• No results found

Text 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
62
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PERBANDINGAN PEMERIKSAAN TINJA METODE SEDIMENTASI FORMOL-ETHER DENGAN METODE KATO-KATZ

DALAM MENDETEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTH

SKRIPSI

Oleh:

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2020

(2)

ABSTRACT

COMPARISON OF FECAL EXAMINATION BETWEEN FORMOL-ETHER CONCENTRATION METHOD AND KATO-KATZ METHOD IN

DETECTING SOIL TRANSMITTED HELMINTH.

By

Rilianda Abelira

Background: Soil Transmitted Helminth(STH) is the most common intestinal parasitic infection that contribute to the global disease burden. Various health problems may occur due to this infection. STH infections can be diagnosed by microscopic examination of the stool. WHO recommends the Kato-Katz method as the gold standard for detecting STH, but this method is less sensitive to mild infections. Another method recommended for mild infections is the Formol-Ether concentration (FEC) method. Some studies show different results for the comparison of these two methods. This study aims to compare the result of the stool examination between FEC method and the Kato-Katz method in detecting STH. Evaluation of examination methods of the stool for detecting STH is important in the search for accurate diagnostic techniques.

Methods: This study used stored stool samples. The study design was descriptive analytic with cross sectional approach. The sampling technique used is consecutive random sampling. Data were analyse based on STH frequency with McNemar's comparative statistical test.

Results: The microscopic picture of the FEC method is clearer than the microscopic picture of Kato-Katz method. The results of stool examination using the FEC method and the Kato-Katz method obtained positive results of 6 samples (20%) and negative samples of 24 samples (80%), same result for both method. The type of worm eggs found was Ascaris lumbricoides with 6 samples (100%). Hookworms (A. duodenale or N. americanus) found by FEC method was 2 samples (33.3%) of 6 positive samples. McNemar test results obtained p value of 1,000 (> α 0.05).

Conclusion: There is no statistically significant difference from the results of the comparison of stool examination with the FEC method and the Kato-Katz method in detecting STH.

(3)

ABSTRAK

PERBANDINGAN PEMERIKSAAN TINJA METODE SEDIMENTASI FORMOL-ETHER DENGAN METODE KATO-KATZ

DALAM MENDETEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTH

Oleh

Rilianda Abelira

Latar Belakang: Soil Transmitted Helminth (STH) adalah infeksi parasit usus yang paling sering terjadi dan merupakan salah satu penyumbang beban penyakit global. Berbagai masalah kesehatan dapat timbul akibat infeksi ini. Diagnosis infeksi STH salah satunya dengan pemeriksaan tinja secara mikroskopis. WHO merekomendasikan Metode Kato-Katz sebagai gold standard untuk mendeteksi STH tetapi metode ini kurang sensitif pada infeksi ringan. Metode lain yang paling direkomendasikan untuk infeksi ringan adalah Metode Sedimentasi Formol-Ether. Beberapa penelitian menunjukan hasil yang berbeda untuk perbandingan kedua metode tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil perbandingan pemeriksaan tinja Metode Sedimentasi Formol-Ether dengan Metode Kato-Katz dalam mendeteksi STH. Evaluasi metode pemeriksaan penting dalam pencarian teknik diagnostik yang akurat. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan sampel BBT. Desain penelitian adalah analitik deskritif dengan pendekatan cross sectional. Pemilihan sampel menggunakan teknik consecutive random sampling. Data dianalisis berdasarkan frekuensi STH dengan uji statistik komparatif McNemar.

Hasil Penelitian: Gambaran mikroskopis Metode Sedimentasi Formol-Ether lebih jelas dibandingkan Metode Kato-Katz. Hasil pemeriksaan tinja Metode Sedimentasi Formol-Ether dan Metode Kato-Katz didapatkan hasil positif sebanyak 6 sampel (20%) dan sampel negatif sebanyak 24 sampel (80%). Jenis telur cacing yang ditemukan adalah Ascaris lumbricoides sebanyak 6 sampel (100%). Pada Metode Sedimentasi Formol-Ether ditemukan cacing kait (A. duodenale atau N. americanus) sebanyak 2 sampel (33,3%) dari 6 sampel yang positif. Hasil uji Mcnemar diperoleh nilai p value 1,000 (> α 0,05).

Simpulan: Secara statistik tidak terdapat perbedaan bermakna dari hasil perbandingan pemeriksaan tinja Metode Sedimentasi Formol-Ether dengan Metode Kato-Katz dalam mendeteksi STH.

(4)

PERBANDINGAN PEMERIKSAAN TINJA METODE SEDIMENTASI FORMOL-ETHER DENGAN METODE KATO-KATZ

DALAM MENDETEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTH

Oleh:

RILIANDA ABELIRA

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Baturaja, 23 April 1998, sebagai anak ke 4 dari 5 bersaudara, dari pasangan Bapak Danial dan Ibu Nurlaili. Penulis memiliki 3 kakak perempuan yaitu Nuriz Daryani S.Pd, drh. Fedhya Iryani, Mukhaila Iryani S.P., M.P dan 1 adik laki-laki yaitu Faiq Ahmad Aqil.

Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri 18 OKU pada tahun 2004-2010. Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP N 1 OKU dan selesai pada tahun 2013. Kemudian, penulis melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Negeri 1 OKU sampai tahun 2016.

(9)

Ku persembahkan karya ini untuk

mama, papa, okda, okfid, o’ela

dan faiq serta orang-orang yang

menyayangi dan senantiansa

mendukungku selama ini.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”

(10)

SANWACANA

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi rabbil’alamiin. Segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas

rahmat, petunjuk dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Perbandingan Pemeriksaan Tinja Metode Sedimentasi Formol-Ether dengan Metode Kato-Katz dalam Mendeteksi Soil Transmitted Helminth” yang merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mendapat masukan, bantuan, bimbingan, dukungan serta do’a dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Karomani, M. Si selaku Rektor Universitas Lampung;

2. Dr. Dyah Wulan Sumekar RW, S.K.M., M. Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung;

(11)

dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan kebahagian dan keselamatan dunia dan akhirat untuk untuk dr. Hanna; 4. dr. Utari Gita Mutiara, S. Ked, selaku pembimbing 2 atas kesediaannya

selama ini dalam meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, saran dan segala bantuannya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Semoga Allah SWT selalu memberikan kebahagian dan keselamatan dunia dan akhirat untuk dr. Utari;

5. Dr. Emantis Rosa, M. Biomed selaku pembahas atas kesediannya dalam memberikan koreksi, kritik, saran dan segala bantuannya kepada penulis dalam membantu memperbaiki dan menyempurnakan skripsi ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan kebahagian, kelapangan hati dan keselamatan dunia dan akhirat untuk Ibu Ema;

6. Dr. dr. Susianti, S. Ked., M. Sc selaku pembimbing akademik penulis atas kesediannya dalam memberikan bimbingan, nasehat dan motivasinya selama penulis menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Semoga Allah SWT selalu memberikan kebahagian dan keselamatan dunia dan akhirat untuk dr. Susi;

7. Nurlaili dan Danial, kedua orangtua penulis yang sangat penulis sayangi, yang selalu senantiasa memberikan do’a, nasehat, dukungan, motivasi

dan segala bantuan bagi penulis dalam mengejar cita-cita penulis menjadi dokter. Semoga Allah SWT selalu memberikan kebahagian, kesehatan dan keselamatan dunia dan akhirat untuk mama dan papa; 8. Seluruh Dosen dan Segenap Civitas Akademik Fakultas Fakultas

(12)

ilmu, waktu, motivasi dan segala bantuannya kepada penulis selama menjadi mahasiswa FK Unila;

9. Sahabat cute girls, Dhea Mutiara Karmelita, Karunia Santi, Anisa Ramadhanti, Dhea Oksalia Edi, Dina Amalia Kusmardika dan Lisa Dwi Aryani. Idk what more to write, but I love you guys;

10. Teman-teman kelompok tutorial dan csl yang tidak bisa penulis sebutkan nama-namanya, atas segala dukungan, motivasi dan bantuannya;

11. Teman-teman TR16EMINUS mahasiswa angkatan 2016, atas segala dukungan, motivasi dan bantuannya selama ini. Semoga kita tetap kompak dan semangat dalam mengejar cita-cita;

12. Semua yang terlibat dalam penulisan skripsi ini dan tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Walaupun demikian penulis berharap, skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak. Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Bandar Lampung, 31 Januari 2020 Penulis

(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti ... 4

1.4.2 Manfaat Bagi Ilmu Pengetahuan... 5

1.4.3 Manfaat Bagi Masyarakat ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1.1 Ascaris lumbricoides... 7

2.1.1.1 Klasifikasi Ascaris lumbricoides... 7

2.1.1.2 Morfologi Ascaris lumbricoides ... 8

2.1.1.3 Siklus hidup Ascaris lumbricoides ... 10

2.1.1.4 Manifestasi Klinis Ascaris lumbricoides ... 12

2.1.1.5 Penegakan Diagnosis Infeksi Ascaris lumbricoides ... 13

2.1.2 Trichuris trichiura ... 13

2.1.2.1 Klasifikasi Trichuris trichiura ... 14

2.1.2.2 Morfologi Trichuris trichiura ... 14

2.1.2.3 Siklus Hidup Trichuris trichiura ... 16

2.1.2.4 Manifestasi Klinis Trichuris trichiura ... 17

2.1 Soil Transmitted Helminth 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4 1.3 Tujuan Penelitian

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR

(14)

ii

2.1.2.5 Penegakan Diagnosis Infeksi Trichuris trichiura ... 18

2.1.3 Cacing Kait (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) ... 18

2.1.3.1 Klasifikasi Cacing Kait ... 18

2.1.3.2 Morfologi Cacing Kait ... 19

2.1.3.3 Siklus Hidup Cacing Kait ... 21

2.1.3.4 Manifestasi Klinis Cacing Kait ... 23

2.1.3.5 Penegakan Diagnosis Infeksi Cacing Kait ... 24

2.2 Pemeriksaan Spesimen Tinja ... 25

2.2.1 Pemeriksaan Berbasis Mikroskop ... 25

2.2.1.1 Metode Natif ... 25

2.2.1.2 Metode Konsentrasi ... 26

2.2.1.3 Metode Kato-Katz ... 27

2.2.1.4 Metode McMaster ... 28

2.2.1.5 Metode FLOTAC dan mini-FLOTAC ... 29

2.2.2. Pemeriksaan Berbasis Molekular... 30

2.4 Kerangka Teori ... 31

2.5 Kerangka Konsep ... 32

2.6 Hipotesis ... 32

3.2.1 Tempat Penelitian ... 33

3.2.2 Waktu Penelitian ... 33

3.3 Populasi Sampel ... 33

3.3.1 Populasi Penelitian ... 33

3.3.2 Sampel Penelitian ... 34

3.3.3 Teknik Pemilihan Sampling... 34

3.4 Kriteria Penelitian ... 35

3.4.1 Kriteria Inklusi ... 35

3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 35

3.5 Identifikasi Variabel Penelitian ... 35

3.6 Definisi Operasional ... 36

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 33

(15)

iii

3.7 Cara Kerja ... 37

3.7.1 Pemeriksaan Tinja Metode Kato-Katz ... 37

3.7.3 Pemeriksaan Tinja Metode Sedimentasi Formol-Ether... 38

3.8 Alur Penelitian ... 40

3.9 Pengolahan Data ... 41

3.10 Analisis Data ... 41

3.10.1 Analisis Univariat ... 41

3.10.2 Analisis Bivariat ... 41

3.11 Etika Penelitian 4.1 Hasil Penelitian ... 42

4.1.1 Pemeriksaan Tinja Metode Kato-Katz ... 42

4.1.2 Pemeriksaan Tinja Metode Sedimentasi Formol-Ether... 42

4.1.3 Gambaran Mikroskopis... 43

4.1.4 Identifikasi Jenis Telur STH ... 44

4.1.5 Analisis Univariat ... 45

4.1.6 Analisis Bivariat ... 47

4.2 Pembahasan ... 47

4.3 Keterbatasan Penelitian ... 54

... 55

5.2 Saran ... 55

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ... 41

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

(16)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Definisi Operasional ... 36

Tabel 2. Frekuensi Hasil Pemeriksaan Tinja dengan Metode Kato-Katz ... 46

Tabel 3. Frekuensi Hasil Pemeriksaan Tinja dengan Metode FEC ... 46

(17)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.Cacing A. lumbricoides Dewasa... 8

Gambar 2.Telur Ascaris Lumbricoides ... 9

Gambar 3. Telur Ascaris lumbricoides Unfertile ... 10

Gambar 4. Siklus Hidup Ascaris lumbricoides ... 11

Gambar 5. Cacing Trichuris thricura Dewasa. ... 15

Gambar 6. Telur Trichuris trichiura ... 15

Gambar 7.Siklus Hidup Trichuris trichiura ... 16

Gambar 8. Rongga Mulut Cacing Kait ... 20

Gambar 9. Telur Cacing Kait ... 21

Gambar 10.Siklus HidupCacing Kait ... 22

Gambar 11.Ground Itch ... 23

Gambar 12.Kerangka Teori. ... 31

Gambar 13. Kerangka Konsep. ... 32

Gambar 14.Rumus Slovin ... 34

Gambar 15. Alur Penelitian... 40

Gambar 16. Telur A. lumbricoides ... 44

(18)

BAB I PENDAHULAN

1.1 Latar Belakang

Parasit usus merupakan salah satu penyumbang beban penyakit global, terutama pada populasi yang tinggal di negara berkembang dan merupakan bagian dari penyakit tropis yang terabaikan (WHO, 2006). Helminthiasis atau kecacingan adalah infeksi parasit usus yang paling sering terjadi dan diperkirakan menginfeksi 1-45 miliar individu diseluruh dunia. Jenis cacing yang sering menginfeksi manusia adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing kait (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus). Sebelum menginfeksi manusia cacing-cacing tersebut membutuhkan tanah dalam siklus hidupnya sehingga disebut sebagai Soil Transmitted Helminth (STH) (Clarke et al., 2017).

(19)

2

cacing yang ringan biasanya tidak memiliki gejala. Pada Infeksi kronis, STH dapat menyebabkan gangguan perkembangan fisik dan kognitif. Dampak kesehatan dari infeksi ini lebih dramatis pada anak-anak seperti anemia, stunting, malnutrisi, kelelahan dan perkembangan kognitif yang buruk. Dampak tersebut cenderung terjadi dan menetap pada populasi yang terinfeksi STH. (Clarke et al., 2017 dan Sanchez et al., 2013).

Diagnosis infeksi STH salah satunya dengan melakukan pemeriksaan tinja secara mikroskopis. Terdapat dua macam pemeriksaan yaitu pemeriksaan kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan mikroskopis banyak digunakan untuk memeriksa infeksi STH melalui temuan telur STH pada tinja dengan menggunakan berbagai macam metode pemeriksaan yang dipakai di berbagai lembaga di dunia (Michael et al., 2010). Untuk mendeteksi infeksi STH, WHO merekomendasikan penggunaan Metode Kato-Katz dengan multiple slides, namun kurang sensitif jika hanya satu sampel tinja yang diperiksa khususnya pada daerah dengan proporsi intensitas infeksi ringan yang tinggi. Metode pemeriksaan lain yang ada dan sensitif terhadap infeksi ringan adalah metode konsentrasi yang terdiri dari metode flotasi dan metode sedimentasi. Metode konsentrasi yang paling direkomendasikan adalah metode Formol-Ether concentration (FEC) atau sedimentasi Formol-Ether (Cheesebrough, 2009).

(20)

3

dengan metode konsentrasi FEC, tetapi Kato-Katz dinilai kurang sensitif untuk mendeteksi jenis cacing yang lain khususnya A. lumbricoides dan cacing kait. Pada penelitian yang dilakukan oleh C.L. Fitriani, M. Panggabean dan A.P. Pasaribu pada tahun 2016 di Bireun, Aceh menggunakan sampel tinja siswa sekolah dasar. Menunjukan hasil yang berbeda dimana pada penelitian ini hasil yang didapatkan adalah Metode Kato-Katz lebih baik dalam mendeteksi infeksi STH ringan dibandingkan dengan metode FEC.

(21)

4

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana hasil perbandingan pemeriksaan tinja menggunakan Metode Sedimentasi Formol-Ether dengan pemeriksaan tinja menggunakan Metode Kato-Katz dalam mendeteksi Soil Transmitted Helminth?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil perbandingan pemeriksaan tinja Metode Sedimentasi Formol-Ether dengan Metode Kato-Katz dalam mendeteksi Soil Transmitted Helminth.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti

a. Peneliti mendapatkan pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penelitian.

(22)

5

1.4.2 Manfaat Bagi Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hasil perbandingan pemeriksaan tinja antara Metode Sedimentasi Formol -Ether dengan Metode Kato-Katz dalam mendeteksi Soil Transmitted Helminth.

1.4.3 Manfaat Bagi Masyarakat

a. Masyarakat mengetahui berbagai jenis pemeriksaan tinja yang dapat dilakukan untuk mendeteksi infeksi STH.

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Soil Transmitted Helminth

Nematoda usus atau cacing saluran pencernaan merupakan salah satu jenis parasit yang menginfeksi lebih dari seperempat populasi di dunia. Infeksi ini salah satunya dikenal sebagai infeksi Soil Transmitted Helminth (STH) atau kecacingan yang ditularkan melalui kontaminasi tanah oleh telur atau larva cacing (CDC, 2013). Sebagian besar populasi dunia khususnya pada daerah tropis dan subtropis terinfeksi satu jenis atau lebih STH. Jenis cacing STH yang sering menginfeksi manusia adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing kait (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) (Clarke et al., 2017).

(24)

7

termakan. Infeksi dapat terjadi ketika tangan atau jari yang mengandung telur cacing diletakkan di mulut lalu telur cacing termakan atau saat mengonsumsi sayuran dan buah-buahan dicuci dan dikupas dengan hati-hati. Pada cacing kait, telur cacing akan terlebih dahulu menetas di tanah, lalu melepaskan larva (cacing imatur) lalu matur menjadi bentuk yang dapat menembus kulit manusia. Infeksi cacing kait ditularkan dengan berjalan tanpa alas kaki di tanah yang terkontaminasi. Salah satu jenis cacing kait yaitu Ancylostoma duodenale juga dapat ditularkan melalui konsumsi larva cacing (CDC, 2013).

2.1.1 Ascaris lumbricoides

Ascaris lumbricoides dikenal sebagai cacing gelang, tersebar di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis dengan manusia sebagai satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides (Soedarto, 2017).

2.1.1.1 Klasifikasi Ascaris lumbricoides

Menurut (Linnaeus, 1758) dalam Global Biodiversity Information Facility atau GBIF, Ascaris lumbricoides dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Nemathelminthes Kelas : Nematoda

Ordo : Ascarida Famili : Ascaridoidae Genus : Ascaris

(25)

8

2.1.1.2 Morfologi Ascaris lumbricoides

[image:25.595.206.511.429.582.2]

Cacing dewasa berbentuk gilig (silindris) memanjang, berwarna putih kecoklatan atau kuning pucat. Cacing A. lumbricoides betina (Gambar 1.b) memiliki ukuran panjang 20-35cm dan diameter 3-6 mm sedangkan cacing A. lumbricoides jantan (Gambar 1.a) memiliki ukuran yang lebih kecil dari cacing A. lumbricoides betina dengan panjang 10-31cm dan diameter 2,4mm. Kutikula yang halus bergaris-garis tipis menutupi seluruh permukaan badan cacing. Cacing jantan mempunyai ujung posterior yang runcing, dengan ekor melengkung ke ventral. Cacing betina berbentuk membulat dengan bagian ekor yang lurus dan pada ujung posterior tidak melengkung (Soedarto, 2017).

Gambar 1.Cacing A. lumbricoides Dewasa (Soedarto, 2017). Keterangan: 1.a Ascaris lumbricoides Jantan, 1.b Ascaris lumbricoides Betina

Seekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur setiap hari sekitar 200.000 butir. Telur Ascaris lumbricoides ditemukan dalam dua bentuk, yaitu telur dibuahi (fertilized egg) dan tidak dibuahi (unfertilized egg).

1.a

(26)

9

Telur yang dibuahi berbentuk bulat lonjong, ukuran panjang 45-75 μm dan lebarnya 35-50 μm. Telur yang dibuahi (Gambar 2.a)

[image:26.595.201.508.290.437.2]

memiliki dinding tebal yang terdiri dari tiga lapis, yaitu lapisan dalam dari bahan lipoid (tidak ada pada telur unfertile), lapisan tengah dari bahan glikogen, lapisan paling luar dari bahan albumin (tidak rata, bergerigi, berwarna coklat keemasan berasal dari warna pigmen empedu).

Gambar 2.Telur Ascaris Lumbricoides Perbesaran 200x (CDC, 2019).

Keterangan: 2.a Telur A. lumbricoides Fertile, 2.b Telur A. lumbricoides Dekortifikasi.

Kadang-kadang telur yang dibuahi, lapisan albuminnya terkelupas dikenal sebagai decorticated eggs (Gambar 2.b). Telur yang dibuahi mempunyai bagian dalam tidak bersegmen berisi kumpulan granula lesitin yang kasar (Ideham dan Pusarawati, 2007).

(27)
[image:27.595.228.481.85.243.2]

10

Gambar 3. Telur Ascaris lumbricoides Unfertile Perbesaran 200x(CDC, 2019)

Telur Unfertile dikeluarkan oleh cacing betina yang belum mengalami fertilisasi. Telur Unfertile lebih panjang dari telur yang dibuahi, memiliki panjang yang berkisar dari 80-90 μm dan bagian dalam telur menunjukkan disorganisasi sehingga tidak ada struktur yang terlihat (Ridley, 2012).

2.1.1.3 Siklus hidup Ascaris lumbricoides

(28)
[image:28.595.195.513.89.409.2]

11

Gambar 4. Siklus Hidup Ascaris lumbricoides (CDC, 2019).

(29)

12

Cacing Betina dewasa akan menghasilkan ribuan telur setiap hari yang akan masuk ke dalam tinja. Produksi telur terjadi 2-3 bulan setelah infeksi. Cacing dewasa dapat hidup selama beberapa tahun di saluran pencernaan dan telur cacing dapat tetap hidup di tanah yang hangat dan lembab selama bertahun-tahun (Soedarto, 2016 dan Jourdan et al., 2017).

2.1.1.4 Manifestasi Klinis Ascaris lumbricoides

Infeksi cacing pada individu dewasa biasanya menyebabkan sedikit gejala atau bahkan tidak bergejala klinis, tetapi pada infeksi berat dapat menyebabkan defisiensi nutrisi, terutama pada anak-anak. Pada beberapa pasien mungkin dapat ditemukan gejala perut kembung. Migrasi ke paru-paru dapat menyebabkan perdarahan dan infiltrasi inflamasi sehingga hemoptisis (batuk darah) dapat ditemukan pada manifestasi klinis infeksi berat (Ridley, 2012).

(30)

13

demam tifoid disertai tanda-tanda alergi misalnya urtikaria, edema pada wajah, konjungtivitis dan iritasi pernapasan bagian atas. Obstruksi pada saluran cerna oleh cacing dewasa merupakan konsekuensi serius yang dapat terjadi akibat infeksi berat oleh parasit ini (Soedarto, 2016).

2.1.1.5 Penegakan Diagnosis Ascaris lumbricoides

Metode yang paling umum digunakan untuk mendiagnosis infeksi Ascaris lumbricoides adalah dengan identifikasi mikroskopis telur dalam tinja. Adanya cacing Ascaris lumbricoides pada organ atau usus dapat dipastikan melalui pemeriksaan radiografi dengan barium. Untuk membantu mendiagnosis dapat juga dilakukan pemeriksaan darah tepi yang akan menunjukan hasil eosinofilia pada awal infeksi (Soedarto, 2016).

2.1.2 Trichuris trichiura

(31)

14

2.1.2.1 Klasifikasi Trichuris trichiura

Menurut (Linnaeus, 1771) dalam Global Biodiversity Information Facility atau GBIF, Trichuris trichiura dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Nemathelminthes Kelas : Nematoda

Sub Kelas : Aphasmidia Ordo : Enoplida Famili : Trichuridae Genus : Trichuris

Spesies : Trichuris trichiura

2.1.2.2 Morfologi Trichuris trichiura

(32)
[image:32.595.201.512.84.248.2]

15

Gambar 5. Cacing Trichuris thricura Dewasa (Despommier et al., 2017). Keterangan: 5.a Trichuris thricura Betina, 5.b Trichuris thricura Jantan

Cacing Trichuris trichiura betina (Gambar 5.a) berukuran 35-50 mm dengan ujung posterior yang lurus dengan bagian membulat yang tumpul berbentuk seperti koma. Cacing dewasa tinggal di usus besar, sekum dan apendiks hospes (CDC, 2019). Seekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur setiap hari sekitar 3000-20.000 butir. Pada (Gambar 6) dapat dilihat bentuk telur Trichuris trichiura yang khas seperti tempayan dengan penonjolan yang jernih pada kedua kutubnya.

Gambar 6. Telur Trichuris trichiura Perbesaran 200x (CDC, 2019)

[image:32.595.238.480.554.718.2]
(33)

16

Telur memiliki sumbat mukogelat atau operkulum pada setiap ujung telur dan cangkang yang halus tapi tebal menutupi telur dengan panjang 45 hingga 55 μm dan lebar 20 hingga 23 μm berwarna kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih (Soedarto, 2016 dan CDC, 2019).

2.1.2.3 Siklus Hidup Trichuris trichiura

[image:33.595.200.514.427.719.2]

Siklus hidup Trichuris trichiura seperti yang digambarkan oleh CDC pada (Gambar 7) dimulai dari telur yang dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Telur tersebut menjadi matang dalam waktu 3 sampai 6 minggu dalam lingkungan yang sesuai, yaitu pada tanah yang lembab dan teduh.

(34)

17

Telur berembrio dicerna dari tanah, umumnya pada anak-anak yang bermain tanah dan tanpa sengaja memasukkan tangan mengandung telur cacing ke dalam mulut atau melalui telur yang menempel pada sayuran. Telur-telur itu akan menetas menjadi larva di usus halus dan berkembang menjadi cacing dewasa di usus besar. Cacing dewasa hidup di sekum dan kolon asendens. Cacing melekatkan tubuhnya pada mukosa usus menggunakan bagian anteriornya. Cacing betina dewasa dapat menghasilkan 2.000 hingga 20.000 telur tanpa embrio per hari. Masa pertumbuhan mulai dari telur tertelan sampai menjadi cacing dewasa kurang lebih 30-90 hari. Masa hidup orang dewasa adalah sekitar 1 tahun (Ridley, 2012 dan CDC, 2019).

2.1.2.4 Manifestasi Klinis Trichuris trichiura

(35)

18

2.1.2.5 Penegakan Diagnosis Trichuris trichiura

Cara menegakan diagnosis secara pasti pada Trichuris trichiura dapat dilakukan dengan pemeriksaan tinja mikroskopis untuk menemukan telur cacing. Karena telur mungkin sulit ditemukan pada infeksi ringan, prosedur konsentrasi dianjurkan. Karena keparahan gejala tergantung pada beban cacing, kuantifikasi telur cacing (mis. dengan teknik Kato-Katz) dapat dilakukan. Pada infeksi yang berat pemeriksaan proktoskopi untuk melihat adanya cacing dewasa yang melekat pada kolon atau rektum penderita dan pemeriksaan darah dapat dilakukan (Soedarto, 2016 dan CDC, 2019).

2.1.3 Cacing Kait (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)

Ancylostoma duodenale dan Necator americanus atau yang sering disebut dengan hookworms (cacing kait) serupa dalam banyak hal. Cacing ini menyebabkan nekatoriasis dan ankilostomiasis dengan manusia sebagai Hospes dari cacing ini (Ridley, 2012).

2.1.3.1 Klasifikasi Cacing Kait

Menurut (Dubini, 1843 dan Stiles, 1902) dalam Global Biodiversity Information Facility atau GBIF, Cacing Kait dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

(36)

19

Kelas : Secernentea Ordo : Strongylida

Famili : Ancylostomaidea dan Necator Genus : Ancylostoma dan Necator

Spesies : Ancylostoma duodenale dan Necator americanus

2.1.3.2 Morfologi Cacing Kait

Cacing kait dewasa berbentuk silindris, berwarna putih keabuan. Ukuran panjang cacing betina antara 9-13 mm, sedangkan cacing jantan berukuran panjang antara 5-11 mm. Pada ujung posterior tubuh cacing jantan terdapat bursa kopulatriks, suatu alat bantu kopulasi. Necator americanus dan Ancylostoma duodenale dapat dibedakan morfologinya berdasarkan bentuk tubuh, rongga mulut dan bentuk bursa kopulatriksnya.

(37)

20

[image:37.595.196.518.262.430.2]

Cacing betina Necator americanus dapat mengeluarkan telur 5000-10000 per hari. Larva cacing kait mempunyai dua stadium yaitu larva rhabditiform yang tidak infektif dengan bentuk tubuh yang agak gemuk dengan panjang sekitar 250 μm dan larva filariform yang berbentuk langsing dengan panjang sekitar 600 μm (Soedarto, 2017).

Gambar 8. Rongga Mulut Cacing Kait Perbesaran 200x (CDC, 2019) Keterangan: 8.a Ancylostoma duodenale, 8.b Necator americanus

Telur cacing kait seperti pada (Gambar 9) berbentuk lonjong, tidak berwarna dan memiliki ukuran sekitar 65 x 40 μm. Telur cacing kait (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) memiliki dinding tipis yang terbentuk dari hialin tanpa pewarnaan empedu yang tembus sinar dan terdapat embrio bersegmen dengan 4-8 blastomer. Cacing kait (A. duodenale dan N. americanus) tidak mungkin untuk dibedakan melalui gambaran telurnya (Ridley, 2012).

(38)
[image:38.595.221.481.84.260.2]

21

Gambar 9. Telur Cacing Kait Perbesaran 200x (CDC, 2019).

2.1.3.3 Siklus Hidup Cacing Kait

(39)
[image:39.595.207.512.81.352.2]

22

Gambar 10.Siklus HidupCacing Kait(CDC, 2019).

(40)

23

2.1.3.4 Manifestasi Klinis Cacing Kait

Tidak ada manifestasi klinis spesifik pada infeksi cacing kait, kadang-kadang infeksi ini tidak memiliki gejala sama sekali. Dampak pada kesehatan individu yang terinfeksi muncul pada infeksi kronis.

[image:40.595.220.493.233.431.2]

Gambar 11.Ground Itch (CDC dalam Ridley, 2012)

(41)

24

Pada manusia, infeksi A. duodenale dan N. americanus secara oral memiliki gejala seperti mual, muntah, batuk, sakit leher dan serak. Sedangkan pada stadium dewasa gejalanya tergantung pada spesies dan jumlah cacing serta keadaan gizi penderita (Status Fe dan protein). Tiap cacing Necator americanus menyebabkan kehilngan darah sebanyak 0,005-0,1 cc sehari, sedangkan Ancylostoma duodenale 0,08-0,34 cc sehari. Pada infeksi kronis atau berat dapat terjadi anemia mikrositik hipokrom (Taniawati et al., 2008).

2.1.3.5 Penegakan Diagnosis Infeksi Cacing Kait

(42)

25

2.2 Pemeriksaan Spesimen Tinja

Secara konvensional, STH didiagnosis dengan pemeriksaan tinja untuk mendeteksi infeksi melalui keberadaan telur cacing, larva atau kadang-kadang cacing dewasa atau segmennya. Pelepasan telur atau larva yang intermiten, menyebabkan beberapa spesimen (setidaknya 3 spesimen) yang dikumpulkan selama periode 10 hari, diperlukan untuk mendeteksi parasit. Spesimen tinja segar dengan jumlah kira-kira satu sendok teh besar atau sekitar 10 ml sampel tinja cair harus sampai di laboratorium dalam waktu 1 jam setelah dikumpulkan. Pemeriksaan spesimen makroskopik sebagai awal pemeriksaan tinja meliputi warna, konsistensi (terbentuk (formed), semiformed, tidak berbentuk / berair), keberadaan cacing atau segmen tubuh parasit dan ada atau tidaknya nanah atau darah (Chessebrough, 2009).

2.2.1 Pemeriksaan Berbasis Mikroskop 2.2.1.1 Metode Natif

(43)

26

2.2.1.2 Metode Konsentrasi

Jika jumlah organisme diduga kurang dalam tinja misal pada infeksi ringan atau evaluasi daerah dengan pemberian obat cacing rutin, maka spesimen tinja harus dikonsentrasikan. Metode konsentrasi terbagi atas Sedimentasi dan Flotasi. Kedua metode ini didasarkan pada perbedaan antara gravitasi spesifik atau dideskripsikan sebagai densitas larutan berdasarkan bahan terlarut, untuk mengkonsentrasikan organisme atau sel telur menjadi area yang lebih kecil.

Metode flotasi berfungsi untuk menangguhkan organisme dan sel telur di bagian atas larutan dengan densitas besar. Metode flotasi atau pengapungan yang memanfaatkan perbedaan berat jenis(BJ) telur dengan larutan konsentrasi (seng sulfat/ 𝑍𝑛𝑆𝑂4 BJ 1,180 atau natrium klorida jenuh/NaCl 33% BJ 1,200) sehingga telur cacing mengapung pada permukaan larutan (Chessebrough, 2009 dan Ridley, 2012).

(44)

27

Larutan formalin-Ether memiliki gravitasi spesifik lebih rendah daripada organisme parasit, sehingga parasit terkonsentrasi dalam sedimen. Dalam metode modifikasi Ridley, feses dicampurkan dalam air Formol (formalin 10%) hingga terbentuk suspensi yang akan disaring untuk menghilangkan partikel feses yang besar. Ether atau etil asetat ditambahkan kedalam suspensi tersebut lalu disentrifugasi. Parasit berupa kista, ookista, telur dan larva cacing akan terfiksasi oleh air Formol dan puing-puing tinja atau faecal debris dipisahkan dalam lapisan antara eter dan air Formol sedangkan lemak yang terkandung dalam tinja akan dilarutkan oleh eter.

2.2.1.3 Metode Kato-Katz

(45)

28

per gram tinja atau egg per gram (EPG), sebagai ukuran intensitas infeksi standar, dihitung sebagai: Jumlah telur dalam apusan × 24. Menurut WHO, 5000 dan 50.000 EPG untuk A. lumbricoides, 2000 dan 4000 EPG untuk cacing kait (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus), dan 1000 dan 10.000 EPG untuk T. trichiura, masing-masing adalah ambang batas untuk infeksi sedang dan berat.

2.2.1.4 Metode McMaster

Metode McMaster adalah teknik kuantifikasi telur cacing yang digunakan untuk mengevaluasi efektifitas obat dalam ilmu parasitologi veteriner dan telah dievaluasi penerapannya untuk spesies cacing yang ditemukan pada manusia. Metode ini dapat digunakan untuk menemukan beberapa spesies cacing, terutama: Ascaris lumbricoides, Necator americanus atau Ancylostoma duodenale dan Trichuris trichiura.

(46)

29

2.2.1.5 Metode FLOTAC dan mini-FLOTAC

Merupakan metode penghitungan telur pada tinja yang baru dikembangkan, menggunakan FLOTAC. Aparatus FLOTAC® (University of Naples, Italia), memiliki keuntungan utama berupa multivalensi sehingga metode ini dapat digunakan untuk mendeteksi cacing yang berbeda serta protozoa usus secara bersamaan.

(47)

30

2.2.2. Pemeriksaan Berbasis Molekular

Kemajuan dalam teknik molekuler telah memberikan keuntungan deteksi cepat serta kuantifikasi telur STH yang akurat. Sensitivitas teknik molekuler yang jauh lebih baik membuatnya sangat berguna untuk memantau efek strategi perawatan atau kontrol. Tersedia beberapa metode berbasis reaksi rantai polimer (PCR) yang berbeda, yaitu PCR konvensional, PCR kuantitatif (qPCR).

Ada banyak masalah teknis terkait dengan metode molekuler. Sampel tinja mengandung zat padat tersuspensi, asam empedu, dan lain-lain, dalam jumlah yang tinggi, sehingga dapat menghambat reaksi molekuler. Rintangan ini dapat diatasi dengan menggunakan langkah flotasi atau sedimentasi sebelum proses ekstraksi. Banyak kit ekstraksi asam nukleat yang telah dikembangkan. Masalah selanjutnya dari metode ini adalah cangkang telur dari telur STH jauh lebih keras daripada dinding sel bakteri, yang menyebabkan rendahnya hasil deteksi asam nukleat. Penghancuran kulit telur dapat difasilitasi dengan menggunakan metode seperti sonikasi atau homogenisasi jaringan.

(48)

31

2.4 Kerangka Teori

Infeksi Soil Transmitted Helminth (STH) dapat diperiksa menggunakan pemeriksaan spesimen tinja. Pemeriksaan konvensional berbasis mikroskop digunakan untuk identifikasi telur STH pada tinja.

Keterangan :

[image:48.595.141.506.203.511.2]

: Variabel yang diamati dalam penelitian

Gambar 12.Kerangka Teori (Khurana dan Sethi, 2017). Infeksi Soil Transmitted Helminth (STH)

Metode Pemeriksaan Tinja

Berbasis Mikroskop

Natif Konsentrasi Kato-Katz McMaster FLOTAC dan Mini Flotac

(49)

32

2.5 Kerangka Konsep

Keterangan :

: Variabel Dependen

[image:49.595.145.531.119.336.2]

: Variabel Independen

Gambar 13. Kerangka Konsep.

2.6 Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah terdapat adanya perbedaan hasil dari pemeriksaan tinja menggunakan Metode Sedimentasi Formol-Ether dengan pemeriksaan tinja menggunakan Metode Kato-Katz dalam mendeteksi Soil Transmitted Helminth.

Metode Pemeriksaan Tinja

Metode Kato-Katz Metode Sedimentasi

Formol-Ether

Hasil Pemeriksaan

Positif Negatif

Hasil Pemeriksaan

(50)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang akan digunakan adalah analitik deskritif dengan menggunakan rancangan cross sectional.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada Bulan Januari 2020.

3.3 Populasi Sampel

3.3.1 Populasi Penelitian

(51)

34

3.3.2 Sampel Penelitian

Perhitungan sampel pada penelitian ini menggunakan rumus sebagai berikut:

2

)

(

1

N

e

N

n

+

=

Gambar 14.Rumus Slovin Keterangan:

n = Besar sampel N = Jumlah populasi

2

e = Batas toleransi kesalahan pengambilan sampel (5%)

𝑛 = 30

1 + (30𝑥(0,05)2)

𝑛 = 30 1,075

𝑛 = 27,9

Dari hasil perhitungan rumus di atas didapatkan besar sampel minimal 27,9 dibulatkan menjadi 28 sampel. Jumlah sampel minimal yang dipilih adalah sebanyak 28 sampel.

3.3.3 Teknik Pemilihan Sampling

(52)

35

3.4 Kriteria Penelitian 3.4.1 Kriteria Inklusi

Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah

1. Sampel berasal dari seluruh siswa kelas 1-6 SDN 6 Jatimulyo, Lampung Selatan tahun 2019 yang tersimpan dalam ruangan Bahan Biologi Tersimpan (BBT) Laboratorium Mikrobiologi dan Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

2. Sampel masih terisi dengan larutan preservasi (formalin 10%) disetiap botol sampel.

3. Volume sampel cukup (sekitar ¼ botol sampel).

3.4.2 Kriteria Eksklusi

Adapun kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1. Volume sampel tidak cukup.

2. Larutan preservasi tumpah dan habis.

3.5 Identifikasi Variabel Penelitian

(53)

36

3.6 Definisi Operasional

[image:53.595.136.511.218.711.2]

Definisi operasional adalah batasan pada variabel yang diteliti untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen atau alat ukur.

Tabel 1. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Cara

Ukur

Alat Ukur Hasil Ukur Skala

1. Metode

Kato-Katz Suatu pemeriksaan tinja yang ditutup dan diratakan di bawah cellophane tape yang telah direndam dalam larutan

malachite green. Lalu diamati dengan mikroskop. Menemu kan telur cacing parasit pada tinja yang diperiksa .

Mikroskop Positif :

ditemukan telur Soil

Transmitted Helminth

Negatif : tidak ditemukan telur Soil Transmitted Helminth

Nominal

2 Metode

Sedimentasi Formol -Ether Suatu pemeriksaan dengan tinja yang dilarutkan dalam formalin 10% disentrifugasi lalu disaring. Filtrat ditambahkan

Ether lalu disentrifugasi lagi. Supernatan dibuang, sedimen diteteskan diatas slide. Lalu diamati dengan mikroskop Menemu kan telur cacing parasit pada tinja yang diperiksa .

Mikroskop Positif :

ditemukan telur Soil

Transmitted Helminth

Negatif : tidak ditemukan telur Soil Transmitted Helminth

(54)

37

3.7 Cara Kerja

3.7.1 Pemeriksaan Tinja Metode Kato-Katz

Adapun alat yang digunakan dalam pemeriksaan tinja meliputi object glass, cover glass, kawat kassa, lidi, kertas saring, label, karton ukuran 2mm berlubang, waskom plastik kecil dan mikroskop. Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan tinja Metode Kato-Katz yaitu aquadest, glycerin, malachite green danformalin 5-10%. (Kemenkes RI, 2006). Cara kerja pemeriksaan tinja Metode Kato-Katz:

1. Membuat larutan kato

Larutan kato adalah cairan yang dipakai untuk memulas/merendam selofan dalam pemeriksaan tinja terhadap telur cacing menurut modifikasi teknik Kato-Katz. Untuk membuat larutan kato diperlukan campuran dengan perbandingan: Aquadest 100 bagian, glycerin 100 bagian dan larutan malachite green 3% sebanyak 1 bagian, dengan cara sebagai berikut :

a. Malachite green ditimbang sebanyak 3 gram, setelah itu dimasukkan ke dalam botol/beker glass dan tambahkan akuades 100cc sedikit demi sedikit lalu dikocok sampai homogen, maka akan diperoleh larutan malachite green 3%.

(55)

38

2. Cara merendam/memulas selofan

a. Gunting selofan menyerupai ukuran cover glass.

b. Rendam guntingan selofan tersebut selama ±18 jam dalam larutan kato.

3. Cara membuat preparat Kato-Katz

a. Saring tinja menggunakan kawat saring dengan cara menekan gumpalan tinja yang telah dikeluarkan dari tabung dengan kawat saring lalu ambil tinja pada permukaan kwat saring menggunakan lidi.

b. Letakkan karton yang berlubang di atas slide dan masukkan tinja yang sudah disaring pada lubang tersebut.

c. Ambil karton berlubang tersebut dan tutup tinja dengan selofan yang sudah direndam dengan larutan kato.

d. Ratakan dan diamkan selama 20-30 menit. e. Periksa sediaan dibawah mikroskop

3.7.3 Pemeriksaan Tinja Metode Sedimentasi Formol-Ether

(56)

39

Cara membuat preparat Sedimentasi Formol-Ether:

a. Dengan lidi, ambil sedikit (kira-kira 0,5 g) tinja pada permukaan dan bagian dalam spesimen tinja.

b. Masukkan sampel ke dalam tabung centrifuge yang berisi 7 ml formalin 10%.

c. Emulsikan tinja dalam formalin dengan cara disentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 1 menit, lalu saring dan pindahkan ke dalam cawan. Buang residu yang menggumpal.

d. Pindahkan filtrat ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 3 ml Ether. e. Sumbat tabung dan kocok hingga isinya tercampur merata. f. Pindahkan kembali hasil suspensi ke tabung centrifuge dan

lakukan sentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 1 menit. g. Buang supematan dengan cara membalik tabung secara cepat. h. Biarkan cairan yang tersisa di dinding tabung mengalir memicu

endapan.

i. Selanjutnya, kocok hingga merata. Dengan pipet, pindahkan setetes cairan tersebut ke atas object glass dan tutup dengari cover glass.

(57)

40

[image:57.595.116.520.94.487.2]

3.8 Alur Penelitian

Gambar 15. Alur Penelitian. Slide Preparat

Metode Sedimentasi Formol-Ether

Identifikasi Telur STH

Pemeriksaan Tinja

Metode Kato-Katz

Hasil Negatif Hasil Positif

(58)

41

3.9 Pengolahan Data

Data yang telah diperoleh dari penelitian akan diolah menggunakan program perangkat lunak statistik yang disajikan dalam bentuk tabel.

3.10 Analisis Data

3.10.1 Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi atau karakteristik tiap variabel penelitian. Pada Analisis univariat akan dilihat distribusi data berupa frekuensi sampel N (%) dengan hasil positif dan negatif dari masing-masing pemeriksaan tinja dengan Metode Kato-Katz dan dengan Metode Sedimentasi Formol-Ether dalam mendeteksi STH.

3.10.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan setelah hasil karakteristik atau distribusi setiap variabel diketahui melalui analisis univariat. Analisis statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis komparatif kategorik berpasangan dengan menggunakan uji McNemar.

3.11 Etika Penelitian

(59)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Secara statistik tidak terdapat perbedaan perbandingan antara hasil pemeriksaan tinja menggunakan Metode Sedimentasi Formol-Ether dengan Metode Kato-Katz dalam mendeteksi STH. Akan tetapi, gambaran mikroskopis pemeriksaan tinja Metode Sedimentasi Formol-Ether lebih jelas dibandingkan dengan gambaran mikroskopis Metode Kato-Katz. Metode Sedimentasi Formol-Ether dapat mendeteksi dua jenis STH yaitu Ascaris lumbricoides dan cacing kait (Ancylostoma duodenale atau Necator americanus) sedangkan Metode Kato-Katz hanya dapat mendeteksi satu jenis STH yaitu Ascaris lumbricoides.

5.2 Saran

(60)

DAFTAR PUSTAKA

Ancylostoma (Dubini,1843) in GBIF Secretariat. 2019. GBIF Backbone Taxonomy. Tersedia dari: https://www.gbif.org/species/2283489/

Ascaris lumbricoides (Linnaeus, 1758) in GBIF Secretariat. 2019. GBIF Backbone Taxonomy. Tersedia dari: https://www.gbif.org/species/4558786/

Centers for Disease Control and Prevention. 2019. Parasites-soil-transmitted-helminths (STHs). Diunduh dari: http://www.cdc.gov/parasites/

Chessbrough M. 2009. District laboratory practice in tropical countries. Part 1. 2nd Edition. New York: Cambridge University Press.

Clarke NE, Clements ACA, Doi SA, Wang D, Campbell SJ, Gray D et al. 2017. Differential effect of mass deworming and targeted deworming for Soil Transmitted Helminth control in children: a systematic review and meta-analysis. [Jurnal] The Lancet, 389(10066), 287–297.

Despommier DD, Griffin DO, Gwadz RW, Hotez PJ, Knirsch CA. 2017. Parasitic Diseases, 6th Edition. New York: Apple Tree Production.

Endris M, Tekeste Z, Lemma W, Kassu A. 2013. Comparison of the Kato-Katz, Wet Mount, and Formol-Ether Concentration Diagnostic Techniques for Intestinal Helminth Infections in Ethiopia. [Jurnal] ISRN Parasitology, 2013, 1–5.

Fitriani CL, Panggabean M, Pasaribu AP. 2018. The accuracy of Formol-Ether concentration in diagnosing soiltransmitted helminths in elementary school 27 Peusangan in Bireuen. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 125(1).

(61)

57

Goodman D, Haji HJ, Bickle QD, Stoltzfus RJ, Tielsch JM, Ramsan et al. 2007. A comparison of methods for detecting the eggs of Ascaris, Trichuris, and hookworm in infant stool, and the epidemiology of infection in Zanzibari infants. [Jurnal] American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, 76(4), Hlm. 725–731.

Harhay MO, Horton J, Olliaro PL. 2010. Epidemiology and control of human gastrointestinal parasites in children. (Special Issue: Pediatric infections.). Expert Review of Anti-Infective Therapy, 8(2), Hlm. 219–234.

Ideham B, Pusarawati S. 2007. Helmintologi kedokteran. Surabaya: Universitas Airlangga.

Kementrian Kesehatan RI. 2017. Pedoman pengendalian cacingan. Jakarta: Depkes RI.

Khurana S, Sethi S. 2017. Laboratory diagnosis of soil transmitted helminthiasis. [Jurnal] Tropical parasitology, 7(2), Hlm. 86–91.

Knopp S, Mgeni AF, Khamis IS, Steinmann P, Stothard JR, Rollinson D et al. Diagnosis of Soil Transmitted Helminth s in the era of preventive chemotherapy: Effect of multiple stool sampling and use of different diagnostic techniques. [Jurnal] PLoS Negl Trop Dis. 2008;2:e331.

Leverke B, Behnke JM, Ajjampur SSR, Albonico M, Ame SM, Charlier J. 2011. A Comparison of the sensitivity and fecal egg counts of the McMaster egg counting and Kato-Katz thick smear methods for soil-transmitted-helmiths. 5(6).

Necator americanus (Stiles, 1902) in GBIF Secretariat. 2019. GBIF Backbone Taxonomy. Tersedia dari: https://www.gbif.org/species/5188627/

Nikolay B, Brooker SJ, Pullan RL. 2014. Sensitivity of diagnostic tests for human soil-transmitted-helminth infections: a meta-analysis in the absence of a true gold standard. 44(765-774).

Ridley JW. 2012. Laboratory Procedures for Identifying Parasitic Organisms and Their Ova. In Parasitology for Medical and Clinical Laboratory Professionals.

Safar R. 2010. Parasitologi Kedokteran: Protozoologi, Entomologi dan Helmintologi. Cetakan 1. Bandung: Yrama Widya.

(62)

58

Soedarto. 2017. Atlas dan daur hidup parasitologi kedokteran. Jakarta: Sagung Seto.

Soedarto. 2016. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Sagung Seto.

Taniawati S, Sri SM, S Alisah NA. 2008. Nematoda Usus. Dalam Sutanto I, Ismid IS, Sjarifuddin PK, Sungkar S (Penyunting), Parasitologi Kedokteran. Jakarta: FK UI. Hlm. 6-28

Trichuris trichiura (Linnaeus, 1771) in GBIF Secretariat. 2019. GBIF Backbone Taxonomy. Tersedia dari: https://www.gbif.org/species/4554218/

Vadlejch J, Petrtýl M, Zaichenko I, Cadková Z, Jankovská I, Langrová I et al. Which McMaster egg counting technique is the most reliable? [Jurnal] Parasitol Res. 2011;109:1387–94.

Figure

Gambar 1.Cacing A. lumbricoidesKeterangan: 1.a  Dewasa (Soedarto, 2017). Ascaris lumbricoides Jantan, 1.b Ascaris lumbricoides Betina
Gambar 2.Telur Ascaris Lumbricoides Perbesaran 200x (CDC, 2019). Keterangan: 2.a Telur A
Gambar 3. Telur Ascaris lumbricoides Unfertile Perbesaran 200x (CDC, 2019)
Gambar 4. Siklus Hidup Ascaris lumbricoides (CDC, 2019).
+7

References

Related documents

Výrobce, Typ vysavače, Hlučnost, Příkon, Hmotnost, Délka přívodového kabelu, Šířka, Výška, Objem prachového filtru, Rozměry (VxŠxH), Filtr, Hloubka, Délka sací

HERMES Architecture Overview  Knowledge of users’  Knowledge of users communication needs supposed to be persistent in embedded database  Communication between

All students will review all of the Current Event/Topic Blogs posted by their colleague. Over the course of the semester each student will be required to post a comment on

Panel B of Table 5 reports the standard deviation of the average price for each treatment in the state announcement period, conditional on the actual state of nature and the accuracy

step 0: find an initial basket by (positive) regression on the 8 stocks which are most correlated with the index I. step 1: remove consecutively those m stocks

This paper presents an extensive analysis of the statistical performance of benchmark portfolios of currencies, gold, oil and stocks as well as a multi-asset portfolio of

Especially, the number of BrdU + Vegfr3 YFP RGL cells increased in AAV- VEGF-C-treated mice, suggesting that VEGF-C targets and acti- vates quiescent Vegfr3 YFP NSCs ( Figures 4 F

For example, if we emphasize the voluntary nature of NGOs’ work, we ignore the trend toward professionalization, driven by the need to accomplish their mission satisfactorily.22