• No results found

Text ABSTRACT pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRACT pdf"

Copied!
18
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tindakan kelas yang

difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal Classroom Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui

akibat tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut (Kardiawarman dalam Paizaluddin, 2007: 2). Menurut Suharsimi Arikunto, dalam hal ini arti kelas tidak terikat pada pengertian ruang kelas,

tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik, yaitu kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama juga (Suharsimi: 2005). Sama seperti pendapat Suharsimi,

Purwadi menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan tugas pokoknya,

yaitu mengelola pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam arti luas (Purwadi dalam Paizaluddin, 2013: 7).

Sesuai dengan metode PTK ,prosedur penelitian yang akan ditempuh

(2)

(planning), (2) Pelaksanaan (acting), (3) Pengamatan (observing), (4) Refleksi (reflecting) (Wardhani, dkk., 2007: 2.4).

[image:2.595.149.501.168.434.2]

Siklus tindakan dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3. PTK dengan 2 Siklus Modifikasi Model Kurt Lewin

B. Setting Penelitian 1. Subjek Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan secara kolaborasi partisipan antara peneliti dengan guru kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat. Adapun subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas IV A SD

Negeri 10 Metro Pusat dengan jumlah 21 orang murid yang terdiri dari 8 orang laki-laki dan 13 orang perempuan.

Refleksi

Perencanaan

SIKLUS I

Pengamatan

Perencanaan

SIKLUS II

Pengamatan Refleksi

Tindakan

(3)

2. Lokasi Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat Kota Metro.

3. Waktu Penelitian

Waktu pelaksanaan penelitian ini pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015 selama 4 bulan terhitung dari bulan Januari sampai

April 2015.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:

1. Non tes, suatu teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data yang bersifat kualitatif dengan menggunakan observasi kinerja guru dan aktivitas belajar siswa terhadap

pembelajaran pembelajaran matematika dengan menggunakan model discovery learning.

2. Tes, digunakan untuk mengumpulkan data yang berupa skor siswa, guru mengetahui hasil belajar siswa setelah digunakannya model discovery learning pada kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat.

D. Alat Pengumpulan Data

Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data antara lain:

1. Lembar panduan obervasi, lembar observasi ini digunakan observer

(4)

2. Tes yang digunakan adalah tes tertulis berupa pilihan ganda dan uraian singkat untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat pada pembelajaran matematika dengan menggunakan

model discovery learning dengan media tiga dimensi.

E. Teknik Analisis Data 1. Teknik Kualitatif

a. Analisis kinerja guru diperoleh dengan rumus:

NP = x 100

Keterangan:

NP = nilai yang dicari atau diharapkan

R = skor mentah yang diperoleh

SM = skor maximum ideal dari tes yang bersangkutan

100 = bilangan tetap

[image:4.595.163.513.543.747.2]

Diadaptasi dari Purwanto (2008: 102)

Tabel 3.1 Instrumen kinerja guru dalam pembelajaran matematika dengan model discovery learning

No. Aspek Penilaian Skor

I Pra Pembelajaran

1. Kesiapan ruang, alat dan media pembelajaran 1 2 3 4 5

2. Memeriksa kesiapan siswa 1 2 3 4 5

II Membuka Pelajaran

1. Melakukan apersepsi 1 2 3 4 5

2. Menyampaikan kompetensi yang akan di capai dan rencana kegiatan

1 2 3 4 5

III Kegiatan Inti Pembelajaran

A. Penguasaan Materi Pembelajaran

1. Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran 1 2 3 4 5 2. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang

relevan

1 2 3 4 5

3. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 1 2 3 4 5 B. Penerapan Model Discovery Learning

1. Menyampaikan tujuan dan langkah – langkah pembelajaran serta hasil akhir dan penilaian yang

(5)

akan dilakukan (orientasi)

2. Melakukan identifikasi peserta didik 1 2 3 4 5

3. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif

1 2 3 4 5

4. Mengembangkan bahan-bahan belajar berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya

1 2 3 4 5

5. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks atau konkret ke abstrak

1 2 3 4 5

6. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik

1 2 3 4 5

C. Pemanfaatan Media Pembelajaran

1. Menunjukkan keterampilan dalam menggunakan media tiga dimensi

1 2 3 4 5

2. Menghasilkan pesan yang menarik 1 2 3 4 5

3. Menggunakan media tiga dimensi secara efektif dan efisien

1 2 3 4 5

4. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media tiga dimensi

1 2 3 4 5

5. Melaksanakan pembelajaran menggunakan media tiga dimensi secara runtut

1 2 3 4 5

6. Menguasai kelas saat pembelajaran menggunakan media tiga dimensi

1 2 3 4 5

7. Melaksanakan pembelajaran menggunakan media tiga dimensi sesuai dengan waktu yang telah dialokasikan

1 2 3 4 5

D. Pembelajaran yang Memicu dan Memelihara Keterlibatan Siswa

1. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran

1 2 3 4 5

2. Merespon positif partisipasi siswa 1 2 3 4 5

3. Memfasilitasi terjadinya interaksi guru, siswa dan sumber belajar.

1 2 3 4 5

4. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa 1 2 3 4 5 5. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang positif 1 2 3 4 5 6. Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme dalam

belajar

1 2 3 4 5

E. Penilaian Proses dan Hasil Belajar

1. Memantau kemajuan belajar 1 2 3 4 5

2. Melanjutkan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi

1 2 3 4 5

A.Penggunaan Bahasa

1. Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar 1 2 3 4 5 2. Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar 1 2 3 4 5 3. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai 1 2 3 4 5 IV Penutup

1. Menutup refleksi pembelajaran dengan melibatkan siswa

1 2 3 4 5

2. Menyusun rangkuman dengan melibatkan siswa 1 2 3 4 5

3. Melaksanakan tindak lanjut 1 2 3 4 5

Skor Total Kinerja Guru Skor Maksimal

Nilai Kinerja Guru

(6)

Keterangan: Kriteria skor: 1 = Sangat Kurang 2 = Kurang Baik 3 = Cukup Baik 4 = Baik

5 = Sangat Baik

Tabel 3.2 Kriteria penentuan skor

Skor Nilai Mutu Rubrik

1 Sangat Kurang Tidak dilaksanakan oleh guru dan guru sangat tidak menguasai.

2 Kurang Baik Dilaksanakan dengan kurang baik oleh guru dan guru terlihat kurang menguasai.

3 Cukup Baik Dilaksanakan dengan cukup baik oleh guru

dan guru terlihat cukup menguasai.

4 Baik Dilaksanakan dengan baik oleh guru dan guru

terlihat menguasai.

5 Sangat Baik Dilaksanakan dengan sangat baik oleh guru dan guru terlihat profesional.

[image:6.595.163.496.270.406.2]

Modifikasi Andayani, dkk (Suyadi, 2013: 56)

Tabel. 3.3 Kategori kinerja guru mengajar berdasarkan perolehan nilai

No. Rentang Nilai Kategori

1. N ≥ 80 Sangat Baik

2. 60 ˂ N≤ 79 Baik

3. 40 ˂ N ≤ 59 Cukup Baik

4. 20 N ≤ 39 Kurang Baik

5. N ≤ 20 Sangat Kurang

Sumber : (adaptasi Aqib, dkk., 2009: 41)

b. Presentase aktivitas belajar siswa diperoleh rumus sebagai berikut:

(7)

Keterangan

NP = nilai yang dicari atau diharapkan R = skor mentah yang diperoleh siswa

SM = skor maximum ideal dari tes yang bersangkutan 100 % = bilangan tetap

Diadaptasi dari Purwanto ( 2008: 102)

Tabel 3.4 Rubrik aktivitas siswa

No Aspek yang

diamati

Rubrik

1 Partisipasi 1. Mengajukan pertanyaan

2. Merespon aktif pertanyaan lisan dari guru 3. Mengemukakan pendapat

4. Mengikuti semua tahapan pembelajaran dengan baik 2 Minat 1. Antusias/semangat dalam mengikuti pelajaran

2. Tertib terhadap intruksi yang diberikan

3. Menampakkan keceriaan dan kegembiraan dalam belajar

4. Tanggap terhadap intruksi yang diberikan

3 Perhatian 1. Tidak mengganggu teman

2. Tidak membuat kegaduhan

3. Mendengarkan penjelasan guru dengan seksama 4. Melaksanakan perintah guru

4 Presentasi 1. Mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir

2. Mengerjakan tugas yang diberikan (LKS, latihan, dan lain-lain)

3. Mengumpulkan semua tugas yang diberikan guru 4. Menggunakan prosedur dan strategi pemecahan

[image:7.595.163.510.291.539.2]

masalah dalam mengerjakan tugas yang diberikan Sumber: (Modifikasi Kunandar, 2010: 277)

Tabel 3.5 Lembar observasi aktivitas siswa

No Nama

Siswa

Aspek yang diamati Jml

Skor Nilai

Akti vitas

Partisipasi Minat Perhatian Presentasi

(8)

No Nama Siswa

Aspek yang diamati Jml

Skor Nilai

Akti vitas

Partisipasi Minat Perhatian Presentasi

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 10

11

Jumlah Skor Skor Maksimal Rata-rata

Tabel 3.6 Rubrik penilaian tiap aspek yang diamati

Skor Keterangan

5 Jika keempat poin, dalam aspek yang diamati muncul selama pengamatan

[image:8.595.165.561.84.205.2]

4 Jika hanya tiga poin, pada aspek yang diamati yang muncul 3 Jika hanya dua poin, pada aspek yang diamati yang muncul 2 Jika hanya satu poin, pada aspek yang diamati yang muncul 1 Jika tidak satu pun, pada aspek yang diamati yang muncul

Tabel 3.7 Kualifikasi hasil observasi aktivitas siswa

Nilai Aktivitas (NA) Yang Diperoleh Kualifikasi

80 % ≤ NA ≤ 100 % Sangat Aktif

60 % ≤ NA < 80 % Aktif

40 % ≤ NA < 60 % Cukup Aktif

20 % ≤ NA < 40 % Kurang Aktif

0 % ≤ NA < 20 % Sangat Kurang Aktif

Sumber: (adaptasi Aqib, dkk., 2009: 41)

2. Teknik Kuantitatif

Teknik kuantitatif akan digunakan untuk menganalisis data yang menunjukan hasil belajar siswa dalam hubungannya dengan penguasaan

materi yang diajarkan guru. Nilai hasil belajar siswa diperoleh dari tes formatif setiap siklus. Cara menilai tes formatif dilakukan dengan

(9)

a. Untuk menghitung ketuntasan hasil belajar siswa secara individual digunakan rumus:

S = x 100

Keterangan:

S = nilai yang dicari/ diharapkan

R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab

N = skor maximum dari tes 100 = bilangan tetap

(Sumber: Adaptasi Purwanto, 2008: 112)

b. Untuk menghitung nilai rata-rata seluruh siswa didapat dengan menggunakan rumus:

=

Keterangan:

= nilai rata-rata

nilai

frekuensi nilai

(sumber: Herrhyanto, dkk. 2008: 4.3)

c. Untuk menghitung presentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal, digunakan rumus sebagai berikut:

P = x 100%

(10)
[image:10.595.160.502.112.203.2]

Tabel 3.8 Kategori tingkat keberhasilan belajar siswa (%).

Interval Nilai (%) Kategori

76 – 100 AB (Amat Baik)

51 – 75 B (Baik)

26 – 50 C (Cukup)

0 – 25 K (Kurang)

Adaptasi Purwanto (2008: 7.8)

Tabel 3.9 Contoh rubrik penilaian hasil belajar Kisi-kisi Butir Soal/Instrumen

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar Indikator Ranah

Kognitif Banyak Soal Memahami sifat bangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar 8.1 Menentukan sifat-sifat bangun ruang sederhana 8.2 Menentukan jaring-jaring balok dan kubus *Menyebutkan sifat-sifat bangun ruang : balok dan kubus

*Menyebutkan dan menggambar bangun ruang yang diberikan

*Menganalisis bidang-bidang pada balok dan kubus

*Menggambar dan membuat berbagai jaring-jaring kubus

*Menentukan jaring-jaring pada balok dan kubus

*Melakukan kegiatan percobaan untuk menentukan jaring-jaring pada balok dan kubus C1 C1 C4 C5 C3 C3 10 5 5 2 10 6

F. Prosedur Penelitian

Prosedur yang digunakan berbentuk siklus (cycle). Siklus ini tidak

[image:10.595.172.511.284.613.2]
(11)

pembelajarannya dapat tercapai. Secara umum, terdapat empat langkah dalam melakukan PTK, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatam, dan refleksi.

G. Urutan Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus dan masing-masing

memiliki empat tahap kegiatan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun siklus tersebut antara lain:

SIKLUS I

1. Tahap Perencanaan (Planning)

Pada tahap ini, peneliti membuat rencana pembelajaran yang matang untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan. Dalam siklus

pertama, peneliti mempersiapkan proses pembelajaran matematika melalui model discovery learning dengan langkah-langkah sebagai

berikut:

a. Membuat jadwal perencanaan tindakan untuk menentukan materi pokok yang diajarkan, sesuai dengan Standar Kompetensi dan

Kompetensi Dasar.

b. Menyiapkan perangkat pembelajaran pada siklus 1, yaitu

pemetaan KI/KD, RPP, media pembelajaran, dan instrument tes. c. Menyiapkan lembar observasi untuk melihat aktivitas siswa pada

saat pembelajaran matematika dengan menerapkan model

(12)

2. Tahap Pelaksanaan (Acting)

Pada tahap pelaksanaan kegiatan pembelajaran matematika dengan menerapkan model discovery learning meliputi beberapa tahap

sebagai berikut: a. Kegiatan Awal

1.) Guru mengkondisikan kelas untuk memulai kegiatan pembelajaran.

2.) Guru menyampaikan apersepsi: memotivasi, dan

menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran.

3.) Guru memotivasi siswa untuk belajar dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi yang telah lalu.

b. Kegiatan Inti

1) Guru memberikan penjelasan tentang materi sifat-sifat

bangun ruang. Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan dan dirangsang untuk melakukan kegiatan penyelidikan guna menjawab

kebingungan tersebut.

2) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan

dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis.

(13)

sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.

4) Kemudian guru mengolah data dan informasi yang telah

diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya.

5) Siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil

pengolahan data.

6) Siswa menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip

umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil pembuktian.

7) Guru memberi penguatan dan memberi motivasi terhadap

siswa agar lebih berani dalam mengutarakan pendapatnya. 8) Siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang materi

yang belum dipahami.

9) Guru membagikan soal tes formatif mengenai materi yang telah diberikan.

c. Kegiatan Akhir

1) Guru bersama-sama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari

(14)

3) Guru memberikan tindak lanjut berupa PR untuk mengetahui tingkat kepahaman siswa.

4) Sebelum mengakhiri pembelajaran, guru mengajak para

siswa berdoa sebagai penutup pembelajaran hari ini.

3. Observasi (Observing)

Selama proses pembelajaran dari kegiatan awal sampai kegiatan

akhir diamati oleh observer dengan lembar observasi mengenai aktivitas belajar siswa serta observasi kinerja guru selama proses pembelajaran

berlangsung.

4. Refleksi (Reflecting)

Hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan refleksi adalah membahas sesuatu yang terjadi dalam siklus I yang dilakukan oleh

peneliti baik itu kelebihan ataupun kekurangan selama proses pembelajaran berlangsung. Kelemahan atau kekurangan yang terjadi pada proses pembelajaran, maka akan dilakukan perbaikan pada

perencanaan tindakan untuk siklus II. Sedangkan kelebihan atau kebaikan pada siklus I perlu dipertahankan untuk siklus selanjutnya dan

dapat dijadikan contoh dalam melaksanakan pembelajaran yang akan datang.

SIKLUS II

(15)

pembelajaran pada siklus II ini diharapkan lebih baik dibanding dengan hasil pembelajaran pada siklus I. Adapun pelaksanaan siklus II ini meliputi:

1. Tahap Perencanaan (Planning)

a. Mendata menetapkan materi pelajaran, yaitu materi kelas IV A

sesuai dengan kurikulum yang berlaku saat ini di SD Negeri 10 Metro Pusat

b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

c. Menyiapkan media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran

d. Menyiapkan instrumen yang digunakan dalam siklus PTK (lembar observasi untuk melihat aktivitas siswa dan guru selama

pembelajaran berlangsung)

e. Menyusun alat evaluasi pembelajaran.

2. Tahap Pelaksanaan (Acting)

Pada tahap pelaksanaan siklus II, kegiatan pembelajaran matematika dengan menggunakan model discovery learning meliputi

beberapa tahap yaitu sebagai berikut: a. Kegiatan Awal

1) Guru mengecek kesiapan siswa dalam memulai

pembelajaran

2) Guru menyampaikan apersepsi dengan mengingatkan

(16)

3) Guru memotivasi siswa untuk belajar dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi yang telah lalu

b. Kegiatan Inti

1) Guru memberikan penjelasan tentang materi jaring-jaring

balok dan kubus. Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan dan dirangsang

untuk melakukan kegiatan penyelidikan guna menjawab kebingungan tersebut.

2) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan

dirumuskan dalam bentuk hipotesis.

3) Ketika eksplorasi berlangsung, guru memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi

sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.

4) Kemudian guru mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya.

5) Siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan

(17)

6) Siswa menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil pembuktian.

7) Guru memberi penguatan dan memberi motivasi terhadap siswa agar lebih berani dalam mengutarakan pendapatnya.

8) Siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.

9) Guru membagikan soal tes formatif mengenai materi yang

telah diberikan.

c. Kegiatan Akhir

1) Guru bersama-sama siswa menyimpulkan materi yang telah

dipelajari

2) Guru memberikan motivasi kepada siswa agar selalu rajin belajar.

3) Guru memberikan tindak lanjut berupa PR untuk mengetahui tingkat kepahaman siswa.

3. Observasi (Observing)

Selama proses pembelajaran dari kegiatan awal sampai kegiatan aktivitas belajar siswa serta observasi kinerja guru selama proses pembelajaran berlangsung.

4. Refleksi (Reflecting)

(18)

itu kelebihan ataupun kekurangan selama proses pembelajaran berlangsung. Jika pada siklus II pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan telah terjadi peningkatan dibanding dengan

siklus-siklus sebelumnya, maka penelitian dianggap cukup. Namun jika masih terdapat kekurangan, penelitian akan dilanjutkan pada siklus

selanjutnya.

H. Indikator Keberhasilan

Penerapan model pembelajaran discovery learning dengan media tiga

dimensi dalam pembelajaran matematika pada penelitian ini dapat dikatakan berhasil dilihat dari:

1. Adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam

pembelajaran matematika di kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat pada setiap siklusnya

2. Penilaian aspek aktivitas minimal mencapai kategori “Baik”

Figure

Gambar 3. PTK dengan 2 Siklus Modifikasi Model Kurt Lewin
Tabel 3.1 Instrumen kinerja guru dalam pembelajaran matematika dengan model discovery learning
Tabel. 3.3 Kategori kinerja guru mengajar berdasarkan perolehan  nilai
Tabel 3.5 Lembar observasi aktivitas siswa
+3

References

Related documents

• The cost of doing the problem set increases, the later that you start (say that starting it later makes it more difficult to get help from the TA).. • You could do the problem

More recently, we (16) and others (12) have shown that the overnight quantitative RD-1 enzyme-linked immunosorbent spot assay (ELISPOT) T cell assay (T-SPOT-TB) is an excellent

The information required included the sample volume used, extraction method, DNA elution volume, PCR method, PCR target, PCR template input volume, PCR total reaction volume,

CONCENTRATION OF CHONDROITIN SULFATE (AS GLUCURONIC ACID) IN NORMAL ARTICULAR CARTILAGE FROM THE SHOULDER AND KNEE AT VARIOUS AGES3. The ratio of chondroitin sulfate, to collagen

Primer D was included in the ViroSeq kit to overcome issues with primer A, but this primer has the highest failure rate (Table 1), and more than 50% of samples failing with primer

Then applying EFEMP1 siRNA, plasmids transfection and adding purified EFEMP1 protein in human osteosarcoma cell lines, and using immunohistochemistry on 113 osteosarcoma

Finally, we collectively compared the semi-quantitative 4E-BP1 phosphorylation and eIF4G cleavage levels with the Annexin V+/DAPI+ cells in each treatment and determined

An attempt has been made to correlate the preservation of clot retraction with the life span of platelets in platelet-rich plasma stored at 40 C for varying time intervals..