinib and doxorubicin significantly increased the cell population of sub-G1 and G2/M phase and the protein levels of cyclin B1 and p21 in

The predictive analytics on IOT is the branch of predictive analytics dealing with the prediction involved with the setting of Internet of Things (IOT) appliances. The

These beams which were distressed up to serviceability limit were then retrofitted with carbon fibre textile in different configurations and compositions and then

Words that did not follow canonical suffixation patterns for their POS category (irregulars, foreign words, incorrectly tagged words, etc.) were excluded. We segmented each

Adding system performance metrics (such as answer speed) and specific task requirements may allow a convergence between open domain and restricted domain QA

If we shift our focus from a corpus based statistics like frequency to term space that consists of all term candidates, we expect better result of extracted terms even from one