FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2020
(Skripsi)
Oleh
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENURUNAN FUNGSI PARUPADA PEKERJA PENGECATAN MOBIL DI KOTA
BANDARLAMPUNG
Oleh:
MEIUTA HENING PRASTIWI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA KEDOKTERAN
Pada
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Metro, 25 Mei 1998, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari Bapak Hartanto dan Ibu Astuti Ningsih.
Pendidikan taman kanak-kanak diselesaikan di TK Perwanida pada tahun 2003, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD Muhammadiyah Metro Pusat pada tahun 2010, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMP Negeri 1 Metro pada tahun 2013, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMA Negeri 2 BandarLampung pada tahun 2016. Tahun 2015, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung melalui jalur penerimaan SNMPTN.
JIKA SUDAH WAKTUNYA, ALLAH PUNYA BANYAK
CARA UNTUK MEMPERTEMUKANNYA...
SANWACANA
Puji syukur Penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala pertolongan dan kemudahan yang diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini berjudul ―Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Fungsi Paru Pada Pekerja Pengecatan Mobil di Kota Bandarlampung‖ adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Kedokteran di Universitas Lampung. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Karomani, M.Si., selaku Rektor Universitas Lampung.
2. Dr. Dyah Wulan SRW, SKM., M.Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.
3. Para responden di Bengkel Pengecatan di Kota BandarLampung yang dengan tulus dan ikhlas membantu saya dan bersedia menjadi responden penelitian saya.
4. dr. Diana Mayasari., M.K.K. selaku Pembimbing Satu yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan bimbingan, kritik, saran dan nasihat yang bermanfaat dalam penelitian skripsi ini.
5. Dr. dr. TA Larasati., M.Kes. selaku Pembimbing Dua yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan masukan, kritik, saran dan nasihat bermanfaat dalam penyelesaian skripsi ini.
6. dr. Fitria Saftarina., M.Sc selaku Pembahas skripsi yang telah bersedia meluangkan waktu dan kesediannya untuk memberikan kritik, saran dan nasihat yang bermanfaat dalam proses penyelesaian skripsi ini.
7. dr. Rizki Hanriko, Sp.PA selaku Pembimbing Akademik atas waktu, nasihat, serta bimbingannya.
9. Kakak dan adik tercinta, Hapsari Supraba dan Syafira Maia yang selalu memberikan dukungan dan kasih sayang.
10. Seluruh staf pengajar dan karyawan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung atas segala ilmu dan bimbingan yang kelak akan digunakan sebagai bekal dalam menjalankan tugas sebagai dokter.
11. Sahabat-sahabat saya: Nabila, Yosi, Sasa, Sindi, Tiara, Via yang selalu mendukung dan selalu ada buat saya.
12. Teman-teman pembimbing 1 dan 2 saya: Neema, Carlos, Pingkan, Marla, Nia, Kiki, Tyas, Nada.
13. Sahabat-sahabat saya: Alan, Erwin, Abi, Rio, Ihsan, Janu, Nabila, Yosi, Sasa, Sindi, Via yang selalu mendukung saya.
14. Sahabat-sahabat SMA saya: Momon, Annisa, Ica, Dwi yang selalu mendukung saya.
15. Sepupu seperjuangan saya : Ayu Kartika yang telah menemani dan mendukung saya.
16. Motivator yang selalu memberi saya semangat dan dukungan yaitu Lazulfa Inda.
17. Kakak tingkat saya yang selalu mendukung dan memberi nasihat kepada saya yaitu Kak Mundo, Kak Winda, Kak Adel.
18. Teman-teman Trigeminus angkatan 2016 yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
19. Dan seluruh pihak yang terlibat dan membantu dalam setiap pembuatan skripsi maupun dalam kegiatan pembelajaran selama di FK yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi, semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna untuk pembaca.
Bandarlampung, Januari 2019 Penulis
ABSTRACT
FACTORS THAT INFLUENCE DECREASE LUNG FUNCTION IN CAR PAINTING WORKERS
IN THE CITY OF BANDAR LAMPUNG
By
MEIUTA HENING PRASTIWI
Background: Every job has risks that affect health. Decreased lung function capacity is one of the effects of car painting work. Impaired lung function is still one of the diseases caused by paint particles in the form of dangerous vapors inhaled by workers. Therefore the car painting job has a high risk of decreased lung function.
Method: The design of this study was observational analytic with cross sectional approach. There were 65 respondents who participated in this study taken using consecutive sampling. Research data were collected by questionnaire to assess age, years of service, length of work, use of PPE, workplace and smoking behavior and measurement of lung function using peak flow meter. Data were tested using the Chi Square Test with 95% CI (α = 5%).
Results: The results showed that 72.7% had poor lung function, 58.5% were aged ≥30 years, 32.2% with dengan10 years of work, length of work ≥8 were 56.9%, there were 50.8% working in a confined space, there were 47.7% not using respiratory protective equipment and 63.1% were heavy smokers. There was a significant relationship between age (p = 0.049), years of service (p = 0.029), duration of painting (p = 0.017), workplace (p = 0.029), use of respiratory protective equipment (p = 0.023) and smoking with decreased lung function on car painting workers in the city of Bandar Lampung (p = 0.001)
Conclusion: There is a relationship between age, work period, length of work, workplace, use of respiratory protective equipment and smoking with decreased lung function
ABSTRAK
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENURUNAN
FUNGSI PARU PADA PEKERJA PENGECATANMOBIL
DI KOTA BANDAR LAMPUNG
Oleh
MEIUTA HENING PRASTIWI
Latar Belakang: Setiap pekerjaan memiliki risiko yang berdampak pada kesehatan. Penurunan kapasitas fungsi paru merupakan salah satu efek dari pekerjaan pengecatan mobil. Gangguan fungsi paru masih merupakan salah satu penyakit akibat partikel cat berupa uap berbahaya yang terhirup ole pekerja. Oleh karenanya pekerjaan pengecatan mobil memiliki risiko tinggi terhadap penurunan fungsi paru.
Metode: Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Terdapat 65 responden yang mengikuti penelitian ini yang diambil dengan menggunakan consecutive sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan kuisioner untuk menilai usia, masa kerja, lama kerja, penggunaan APD, tempat kerja dan perilaku merokok serta pengukuran fungsi paru menggunakan peak flow meter. Data diuji menggunakan Chi Square Test dengan CI 95% (α=5%).
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72.7% mengalami fungsi paru yang buruk, 58,5% berusia ≥30 tahun, 32,2% dengan masa kerja ≥10 tahun, lama kerja ≥8 sebanyak 56,9%, terdapat 50,8% bekerja di tempat tertutup, terdapat 47,7% tidak menggunakan alat pelindung pernapasan dan 63,1% adalah perokok berat. Terdapat hubungan signifikan antara usia (p=0,049), masa kerja (p=0,029), lama pengecatan (p=0,017), tempat kerja (p=0,029), penggunaan alat pelindung pernapasan (p=0,023) dan merokok dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandar Lampung (p=0,001)
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara usia, masa kerja, lama kerja, tempat kerja, penggunaan alat pelindung pernapasan dan merokok dengan penurunan fungsi paru
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.3.1 Tujuan Umum ... 7
1.3.2 Tujuan Khusus ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
1.4.1 Manfaat Teoritis ... 9
1.4.2 Manfaat Praktis ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Proses Pengecatan Mobil ... 10
2.2 Bahaya Kandungan Pada Cat Mobil Terhadap Saluran Pernapasan ... 11
2.3 Usia ... 14
2.4 Masa Kerja dan Lama Kerja ... 15
2.5 Alat Pelindung Pernapasan ... 16
2.6 Tempat Kerja ... 17
2.6.1 Posisi Terhadap Pekerja Lain ... 18
2.6.2 Posisi Terhadap Spray dan Ventilasi ... 19
2.6.3 Posisi Terhadap Ketinggian Objek Yang Dicat ... 20
2.7 Merokok ... 20
2.8 Genetik ... 21
2.9 Fisiologi Pernapasan ... 22
2.10 Dampak Gangguan Pernapasan pada Pekerja Pengecatan Mobil ... 24
2.11 Cara Penilaian Fungsi Paru ... 26
2.12 Penyakit Yang Mempengaruhi Fungsi Paru ... 31
2.13 Kerangka Teori ... 35
2.14 Kerangka Konsep ... 36
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ... 38
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 38
3.3 Variabel Penelitian ... 38
3.3.1 Variabel Bebas ... 38
3.3.2 Variabel Terikat ... 39
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian ... 39
3.4.1 Populasi Penelitian ... 39
3.4.2 Sampel Penelitian ... 39
3.4.3 Kriteria inklusi ... 40
3.4.4 Kriteria eksklusi ... 40
3.5 Definisi Operasional ... 40
3.6 Metode Pengumpulan Data ... 41
3.7 Instrumen Penelitian ... 42
3.8 Langkah Kerja ... 42
3.8.1 Penyebaran Kuisioner ... 42
3.8.2 Pengukuran Puncak Laju Aliran Udara (Peak Flow Rate) ... 42
3.9 Pengolahan Data dan Analisis Data ... 43
3.9.1 Pengolahan Data ... 43
3.9.2 Analisis Data ... 44
3.10 Alur Penelitian ... 46
3.11 Etika Penelitian ... 47
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil penelitian ... 48
4.1.1 Gambaran Umum Penelitian ... 48
4.1.2 Karakteristik Responden ... 49
4.1.3 Analisis Univariat ... 50
4.1.4 Analisis Bivariat ... 56
4.1.5 Analisis Multivariat ... 61
4.2 Pembahasan ... 66
4.3 Keterbatasan Penelitian ... 84
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 85
5.2 Saran ... 87
DAFTAR TABEL
5. Kandungan bahan cat pada bengkel pengecatan ... 49
3. Karakteristik responden ... 50
4. Distribusi frekuensi responden berdasarkan fungsi paru ... 50
6. Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia ... 51
7. Distribusi frekuensi responden berdasarkan masa kerja ... 52
8. Distribusi frekuensi responden berdasarkan lama kerja ... 53
9. Distribusi frekuensi responden berdasarkan tempat kerja ... 54
10. Distribusi frekuensi responden berdasarkan penggunaan APD... 54
11
.
Distribusi frekuensi responden berdasarkan perilaku merokok ... 5512. Hubungan usia dengan fungsi paru... 56
13.
Hubungan masa kerja dengan fungsi paru ... 57
14. Hubungan lama jam kerja dengan fungsi paru ... 58
15. Hubungan tempat kerja dengan fungsi paru ... 59
16. Hubungan penggunaan APD dengan fungsi paru ... 60
17. Hubungan merokok dengan fungsi paru ... 60
18. Hasil analisis seleksi bivariat ... 62
Tabel halaman ... 42
19. Hasil uji regresi logistik tahap1 ... 63
20. Hasil uji regresi logistik tahap 2 ... 64
21. Hasil uji regresi logistik tahap 3 ... 64
DAFTAR GAMBAR
Gambar halaman
1. Pekerja sprayer mobil (NASCAR, 2006). ... 11
2 Masker P95 (NIOSH, 2004). ... 16
3. Posisi terhadap pekerja lain ... 18
4. Posisi pekerja terhadap ventilasi dan penggunaan nozzle semprot ... 19
5. Posisi terhadap ketinggian objek yang dicat. ... 20
6. Volume dan kapasitas paru-paru. ... 24
7. Peak flow meter. ... 27
8. Cara menggunakan peak flow meter ... 29
9. Contoh spirometri dengan mouthpiece,filter dan tampilan real-time ... 30
10. Kerangka teori ... 35
11. Kerangka konsep ... 36
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Lembar penjelasan penelitian Lampiran 2. Lembar kuisioner
Lampiran 3. Hasil penelitian
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pertumbuhan jumlah penduduk yang meningkat secara pesat telah mendorong lahirnya era industrialisasi. Peran teknologi otomotif di bidang industri body repair mobil membuat kehidupan dunia otomotif semakin dinamis. Salah satu komponen penting dalam perancangan body repair mobil adalah desain warna pengecatan (Gunadi, 2008). Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan seseorang datang untuk melakukan pengecatan ulang mobil mereka. Pertama, kecelakaan dapat menyebabkan goresan yang apabila dibiarkan dapat menjadi berkarat. Kedua, cat mobil memudar disebabkan oleh paparan sinar matahari, salju maupun pencucian mobil yang tidak maksimal (Kelly, 2009).
yang overspray. Untuk menghindari paparan yang overspray pekerja harus menghindari arah pengecatan yang berhadapan terhadap pekerja lainnya (Queensland Government, 2013).
Di tempat proses pengecatan mobil terdapat bahaya potensial kerja yang dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja. Bahaya potensial kimia berasal dari kandungan bahan kimia pada cat mobil berupa zat isosianat dan xylene yang dapat bersifat toksik dan iritan. Bahaya potensial listik berasal dari penggunaan alat cat semprot elektrik. Bahaya potensial fisik lainnya seperti kebisingan pada saat proses pengecatan di dalam spray booth, suhu panas akibat paparan sinar matahari langsung di tempat terbuka ataupun ruang tertutup dengan ventilasi yang kurang adekuat. Bahaya potensial ergonomi oleh karena posisi statis saat mengecat menggunakan spray gun (Queensland Government, 2013).
3
cat semprot berupa isocyanate yang terinhalasi dalam kurun waktu yang cukup lama dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya gangguan pernapasan yang bermanifestasi klinis sebagai batuk mengi (Saab, 2016).
Prevalensi penurunan kapasitas fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil dari hasil beberapa penelitian menunjukkan besaran masalah yang cukup signifikan. Penelitian oleh Numan di Baghdad (2012), sebanyak 36,4 % pekerja cat mobil mengalami penurunan fungsi paru dan hati. Penelitian yang dilakukan Piirila (2005) menunjukkan dari 13 pekerjaan di Finlandia, pekerjaan yang prevalensi kejadian penyakit saluran pernapasannya paling tinggi adalah pengecatan mobil. Penelitian di Indonesia juga menunjukkan hal yang sama, misalnya penelitian Veronica (2018), menunjukkan bahwa penggunaan masker dan masa kerja berhubungan dengan faktor risiko gangguan paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Palu.
Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011(2011), kadar partikel respirable ditetapkan nilai ambang batasnya sebesar 3 mg/m3. Apabila selama 8 jam bekerja tiap harinya atau 40 jam selama seminggu, pekerja terpapar oleh partikel lebih dari 3 mg/m3, maka pekerja akan mempunyai risiko untuk terjadinya gangguan fungsi paru. Lama waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya gangguan fungsi paru adalah setelah terpapar kurang lebih selama 10 tahun. Paparan yang rendah namun terjadi dalam waktu yang lama juga dapat menimbulkan efek kumulatif sehingga pada akhirnya pekerja dapat mengalami gangguan fungsi paru (Budiono, 2007).
Aktivitas pengecatan di tempat terbuka memungkinkan suplai udara bersih secara otomatis, namun pajanan cat semprot dapat menyebar pada radius 15 meter. Sehingga, zona pembatas tempat cat dengan sekitarnya berjarak 6 m secara horizontal dan 2 meter secara vertikal. Sementara aktivitas pengecatan di tempat tertutup dilakukan dalam oven booth harus memiliki ventilasi yang baik agar dapat menggantikan udara dalam ruangan yang telah terkontaminasi oleh partikel cat (Queensland Government, 2013).
5
itu, jenis masker yang banyak digunakan pekerja berupa masker fiber dan kain penutup biasa berfungsi untuk menyaring debu dengan ukuran sebesar 10 mikron (Shaughnessy, 2017).
Berdasarkan hasil penelitian oleh Budiono tahun 2007 menunjukkan beberapa faktor risiko gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Semarang. Pekerja dengan masa kerja ≥ 10 tahun mengalami gangguan fungsi paru sebesar 92,3 %. Pekerja dengan usia ≥ 30 tahun mengalami gangguan fungsi sebesar 61,7%. Pekerja yang memiliki lama jam kerja/minggu ≥ 40 jam sebesar 51,6 %. Pekerja yang kadang-kadang menggunakan masker memiliki gangguan fungsi paru sebesar 80,5% (Budiono, 2007). Selain itu, hasil studi oleh Damayanti di Semarang pada tahun 2016 menunjukkan bahwa aktivitas pengecatan mobil yang tidak dilakukan di dalam ruang khusus pengecatan memiliki faktor risiko untuk terjadinya rhinitis akibat kerja sebesar 87,1 % (Damayanti, 2016).
beberapa pekerja sudah bekerja dalam waktu lebih dari 10 tahun, sementara kepedulian terhadap penggunaan alat pelindung pernapasan masih kurang. Masker pelindung yang banyak digunakan pekerja tersebut berupa masker yang terbuat dari kain serta masker fiber. Tempat yang digunakan pekerja untuk melakukan aktivitas pengecatan terdiri atas tempat yang terbuka yang dilakukan di lingkungan luar dan tempat tertutup yang dilakukan di dalam oven booth. Selain itu belum adanya penelitian yang pernah dilakukan di Kota Bandarlampung terkait dengan penurunan fungsi paru akibat kerja pada pekerja pengecatan mobil, maka hal ini menjadi dasar untuk peneliti melakukan penelitian ini.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil dengan melihat beberapa variabel, seperti, usia, masa kerja, lama jam kerja per-hari, penggunaan alat pelindung pernapasan tempat kerja dan merokok. Dengan demikian dapat dilakukan upaya pencegahan yang lebih efektif untuk menurunkan risiko dan angka morbiditas terjadinya penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil.
1.2Rumusan Masalah
7
mempengaruhi penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung?‖.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran fungsi paru pekerja pengecatan mobil pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
2. Mengetahui gambaran usia pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
3. Mengetahui gambaran masa kerja pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
4. Mengetahui gambaran lama jam kerja per-hari pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
5. Mengetahui gambaran tempat kerja pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
6. Mengetahui gambaran perilaku penggunaan alat pelindung pernapasan pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
8. Mengetahui hubungan antara usia dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung
9. Mengetahui hubungan antara masa kerja dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
10. Mengetahui hubungan antara lama jam kerja per-hari dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
11. Mengetahui hubungan antara tempat kerja dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
12. Mengetahui hubungan merokok dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
13. Mengetahui hubungan antara penggunaan alat pelindung pernapasan dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
9
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan di bidang kesehatan untuk mengurangi risiko penurunan fungsi paru akibat kerja.
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Bagi peneliti diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan tentang faktor-faktor risiko yang berpotensi terhadap penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil.
2. Bagi pekerja diharapkan dapat memperhatikan tentang keselamatan kerja agar dapat menurunkan faktor risiko penurunan fungsi paru akibat kerja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Proses Pengecatan Mobil
Beberapa proses dalam teknik pengecatan mobil antara lain adalah: (Gunadi, 2008).
1. Pekerjaan pengecatan dimulai dari pengamplasan permukaan body mobil menggunakan amplas. Kemudian dilakukan pendempulan untuk memperoleh hasil yang maksimal.
2. Untuk melindungi komponen yang tidak akan dicat perlu ditutup terlebih dahulu.
3. Kemudian kendaraan dibawa ke ruangan khusus pengecatan (spray booth). Hal ini dilakukan agar saat melakukan pengecatan, tidak terganggu oleh debu dan kotoran disekitar pengecatan.
11
[image:28.595.196.435.184.353.2]5. Agar kendaraan lebih mengkilap dan cat benar-benar rata, maka dilakukan polishing atau poles cat. Poles dapat dilakukan dengan menggunakan mesin, dapat juga menggunakan tangan.
Gambar 11. Pekerja sprayer mobil (NASCAR, 2006).
2.2 Bahaya Kandungan Pada Cat Mobil Terhadap Saluran Pernapasan
Bahan cat yang digunakan dalam pengecatan mobil berbentuk cair yang kemudian dimasukkan ke sebuah tabung untuk disemprotkan melalui nosel semprot. Cat semprot berbentuk partikel halus berupa aerosol yang berpotensi untuk masuk ke dalam saluran pernapasan. Lokasi deposisi dari aerosol cat mobil pada saluran pernapasan ditentukan oleh ukuran partikel (Wahyuningsih, 2003).
memilki ukuran partikel sekitar 0,5-2,5 mikrometer yang berpotensi untuk mengendap pada saluran napas bawah dan dalam waktu lama dapat berpotensi untuk menimbulkan gangguan pernapasan (Dahlin, 2008).
Selain itu, zat kimia berupa isocyanate juga digunakan sebagai bahan dasar perindustrian cat mobil. Isocyanate dapat terhirup dan masuk melalui saluran pernapasan. Beberapa gejala klinis yang menunjukkan akibat dari inhalasi isocyanate antara lain adalah iritasi pada saluran napas, kesulitan dalam bernapas, batuk, mengi, gejala asma, sakit kepala dan rasa tidak nyaman. Timbulnya efek terhadap saluran napas dapat terjadi pada malam hari atau beberapa jam setelah selesai bekerja (Australian Government, 2015).
Bahan cat mobil pada umumnya berbahan dasar air atau minyak dan terdiri atas tiga komponen penting yakni :
1. Tiner
13
2. Binder
Binder merupakan bahan perekat cat mobil yang mengandung zat kimia berupa resin yang dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas. Paparan awal tehadap resin dapat menimbulkan sensitisasi sehingga tubuh membentuk antibodi. Paparan yang berulang mampu menyebabkan inflamasi saluran napas hingga kerusakan paru secara permanen (Hines et al., 2011).
3. Pigmen
Pigmen berguna untuk mewarnai dan meningkatkan ketahanan cat mobil. Pigmen mengandung bahan kimia berupa lead chromate, chromium dan cadmium. Bahan kimia pada pigmen cat menyebabkan toksisitas pada sel dan menginduksi mekanisme karsinogenitas melalui kerusakan kromosom dan tumor promoter (Wang, 2017).
Terdapat beberapa mekanisme penimbunan partikel di dalam saluran pernapasan, antara lain adalah (Suma’mur, 2009) :
a. Inersia
Dengan adanya gaya gravitasi, partikel akan mengendap pada saluran napas seperti pada bronkus dan bronkiolus, kecepatan arus udara penapasan kurang dari 1 cm/detik sehingga dapat mengendapkan partikel dengan ukuran kurang dari 0,05 µm.
c. Gerakan brown
Pada proses difusi terjadi gerakan brown, yaitu mekanisme gerakan secara acak untuk partikel yang berukuran kurang dari 0,1 μ. Partikel-partikel kecil ini mengalami gerakan brown dan terperangkap di dalam alveolus.
2.3 Usia
Dengan bertambahnya usia, saluran udara pernapasan termasuk alveolus mengalami perubahan menjadi lebih kaku dan kurang elastis. Selain itu, dinding dada juga menjadi lebih kaku. Sehingga dapat menyebabkan penurunan kapasitas paru-paru. Pada dasarnya, kapasitas vital (jumlah maksimum udara yang dapat diekspirasikan setelah inhalasi maksimal) dapat menurun sebanyak 35% pada usia 70 tahun (Tortora & Derrickson, 2014).
15
bronchitis, emfisema, dan lainnya. Perubahan terkait usia dalam hal struktur dan fungsi paru juga dapat berkontribusi pada orang yang lebih tua seiring dengan berkurangnya kemampuan untuk melakukan latihan berat, seperti berlari (Tortora & Derrickson, 2014).
2.4 Masa Kerja dan Lama jam kerja per-hari
Masa kerja didefinisikan sebagai lamanya waktu seorang pekerja pada suatu tempat kerja (Bachman, 2015). Waktu yang dibutuhkan seseorang yang terpapar oleh debu untuk terjadinya gangguan fungsi paru kurang lebih sekitar 10 tahun. Beberapa bahan cat yang bersifat karsinogenik antara lain seperti chromium, cadmium dan chromate dapat berpotensi untuk meningkatkan kejadian kanker setelah pajanan lebih dari 20 - 30 tahun akibat terakumulasi dalam tubuh dalam waktu lama (Budiono, 2007).
Alat pelindung pernapasan adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi organ pernapasan dengan cara menyalurkan udara bersih dan sehat dan/atau menyaring cemaran bahan kimia, mikro-organisme, partikel yang berupa debu, kabut (aerosol), uap, asap, gas, dan sebagainya (Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia & Indonesia, 2010).
Masker fiber dan kain penutup biasa dengan tali yang dikaitkan di telinga hanya berfungsi untuk menyaring percikan air, darah dan debu dengan ukuran sebesar 10 mikron, hal ini disebabkan bahan karbon aktif untuk pembuatan masker tersebut memiliki serat-serat halus yang tidak tertutup rapat (Shaughnessy, 2017).
[image:33.595.245.381.613.721.2]Alat pelindung pernapasan yang tepat dan sesuai standar bagi tenaga kerja yang berada pada lingkungan kerja dengan paparan uap seperti pada pekerja cat semprot adalah jenis masker atau respirator P95. Masker jenis P95 mampu menyaring 95% dari berbagai jenis partikel berbahaya serta didesain dengan ventilasi yang baik. Kemampuan masker P95 mampu menahan partikel hingga ukuran kecil 0,3 mikron (NIOSH, 2004).
17
2.6 Tempat Kerja
Menurut Undang-Undang No 1 Tahun 1970, pengertian tempat kerja dalam K3 secara umum adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki tempat kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya. Tempat kerja pada aktivitas pengecatan mobil terdiri atas tempat terbuka ataupun tempat tertutup didalam ruang khusus pengecatan berupa oven booth.Ruang khusus pengecatan merupakan salah satu hal yang penting untuk meminimalkan risiko paparan bahan berbahaya. Ventilasi udara yang ada di dalam ruang pengecatan juga harus diperhatikan sehingga udara segar dapat menggantikan udara dalam ruangan yang telah terkontaminasi oleh debu cat (Budiono, 2007). Berdasarkan penelitian yang dilakukakn oleh Andhita 2016 menunjukan 27 orang terkena penyakit rhinitis akibat kerja pada bengkel pengecatan mobil yang tidak memiliki ruang khusus pengecatan.
harus menggunakan masker (Queensland Government, 2013).
Selain itu adanya ruang khusus pengecatan juga harus dilengkapi dengan ventilasi udara yang baik . Apabila ventilasi tidak tersedia secara cukup maka kemungkinan selanjutnya dapat menyebabkan konsentrasi debu cat meningkat. Pertukaran udara harus diatur sehingga dapat menggantikan udara dalam ruangan yang telah terkontaminasi dengan debu cat. Untuk memastikan pertukaran udara segar tersebut maka diperlukan air exhaust dalam ruangan pengecatan (Queensland Government, 2013).
[image:35.595.173.497.380.527.2]2.6.1 Posisi Terhadap Pekerja Lain
Gambar 13. Posisi terhadap pekerja lain (Queensland Government, 2013).
19
secara overspray, yaitu dengan cara menghindari arah pengecatan terhadap pekerja lainnya (Queensland Government, 2013).
[image:36.595.165.501.160.472.2]2.6.2 Posisi Terhadap Spray dan Ventilasi
Gambar 14. Posisi pekerja terhadap ventilasi dan penggunaan nozzle semprot (Queensland Government, 2013).
Gambar 15.Posisi terhadap ketinggian objek yang dicat (Queensland Government, 2013).
Ketinggian objek yang di cat juga dapat mempengaruhi jumlah paparan yang diterima oleh pekerja cat. Obyek pengecatan yang tinggi, besar dan sulit untuk dipindahkan memiliki kemungkinan untuk menimbulkan paparan yang lebih besar bagi pekerja. Pada keadaan tersebut, yaitu pekerja menangani obyek pengecatan yang ukurannya besar, maka diperlukan alat pendukung berupa gantry atau lift (Queensland Government, 2013).
2.7 Merokok
21
Menghirup asap rokok baik secara aktif dan pasif beruhubungan dengan irirtasi kronik dan ketidaknyamanan pada mata, hidung serta orofaring. Beberapa zat yang terbukti toksik pada asap rokok antara lain adalah acrolein, formaldehyde, karbon monoksida, nikotin, kotinin, dan lain-lain yang berpotensi toksik pada epitel pernapasan. Asap rokok dapat mengurangi fungsi pergerakan silia baik pada paparan akut maupun kronik. Selain itu asap rokok dapat mempengaruhi fungsi produksi mukus melalui perubahan metaplasia pada sel goblet sehingga meningkatkan sekresi pada saluran pernapasan atas. Disamping perubahan secara fungsional, asap rokok juga dapat menyebabkan penurunan viabilitas sel dan apoptosis silia (Tamashiro, 2009).
2.8 Genetik
Ventilasi pulmonal merupakan proses inhalasi, ekshalasi dan pertukaran udara antara atmosfer dengan alveolus. Pada ventilasi pulmonal, udara mengalir diantara atmosfer dan alveolus karena terjadi perbedaan tekanan akibat kontraksi dan relaksasi otot-otot pernapasan. Laju pertukaran udara dan usaha yang dibutuhkan untuk bernapas juga dipengaruhi oleh tegangan permukaan alveolus, kapasitas paru dan resistensi jalan napas. Udara masuk kedalam paru ketika tekanan udara didalam paru lebih rendah dibandingkan dengan tekanan di atmosfer. Udara keluar paru ketika tekanan didalam paru lebih besar dibandingkan dengan tekanan udara di atmosfer. Mekanisme pernapasan terdiri atas beberapa proses berikut (Tortora & Derrickson, 2014) :
23
sternocleidomastoiseus dan scalene mengembangkan paru lebih lanjut dan menyebabkan penurunan tekanan alveolus yang lebih besar. 2. Selama ekshalasi, diafragma dan otot intercostal eksterna mengalami
relaksasi. Dada dan paru mengalami recoil, sehingga rongga dada akan berkontraksi dan tekanan alveolus meningkat diatas tekanan atmosfer. Udara mengalir keluar paru akibat gradien tekanan dan volume paru menurun. Selama ekshalasi yang lebih dalam, otot abdominal dan intercostal interna akan berkontraksi, sehingga mengurangi ukuran rongga dada disertai peningkatan tekanan alveolus.
Terdapat beberapa jenis volume paru. Pertama, volume tidal, adalah jumlah udara yang masuk ke dalam dan ke luar paru pada pernapasan nomal (500 ml). Kedua, volume cadangan inspirasi (inspiratory reserve volume), adalah jumlah udara yang masih dapat masuk kedalam paru pada inspirasi maksimal setelah inspirasi biasa. Sekitar 3100 ml pada pria dewasa and 1900 ml pada wanita dewasa. Ketiga, volume cadangan ekspirasi (expiratory reserve volume), adalah jumlah udara yang dikeluarkan secara aktif dari dalam paru setelah ekspirasi biasa. Sekitar 1200 ml pada pria dan 700 ml pada wanita. Keempat, volume residu (residual volume), adalah jumlah udara yang tersisa dalam paru setelah ekspirasi maksimal. Sekitar 1200 ml pada pria dan 1100 ml pada wanita (Tortora & Derrickson, 2014).
500 ml + 1900 mL + 2400 ml pada wanita). Kapasitas residual fungsional adalah jumlah volume residual dan volume cadangan ekspirasi (1200 ml + 1200 ml + 2400 ml pada pria dan 1100 ml + 700 ml + 1800 ml pada wanita). Kapaitas vital adalah jumlah volume cadangan inspirasi, volume tidal, dan volume cadangan ekspirasi (4800 ml pada pria dan 3100 ml pada wanita). Kapasitas total pulmo adalah jumlah kapasitas vital dan volume residual (4800 ml + 1200 ml + 6000 ml pada pria dan 3100 ml + 1100 ml + 4200 ml pada wanita) (Tortora & Derrickson, 2014).
Gambar 16. Volume dan kapasitas paru-paru (Tortora & Derrickson, 2014).
2.10 Dampak Gangguan Pernapasan pada Pekerja Pengecatan Mobil
1. Asma
25
apakah seorang sensitif atau tidak terhadap suatu bahan iritan dan mengidentifikasi apakah bahan iritan tersebut merupakan bahan dengan berat molekul tinggi seperti protein atau bahan kimia reaktif berat molekul rendah seperti suatu isocyanate (Dykewicz, 2009). 2. Kanker
Jenis cat mobil sangat bervariasi tergantung pada jenis mobil. Warna cat yang paling sering digunakan adalah warna perak dan kuning yang diduga mengandung kandungan tertinggi logam berat seperti kromium hexavalen. Senyawa yang terkandung dalam cat tersebut diduga sebagai bahan karsinogenik paru. Paparan tinggi senyawa tersebut melalui inhalasi dialami oleh pekerja pengecatan selama menggunakan cat semprot. Hasil pemindaian tomografi pada penelitian tersebut dilakukan pada pasien laki-laki berusia 46 tahun yang bekerja sebagai car spray painting selama 15 tahun menunjukkan bahwa pasien memiliki massa 5,0 cm x 3,4 cm. Selain itu, hasil aspirasi jarum menunjukkan diagnosis non-small lung carcinoma (Kim, 2013).
3. Pneumonitis Hipersensitivitas
obstruktif dan restriktif (Budiono, 2007).
2.11 Cara Penilaian Fungsi Paru
Penilaian fungsi Paru dilakukan untuk mengevaluasi sistem pernapasan, atau kelainan yang berhubungan dengan fungsi paru. Selain itu penilaian fungsi paru juga berguna untuk pengobatan dan evaluasi gejala pernapasan seperti sesak nafas, batuk, untuk menilai praoperasi dan diagnosis penyakit seperti asma bronkial dan penyakit paru obstruktif. Instrumen atau alat yang dapat digunakan untuk menilai fungsi paru adalah menggunakan alat Spirometri dan Peak Flow Meter. Perbedaan kedua alat tersebut terlihat dari fungsi dari alat tersebut. Jika Spirometri memiliki empat fungsi yakni monitoring, diagnostik, evaluasi kecacatan, dan kesehatan masyarakat. Sedangkan Peak Flow Meter hanya memiliki fungsi sebagai alat diagnostik yakni sebagai deteksi dini adanya risiko terkena penyakit paru (Harahap, 2012).
1. Peak Flow Meter
27
[image:44.595.260.398.226.424.2]aliran rendah yang digunakan untuk anak dengan usia 4 dan 9 tahun, dan peak flow meter yang digunakan untuk orang dewasa. Keuntungan pengukuran arus puncak ekspirasi dengan menggunakan peak flow meter antara lain adalah alat ini mudah digunakan, sederhana, dan tidak mahal (Adeniyi, 2011).
Gambar 17. Peak flow meter (Adeniyi, 2011).
prediksi (Adeniyi, 2011).
Intepretasi dari Peak Flow Meter dilihat berdasarkan tiga zona, yaitu zona hijau dengan nilai FEV1/FVC sekitar 80% berarti fungsi paru baik. Zona kuning dengan FEV1/FVC sekitar 50-79 % berarti fungsi paru mengalami penurunan dengan aktivitas terbatas, batuk kronis, dan terdapat gangguan tidur, terakhir adalah zona merah dengan FEV1/FVC kurang dari 50% berarti fungsi paru sudah mulai buruk (Adeniyi, 2011). Cara penggunaan peak flow meter terdapat beberapa lagkah: (PAMF, 2014)
a. Atur kursor pada angka 0 dan jangan menyentuh kursor saat menghembuskan napas.
b. Berdiri dan pegang peak flow meter secara horizontal didepan mulut.
c. Tarik napas dalam-dalam dan tutup mulut di sekitar corong agar tidak ada kebocoran udara.
d. Hembuskan napas sekeras dan secepat mungkin serta perhatikan angka yang ditunjukan oleh kursor.
29
Gambar 18. Cara menggunakan peak flow meter (Adeniyi, 2011).
2. Spirometri
[image:46.595.263.395.99.281.2]Gambar 19. Contoh spirometri dengan mouthpiece,filter dan tampilan real-time (Department of Labour, 2013).
Di dalam menentukan hasil interpretasi spirometri maka pada awalnya harus ditentukan nilai referensi normal FEV1 dan FVC pasien berdasarkan jenis kelamin, umur dan tinggi badan (beberapa tipe spirometri dapat menghitung nilai normal dengan memasukkan data pasien). Kemudian pilih 3 hasil FEV1 dan FVC yang konsisten dari pemerikssan spirometri yang selanjutnya dibandingkan dengan nilai normal yang sudah ditentukan sebelumnya untuk mendapatkan presentase nilai prediksi (Uyainah, 2014). Interpretasi spirometri antara lain adalah : (Uyainah, 2014).
a. Fungsi paru normal menunjukkan nilai FEV1>80% dan FVC> 80% b. Obstructive Ventilatory Defects (OVD). Penyempitan saluran napas
31
c. Restrictive Ventilatory Defects (RVD). Gangguan restriktif yang menjadi masalah adalah hambatan dalam pengembangan paru dan akan mempengaruhi kerja pernapasan dalam mengatasi resistensi elastik. Manifestasi spirometrik yang biasanya timbul akibat gangguan ini adalah penurunan pada volume statik. RVD menunjukkan reduksi patologik pada TLC (< 80%).
2.12 Penyakit Yang Mempengaruhi Fungsi Paru
1. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Saat ini Indonesia masih menduduki urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus TB setelah India dan China. Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru, dimana ia akan membentuk suatu sarang pneumonik, yang disebut sarang primer atau afek primer (Perhimpunan Dokter Paru Seluruh Indonesia, 2006).
2006).
Selain dari gejala klinis tersebut penegakan diagnosis Tuberkulosis Paru dapat dikonfirmasi dngan pemeriksaan sputum BTA (Basil Tahan Asam) SPS (Sewaktu-Pagi-Sewaktu) dengan intepretasi apabila dalam 3 kali pemeriksaan positif atau 2 kali positif dan satu negatif berarti BTA positif, sedangkan jika 1 kali pemeriksaan positif dan 2 kali negatif ulangi pemeriksaan BTA 3 kali kemudian jika 1 kali pemeriksaan positif, 2 kali negatif berarti BTA positif dan apabila ketiga pemeriksaan negatif berarti BTA negatif dan bukan TB paru (Werdhani, 2011).
2. Asma Bronkial
33
neutrofil dan makrofag. Proses inflamasi kronik pada asma akan meimbulkan kerusakan jaringan yang secara fisiologis akan diikuti oleh proses penyembuhan (healing process) yang menghasilkan perbaikan (repair) dan pergantian sel-sel yang rusak dengan sel-sel yang baru (Perhimpunan Dokter Paru Seluruh Indonesia, 2003).
Diagnosis asma didasari oleh gejala yang bersifat episodik, gejala berupa batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan keadaan yang berkaitan dengan cuaca, dan biasanya gejala tersebut diperberat pada malam hari. Anamnesis yang baik dapat menegakkan diagnosis, ditambah dengan pengukuran fungsi paru, akan lebih meningkatkan nilai diagnostik (Perhimpunan Dokter Paru Seluruh Indonesia, 2003).
3. Penyakit Paru Obstruktif Kronik
pasien.10 Batuk kronis pada PPOK bisa juga muncul tanpa adanya dahak. Faktor risiko PPOK berupa merokok, genetik, paparan terhadap partikel berbahaya, usia, status sosioekonomi, dan infeksi (Soerto, 2014).
35
[image:52.595.89.540.84.681.2]2.13 Kerangka Teori
Gambar 20. Kerangka teori
(Budiono,2007)
Keterangan :
Variabel yang diteliti Variabel yang tidak diteliti
Terhirup dan masuk melalui saluran pernapasan Penurunan Fungsi Paru Deposisi partikel cat di saluran napas
Usia
Genetik Merokok
Menurunkan fungsi silia, pembengkakan epitel Defisiensi alpha 1 antitripsin Proses Pengecatan Penggunaan Alat Pelindung Pernapasan Penyebaran partikel di udara
Lama kerja
Masa kerja
Tiner : isosianat
Binder : resin
Pigmen: chromate, cadmium, chromium Melebihi ambang batas Kandungan cat Toksik Kerentanan individu Tempat kerja
Kerangka konsep penelitian merupakan suatu kaitan antara konsep-konsep atau variabel-variabel yang akan diamati atau diukur melalui penelitian. Berikut kerangka konsep dalam penelitian ini:
[image:53.595.144.515.194.365.2]Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 21. Kerangka konsep
2.15 Hipotesis
Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. H0 : Tidak terdapat hubungan antara usia dengan penurunan fungsi paru
Ha : Terdapat hubungan antara usia dengan penurunan fungsi paru 2. H0 : Tidak terdapat hubungan antara masa kerja dengan penurunan
fungsi paru
Ha : Terdapat hubungan antara masa kerja dengan penurunan fungsi paru
3. H0 : Tidak terdapat hubungan antara penggunaan alat pelindung pernapasan dengan penurunan fungsi paru
Ha : Terdapat hubungan antara penggunaan alat pelindung pernapasan dengan penurunan fungsi paru
1. Usia 2. Masa kerja 3. Penggunaan alat
pelindung pernapasan 4. Tempat kerja
5. Lama jam kerja per-hari
6. Merokok
37
4. H0 : Tidak terdapat hubungan antara tempat kerja dengan penurunan fungsi paru
Ha : Terdapat hubungan antara tempat kerja dengan penurunan fungsi paru
5. H0 : Tidak terdapat hubungan antara lama jam kerja per-hari dengan penurunan fungsi paru
Ha : Terdapat hubungan antara lama jam kerja per-hari dengan penurunan fungsi paru
6. H0 : Tidak terdapat hubungan antara merokok dengan penurunan fungsi paru
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1Jenis Penelitian
Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan pengambilan data Cross sectional. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diambil melalui pemeriksaan fungsi paru dengan menggunakan Peak Flow Meter.
3.2Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di 15 bengkel pengecatan mobil yang di Kota Bandarlampung pada bulan Oktober-Desember 2019.
3.3Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel Bebas
39
3.3.2 Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi variabel lain. Dalam penelitian ini yang merupakan variabel terikat adalah penurunan fungsi paru.
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian
3.4.1 Populasi Penelitian
Populasi target pada penelitian ini adalah pekerja di bengkel pengecatan mobil yang ada di Lampung, sementara populasi terjangkau adalah 68 pekerja di 15 bengkel pengecatan mobil yang ada di Kota Bandarlampung.
3.4.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah sekumpulan subyek maupun obyek yang diambil mewakili suatu populasi. Sampel dari penelitian ini yaitu pekerja pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
1) Besar Sampel
Untuk menentukan jumlah sampel pada penelitian ini menggunakan rumus Slovin sebagai berikut :
n =
=
=
=
n= 60 orang Keterangan : n = Besar sampel
N = Besar populasi pada 15 bengkel pengecatan mobil di Kota Bandarlampung (68 orang)
dari 68 sampel termasuk kedalam kriteria eksklusi, yaitu 2 orang pernah terdiagnosis penyakit Tuberkulosis dan 1 orang terdiagnosis asma. 2) Teknik Sampling
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengambilan sampel dengan menggunakan Consecutive Sampling yang berarti semua pekerja yang masuk dalam kriteria inklusi akan menjadi sampel penelitian.
3.4.3 Kriteria inklusi
1. Bersedia mengikuti proses penelitian hingga selesai.
3.4.4 Kriteria eksklusi
1. Tidak masuk kerja pada saat pengambilan data.
2. Pernah terdiagnosis penyakit gangguan paru seperti: Tuberkulosis (TBC), Asma Bronkial, Penyakit Paru Obstruktif Kronik.
[image:57.595.116.512.556.755.2]3.5Definisi Operasional
Tabel 2. Definisi operasional
No Variabel Definisi
Operasional Cara Ukur Hasil Ukur Skala
1. Usia Usia responden
(dalam tahun) saat dilaksanakan penelitian dan dipastikan dengan melihat kartu tanda penduduk responden.
Wawancara 1. ≥30 tahun
2. <30 tahun (Budiono,2007)
Skala Ordinal
2. Masa Kerja Lamanya
responden telah bekerja (dalam tahun dan bulan) sebagai pengecat mobil.
Wawancara 1. ≥10 tahun
2. <10 tahun (Budiono,2007)
41
3. Penggunaan
Alat Pelindung Pernapasan Penggunaan masker oleh responden pada saat bekerja.
Wawancara/ observasi langsung
1. Menggunakan 2. Tidak
menggunakan (Budiono,2007) Skala Nominal 4. Tempat Kerja Tempat yang digunakan pada saat melakukan aktivitas pengecatan. Wawancara/ observasi langsung 1. Tertutup 2. Terbuka (Budiono,2007) Skala Nominal
5. Lama Jam
Kerja Per- Hari
Jumlah jam kerja responden selama satu hari.
Wawancara/ observasi langsung
1. ≥8 jam 2. <8 jam (Budiono,2007)
Skala Ordinal
6. Merokok Kebiasaan
merokok responden yang dinilai melalui pengukuran derajat merokok. Kuisoner Indeks Brinkman
1. Perokok Ringan (0-200)
2. Perokok Sedang (200-600) 3. Perokok Berat
(>600) (Perhimpunan Dokter Paru Seluruh Indonesia, 2003). Skala Ordinal
7. Fungsi Paru Penilaian fungsi paru yang dilakukan pada responden dengan mengunakan peak flow meter untuk mengukur aliran udara ekspirasi.
Peak flow meter
1. Hijau; jika fungsi paru dalam keadaan baik (normal) (80-100%).
2. Kuning; jika fungsi paru mengalami penurunan fungsi sedang (50-79%).
3. Merah, jika fungsi paru mengalami penurunan fungsi secara berat (<50%). (Adeniyi, 2011) Skala Ordinal
3.6 Metode Pengumpulan Data
menilai fungsi paru menggunakan alat ukur fungsi paru yakni Peak Flow Meter. Data sekunder diambil dari data jumlah pengecatan di lokasi penelitian.
3.7Instrumen Penelitian
1. Kuisoner untuk wawancara dan mengisi data pribadi sampel penelitian 2. Alat bantu Peak Flow Meter
3.8Langkah Kerja
3.8.1 Penyebaran Kuisioner
a. Mengajukan surat permohonan izin penelitian kepada institusi pendidikan sebagai landasan permohonan mengadakan penelitian di Bengkel pengecatan mobil di Kota Bandarlampung.
b. Surat tersebut akan diajukan kepada pihak pemilik bengkel pengecatan mobil sebagai permohonan izin untuk melakukan penelitian.Setelah mendapat izin kemudian peneliti akan melakukan observasi, wawancara dan pengisian kuisoner, penilaian fungsi paru
3.8.2 Pengukuran Puncak Laju Aliran Udara (Peak Flow Rate)
a. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dengan cara mengukur dan mencatat nilai PEFR pada kelompok kontrol dan kelompok sampel yang sebelumnya sudah dilakukan informed consent terlebih dahulu.
43
c. Setiap sample berada dalam posisi berdiri sambil memegang sendiri alat Peak Flow Meter, kemudian melakukan inspirasi maksimal melalui hidung dan memposisikan bibir menutup kuat disekitar corong.
d. Kemudian secara cepat mengeluarkan napas dengan dihembuskan secara kuat melalui mulut yang sudah ada alatnya dan tidak boleh ada udara yang keluar melalui hidung.
e. Dilakukan 3 kali pengukuran berturut-turut pada tiap sample dan dapat diselingi istirahat.
f. Setiap akan ganti probandus, alat dibersihkan dengan alkohol swab. g. Baca setiap hasil pengukuran puncak laju aliran udara pada skala peak
flow meter (dalam L/menit), untuk menghindari kesalahan pembacaan pada skala peak flow meter maka di rekam dengan menggunakan video.
3.9Pengolahan Data dan Analisis Data
3.9.1 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan apabila data sudah terkumpul dan akan diubah ke dalam bentuk tabel dan diolah menggunakan program komputer. Proses tersebut terdiri dari beberapa langkah yakni:
1. Coding, menerjemahkan data yang terkumpul selama penelitian ke dalam simbol yang cocok untuk analisis.
2. Data entry, memasukkan data ke komputer.
3. Verification, memasukkan data pemeriksaan secara visual data yang dimasukkan dalam komputer
Analisis statistika dalam program komputer untuk mengolah data yang telah diperoleh menggunakan tiga macam analisis data, yaitu :
1) Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik variabel bebas dan terikat. Pada umunya digunakan untuk menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel.
2) Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis menggunakan uji chi square untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Kemaknaan perhitungan stastitika digunakan batas α=0,05 terhadap hipotesis, berarti jika p value < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Jika p value >0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat yang diuji. Apabila uji chi square tidak memenuhi syarat, uji alternatif untuk penelitian ini adalah uji penggabungan sel.
3) Analisis Multivariat
45
Gambar 22 Alur Penelitian Tahap Persiapan
Tahap Pelaksanaan
Tahap Pengolahan Data
Hasil
Pembuatan proposal
Pengajuan surat izin penelitian
Pemilihan sampel sesuai kriteria
Responden memenuhi kriteria dan bersedia
Observasi, wawancara dan pengisian kuisoner,
penilaian fungsi paru
Pencatatan
Melakukan input data
Analisis data spesifik
47
3.11 Etika Penelitian
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Simpulan yang diperoleh setelah dilakukan penelitian ini adalah:
1. Pekerja pengecatan di Kota Bandarlampung dengan usia ≥30 tahun sebanyak 30 responden (55,4%), dan sebanyak 29 responden (44,6%) berusia < 30 tahun.
2. Pekerja pengecatan di Kota Bandarlampung dengan masa kerja <10 tahun sebanyak 44 responden (67,7%) dan sebanyak 21 responden (32,3%) dengan masa kerja >10 tahun.
3. Pekerja pengecatan di Kota Bandarlampung dengan lama jam kerja per-hari ≥8 jam sebanyak 28 responden (43,1 %) dan sebanyak 37 responden (56,9%) dengan lama jam kerja per-hari < 8 jam.
4. Pekerja pengecatan di Kota Bandarlampung yang bekerja di tempat kerja tertutup sebanyak 18 responden (27,7%) dan sebanyak 47 responden (72,3%) bekerja di tempat terbuka.
5. Pekerja pengecatan di Kota Bandarlampung yang merupakan perokok ringan sebanyak 24 responden (36,9%), perokok sedang 6 responden (9,2%) dan perokok berat sebanyak 35 responden (53,8%) .
86
6. Pekerja pengecatan di Kota Bandarlampung yang sudah menggunakan alat pelindung pernapasan sebanyak 34 responden (52,3 %) dan sebanyak 31 responden (47,7) tidak menggunakan alat pelindung pernapasan. 7. Terdapat hubungan signifikan antara usia dengan penurunan fungsi paru
pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandar Lampung. (p=0,049) 8. Terdapat hubungan signifikan antara masa kerja dengan penurunan
fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandar Lampung. (p=0,029)
9. Terdapat hubungan signifikan antara lama jam kerja per-hari dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandar Lampung (p=0,017)
10. Terdapat hubungan signifikan antara tempat kerja dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandar Lampung. (p=0,029)
11. Terdapat hubungan signifikan antara penggunaan alat pelindung pernapasan dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandar Lampung. (p=0,023).
12. Terdapat hubungan signifikan antara merokok dengan penurunan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di Kota Bandar Lampung (p=0,001). 13. Perilaku merokok merupakan faktor paling dominan berpengaruh
1. Bagi para pekerja, disarankan untuk menggunakan alat pelindung pernapasan (APD) pada saat bekerja untuk menurunkan kemungkinan paparan cat yang dapat terhisap.
2. Pekerja perlu berupaya menjaga kesehatan fungsi paru dengan cara mengurangi kebiasaan merokok.
3. Perlu diadakannya pemeriksaan kesehatan paru secara berkala pada pekerja.
4. Bagi peneliti selanjutnya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada pekerja pengecatan mobil mengenai faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi fungsi paru dengan menggunakan jumlah sampel yang lebih besar dari penelitian ini agar hasil pengolahan data lebih berdistribusi dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Adeniyi BO. 2011. The peak flow meter and its use in clinical practice. AJRM. 33(2): 22–4.
Australian Government. 2015. Guide for handling isocyanates. Australia: Safe Work Australia.
Bachmann R, Felder R, Frings H, Giesecke M, Rzepka S. 2015. Job tenure in turbulent times. Luxembourg: Office of the European Union.
Baratawidjaja K, Harjono T. 2001. Asma akibat kerja. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi ke-3.Balai Penerbit FKUI Jakarta. hlm. 33-42. Boskabady MH, Dehghani H, Esmaeilzadeh M. 2003. Pulmonary function tests
and their reversibility in smokers. NRITLD. 2(8):23-30
Budiono, I. 2007. Faktor risiko gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di kota semarang. JOUR [Online Journal] [diunduh 5 November 2019]. Tersedia dari https://www.researchgate.net.
Dahlan S. 2010. Besar sampel dan cara pengambilan sampel. Jakarta: Salemba Medika.
Dahlin J, Spanne M, Dalene M, Karlsson D, Skarping G. 2008. Size-separated sampling and analysis of isocyanates in workplace aerosols - Part II: Aging of aerosols from thermal degradation of polyurethane. Ann Occup Hyg. 52(5): 375–83.
Damayanti, AR, Yusmawan W, Naftali Z. 2016. Faktor risiko rinitis akibat kerja pada pekerja pengecatan mobil pengguna cat semprot (studi pada bengkel pengecatan mobil di kota semarang). JKD. 5(4): 375–85.
Darmawan, A. 2013. Penyakit sistem respirasi akibat kerja. JMJ.1(1): 1-5.
Department of Labour. 2013. Spirometry Testing in Occupational Health Programs. US: Occupational Safety And Health Administration.
Faidawati, R. 2003. Penyakit paru obstruktif kronik dan asma akibat kerja. JRI. 7 -11.
Fathmaulida A. 2013. Faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru pada pekerja pengolahan batu kapur di desa Tamansari Kabupaten Karawang. [Skripsi]. Jakarta: FKIK UIN Syarif Hidayatullah.
Fisher. 2018. Resin : Safety Data Sheet. Canada : Fisher Scientific.
Global Safety Management. 2014. Polyurethane : Safety Data Sheet. USA : GSM
Gold D, Wypij XW. 2015. Effect of cigarette smoking on lung function in adolescent boys and girls. N Eng J Med. 335(13) : 931-7
Grafina MD, Fihir MI. 2013. Analisis gangguan fungsi paru pada pekerja di bengkel body repair X. Fakultas Kesehatan Masyarakat : Universitas Indonesia.
Gunadi. 2008. Teknik Bodi Otomotif Jilid 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Guyton C. Arthur. 2014. Fisiologi Kedokteran. Edisi 12. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.
Harahap F, Aryastuti E. 2012. Uji fungsi paru. Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RS. Persahabatan Jakarta, Indonesia. CDK 192. 39(4): 305.
Haryanto M, Kurniawan B, Suyoto T. 2018. Faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil di ligu semarang. Semarang : Universitas Muhammadiyah Semarang.
Hasan H, Maranatha RA. 2017. Perubahan fungsi paru pada usia tua. JR . 3(2): 52-7.
Hines SE, Barker E, Knight V, Robinson M, Duvall K, Gaitens J, et al. 2011. Respiratory symptoms, spirometry and immunologic sensitivity in epoxy resin workers. J Clin Transl Res. 6(8): 722-8.
Hugo M, Arielle M, Priscila T. 2011. Occupational risk assessment of paint industry workers. Indian J Occup Environ Med. 15(2): 52-8.
90
Ichsani N. 2015. Faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas vital paru pada pekerja pengolahan batu split PT Indonesia Utra Pertama Cilegon. [Skripsi]. FKIK UIN Syarif Hidayatullah.
Interpid Coatings. 2016. Nitrocellulose : Safety Data Sheet. USA : Interpid Coatings
ILO. 2013. The prevention of occupational disease. Jakarta : International Labour Organization.
Kelly C. 2009. Automotive paint technology into the 21st century. Australia : International Specialised Skills Institute Inc.
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. 2011. Peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi republik indonesia No.PER13/MEN/X/2011 tentang nilai ambang batas faktor fisika dan faktor kimia di tempat kerja.
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. 2018. Peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi republik indonesia No.PER08/MEN/VII/2010 tentang alat pelindung diri.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Tentang penyelenggaraan pelayanan penyakit akibat kerja. Jakarta: Kementrian Kesehatan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Infodatin Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Jakarta: Kemenkes.
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. 1970. Peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi republik indonesia No.PER01/MEN/1970 tentang keselamatan dan kesehatan lingkungan kerja. Kim B, Yoon J, Choi B, Shin YC. 2013. Exposure assessment suggests exposure
to lung cancer carcinogens in a painter working in an automobile bumper shop. SH@W. 4(4): 216–20.
Kocak M, Aciksari K. 2019. Chemical pneumonia due to paint thinner ingestion: a case report and literature review. Eurasian J Emerg Med 18(01):55-7. Lalley PM. 2013. The aging respiratory system—Pulmonary structure, function
and neural control. Respiratory Physiology & Neurobiology.
Numan, AT. 2012. Effect of car painting vapours on pulmonary and liver function of Automobile painting worker within Baghdad governorate area. Al-kindy Col Med J 8(02): 58–64.
PAMF. 2014. How to use a peak flow meter. palo alto medical foundation. [diunduh 6 Agustus 2019]. Tersedia dari: www.sutterhealth.org/ pamf/services/asthma.
Perhimpunan Dokter Paru Seluruh Indonesia. 2003. Pedoman diagnosis & penatalaksanaan asma di Indonesia. Jakarta: PDPI.
Perhimpunan Dokter Paru Seluruh Indonesia. 2006. Pedoman diagnosis & penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Jakarta: PDPI.
Perhimpunan Dokter Paru Seluruh Indonesia. 2003. Pedoman diagnosis & penatalaksanaan penyakit paru obstruksi kronis di indonesia. Jakarta: PDPI. Piirilä PL, Keskinen HM, Luukkonen R, Salo SP, Tuppurainen M, Nordman H.
2005. Work, unemployment and life satisfaction among patients with diisocyanate induced asthma - A prospective study. J Occup Health. 47(2): 112–8.
Politon FVM, Christine. 2018. Faktor Risiko Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja Bengkel Pengecatan Mobil Di Kota Palu. JIK. 12(1): 28-33.
Price AS, Wilson ML. 2005. Konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC.
Pronk A, Preller L, Heimsoth MR, Jonkers ICL, Lammers JW, Wouters IM, Doekes G, et al . 2007. Respiratory symptoms, sensitization, and exposure– response relationships in spray painters exposed to isocyanates. Am J Respir Crit Care Med. 80(176): 1090-7.
Queensland Government. 2013. Spray painting and powder coating. Australia: Safe Work Australia.
Saab L. 2016. Risiko gangguan pernapasan akibat pajanan isosianat di tempat kerja yang dinilai menggunakan kuesioner, estimasi pajanan oleh ahli higiene, serta matriks pajanan penyebab asma di tempat kerja. Majalah Kedokteran UKI 32 (1).
92
Shaughnessy P, Ramirez J. 2017. Filter penetration and breathing resistance evaluation of respirators and dust masks. J Occup Environ Hyg.14(2): 148-157
Siddanagoudra SP, Kanyakumari DH, Nataraj SM. 2012. Respiratory morbidity in spray paint workers in an automobile sector. Int J Health Allied Sci.1(4):269-73.
Soerto AY, Suryadinata H. 2014. Penyakit paru obstruktif kronik. Ina J Chest Crit and Emerg Med. 1: 83-88.
Stolk J, Fregonese L.2003.Hereditary alpha-1antitrypsin deficiency and its clinical consequences. Orphanet J Rare Dis. 3(16):1-9
Suma’mur PK. 2009. Higene perusahaan dan kesehatan kerja (HIPERKES). Jakarta: CV Haji Masagung.
Tamashiro E, Cohen NA, Palmer JN, Lima WTA. 2007. Effect of cigarette smoking on the respiratory epithelium and its role in the pathogenesis of chronic rhinosinusitis. Braz J Otorhinolaryngol. 75(6): 903-7.
Tantisuwat A, Thaveeratitham P. 2014. Effects on smoking on chest expansion , lung function, and respiratory muscle strength of youths. J. Phys. Ther. Sci. 26 : 167-70.
Tena AF, Clarà PC. 2012. Deposition of Inhaled Particles in the Lungs. Arch Bronconeumol. 48(7): 240–246.
Tortora GJ, Derrickson B. 2014. Principles of anatomy & physiology (14th Edition). USA : John Wiley & SonsWiley.
Undang-undang Republik Indonesia No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Uyainah A, Amin Z, Thufeilsyah F. 2014. Spirometri. Ina J Chest Crit and Emerg
Med. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. 1(1):35-38. Valtech. 2012. Xylene : Safety Data Sheet. USA : Valtech Diagnostic Inc.
Wahyuningsih, Faisal Yunus, Mukhtar Ikhsan. 2003. Dampak inhalasi cat semprot terhadap kesehatan paru. Cermin kedokteran (138): 12 - 7.
Wang Y, Su H, Gu Y, Song X, Zhao J. 2017. Carcinogenity of chromium and chemoprevention : a brief update. Dove Med Press (10): 406-7