HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) GALUR SPRAGUE DAWLEY YANG TERPAPAR
GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK TELEPON SELULER
(Skripsi)
Oleh :
Mashitoh Nur Iqlima
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
ABSTRACT
EFFECTIVENESS APLHA SPIN AS ANTRIRADIATION AGAINST
LIVER HISTOPATHOLOGY OF WHITE RATS (Rattus
norvegicus) SPRAGUE DAWLEYSTRAIN THAT IS CAUSED BY ELECTROMAGNETIC CELL
PHONES WAVE’SEXPOSURE
by
Mashitoh Nur Iqlima
Background: Cell phones are one of the utilization of electromagnetic waves in telecommunication. Two-thirds of the population around the world in 2017 are recorded as mobile phone users and are expected to increase to three-quarters in 2020. Cell phones may emit non-ionizing radiation that can cause damage to the hepar cells. Alpha Spin is one of the antiradiation that has protective effect against the damage of the hepar cells caused by electromagnetic cell phones wave’s exposure. This experiment is aimed to determine the influence of cellular phone exposure and the effectiveness of Alpha spin as an anti-radiation against liver histopathology of white rat (Rattus norvegicus) Sprague dawley strains.
Methods: This research is experimental study that is using 30 white rats which devided into 3 group. Control group (K1) is only given eat and drink, 1st treatment group (P1) is given the exposure of electromagnetic cell phones wave’s, 2nd treatment group (P2) is given the exposure of electromagnetic cell phones wave’s and Alpha spin for 2 hour/day during 35 days.
Result: The average of hepatocyte damage in K1=2,44; P1=2,84; P3=1,72. This data is analyzed by Kruskal Wallis testand teh result is p=0,00 (p<0,05).Then, the result of Post Hoc test arep value between K1 and P1=0,02; K1 and P2=0,001; P1 and P2=0,00.
Conclusion: The exposure of electromagnetic cell phones wave’s may lead the
damage of hepar cells and the exposure of Alpha spin can repair the damage of hepar cells in 1st treatment group (P1).
ABSTRAK
EFEKTIVITAS ALPHA SPIN SEBAGAI ANTIRADIASI TERHADAP HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)
GALUR SPRAGUE DAWLEYYANG TERPAPAR
GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK TELEPON SELULER
Oleh
Mashitoh Nur Iqlima
Latar Belakang: Telepon seluler merupakan salah satu pemanfaatan gelombang elektromagnetik di bidang telekomunikasi. Dua per tiga dari penduduk di seluruh dunia pada tahun 2017 tercatat sebagai pengguna telepon seluler dan diperkirakan akan meningkat menjadi tiga per empat pada tahun 2020. Telepon seluler dapat memancarkan radiasi non pengion yang dapat menyebabkan kerusakan sel hepar. Alpha spin merupakan salah satu antiradiasi yang dapat memberikan efek protektif terhadap kerusakan sel hepar akibat paparan radiasi gelombang elektromagnetik telepon seluler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh paparan telepon seluler dan efektivitas Alpha spin sebagai antiradiasi terhadap histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley.
Metode: Penelitian eksperimental menggunakan 30 3kor tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok kontrol (K1) hanya diberi makan dan minum, kelompok perlakuan 1 (P1) dipapar telepon seluler, kelompok perlakuan 2 (P2) dipapar telepon seluler dan Alpha spin selama 2 jam mode panggilan dalam waktu 35 hari.
Hasil Penelitian: Rerata kerusakan sel hepar pada K1=2,44; P1=2,84; P3=1,72. Data dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan didapatkan hasil p=0,00 (p<0,05). Selanjutnya, dengan uji Post Hoc didapatkan p antara K1 dan P1=0,02 K1 dan P2=0,001; P1 dan P2=0,00.
Simpulan: Pemberian paparan telepon seluler dapat menyebabkan kerusakan sel hepar dan pemberian paparan Alpha spin dapat memperbaiki kerusakan sel hepar pada kelompok P1.
GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK TELEPON SELULER
Oleh :
Mashitoh Nur Iqlima
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN
Pada
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
Penulis dilahirkan di Sukoharjo pada tanggal 16 Juni 1997, sebagai anak
terakhir dari 3 bersaudara dari Bapak Muhtar Ngadiyanto dan Ibu Suyati.
Pendidikan Taman Kanak-kanak diselesaikan di TK BA Aisyah Palur pada
tahun 2003, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD Muhammadiyah Palur pada
tahun 2009, Sekolah Menengah Pertama diselesaikan di SMP Negeri 13 Surakarta
pada tahun 2012, Sekolah Menengah Atas diselesaikan di SMA Negeri 2
Surakarta pada tahun 2015.
Tahun 2016, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(SBMPTN).
Sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, penulis
aktif pada organisasi PMPATD Pakis Rescue Team sebagai anggota pada tahun
Sebuah Persembahan Sederhana
Untuk Ibuk, Bapak, Mbak, Mas,
Kamu, dan Keluarga Besarku
Tercinta
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
segala rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan
Skripsi dengan judul “Efektivitas Alpha Spin sebagai Antiradiasi terhadap Histopatologi Tikus Putih Rattus norvegicus Galur Sprague dawley yang
Terpapar Gelombang Elektromagnetik Telepon Seluler”
Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak mendapat masukan,
bantuan, dorongan, saran, bimbingan, dan kritik dari berbagai pihak. Maka pada
kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan rasa
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. Karomani, M.Si., selaku Rektor Universitas Lampung;
2. Dr. Dyah Wulan Sumekar SW, SKM., M.Kes., selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Lampung;
3. dr. Waluyo Rudiyanto, S.Ked., M.Kes., selaku pembimbing 1 yang telah
meluangkan waktu dan memberikan kesediaanya untuk membantu,
memberikan kritik serta saran, dan membimbing dalam menyelesaikan skripsi
ini;
4. Dr. dr. Jhons Fatriyasi S, S.Ked., M.Kes., selaku pembimbing 2 yang telah
ini;
5. Dr. dr. Khairun Nisa, S.Ked., M.Kes., AIFO., selaku pembahas yang telah
meluangkan waktu dan memberikan kesediaanya untuk membantu,
memberikan kritik serta saran, dan membimbing dalam menyelesaikan skripsi
ini;
6. Dr. dr. Jhons Fatriyadi S, S.Ked., M.Kes., selaku pembimbing akademik yang
senantiasa memberikan bimbingan dan dorongan untuk menyelesaikan
penulisan skripsi ini;
7. Seluruh staf Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, yang telah
memberikan ilmu dan wawasan kepada penulis untuk menambah wawasan
pengetahuan;
8. Seluruh staf TU, administrasi, akademik, dan pegawai Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung, yang telah membantu penelitian dan penulisan skripsi
ini;
9. Ibuk dan bapak yang senantiasa memberikan bantuan, dukungan, motivasi,
doa dan semua yang saya perlukan dalam hal apapun dan keadaan apapun;
10. Mas rochim dan mbak yuni, sebagai kakak yang senantiasa memberikan
bantuan, dukungan, motivasi, dan doa kepada penulis sehingga dapat
menyelessaikan penulisan skripsi ini;
11. Ghanim, ingsun dan parisa, sebagai adik-adik keponakan yang selalu
memberikan dukungan untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini;
12. Seluruh keluarga besar penulis yang selalu memberikan dukungan untuk
untuk menuangkan isi hati penulis;
14. Rephy, Tia, Ajik, Faiz Arka, Ferry Afarozi, dan Raka Yulian sebagai teman
dari SMA yang selalu memberikan motivasi, bantuan dan meluangkan waktu
bagi penulis untuk menuangkan isi hati penulis;
15. Amira Zhafira, Nurul Aini Hilman, dan Thaharatin Giza Wulandari, dan Kak
Reandy Ilham Andriyono sebagai teman dari pertama masuk FK Unila dan
kakak tingkat terbaik yang selalu menemani dan saling memberi dukungan
dalam setiap hal serta meluangkan waktu bagi penulis untuk menuangkan isi
hati penulis;
16. Bang kiki dan Ardhya, sebagai rekan satu penelitian yang senantiasa
bekerjasama dan saling memberikan masukan serta bantuan.
17. Seluruh teman-teman TRIGEMINUS yang tidak bisa penulis sebutkan satu
per satu, terimakasih untuk selalu bersama-sama sejak masuk FK Unila;
Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saranyang bersifat membangun demi
perbaikan skripsi ini penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pembacanya
Bandarlampung, Januari 2020
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI... i
DAFTAR TABEL... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar belakang... 1
1.2 Rumusan masalah... 4
1.3 Tujuan penelitian... 4
1.4 Manfaat penelitian... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 6
2.1 Gelombang elektromagnetik ... 6
2.2 Telepon seluler ... 11
2.3 Tinjauan Hewan Percobaan... 14
2.3.1 Klasifikasi... 15
2.3.2 Jenis ... 16
2.3.3 Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus) ... 17
2.4 Hepar ... 17
2.4.1 Anatomi hepar ... 17
2.4.2 Fisiologi hepar ... 20
2.4.3 Histologi hepar ... 22
2.4.4 Patologi Hepar ... 25
2.5 Antiradiasi alpha spin ... 27
2.5.1 Teori spin glass... 27
2.5.2 Alpha spin... 28
2.6 Kerangka teori ... 30
2.7 Kerangka konsep ... 32
2.8 Hipotesis... 32
BAB III METODE PENELITIAN... 33
3.1 Desain penelitian ... 33
3.2 Tempat dan Waktu ... 33
3.3 Identifikasi Variabel Penelitian... 34
3.3.1 Variabel Bebas... 34
3.3.2 Variabel Terikat... 34
3.5 Populasi dan Sempel ... 35
3.6 Bahan dan Alat Penelitian... 38
3.7 Prosedur Penelitian... 39
3.8 Alur Penelitian ... 43
3.9 Analisis Data ... 44
3.10 Etika Penelitian ... 45
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 46
4.1 Hasil ... 46
4.1.1 Gambaran Histopatologi Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus) . 46 4.1.2 Analisis Histopatologi Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus) .... 50
4.2 Pembahasan... 53
4.3 Keterbatasan Penelitian ... 56
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 58
5.1 Kesimpulan ... 58
5.2 Saran... 58
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel
1. Tabel 1. Kriteria Rattus norvegicus ... 16
2. Tabel 2. Definisi operasional ... 35
3. Tabel 3. Ukuran kandang tikus sesuai berat badan ... 39
4. Tabel 4. Komposisi fosfat buffer... 41
5. Tabel 5. Skoring histopatologi Manja Roenigk ... 43
6. Tabel 6. Rerata derajat kerusakan hepar tikus putih (Rattus norvegicus)... 51
7. Tabel 7. Median derajat kerusakan histopatologi tiap kelompok ... 52
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar
1. Gambar 1. Spektrum elektromagnetik ... 8
2. Gambar 2. Rattus norvegicus galur Sprague dawley ... 15
3. Gambar 3. Proyeksi hepar. (a) anterior. (b) posterior. ... 18
4. Gambar 4. Bagian-bagian hepar. (a) ventral. (b) dorsal... 19
5. Gambar 5. Histologi hepar. ... 23
6. Gambar 6 (a) Hati Perbesaran 40x. (b) Hati Perbesaran 100x ... 24
7. Gambar 7. Hati Perbesaran 1000x. H&E. ... 25
8. Gambar 8. Vortex... 28
9. Gambar 9. Alpha spin... 29
10. Gambar 10. Kerangka teori ... 31
11. Gambar 11. Kerangka konsep ... 32
12. Gambar 12. Alur penelitian... 44
13. Gambar 13. Gambaran histopatologi kelompok ontrol (K1) ... 48
14. Gambar 14. Gambaran histopatologi kelompok Perlakuan 1 (P1) ... 49
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dewasa ini, kehidupan sosial masyarakat sangat bergantung terhadap alat
komunikasi modern, contohnya adalah telepon seluler atau biasa disebut
ponsel. Saat ini telepon seluler sudah seperti kebutuhan primer bagi
sebagian besar masyarakat. Kini, dua per tiga dari penduduk di seluruh
dunia adalah pengguna telepon seluler dan jumlah ini diperkirakan akan
meningkat menjadi tiga per empat atau sekitar 5 miliar pada tahun 2020
(GSMA Intelligence, 2017).
Di era globalisasi ini, penggunaan telepon seluler oleh manusia semakin
intens. Bahkan tidak jarang orang yang menggunakan telepon seluler lebih
dari 12 jam per hari. Semakin sering seseorang menggunakan telepon
seluler maka secara langsung seseorang tersebut akan terpapar oleh radiasi
yang dihasilkan oleh telepon seluler tersebut. Telepon seluler sendiri
merupakan gelombang radiofrekuensi berkekuatan rendah yang beroperasi
pada frekuensi antara 450–2700 MHz dengan puncak kekuatan antara 0,1–
Electromagnetic fields (EMFs) yang tidak dapat memecah ikatan kimia atau
menyebabkan ionisasi di dalam tubuh (WHO, 2014).
Gelombang radiofrekuensi (RF) yang berupa telepon seluler ini merupakan
pisau bermata dua. Di satu sisi benda ini dapat memberikan manfaat sebagai
alat komunikasi namun di sisi lain benda ini juga menimbulkan efek negatif
bagi tubuh. Intensitas penggunaan telepon seluler yang semakin tinggi
membuat para pengguna harus lebih mencermati efek sampingnya terhadap
kesehatan. Radiasi yang dipancarkan oleh gelombang elektromagnetik
telepon seluler dikhawatirkan dapat menimbulkan efek yang negatif
terhadap tubuh (Victorya, 2015).
Kekhawatiran mengenai efek sampingnya terhadap tubuh semakin
meningkat setelah muncul beberapa penelitian mengenai dampak paparan
gelombang elektromagnetik terhadap kesehatan, baik penelitian
epidemiologi maupun penelitian eksperimental laboratorium. Beberapa
penelitian telah mengemukakan bahwa paparan gelombang
eklektromagnetik dapat mempengaruhi kerusakan berbagai jaringan tubuh.
Pemaparan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh telepon
seluler menyebabkan kerusakan jaringan hepar, ginjal dan spleen (Al-Glaib,
et al., 2008). Penelitian lain membuktikan bahwa paparan 1 GHz medan
elektromagnetik pada tikus selama 21 hari menunjukkan adanya perubahan
histopatologi hati, ginjal dan testis, bahkan perubahan ini bersifat ireversibel
pemaparan pertama (Ghonimi dan Elbaz, 2015). Rahmanisa dan Sudrajat
juga melakukan penelitian berupa paparan gelombang elektromagnetik
telepon seluler selama 2 jam dengan mode panggilan dalam waktu 35 hari
dan hasilnya adalah terdapat pengaruh paparan gelombang elektromagnetik
telepon seluler terhadap gambaran histologi hepar tikus (Rahmanisa dan
Sudrajat, 2017)
Paparan radiasi gelombang elektromagnetik oleh telepon seluler
menyebabkan stres oksidatif karena terjadinya perubahan keseimbangan
kadar radikal bebas. Stres oksidatif dapat menimbulkan kerusakan sel
beserta komponen di dalamnya sehingga akan menyebabkan degenerasi atau
hingga pada kematian sel, salah satunya adalah sel hepar (Putri, 2015).
Adanya kemungkinan efek radiasi eletromagnetik dari telepon seluler
mendorong peneliti untuk menemukan usaha pencegahan terhadap efek
samping tersebut. Antioksidan endogen di dalam tubuh saja tidak cukup
kuat untuk menangkal terjadinya stres oksidatif yang disebabkan oleh
pemaparan radiasi gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh telepon
seluler. Oleh karena itu, diperlukan alat yang dapat memberikan efek
protektif terhadap tubuh agar terlindung dari radiasi elektromagnetik telepon
seluler. Saat ini telah dikembangkan teknologi yang dapat menangkal
radiasi elektromagnetik yaitu alpha spin. Terciptanya alat tersebut,
membuat peneliti hendak membuktikan efektifitas dari alpha spin sebagai
dilakukan menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague
dawley.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apakah terdapat pengaruh paparan radiasi gelombang elektromagnetik
yang dihasilkan oleh telepon seluler terhadap histopatologi hepar tikus
putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley?
2. Apakah terdapat efek protektif dari antiradiasi alpha spin terhadap
histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague
dawley yang diberi paparan radiasi gelombang elektromagnetik telepon
seluler?
1.3 Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pengaruh paparan radiasi gelombang elektromagnetik yang
dihasilkan oleh telepon seluler terhadap histopatologi hepar tikus putih
(Rattus norvegicus) galur Sprague dawley.
2. Menganalisis efektifitas antiradiasi Alpha spin terhadap histopatologi
hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang diberi
1.4 Manfaat penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagi ilmu pengetahuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah
mengenai efektifitas alpha spin sebagai antiradiasi terhadap kerusakan
hepar yang disebabkan oleh paparan radiasi gelombang elektromagnetik
telepon seluler.
2. Bagi masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai efek
samping penggunaan telepon seluler terhadap kerusakan hepar.
Selanjutnya, hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran kepada
masyarakat mengenai efektifitas alpha spin sebagai antiradiasi.
3. Bagi peneliti
Penelitian ini sebagai wujud pengaplikasian disiplin ilmu yang telah
dipelajari sehingga dapat mengembangkan wawasan pengetahuan
peneliti.
4. Bagi peneliti lain
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk dilakukan
2.1 Gelombang elektromagnetik
Saat ini, ternyata di sekitar kita terdapat banyak radiasi. Radiasi ini berasal
dari benda-benda yang sering digunakan oleh manusia seperti telepon
seluler, radio, base station, oven microwave, dan lain sebagainya.
Pengertian radiasi itu sendiri adalah energi yang bergerak dalam bentuk
gelombang atau partikel berkecepatan tinggi (Kumar, et al., 2015). Ada dua
jenis radiasi, yaitu partikel alpha dan beta yang berasal dari partikel
radioaktif dan gelombang elektromagnetik (Swamardika, 2009).
Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang terbentuk dari
perubahan medan magnet dan medan listrik yang bergerak. Gelombang
elektromagnetik memiliki frekuensi yang berbeda-beda pada setiap
spektrumnya. Berdasarkan frekuensinya, gelombang elektromagnetik dibagi
menjai 4 tingkatan yaitu sebagai berikut (Tarigan, et al., 2013) :
1. Static Electromagnetic Frequency (0 Hz). Sumbernya antara lain
elektromagnetik alami, MRI, dan elektrolisis industrial.
listrik, namun juga dihasilkan oleh alat elektronik itu sendiri saat
digunakan.
3. Intermediete frequency ( 300 Hz – 100 kHz ). Sumbernya antara lain
detector metal dan hands free.
4. Radio frequency ( 100 kHz – 300 GHz ). Sumbernya antara lain gelombang televisi, radio, ponsel dan micowave oven.
Berdasarkan besar energi yang dihasilkan, radiasi gelombang
elektromagnetik dibedakan menjadi radiasi pengion dan non-pengion.
Radiasi pengion adalah radiasi dengan frekuensi sangat tinggi yang
memiliki energi untuk memecahkan elektron yang saling berikatan sehingga
akan menghasilkan elektron bebas yang saling berbenturan dan melepaskan
elektron tambahan (Kumar, et al., 2015). Contoh dari radiasi pengion adalah
sinar X dan sinar gama yang banyak digunakan di bidang kesehatan. Radiasi
non-pengion adalah radiasi dengan frekuensi rendah yang tidak memiliki
cukup energi untuk memecahkan elektron yang saling berikatan. Contoh
dari radiasi non-pengion adalah sinar ultraviolet, cahaya infra merah,
gelombang mikro dan gelombang radio. Aplikasi dari gelombang
elektromagnetik beserta frekuensi dan panjang gelombangnya dapat dilihat
Gambar 1. Spektrum elektromagnetik (Tarigan, et al., 2013)
Radiasi elektromagnetik dapat diserap oleh tubuh manusia, kemudian
radiasi tersebut akan mentransfer energinya ke dalam jarigan atau sel untuk
mempengaruhi materi biologisnya. Besarnya radiasi yang diserap oleh tubuh
dinyatakan menggunakan SAR (Specific Absorbtion Rate). Batas SAR yang
aman untuk bagian kepala adalah 2 W/kg (Europe Commission, 2007)
Radiasi merupakan salah satu bentuk agen fisis yang dapat menyebabkan
kerusakan atau jejas sel. Absorbsi energi radiasi dapat meningkatkan
pembentukan radikal bebas (Kumar, et al., 2015). Radiasi pengion yang
terserap ke dalam tubuh mampu memecah atau mengionisasi beberapa
molekul di dalam tubuh, seperti air, membran lipid dan protein serta struktur
makromolekul yang sangat penting bagi tubuh yaitu DNA (Deoxyribo
mentransfer energinya tidak melalui pembentukan radikal bebas, akan tetapi
melalui perantara konversi suhu. Namun belakangan ini, muncul beberapa
bukti dari hasil penelitian bahwa radiasi non-pengion mampu menyebabkan
kerusakan sel atau jaringan tanpa perantara suhu. Radaisi non pengion non
termal dapat mengganggu kelistrikan membran ganda pada permukaan sel
serta memodifikasi komponen dari membran sel tersebut (Somosy, 2000).
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa radiasi elektromagnetik
merupakan salah satu agen fisis yang dapat menyebabkan jejas pada sel.
Tubuh memiliki beberapa mekanisme untuk melawan jejas ini, salah
satunya dengan antioksidan baik endogen maupun eksogen sehingga jejas
yang dihasilkan bersifat reversibel. Namun ketika antioksidan atau
mekanisme tubuh tidak cukup kuat untuk melawan jejas pada sel maka akan
terjadi kerusakan yang ireversibel sehingga berakhir dengan nekrosis atau
kematian sel. Beberapa mekanisme kerusakan sel yang dipengaruhi oleh
radiasi elektromagnetik adalah sebagai berikut (Kumar, et al., 2015):
a. Kerusakan dan disfungsi mitokondria
Mitokondria merupakan komponen sel yang berfungsi sebagai tempat
metabolisme atau pembentukan energi sehingga disebut sebagai pabrik
mini energi. Organ yang banyak mengandung mitokondria salah
satunya adalah hati, oleh karena itu hati disebut sebagai pabrik utama
proses biokimiawi. Mitokondria rentan terhadap jejas yang
membahayakan termasuk hipoksia, toksin dan radiasi. Kerusakan
fosforilasi oksidatif mengakibatkan deplesi ATP, fosforilasi oksidatif
yang tidak normal akan menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS).
Kerusakan mitokondria menyebabkan pembentukan jalur konduksi
tinggi pada membran mitokondria sehingga mengakibatkan hilangnya
potensial membran pada mitokondria. Pada saat terjadi kerusakan pada
mitokondria, mitokondria akan melepaskan protein ke dalam sitoplasma
sebagai penanda terjadinya jejas internal, hal ini akan mengaktifkan
jalur apoptosis.
b. Akumulasi Radikal Bebas Asal-Oksigen (Stres Oksidatif)
Radikal bebas merupakan spesies kimiawi yang mengandung elektron
yang tidak berpasangan. Elektron yang tidak berpasangan ini akan
mencari pasangan elektron yang ada di dalam tubuh kemudian
mengubah molekul lain menjadi radikal bebas sehingga terjadi suatu
rangkaian kerusakan. ROS merupakan radikal bebas yang berasal dari
oksigen yang akan menginduksi terjadinya jejas pada sel. ROS
dihasilkan dalam jumlah kecil pada saat terjadi respirasi pada
mitokondria. Hasil sementara dari respirasi ini adalah superoksida yang
akan diubah menjadi hidrogen peroksida, bentuk yang lebih stabil
daripada superoksida. Apabila bertemu dengan logam Fe2+ maka
hidrogen peroksida akan diubah menjadi hidroksil yang lebih reaktif
melalui reaksi fenton.
Reactive Oxygen Species (ROS) juga dihasilkan oleh leukosit fagositik
mikroba. Sehingga pada saat terjadi peradangan, ROS yang dihasilkan
oleh tubuh menjadi lebih banyak dari biasanya. Mekanisme
pembentukan ROS oleh sel fagositik mirip dengan mekanisme pada
mitokondria yaitu dengan menghasilkan superoksida.
c. Defek pada Permeabilitas Membran
Plasma membran dapat mengalami kerusakan karena iskemia, toksin
mikroba, komponen-komponen litik, dan berbagai agen fisis dan
kimiawi salah satunya adalah radiasi. Mekanisme kerusakan membran
oleh radiasi diperantarai oleh pembentukan ROS. Reactive Oxygen
Species juga menyebabkan jejas pada membran melalui peroksidase
lipid, sehingga fosfolipid pada membran sel menjadi berkurang dan
akibatnya terjadi peningkatan permeabilitas membra sel.
d. Kerusakan DNA dan Protein
Dalam keadaan normal, sel memiliki kemampuan untuk memperbaiki
kerusakan DNA. Apabila kerusakan DNA tidak dapat ditoleransi oleh
tubuh, misalnya ketika terjadi jejas akibat radiasi, maka sel akan
memulai proses apoptosis, yaitu suatu jalur kematian sel dengan
mengaktifkan enzim yang merusak DNA inti sel itu sendiri dan protein
pada inti dan sitoplasma.
2.2 Telepon seluler
Telepon seluler atau biasa disingkat dengan ponsel merupakan gelombang
radio atau radiofrekuensi (RF) yang memiliki frekuensi paling rendah atau
yang lainnya. Gelombang radio terdiri dari antena pemancar dan antena
penerima, sinyal informasi yang diterima dapat berupa data atau suara. Saat
telepon seluler digunakan untuk melakukan panggilan, proses yang terjadi
ialah suara akan ditulis dalam bentuk kode tertentu ke dalam gelombang
radio. Selanjutnya, kode tersebut akan diteruskan melalui antena ponsel
menuju ke base station terdekat (Swamardika, 2009).
Setiap telepon seluler memiliki frekuensi yang berbeda-beda tergantung dari
jenis dan merknya. Telepon analog memiliki frekuensi antara 800 hingga
900 MHz, sedangkan telepon digital memiliki frekuensi antara 1800 hingga
1990 MHz (Ozguner, et al., 2004). Frekuensi yang dihasilkan telepon
seluler juga berbeda-beda berdasarkan koneksi yang dipakai. Koneksi
dengan wifi memiliki frekuensi 2,4 s.d 5,9 GHz, koneksi bluetooth memiliki
frekuensi sebesar 2,4 GHz, dan koneksi seluler memiliki frekuensi mulai
dari 700 MHz hingga 2,7GHz (Usman, et al., 2017).
Ketika terpapar oleh radiasi elektromagnetik telepon seluler, tubuh manusia
akan menyerap energi yang dihasilkan oleh radiasi tersebut. Besarnya energi
yang diserap oleh tubuh dapat diukur menggunakan SAR (Specific
Absorbtion Rate) yang dinyatakan dalam satuan watt per kilogram berat
badan. Rata-rata telepon seluler memiliki nilai SAR kurang dari 1,6 watt per
Secara garis besar, energi total yang diserap dan didistribusikan di dalam
tubuh manusia tergantung dari beberapa hal, antara lain :
1. Frekuensi dan panjang gelombang medan elektromagnetik.
2. Polarisasi medan elektromagnetik.
3. Konfigurasi antara badan dan sumber radiasi elektromagnetik.
4. Keadaan paparan radiasi, seperti adanya beda lain di sekitar sumber
radiasi.
5. Sifat elektrik (listrik) tubuh. Penyerapan radiasi dipengaruhi oleh kadar
air. Semakin besar kadar air maka semakin besar penyerapan radiasi
elektromagnetik oleh tubuh (Tarigan, et al., 2013).
Efek yang ditimbulkan oleh radiasi elektromagnetik yang berasal dari
telepon seluler dibedakan menjadi 2, yaitu :
1. Efek fisiologis
Efek fisiologis merupakan efek dari radiasi gelombang elektromagnetik
yang dapat menimbulkan gannguan atau disfungsi organ tubuh
manusia.
2. Efek psikologis
Efek psikologis adalah efek radiasi gelombang elektromagnetik
terhadap kejiwaan, misalnya timbulnya stres akibat paparan berulang
gelombang elektromagnetik.
Telepon seluler termasuk gelombang elektromagnetik radiofrekuensi
relatif sering menjadikan telepon seluler lebih berbahaya daripada
gelombang elektromagnetik yang memiliki frekuensi tinggi seperti pada
radiasi ion. Radiasi medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh telepon
seluler dapat mempengaruhi struktur dan fungsi organ tubuh manusia
melalui tiga mekanisme antara lain pengaruh spesifik dari gelombang
elektromagnetik, pengaruh suhu dan kombinasi dari kedua pengaruh
tersebut. Studi pada hewan percobaan menunjukkan adanya kerusakan
organ akibat paparan medan elektromagnetik yang berasal dari telepon
seluler. Pada percobaan yang dilakukan dengan menggunakan tikus wistar
albino, terjadi inflamasi pada sel hepar dan pankreas setelah terpapar radiasi
telepon seluler jangka panjang (Meo, et al., 2010). Pada penelitian tersebut
juga dikemukakan bahwa peningkatan inflamasi pada hati berbanding lurus
dengan durasi paparan medan elektromagnetik yang berasal dari telepon
seluler. Selain hepar dan pakreas, radiasi medan elektromagnetik juga
dilaporkan menyebabkan infertilitas, kerusakan sel otak, jaringan bola mata
dan sel kulit. Paparan radiasi radiofrekuensi pada suhu˃41oC menyebabkan katarak pada lensa mata kelinci (Elder, 2003).
2.3 Tinjauan Hewan Percobaan
Hewan laboratorium atau hewan percobaan adalah hewan yang sengaja
dipelihara atau diternakkan untuk dipakai sebagai hewan model guna
mempelajari dan mengembangkan berbagai macam bidang ilmu dalam skala
penelitian atau pengamatan laboratoris. Hewan percobaan yang sering
putih yang memiliki kekhususan untuk digunakan sebagai hewan percobaan
antara lain Wistar, Long evans dan Sprague dawley (Malole dan Pramono,
1989).
2.3.1 Klasifikasi
Tikus putih (Rattus novergicus) merupakan salah satu hewan yang umum
digunakan sebagai hewan percobaan untuk eksperimental laboratorium
(gambar 2) . Tikus merupakan hewan nokturnal dimana aktivitasnya lebih
intens pada malam hari atau menjelang pagi. Tikus lebih nyaman ketika
berada di tempat yang kecil, gelap, dan ruang yang terbatas (Sharp dan
LaRegina, 1998). Sebagai hewan yang sering digunakan dalam penelitian,
tikus putih (Rattus novergicus) memiliki beberapa sifat yang
menguntungkan antara lain perkembangbiakannya yang cepat, mempunyai
ukurang yang lebih besar daripada mencit dan mudah dipelihara dalam
jumlah yang banyak. Ciri-ciri morfologi tikus putih (Rattus novergicus)
adalah kepala kecil dan berekor panjang. Parameter biologi tikus dapat
[image:31.595.201.448.587.713.2]dilihat pada tabel 1.
Klasifikasi Rattus norvegicus yang diambil dari data The Integrated
Taxonomic Information System adalah sebagai berikut (Harlan, 2015) :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Rodentia
Subordo : Myomorpha
Famili : Muridae
Genus : Rattus
[image:32.595.148.491.429.647.2]Spesies : Rattus novergicus
Tabel 1. Kriteria Rattus norvegicus
No Kriteria Keterangan
1. Lama hidup 2,5-3,5 tahun
2. Glandula mamae 6 pr
3. Berat BadanJantan 450-520 gram
4. Berat Badan Betina 250-300 gram
4. Temperatur tubuh 35,8–37,5oC
5. Konsumsi O2 0,84 ml/m2
/grBB-6. Permukaan Tubuh 10,5 cm2
7. Konsumsi makan 5-6gr/100g BB/hari
8. Konsumsi air minum 10-12 ml/100g BB/hari
9. GI transit time 12-24 jam
10. Volume urin 5,5 ml/100 grBB/hari
11. Urine specific gravity 1,04-1,07
12. PH urin 7,3–8,5
13. Total body water 167 ml
14. Cairan intraseluler 92,8 ml
15. Cairan ekstraseluler 74, 2
16. Volume plasma 7,8
(Sharp dan LaRegina, 1998)
2.3.2 Jenis
Ada beberapa galur tikus, antara lain Wistar, Sprague dawley,
sering digunakan untuk penelitian yaitu Wistar dan Sprague dawley. Pada
penelitian ini digunakan galur Sprague dawley.
2.3.3 Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus)
Hepar tikus putih Rattus norvegicus galur Sprague dawley memiliki berat
10 gram pada tikus dengan total berat badan 250 gram. Volumenya adalah
19,6 mL dan terdiri dari empat lobus yaitu median, lateral kiri, lateral
kanan dan kaudal. Tikus tidak memiliki kantung empedu (Sharp dan
LaRegina, 1998).
2.4 Hepar
2.4.1 Anatomi hepar 1. Proyeksi hepar
Hepar merupakan organ visera abdomen yang terletak intraperitonea
pada regio epigastrium kanan. Batas hepar paling kiri adalah linea
midklavikularis sinistra seperti tampak pada gambar 3. Posisi hepar
berubah-ubah sesuai respirasi, yaitu lebih rendah saat inspirasi dan
lebih tinggi pada saat ekspirasi. Posisi hepar juga dipengaruhi oleh
posisi paru, pada saat terjadi perbesaran paru misalnya pada emfisema
paru, hepar dapat teraba. Tepi inferior hepar terletak sejajar arkus
kostalis inferior kanan sehingga pada keadaan normal hepar tidak
teraba. Hepar membentuk kesatuan dengan vesika biliaris atau
Gambar 3. Proyeksi hepar. (a) anterior. (b) posterior. (Paulsen, et al., 2012)
2. Bagian-bagian hepar
Hepar merupakan kelenjar paling besar dan berfungsi sebagai organ
metabolik utama pada tubuh. Berat hepar manusia antara 1200 –1800 gr. Hepar memiliki dua facies, facies diafragmatika yang menempel
pada sebagian diafragma dan facies visceralis dengan tepi bawah
anterior mengarah ke organ-organ dalam abdomen. Hepar dibagi
menjadi dua lobus, lobus kanan yang lebih besar dan lobus kiri yang
berukuran lebih kecil. Kedua lobus hepar dipisahkan oleh ligamentum
falciforme di sebelah ventral seperti tampak pada gambar 4(a). Pada
sisi inferior lobus hepatis dekstra, terdapat dua lobus yaitu lobus
quadratus di ventral dan lobus caudatus di dorsal seperti tampak pada
gambar 4(b).
(a)
[image:35.595.141.514.79.568.2](b)
Gambar 4. Bagian-bagian hepar. (a) ventral. (b) dorsal. (Paulsen, et al., 2012)
Tiga vena hepar (Vv. Hapaticae) membagi hepar menjadi empat
segmen yang berdekatan. Segen lateral berhubungan dengan lobus
hepatis sinister dan dibatasi oleh ligamentum falciforme yang
berdekatan dengan V. hepatika sinister. Segmen medial terletak
dan segmen posterior dipisahkan oleh V. hepatika dekster, yang tidak
terlihat pada permukaan hepar.
3. Vaskularisasi hepar
Hepar diperdarahi oleh A. Hepatika propria yang berasal dari A.
Hepatika komunis, suatu cabang arterial langsung dari tunika koliaka.
Setelah bercabang menjadi A. Gastrika dektra, A. Hepatika propria
berjalan dalam ligamentum hepatoduodenal bersama dengan vena
porta heparika dan duktus koledokus ke hilum hepatis. Selanjutnya
arteri tersebut terbagi menjadi R. Dektra dan R. Sinistra memasuki
masing-masing lobus hepar. R. Dekstra bercabang lagi menjadi A.
Sistika untuk memperdarahi vesika biliaris.
Hepar memiliki sistem vena masuk dan keluar. Sistem V. porta
heparis mengumpulkan darah kaya nutrisi dari organ-organ abdomen
yang tidak berpasangan (gaster, usus, pankreas, limfa/splen) dan
mengalirkannya bersama dengan darah arterial dari A. Hepatika
komunis, ke dalam sinusoid lobulus hepatikus. Sistem vena yang
keluar adalah sistem vena yang membawa darah keluar dari hepar,
yaitu tiga vena hepatika.
2.4.2 Fisiologi hepar
Hati merupakan organ metabolik terbesar tubuh, sebagian besar proses
biokimiasi tubuh terjadi di hati. Oleh sebab itu hati disebut sebagai pabrik
saluran cerna dengan organ-organ lain pada tubuh, sebab hati merupakan
organ yang memelihara homeostasis metabolisme. Nutrisi utama berupa
karbohidrat, protein dan lemak yang di serap oleh saluran cerna akan
dibawa ke hati untuk di metabolisme. Hati memiliki kemampuan untuk
menguraikan dan mendetoksifikasi zat sisa tubuh, hormon, obat dan
senyawa asing lain. Tidak mengherankan jika sel hati sangat rentan
terhadadap jejas atau kerusakan sel (Kumar, et al., 2015)
Fungsi lain dari organ hati yaitu membentuk protein plasma, termasuk
protein yang digunakan untuk pembekuan darah dan protein untuk
mengangkut hormon tiroid dan steroid serta kolesterol dalam darah. Hati
juga berperan sebagai tempat penyimpanan glikogen, lemak, besi,
tembaga, dan vitamin. Bersama dengan ginjal, hati akan mengaktifkan
vitamin D. Adanya sel kupfer dalam hati menyebabkan organ ini memiliki
kemampuan untuk memfagosit bakteri dan sel darah merah tua. Sel
hepatosit tidak mampu melakukan fungsi fagositosis tersebut, hanya sel
kupfer hati yang bisa melakukan fungsi tersebut. Pada saat sel darah merah
tua mengalami destruksi, akan dihasilkan produk penguraian berupa
bilirubin. Oleh hati, bilirubun akan diekskresikan ke kantung empedu.
Dilihat dari fungsinya yang begitu besar dalam proses biokimiawi tubuh
membuat hati rentan mengalami jejas atau kerusakan. Akan tetapi, hati
merupakan organ yang memiliki cadangan fungsional yang besar karena
kemampuan regenerasinya yang sangat bagus. Seseorang yang mengalami
penyembuhan sempurna apabila seseorang tersebut dapat menghindari
gangguan metabolit berat saat terjadinya kegagalan fungsi hati tersebut
(Kumar, et al., 2015).
2.4.3 Histologi hepar
Unit fungsional terkecil organ hepar terdiri dari empat sel yaitu hepatosit,
sel kupfer, sel endotel atau pembatas dan sel ito atau sel penyimpanan.
Masing-masing sel memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan
karakteristiknya. Hepatosit melakukan fungsi eksokrin, yaitu
menghasilkan cairan empedu kemudian mengalirkannya ke duktus biliaris
(Gartner dan James, 2012). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar
4. Setiap hepatosit dibatas oleh sinusoid, yaitu saluran berliku-liku yang
dilapisi oleh lapisan sel yang tidak utuh dengan sel endotel berfenestra
seperti tampak pada gambar (Eroschenko, 2010). Hepatosit satu dangan
hepatosit yang lain dipisahkan oleh kanalikuli biliaris (Gartner dan James,
2012).
Sekitar 70% - 80% darah dalam organ hati tertampung di dalam vena porta
dan sisanya (20 % - 30%) di suplai oleh arteri hepatika. Nutrisi yang
diserap oleh usus akan dibawa ke hati melalui vena porta kecuali lipid
kompleks atau kilomikron. Hati mengeluarkan zat toksik ke dalam empedu
melalui duktus biliaris. Ketiga komponen tersebut yaitu arteri hepatika,
vena porta dan duktus biliaris membentuk trias porta seperti terlihat pada
(a)
(b)
(a)
(c)
(b)
(c)
Gambar 5. Histologi hepar. (a) Gambar Skematis Histologi dan Anatomi Hepar (Gartner dan James, 2012); (b)Hati Babi Perbesaran 40x; (c) Vena porta Perbesaran
Hepatosit tidak bersentuhan dengan aliran darah karena adanya sinusoid
yang dibatasi oleh sel-sel endotel dan sel makrofag atau sel kupfer seperti
tampak pada gambar 6(a). Sel kupfer berfungsi untuk memfagosit
benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh melalui aliran darah. Antara
hepatosit dan endotel sinusoid terdapat celah disse yang berisi mikrovili,
sel penyimpanan lemak (ito) dan serat retikuler seperti tampak pada
gambar 6(b) (Gartner dan James, 2012).
(a)
(b)
[image:40.595.148.508.306.712.2]Hepatosit membentuk lempengan yang tersusun radial mengelilingi vena
sentral dan membentuk susunan yang menyerupai spon. Celah diantara
lempengan ini disebut sinusoid hati. Pada hati juga terdapat celah dengan
ukuran yang lebih kecil daripada sinusoid, yaitu celah parasinusoid atau
[image:41.595.111.521.250.470.2]celah Disse seperti pada gambar 7 (Khasanah, 2017).
Gambar 7. Hati Perbesaran 1000x. H&E. (Khasanah, 2017)
2.4.4 Patologi Hepar
Hepar merupakan jembatan penghubung antara saluran pencernaan dan
organ-organ lain pada tubuh karena hepar memelihara homeostasis
metabolisme. Nutrisi yang diserap oleh saluran pencernaan akan diubah
menjadi asam amino, karbohidrat, lemak dan vitamin di dalam hepar.
Hepar juga berperan sebagai tempat detoksifikasi serta sekresi sampah
metabolit dan xenobiotik ke dalam empedu. Tidak mengherankan bahwa
sampah metabolit, zat toksik, mikroba, zat kimia, radiasi, dan lain
sebagainya (Kumar et al., 2015).
Jejas pada sel dapat terjadi karena trauma fisik ataupun defek gen yang
menyebabkan suatu enzim tertentu menjadi tidak berfungsi. Jejas pada sel
akan terjadi apabila sel mengalami stres yang berat sehingga sel tersebut
tidak mampu lagi beradaptasi atau apabila sel terpapar pada agen yang
merusak atau mengalami abnormalitas intrinsik. Jejas akan berkembang
dari stadium reversibel hingga menjadi kematian sel. Jejas reversibel dapat
berupa degenerasi dan kematian sel dapat berupa nekrosis atau apoptosis.
Di dalam sel hepar sendiri terdapat beberapa istilah kelainan yaitu
inflamasi, degenerasi, dan nekrosis. Inflamasi atau radang merupakan
bentuk reaksi jaringan hidup terhadap semua jenis jejas yang berupa
reaksi vaskuler dan hasilnya adalah pengiriman cairan, zat-zat yang
terlarut, dan sel-sel dari sirkulasi darah ke dalam ruang-ruang
ekstraseluler. Secara mikroskopis, inflamasi pada sel hepar terlihat
bentukan sel radang yang bergerombol dan berwarna ungu pada
pemulasan hematoksilin dan eosin. Tidak tampak adanya sitoplasma serta
ukuran sel nya menjadi tidak pasti. Degenerasi sel atau kemunduran sel
merupakan kelainan sel yang terjadi akibat cedera ringan sehingga
mengakibatkan kerusakan komponen sel seperti mitokondria dan
sitoplasma. Degenerasi dapat berupa degenerasi parenkimatosa (bengkak
bersifat reversibel secara morfolofis meliputi perubahan membran plasma
seperti lepasnya unsur intrasel, pembengkakan mitokondria dan adanya
benda amorf yang berupa fosfolipid, dilatasi retikulum endoplasma,
lepasnya ribosom, dan perubahan inti. Perubahan inti yang terjadi dapat
berupa penggumpalan kromatin. Nekrosis diartikan sebagai jenis kematian
sel yang dihubungkan dengan hilngnya integritas membran dan bocornya
isis sel sehingga terjadi kerusakan sel. Nekrosis secara morfologis ditandai
dengan adanya perubahan pada sitoplasma dan inti sel yang mengalami
jejas. Sitoplasma sel yang mengalami nekrosis akan menunjukkan
peningkatan warna pada pemulasan menggunakan hematoksilin dan eosin.
Nukleus pada sel yang mengalami nekrosis akan menunjukkan tiga pola
kerusakan yaitu kariolisis, piknosis, dan karioreksis. Kariolisis ditandai
dengan warna basofil dari kromanit yang memudar, piknosis ditandai
dengan inti yang mengeci serta kromatin yang memadat, dan karioreksis
adalah inti piknosis yang mengalami fragmentasi (Kumar et al., 2015).
2.5 Antiradiasi alpha spin 2.5.1 Teori spin glass
Spin glass adalah salah satu sistem magnetik dimana ikatan-ikatan
magnetik di dalamnya merupakan campuran dari ikatan ferromagnetic dan
ikatan anti ferromagnetic. Ikatan ferromagnetik memiliki orientasi yang
searah sedangkan ikatan anti ferromagnetic memiliki orientasi yang
tersebut menyebabkan lebih dari satu susunan atom geometrik menjadi
stabil.
Spin glass menghasilkan frekuensi putaran khusus yang bergerak searah
dan berlawanan arah jarum jam, sehingga ketika bertemu pada satu
frekuensi yang sama akan menghasilkan vortex. Vortex yaitu sebuah
pusaran berlawanan arah jarum jam yang terus berputar sehingga
atom-atom yang melewati vortex tersebut menjadi stabil. Bentuk vortex yang
[image:44.595.257.422.359.552.2]dihasilkan oleh spin glass terlihat pada gambar 8 (Mezard et.al, 1987)
Gambar 8. Vortex (Anonim, 2019)
2.5.2 Alpha spin
Alpha spin merupakan salah satu antiradiasi yang mengadopsi teori spin
glass. Alpha spin merupakan technical engineered funnel glass yang
diproduksi di jerman dan terbuat dari silika yang mengalami proses
peleburan dengan temperatur tinggi. Diameter alpha spin yaitu 100 mm
mendapat persetujuan dari German Food Grade Safe and German
Non-Radioactive. Alpha spin bukan merupakan peralatan kesehatan yang
digunakan untuk menegakkan diagnosis, alat terapi ataupun pencegahan
penyakit. Alpha spin adalah alat yang memiliki medan energi positif
[image:45.595.206.472.249.373.2]dalam keseimbangan dan harmonisasi energi dalam tubuh (Anonim, 2019).
Gambar 9. Alpha spin (Anonim, 2019)
Alpha spin dapat memproduksi resonansi yang kuat dan mampu
mentransfer perputaran energi sehingga menghasilkan medan energi
kuantum. Alat ini di desain untuk memberikan efek vortex atau pusaran
yang terbentuk ketika perputaran frekuensi berpindah berlawanan arah
jarum jam dan searah jarum jam. Alpha spin disinyalir dapat
menyelaraskan gelombang elektromagnetik dan menstimulasi vitalitas
energi. Resonansi dan getaran yang dihasilkan oleh alpha spin ini dapat
ditransfer melaui air, udara dan cahaya. Resonansi alami yang dihasilhan
oleh alpha spin sama dengan resonansi di desa BAMA di Cina yang
terkenal dengan sebutan “world longevity village” karena banyaknya jumlah penduduk yang usianya lebih dari 100 tahun atau centenarian
2.6 Kerangka teori
Salah satu penyebab jejas atau kerusakan sel adalah adanya paparan agen
fisis, agen fisis dapat berupa radiasi elektromagnetik. Radiasi
elektromagnetik dapat dibedakan menjadi radiasi ion dan non ion. Radiasi
non ion, seperti telepon seluler, dapat menyebabkan jejas pada sel baik
secara termal maupun non termal. Kedua mekanisme tersebut akan
meningkatkan ROS yang pada akhirnya akan menyebabkan nekrosis apabila
jejas bersifat ireversibel. Mitokondria rentan terhadap jejas, salah satunya
karena agen fisis berupa radiasi. Sel hepar banyak mengandung mitokondria
sehingga rentan terjadi jejas hepatosit.
Alpha spin merupakan alat yang dibuat untuk menangkal radiasi
elektromagnetik yang dihasilkan oleh berbagai peralatan canggih seperti
telepon seluler. Alpha spin bekerja dengan menyelaraskan energi sehingga
menimbulkan kestabilan energi yang dapat mencegah pancaran radiasi yang
dihasilkan oleh gelombang elektromagnetik telepon seluler. Mekanismenya
Gambar 10. Kerangka teori (Kumar, et al., 2015; Somosy, 2000) Kelistrikan membran ganda terganggu Modifikasi komponen intrasel Defek permeabilitas membran Modifikasi komponen intrasel
Akumulasi ROS (Reactive oxygen Species) karena
adanya medan magnet Radiasi non pengion dari gelombang
elektromagnetik telepon seluler
Kerusakan DNA dan protein
Kegagalan fosforilasi oksidatif dan deplesi ATP
Jejas pada sel
Apha spin
Sel radang
Degenerasi dan nekrosis
2.7 Kerangka konsep
Gambar 11. Kerangka konsep
2.8 Hipotesis
1. Terdapat pengaruh paparan gelombang elektromagnetik telepon seluler
terhadap gambaran histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus)
galur Sprague dawley.
2. Terdapat efek protektif dari antiradiasi alpha spin terhadap histopatologi
hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang diberi
paparan radiasi gelombang elektromagnetik telepon seluler Paparan radiasi
elektromagnetik telepon seluler
Perubahan histopatologi hepar
Variabel bebas Variabel terikat
METODE PENELITIAN
3.1 Desain penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik untuk
mempelajari hubungan sebab-akibat dengan cara memberikan intervensi
pada subjek penelitian kemudian melihat dan mempelajari efek dari
perlakuan tersebut. Penelitian ini menggunakan pola Post Test Only Control
Group Design.
3.2 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di animal house untuk pemeliharaan hewan
percobaan dan di Laboratorium Patologi Anatomi dan Histologi Fakultas
Kedokteran Universitas Lampung untuk mengetahui gambaran histopatologi
hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang telah
diberi paparan radiasi elektromagnetik telepon seluler selama 24 jam serta 2
jam panggilan dan paparan radiasi elektromagnetik telepon seluler selama
24 jam serta 2 jam panggilan bersamaan dengan paparan alpha spin. .
Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah 35 hari yaitu pada bulan September
3.3 Identifikasi Variabel Penelitian 3.3.1 Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah paparan radiasi gelombang
elektromagnetik telepon seluler dan Alpha spin
3.3.2 Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perubahan gambaran
3.4 Definisi Operasional
Tabel 2. Definisi operasional
3.5 Populasi dan Sempel
Populasi pada penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus) galur
Sprague dawley jantan berumur 8-10 minggu dengan berat antara 120-160
gram yang diperoleh dari laboratorium Balai Penelitian Veteriner
(BALITVET) Institut Pertanian Bogor (IPB). Sampel penelitian yang
digunakan sebanyak 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague No Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1. Alpha spin Paparan Alpha spin yang
diletakkan di bawah telepon seluler, bersamaan dengan paparan telepon seluler merk blackberry bold 9780 (nilai SAR= 1,15 W/kg yang diaktifkan dan dilakukan panggilan nomor selama 2 jam per hari dalam waktu 35 hari.
Telepon Selulerl
1 = terdapat paparan telepon seluler 2 = tidak terdapat
paparan telepon seluler Nominal 2. Radiasi gelombang elektromag netik telepon seluler Paparan radiasi gelombang elektromagnetik telepon seluler merk blackberry bold 9780 (nilai SAR= 1,15 W/kg yang diaktifkan dan dilakukan panggilan nomor selama 2 jam per hari dalam waktu 35
hari.(Rahmanisa dan Sudrajat, 2017)
Alpha spin 1 = terdapat paparan alpha spin 3 = tidak terdapat
paparan alpha spin
Nominal
3. Gambaran histopatolo gi hepar tikus putih (Rattus norvegicus ) galur Sprague dawley
Menilai kerusakan hepatosit secara mikroskopis
menggunakan mikroskop
cahaya dengan
perbesaran 400 kali pada seluruh lapang pandang untuk meniai derajat keparahan.
Mikroskop cahaya
Skoring histopatologi Manja Roenigk : 1 = normal 2 = degenerasi
parenkimatosa 3 = degenerasi
hidrofik 4 = nekrosis
[image:51.595.109.510.171.564.2]dawley yang dipilih secara acak yang dibagi menjadi 3 kelompok (2
kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol) sehingga setiap kelompok
perlakuan terdiri dari 9 ekor tikus. Penentuan jumlah sampel berdasarkan
perhitungan menggunakan rumus Frederer sebagai berikut :
Jadi berdasarkan perhitungan tersebut hewan coba yang digunakan
sebanyak 9 ekor (n ≥ 8,5) tiap kelompok dan jumlah kelompok perlakuan ada 3 kelompok. Sehingga total hewan cobanya adalah 27 ekor tikus putih
(Rattus norvegicus) galur Sprague dawley. Untuk menghindari drop out,
maka ditambahkan sampel hewan coba dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
N = besar sampel koreksi
n = jumlah sampel berdasarkan estimasi
f = perkiraan proporsi drop out sebesar 10% (Sastroasmoro, 2010). (t-1) (n-1) ≥ 15
(3-1) (n-1) ≥ 15
2n-2 ≥ 15 2n ≥ 17 n ≥8,5
= 5
1 −
= 1 − 9 1 − 10%
9 0,9
Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus tersebut, maka diberikan
tambahan hewan coba sebanyak 1 ekor tiap kelompok sehingga total hewan
coba yang digunakan adalah 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) galur
Sprague dawley.
Kriteria inklusi :
a. Tikus putih jantan galur Sprague dawley
b. Berat badan 120-160
c. Berusia 8-10 minggu
d. Tingkah laku dan aktivitas normal
e. Tidak terdapat kelainan anatomi
Kriteria ekslusi :
a. Penampakan rambut kusam, rontok, atau botak dan aktivitas kurang
atau tidak aktif, keluarnya eksudat yang tidak normal dari mata, mulut,
anus dan genital.
b. Terdapat penurunan berat badan lebih dari 10% setelah masa adaptasi di
laboratorium.
3.6 Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan penelitian
a. Hewan percobaan berupa tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur
Sprague dawley.
b. Makanan hewan percobaan berupa BR-15
c. Eter.
d. Formalin 10%
2. Alat penelitian
a. Alpha spin
b. Telepon seluler merek blackberry bold 9780 dengan nilai SAR sebeasr
1,15 W/kg.
c. Alat bedah minor set.
d. Kapas dan alkohol.
e. Alat pembuat preparat histopatologi
Alat yang digunakan untuk membuat preparat histopatologi antara lain
gelas objek, tissue cassete, deck glass, water bath, platening table,
rotarymicrotome, autochnicom procesor, staining jar, staining rak,
kertas saring, histoplast dan parafin dispenser.
f. Alat pemeriksaan mikroskopis
Alat yang digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis adalah
mikroskop, gelas objek, cairan emersi dan kamera digital untuk
g. Kandang hewan
Kandang terbuat dari box plastik dengan ukuran 70 x 50 cm dengan
tinggi 7 cm, bagian dasarnya diberi sekam, kemudian bagian atas
ditutup dengan anyaman kawat. Kandang dibersihakan setiap hari dan
sekam diganti tiap tiga hari sekali.. Tempat makan terbuat dari plastik
dan diletakkan di dalam kandang. Tempat minum terbuat dari botol
kaca yang digantung dan ujungnya diberi pipet yang ditancapkan pada
atap kandang. Ukuran kandang ditentukan sesuai petunjuk yang tampak
[image:55.595.165.495.373.457.2]pada tabel 3.
Tabel 3. Ukuran kandang tikus sesuai berat badan
No Berat (gram) Lebar (cm2) Tinggi (cm)
1. <100 17 7
2. 200 23 7
3. 300 29 7
4. 400 40 7
5. 500 60 7
6. ˃500 ≥70 7
(Sharp dan LaRegina, 1998)
3.7 Prosedur Penelitian
1. Pemeliharaan hewan percobaan
Tikus yang diperoleh dari Institut Pertanian Bogor langsung dimasukkan
ke dalam kandang yang telah disiapkan dan diadaptasikan selama tujuh
hari. Kandang tikus dibersihkan setiap hari dengan desinfektan. Setiap
hari tikus diberikan makanan berupa BR-15 dan minuman standar secara
ad libitum. Dalam tujuh hari diamati pula struktur anatomi dan perilaku
2. Prosedur pemaparan telepon seluler
a. Kelompok kontrol I (K1) : diberi makan dan minum secara ad
libitum, tidak dipaparkan telepon seluler.
b. Kelompok hewan percobaan 1 (P1) : diberi makan dan minum,
dipaparkan telepon seluler merk blackberry bold 9780 (nilai SAR
sebesar 1,15 W/kg) selama 2 jam dengan mode panggilan telepon.
(Rahmanisa dan Sudrajat, 2017). Telepon seluler diletakkan di dalam
kandang, jarak antara kelompok kontrol (K1) dengan kelompok
perlakuan 1 (P1) adalah lebih dari 2 meter dan berada pada ruangan
yang berbeda.
c. Kelompok hewan percobaan 2 (P2) : diberi makan dan minum,
dipaparkan telepon seluler merk blackberry bold 9780 (nilai SAR
sebesar 1,15 W/kg) selama 2 jam dengan mode panggilan serta
paparan alpha spin yang diletakkan tepat dibawah telepon seluler
dan bersinggungan dengan telepon seluler. Jarak antara kelompok
kontrol (K1) dengan kelompok perlakuan 2 (P2) adalah kurang dari 2
meter dan berada pada satu ruangan.
3. Pengambilan sampel organ
Setelah dilakukan intervensi selama 35 hari (Rahmanisa dan Sudrajat,
2017), hewan percobaan dianastesi menggunakan ketamin secara intra
peritoneal, setelah tikus tertidur kemudian di eutanasia dengan cara
dislokasi servikalis. Tikus yang telah mati kemudian dinekroskopi dan
diambil hatinya lalu dimasukkan ke dalam wadah yang berisi formalin
a. Memasukkan semua sisa organ tikus yang tidak terpakai ke dalam
kantong plastik.
b. Dilakukan insinerasi atau pembakaran hewan coba.
c. Sampah lain yang tidak berhubungan dengan organ dibuang ke
dalam kantong plastik yang berbeda.
d. Membersihkan area kerja sisa pembedahan dengan sabun dan
semprot dengan alkohol.
4. Pembuatan sediaan histologi
a. Fiksasi
Larutan fiksasi yang dipakai adalah fosfat buffer formalin dengan
[image:57.595.156.528.421.491.2]komposisi tampak pada tabel 4:
Tabel 4. Komposisi fosfat buffer
No Bahan Jumlah
1. Formalin 10 cc
2. Acidsodiumphospatemonohydrate 0,4 gr
3. Anhydrous disodium phosphate 0,65 gr
4. Aquades
(Sharp dan LaRegina, 1998)
b. Dehidrasi
Dehidrasi memakai alkohol dengan kadar sebagai berikut :
Alkohol 75% selama 30 menit
Alkoho 95% selama 30 menit
Alkohol 100% selama 30 menit, diganti hingga 4 kali
c. Pembeningan
d. Impregnasi
Pembenaman dilakukan dengan paraffin cair selama 1 jam.
e. Pembuatan paraffin block
f. Pengisian jaringan setebal 4-5 mikron.
g. Pewarnaan
Pewarnaan yang dipakai adalah hematoksilin eosin.
Cara pewarnaan dengan hemaktosilin eosin yaitu :
1. Memasukkan preparat ke dalam xylol selama 3-5 menit.
2. Memindahkan preparat ke xylol II selama 3-5 menit.
3. Memasukkan berturut-turut ke dalam alkohol 100%, 95%, dan
70% masing-masing selama 3 menit.
4. Memasukkan ke dalam akuades sebanyak empat kali celupan.
5. Memasukkan ke dalam hematoksilin 5-10 menit.
6. Mencuci dengan air mengalir selama 5 menit.
7. Masukkan ke larutan HCl 1% sebanyak tiga kali celupan.
8. Dibilas dengan air
9. Memasukkan eosin 1% selama satu menit.
10. Memindahkan berturut-turut ke dalam alkohol 70%, 95%, 100%
masing-masing tiga kali celupan.
11. Masukkan ke dalam xylol I dan xylol II secara berurutan.
12. Tutup dengan kaca penutup setelah ditetesi dengan minyak
h. Evaluasi histopatologi
Evaluasi histopatologi dilakukan pada organ hepar dengan
menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 40x10. Gambaran
histopatologi hepar yang dimaksud adalah menilai kerusakan hepatosit
secara mikroskopis pada 5 lapang pandang. Adapun kriteria kerusakan
[image:59.595.133.512.303.363.2]hepar dibagi menjadi beberapa tingkatan seperti tampak pada tabel 5 :
Tabel 5. Skoring histopatologi Manja Roenigk
No Tingkat perubahan Skor
1 . normal 1
2. Degenerasi parenkimatosa 2
3. Degenerasi hidrofik 3
4. nekrosis 4
3.8 Alur Penelitian
Penelitian dimulai dengan aklimatisasi dan evaluasi hewan percobaan.
Dilanjutkan dengan membagi hewan percobaan menjadi 3 kelompok, serta
diberi perlakuan pada 2 kelompok selama 35 hari dan 1 kelompok sebagai
kontrol. Setelah itu, hewan percobaan diterminasi dan diambil organ
heparnya untuk dilakukan evaluasi histopatologi. Hasil evaluasi
histopatologi dinilai menggunakan skore histopatologi Manja Roenigk.
Tahap terakhir yaitu melakukan analisis data menggunakan program
pengolah data. Seluruh rangkaian penelitian yang akan dilakukan dapat
Gambar 12. Alur penelitian Pemeliharaan atau adaptasi hewan percobaan selama 7 hari
Evaluasi hewan percobaan untuk memastikan hewan percobaan
memenuhi kriteria
Pembagian hewan percobaan ke dalam 3 kelompok
Kelompok I : Kelompok kontrol, tidak
diberikan paparan radiasi
telepon seluler
Kelompok II : Diberikan paparan radiasi telepon seluler dengan penerimaan panggilan selama 2 jam
setelah perlakuan selama 35 hari, hewan coba di eutanasia dan dilakukan pengambilan organ hepar
Pembuatan preparat histologi organ hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley di Laboratorium Patologi Anatomi
FK UNILA
Pembuatan preparat histopatologi
Interpretasi hasil pengamatan dengan dibantu oleh pembembing yang ahli di bidangnya
Kelompok III : Diberikan paparan
radiasi telepon seluler dengan penerimaan panggilan selama 2 jam dan dipapar
3.9 Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan histopatologi dianalisis
menggunakan program SPSS. Data hasil pengamatan dianalisis dan dilihat
distribusinya secara statistik dengan uji normalitas Shapiro-Wilk karena
jumlah sampelnya kurang dari 50. Data dapat dikatakan berdistribusi normal
apabila nilai signifikasi lebih dari 0,05. Kemudian, dilakukan uji Levene,
jika varian data berdistribusi normal dan homogen, dilanjutkan dengan uji
parametrik One Way ANOVA untuk mengetahui perbedaan rerata ketiga
kelompok tersebut. Bila tidak memenuhi syarat uji parametrik, maka
digunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis. Hipotesis dianggap bermakna
apabila p<0,05. Jika pada analisis menggunakan metode One Way ANOVA
atau Kruskal-Wallis menghasilkan nilai p<0,05, maka selanjutnya dilakukan
analisis dengan metode Post-Hoc untuk melihat perbedaan antar kelompok
perlakuan.
3.10 Etika Penelitian
Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik
Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dengan nomor Etical
5.1 Kesimpulan
1. Terdapat pengaruh paparan radiasi gelombang elektromagnetik
telepon seluler terhadap histopatologi hepar tikus putih (Rattus
norvegicus) galur Sprague dawley.
2. Terdapat efek protektif Alpha Spin sebagai antiradiasi terhadap
histopatologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague
dawley yang diberi paparan radiasi gelombang elektromagnetik
telepon seluler.
5.2 Saran
1. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan lebih memperhatikan jenis
telepon seluler dengan teliti.
2. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan lebih memaksimalkan
pemilihan lokasi penempatan tikus agar tidak terdapat bias dalam
penelitian.
3. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan
Al-Glaib B, Al-Dardfi M, Al-Tuhami A, Elgenaidi A, Dkhil M. 2008. A technical report on the effect of electromagnetic radiation from a mobile phone on mice organs. Libyan J med. 3(1):8–9.
Akbar, G. 2010. Tumbuhan dengan kandungan senyawa aktif yang berpotensi sebagai bahan antifertilitas. Jakarta: Adabia Press.
Anonim, 2019. Alpha spin [Website] [Diakses 19 September 2019]. Tersedia dari: alphaspin.co
Avenue JMO. 2019. body and home quantum energy field - frequency optimizer and harmonizer. [Artikel online] [Diakses pada 13 September 2019. tersedia dari: http://alphaspin.co.]
Elder JA. 2003. Ocular Effects of Radiofrequency Energy. Bioelectromagnetics. 24(6):148–61.
Eroschenko VP. 2010. Altlas Histologi diFiore : dengan korelasi fungsional. Edisi 11. Jakarta: EGC.
Gartner LP. dan James LH. 2012. Atlas Berwarna Histologi. Edisi 5. Tangerang: Binarupa Aksara.
Ghonimi WA dan Elbaz A. 2015. Exposure effects of 50 Hz, 1 gauss magnetic field on the histoarchitecture changes of liver, testis and kidney of mature male albino rats. Journal of Cytology & Histology. 06(04):1-6.
Harlan. 2015. Sprague dawley rat. Taconic Bioscience. 1-11.
IARC. 2012. Non-Ionizing radiation part 2 : radiofrequency electromagnetic fields. IARC monographs on the evaluation of carcinogenic risks to humans. Geneva: WHO
Khalil A. Al-Adhammi M, Al-Shara B, Gagaa M, Rawshdeh AAl. 2012. Histological and ultrastructural analyses of male mice exposed to mobile phone radiation. Journal of Toxicology Review. 1(1):1–6.
Khasanah LU. 2017. Atlas Histologi Hewan [Website] [Diakses 19
September 2019]. Tersedia dari www.
atlashistologi.com/histologi/hati.html
Kumar V, Abbas AK dan Aster JC. 2015. Buku Ajar Patologi Robbins. Edisi 9. Singapore: Elsevier.
Malole MBM dan CS Pramono. 1989. Penggunaan hewan-hewan percobaan laboratorium Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Bioteknologi. IPB. Bogor.
Mescher AL. 2011. Histologi dasar JUNQUIERA: teks dan atlas. Jakarta: EGC.
Meo SA, Arif M, Rashied S, Husain S, Khan MM, Al Masri AA, et.al. 2010. Morphological changes induced by mobile phone radiation in liver and pancreas in wistar albino rats. European Journal of Anatomy. 14(3):105–9.
Mezard M., Parisi G., dan Virasoro MA. 1987. World Scientific Lecture Notes in Physics: Spin glass theory and beyond. Edisi 9. Paris : World Scientific Publishing.