• No results found

Text 1 ABSTRACT pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRACT pdf"

Copied!
20
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

BAB III

TEORI DASAR

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai metode yang memanfaatkan luasnya data hasil akuisisi seismik yang dapat dipergunakan untuk pengolahan data seismik. Pada proses akuisisi dilakukan pengukuran secara berulang untuk sebuah titik refleksi di bawah permukaan bumi, sehingga titik tersebut diiluminasi beberapa kali. Perulangan tersebut dilakukan akibat dari desain akusisi yang terdiri dari pasangan sumber penerima yang diletakkan pada posisi yang berbeda. Metode ini yang nantinya dikenal dengan metode seismik multicoverage, dimana hasilnya akan mendapatkan data yang berasal dari beberapa pasangan sumber dan penerima yang berbeda untuk satu CMP (Common Mid Point). Jenis dari data ini kemudian dikumpulkan kembali dalam suatu kesamaan, yang biasanya dikelompokkan berdasarkan CMP, untuk kemudian dikumpulkan menjadi satu kumpulan data zero-offset (simulasi ZO) agar lebih mudah dilakukan interpretasi. Pada dasarnya semua teknik imaging dipergunakan untuk melakukan simulasi ZO. Metode simulasi ZO yang terkenal hingga saat ini adalah CMP stack dan DMO stack, dimana kedua metode ini memiliki kesamaan yaitu membutuhkan model kecepatan. Untuk metode CMP stack memerlukan adanya koreksi NMO, dimana koreksi NMO tersebut membutuhkan data kecepatan stack yang diperoleh dengan melakukan analisis kecepatan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa simulasi ZO

(2)

Akibat ketergantungan metode tersebut pada model kecepatan, menyebabkan seismik imaging dengan ZO bersifat subyektif, sehingga diperlukan adanya suatu metode baru dimana tidak tergantung pada model kecepatan. Beberapa metode yang bersifat independen terhadap model kecepatan telah dikembangkan, akan tetapi pada penelitian ini yang akan dibahas hanya metode common reflection surface stack (Yona, 2009).

3.1 Metode Stack Konvensional 3.1.1 CMPStack

Pada akuisi seismik 2D, source dan receiver ditempatkan dalam satu garis lurus. Posisi CMP didefinisikan sebagai titik tengah antara source dan receiver. Posisi

midpoint xm di lintasan seismik dihitung dari posisi source xs dan receiver xg, dengan persamaan berikut :

𝑥

𝑚

=

𝑥𝑠+𝑥𝑔

2 (3.1)

Pasangan source dan receiver dari posisi CMP yang sama dikumpulkan dalam satu CMP gather. Jarak antara source dan receiver disebut sebagai offset, titik tengah antara jarak tersebut didapatkan dari persamaan berikut :

ℎ =

𝑥𝑠−𝑥𝑔

2 (3.2)

Ilustrasi dari pengenalan terhadap koordinat baru ini digambarkan pada Gambar 3.1. Ilustrasi tersebut menggambarkan sebuah desain akusisi yang dilakukan pada suatu kasus sederhana dimana terdapat satu reflektor datar pada suatu lapisan medium homogen isotropi.

(3)
[image:3.595.186.445.85.212.2]

Gambar 3.1 Ilustrasi Akuisisi Data Seismik 2D dengan Menggunakan Reflektor yang Planar pada Medium Homogen Isotropi (Duveneck, 2004)

Ketika akuisisi data seismik dilakukan sepanjang lapisan horizontal di bawah permukaan yang homogen, refleksi primer dalam penampang common midpoint gather akan tepat berada di sepanjang fungsi traveltime hiperbola. CMP gather

mengandung semua ray dan mengiluminasi titik yang sama pada sebuah reflektor dengan offset yang berbeda-beda (lihat Gambar 3.2b).

Gambar 3.2 Geometri Seismik Refleksi (a) Common Source Gather (b) CMP Gather (Mann, 2002)

[image:3.595.124.510.429.584.2]
(4)

dijumlahkan secara konstruktif untuk menghasilkan sebuah penampang stack

dengan rasio sinyal terhadap noise yang tinggi.

3.1.2 Koreksi NMO/ DMO

Dalam kasus konvensional yang didekati dengan 2 medium di bawah permukaan diwakili oleh fungsi traveltime :

𝑡

2

𝑥 = 𝑡

02

+

𝑥2

𝑣𝑁𝑀𝑂2 (3.3)

dimana t(x) adalah waktu tempuh dengan fungsi offset, t0 adalah waktu penjalaran

zero offset, dan x adalah jarak antara source dan receiver.

Untuk kasus reflektor dengan medium homogen, parameter yang berpengaruh hanya kecepatan medium saja. Sedangkan pada kasus reflektor yang memiliki kemiringan, fungsi traveltime merupakan kombinasi dari unit kecepatan dan dip

yang dikenal dengan nama Dip Move Out. Parameter ini bergantung pada kemiringan reflektor dan kecepatan medium itu sendiri.

[image:4.595.119.510.518.711.2]

Berikut ini ilustrasi penggambaran Dip Move Out :

(5)

Untuk model 2D yang terdiri dari satu reflektor yang memiliki kemiringan dip Φ, seperti yang tergambar dalam Gambar 3.3, fungsi traveltime terhadap offset

untuk model diatas adalah sebagai berikut :

𝑡

2

ℎ = 𝑡

02

+

4ℎ2

𝑣𝑁𝑀𝑂2 (3.4)

dimana kecepatan NMO diturunkan dari persamaan kecepatan berikut :

𝑣

𝑁𝑀𝑂

=

𝑣

𝑐𝑜𝑠 ∅ (3.5)

dimana h adalah half offset antara source dan geophone (receiver), v adalah kecepatan medium dan t0 adalah waktu tempuh zero offset, t(h) adalah waktu tempuh dengan fungsi offset. Beda waktu tempuh antara t(h) dan t0 dinamakan ΔtNMO atau koreksi NMO. Koreksi NMO adalah koreksi waktu tempuh karena pengaruh offset.

(6)

gambar tersebut terlihat bahwa tiap titik refleksi dalam satu CMPgather tidak lagi berada dalam satu titik, namun tersebar dalam sebuah area tertentu. Dalam kasus lapisan miring yang planar, situasi ini bisa diatasi dengan menggunakan koreksi

[image:6.595.116.521.331.504.2]

DMO (Dip Move Out). Namun, untuk kasus lapisan miring yang berbentuk melengkung, atau pada kasus medium yang tidak homogen, koreksi ini menjadi tidak tepat lagi. Meskipun telah dilakukan koreksi NMO dan DMO, smearing dari titik refleksi residual masih terjadi. Efek ini akan makin besar apabila dijumpai bentuk reflektor yang makin melengkung atau medium yang makin tidak homogen.

Gambar 3.4 Reflection Point Smear (a) Kumpulan Ray Setiap Titik CMP Gather

(b) Detail yang Menunjukkan Titik Refleksi Tiap CMP Gather (Mann et al.,

2007)

(7)
[image:7.595.117.513.144.321.2]

Gambar dibawah ini menunjukkan proses stacking yang dapat terjadi dalam pengolahan data seismik :

Gambar 3.5 Proses Stacking Dalam Pengolahan Data Seismik (Yilmaz, 2001) Gambar model geologi 2 lapis datar (kiri) dengan gelombang refleksi dan gelombang multiple (tengah), gather yang didapatkan dari proses akuisisi (kanan). Setelah dilakukan koreksi NMO, maka even refleksi akan menjadi datar dan

multiple akan tetap miring karena kecepatan multiple yang lebih rendah dari kecepatan medium.

3.2 Operator CRS Stack

Metode ini memanfaatkan multicoverage data seismik untuk melakukan proses

stacking. Jika pada metode konvensional hanya memilih beberapa CMP gather

(8)
[image:8.595.160.469.150.401.2]

respon refleksi dengan tepat. Gambar di bawah ini menunjukkan perbedaan antara operator stack konvensional dan operator CRS :

Gambar 3.6 Operator Stacking dari NMO/ DMO Stack (Muller, 1998)

[image:8.595.161.468.461.713.2]
(9)

Bagian bawah dari Gambar 3.6 dan Gambar 3.7 adalah model geologi berupa antiklin dengan kecepatan overburdennya homogen. Bagian atas menggambarkan data seismik (multicoverage) yang diklasifikasikan berdasarkan common-offset gather (warna biru). Pada bagian atas ini ditampilkan juga operator stack

konvensional (Gambar 3.6) dan operator stack CRS (Gambar 3.7) yang berwarna hijau yang digunakan untuk melakukan stack,sehingga dihasilkan titik

P0. Kurva berwarna jingga yang melewati titik P0 adalah lintasan common

reflection point (CRP) dari titik CRP pada reflektor. Lintasan CRP ini juga yang digunakan sebagai jalur untuk proses stack pada metode konvensional. Lintasan

CRP yang berwarna jingga ini didapatkan dari perpotongan antara operator DMO

dengan data common-offset yang berwarna biru. Dapat disimpulkan bahwa titik P0 didapatkan dengan menjumlahkan amplitudo sepanjang lintasan jingga untuk metode konvensional. Pada CRS, titik P0 ini didapatkan dengan menjumlahkan amplitudo pada semua lintasan CRP yang berwarna hijau (Ariesty, 2012).

Operator CRS stack untuk seismik 2D merupakan fungsi dari tiga atribut kinematik wavefield disebut juga atribut CRS. Secara matematis, persamaan

traveltime hiperbolik yang digunakan dalam perhitungan metode CRS stack

dituliskan pada persamaan berikut (H¨ocht et al., 1999; Tygel et al., 1997) :

(3.6)

Persamaan diatas dapat dijabarkan menjadi :

(3.7)

Dimana t0merupakan traveltime, v0 merupakan kecepatan di dekat permukaan, xm merupakan koordinat dari midpoint, x0 merupakan koordinat dari zero offset, h

                       NIP N m m m hyp R h v t R x x v t x x v t h x

t ( , ) 2sin 2 cos ( ) 1 2 cos 2 1

0 2 0 2 0 0 2 0 2 0 0 0

2

                 NIP N m m m hyp R h R x x v t x x v t h x t 2 2 0 0 2 0 2 0 0 0

2 2sin 2 cos

) ,

(10)

merupakan koordinat dari half offset dan tiga parameter terakhir (RN, RNIP, dan ) atau atribut kinematik wavefield merupakan parameter permukaan CRS stack pada titik x0, dimana ketiganya merepresentasikan lokasi, orientasi dan bentuk dari reflektor.

Operator CRS stack untuk seismik 3D merupakan fungsi dari delapan atribut kinematik wavefront atau atribut CRS. Persamaan traveltime hiperbolik yang digunakan dalam perhitungan metode CRS stack dituliskan pada persamaan berikut (Bergler, 2002) :

𝑡ℎ𝑦𝑝 2 ∆𝑚, ℎ = (𝑡0+ 2𝑝0. ∆𝑚)2+ 2𝑡0

𝑣0 ∆𝑚. 𝑅𝐾𝑁𝑅

𝑇∆𝑚 +2𝑡0

𝑣0 ℎ. 𝑅𝐾𝑁𝐼𝑃𝑅

𝑇 (3.8)

(11)

𝑅𝑁01 𝑅𝑁11 𝑅𝑁𝐼𝑃 01 𝑅𝑁𝐼𝑃 11

Maka :

𝑡ℎ𝑦𝑝 2 𝑥𝑚 − 𝑥0 , ℎ = 𝑡0+

2 sin 𝛽 𝑣0

cos 𝛼

sin 𝛼 . 𝑥𝑚 − 𝑥0

2

+ 2𝑡0

𝑣0 𝑥𝑚− 𝑥0

2. cos 𝛼

sin 𝛼

− sin 𝛼 cos 𝛼 .

1 𝑅𝑁00

1 𝑅𝑁01

1 𝑅𝑁01

1 𝑅𝑁11

. 𝑅𝑇

+

2𝑡0

𝑣0

2

.

cos 𝛼 sin 𝛼

− sin 𝛼 cos 𝛼

.

1 𝑅𝑁𝐼𝑃 00

1 𝑅𝑁𝐼𝑃 01

1 𝑅𝑁𝐼𝑃 01

1 𝑅𝑁𝐼𝑃 11

. 𝑅

𝑇

(3.10)

Dimana t0 merupakan traveltime, v0 adalah kecepatan di dekat permukaan, Δm adalah koordinat dari midpoint (x, y), R adalah koordinat dari titik yang digunakan, p0 adalah arah propagasi, h adalah koordinat dari half-offset, KN adalah matrik 2x2 dari curvature pada

(12)

3.2.1 Atribut Kinematik Wavefield

[image:12.595.133.493.301.505.2]

Atribut kinematik wavefield merupakan parameter yang menggambarkan lokasi, orientasi, dan bentuk reflektor, yang dalam kasus CRS ini parameter tersebut adalah , RN, RNIP. Hubral (1983) memberikan tafsiran fisik mengenai pengertian atribut CRS berupa dua muka gelombang yang dihasilkan oleh sumber berupa titik di reflektor dan sumber sepanjang segmen reflektor (exploding reflektor) seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 3.8 Atribut Kinematik Wavefield (Mann, 2002)

Warna hijau menunjukkan curvature gelombang normal dan warna merah menunjukkan curvature gelombang NIP. Warna biru menunjukkan besarnya sudut datang yang dibentuk dari muka gelombang terhadap garis normal. Gelombang

(13)

asumsi kecepatan konstan, maka parameter RNIP dapat digunakan untuk menentukan jarak dari reflektor ke titik x0. Sedangkan RN merupakan gelombang yang menjalar dengan arah normal. Gelombang N dihasilkan oleh sumber berupa

exploding reflektor di sekitar titik NIP. Parameter ini membawa informasi mengenai bentuk kelengkungan dari reflektor. Kedua gelombang yang dibangkitkan oleh sumber di titik NIP dan segmen reflektor sekitar titik NIP ini akan merambatkan energi gelombang pada jalur yang berhimpit dengan raypath zero offset dan memiliki sudut datang yang diterima pada titik x0 di permukaan. Sudut datang tersebut merupakan parameter  atau emergence angle. Parameter ini memiliki kaitan erat dengan kemiringan reflektor.

3.2.2 Strategi Pencarian Atribut CRS Stack 2D

Berikut tahapan pencarian atribut CRS stack 2D (Muller, 1998) :

1. Pencarian penampang CMP stack (Automatic CMP stack) dilakukan secara otomatis yang didapatkan dari penjumlahan tiap sampel prestack data menggunakan kecepatan stacking NMO. Proyeksi persamaan 3.6 terhadap domain

h-t akan menghasilkan operator CRS dalam CMP gather. Dalam domain xm= x0, persamaan waktu tempuh menjadi :

(3.11)

Dengan menggunakan persamaan traveltime NMO : (3.12)

dan membandingkan persamaan 3.11 dan 3.12, persamaannya menjadi :

(3.13) 2 0 2 0 2 0

2

2

cos

)

(

h

R

v

t

t

h

t

NIP hypmCMP

2 2 2 0 2

4

NMO x

v

h

t

t

(14)

Dengan mensubstitusikan persamaan di atas, maka pada tahap ini atribut RNIP telah didapatkan.

2. Pembuatan penampang ZO Stack yang dibentuk oleh dua parameter atribut kinematik wavefield, yaitu  dan RN.

Bidang ZO (zero offset, h=0) dalam akuisisi di lapangan tidak mungkin dilakukan karena tidak efisien. Untuk mendapatkan bidang ZO ini, data multicoverage di

stack pada masing-masing data refleksi pada CMP gather yang sama. Substitusi nilai h0 pada persamaan 3.6 dan akan menghasilkan persamaan di bawah ini :

(3.14)

Jika mengasumsikan gelombang bidang atau plane wave datang ke permukaan dan memiliki nilai RN, maka akan didapatkan persamaan CRS orde pertama dalam domain ZO dan dapat menghitung nilai  :

(3.15)

Pada kondisi khusus terjadi pada CS atau CR ketika akan mengubah persamaan 3.6 menjadi :

(3.16)

dengan : (3.17)

Dengan mensubstitusikan nilai  dan RNIP ke dalam persamaan hiperbolik CRS

(persamaan 3.6), maka nilai RN didapatkan, sehingga pada tahap ini tiga parameter pada operator CRS dapat ditentukan.

N m m m ZO hyp R x x v t x x v t h x t 2 0 0 2 0 2 0 0 0 2 , cos 2 sin 2 ) , (             

0

0 0 ) ( ), 1 (

sin

2

x

x

v

t

t

hyp ZO x m

m

h

x

x

m

0

2 0 2

0

2

2

0 0

0 0

2 cos sin

( ) 2 m

C m m

CS

t x x

t x t x x

v v R

           Rcs R

RNIP N

1 1

(15)

3. Penjumlahan inisial stack dengan menjumlahkan data prestack sepanjang permukaan operator CRS menggunakan tiga parameter stacking CRS untuk tiap sampel ZO. Analisis koherensi dengan data prestack kembali dilakukan, analisis ini digunakan sebagai quality control dari hasil initial stack.

4. Pencarian nilai optimasi dengan menggunakan nilai initial sebagai input dan algoritma The Flexible Polyhedron Search (Nelder dan Mead, 1965) yang diteliti oleh Jager (1999) untuk proses optimasinya.

[image:15.595.206.420.337.564.2]

Berikut ini penggambaran diagram pengolahan pencarian atribut CRS Stack 2D :

Gambar 3.9 Diagram Alir Strategi Pencarian Atribut CRS Stack 2D (Mann, 2002)

3.3 Metode 3D CRS Stack

(16)

informasi mengenai lokasi, orientasi dan bentuk reflektor, yaitu emergence angle

, jari-jari kelengkungan gelombang NIP (RNIP) dan jari-jari kelengkungan reflektor gelombang normal (RN). Sementara 3D CRS stack memiliki delapan atribut, yaitu masing-masing tiga buah atribut yang merepresentasikan RNIP dan

RN dalam bidang 3 dimensi dan dua buah atribut azimuth dan dip yang menggambarkan sudut dari reflektor.

3.3.1 Atribut 3D CRS Stack

[image:16.595.125.503.480.668.2]

Atribut wavefront yang dihasilkan oleh 3D CRS stack adalah elemen dari matriks simetri 22 kelengkungan gelombang NIP dan N di lokasi sumber atau penerima bertepatan x0 dari sinar normal (2x3=6 nilai kelengkungan), dan arah propagasi dari dua gelombang yang muncul pada x0, yaitu 2 sudut (Bergler et al., 2002). Berikut ini penggambarannya :

(17)

Sinar normal (garis biru tebal) menghubungkan titik NIP pada reflektor kedua (grid coklat) dengan permukaan akuisisi (bidang coklat). Permukaan merah dan hijau mewakili masing-masing hipotesis muka gelombang NIP dan gelombang N

di tiga titik berbeda.

3.3.2 Strategi Pencarian Atribut CRS Stack 3D

Pada dasarnya, strategi yang digunakan untuk pencarian atribut CRS stack 3D sama dengan 2D. Perbedaannya adalah atribut yang terdapat pada CRS stack 3D berupa matriks (Bergler, 2004).

1. Konfigurasi CMP, dimana terdapat hubungan linear antara m dan h

(m=(0,0)T). Dengan subsitusi kondisi tersebut ke dalam persamaan 3.8 akan didapatkan :

𝑡𝐶𝑀𝑃,ℎ𝑦𝑝2 ℎ = (𝑡0)2+2𝑡0

𝑣0 ℎ. 𝑅𝐾𝑁𝐼𝑃𝑅

𝑇 (3.18)

Nilai h merupakan perpaduan dari koordinat x dan y, sehingga persamaan di atas dapat diformulasikan kembali menjadi :

𝑡𝐶𝑀𝑃,ℎ𝑦𝑝2 ℎ𝑥, ℎ𝑦 = 𝑡02+ 𝑚

00ℎ𝑥2+ 2𝑚01ℎ𝑥ℎ𝑦 + 𝑚11ℎ𝑦2 (3.19)

dimana 𝑚00, 𝑚01, dan 𝑚11 dapat dijelaskan dengan :

𝑀 = 𝑚00

𝑚01

𝑚01

𝑚11 =

2𝑡0

𝑣0 (3.20)

(18)

Sehingga didapatkan solusi :

𝑚00 = 4

𝑣𝑠𝑡𝑎𝑐𝑘 (𝜃 =0°)2 (3.21)

𝑚11 = 4

𝑣𝑠𝑡𝑎𝑐𝑘 (𝜃 =90 °)2 (3.22)

𝑚01 = 4

𝑣𝑠𝑡𝑎𝑐𝑘 (𝜃 =45 °)2 − 0.5 𝑚00 + 𝑚11 (3.23)

dengan adanya solusi di atas, maka 3 parameter KNIP dari total 8 parameter telah diketahui.

2. Konfigurasi Zero Offset dimana h=0 untuk mencari 5 parameter yang tersisa. Dengan mensubsitusi kondisi di atas ke dalam persamaan 3.8 maka akan dihasilkan persamaan berikut :

𝑡𝑍𝑂,ℎ𝑦𝑝2 ∆𝑚 = (𝑡0 + 2𝑝0. ∆𝑚)2+2𝑡0

𝑣0 ∆𝑚. 𝑅𝐾𝑁𝑅

𝑇∆𝑚 (3.24)

Langkah pertama dalam konfigurasi ini adalah diasumsikan semua turunan dari bentuk kuadrat dari persamaan 2.24 bernilai 0, yang berarti KN=0 dan gelombang

N diaproksimasi oleh bidang atau plane wave datang pada permukaan, sehingga persamaan 2.24 akan menjadi :

𝑡𝑍𝑂,𝑙𝑖𝑛 ∆𝑚 = 𝑡0+ 2𝑝0. ∆𝑚 = 𝑡0 + 𝑎0∆𝑚𝑥 + 𝑎1∆𝑚𝑦 dimana 2p0,x=a0 dan

2p0,y=a1 (3.25)

Setelah diketahui nilai dari a0 dan a1 maka persamaan 3.24 direformulasikan lagi menjadi :

(19)

dimana, 𝑁 = 𝑛00

𝑛01

𝑛01

𝑛11 =

2𝑡0

𝑣0 𝑅𝐾𝑁𝑅

𝑇 (3.27)

Dari persamaan di atas, dapat dilihat dengan jelas bahwa solusi untuk konfigurasi

CMP dan ZO hampir sama dengan matriks 2x2 untuk KN maupun KNIP. Kurva hiperbola yang bergeser sebagai fungsi azimuth  dan jarak r (antara trace ZO

pusat dan trace ZO sekitar) diekspresikan pada persamaan ini :

𝑡𝑍𝑂,ℎ𝑦𝑝2 𝑟, 𝜃 = (𝑡0+ 𝑎 𝜃 𝑟)2+ 𝑏(𝜃)𝑟2 (3.28)

dimana :

untuk =00 :

∆𝑚𝑥 = 𝑟, 𝑎0 = 𝑎 𝜃 = 0° dan 𝑛00 = 𝑏(𝜃 = 0°) (3.29)

untuk =900 :

∆𝑚𝑦 = 𝑟, 𝑎1 = 𝑎(𝜃 = 90°) dan 𝑛11 = 𝑏(𝜃 = 90°) (3.30)

dan untuk =450 :

∆𝑚𝑥 = ∆𝑚𝑦 = 𝑟 2 ,

𝑎0+𝑎1

2 = 𝑎(𝜃 = 45°) dan 𝑛01 = 𝑏 𝜃 = 45° −

𝑛00+𝑛11

2 (3.31)

Dengan menggunakan kedelapan parameter yang telah diketahui dari dua konfigurasi diatas, CRS stack 3D dapat dijalankan dengan lengkap. Persamaan 3.8, 3.20, 3.25, 3.27 dapat diformulasikan sebagai berikut :

𝑡ℎ𝑦𝑝2 ∆𝑚, ℎ = (𝑡0+ 𝑎. ∆𝑚)2+ ∆𝑚. 𝑁∆𝑚 + ℎ. 𝑀ℎ (3.32)

(20)
[image:20.595.186.436.84.387.2]

Figure

Gambar 3.1 Ilustrasi Akuisisi Data Seismik 2D dengan Menggunakan Reflektor
Gambar 3.3 Geometry CS Gather (a) dan CMP Gather (b) pada Reflektor yang
Gambar 3.4 Reflection Point Smear (a) Kumpulan Ray Setiap Titik CMP Gather
Gambar 3.5 Proses Stacking Dalam Pengolahan Data Seismik (Yilmaz, 2001)
+6

References

Related documents

Delhi Scheduled Castes, Scheduled Tribes, Other Backward Classes, Minorities and Handicapped Finance and Development Corporation Limited (D.S.ED.C.) is a state owned Corporation

This research proposes data De-Duplication in NoSQL Databases (DDNSDB) which makes use of a DD approach at a higher level of abstraction, namely at the DB level.. It makes

isotretinoin msds hdpe isotretinoin nose bleeds om isotretinoin medicine natural isotretinoin medicine names isotretinoin manufacturer in india isotretinoin medscape warts

Benefits include knowing that your participation in this research will help others learn from your lived experiences and provide for further understanding and change

Objectives: The aim of this paper is to investigate the social and psychological effects of peer-led risk-reduction workshops for sex workers in Soweto, South Africa, with a

Accurate billing is crucial for the financial health of medical institutions. Billing and coding are based on what services are documented by the provider and

Our aims are to determine (1) the distribution patterns of CDOM and FDOM in the northern SCS and WPS, (2) the impact of the Kuroshio intrusion on the CDOM and FDOM dynamics in the

ASID BRAND GUIDE: STUDENTS 2 INTRO Position Tone Personality Traits Key Messaging LOCK-UP USAGE Lock-up Speciications Fonts Chapter Lock-up Color Co-Branding Web Placement