• No results found

Text 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
66
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) GALUR SPRAGUE DAWLEY YANG TERPAPAR

GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK TELEPON SELULER

(Skripsi)

Oleh :

Mashitoh Nur Iqlima

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

(2)

ABSTRACT

EFFECTIVENESS APLHA SPIN AS ANTRIRADIATION AGAINST

LIVER HISTOPATHOLOGY OF WHITE RATS (Rattus

norvegicus) SPRAGUE DAWLEYSTRAIN THAT IS CAUSED BY ELECTROMAGNETIC CELL

PHONES WAVE’SEXPOSURE

by

Mashitoh Nur Iqlima

Background: Cell phones are one of the utilization of electromagnetic waves in telecommunication. Two-thirds of the population around the world in 2017 are recorded as mobile phone users and are expected to increase to three-quarters in 2020. Cell phones may emit non-ionizing radiation that can cause damage to the hepar cells. Alpha Spin is one of the antiradiation that has protective effect against the damage of the hepar cells caused by electromagnetic cell phones wave’s exposure. This experiment is aimed to determine the influence of cellular phone exposure and the effectiveness of Alpha spin as an anti-radiation against liver histopathology of white rat (Rattus norvegicus) Sprague dawley strains.

Methods: This research is experimental study that is using 30 white rats which devided into 3 group. Control group (K1) is only given eat and drink, 1st treatment group (P1) is given the exposure of electromagnetic cell phones wave’s, 2nd treatment group (P2) is given the exposure of electromagnetic cell phones wave’s and Alpha spin for 2 hour/day during 35 days.

Result: The average of hepatocyte damage in K1=2,44; P1=2,84; P3=1,72. This data is analyzed by Kruskal Wallis testand teh result is p=0,00 (p<0,05).Then, the result of Post Hoc test arep value between K1 and P1=0,02; K1 and P2=0,001; P1 and P2=0,00.

Conclusion: The exposure of electromagnetic cell phones wave’s may lead the

damage of hepar cells and the exposure of Alpha spin can repair the damage of hepar cells in 1st treatment group (P1).

(3)

ABSTRAK

EFEKTIVITAS ALPHA SPIN SEBAGAI ANTIRADIASI TERHADAP HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)

GALUR SPRAGUE DAWLEYYANG TERPAPAR

GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK TELEPON SELULER

Oleh

Mashitoh Nur Iqlima

Latar Belakang: Telepon seluler merupakan salah satu pemanfaatan gelombang elektromagnetik di bidang telekomunikasi. Dua per tiga dari penduduk di seluruh dunia pada tahun 2017 tercatat sebagai pengguna telepon seluler dan diperkirakan akan meningkat menjadi tiga per empat pada tahun 2020. Telepon seluler dapat memancarkan radiasi non pengion yang dapat menyebabkan kerusakan sel hepar. Alpha spin merupakan salah satu antiradiasi yang dapat memberikan efek protektif terhadap kerusakan sel hepar akibat paparan radiasi gelombang elektromagnetik telepon seluler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh paparan telepon seluler dan efektivitas Alpha spin sebagai antiradiasi terhadap histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley.

Metode: Penelitian eksperimental menggunakan 30 3kor tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok kontrol (K1) hanya diberi makan dan minum, kelompok perlakuan 1 (P1) dipapar telepon seluler, kelompok perlakuan 2 (P2) dipapar telepon seluler dan Alpha spin selama 2 jam mode panggilan dalam waktu 35 hari.

Hasil Penelitian: Rerata kerusakan sel hepar pada K1=2,44; P1=2,84; P3=1,72. Data dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan didapatkan hasil p=0,00 (p<0,05). Selanjutnya, dengan uji Post Hoc didapatkan p antara K1 dan P1=0,02 K1 dan P2=0,001; P1 dan P2=0,00.

Simpulan: Pemberian paparan telepon seluler dapat menyebabkan kerusakan sel hepar dan pemberian paparan Alpha spin dapat memperbaiki kerusakan sel hepar pada kelompok P1.

(4)

GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK TELEPON SELULER

Oleh :

Mashitoh Nur Iqlima

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

(5)
(6)
(7)
(8)

Penulis dilahirkan di Sukoharjo pada tanggal 16 Juni 1997, sebagai anak

terakhir dari 3 bersaudara dari Bapak Muhtar Ngadiyanto dan Ibu Suyati.

Pendidikan Taman Kanak-kanak diselesaikan di TK BA Aisyah Palur pada

tahun 2003, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD Muhammadiyah Palur pada

tahun 2009, Sekolah Menengah Pertama diselesaikan di SMP Negeri 13 Surakarta

pada tahun 2012, Sekolah Menengah Atas diselesaikan di SMA Negeri 2

Surakarta pada tahun 2015.

Tahun 2016, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri

(SBMPTN).

Sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, penulis

aktif pada organisasi PMPATD Pakis Rescue Team sebagai anggota pada tahun

(9)

Sebuah Persembahan Sederhana

Untuk Ibuk, Bapak, Mbak, Mas,

Kamu, dan Keluarga Besarku

Tercinta

(10)

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan

segala rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan

Skripsi dengan judul “Efektivitas Alpha Spin sebagai Antiradiasi terhadap Histopatologi Tikus Putih Rattus norvegicus Galur Sprague dawley yang

Terpapar Gelombang Elektromagnetik Telepon Seluler”

Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak mendapat masukan,

bantuan, dorongan, saran, bimbingan, dan kritik dari berbagai pihak. Maka pada

kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan rasa

terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Karomani, M.Si., selaku Rektor Universitas Lampung;

2. Dr. Dyah Wulan Sumekar SW, SKM., M.Kes., selaku Dekan Fakultas

Kedokteran Universitas Lampung;

3. dr. Waluyo Rudiyanto, S.Ked., M.Kes., selaku pembimbing 1 yang telah

meluangkan waktu dan memberikan kesediaanya untuk membantu,

memberikan kritik serta saran, dan membimbing dalam menyelesaikan skripsi

ini;

4. Dr. dr. Jhons Fatriyasi S, S.Ked., M.Kes., selaku pembimbing 2 yang telah

(11)

ini;

5. Dr. dr. Khairun Nisa, S.Ked., M.Kes., AIFO., selaku pembahas yang telah

meluangkan waktu dan memberikan kesediaanya untuk membantu,

memberikan kritik serta saran, dan membimbing dalam menyelesaikan skripsi

ini;

6. Dr. dr. Jhons Fatriyadi S, S.Ked., M.Kes., selaku pembimbing akademik yang

senantiasa memberikan bimbingan dan dorongan untuk menyelesaikan

penulisan skripsi ini;

7. Seluruh staf Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, yang telah

memberikan ilmu dan wawasan kepada penulis untuk menambah wawasan

pengetahuan;

8. Seluruh staf TU, administrasi, akademik, dan pegawai Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung, yang telah membantu penelitian dan penulisan skripsi

ini;

9. Ibuk dan bapak yang senantiasa memberikan bantuan, dukungan, motivasi,

doa dan semua yang saya perlukan dalam hal apapun dan keadaan apapun;

10. Mas rochim dan mbak yuni, sebagai kakak yang senantiasa memberikan

bantuan, dukungan, motivasi, dan doa kepada penulis sehingga dapat

menyelessaikan penulisan skripsi ini;

11. Ghanim, ingsun dan parisa, sebagai adik-adik keponakan yang selalu

memberikan dukungan untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini;

12. Seluruh keluarga besar penulis yang selalu memberikan dukungan untuk

(12)

untuk menuangkan isi hati penulis;

14. Rephy, Tia, Ajik, Faiz Arka, Ferry Afarozi, dan Raka Yulian sebagai teman

dari SMA yang selalu memberikan motivasi, bantuan dan meluangkan waktu

bagi penulis untuk menuangkan isi hati penulis;

15. Amira Zhafira, Nurul Aini Hilman, dan Thaharatin Giza Wulandari, dan Kak

Reandy Ilham Andriyono sebagai teman dari pertama masuk FK Unila dan

kakak tingkat terbaik yang selalu menemani dan saling memberi dukungan

dalam setiap hal serta meluangkan waktu bagi penulis untuk menuangkan isi

hati penulis;

16. Bang kiki dan Ardhya, sebagai rekan satu penelitian yang senantiasa

bekerjasama dan saling memberikan masukan serta bantuan.

17. Seluruh teman-teman TRIGEMINUS yang tidak bisa penulis sebutkan satu

per satu, terimakasih untuk selalu bersama-sama sejak masuk FK Unila;

Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan. Oleh

karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saranyang bersifat membangun demi

perbaikan skripsi ini penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

pembacanya

Bandarlampung, Januari 2020

Penulis

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar belakang... 1

1.2 Rumusan masalah... 4

1.3 Tujuan penelitian... 4

1.4 Manfaat penelitian... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 6

2.1 Gelombang elektromagnetik ... 6

2.2 Telepon seluler ... 11

2.3 Tinjauan Hewan Percobaan... 14

2.3.1 Klasifikasi... 15

2.3.2 Jenis ... 16

2.3.3 Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus) ... 17

2.4 Hepar ... 17

2.4.1 Anatomi hepar ... 17

2.4.2 Fisiologi hepar ... 20

2.4.3 Histologi hepar ... 22

2.4.4 Patologi Hepar ... 25

2.5 Antiradiasi alpha spin ... 27

2.5.1 Teori spin glass... 27

2.5.2 Alpha spin... 28

2.6 Kerangka teori ... 30

2.7 Kerangka konsep ... 32

2.8 Hipotesis... 32

BAB III METODE PENELITIAN... 33

3.1 Desain penelitian ... 33

3.2 Tempat dan Waktu ... 33

3.3 Identifikasi Variabel Penelitian... 34

3.3.1 Variabel Bebas... 34

3.3.2 Variabel Terikat... 34

(14)

3.5 Populasi dan Sempel ... 35

3.6 Bahan dan Alat Penelitian... 38

3.7 Prosedur Penelitian... 39

3.8 Alur Penelitian ... 43

3.9 Analisis Data ... 44

3.10 Etika Penelitian ... 45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 46

4.1 Hasil ... 46

4.1.1 Gambaran Histopatologi Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus) . 46 4.1.2 Analisis Histopatologi Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus) .... 50

4.2 Pembahasan... 53

4.3 Keterbatasan Penelitian ... 56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 58

5.1 Kesimpulan ... 58

5.2 Saran... 58

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel

1. Tabel 1. Kriteria Rattus norvegicus ... 16

2. Tabel 2. Definisi operasional ... 35

3. Tabel 3. Ukuran kandang tikus sesuai berat badan ... 39

4. Tabel 4. Komposisi fosfat buffer... 41

5. Tabel 5. Skoring histopatologi Manja Roenigk ... 43

6. Tabel 6. Rerata derajat kerusakan hepar tikus putih (Rattus norvegicus)... 51

7. Tabel 7. Median derajat kerusakan histopatologi tiap kelompok ... 52

(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar

1. Gambar 1. Spektrum elektromagnetik ... 8

2. Gambar 2. Rattus norvegicus galur Sprague dawley ... 15

3. Gambar 3. Proyeksi hepar. (a) anterior. (b) posterior. ... 18

4. Gambar 4. Bagian-bagian hepar. (a) ventral. (b) dorsal... 19

5. Gambar 5. Histologi hepar. ... 23

6. Gambar 6 (a) Hati Perbesaran 40x. (b) Hati Perbesaran 100x ... 24

7. Gambar 7. Hati Perbesaran 1000x. H&E. ... 25

8. Gambar 8. Vortex... 28

9. Gambar 9. Alpha spin... 29

10. Gambar 10. Kerangka teori ... 31

11. Gambar 11. Kerangka konsep ... 32

12. Gambar 12. Alur penelitian... 44

13. Gambar 13. Gambaran histopatologi kelompok ontrol (K1) ... 48

14. Gambar 14. Gambaran histopatologi kelompok Perlakuan 1 (P1) ... 49

(17)

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Dewasa ini, kehidupan sosial masyarakat sangat bergantung terhadap alat

komunikasi modern, contohnya adalah telepon seluler atau biasa disebut

ponsel. Saat ini telepon seluler sudah seperti kebutuhan primer bagi

sebagian besar masyarakat. Kini, dua per tiga dari penduduk di seluruh

dunia adalah pengguna telepon seluler dan jumlah ini diperkirakan akan

meningkat menjadi tiga per empat atau sekitar 5 miliar pada tahun 2020

(GSMA Intelligence, 2017).

Di era globalisasi ini, penggunaan telepon seluler oleh manusia semakin

intens. Bahkan tidak jarang orang yang menggunakan telepon seluler lebih

dari 12 jam per hari. Semakin sering seseorang menggunakan telepon

seluler maka secara langsung seseorang tersebut akan terpapar oleh radiasi

yang dihasilkan oleh telepon seluler tersebut. Telepon seluler sendiri

merupakan gelombang radiofrekuensi berkekuatan rendah yang beroperasi

pada frekuensi antara 450–2700 MHz dengan puncak kekuatan antara 0,1–

(18)

Electromagnetic fields (EMFs) yang tidak dapat memecah ikatan kimia atau

menyebabkan ionisasi di dalam tubuh (WHO, 2014).

Gelombang radiofrekuensi (RF) yang berupa telepon seluler ini merupakan

pisau bermata dua. Di satu sisi benda ini dapat memberikan manfaat sebagai

alat komunikasi namun di sisi lain benda ini juga menimbulkan efek negatif

bagi tubuh. Intensitas penggunaan telepon seluler yang semakin tinggi

membuat para pengguna harus lebih mencermati efek sampingnya terhadap

kesehatan. Radiasi yang dipancarkan oleh gelombang elektromagnetik

telepon seluler dikhawatirkan dapat menimbulkan efek yang negatif

terhadap tubuh (Victorya, 2015).

Kekhawatiran mengenai efek sampingnya terhadap tubuh semakin

meningkat setelah muncul beberapa penelitian mengenai dampak paparan

gelombang elektromagnetik terhadap kesehatan, baik penelitian

epidemiologi maupun penelitian eksperimental laboratorium. Beberapa

penelitian telah mengemukakan bahwa paparan gelombang

eklektromagnetik dapat mempengaruhi kerusakan berbagai jaringan tubuh.

Pemaparan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh telepon

seluler menyebabkan kerusakan jaringan hepar, ginjal dan spleen (Al-Glaib,

et al., 2008). Penelitian lain membuktikan bahwa paparan 1 GHz medan

elektromagnetik pada tikus selama 21 hari menunjukkan adanya perubahan

histopatologi hati, ginjal dan testis, bahkan perubahan ini bersifat ireversibel

(19)

pemaparan pertama (Ghonimi dan Elbaz, 2015). Rahmanisa dan Sudrajat

juga melakukan penelitian berupa paparan gelombang elektromagnetik

telepon seluler selama 2 jam dengan mode panggilan dalam waktu 35 hari

dan hasilnya adalah terdapat pengaruh paparan gelombang elektromagnetik

telepon seluler terhadap gambaran histologi hepar tikus (Rahmanisa dan

Sudrajat, 2017)

Paparan radiasi gelombang elektromagnetik oleh telepon seluler

menyebabkan stres oksidatif karena terjadinya perubahan keseimbangan

kadar radikal bebas. Stres oksidatif dapat menimbulkan kerusakan sel

beserta komponen di dalamnya sehingga akan menyebabkan degenerasi atau

hingga pada kematian sel, salah satunya adalah sel hepar (Putri, 2015).

Adanya kemungkinan efek radiasi eletromagnetik dari telepon seluler

mendorong peneliti untuk menemukan usaha pencegahan terhadap efek

samping tersebut. Antioksidan endogen di dalam tubuh saja tidak cukup

kuat untuk menangkal terjadinya stres oksidatif yang disebabkan oleh

pemaparan radiasi gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh telepon

seluler. Oleh karena itu, diperlukan alat yang dapat memberikan efek

protektif terhadap tubuh agar terlindung dari radiasi elektromagnetik telepon

seluler. Saat ini telah dikembangkan teknologi yang dapat menangkal

radiasi elektromagnetik yaitu alpha spin. Terciptanya alat tersebut,

membuat peneliti hendak membuktikan efektifitas dari alpha spin sebagai

(20)

dilakukan menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague

dawley.

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, didapatkan rumusan masalah

sebagai berikut :

1. Apakah terdapat pengaruh paparan radiasi gelombang elektromagnetik

yang dihasilkan oleh telepon seluler terhadap histopatologi hepar tikus

putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley?

2. Apakah terdapat efek protektif dari antiradiasi alpha spin terhadap

histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague

dawley yang diberi paparan radiasi gelombang elektromagnetik telepon

seluler?

1.3 Tujuan penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui pengaruh paparan radiasi gelombang elektromagnetik yang

dihasilkan oleh telepon seluler terhadap histopatologi hepar tikus putih

(Rattus norvegicus) galur Sprague dawley.

2. Menganalisis efektifitas antiradiasi Alpha spin terhadap histopatologi

hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang diberi

(21)

1.4 Manfaat penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut :

1. Bagi ilmu pengetahuan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah

mengenai efektifitas alpha spin sebagai antiradiasi terhadap kerusakan

hepar yang disebabkan oleh paparan radiasi gelombang elektromagnetik

telepon seluler.

2. Bagi masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai efek

samping penggunaan telepon seluler terhadap kerusakan hepar.

Selanjutnya, hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran kepada

masyarakat mengenai efektifitas alpha spin sebagai antiradiasi.

3. Bagi peneliti

Penelitian ini sebagai wujud pengaplikasian disiplin ilmu yang telah

dipelajari sehingga dapat mengembangkan wawasan pengetahuan

peneliti.

4. Bagi peneliti lain

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk dilakukan

(22)

2.1 Gelombang elektromagnetik

Saat ini, ternyata di sekitar kita terdapat banyak radiasi. Radiasi ini berasal

dari benda-benda yang sering digunakan oleh manusia seperti telepon

seluler, radio, base station, oven microwave, dan lain sebagainya.

Pengertian radiasi itu sendiri adalah energi yang bergerak dalam bentuk

gelombang atau partikel berkecepatan tinggi (Kumar, et al., 2015). Ada dua

jenis radiasi, yaitu partikel alpha dan beta yang berasal dari partikel

radioaktif dan gelombang elektromagnetik (Swamardika, 2009).

Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang terbentuk dari

perubahan medan magnet dan medan listrik yang bergerak. Gelombang

elektromagnetik memiliki frekuensi yang berbeda-beda pada setiap

spektrumnya. Berdasarkan frekuensinya, gelombang elektromagnetik dibagi

menjai 4 tingkatan yaitu sebagai berikut (Tarigan, et al., 2013) :

1. Static Electromagnetic Frequency (0 Hz). Sumbernya antara lain

elektromagnetik alami, MRI, dan elektrolisis industrial.

(23)

listrik, namun juga dihasilkan oleh alat elektronik itu sendiri saat

digunakan.

3. Intermediete frequency ( 300 Hz – 100 kHz ). Sumbernya antara lain

detector metal dan hands free.

4. Radio frequency ( 100 kHz – 300 GHz ). Sumbernya antara lain gelombang televisi, radio, ponsel dan micowave oven.

Berdasarkan besar energi yang dihasilkan, radiasi gelombang

elektromagnetik dibedakan menjadi radiasi pengion dan non-pengion.

Radiasi pengion adalah radiasi dengan frekuensi sangat tinggi yang

memiliki energi untuk memecahkan elektron yang saling berikatan sehingga

akan menghasilkan elektron bebas yang saling berbenturan dan melepaskan

elektron tambahan (Kumar, et al., 2015). Contoh dari radiasi pengion adalah

sinar X dan sinar gama yang banyak digunakan di bidang kesehatan. Radiasi

non-pengion adalah radiasi dengan frekuensi rendah yang tidak memiliki

cukup energi untuk memecahkan elektron yang saling berikatan. Contoh

dari radiasi non-pengion adalah sinar ultraviolet, cahaya infra merah,

gelombang mikro dan gelombang radio. Aplikasi dari gelombang

elektromagnetik beserta frekuensi dan panjang gelombangnya dapat dilihat

(24)
[image:24.595.144.522.82.334.2]

Gambar 1. Spektrum elektromagnetik (Tarigan, et al., 2013)

Radiasi elektromagnetik dapat diserap oleh tubuh manusia, kemudian

radiasi tersebut akan mentransfer energinya ke dalam jarigan atau sel untuk

mempengaruhi materi biologisnya. Besarnya radiasi yang diserap oleh tubuh

dinyatakan menggunakan SAR (Specific Absorbtion Rate). Batas SAR yang

aman untuk bagian kepala adalah 2 W/kg (Europe Commission, 2007)

Radiasi merupakan salah satu bentuk agen fisis yang dapat menyebabkan

kerusakan atau jejas sel. Absorbsi energi radiasi dapat meningkatkan

pembentukan radikal bebas (Kumar, et al., 2015). Radiasi pengion yang

terserap ke dalam tubuh mampu memecah atau mengionisasi beberapa

molekul di dalam tubuh, seperti air, membran lipid dan protein serta struktur

makromolekul yang sangat penting bagi tubuh yaitu DNA (Deoxyribo

(25)

mentransfer energinya tidak melalui pembentukan radikal bebas, akan tetapi

melalui perantara konversi suhu. Namun belakangan ini, muncul beberapa

bukti dari hasil penelitian bahwa radiasi non-pengion mampu menyebabkan

kerusakan sel atau jaringan tanpa perantara suhu. Radaisi non pengion non

termal dapat mengganggu kelistrikan membran ganda pada permukaan sel

serta memodifikasi komponen dari membran sel tersebut (Somosy, 2000).

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa radiasi elektromagnetik

merupakan salah satu agen fisis yang dapat menyebabkan jejas pada sel.

Tubuh memiliki beberapa mekanisme untuk melawan jejas ini, salah

satunya dengan antioksidan baik endogen maupun eksogen sehingga jejas

yang dihasilkan bersifat reversibel. Namun ketika antioksidan atau

mekanisme tubuh tidak cukup kuat untuk melawan jejas pada sel maka akan

terjadi kerusakan yang ireversibel sehingga berakhir dengan nekrosis atau

kematian sel. Beberapa mekanisme kerusakan sel yang dipengaruhi oleh

radiasi elektromagnetik adalah sebagai berikut (Kumar, et al., 2015):

a. Kerusakan dan disfungsi mitokondria

Mitokondria merupakan komponen sel yang berfungsi sebagai tempat

metabolisme atau pembentukan energi sehingga disebut sebagai pabrik

mini energi. Organ yang banyak mengandung mitokondria salah

satunya adalah hati, oleh karena itu hati disebut sebagai pabrik utama

proses biokimiawi. Mitokondria rentan terhadap jejas yang

membahayakan termasuk hipoksia, toksin dan radiasi. Kerusakan

(26)

fosforilasi oksidatif mengakibatkan deplesi ATP, fosforilasi oksidatif

yang tidak normal akan menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS).

Kerusakan mitokondria menyebabkan pembentukan jalur konduksi

tinggi pada membran mitokondria sehingga mengakibatkan hilangnya

potensial membran pada mitokondria. Pada saat terjadi kerusakan pada

mitokondria, mitokondria akan melepaskan protein ke dalam sitoplasma

sebagai penanda terjadinya jejas internal, hal ini akan mengaktifkan

jalur apoptosis.

b. Akumulasi Radikal Bebas Asal-Oksigen (Stres Oksidatif)

Radikal bebas merupakan spesies kimiawi yang mengandung elektron

yang tidak berpasangan. Elektron yang tidak berpasangan ini akan

mencari pasangan elektron yang ada di dalam tubuh kemudian

mengubah molekul lain menjadi radikal bebas sehingga terjadi suatu

rangkaian kerusakan. ROS merupakan radikal bebas yang berasal dari

oksigen yang akan menginduksi terjadinya jejas pada sel. ROS

dihasilkan dalam jumlah kecil pada saat terjadi respirasi pada

mitokondria. Hasil sementara dari respirasi ini adalah superoksida yang

akan diubah menjadi hidrogen peroksida, bentuk yang lebih stabil

daripada superoksida. Apabila bertemu dengan logam Fe2+ maka

hidrogen peroksida akan diubah menjadi hidroksil yang lebih reaktif

melalui reaksi fenton.

Reactive Oxygen Species (ROS) juga dihasilkan oleh leukosit fagositik

(27)

mikroba. Sehingga pada saat terjadi peradangan, ROS yang dihasilkan

oleh tubuh menjadi lebih banyak dari biasanya. Mekanisme

pembentukan ROS oleh sel fagositik mirip dengan mekanisme pada

mitokondria yaitu dengan menghasilkan superoksida.

c. Defek pada Permeabilitas Membran

Plasma membran dapat mengalami kerusakan karena iskemia, toksin

mikroba, komponen-komponen litik, dan berbagai agen fisis dan

kimiawi salah satunya adalah radiasi. Mekanisme kerusakan membran

oleh radiasi diperantarai oleh pembentukan ROS. Reactive Oxygen

Species juga menyebabkan jejas pada membran melalui peroksidase

lipid, sehingga fosfolipid pada membran sel menjadi berkurang dan

akibatnya terjadi peningkatan permeabilitas membra sel.

d. Kerusakan DNA dan Protein

Dalam keadaan normal, sel memiliki kemampuan untuk memperbaiki

kerusakan DNA. Apabila kerusakan DNA tidak dapat ditoleransi oleh

tubuh, misalnya ketika terjadi jejas akibat radiasi, maka sel akan

memulai proses apoptosis, yaitu suatu jalur kematian sel dengan

mengaktifkan enzim yang merusak DNA inti sel itu sendiri dan protein

pada inti dan sitoplasma.

2.2 Telepon seluler

Telepon seluler atau biasa disingkat dengan ponsel merupakan gelombang

radio atau radiofrekuensi (RF) yang memiliki frekuensi paling rendah atau

(28)

yang lainnya. Gelombang radio terdiri dari antena pemancar dan antena

penerima, sinyal informasi yang diterima dapat berupa data atau suara. Saat

telepon seluler digunakan untuk melakukan panggilan, proses yang terjadi

ialah suara akan ditulis dalam bentuk kode tertentu ke dalam gelombang

radio. Selanjutnya, kode tersebut akan diteruskan melalui antena ponsel

menuju ke base station terdekat (Swamardika, 2009).

Setiap telepon seluler memiliki frekuensi yang berbeda-beda tergantung dari

jenis dan merknya. Telepon analog memiliki frekuensi antara 800 hingga

900 MHz, sedangkan telepon digital memiliki frekuensi antara 1800 hingga

1990 MHz (Ozguner, et al., 2004). Frekuensi yang dihasilkan telepon

seluler juga berbeda-beda berdasarkan koneksi yang dipakai. Koneksi

dengan wifi memiliki frekuensi 2,4 s.d 5,9 GHz, koneksi bluetooth memiliki

frekuensi sebesar 2,4 GHz, dan koneksi seluler memiliki frekuensi mulai

dari 700 MHz hingga 2,7GHz (Usman, et al., 2017).

Ketika terpapar oleh radiasi elektromagnetik telepon seluler, tubuh manusia

akan menyerap energi yang dihasilkan oleh radiasi tersebut. Besarnya energi

yang diserap oleh tubuh dapat diukur menggunakan SAR (Specific

Absorbtion Rate) yang dinyatakan dalam satuan watt per kilogram berat

badan. Rata-rata telepon seluler memiliki nilai SAR kurang dari 1,6 watt per

(29)

Secara garis besar, energi total yang diserap dan didistribusikan di dalam

tubuh manusia tergantung dari beberapa hal, antara lain :

1. Frekuensi dan panjang gelombang medan elektromagnetik.

2. Polarisasi medan elektromagnetik.

3. Konfigurasi antara badan dan sumber radiasi elektromagnetik.

4. Keadaan paparan radiasi, seperti adanya beda lain di sekitar sumber

radiasi.

5. Sifat elektrik (listrik) tubuh. Penyerapan radiasi dipengaruhi oleh kadar

air. Semakin besar kadar air maka semakin besar penyerapan radiasi

elektromagnetik oleh tubuh (Tarigan, et al., 2013).

Efek yang ditimbulkan oleh radiasi elektromagnetik yang berasal dari

telepon seluler dibedakan menjadi 2, yaitu :

1. Efek fisiologis

Efek fisiologis merupakan efek dari radiasi gelombang elektromagnetik

yang dapat menimbulkan gannguan atau disfungsi organ tubuh

manusia.

2. Efek psikologis

Efek psikologis adalah efek radiasi gelombang elektromagnetik

terhadap kejiwaan, misalnya timbulnya stres akibat paparan berulang

gelombang elektromagnetik.

Telepon seluler termasuk gelombang elektromagnetik radiofrekuensi

(30)

relatif sering menjadikan telepon seluler lebih berbahaya daripada

gelombang elektromagnetik yang memiliki frekuensi tinggi seperti pada

radiasi ion. Radiasi medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh telepon

seluler dapat mempengaruhi struktur dan fungsi organ tubuh manusia

melalui tiga mekanisme antara lain pengaruh spesifik dari gelombang

elektromagnetik, pengaruh suhu dan kombinasi dari kedua pengaruh

tersebut. Studi pada hewan percobaan menunjukkan adanya kerusakan

organ akibat paparan medan elektromagnetik yang berasal dari telepon

seluler. Pada percobaan yang dilakukan dengan menggunakan tikus wistar

albino, terjadi inflamasi pada sel hepar dan pankreas setelah terpapar radiasi

telepon seluler jangka panjang (Meo, et al., 2010). Pada penelitian tersebut

juga dikemukakan bahwa peningkatan inflamasi pada hati berbanding lurus

dengan durasi paparan medan elektromagnetik yang berasal dari telepon

seluler. Selain hepar dan pakreas, radiasi medan elektromagnetik juga

dilaporkan menyebabkan infertilitas, kerusakan sel otak, jaringan bola mata

dan sel kulit. Paparan radiasi radiofrekuensi pada suhu˃41oC menyebabkan katarak pada lensa mata kelinci (Elder, 2003).

2.3 Tinjauan Hewan Percobaan

Hewan laboratorium atau hewan percobaan adalah hewan yang sengaja

dipelihara atau diternakkan untuk dipakai sebagai hewan model guna

mempelajari dan mengembangkan berbagai macam bidang ilmu dalam skala

penelitian atau pengamatan laboratoris. Hewan percobaan yang sering

(31)

putih yang memiliki kekhususan untuk digunakan sebagai hewan percobaan

antara lain Wistar, Long evans dan Sprague dawley (Malole dan Pramono,

1989).

2.3.1 Klasifikasi

Tikus putih (Rattus novergicus) merupakan salah satu hewan yang umum

digunakan sebagai hewan percobaan untuk eksperimental laboratorium

(gambar 2) . Tikus merupakan hewan nokturnal dimana aktivitasnya lebih

intens pada malam hari atau menjelang pagi. Tikus lebih nyaman ketika

berada di tempat yang kecil, gelap, dan ruang yang terbatas (Sharp dan

LaRegina, 1998). Sebagai hewan yang sering digunakan dalam penelitian,

tikus putih (Rattus novergicus) memiliki beberapa sifat yang

menguntungkan antara lain perkembangbiakannya yang cepat, mempunyai

ukurang yang lebih besar daripada mencit dan mudah dipelihara dalam

jumlah yang banyak. Ciri-ciri morfologi tikus putih (Rattus novergicus)

adalah kepala kecil dan berekor panjang. Parameter biologi tikus dapat

[image:31.595.201.448.587.713.2]

dilihat pada tabel 1.

(32)

Klasifikasi Rattus norvegicus yang diambil dari data The Integrated

Taxonomic Information System adalah sebagai berikut (Harlan, 2015) :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Rodentia

Subordo : Myomorpha

Famili : Muridae

Genus : Rattus

[image:32.595.148.491.429.647.2]

Spesies : Rattus novergicus

Tabel 1. Kriteria Rattus norvegicus

No Kriteria Keterangan

1. Lama hidup 2,5-3,5 tahun

2. Glandula mamae 6 pr

3. Berat BadanJantan 450-520 gram

4. Berat Badan Betina 250-300 gram

4. Temperatur tubuh 35,8–37,5oC

5. Konsumsi O2 0,84 ml/m2

/grBB-6. Permukaan Tubuh 10,5 cm2

7. Konsumsi makan 5-6gr/100g BB/hari

8. Konsumsi air minum 10-12 ml/100g BB/hari

9. GI transit time 12-24 jam

10. Volume urin 5,5 ml/100 grBB/hari

11. Urine specific gravity 1,04-1,07

12. PH urin 7,3–8,5

13. Total body water 167 ml

14. Cairan intraseluler 92,8 ml

15. Cairan ekstraseluler 74, 2

16. Volume plasma 7,8

(Sharp dan LaRegina, 1998)

2.3.2 Jenis

Ada beberapa galur tikus, antara lain Wistar, Sprague dawley,

(33)

sering digunakan untuk penelitian yaitu Wistar dan Sprague dawley. Pada

penelitian ini digunakan galur Sprague dawley.

2.3.3 Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus)

Hepar tikus putih Rattus norvegicus galur Sprague dawley memiliki berat

10 gram pada tikus dengan total berat badan 250 gram. Volumenya adalah

19,6 mL dan terdiri dari empat lobus yaitu median, lateral kiri, lateral

kanan dan kaudal. Tikus tidak memiliki kantung empedu (Sharp dan

LaRegina, 1998).

2.4 Hepar

2.4.1 Anatomi hepar 1. Proyeksi hepar

Hepar merupakan organ visera abdomen yang terletak intraperitonea

pada regio epigastrium kanan. Batas hepar paling kiri adalah linea

midklavikularis sinistra seperti tampak pada gambar 3. Posisi hepar

berubah-ubah sesuai respirasi, yaitu lebih rendah saat inspirasi dan

lebih tinggi pada saat ekspirasi. Posisi hepar juga dipengaruhi oleh

posisi paru, pada saat terjadi perbesaran paru misalnya pada emfisema

paru, hepar dapat teraba. Tepi inferior hepar terletak sejajar arkus

kostalis inferior kanan sehingga pada keadaan normal hepar tidak

teraba. Hepar membentuk kesatuan dengan vesika biliaris atau

(34)
[image:34.595.142.512.70.301.2]

Gambar 3. Proyeksi hepar. (a) anterior. (b) posterior. (Paulsen, et al., 2012)

2. Bagian-bagian hepar

Hepar merupakan kelenjar paling besar dan berfungsi sebagai organ

metabolik utama pada tubuh. Berat hepar manusia antara 1200 –1800 gr. Hepar memiliki dua facies, facies diafragmatika yang menempel

pada sebagian diafragma dan facies visceralis dengan tepi bawah

anterior mengarah ke organ-organ dalam abdomen. Hepar dibagi

menjadi dua lobus, lobus kanan yang lebih besar dan lobus kiri yang

berukuran lebih kecil. Kedua lobus hepar dipisahkan oleh ligamentum

falciforme di sebelah ventral seperti tampak pada gambar 4(a). Pada

sisi inferior lobus hepatis dekstra, terdapat dua lobus yaitu lobus

quadratus di ventral dan lobus caudatus di dorsal seperti tampak pada

gambar 4(b).

(35)

(a)

[image:35.595.141.514.79.568.2]

(b)

Gambar 4. Bagian-bagian hepar. (a) ventral. (b) dorsal. (Paulsen, et al., 2012)

Tiga vena hepar (Vv. Hapaticae) membagi hepar menjadi empat

segmen yang berdekatan. Segen lateral berhubungan dengan lobus

hepatis sinister dan dibatasi oleh ligamentum falciforme yang

berdekatan dengan V. hepatika sinister. Segmen medial terletak

(36)

dan segmen posterior dipisahkan oleh V. hepatika dekster, yang tidak

terlihat pada permukaan hepar.

3. Vaskularisasi hepar

Hepar diperdarahi oleh A. Hepatika propria yang berasal dari A.

Hepatika komunis, suatu cabang arterial langsung dari tunika koliaka.

Setelah bercabang menjadi A. Gastrika dektra, A. Hepatika propria

berjalan dalam ligamentum hepatoduodenal bersama dengan vena

porta heparika dan duktus koledokus ke hilum hepatis. Selanjutnya

arteri tersebut terbagi menjadi R. Dektra dan R. Sinistra memasuki

masing-masing lobus hepar. R. Dekstra bercabang lagi menjadi A.

Sistika untuk memperdarahi vesika biliaris.

Hepar memiliki sistem vena masuk dan keluar. Sistem V. porta

heparis mengumpulkan darah kaya nutrisi dari organ-organ abdomen

yang tidak berpasangan (gaster, usus, pankreas, limfa/splen) dan

mengalirkannya bersama dengan darah arterial dari A. Hepatika

komunis, ke dalam sinusoid lobulus hepatikus. Sistem vena yang

keluar adalah sistem vena yang membawa darah keluar dari hepar,

yaitu tiga vena hepatika.

2.4.2 Fisiologi hepar

Hati merupakan organ metabolik terbesar tubuh, sebagian besar proses

biokimiasi tubuh terjadi di hati. Oleh sebab itu hati disebut sebagai pabrik

(37)

saluran cerna dengan organ-organ lain pada tubuh, sebab hati merupakan

organ yang memelihara homeostasis metabolisme. Nutrisi utama berupa

karbohidrat, protein dan lemak yang di serap oleh saluran cerna akan

dibawa ke hati untuk di metabolisme. Hati memiliki kemampuan untuk

menguraikan dan mendetoksifikasi zat sisa tubuh, hormon, obat dan

senyawa asing lain. Tidak mengherankan jika sel hati sangat rentan

terhadadap jejas atau kerusakan sel (Kumar, et al., 2015)

Fungsi lain dari organ hati yaitu membentuk protein plasma, termasuk

protein yang digunakan untuk pembekuan darah dan protein untuk

mengangkut hormon tiroid dan steroid serta kolesterol dalam darah. Hati

juga berperan sebagai tempat penyimpanan glikogen, lemak, besi,

tembaga, dan vitamin. Bersama dengan ginjal, hati akan mengaktifkan

vitamin D. Adanya sel kupfer dalam hati menyebabkan organ ini memiliki

kemampuan untuk memfagosit bakteri dan sel darah merah tua. Sel

hepatosit tidak mampu melakukan fungsi fagositosis tersebut, hanya sel

kupfer hati yang bisa melakukan fungsi tersebut. Pada saat sel darah merah

tua mengalami destruksi, akan dihasilkan produk penguraian berupa

bilirubin. Oleh hati, bilirubun akan diekskresikan ke kantung empedu.

Dilihat dari fungsinya yang begitu besar dalam proses biokimiawi tubuh

membuat hati rentan mengalami jejas atau kerusakan. Akan tetapi, hati

merupakan organ yang memiliki cadangan fungsional yang besar karena

kemampuan regenerasinya yang sangat bagus. Seseorang yang mengalami

(38)

penyembuhan sempurna apabila seseorang tersebut dapat menghindari

gangguan metabolit berat saat terjadinya kegagalan fungsi hati tersebut

(Kumar, et al., 2015).

2.4.3 Histologi hepar

Unit fungsional terkecil organ hepar terdiri dari empat sel yaitu hepatosit,

sel kupfer, sel endotel atau pembatas dan sel ito atau sel penyimpanan.

Masing-masing sel memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan

karakteristiknya. Hepatosit melakukan fungsi eksokrin, yaitu

menghasilkan cairan empedu kemudian mengalirkannya ke duktus biliaris

(Gartner dan James, 2012). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar

4. Setiap hepatosit dibatas oleh sinusoid, yaitu saluran berliku-liku yang

dilapisi oleh lapisan sel yang tidak utuh dengan sel endotel berfenestra

seperti tampak pada gambar (Eroschenko, 2010). Hepatosit satu dangan

hepatosit yang lain dipisahkan oleh kanalikuli biliaris (Gartner dan James,

2012).

Sekitar 70% - 80% darah dalam organ hati tertampung di dalam vena porta

dan sisanya (20 % - 30%) di suplai oleh arteri hepatika. Nutrisi yang

diserap oleh usus akan dibawa ke hati melalui vena porta kecuali lipid

kompleks atau kilomikron. Hati mengeluarkan zat toksik ke dalam empedu

melalui duktus biliaris. Ketiga komponen tersebut yaitu arteri hepatika,

vena porta dan duktus biliaris membentuk trias porta seperti terlihat pada

(39)

(a)

(b)

(a)

(c)

(b)

(c)

Gambar 5. Histologi hepar. (a) Gambar Skematis Histologi dan Anatomi Hepar (Gartner dan James, 2012); (b)Hati Babi Perbesaran 40x; (c) Vena porta Perbesaran

(40)

Hepatosit tidak bersentuhan dengan aliran darah karena adanya sinusoid

yang dibatasi oleh sel-sel endotel dan sel makrofag atau sel kupfer seperti

tampak pada gambar 6(a). Sel kupfer berfungsi untuk memfagosit

benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh melalui aliran darah. Antara

hepatosit dan endotel sinusoid terdapat celah disse yang berisi mikrovili,

sel penyimpanan lemak (ito) dan serat retikuler seperti tampak pada

gambar 6(b) (Gartner dan James, 2012).

(a)

(b)

[image:40.595.148.508.306.712.2]
(41)

Hepatosit membentuk lempengan yang tersusun radial mengelilingi vena

sentral dan membentuk susunan yang menyerupai spon. Celah diantara

lempengan ini disebut sinusoid hati. Pada hati juga terdapat celah dengan

ukuran yang lebih kecil daripada sinusoid, yaitu celah parasinusoid atau

[image:41.595.111.521.250.470.2]

celah Disse seperti pada gambar 7 (Khasanah, 2017).

Gambar 7. Hati Perbesaran 1000x. H&E. (Khasanah, 2017)

2.4.4 Patologi Hepar

Hepar merupakan jembatan penghubung antara saluran pencernaan dan

organ-organ lain pada tubuh karena hepar memelihara homeostasis

metabolisme. Nutrisi yang diserap oleh saluran pencernaan akan diubah

menjadi asam amino, karbohidrat, lemak dan vitamin di dalam hepar.

Hepar juga berperan sebagai tempat detoksifikasi serta sekresi sampah

metabolit dan xenobiotik ke dalam empedu. Tidak mengherankan bahwa

(42)

sampah metabolit, zat toksik, mikroba, zat kimia, radiasi, dan lain

sebagainya (Kumar et al., 2015).

Jejas pada sel dapat terjadi karena trauma fisik ataupun defek gen yang

menyebabkan suatu enzim tertentu menjadi tidak berfungsi. Jejas pada sel

akan terjadi apabila sel mengalami stres yang berat sehingga sel tersebut

tidak mampu lagi beradaptasi atau apabila sel terpapar pada agen yang

merusak atau mengalami abnormalitas intrinsik. Jejas akan berkembang

dari stadium reversibel hingga menjadi kematian sel. Jejas reversibel dapat

berupa degenerasi dan kematian sel dapat berupa nekrosis atau apoptosis.

Di dalam sel hepar sendiri terdapat beberapa istilah kelainan yaitu

inflamasi, degenerasi, dan nekrosis. Inflamasi atau radang merupakan

bentuk reaksi jaringan hidup terhadap semua jenis jejas yang berupa

reaksi vaskuler dan hasilnya adalah pengiriman cairan, zat-zat yang

terlarut, dan sel-sel dari sirkulasi darah ke dalam ruang-ruang

ekstraseluler. Secara mikroskopis, inflamasi pada sel hepar terlihat

bentukan sel radang yang bergerombol dan berwarna ungu pada

pemulasan hematoksilin dan eosin. Tidak tampak adanya sitoplasma serta

ukuran sel nya menjadi tidak pasti. Degenerasi sel atau kemunduran sel

merupakan kelainan sel yang terjadi akibat cedera ringan sehingga

mengakibatkan kerusakan komponen sel seperti mitokondria dan

sitoplasma. Degenerasi dapat berupa degenerasi parenkimatosa (bengkak

(43)

bersifat reversibel secara morfolofis meliputi perubahan membran plasma

seperti lepasnya unsur intrasel, pembengkakan mitokondria dan adanya

benda amorf yang berupa fosfolipid, dilatasi retikulum endoplasma,

lepasnya ribosom, dan perubahan inti. Perubahan inti yang terjadi dapat

berupa penggumpalan kromatin. Nekrosis diartikan sebagai jenis kematian

sel yang dihubungkan dengan hilngnya integritas membran dan bocornya

isis sel sehingga terjadi kerusakan sel. Nekrosis secara morfologis ditandai

dengan adanya perubahan pada sitoplasma dan inti sel yang mengalami

jejas. Sitoplasma sel yang mengalami nekrosis akan menunjukkan

peningkatan warna pada pemulasan menggunakan hematoksilin dan eosin.

Nukleus pada sel yang mengalami nekrosis akan menunjukkan tiga pola

kerusakan yaitu kariolisis, piknosis, dan karioreksis. Kariolisis ditandai

dengan warna basofil dari kromanit yang memudar, piknosis ditandai

dengan inti yang mengeci serta kromatin yang memadat, dan karioreksis

adalah inti piknosis yang mengalami fragmentasi (Kumar et al., 2015).

2.5 Antiradiasi alpha spin 2.5.1 Teori spin glass

Spin glass adalah salah satu sistem magnetik dimana ikatan-ikatan

magnetik di dalamnya merupakan campuran dari ikatan ferromagnetic dan

ikatan anti ferromagnetic. Ikatan ferromagnetik memiliki orientasi yang

searah sedangkan ikatan anti ferromagnetic memiliki orientasi yang

(44)

tersebut menyebabkan lebih dari satu susunan atom geometrik menjadi

stabil.

Spin glass menghasilkan frekuensi putaran khusus yang bergerak searah

dan berlawanan arah jarum jam, sehingga ketika bertemu pada satu

frekuensi yang sama akan menghasilkan vortex. Vortex yaitu sebuah

pusaran berlawanan arah jarum jam yang terus berputar sehingga

atom-atom yang melewati vortex tersebut menjadi stabil. Bentuk vortex yang

[image:44.595.257.422.359.552.2]

dihasilkan oleh spin glass terlihat pada gambar 8 (Mezard et.al, 1987)

Gambar 8. Vortex (Anonim, 2019)

2.5.2 Alpha spin

Alpha spin merupakan salah satu antiradiasi yang mengadopsi teori spin

glass. Alpha spin merupakan technical engineered funnel glass yang

diproduksi di jerman dan terbuat dari silika yang mengalami proses

peleburan dengan temperatur tinggi. Diameter alpha spin yaitu 100 mm

(45)

mendapat persetujuan dari German Food Grade Safe and German

Non-Radioactive. Alpha spin bukan merupakan peralatan kesehatan yang

digunakan untuk menegakkan diagnosis, alat terapi ataupun pencegahan

penyakit. Alpha spin adalah alat yang memiliki medan energi positif

[image:45.595.206.472.249.373.2]

dalam keseimbangan dan harmonisasi energi dalam tubuh (Anonim, 2019).

Gambar 9. Alpha spin (Anonim, 2019)

Alpha spin dapat memproduksi resonansi yang kuat dan mampu

mentransfer perputaran energi sehingga menghasilkan medan energi

kuantum. Alat ini di desain untuk memberikan efek vortex atau pusaran

yang terbentuk ketika perputaran frekuensi berpindah berlawanan arah

jarum jam dan searah jarum jam. Alpha spin disinyalir dapat

menyelaraskan gelombang elektromagnetik dan menstimulasi vitalitas

energi. Resonansi dan getaran yang dihasilkan oleh alpha spin ini dapat

ditransfer melaui air, udara dan cahaya. Resonansi alami yang dihasilhan

oleh alpha spin sama dengan resonansi di desa BAMA di Cina yang

terkenal dengan sebutan “world longevity village” karena banyaknya jumlah penduduk yang usianya lebih dari 100 tahun atau centenarian

(46)

2.6 Kerangka teori

Salah satu penyebab jejas atau kerusakan sel adalah adanya paparan agen

fisis, agen fisis dapat berupa radiasi elektromagnetik. Radiasi

elektromagnetik dapat dibedakan menjadi radiasi ion dan non ion. Radiasi

non ion, seperti telepon seluler, dapat menyebabkan jejas pada sel baik

secara termal maupun non termal. Kedua mekanisme tersebut akan

meningkatkan ROS yang pada akhirnya akan menyebabkan nekrosis apabila

jejas bersifat ireversibel. Mitokondria rentan terhadap jejas, salah satunya

karena agen fisis berupa radiasi. Sel hepar banyak mengandung mitokondria

sehingga rentan terjadi jejas hepatosit.

Alpha spin merupakan alat yang dibuat untuk menangkal radiasi

elektromagnetik yang dihasilkan oleh berbagai peralatan canggih seperti

telepon seluler. Alpha spin bekerja dengan menyelaraskan energi sehingga

menimbulkan kestabilan energi yang dapat mencegah pancaran radiasi yang

dihasilkan oleh gelombang elektromagnetik telepon seluler. Mekanismenya

(47)

Gambar 10. Kerangka teori (Kumar, et al., 2015; Somosy, 2000) Kelistrikan membran ganda terganggu Modifikasi komponen intrasel Defek permeabilitas membran Modifikasi komponen intrasel

Akumulasi ROS (Reactive oxygen Species) karena

adanya medan magnet Radiasi non pengion dari gelombang

elektromagnetik telepon seluler

Kerusakan DNA dan protein

Kegagalan fosforilasi oksidatif dan deplesi ATP

Jejas pada sel

Apha spin

Sel radang

Degenerasi dan nekrosis

(48)
[image:48.595.141.453.144.293.2]

2.7 Kerangka konsep

Gambar 11. Kerangka konsep

2.8 Hipotesis

1. Terdapat pengaruh paparan gelombang elektromagnetik telepon seluler

terhadap gambaran histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus)

galur Sprague dawley.

2. Terdapat efek protektif dari antiradiasi alpha spin terhadap histopatologi

hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang diberi

paparan radiasi gelombang elektromagnetik telepon seluler Paparan radiasi

elektromagnetik telepon seluler

Perubahan histopatologi hepar

Variabel bebas Variabel terikat

(49)

METODE PENELITIAN

3.1 Desain penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik untuk

mempelajari hubungan sebab-akibat dengan cara memberikan intervensi

pada subjek penelitian kemudian melihat dan mempelajari efek dari

perlakuan tersebut. Penelitian ini menggunakan pola Post Test Only Control

Group Design.

3.2 Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di animal house untuk pemeliharaan hewan

percobaan dan di Laboratorium Patologi Anatomi dan Histologi Fakultas

Kedokteran Universitas Lampung untuk mengetahui gambaran histopatologi

hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang telah

diberi paparan radiasi elektromagnetik telepon seluler selama 24 jam serta 2

jam panggilan dan paparan radiasi elektromagnetik telepon seluler selama

24 jam serta 2 jam panggilan bersamaan dengan paparan alpha spin. .

Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah 35 hari yaitu pada bulan September

(50)

3.3 Identifikasi Variabel Penelitian 3.3.1 Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah paparan radiasi gelombang

elektromagnetik telepon seluler dan Alpha spin

3.3.2 Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perubahan gambaran

(51)

3.4 Definisi Operasional

Tabel 2. Definisi operasional

3.5 Populasi dan Sempel

Populasi pada penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus) galur

Sprague dawley jantan berumur 8-10 minggu dengan berat antara 120-160

gram yang diperoleh dari laboratorium Balai Penelitian Veteriner

(BALITVET) Institut Pertanian Bogor (IPB). Sampel penelitian yang

digunakan sebanyak 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague No Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1. Alpha spin Paparan Alpha spin yang

diletakkan di bawah telepon seluler, bersamaan dengan paparan telepon seluler merk blackberry bold 9780 (nilai SAR= 1,15 W/kg yang diaktifkan dan dilakukan panggilan nomor selama 2 jam per hari dalam waktu 35 hari.

Telepon Selulerl

1 = terdapat paparan telepon seluler 2 = tidak terdapat

paparan telepon seluler Nominal 2. Radiasi gelombang elektromag netik telepon seluler Paparan radiasi gelombang elektromagnetik telepon seluler merk blackberry bold 9780 (nilai SAR= 1,15 W/kg yang diaktifkan dan dilakukan panggilan nomor selama 2 jam per hari dalam waktu 35

hari.(Rahmanisa dan Sudrajat, 2017)

Alpha spin 1 = terdapat paparan alpha spin 3 = tidak terdapat

paparan alpha spin

Nominal

3. Gambaran histopatolo gi hepar tikus putih (Rattus norvegicus ) galur Sprague dawley

Menilai kerusakan hepatosit secara mikroskopis

menggunakan mikroskop

cahaya dengan

perbesaran 400 kali pada seluruh lapang pandang untuk meniai derajat keparahan.

Mikroskop cahaya

Skoring histopatologi Manja Roenigk : 1 = normal 2 = degenerasi

parenkimatosa 3 = degenerasi

hidrofik 4 = nekrosis

[image:51.595.109.510.171.564.2]
(52)

dawley yang dipilih secara acak yang dibagi menjadi 3 kelompok (2

kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol) sehingga setiap kelompok

perlakuan terdiri dari 9 ekor tikus. Penentuan jumlah sampel berdasarkan

perhitungan menggunakan rumus Frederer sebagai berikut :

Jadi berdasarkan perhitungan tersebut hewan coba yang digunakan

sebanyak 9 ekor (n ≥ 8,5) tiap kelompok dan jumlah kelompok perlakuan ada 3 kelompok. Sehingga total hewan cobanya adalah 27 ekor tikus putih

(Rattus norvegicus) galur Sprague dawley. Untuk menghindari drop out,

maka ditambahkan sampel hewan coba dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

N = besar sampel koreksi

n = jumlah sampel berdasarkan estimasi

f = perkiraan proporsi drop out sebesar 10% (Sastroasmoro, 2010). (t-1) (n-1) ≥ 15

(3-1) (n-1) ≥ 15

2n-2 ≥ 15 2n ≥ 17 n ≥8,5

= 5

1 −

= 1 − 9 1 − 10%

9 0,9

(53)

Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus tersebut, maka diberikan

tambahan hewan coba sebanyak 1 ekor tiap kelompok sehingga total hewan

coba yang digunakan adalah 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) galur

Sprague dawley.

Kriteria inklusi :

a. Tikus putih jantan galur Sprague dawley

b. Berat badan 120-160

c. Berusia 8-10 minggu

d. Tingkah laku dan aktivitas normal

e. Tidak terdapat kelainan anatomi

Kriteria ekslusi :

a. Penampakan rambut kusam, rontok, atau botak dan aktivitas kurang

atau tidak aktif, keluarnya eksudat yang tidak normal dari mata, mulut,

anus dan genital.

b. Terdapat penurunan berat badan lebih dari 10% setelah masa adaptasi di

laboratorium.

(54)

3.6 Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan penelitian

a. Hewan percobaan berupa tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur

Sprague dawley.

b. Makanan hewan percobaan berupa BR-15

c. Eter.

d. Formalin 10%

2. Alat penelitian

a. Alpha spin

b. Telepon seluler merek blackberry bold 9780 dengan nilai SAR sebeasr

1,15 W/kg.

c. Alat bedah minor set.

d. Kapas dan alkohol.

e. Alat pembuat preparat histopatologi

Alat yang digunakan untuk membuat preparat histopatologi antara lain

gelas objek, tissue cassete, deck glass, water bath, platening table,

rotarymicrotome, autochnicom procesor, staining jar, staining rak,

kertas saring, histoplast dan parafin dispenser.

f. Alat pemeriksaan mikroskopis

Alat yang digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis adalah

mikroskop, gelas objek, cairan emersi dan kamera digital untuk

(55)

g. Kandang hewan

Kandang terbuat dari box plastik dengan ukuran 70 x 50 cm dengan

tinggi 7 cm, bagian dasarnya diberi sekam, kemudian bagian atas

ditutup dengan anyaman kawat. Kandang dibersihakan setiap hari dan

sekam diganti tiap tiga hari sekali.. Tempat makan terbuat dari plastik

dan diletakkan di dalam kandang. Tempat minum terbuat dari botol

kaca yang digantung dan ujungnya diberi pipet yang ditancapkan pada

atap kandang. Ukuran kandang ditentukan sesuai petunjuk yang tampak

[image:55.595.165.495.373.457.2]

pada tabel 3.

Tabel 3. Ukuran kandang tikus sesuai berat badan

No Berat (gram) Lebar (cm2) Tinggi (cm)

1. <100 17 7

2. 200 23 7

3. 300 29 7

4. 400 40 7

5. 500 60 7

6. ˃500 ≥70 7

(Sharp dan LaRegina, 1998)

3.7 Prosedur Penelitian

1. Pemeliharaan hewan percobaan

Tikus yang diperoleh dari Institut Pertanian Bogor langsung dimasukkan

ke dalam kandang yang telah disiapkan dan diadaptasikan selama tujuh

hari. Kandang tikus dibersihkan setiap hari dengan desinfektan. Setiap

hari tikus diberikan makanan berupa BR-15 dan minuman standar secara

ad libitum. Dalam tujuh hari diamati pula struktur anatomi dan perilaku

(56)

2. Prosedur pemaparan telepon seluler

a. Kelompok kontrol I (K1) : diberi makan dan minum secara ad

libitum, tidak dipaparkan telepon seluler.

b. Kelompok hewan percobaan 1 (P1) : diberi makan dan minum,

dipaparkan telepon seluler merk blackberry bold 9780 (nilai SAR

sebesar 1,15 W/kg) selama 2 jam dengan mode panggilan telepon.

(Rahmanisa dan Sudrajat, 2017). Telepon seluler diletakkan di dalam

kandang, jarak antara kelompok kontrol (K1) dengan kelompok

perlakuan 1 (P1) adalah lebih dari 2 meter dan berada pada ruangan

yang berbeda.

c. Kelompok hewan percobaan 2 (P2) : diberi makan dan minum,

dipaparkan telepon seluler merk blackberry bold 9780 (nilai SAR

sebesar 1,15 W/kg) selama 2 jam dengan mode panggilan serta

paparan alpha spin yang diletakkan tepat dibawah telepon seluler

dan bersinggungan dengan telepon seluler. Jarak antara kelompok

kontrol (K1) dengan kelompok perlakuan 2 (P2) adalah kurang dari 2

meter dan berada pada satu ruangan.

3. Pengambilan sampel organ

Setelah dilakukan intervensi selama 35 hari (Rahmanisa dan Sudrajat,

2017), hewan percobaan dianastesi menggunakan ketamin secara intra

peritoneal, setelah tikus tertidur kemudian di eutanasia dengan cara

dislokasi servikalis. Tikus yang telah mati kemudian dinekroskopi dan

diambil hatinya lalu dimasukkan ke dalam wadah yang berisi formalin

(57)

a. Memasukkan semua sisa organ tikus yang tidak terpakai ke dalam

kantong plastik.

b. Dilakukan insinerasi atau pembakaran hewan coba.

c. Sampah lain yang tidak berhubungan dengan organ dibuang ke

dalam kantong plastik yang berbeda.

d. Membersihkan area kerja sisa pembedahan dengan sabun dan

semprot dengan alkohol.

4. Pembuatan sediaan histologi

a. Fiksasi

Larutan fiksasi yang dipakai adalah fosfat buffer formalin dengan

[image:57.595.156.528.421.491.2]

komposisi tampak pada tabel 4:

Tabel 4. Komposisi fosfat buffer

No Bahan Jumlah

1. Formalin 10 cc

2. Acidsodiumphospatemonohydrate 0,4 gr

3. Anhydrous disodium phosphate 0,65 gr

4. Aquades

(Sharp dan LaRegina, 1998)

b. Dehidrasi

Dehidrasi memakai alkohol dengan kadar sebagai berikut :

Alkohol 75% selama 30 menit

Alkoho 95% selama 30 menit

Alkohol 100% selama 30 menit, diganti hingga 4 kali

c. Pembeningan

(58)

d. Impregnasi

Pembenaman dilakukan dengan paraffin cair selama 1 jam.

e. Pembuatan paraffin block

f. Pengisian jaringan setebal 4-5 mikron.

g. Pewarnaan

Pewarnaan yang dipakai adalah hematoksilin eosin.

Cara pewarnaan dengan hemaktosilin eosin yaitu :

1. Memasukkan preparat ke dalam xylol selama 3-5 menit.

2. Memindahkan preparat ke xylol II selama 3-5 menit.

3. Memasukkan berturut-turut ke dalam alkohol 100%, 95%, dan

70% masing-masing selama 3 menit.

4. Memasukkan ke dalam akuades sebanyak empat kali celupan.

5. Memasukkan ke dalam hematoksilin 5-10 menit.

6. Mencuci dengan air mengalir selama 5 menit.

7. Masukkan ke larutan HCl 1% sebanyak tiga kali celupan.

8. Dibilas dengan air

9. Memasukkan eosin 1% selama satu menit.

10. Memindahkan berturut-turut ke dalam alkohol 70%, 95%, 100%

masing-masing tiga kali celupan.

11. Masukkan ke dalam xylol I dan xylol II secara berurutan.

12. Tutup dengan kaca penutup setelah ditetesi dengan minyak

(59)

h. Evaluasi histopatologi

Evaluasi histopatologi dilakukan pada organ hepar dengan

menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 40x10. Gambaran

histopatologi hepar yang dimaksud adalah menilai kerusakan hepatosit

secara mikroskopis pada 5 lapang pandang. Adapun kriteria kerusakan

[image:59.595.133.512.303.363.2]

hepar dibagi menjadi beberapa tingkatan seperti tampak pada tabel 5 :

Tabel 5. Skoring histopatologi Manja Roenigk

No Tingkat perubahan Skor

1 . normal 1

2. Degenerasi parenkimatosa 2

3. Degenerasi hidrofik 3

4. nekrosis 4

3.8 Alur Penelitian

Penelitian dimulai dengan aklimatisasi dan evaluasi hewan percobaan.

Dilanjutkan dengan membagi hewan percobaan menjadi 3 kelompok, serta

diberi perlakuan pada 2 kelompok selama 35 hari dan 1 kelompok sebagai

kontrol. Setelah itu, hewan percobaan diterminasi dan diambil organ

heparnya untuk dilakukan evaluasi histopatologi. Hasil evaluasi

histopatologi dinilai menggunakan skore histopatologi Manja Roenigk.

Tahap terakhir yaitu melakukan analisis data menggunakan program

pengolah data. Seluruh rangkaian penelitian yang akan dilakukan dapat

(60)
[image:60.595.145.473.74.656.2]

Gambar 12. Alur penelitian Pemeliharaan atau adaptasi hewan percobaan selama 7 hari

Evaluasi hewan percobaan untuk memastikan hewan percobaan

memenuhi kriteria

Pembagian hewan percobaan ke dalam 3 kelompok

Kelompok I : Kelompok kontrol, tidak

diberikan paparan radiasi

telepon seluler

Kelompok II : Diberikan paparan radiasi telepon seluler dengan penerimaan panggilan selama 2 jam

setelah perlakuan selama 35 hari, hewan coba di eutanasia dan dilakukan pengambilan organ hepar

Pembuatan preparat histologi organ hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley di Laboratorium Patologi Anatomi

FK UNILA

Pembuatan preparat histopatologi

Interpretasi hasil pengamatan dengan dibantu oleh pembembing yang ahli di bidangnya

Kelompok III : Diberikan paparan

radiasi telepon seluler dengan penerimaan panggilan selama 2 jam dan dipapar

(61)

3.9 Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil pengamatan histopatologi dianalisis

menggunakan program SPSS. Data hasil pengamatan dianalisis dan dilihat

distribusinya secara statistik dengan uji normalitas Shapiro-Wilk karena

jumlah sampelnya kurang dari 50. Data dapat dikatakan berdistribusi normal

apabila nilai signifikasi lebih dari 0,05. Kemudian, dilakukan uji Levene,

jika varian data berdistribusi normal dan homogen, dilanjutkan dengan uji

parametrik One Way ANOVA untuk mengetahui perbedaan rerata ketiga

kelompok tersebut. Bila tidak memenuhi syarat uji parametrik, maka

digunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis. Hipotesis dianggap bermakna

apabila p<0,05. Jika pada analisis menggunakan metode One Way ANOVA

atau Kruskal-Wallis menghasilkan nilai p<0,05, maka selanjutnya dilakukan

analisis dengan metode Post-Hoc untuk melihat perbedaan antar kelompok

perlakuan.

3.10 Etika Penelitian

Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik

Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dengan nomor Etical

(62)

5.1 Kesimpulan

1. Terdapat pengaruh paparan radiasi gelombang elektromagnetik

telepon seluler terhadap histopatologi hepar tikus putih (Rattus

norvegicus) galur Sprague dawley.

2. Terdapat efek protektif Alpha Spin sebagai antiradiasi terhadap

histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague

dawley yang diberi paparan radiasi gelombang elektromagnetik

telepon seluler.

5.2 Saran

1. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan lebih memperhatikan jenis

telepon seluler dengan teliti.

2. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan lebih memaksimalkan

pemilihan lokasi penempatan tikus agar tidak terdapat bias dalam

penelitian.

3. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan

(63)

Al-Glaib B, Al-Dardfi M, Al-Tuhami A, Elgenaidi A, Dkhil M. 2008. A technical report on the effect of electromagnetic radiation from a mobile phone on mice organs. Libyan J med. 3(1):8–9.

Akbar, G. 2010. Tumbuhan dengan kandungan senyawa aktif yang berpotensi sebagai bahan antifertilitas. Jakarta: Adabia Press.

Anonim, 2019. Alpha spin [Website] [Diakses 19 September 2019]. Tersedia dari: alphaspin.co

Avenue JMO. 2019. body and home quantum energy field - frequency optimizer and harmonizer. [Artikel online] [Diakses pada 13 September 2019. tersedia dari: http://alphaspin.co.]

Elder JA. 2003. Ocular Effects of Radiofrequency Energy. Bioelectromagnetics. 24(6):148–61.

Eroschenko VP. 2010. Altlas Histologi diFiore : dengan korelasi fungsional. Edisi 11. Jakarta: EGC.

Gartner LP. dan James LH. 2012. Atlas Berwarna Histologi. Edisi 5. Tangerang: Binarupa Aksara.

Ghonimi WA dan Elbaz A. 2015. Exposure effects of 50 Hz, 1 gauss magnetic field on the histoarchitecture changes of liver, testis and kidney of mature male albino rats. Journal of Cytology & Histology. 06(04):1-6.

(64)

Harlan. 2015. Sprague dawley rat. Taconic Bioscience. 1-11.

IARC. 2012. Non-Ionizing radiation part 2 : radiofrequency electromagnetic fields. IARC monographs on the evaluation of carcinogenic risks to humans. Geneva: WHO

Khalil A. Al-Adhammi M, Al-Shara B, Gagaa M, Rawshdeh AAl. 2012. Histological and ultrastructural analyses of male mice exposed to mobile phone radiation. Journal of Toxicology Review. 1(1):1–6.

Khasanah LU. 2017. Atlas Histologi Hewan [Website] [Diakses 19

September 2019]. Tersedia dari www.

atlashistologi.com/histologi/hati.html

Kumar V, Abbas AK dan Aster JC. 2015. Buku Ajar Patologi Robbins. Edisi 9. Singapore: Elsevier.

Malole MBM dan CS Pramono. 1989. Penggunaan hewan-hewan percobaan laboratorium Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Bioteknologi. IPB. Bogor.

Mescher AL. 2011. Histologi dasar JUNQUIERA: teks dan atlas. Jakarta: EGC.

Meo SA, Arif M, Rashied S, Husain S, Khan MM, Al Masri AA, et.al. 2010. Morphological changes induced by mobile phone radiation in liver and pancreas in wistar albino rats. European Journal of Anatomy. 14(3):105–9.

Mezard M., Parisi G., dan Virasoro MA. 1987. World Scientific Lecture Notes in Physics: Spin glass theory and beyond. Edisi 9. Paris : World Scientific Publishing.

Figure

Gambar 1. Spektrum elektromagnetik(Tarigan, et al., 2013)
Gambar 2. Rattus norvegicus galur Sprague dawley(Akbar, 2010)
Tabel 1. Kriteria Rattus norvegicus
Gambar 3. Proyeksi hepar. (a) anterior. (b) posterior.(Paulsen, et al., 2012)
+7

References

Related documents

Compositional analysis of monomeric sugars in carbohydrate fractions of 10 African angiosperms has been carried out using acid hydrolysis and high performance

The Manufacturing Technology Center a Division of Cuyahoga Community College (Tri-C) recognizes and supports FLEX High School with opportunities of enrollment into the

Findings revealed that faculty members of Landmark University were fully aware of the resources the library holds and that the resources were utilized mainly for academic

To this aim, the main contribution to the state-of-the-art of this paper is a blended learning dashboard that combines information concerning the usage of resources in a shared

These import and processing steps can be carried out by all researchers added as collaborators to the SGCP campaign. This allows that each field team can individually upload their

These reports include such statistics as number of establishments, employment, payroll, value added by manufacture, cost of materials consumed, value of shipments, capital

Undergraduate student opportunities include Huntsman Scholars (Business Honors), Business Study Abroad, SEED Microfinance Program, Koch Scholars, Huntsman Clubs and

However, there are a few issues with this approach, namely: bulk activity (extreme value) effects, the influence of other undiscovered or ignored BMIs, workload member