BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tindakan kelas yang
difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal Classroom Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui
akibat tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut (Kardiawarman dalam Paizaluddin, 2007: 2). Menurut Suharsimi Arikunto, dalam hal ini arti kelas tidak terikat pada pengertian ruang kelas,
tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik, yaitu kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama juga (Suharsimi: 2005). Sama seperti pendapat Suharsimi,
Purwadi menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan tugas pokoknya,
yaitu mengelola pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam arti luas (Purwadi dalam Paizaluddin, 2013: 7).
Sesuai dengan metode PTK ,prosedur penelitian yang akan ditempuh
(planning), (2) Pelaksanaan (acting), (3) Pengamatan (observing), (4) Refleksi (reflecting) (Wardhani, dkk., 2007: 2.4).
[image:2.595.149.501.168.434.2]Siklus tindakan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3. PTK dengan 2 Siklus Modifikasi Model Kurt Lewin
B. Setting Penelitian 1. Subjek Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan secara kolaborasi partisipan antara peneliti dengan guru kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat. Adapun subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas IV A SD
Negeri 10 Metro Pusat dengan jumlah 21 orang murid yang terdiri dari 8 orang laki-laki dan 13 orang perempuan.
Refleksi
Perencanaan
SIKLUS I
Pengamatan
Perencanaan
SIKLUS II
Pengamatan Refleksi
Tindakan
2. Lokasi Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat Kota Metro.
3. Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian ini pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015 selama 4 bulan terhitung dari bulan Januari sampai
April 2015.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:
1. Non tes, suatu teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data yang bersifat kualitatif dengan menggunakan observasi kinerja guru dan aktivitas belajar siswa terhadap
pembelajaran pembelajaran matematika dengan menggunakan model discovery learning.
2. Tes, digunakan untuk mengumpulkan data yang berupa skor siswa, guru mengetahui hasil belajar siswa setelah digunakannya model discovery learning pada kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat.
D. Alat Pengumpulan Data
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data antara lain:
1. Lembar panduan obervasi, lembar observasi ini digunakan observer
2. Tes yang digunakan adalah tes tertulis berupa pilihan ganda dan uraian singkat untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat pada pembelajaran matematika dengan menggunakan
model discovery learning dengan media tiga dimensi.
E. Teknik Analisis Data 1. Teknik Kualitatif
a. Analisis kinerja guru diperoleh dengan rumus:
NP = x 100
Keterangan:
NP = nilai yang dicari atau diharapkan
R = skor mentah yang diperoleh
SM = skor maximum ideal dari tes yang bersangkutan
100 = bilangan tetap
[image:4.595.163.513.543.747.2]Diadaptasi dari Purwanto (2008: 102)
Tabel 3.1 Instrumen kinerja guru dalam pembelajaran matematika dengan model discovery learning
No. Aspek Penilaian Skor
I Pra Pembelajaran
1. Kesiapan ruang, alat dan media pembelajaran 1 2 3 4 5
2. Memeriksa kesiapan siswa 1 2 3 4 5
II Membuka Pelajaran
1. Melakukan apersepsi 1 2 3 4 5
2. Menyampaikan kompetensi yang akan di capai dan rencana kegiatan
1 2 3 4 5
III Kegiatan Inti Pembelajaran
A. Penguasaan Materi Pembelajaran
1. Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran 1 2 3 4 5 2. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang
relevan
1 2 3 4 5
3. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 1 2 3 4 5 B. Penerapan Model Discovery Learning
1. Menyampaikan tujuan dan langkah – langkah pembelajaran serta hasil akhir dan penilaian yang
akan dilakukan (orientasi)
2. Melakukan identifikasi peserta didik 1 2 3 4 5
3. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif
1 2 3 4 5
4. Mengembangkan bahan-bahan belajar berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya
1 2 3 4 5
5. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks atau konkret ke abstrak
1 2 3 4 5
6. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik
1 2 3 4 5
C. Pemanfaatan Media Pembelajaran
1. Menunjukkan keterampilan dalam menggunakan media tiga dimensi
1 2 3 4 5
2. Menghasilkan pesan yang menarik 1 2 3 4 5
3. Menggunakan media tiga dimensi secara efektif dan efisien
1 2 3 4 5
4. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media tiga dimensi
1 2 3 4 5
5. Melaksanakan pembelajaran menggunakan media tiga dimensi secara runtut
1 2 3 4 5
6. Menguasai kelas saat pembelajaran menggunakan media tiga dimensi
1 2 3 4 5
7. Melaksanakan pembelajaran menggunakan media tiga dimensi sesuai dengan waktu yang telah dialokasikan
1 2 3 4 5
D. Pembelajaran yang Memicu dan Memelihara Keterlibatan Siswa
1. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran
1 2 3 4 5
2. Merespon positif partisipasi siswa 1 2 3 4 5
3. Memfasilitasi terjadinya interaksi guru, siswa dan sumber belajar.
1 2 3 4 5
4. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa 1 2 3 4 5 5. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang positif 1 2 3 4 5 6. Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme dalam
belajar
1 2 3 4 5
E. Penilaian Proses dan Hasil Belajar
1. Memantau kemajuan belajar 1 2 3 4 5
2. Melanjutkan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi
1 2 3 4 5
A.Penggunaan Bahasa
1. Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar 1 2 3 4 5 2. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar 1 2 3 4 5 3. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai 1 2 3 4 5 IV Penutup
1. Menutup refleksi pembelajaran dengan melibatkan siswa
1 2 3 4 5
2. Menyusun rangkuman dengan melibatkan siswa 1 2 3 4 5
3. Melaksanakan tindak lanjut 1 2 3 4 5
Skor Total Kinerja Guru Skor Maksimal
Nilai Kinerja Guru
Keterangan: Kriteria skor: 1 = Sangat Kurang 2 = Kurang Baik 3 = Cukup Baik 4 = Baik
5 = Sangat Baik
Tabel 3.2 Kriteria penentuan skor
Skor Nilai Mutu Rubrik
1 Sangat Kurang Tidak dilaksanakan oleh guru dan guru sangat tidak menguasai.
2 Kurang Baik Dilaksanakan dengan kurang baik oleh guru dan guru terlihat kurang menguasai.
3 Cukup Baik Dilaksanakan dengan cukup baik oleh guru
dan guru terlihat cukup menguasai.
4 Baik Dilaksanakan dengan baik oleh guru dan guru
terlihat menguasai.
5 Sangat Baik Dilaksanakan dengan sangat baik oleh guru dan guru terlihat profesional.
[image:6.595.163.496.270.406.2]Modifikasi Andayani, dkk (Suyadi, 2013: 56)
Tabel. 3.3 Kategori kinerja guru mengajar berdasarkan perolehan nilai
No. Rentang Nilai Kategori
1. N ≥ 80 Sangat Baik
2. 60 ˂ N≤ 79 Baik
3. 40 ˂ N ≤ 59 Cukup Baik
4. 20 N ≤ 39 Kurang Baik
5. N ≤ 20 Sangat Kurang
Sumber : (adaptasi Aqib, dkk., 2009: 41)
b. Presentase aktivitas belajar siswa diperoleh rumus sebagai berikut:
Keterangan
NP = nilai yang dicari atau diharapkan R = skor mentah yang diperoleh siswa
SM = skor maximum ideal dari tes yang bersangkutan 100 % = bilangan tetap
Diadaptasi dari Purwanto ( 2008: 102)
Tabel 3.4 Rubrik aktivitas siswa
No Aspek yang
diamati
Rubrik
1 Partisipasi 1. Mengajukan pertanyaan
2. Merespon aktif pertanyaan lisan dari guru 3. Mengemukakan pendapat
4. Mengikuti semua tahapan pembelajaran dengan baik 2 Minat 1. Antusias/semangat dalam mengikuti pelajaran
2. Tertib terhadap intruksi yang diberikan
3. Menampakkan keceriaan dan kegembiraan dalam belajar
4. Tanggap terhadap intruksi yang diberikan
3 Perhatian 1. Tidak mengganggu teman
2. Tidak membuat kegaduhan
3. Mendengarkan penjelasan guru dengan seksama 4. Melaksanakan perintah guru
4 Presentasi 1. Mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir
2. Mengerjakan tugas yang diberikan (LKS, latihan, dan lain-lain)
3. Mengumpulkan semua tugas yang diberikan guru 4. Menggunakan prosedur dan strategi pemecahan
[image:7.595.163.510.291.539.2]masalah dalam mengerjakan tugas yang diberikan Sumber: (Modifikasi Kunandar, 2010: 277)
Tabel 3.5 Lembar observasi aktivitas siswa
No Nama
Siswa
Aspek yang diamati Jml
Skor Nilai
Akti vitas
Partisipasi Minat Perhatian Presentasi
No Nama Siswa
Aspek yang diamati Jml
Skor Nilai
Akti vitas
Partisipasi Minat Perhatian Presentasi
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 10
11
Jumlah Skor Skor Maksimal Rata-rata
Tabel 3.6 Rubrik penilaian tiap aspek yang diamati
Skor Keterangan
5 Jika keempat poin, dalam aspek yang diamati muncul selama pengamatan
[image:8.595.165.561.84.205.2]4 Jika hanya tiga poin, pada aspek yang diamati yang muncul 3 Jika hanya dua poin, pada aspek yang diamati yang muncul 2 Jika hanya satu poin, pada aspek yang diamati yang muncul 1 Jika tidak satu pun, pada aspek yang diamati yang muncul
Tabel 3.7 Kualifikasi hasil observasi aktivitas siswa
Nilai Aktivitas (NA) Yang Diperoleh Kualifikasi
80 % ≤ NA ≤ 100 % Sangat Aktif
60 % ≤ NA < 80 % Aktif
40 % ≤ NA < 60 % Cukup Aktif
20 % ≤ NA < 40 % Kurang Aktif
0 % ≤ NA < 20 % Sangat Kurang Aktif
Sumber: (adaptasi Aqib, dkk., 2009: 41)
2. Teknik Kuantitatif
Teknik kuantitatif akan digunakan untuk menganalisis data yang menunjukan hasil belajar siswa dalam hubungannya dengan penguasaan
materi yang diajarkan guru. Nilai hasil belajar siswa diperoleh dari tes formatif setiap siklus. Cara menilai tes formatif dilakukan dengan
a. Untuk menghitung ketuntasan hasil belajar siswa secara individual digunakan rumus:
S = x 100
Keterangan:
S = nilai yang dicari/ diharapkan
R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab
N = skor maximum dari tes 100 = bilangan tetap
(Sumber: Adaptasi Purwanto, 2008: 112)
b. Untuk menghitung nilai rata-rata seluruh siswa didapat dengan menggunakan rumus:
=
Keterangan:
= nilai rata-rata
nilai
frekuensi nilai
(sumber: Herrhyanto, dkk. 2008: 4.3)
c. Untuk menghitung presentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal, digunakan rumus sebagai berikut:
P = x 100%
Tabel 3.8 Kategori tingkat keberhasilan belajar siswa (%).
Interval Nilai (%) Kategori
76 – 100 AB (Amat Baik)
51 – 75 B (Baik)
26 – 50 C (Cukup)
0 – 25 K (Kurang)
Adaptasi Purwanto (2008: 7.8)
Tabel 3.9 Contoh rubrik penilaian hasil belajar Kisi-kisi Butir Soal/Instrumen
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar Indikator Ranah
Kognitif Banyak Soal Memahami sifat bangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar 8.1 Menentukan sifat-sifat bangun ruang sederhana 8.2 Menentukan jaring-jaring balok dan kubus *Menyebutkan sifat-sifat bangun ruang : balok dan kubus
*Menyebutkan dan menggambar bangun ruang yang diberikan
*Menganalisis bidang-bidang pada balok dan kubus
*Menggambar dan membuat berbagai jaring-jaring kubus
*Menentukan jaring-jaring pada balok dan kubus
*Melakukan kegiatan percobaan untuk menentukan jaring-jaring pada balok dan kubus C1 C1 C4 C5 C3 C3 10 5 5 2 10 6
F. Prosedur Penelitian
Prosedur yang digunakan berbentuk siklus (cycle). Siklus ini tidak
[image:10.595.172.511.284.613.2]pembelajarannya dapat tercapai. Secara umum, terdapat empat langkah dalam melakukan PTK, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatam, dan refleksi.
G. Urutan Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus dan masing-masing
memiliki empat tahap kegiatan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun siklus tersebut antara lain:
SIKLUS I
1. Tahap Perencanaan (Planning)
Pada tahap ini, peneliti membuat rencana pembelajaran yang matang untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan. Dalam siklus
pertama, peneliti mempersiapkan proses pembelajaran matematika melalui model discovery learning dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Membuat jadwal perencanaan tindakan untuk menentukan materi pokok yang diajarkan, sesuai dengan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar.
b. Menyiapkan perangkat pembelajaran pada siklus 1, yaitu
pemetaan KI/KD, RPP, media pembelajaran, dan instrument tes. c. Menyiapkan lembar observasi untuk melihat aktivitas siswa pada
saat pembelajaran matematika dengan menerapkan model
2. Tahap Pelaksanaan (Acting)
Pada tahap pelaksanaan kegiatan pembelajaran matematika dengan menerapkan model discovery learning meliputi beberapa tahap
sebagai berikut: a. Kegiatan Awal
1.) Guru mengkondisikan kelas untuk memulai kegiatan pembelajaran.
2.) Guru menyampaikan apersepsi: memotivasi, dan
menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran.
3.) Guru memotivasi siswa untuk belajar dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi yang telah lalu.
b. Kegiatan Inti
1) Guru memberikan penjelasan tentang materi sifat-sifat
bangun ruang. Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan dan dirangsang untuk melakukan kegiatan penyelidikan guna menjawab
kebingungan tersebut.
2) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan
dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis.
sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.
4) Kemudian guru mengolah data dan informasi yang telah
diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya.
5) Siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil
pengolahan data.
6) Siswa menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip
umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil pembuktian.
7) Guru memberi penguatan dan memberi motivasi terhadap
siswa agar lebih berani dalam mengutarakan pendapatnya. 8) Siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang materi
yang belum dipahami.
9) Guru membagikan soal tes formatif mengenai materi yang telah diberikan.
c. Kegiatan Akhir
1) Guru bersama-sama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari
3) Guru memberikan tindak lanjut berupa PR untuk mengetahui tingkat kepahaman siswa.
4) Sebelum mengakhiri pembelajaran, guru mengajak para
siswa berdoa sebagai penutup pembelajaran hari ini.
3. Observasi (Observing)
Selama proses pembelajaran dari kegiatan awal sampai kegiatan
akhir diamati oleh observer dengan lembar observasi mengenai aktivitas belajar siswa serta observasi kinerja guru selama proses pembelajaran
berlangsung.
4. Refleksi (Reflecting)
Hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan refleksi adalah membahas sesuatu yang terjadi dalam siklus I yang dilakukan oleh
peneliti baik itu kelebihan ataupun kekurangan selama proses pembelajaran berlangsung. Kelemahan atau kekurangan yang terjadi pada proses pembelajaran, maka akan dilakukan perbaikan pada
perencanaan tindakan untuk siklus II. Sedangkan kelebihan atau kebaikan pada siklus I perlu dipertahankan untuk siklus selanjutnya dan
dapat dijadikan contoh dalam melaksanakan pembelajaran yang akan datang.
SIKLUS II
pembelajaran pada siklus II ini diharapkan lebih baik dibanding dengan hasil pembelajaran pada siklus I. Adapun pelaksanaan siklus II ini meliputi:
1. Tahap Perencanaan (Planning)
a. Mendata menetapkan materi pelajaran, yaitu materi kelas IV A
sesuai dengan kurikulum yang berlaku saat ini di SD Negeri 10 Metro Pusat
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
c. Menyiapkan media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran
d. Menyiapkan instrumen yang digunakan dalam siklus PTK (lembar observasi untuk melihat aktivitas siswa dan guru selama
pembelajaran berlangsung)
e. Menyusun alat evaluasi pembelajaran.
2. Tahap Pelaksanaan (Acting)
Pada tahap pelaksanaan siklus II, kegiatan pembelajaran matematika dengan menggunakan model discovery learning meliputi
beberapa tahap yaitu sebagai berikut: a. Kegiatan Awal
1) Guru mengecek kesiapan siswa dalam memulai
pembelajaran
2) Guru menyampaikan apersepsi dengan mengingatkan
3) Guru memotivasi siswa untuk belajar dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi yang telah lalu
b. Kegiatan Inti
1) Guru memberikan penjelasan tentang materi jaring-jaring
balok dan kubus. Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan dan dirangsang
untuk melakukan kegiatan penyelidikan guna menjawab kebingungan tersebut.
2) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan
dirumuskan dalam bentuk hipotesis.
3) Ketika eksplorasi berlangsung, guru memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.
4) Kemudian guru mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya.
5) Siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan
6) Siswa menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil pembuktian.
7) Guru memberi penguatan dan memberi motivasi terhadap siswa agar lebih berani dalam mengutarakan pendapatnya.
8) Siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.
9) Guru membagikan soal tes formatif mengenai materi yang
telah diberikan.
c. Kegiatan Akhir
1) Guru bersama-sama siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari
2) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar selalu rajin belajar.
3) Guru memberikan tindak lanjut berupa PR untuk mengetahui tingkat kepahaman siswa.
3. Observasi (Observing)
Selama proses pembelajaran dari kegiatan awal sampai kegiatan aktivitas belajar siswa serta observasi kinerja guru selama proses pembelajaran berlangsung.
4. Refleksi (Reflecting)
itu kelebihan ataupun kekurangan selama proses pembelajaran berlangsung. Jika pada siklus II pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan telah terjadi peningkatan dibanding dengan
siklus-siklus sebelumnya, maka penelitian dianggap cukup. Namun jika masih terdapat kekurangan, penelitian akan dilanjutkan pada siklus
selanjutnya.
H. Indikator Keberhasilan
Penerapan model pembelajaran discovery learning dengan media tiga
dimensi dalam pembelajaran matematika pada penelitian ini dapat dikatakan berhasil dilihat dari:
1. Adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran matematika di kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat pada setiap siklusnya
2. Penilaian aspek aktivitas minimal mencapai kategori “Baik”