PENGARUH PEMBERIAN JUS TOMAT (Solanum lycopersicum) TERHADAP
MORFOLOGI DAN VIABILITAS SPERMATOZOA TIKUS PUTIH (Rattus
norvegicus) GALUR Sprague dawley YANG DIINDUKSI GENTAMISIN
(Skripsi)
Oleh
DIWANTI AULIA HASANAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
PENGARUH PEMBERIAN JUS TOMAT (Solanum lycopersicum) TERHADAP
MORFOLOGI DAN VIABILITAS SPERMATOZOA TIKUS PUTIH (Rattus
norvegicus) GALUR Sprague dawley YANG DIINDUKSI GENTAMISIN
Oleh
DIWANTI AULIA HASANAH
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN
Pada
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG
ABSTRACT
THE EFFECT OF TOMATO JUICE (Solanum lycopersicum) ON SPERM
MORPHOLOGY AND VIABILITY OF WHITE RATS (Rattus norvegicus)
Sprague dawley STRAIN INDUCED GENTAMICIN
By
DIWANTI AULIA HASANAH
Background : Gentamicin is an aminoglycoside class of antibiotics that are known to reduce the quality of spermatozoa by increasing the formation of free radicals and lipid peroxidation. Tomatoes are a source of natural antioxidants to fight free radicals. Tomatoes contain lycopene which act as potent antioxidant.
Methods : This research is an experimental laboratory research. Sampling is done randomly. The sample consisted of 30 male rats divided into 5 groups, there are negative control group (K1), positive control group (K2) induced by gentamicin, treatment group dose 25% (P1), treatment group dose 50% (P2), treatment group dose 100% (P3) were induced gentamicin 20 mg / kg / day for 10 days.
Results : Analysis using One-Way ANOVA showed p<0,05 for the viability and morphology of spermatozoa. The concentration of tomato juice which gives the best effect for the viability and morphology of spermatozoa is 100%.
ABSTRAK
PENGARUH PEMBERIAN JUS TOMAT (Solanum lycopersicum) TERHADAP
MORFOLOGI DAN VIABILITAS SPERMATOZOA TIKUS PUTIH (Rattus
norvegicus) GALUR Sprague dawley YANG DIINDUKSI GENTAMISIN
Oleh
DIWANTI AULIA HASANAH
Latar Belakang : Gentamisin merupakan antibiotik golongan aminoglikosida yang diketahui dapat menurunkan kualitas spermatozoa dengan cara meningkatkan pembentukan radikal bebas dan peroksidasi lipid. Tomat merupakan salah satu sumber penghasil antioksidan alami untuk melawan radikal bebas. Tomat mengandung likopen yang bertindak sebagai antioksidan kuat.
Metode : Jenis penelitian berupa penelitian eksperimental laboratorium.
Pemgambilan sampel dilakukan secara randomisasi. Sampel terdiri dari 30 ekor tikus jantan yang dibagi dalam 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (K1), kelompok kontrol positif (K2) yang diinduksi gentamisin, kelompok perlakuan dosis 25% (P1), kelompok perlakuan dosis 50% (P2), kelompok perlakuan dosis 100% (P3) dan diberi induksi gentamisin 20 mg/kgbb/hari selama 10 hari.
Hasil : Analisis menggunakan One-Way ANOVA menunjukkan p<0,05 untuk
viabilitas dan morfologi spermatozoa. Konsentrasi jus tomat yang memberikan efek terbaik untuk viabilitas dan morfologi spermatozoa adalah 100%.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bekasi pada tanggal 26 Maret 1999, sebagai anak pertama dari 4 bersaudara dari Bapak H. Ashadi Yusuf, S.E., dan Ibu Hj. Sujarwati, S.E.
Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) diselesaikan di TK Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2005, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2011, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMP Negeri 2 Bandar Lampung pada tahun 2014, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMA Negeri 2 bandar Lampung pada tahun 2016. Selama menjadi pelajar, penulis mengikuti organisasi Rohani Islam (Rohis), Marching Band, dan Pramuka.
ii
SANWACANA
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillaahi rabbil’alamiin. Segala rasa syukur hanya kepada Allah SWT. Rabb semesta alam, atas segala nikmat, petunjuk dan kasih saying-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi penulis dengan judul “Pengaruh Pemberian Jus Tomat (Solanum lycopersicum) terhadap Morfologi dan Viabilitas Spermatozoa Tikus Putih (Rattus norvegius) galur Sprague dawley yang Diinduksi Gentamisin” ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapat banyak saran, bimbingan, dukungan dan doa dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada :
1. Prof. Dr. Karomani, M.Si., selaku Rektor Universitas Lampung;
3. Prof. Dr. Sutyarso, M.Biomed., selaku Pembimbing I atas kesediaannya dalam memberikan bimbingan, ilmu, kritik, saran, nasehat, motivasi dan bantuan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini;
4. Dr. dr. Ety Apriliana, S.Ked, M.Biomed., selaku Pembimbing II atas kesediaannya dalam memberikan bimbingan, ilmu, kritik, saran, nasehat, motivasi, dan bantuan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini;
5. Prof. Dr. dr. Efrida Warganegara, S.Ked., M.Kes., Sp.MK., selaku Pembahas atas kesediaannya dalam memberikan bimbingan, ilmu, kritik, saran, nasehat, motivasi, dan bantuan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini,
6. Prof. Dr. dr. Efrida Warganegara, S.Ked., M.Kes., Sp.MK., selaku Pembimbing Akademik penulis atas kesediaannya dalam memberikan saran, nasehat, motivasi, dan bantuan bagi penulis dalam bidang akademik;
7. Orangtua tercinta dan tersayang, Ayah H. Ashadi Yusuf, S.E. dan Ibu Hj. Sujarwati, S.E. yang telah membesarkan penulis, selalu mendoakan, membimbing, mendukung, memberikan yang terbaik, dan selalu sabar menantikan keberhasilan penulis;
8. Adik-adik tercinta, Sarah Azizah, Putri Asti Naafilah, Rayi Fatin Nafisah, dan sepupu tercinta Tasya Meideline Effendi yang selalu membuat semangat dalam menggapai cita-cita serta senantiasa memberikan dukungan;
iv
10. Sahabat tersayang Devi, Asya, Fika, Sintia yang sejak menempuh bangku pendidikan sebagai pelajar hingga sekarang selalu ada untuk membantu, mendukung, mendoakan, dan membersamai dalam suka dan duka;
11. Sahabat Sukses Dunia Akhirat Fadillah, Suci, Ardina, Hanifah, dan Yana yang sejak awal kuliah sudah selalu ada untuk membantu, mendukung, dan membersamai;
12. Teman seperjuangan skripsi (Alvira, Fahmi) yang selama 2 bulan saling bahu-membahu bekerja dalam tim penelitian;
13. Teman-teman satu bimbingan (Anniza, Rima, Ocha, Dhanti, Kuntum) yang saling membantu saat proses bimbingan;
14. Keluarga besar Lunar FK Unila dan FSI Ibnu Sina FK Unila yang telah memberikan pengalaman, pelajaran, dan rasa kebersamaan berorganisasi;
15. Keluarga KKN Desa Ujung, Lumbok Seminung (Mbak Utami, Alvika, Mela, Alif, Andi, Yebe);
16. Keluarga besar FK Unila (Teman sejawat tercinta TRIGEMINUS FK Unila 2016) atas kebersamaannya selama ini, staff dan karyawan serta adik-adik angkatan 2017, 2018, 2019, atas kebersamaan dalam semangat satu kedokteran; Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.
Bandar Lampung, Desember 2019 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI... v
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
BAB 1PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
BAB 2TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Tomat ... 7
2.1.1 Klasifikasi ... 7
2.1.2 Kandungan Tomat ... 8
2.1.3 Struktur Likopen ... 9
2.1.4 Manfaat Likopen Sebagai Antioksidan ... 9
2.2 Spermatogenesis... 11
2.2.1 Anatomi Testis ... 11
2.2.2 Perkembangan Testis Tikus Jantan Putih ... 13
2.2.3 Proliferasi Mitotik dan Meiosis ... 14
2.2.4 Spermiogenesis ... 17
vi
2.2.6 Morfologi Spermatozoa ... 19
2.2.7 Viabilitas Spermatozoa ... 21
2.3 Infertilitas ... 22
2.3.1 Etiologi... 22
2.3.2 Diagnosis ... 23
2.4 Gentamisin ... 25
2.4.1 Struktur Gentamisin ... 25
2.4.2 Manfaat ... 25
2.4.3 Efek Gentamisin Terhadap Sistem Reproduksi Pria ... 26
2.6 Kerangka Teori ... 28
2.7 Kerangka Konsep ... 29
2.8 Hipotesis Penelitian... 29
BAB 3METODE PENELITIAN ... 30
3.1 Jenis dan Desain Penelitian ... 30
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 30
3.3 Subyek Penelitian ... 31
3.3.1 Populasi ... 31
3.3.2 Sampel ... 31
3.3.3 Kelompok Perlakuan ... 33
3.3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 33
3.4 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional ... 34
3.4.1 Identifikasi Variabel ... 34
3.4.2 Definisi Operasional Variabel... 35
3.5 Alat dan Bahan ... 36
3.6 Prosedur Penelitian ... 37
3.7 Analisis Data ... 43
3.8 Alur Penelitian ... 44
3.9 Etika Penelitian ... 45
BAB 4HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46
4.1 Hasil Penelitian ... 46
BAB 5KESIMPULAN DAN SARAN ... 62
5.1 Kesimpulan ... 62
5.2 Saran ... 62
viii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Kadar likopen (mg/100 g) buah tomat. ... 9
2. Batas Bawah Pemeriksaan Analisis Semen ... 24
3. Definisi Operasional ... 35
4. Hasil perhitungan (%), Rata-rata dan Standar Deviasi Viabilitas Spermatozoa. ... 47
5. Hasil Uji Normalitas Data Viabilitas Spermatozoa tikus pada tiap kelompok. ... 48
6. Hasil Uji Post Hoc LSDViabilitas Spermatozoa ... 49
7. Hasil perhitungan (%), Rata-rata dan Standar Deviasi Morfologi Spermatozoa. ... 50
8. Hasil Uji Normalitas Data Morfologi Spermatozoa tikus pada tiap kelompok. ... 51
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Struktur Likopen (Zuorro A, et al., 2013) ... 9
2. Manfaat likopen terhadap fertilitas pria (Durairajanayagam, 2014) ... 11
3. Testis (Tortora, 2012) ... 11
4. Testis dari arah lateral dan sagital (Tortora, 2012) ... 12
5. Spermatogenesis (Guyton, 2014) ... 15
6. Struktur Spermatozoa (Guyton, 2014) ... 21
7. Struktur Gentamisin (National Center for Biotechnology Information) ... 25
8. Kerangka Teori (Durairajanayagam, 2014, Nouri, 2009) ... 28
9. Kerangka Konsep ... 29
10. Morfologi spermatozoa tikus. (A) spermatozoa normal, (B-J) spermatozoa abnormal . .. 41
11. Alur Penelitian ... 44
1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Infertilitas adalah ketidakmampuan pasangan untuk memperoleh keturunan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi selama 12 bulan. Infertilitas adalah masalah klinis umum yang mempengaruhi 13-15% pasangan di seluruh dunia (Hamada, 2011). Diperkirakan bahwa faktor laki-laki mempengaruhi infertilitas sebesar 25-50%. Infertilitas mempengaruhi pasangan di seluruh dunia tanpa memandang ras atau etnis (Waljczak-Jedrzejowska, 2012). Prevalensi infertilitas bervariasi di seluruh negara maju dan berkembang, namun lebih tinggi di negara berkembang karena keterbatasan sumber daya untuk melakukan diagnosis dan penatalaksanaannya. Di Indonesia angka infertilitas diperkirakan kurang lebih 10% (Ridhoila, 2017).
konsentrasi sperma, 90% masalah ketidaksuburan pada pria berkaitan dengan penghitungan sperma dan terdapat hubungan yang positif antara parameter semen yang abnormal dan penghitungan sperma (Sharma, 2017).
Gentamisin merupakan antibiotik golongan aminoglikosida yang berasal dari
Micomonospora purpurea. Obat ini efektif terhadap mikroorganisme yaitu
Pseudomonas, Proteus, dan Serratia yang tidak sensitif terhadap antibiotik lain. Gentamisin diketahui dapat mengurangi jumlah, motilitas, morfologi dan viabilitas sperma dengan cara meningkatkan pembentukan radikal bebas dan peroksidasi lipid dengan menurunkan kadar enzim antioksidan. Kerusakan oksidatif yang dipicu oleh radikal bebas terhadap spermatozoa dapat meningkatkan tingkat infertilitas pada pria (Fetouh, 2014).
Radikal bebas adalah molekul dengan satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada kulit terluarnya dan sangat reaktif. Radikal bebas dibagi menjadi dua, yaitu eksogen dan endogen. Gentamisin merupakan salah satu radikal bebas eksogen. Setelah masuk ke dalam tubuh dengan rute yang berbeda-beda, senyawa eksogen seperti gentamisin terdekomposisi atau dimetabolisme menjadi radikal bebas di dalam tubuh (Pham-Huy, 2008).
3
dapat mengembalikan keseimbangan yang optimal dengan menetralisir spesimen yang reaktif (Fetouh, 2014). Antioksidan bertindak sebagai “pembersih radikal bebas” dengan mencegah dan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh
reactive oxygen spesies (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS), sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan menurunkan resiko penyakit lain yang tidak dikehendaki (Pham-Huy, 2008).
Tanaman tomat merupakan salah satu sumber penghasil antioksidan alami untuk melawan radikal bebas. Tomat (Solanum lycopersicum) berasal dari famili
Solanaceae. Aktivitas antioksidan pada tanaman tomat dipengaruhi oleh kandungan yang ada di dalamnya, yaitu likopen, β-karoten dan vitamin C. Penggunaan tomat sebagai antioksidan sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas kesehatan manusia di banyak negara (Ma’sum, 2014).
Warna merah yang dimiliki tomat disebabkan oleh likopen yang memberikan perlindungan terhadap kerusakan spermatozoa yang disebabkan oleh radikal bebas (Gunawan, 2017). Kemampuan likopen mengendalikan radikal bebas 100 kali lebih efisien daripada vitamin E atau 12.500 kali daripada glutathion
Likopen dalam buah tomat merupakan karotenoid utama yang berfungsi sebagai antioksidan kuat dan dapat menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, dan penyakit degeneratif. Likopen dapat diabsorbsi secara langsung dari jus tomat, saus tomat, dan suplemen (Ma’sum, 2014). Konsumsi tomat sebanyak 2 mg per hari selama 3 bulan dapat meningkatkan parameter semen pada laki-laki, yang juga dapat mempengaruhi parameter semen abnormal (Gunawan, 2017).Kadar likopen buah tomat berkisar antara 33,50-80,51 miligram dalam 100 gram tomat, tergantung pada warna kulit dan lama penyimpanan tomat (Novita, 2015).
5
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan, didapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada efek pemberian jus tomat terhadap viabilitas dan morfologi spermatozoa tikus putih yang diinduksi gentamisin?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui efek pemberian jus tomat terhadap viabilitas dan morfologi spermatozoa tikus putih yang diinduksi gentamisin.
1.3.2 Tujuan Khusus
Untuk mengetahui kenaikan persentase viabilitas dan morfologi tikus putih yang diberi pengobatan setelah diinduksi gentamisin.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti
1.4.2 Bagi Institusi
Penelitian ini dapat menambah bahan kepustakaan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan memberi tambahan pengetahuan bagi pengunjung perpustakaan.
1.4.3 Bagi Masyarakat
7 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Tomat
2.1.1 Klasifikasi
Dalam botani atau ilmu tumbuh-tumbuhan, tanaman tomat diklasifikasikan sebagai berikut (Cahyono, 2008).
Divisi : Spermatophyta (tanaman berbiji)
Subdivisi : Angiosspermae (biji berada di dalam buah)
Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping dua)
Ordo : Tubiflorae
Famili : Solanaceae
Genus : Lycopersicon
2.1.2 Kandungan Tomat
Tomat (Solanum lycopersicum) yang telah disebut secara luas sebagai
Lycopersicon esculentum masuk ke famili Solanaceae. Tomat memiliki segmen internal berupa daging yang berisi biji yang dikelilingi serum (Balaswamy, 2015). Tomat merupakan salah satu jenis buah yang memiliki senyawa polifenol, karotenoid, dan vitamin C yang dapat bertindak sebagai antioksidan. Polifenol pada tomat sebagian besar terdiri dari flavonoid, sedangkan jenis karotenoid yang dominan adalah pigmen likopen. Senyawa-senyawa antioksidan tersebut dapat menghambat proses oksidasi yang dapat menyebabkan penyakit kronis dan degeneratif (Eveline, 2014).
9
Tabel 1. Kadar likopen (mg/100 g) buah tomat (Novita, 2015).
Tingkat Kematangan
Tomat
Lama Penyimpanan
0 Hari 5 Hari 10 Hari 15 Hari 20 Hari
0-10 % Kulit Merah 74.00 36.97 40.20 43.00 20.90
30-60% Kulit Merah 76.70 47.40 42.50 40.10 30.11
> 70% Kulit Merah 80.51 74.07 46.80 38.50 33.50
2.1.3 Struktur Likopen
Gambar 1. Struktur Likopen (Zuorro A, et al., 2013)
2.1.4 Manfaat Likopen Sebagai Antioksidan
[image:25.612.216.462.343.478.2]antioksidan yang poten. Likopen ditemukan mampu menginaktifkan hidrogen peroksidan dan nitrogen peroksida (Febriansah, 2012).
11
Gambar 2. Manfaat likopen terhadap fertilitas pria (Durairajanayagam, 2014)
2.2 Spermatogenesis 2.2.1 Anatomi Testis
[image:27.612.220.443.474.643.2]Testis merupakan kelenjar oval berpasangan di dalam skrotum, berukuran 5 cm (2,5 inci) dengan diameter 2,5 cm (1 inci). Setiap testis memiliki massa 10-15 gram. Testis berkembang di dekat ginjal, di bagian belakang perut, dan biasanya mulai turun ke skrotum melalui saluran inguinal selama paruh kedua bulan ketujuh perkembangan janin (Tortora, 2012).
[image:28.612.211.452.519.647.2]Testis bergerak selama perkembangan fetus dan akhirnya tertahan di kedua sisi skrotum pada ujung funikulus spermatikus. Karena bermigrasi dari dinding abdomen, setiap testis membawa serta suatu kantung serosa, yaitu tunika vaginalis yang berasal dari peritoneum. Tunika vaginalis terdiri atas lapiran parietal diluar dan lapisan visceral di bagian dalam, yang membungkus tunika albuginea pada sisi anterior dan lateral testis (Merscher, 2011).
Gambar 4. Testis dari arah lateral dan sagital (Tortora, 2012)
13
Testis dikelilingi oleh jaringan ikat kolagen, yaitu tunika albuginea. Tunika albuginea menebal pada permukaan posterior testis dan membentuk mediastinum testis. Mediastinum testis merupakan tempat penetrasi septa fibrosa yang membagi kelenjar menjadi 250 kompartemen piramid atau lobulus testis (Merscher, 2011). Masing-masing 200-300 lobulus testis mengandung satu sampai tiga tubulus melingkar, yaitu tubulus seminiferus. Tubulus seminiferus merupakan tempat produksi sperma (Tortora, 2012).
Tubulus seminiferus mengandung dua jenis sel, yaitu sel spermatogenik dan sel sertoli. Sel spermatogenik merupakan sel pembentuk sperma, sedangkan sel sertoli adalah sel yang memiliki beberapa fungsi dalam mendukung spermatogenesis (Junqueira, 2011).
2.2.2 Perkembangan Testis Tikus Jantan Putih
berkembang namun belum mampu kawin karena spermatozoa belum motil, dan tikus umur 8-9 minggu, yaitu tikus dewasa yang telah dewasa dan siap kawin sehingga tepat dijadikan sebagai hewan model penelitian sistem reproduksi dewasa (Fitria, 2015).
2.2.3 Proliferasi Mitotik dan Meiosis
Spermatogenesis adalah suatu proses kompleks ketika sel germinativum primordial yang relatif belum berdiferensiasi yaitu sel spermatogonia (46 kromosom), berproliferasi dan diubah menjadi spermatozoa yang sangat khusus dan motil dan masing-masing mengandung set haploid 23 kromosom yang diterima secara acak (Sherwood, 2012). Selama pembentukan embrio, sel germinal primordial bermigrasi kedalam testis dan menjadi sel germinal imatur yang disebut spermatogonia yang terletak dua atau tiga lapisan permukaan dalam tubulus seminiferus. Spermatogonia mulai mengalami pembelahan mitosis saat pubertas, dan terus berproliferasi dan berdiferensiasi melalui berbagai tahap perkembangan untuk membentuk sperma (Guyton, 2014).
15
[image:31.612.234.431.376.626.2]potongan melintang tubulus seminiferus testis tikus tipe asosiasi sel dibagi dalam 14 tahapan. Setiap asosiasi sel, terdiri dari sekumpulan sel spermatogenik yang selalu tersusun teratur dari spermatogonia, spermatosit dan spermatid yang terdapat pada berbagai tingkat perkembangan. Tahapan spermatogenesis tersusun dari susunan antara spermatogonia A, spermatogonia intermedia, spermatogonia B, spermatosit primer dalam berbagai tahap profase (leptoten, zigoten, pakiten, diploten dan diakinase) dan spermatid dengan 19 langkah spermatogenesis (Sutrisno, 2010).
Pada manusia, satu siklus epitel seminiferus membutuhkan waktu 16 hari dan waktu yang diperlukan untuk satu siklus spermatogenesis 64 hari (sekitar 8 minggu). Sedangkan satu siklus spermatogenesis memerlukan 4-5 siklus epitel seminiferus dimana tipe asosiasi sel dibagi dalam 6 tahapan. Pentingnya mengidentifikasi tahapan spermatogenesis berkaitan dengan sifat siklus dan proses biokimia yang terjadi selama pematangan epitel spermatogenik (Sherwood, 2012).
Spermatogonium yang berada di lapisan terluar tubulus seminiferus terus menerus bermitosis, menghasilkan sel baru yang memiliki 46 kromosom identik dengan sel induk. Setelah pembelahan mitotik sebuah spermatogonium salah satu sel anak tetap di tepi luar tubulus, dan sel anak yang lain mulai bergerak ke arah lumen sambil menjalani berbagai tahap yang dibutuhkan untuk membentuk sperma, yang kemudian akan dibebaskan kedalam lumen. Setelah mengalami beberapa pembelahan mitotik, spermatogonium akan menjadi spermatosit primer (46 kromosom) identik. Setelah pembelahan mitotik terakhir, spermatosit primer masuk ke fase istirahat ketika kromosom-kromosom terduplikasi dan untai-untai rangkap tersebut tetap menyatu sebagai persiapan untuk pembelahan meiosis pertama (Sherwood, 2012).
17
kromosom homolog berbaris di bidang metafase, dan terjadi crossing-over. Kemudian, benang spindel menarik satu (duplikat) kromosom dari setiap pasangan ke arah kutub yang berlawanan. Kedua sel yang terbentuk dari meiosis I disebut spermatosit sekunder. Setiap spermatosit sekunder memiliki 23 kromosom haploid. Setiap kromosom dalam spermatosit sekunder masih memiliki dua kromatid dari masing-masing kromosom. Tidak ada replikasi DNA yang terjadi pada spermatosir sekunder (Tortora, 2012).
Pada meiosis II, kromosom berbaris dalam satu bidang metafase, dan dua kromatid dari masing-masing kromosom terpisah. Keempat sel haploid yang dihasilkan pada meiosis II disebut spermatid. Oleh karena itu, spermatosit primer menghasilkan empat spermatid melalui dua putaran pembelahan sel, yaitu meiosis I dan meiosis II (Tortora, 2012).
2.2.4 Spermiogenesis
berkembang biak. Selanjutnya, cairan yang disekresikan sel-sel penyokong mendorong sperma di sepanjang jalan mereka, menuju saluran testis. Pada titik ini, sperma belum bisa berenang (Tortora, 2012).
2.2.5 Pematangan Sperma di Epididimis
Setelah terbentuk di tubulus seminiferus, spermatozoa membutuhkan waktu beberapa hari untuk melewati duktus epididimis yang panjangnya 6 mikrometer. Spermatozoa yang bergerak dari tubulus seminiferus dan dari bagian awal epididimis merupakan sperma yang tidak motil dan tidak dapat membuahi ovum. Akan tetapi, setelah spermatozoa berada dalam epididimis selama 18-24 jam, sperma memiliki kemampuan motilitas, walaupun beberapa protein penghambat dalam cairan epididimis masih mencegah motilitas akhir sampai setelah ejakulasi (Guyton, 2014).
19
ejakulasi yang tinggi, penyimpanan mungkin tidak lebih dari beberapa hari (Guyton, 2014).
Setelah ejakulasi, sperma menjadi motil dan mampu membuahi ovum, suatu proses yang disebut pematangan. Sel-sel sertoli dan epitel epididimis menyekresikan suatu cairan nutrisi khusus yang diejakulasikan bersama dengan sperma. Cairan ini mengandung berbagai hormon (termasuk testosterone dan estrogen), enzim, dan zat nutrisi khusus yang sangat penting untuk pematangan sperma (Guyton, 2014).
Epididimis merupakan organ tempat transportasi, pematangan, dan penyimpanan spermatozoa. Sejumlah protein yang dihasilkan oleh epididimis seperti CRISP1, SPAG11e, carbonyl reduktase P34H, CD52, DEFB126, dan GPR64 mempunyai peranan penting pada pematangan spermatozoa (Fitria, 2015).
2.2.6 Morfologi Spermatozoa
23 kromosom. Dua pertiga anterior bagian nukleus adalah akrosom, suatu vesikel berbentuk topi yang berisi enzim yang membantu sperma menembus oosit sekunder untuk fertilisasi. Beberapa enzim akrosom yaitu enzim hyaluronidase dan protease. Ekor dari sperma dibagi menjadi empat bagian, yaitu leher, middle piece, principal piece, dan end piece. Leher adalah daerah di belakang kepala yang mengandung sentriol. Sentriol membentuk mikrotubulus yang terdiri dari sisa ekor. Middle piece berisi mitokondria yang tersusun spiral, yang menyediakan energi (ATP) untuk pergerakan sperma ke tempat pembuahan dan metabolisme sperma. Principal piece adalah bagian terpanjang dari ekor, dan end piece
adalah bagian terminal, bagian lonjong dari ekor (Tortora, 2012).
Spermatozoa abnormal adalah spermatozoa dengan ciri morfologi diluar batas normal. Spermatozoa dikatakan normal bila memiliki struktur kepala, leher, dan ekor yang normal. Kepala yang normal memiliki rasio antara panjang dengan lebar 1,5-1,75. Leher merupakan bagian sempit yang menghubungkan antara kepala dan ekor, ekor kurang lebih 9 kali panjang kepala sperma yang terbagi tiga bagian, yaitu principal piece, middle piece, dan end piece (Apriora, 2015).
21
[image:37.612.244.431.239.449.2]normal yang mampu membuahi sel telur. Walaupun jumlah spermatozoa seseorang normal, namun apabila morfologinya terganggu akan berpengaruh terhadap rendahnya kemampuan fungsional spermatozoa (Apriora, 2015).
Gambar 6. Struktur Spermatozoa (Guyton, 2014)
2.2.7 Viabilitas Spermatozoa
proses yang terjadi selama spermatogenesis. Spermatozoa dapat hidup karena sanggup mencerna beberapa zat yang terdapat di dalam cairan aksesoris, cairan di dalam saluran kelamin betina dan di dalam media pengencer (Simbolon, 2013).
Permukaan spermatozoa dibungkus oleh suatu membran lipoprotein. Apabila sel spermatozoa tersebut mati, permeabilitas membrannya meningkat terutama di daerah kepala (post nuclear caps) dan hal ini merupakan dasar pewarnaan spermatozoa yang membedakan spermatozoa yang hidup dan yang mati (Simbolon, 2013).
2.3 Infertilitas 2.3.1 Etiologi
Infertilitas mempengaruhi baik pria maupun wanita. Pada 50% pasangan yang tidak memiliki anak, faktor infertilitas pria ditemukan bersama dengan kelainan pemeriksaan cairan semen (Ikatan Ahli Urologi Indonesia, 2015).
Fertilitas pada pria dapat menurun sebagai akibat dari (Ikatan Ahli Urologi Indonesia, 2015) :
23
c. Infeksi saluran urogenital d. Suhu skrotum yang meningkat e. Kelainan endokrin
f. Kelainan genetik g. Faktor imunologi
Pada 30-40% kasus, tidak ditemukan kelainan penyebab dari infertilitas pria (infertilitas pria idiopatik). Infertilitas pria idiopatik dianggap terjadi akibat beberapa faktor, seperti gangguan endokrin, polusi lingkungan,
reactive oxygen species, atau gangguan genetik dan epigenetik (Ikatan Ahli Urologi Indonesia, 2015).
2.3.2 Diagnosis
Tabel 2. Batas Bawah Pemeriksaan Analisis Semen
Parameter Batas Bawah
Volume semen (mL) 1,5 (1,4-1,7)
Jumlah sperma total (106 per ejakulat) 39 (33-46)
Konsentrasi sperma (106 per mL) 15 (12-16)
Motilitas total (progressive +
non-progressive, %)
40 (38-42)
Motilitas progresif (progressive, %) 32 (31-34)
Viabilitas (spermatozoa yang hidup, %) 58 (55-63)
Morfologi sperma (bentuk normal, %) 4 (3,0-4,0)
Konsensus Lainnya
pH > 7,2
Leukosit peroksidase positif (106 per mL) < 1,0
Pemeriksaan optional
Tes mixed antiglobulin reaction
(spermatozoa motil dengan partikel ikatan,
%)
< 50
Tes immunobead (spermatozoa motil
dengan bound beads, %)
< 50
Zink seminal (μmol/ejakulat) > 2,4
Fruktosa seminal (μmol/ejakulat) > 13
Glukosidase netral seminal (μmol/ejakulat) > 20
25
2.4 Gentamisin
[image:41.612.279.401.166.330.2]2.4.1 Struktur Gentamisin
Gambar 7. Struktur Gentamisin (National Center for Biotechnology Information)
2.4.2 Manfaat
Gentamisin adalah antibiotik golongan aminoglikosida yang sering digunakan sebagai pengobatan efektif dari infeksi bakteri gram negatif dan tingkat resistensinya masih rendah. Namun, gentamisin dapat menyebabkan efek samping yang berat termasuk nefrotoksisitas dan vestibulotoksisitas, yang walaupun dapat dideteksi dini, dapat bersifat irreversibel (Martin, 2012).
spektrum luas terutama terhadap infeksi kuman aerob gram negatif, dan berefek sinergis terhadap gram positif bila dikombinasikan dengan antibiotik lain (misalnya β-laktam). Aminoglikosida merupakan senyawa yang terdiri dari dua atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa. Dengan adanya gugusan amino, zat-zat ini bersifat basa lemah, dan garam sulfanya yang digunakan dalam terapi mudah larut dalam air (Pangalila, 2012).
Gentamisin merupakan derivat dari Micomonospora purpureae dan masih merupakan terapi alternatif yang efektif terhadap mikroorganisme, terutama Pseudomonas, Proteus, dan Serratia yang tidak sensitif dengan antibiotik lain. Aminoglikosida telah rutin digunakan oleh spesialis urologi untuk mengobati infeksi bakteri pada pasien sebelum fertilisasi in vitro atau ketika terdapat konsentrasi leukosit yang tinggi pada cairan semen pasien (Fetouh, 2014).
2.4.3 Efek Gentamisin Terhadap Sistem Reproduksi Pria
27
Stres oksidatif yang ditimbulkan oleh ROS berpengaruh terhadap sistem reproduksi laki-laki, terutama pada proses spermatogenesis. Stres oksdatif dapat merusak DNA mitokondria sehingga dapat terjadi mutasi yang berakibat pada rusaknya rantai transport elektron. Hal ini dapat berakibat pada penurunan produksi ATP dan mengganggu spermatogenesis sehingga spermatozoa memiliki morfologi yang abnormal dan penurunan jumlah (Venkatesh, 2009).
Gentamisin diketahui dapat mengurangi jumlah, motilitas, morfologi dan viabilitas sperma dengan cara meningkatkan pembentukan radikal bebas dan peroksidasi lipid dengan menurunkan kadar enzim antioksidan. Kerusakan oksidatif yang dipicu oleh radikal bebas terhadap spermatozoa dapat meningkatkan tingkat infertilitas pada pria (Fetouh,2014).
2.6 Kerangka Teori
Gambar 8. Kerangka Teori (Durairajanayagam, 2014, Nouri, 2009)
Testis dan Epididimis
Spermatogenesis
Abnormalitas morfologi dan penurunan viabilitas Sperma Proliferasi mitotik dan
meiosis sel
Spermiogenesis
Pematangan sperma di epididimis Gangguan keseimbangan ROS Peroksidasi lipid Kerusakan membran sel Kerusakan DNA Kerus Gentamisin Tomat Likopen Antioksidan Infertilitas
: menyebabkan : menghambat
29
[image:45.612.125.462.92.360.2]2.7 Kerangka Konsep
Gambar 9. Kerangka Konsep
2.8 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah pemberian jus tomat dapat meningkatkan persentase jumlah morfologi normal dan viabilitas spermatozoa tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang diinduksi gentamisin.
Jus Tomat (Antioksidan)
Morfologi dan Viabilitas
Sperma
30 BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental laboratorium. Desain penelitian menggunakan Post Test Only Control Group Design. Dalam penelitian ini dilakukan randomisasi, artinya sebelum diberikan perlakuan semua kelompok kontrol dan eksperimen dianggap sama sehingga pengelompokkan kelompok kontrol dan eksperimen dilakukan secara acak. Pengambilan data dilakukan pada akhir penelitian setelah diberi perlakuan dengan membandingkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-Desember 2019 di Animal House
31
3.3 Subyek Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah tikus putih (Rattus Novergicus) dewasa jantan galur Sprague dawley berumur 2-3 bulan dengan berat 150-250 gram yang diperoleh dari Institut Pertanian Bogor.
3.3.2 Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 30 tikus putih dewasa jantan galur Sprague dawley yang dibagi dalam lima kelompok secara acak menggunakan rumus Frederer.
(n-1)(t-1) 15 Keterangan :
t = jumlah perlakuan n = jumlah ulangan
(5-1)(n-1) 15 4(n-1) 15
4n-4 15 4n 19 n 4.75
Keterangan :
N = besar sampel koreksi n = besar sampel awal
F = perkiraan proporsi drop out sebesar 10%
33
3.3.3 Kelompok Perlakuan
1. Kelompok 1 : Kelompok tikus yang tidak diinduksi gentamisin dan tanpa pemberian jus tomat (Kontrol 1).
2. Kelompok 2 : Kelompok tikus yang diinduksi gentamisin sebanyak 20 mg/kgBB/hari selama 10 hari tanpa pemberian jus tomat (Kontrol 2).
3. Kelompok 3 : Kelompok tikus yang diberikan jus tomat dengan konsentrasi 25% sebanyak 1 ml dan diinduksi gentamisin sebanyak 20 mg/kgBB/hari selama 10 hari (Kelompok Perlakuan 1).
4. Kelompok 4 : Kelompok tikus yang diberikan jus tomat dengan konsentrasi 50% sebanyak 1 ml dan diinduksi gentamisin sebanyak 20 mg/kgBB/hari selama 10 hari (Kelompok Perlakuan 2).
5. Kelompok 5 : Kelompok tikus yang diberikan jus tomat dengan konsentrasi 100% sebanyak 1 ml dan diinduksi gentamisin sebanyak 20 mg/kgBB/hari selama 10 hari (Kelompok Perlakuan 3).
3.3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 1. Kriteria Inklusi
a) Sehat
2. Kriteria Eksklusi
a) Sakit (rambut kusam dan rontok, aktivitas kurang atau tidak aktif)
b) Mengalami penurunan berat badan lebih dari 10% setelah masa adaptasi di laboratorium
3.4 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional
3.4.1 Identifikasi Variabel
a) Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jus buah tomat.
b) Variabel Terikat (Dependent Variable)
35
3.4.2 Definisi Operasional Variabel
Tabel 3. Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional
Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
Jus Tomat Buah tomat berwarna merah yang diolah melalui proses penghalusan menggunakan juicer agar diperoleh jus yang mengandung bahan aktif likopen sebanyak 9,5 mg/100 gr tomat segar yang dibuat jus.
P1 : Diberikan jus tomat konsentrasi 25% sebanyak 1ml/ekor/hari P2 : Diberikan jus tomat konsentrasi 50% sebanyak 1 ml/ekor/hari P3 : Diberikan jus tomat konsentrasi 100% sebanyak 1 ml/ekor/hari Gelas ukur, spuit Persentase konsentrasi tomat 25%, 50%, dan 100%. Ordinal Morfologi Spermatozoa Diamati bentuk spermatozoa dengan 5 lapang pandang
mikroskop dalam jumlah 100 sel spermatozoa dengan perbesaran 1000x. Menilai berdasarkan nilai referensi normal morfologi
Mikroskop Persentase morfologi spermatozoa normal dibandingkan dengan seluruh spermatozoa yang teramati (normal dan abnormal). Numerik Viabilitas Spermatozoa Spermatozoa yang hidup tidak akan terwarnai dengan zat warna eosin, sedangkan yang mati akan terwarnai karena rusaknya membran plasma sel. Dilihat pada mikroskop dengan perbesaran 400x.
Menghitung spermatozoa yang hidup dari seluruh spermatozoa yang diamati
3.5 Alat dan Bahan
3.5.1 Alat Penelitian A. Alat Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian antara lain : 1) Neraca elektronik
2) Sonde lambung 3) Kandang tikus
4) Tempat makan dan minum tikus 5) Object glass dan cover glass
6) Alat Bedah 7) Ketamin 8) Spuit 1 cc
9) Alat - alat dalam pengamatan mikroskop cahaya 10) Handschoen
11) Masker
B. Alat Pembuatan Jus Tomat
Alat yang digunakan untuk membuat jus tomat antara lain : 1) Neraca digital
2) Juicer 3) Baker glass
37
5) Beaker glass
6) Labu takar 7) Gelas ukur
3.5.2 Bahan Penelitian
Bahan-bahan yang digunakan antara lain : 1) Tikus jantan putih galur Sprague dawley
2) Tomat 3) Pakan tikus 4) Sekam 5) Air minum 6) Gentamisin
7) Bahan untuk pengamatan mikroskop 8) NaCl 0,9%
9) Zat untuk pewarnaan (Giemsa, Eosin 0,5%)
3.6 Prosedur Penelitian
3.6.1 Pengadaan Hewan Uji
3.6.2 Pemeliharaan Hewan Uji
Hewan uji akan menjalani masa adaptasi selama 1 minggu di kandang pemeliharaan untuk menyeragamkan cara hidup dan makanan sebelum diberi perlakuan. Tikus ditempatkan di kandang dengan alas sekam padi yang diganti setiap hari untuk mencegah infeksi. Dalam 1 kelompok, 6 ekor tikus ditempatkan dalam 1 kandang. Suhu 25°C, lingkungan tidak lembab, dan pencahayaan cukup. Pemberian makan dan minum melalui ad libitum. Makanan berupa pelet. Pemberian makanan dan minuman secukupnya dengan wadah terpisah dan diganti setiap hari.
3.6.3 Pembuatan Jus Tomat
Pembuatan jus tomat diawali dengan melakukan penyortiran tomat berdasarkan keseragaman ukuran dan warna, kemudian tomat dicuci dan dipotong kecil-kecil. Selanjutnya dilakukan penghalusan tomat menggunakan juicer yang kemudian diperoleh hasil berupa sari tomat (Wulandari, 2009).
39
Setiap 3,5 gram tomat segar menghasilkan 1,5 ml jus tomat. Sedangkan tiap 100 gram tomat segar dapat menghasilkan 43 ml jus tomat. Kadar likopen pada 100 gram tomat dianggap 100%. Jus tomat yang diperoleh kemudian dibuat dalam 3 seri konsentrasi (25%, 50%, 100%) dengan melakukan pengenceran menggunakan akuades steril. Jus tomat diberikan selama 24 hari.
3.6.4 Induksi Gentamisin
Dosis gentamisin yang dapat menimbulkan kerusakan pada testis yaitu 20 mg/kgbb/hari (El-Madawwy, 2014). Pada penelitian ini, induksi gentamisin dilakukan selama 10 hari dengan dosis 20 mg/kgbb/hari secara intraperitoneal.
3.6.5 Proses Pembedahan A. Pembedahan
B. Pengambilan, Penimbangan, Pengukuran Testis
Setelah pembedahan, dilakukan pengambilan testis dengan pinset. Kemudian testis tikus diletakkan pada gelas ukur berisi NaCl 0,9 % agar dapat memisahkan testis dan lemak dengan mudah.
3.6.6 Pengambilan dan Pengamatan Spermatozoa A. Pengambilan Sekresi Kauda Epididimis
Dibawah mikroskop bedah kauda epididimis dipisahkan dengan cara memotong bagian proksimal korpus epididimis dan bagian distal vas deferen. Selanjutnya kauda epididimis dimasukkan ke dalam gelas arloji yang berisi 1 mL NaCl 0,9%, kemudian bagian proksimal kauda dipotong sedikit dengan gunting dan tekan perlahan hingga cairan sekresi epididimis keluar dan tersuspensi NaCl 0,9%. Suspensi spermatozoa dari kauda epididimis yang diperoleh dapat digunakan untuk pengamatan yang meliputi morfologi dan viabilitas spermatozoa.
B. Morfologi Spermatozoa
41
kemudian dikeringkan pada suhu ruang. Penghitungan dilakukan di bawah mikroskop dengan perbesaran 1.000 kali ditambah minyak emersi.
[image:57.612.237.500.373.497.2]Ciri morfologi spermatozoa normal yaitu bentuk kepala seperti kait pancing dan ekor panjang lurus. Sebaliknya, morfologi spermatozoa abnormal memiliki bentuk kepala tidak beraturan, berbentuk seperti pisang, atau terlalu bengkok dan ekor tidak lurus bahkan tidak berekor, atau hanya terdapat ekor tanpa kepala.
Gambar 10. Morfologi spermatozoa tikus. (A) spermatozoa normal, (B-J) spermatozoa abnormal (Wyrobeck and Bruce, 1975).
Persentase morfologi spermatozoa
C. Viabilitas Spermatozoa
Pengamatan viabilitas spermatozoa dilakukan dengan mengambil 1 tetes suspensi sperma (10 μl), lalu diteteskan pada gelas objek kemudian dicampurkan larutan eosin 0,5%. Spermatozoa yang hidup dievaluasi di bawah mikroskop dengan perbesaran 400 kali dalam 5 lapang pandang untuk memperoleh 200 spermatozoa.
Spermatozoa yang hidup tidak akan terwarnai dengan zat warna eosin, sedangkan yang mati akan terwarnai karena rusaknya membran plasma sel. Jumlah spermatozoa yang hidup dinyatakan dalam persen. Untuk penentuan persentase viabilitas spermatozoa digunakan rumus sebagai berikut.
Persentase viabilitas spermatozoa
43
3.7 Analisis Data
Analisis data diperoleh dari analisis bivariat. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan terikat. Untuk mengetahui kenormalan distribusi data, dilakukan uji normalitas Shapiro-Wilk
(jumlah sampel 50).
3.8 Alur Penelitian
Gambar 11. Alur Penelitian Penimbangan berat badan tikus
Pengelompokkan K1 Kontrol negatif K2 Kontrol positif P1 Perlaku an I P2 Perlaku an I P3 Perlaku an I Pemberian makan dan minum Diinduksi gentamisin Diinduksi gentamisin + jus tomat konsentrasi 25%
Diinduksi gentamisin + jus tomat konsentrasi 50%
Diinduksi gentamisin + jus tomat konsentrasi 100% Persiapan penelitian
Terminasi hewan coba dan pengambilan organ testis
Pembuatan preparat
Interpretasi Hasil
45
3.9 Etika Penelitian
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Pemberian jus tomat berpengaruh terhadap peningkatan persentase viabilitas spermatozoa tikus putih yang diinduksi gentamisin 2. Pemberian jus tomat berpengaruh terhadap peningkatan persentase
jumlah morfologi normal spermatozoa tikus putih yang diinduksi gentamisin
3. Konsentrasi jus tomat 100% paling baik untuk meningkatkan persentase viabilitas dan jumlah morfologi normal spermatozoa tikus putih yang diinduksi gentamisin
5.2 Saran
63
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan waktu perlakuan yang disesuaikan dengan lamanya proses spermatogenesis tikus putih (48 hari). 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan jus tomat
DAFTAR PUSTAKA
Adawiah, Sukandar D, Muawannah A. 2015. Aktivitas antioksidan dan komponen bioaktif sari buah namnam. Jurnal Kimia Valensi.1(2): 130-136.
Akondi, R.B., A. Akula and S.R. Challa, 2011. Protective effects of rutin and naringin on gentamicin induced testicular oxidative stress. European Journal of General Medicine. 8(1): 57-64.
Apriora VD, Amir A, Khairsyaf O. 2015. Gambaran morfologi spermatozoa pada perokok sedang di lingkungan PE group yang datang ke bagian biologi fakultas kedokteran universitas andalas.Jurnal Kesehatan Andalas. 4(2): 425-429.
Balaswamy K, Rao PG, Yadav P, Rao G, Sulochanamma G, Satyanarayana A. 2015. Antioxidant activity of tomato (Lycopersicon esculentum L.) of low solublesolids and sevelopment of a shelf stable spread. International Journal of Food Science, Nutrition, and Dietetics.14(4): 202-207.
Cahyono B. 2008. Tomat Usaha Tani dan Penanganan Pasca Panen.Yogyakarta : Kanisius.
65
Dewi F. 2011. Jus dan puree tomat (Solanum lycopersicum) menurunkan persentase spermatozoa dengan morfologi abnormal pada mencit yang diberi pajanan asap rokok [skripsi]. Bandung:Universitas Kristen Maranatha.
Durairajanayagam D, Agarwal A, Ong C, Prashast P. 2014. Lycopene and male infertility. Asian Journal of Andrology. 420-425.
EAU. 2015. Guidelines on Male Infertility. Netherlands: European Association of Urology.
El-Maddawy Z. 2014. Modulation of gentamicin induced testicular and brain damage in rats. Global Journal of Pharmacology. 8(3): 284-293.
Eveline, Siregar TM, Sanny. 2014. Studi aktivitas antioksidan pada tomat
(Lycopersicon esculentum) konvensional dan organik selama penyimpanan.Prosiding SNST ke-5; 2014;Semarang. Indonesia. Semarang : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim.
Febriansah R, Indriyani L, Palupi KD, Ikawati M. 2012. Tomat (Solanum Lycopersicum L.) sebagai agen kemopreventif potensial. 1-8.
Fetouh FA, Azab AES. 2014. Ameliorating effects of curcumin and propolis against the reproductive toxicity of gentamicin in adult male guinea pigs : quantitative analysis and morphological study. American Journal of Life Science.2(3): 138-149.
Gerzsberg A, Hnatuszko-Konka K, Kowalczyk T, Kononowicz AK. 2014. Tomato
(Solanum lycopersicon L.) in the Service of Biotechnology, Plant Cell Tiss Organ Cult.
Guyton, A. C., Hall, J. E. 2014. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 12. Jakarta : EGC. Hlm. 973-976.
Hamada A, Esteves SC, Agarwal A. 2011. Unexplained male infertility : potential causes and management. Human Andrology. 1: 2-16.
Hekimoglu A, Kurcer Z, Aral F, Baba F, Sahna E, et al. Lycopene, an antioxidant carotenoid, attenuates testicular injury caused by ischemia/reperfusion in rats. Tohoku J Exp Med 2009. 218: 141–7.
Ikatan Ahli Urologi Indonesia. 2015. Panduan penanganan infertilitas pria (Guidelines on male infertility). Edisi ke-2. Jakarta : Ikatan Ahli Urologi Indonesia.
Kailaku IS, Dewandri KT, Sunarmani. 2007. Potensi likopen dalam tomat untuk kesehatan. Balai Besar Penelitian dan Pengembanan Pascapanen Pertanian. Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian. 3: 50-58.
Khaki, A., A.A. Khaki, S. Iraj, P. Bazi, S.A.M. Imani and H. Kachabi, 2009. Comparative study of aminoglycosides (gentamicin & streptomycin) and fluoroquinolone (ofloxacin) antibiotics on testis tissue in rats: light and transmission electron microscopic study. Pakistan Journal of Medical Sciences. 25(4): 624-629.
Ma’sum J, Isnaeni, Primaharinastiti R, Annuryati F. 2014. Perbandingan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Aseton Tomat Segar dan Pasta Tomat terhadap 1,1-Diphenyl-2-Picrylhidrazyl (Dpph). Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia.1(2): 59-62.
Mangiagalli MG, Martino PA, Smajlovic T, Guidobono Cavalchini L, Marelli SP. Effect of lycopene on semen quality, fertility and native immunity of broiler breeder. BrPoult Sci 2010. 51: 152–7.
67
Mescher, A.L. 2011. Histologi Dasar Junqueira. Teks dan Atlas. Edisi 12. Jakarta : EGC.
Narayana, K. 2008. An aminoglycocide antibiotic gentamicin induces oxidative stress, reduces antioxidant reserve and impairs spermatogenesis in rats. Journal of Toxicological Sciences. 33(1): 85-96.
National Center for Biotechnology Information : Open Chemistry Database. 2018.
Gentamicin. Compund Summary for CID 3467. [Diakses 12 Desember
2018]. Tersedia dari :
https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/gentamicin#section=Top
Nouri M, Khaki A, Azar FF, Rashidi MR. 2009. The protective effects of carrot seed extract on spermatogenesis and cauda epididymal sperm reserved in gentamicin treated rats.Yakhteh Medical Journal.11(3): 327-333.
Novita M, Satriana, Hasmarita, E. 2015. Kandungan likopen dan karotenoid buah tomat pada berbagai tingkat kematangan pengaruh pelapisan dengan kitosan dan penyimpanan. Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia. 7(1): 35-39.
Pangalila, F. 2012. Peranan aminoglikosid dalam mengatasi infeksi serius. Medicinus : Scientific Journal of Pharmaceutical Development and Medical Application.25(2): 5-12.
Pham-Huy LA, He H, Pham-Huy C. 2008. Free radicals, antioxidants in disease and health. International Jounal of Biomedical Science. 4(2): 89-96.
Ridhoila I, Yusrawati AA. 2017. Perbandingan kualitas spermatozoa pada analisis semen pria dari pasangan infertil dengan riwayat merokok dan tidak merokok. Jurnal Kesehatan Andalas. 6(2): 259-264.
Selamet RN, Sugito D. 2013. The effect of tomato extract (Lycopersicon esculantum)
Sharma A. 2017. Male infertility: evidences, risk factors, causes, diagnosis and management in human. Annals of Clinical and Laboratory Research. 5(3): 188.
Sherwood LZ. 2014. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 8. Jakarta: EGC. 792-794.
Sutyarso, Annida S, Kanedi M, Busman H, Nurcahyani N. 2018. Penurunan laju penuaan reproduksi mencit jantan (Mus musculus.Linn) dengan pemberian ekstrak jahe (ZIngiber officinale) dalam pakan. Jurnal Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati. 5(1) : 1-10.
Tortora GJ, Derrickson B. 2012. Principles of Anatomy & Physiology. 13th Edition. United States of America: John Wiley & Sons, Inc. 1043-1046.
Venkatesh S, Deecaraman M, Kumar R, Shamsi MB, Dada R. 2009. Role of reactive oxygen species in the pathogenesis of mitochondrial DNA (mtDNA) mutations in male fertility. Indian J Med Res.
Waljczak-Jedrzejowska R., Wolski JK, Slowikowska-Hilczer J. 2012. The role of oxidative stress and antioxidants in male fertility. Central European Journal of Urology. 60-67.
World Health Organization. 2010. WHO Laboratory Manual for the Examination of HumanSemen and Sperm-Cervical Mucus Interaction. 5th edn. Cambridge: Cambridge University Press.
Wulandari AS. 2009. Pengaruh tomat (Solanum lycopersicum L.) terhadap spermatogenesis dan kualitas spermatozoa Rattus norvegicus L. pasca pemberian nikotin [skripsi]. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
69
Yamamoto Y, Aizawa K, Mieno M, Karamatsu M, Hirano Y, et al. 2017. The effects of tomato juica on male infertility. Asia Pac J Clin Nutr. 26(1) : 65-71.
Zahedi A and Khaki A. 2014. Recovery effect of zingiber officinale on testis tissue after treatment with gentamicin in rats. Journal of Medicinal Plant Research. 8(6): 288-291.