PENGARUH ASAM HUMAT DAN PEMUPUKAN P TERHADAP RESPIRASI TANAH PADA PERTANAMAN JAGUNG
DI TANAH ULTISOLS
(Skripsi)
Oleh
ANDRI LUKMANSYAH
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Andri Lukmansyah
ABSTRAK
PENGARUH ASAM HUMAT DAN PEMUPUKAN P TERHADAP RESPIRASI TANAH PADA PERTANAMAN JAGUNG
DI TANAH ULTISOLS
Oleh
ANDRI LUKMANSYAH
Ultisols adalah salah satu jenis tanah yang memiliki masalah kemasaman tanah, bahan organik dan ketersediaan P. Upaya untuk meningkatkan kualitas tanah Ultisols adalah dengan menerapkan penggunaan pupuk P dengan bahan pembenah tanah. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh asam humat dan
pemupukan P terhadap respirasi tanah. Penelitian ini dilaksanakan dari Desember 2018 sampai Mei 2019 di Kebun Percobaan Badan Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP) Natar, menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu tanpa asam humat (H0), asam humat 15 kg ha-1(H1) dan asam humat 30 kg ha-1(H2). Faktor kedua yaitu tanpa pupuk TSP (P0), pupuk TSP 100 kg ha-1(P1), pupuk TSP 200 kg ha-1(P2) dan pupuk TSP 300 kg ha-1(P3). Data yang diperoleh diuji homogenitas ragamnya dengan uji Bartlett dan aditivitas data diuji dengan uji Tukey. Selanjutnya
Andri Lukmansyah dengan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi asam humat atau pemupukan P tidak mempengaruhi respirasi tanah pada semua pengamatan. Tidak terdapat korelasi antara pH tanah, C-organik tanah, kadar air tanah dan suhu tanah dengan respirasi tanah pada semua pengamatan. Uji T-student respirasi tanah di pertanaman jagung pada waktu pengamatan 7 HST berbeda nyata dengan 56 HST, 7 HST berbeda nyata dengan 99 HST, dan 56 HST berbeda nyata dengan 99 HST.
PENGARUH ASAM HUMAT DAN PEMUPUKAN P TERHADAP RESPIRASI TANAH PADA PERTANAMAN JAGUNG
DI TANAH ULTISOLS
Oleh
ANDRI LUKMANSYAH
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN
Pada
Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kahuripan Jaya, Kecamatan Banjar Baru, Kabupaten Tulang Bawang pada tanggal 22 Desember 1995 dan diberi nama Andri Lukmansyah. Penulis mengawali pendidikan formal di SD Negeri 1 Kahuripan Jaya pada tahun 2002 dan diselesaikan pada tahun 2008, melanjutkan di SMP Negeri 1 Banjar Agung pada tahun 2008 yang diselesaikan pada tahun 2011 dan masuk SMA Negeri 1 Pagar Dewa pada tahun 2011 yang diselesaikan pada tahun 2014. Pada pertengahan tahun 2014 penulis diterima di Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di organisasi Forum Studi Islam Fakultas Pertanian (FOSI FP) sebagai anggota Bidang Media periode kepengurusan 2015–
2016 dan pernah mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa Taekwondo. Pada tahun 2017 penulis melaksanakan Praktik Umum (PU) di PT Nusantara Tropical Farm, Lampung Timur selama 30 hari Kerja pada bulan Juli-Agustus 2017 dengan judul
PERSEMBAHAN
Dengan Mengharap Ridho dari Alloh SWT Kupersembahkan Karya ini Kepada:
Kedua Orang Tuaku Tercinta Bapak Masrowi dan Ibu Sumiyatin Sebagai Bukti Cinta dan Baktiku kepada Mereka Karena Telah Mendidikku
dengan Penuh Kasih Sayang
Almamater tercinta,
MOTTO
“Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah : 10)
“Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya
kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk : 15)
“Bertaqwalah kepada Alloh di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan
akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”
SANWACANA
Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah SWT, atas rahmat dan ridho-Nya
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Asam Humat dan Pemupukan P Terhadap Respirasi Tanah pada Pertanaman Jagung di Tanah Ultisols”. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rosululloh
sholollohu’alahi wasallamyang telah memberi teladan hidup yang baik untuk kita semua. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si. selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
2. Ibu Prof. Dr. Ir. Sri Yusnaini, M.Si. selaku Ketua Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
3. Ibu Prof. Dr. Ir. Ainin Niswati, M.S., M.Agr.Sc. selaku pembimbing pertama atas ide penelitian, bimbingan, saran, serta kesabaran dalam memberikan bimbingannya kepada penulis.
4. Bapak Dr. Ir. Henrie Buchari, M.Si. selaku pembimbing kedua atas bimbingan, saran, nasihat-nasihat, serta kesabaran dalam memberikan bimbingannya kepada penulis.
6. Bapak dan ibu dosen Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung yang telah membimbing penulis dalam pembelajaran di Universitas Lampung.
7. Almamaterku tercinta Universitas Lampung.
8. Kedua Orang Tuaku tercinta Bapak Masrowi dan Ibu Sumiyatin, serta kedua adikku Vita Nurhasanah dan Noval Arsyad Syagufta yang saya banggakan. 9. Sahabat–sahabatku Kaffah Generation (Amirul, Andi, Gilang, Irwan, Sirot,
Ricky, Mayhendra, Salim, Wiko), Keluarga Besar Pesantren Mahasiswa Al-Huda, MPI Lampung atas banyak hal yang telah kalian berikan selama ini. 10. Teman-teman lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Terima kasih telah
menghadirkan warna dalam hidupku.
11. Kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini.
Penulis berdoa semoga semua amal dan bantuan yang telah diberikan mendapat pahala dari Allah SWT dan semoga skripsi ini bermanfaat. Aamiin.
Bandar Lampung, 03 Februari 2020 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... iii
DAFTAR GAMBAR ... viii
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Penelitian ... 4
1.3 Kerangka Pemikiran ... 5
1.4 Hipotesis ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanah Ultisols ... 10
2.2 Tanaman Jagung (Zea mays L.) ... 11
2.3 Pupuk P (Phosphate) ... 11
2.4 Asam Humat dan Peranannya untuk Tanah... 13
2.5 Respirasi Tanah... 16
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat ... 18
3.2 Bahan dan Alat... 18
3.3 Metode Penelitian ... 19
3.4 Pelaksanaan Penelitian... 20
3.4.1 Persiapan Lahan... 20
3.4.2 Aplikasi Asam Humat dan Penanaman ... 21
3.4.3 Pemeliharaan Tanaman ... 22
3.4.4 Panen ... 23
3.4.5 Analisis Tanah ... 23
3.5 Variabel Pengamatan ... 24
3.5.1 Variabel Utama... 24
3.5.2 Variabel Pendukung ... 26
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 28
4.1.2 Pengaruh Aplikasi Asam Humat dan Pemupukan P terhadap Kadar Air, C-Organik, Suhu dan pH Tanah
pada Pertanaman Jagung (Zea mays L.) ... 30
4.1.3 Korelasi antara C-organik, Kadar Air, Suhu, dan pH Tanah dengan Respirasi Tanah... 36
4.2 Pembahasan... 36
V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 41
5.2 Saran ... 41
DAFTAR PUSTAKA ... 42
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Analisis tanah awal BPTB Natar ... 23 2. Ringkasan analisis ragam pengaruh aplikasi asam humat dan
pemupukan P terhadap respirasi tanah pada pengamatan 7 HST,
56 HST dan 99 HST pada pertanaman jagung (Zea mays L.) ... 29 3. Ringkasan uji T-student respirasi tanah di pertanaman jagung
pada waktu pengamatan yang berbeda... 30 4. Ringkasan analisis ragam pengaruh aplikasi asam humat dan
pemupukan P terhadap suhu tanah pada pengamatan 7 HST, 56
HST dan 99 HST di pertanaman jagung (Zea mays L.)... 31 5. Ringkasan analisis ragam pengaruh aplikasi asam humat dan
pemupukan P terhadap kadar air tanah pada pengamatan 7 HST,
56 HST dan 99 HST di pertanaman jagung (Zea mays L.)... 32 6. Pengaruh aplikasi asam humat terhadap kadar air tanah (%) pada
pertanaman jagung (Zea mays L.) pengamatan 56 HST... 33 7. Ringkasan analisis ragam pengaruh aplikasi asam humat dan
pemupukan P terhadap pH tanah pada pengamatan 7 HST, 56 HST
dan 99 HST di pertanaman jagung (Zea mays L.) ... 35 8. Pengaruh aplikasi pemupukan P terhadap pH tanah pada pertanaman
jagung (Zea mays L.) pengamatan 99 HST ... 35 9. Ringkasan analisis ragam pengaruh aplikasi asam humat dan
pemupukan P terhadap C-organik tanah (%) pada pengamatan 7
HST, 56 HST dan 99 HST di pertanaman jagung (Zea mays L.) ... 35 10. Uji korelasi antara C-organik tanah, kadar air tanah, suhu tanah,
dan ph tanah dengan respirasi tanah ... 36 11. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap respirasi tanah
12. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap respirasi tanah C-CO2(mg jam-1m-2) pada pengamatan
vegetatif awal ... 47 13. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap respirasi tanah C-CO2(mg jam-1m-2) pada pengamatan
vegetatif awal ... 48 14. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap respirasi
tanah C-CO2(mg jam-1m-2) pada pengamatan vegetatif
maksimum... 48 15. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap respirasi tanah C-CO2(mg jam-1m-2) pada pengamatan
vegetatif maksimum... 49 16. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap respirasi tanah C-CO2(mg jam-1m-2) pada pengamatan
vegetatif maksimum... 49 17. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap respirasi tanah
C-CO2(mg jam-1m-2) pada pengamatan sebelum panen... 50 18. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap respirasi tanah C-CO2(mg jam-1m-2) pada pengamatan
sebelum panen... 50 19. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap respirasi tanah C-CO2(mg jam-1m-2) pada pengamatan
sebelum panen... 51 20. Pengaruh asam humat dan pemupukan p terhadap suhu tanah (oC)
pada pengamatan vegetatif awal ... 51 21. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap suhu tanah (oC) pada pengamatan vegetatif awal... 52 22. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap suhu tanah (oC) pada pengamatan vegetatif awal... 52 23. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap suhu tanah (oC)
pada pengamatan vegetatif maksimum ... 53 24. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap suhu tanah (oC) pada pengamatan vegetatif maksimum ... 53 25. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
v 26. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap suhu tanah (oC)
pada pengamatan sebelum panen... 54 27. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap suhu tanah (oC) pada pengamatan sebelum panen ... 55 28. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap suhu tanah (oC) pada pengamatan sebelum panen ... 55 29. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap kadar air
tanah (%) pada pengamatan vegetatif awal... 56 30. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap kadar air tanah (%) pada pengamatan vegetatif awal... 56 31. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap kadar air tanah (%) pada pengamatan vegetatif awal... 57 32. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap kadar air
tanah (%) pada pengamatan vegetatif maksimum ... 57 33. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap kadar air tanah (%) pada pengamatan vegetatif
maksimum... 58 34. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap kadar air tanah (%) pada pengamatan vegetatif
maksimum... 58 35. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap kadar air
tanah (%) pada pengamatan sebelum panen ... 59 36. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap kadar air tanah (%) pada pengamatan sebelum panen ... 59 37. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap kadar air tanah (%) pada pengamatan sebelum panen ... 60 38. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap pH tanah
pada pengamatan vegetatif awal ... 60 39. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap pH tanah pada pengamatan vegetatif awal ... 61 40. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
41. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap pH Tanah
pada pengamatan vegetatif maksimum ... 62 42. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap pH tanah pada pengamatan vegetatif maksimum... 62 43. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap pH tanah pada pengamatan vegetatif maksimum... 63 44. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap pH tanah
pada pengamatan sebelum panen... 63 45. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap pH tanah pada pengamatan sebelum panen... 64 46. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap pH tanah pada pengamatan sebelum panen... 64 47. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap C-organik
tanah (%) pada pengamatan vegetatif awal... 65 48. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap C-organik tanah (%) pada pengamatan vegetatif awal... 65 49. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap C-organik tanah (%) pada pengamatan vegetatif awal... 66 50. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap C-organik
tanah (%) pada pengamatan vegetatif maksimum ... 66 51. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap C-organik tanah (%) pada pengamatan vegetatif
maksimum... 67 52. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap C-organik tanah (%) pada pengamatan vegetatif
maksimum... 67 53. Pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap C-organik tanah
(%) pada pengamatan sebelum panen... 68 54. Uji homogenitas ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap C-organik tanah (%) pada pengamatan sebelum panen ... 68 55. Hasil analisis ragam pengaruh asam humat dan pemupukan P
vii 56. Hasil analisis ragam uji korelasi antara suhu tanah (oC) dengan
respirasi tanah pada pengamatan vegetatif awal ... 69 57. Hasil analisis ragam uji korelasi antara suhu tanah (oC) dengan
respirasi tanah pada pengamatan vegetatif maksimum... 69 58. Hasil analisis ragam uji korelasi antara suhu tanah (oC) dengan
respirasi tanah pada pengamatan sebelum panen... 70 59. Hasil analisis ragam uji korelasi antara kadar air tanah (%)
dengan respirasi tanah pada pengamatan vegetatif awal ... 70 60. Hasil analisis ragam uji korelasi antara kadar air tanah (%)
dengan respirasi tanah pada pengamatan vegetatif maksimum ... 70 61. Hasil analisis ragam uji korelasi antara kadar air tanah (%)
dengan respirasi tanah pada pengamatan sebelum panen ... 71 62. Hasil analisis ragam uji korelasi antara pH tanah dengan
respirasi tanah pada pengamatan vegetatif awal ... 71 63. Hasil analisis ragam uji korelasi antara pH tanah dengan
respirasi tanah pada pengamatan vegetatif maksimum... 71 64. Hasil analisis ragam uji korelasi antara pH Tanah (oC) dengan
respirasi tanah pada pengamatan sebelum panen... 72 65. Hasil analisis ragam uji korelasi antara C-organik tanah (%)
dengan respirasi tanah pada pengamatan vegetatif awal ... 72 66. Hasil analisis ragam uji korelasi antara C-organik tanah (%)
dengan respirasi tanah pada pengamatan vegetatif maksimum ... 72 67. Hasil analisis ragam uji korelasi antara C-organik tanah (%)
dengan respirasi tanah pada pengamatan sebelum panen ... 72 68. Uji T-student pengaruh aplikasi asam humat dan pemupukan P
terhadap respirasi tanah pada pertanaman jagung (Zea mays L.)
pengamatan 7 HST VS 56 HST ... 73 69. Uji T-student pengaruh aplikasi asam humat dan pemupukan P
terhadap respirasi tanah pada pertanaman jagung (Zea mays L.)
pengamatan 7 HST VS 99 HST ... 74 70. Uji T-student pengaruh aplikasi asam humat dan pemupukan P
terhadap respirasi tanah pada pertanaman jagung (Zea mays L.)
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Skema kerangka pemikiran pengaruh asam humat dan pemupukan P
terhadap respirasi tanah pada pertanaman jagung di tanah Ultisols ... 9 2. Fraksionasi bahan organik tanah berdasarkan ekstraksi kimia ... 14 3. Struktur kimia asam humat ... 15 4. Reaksi kimia proses respirasi akar tumbuhan dan mikroorganisme
tanah ... 17 5. Tata letak percobaan aplikasi asam humat dan pemupukan P
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran dan penopang tegak tumbuhnya tanaman serta penyuplai kebutuhan air dan udara. Secara biologis tanah berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berperan aktif dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman sehingga mampu menunjang produktivitas tanah untuk
menghasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan (Hanafiah, 2007).
2
Pembenah tanah merupakan suatu bahan yang dapat digunakan untuk
mempercepat pemulihan atau perbaikan kualitas tanah. Hasil penelitian Dariah dkk. (2010) menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan formula pembenah tanah berpengaruh nyata terhadap aktivitas mikroorganisme tanah, seperti ditunjukkan oleh perbedaan nyata hasil pengukuran respirasi tanah. Formula pembenah tanah dengan proporsi bahan organik yang lebih tinggi, lebih efektif dalam memperbaiki sifat fisik tanah. Selain itu, pemberian pembenah tanah (zeolit) dengan proporsi 20% juga dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah, namun jika proporsi zeolit dinaikkan sampai 30%, aktivitas mikroorganisme menurun. Hal ini menunjukkan bahwa, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik diperlukan formula dan teknik (dosis dan tahap) aplikasi pembenah tanah yang efektif dalam meningkatkan kualitas tanah.
Asam humat merupakan salah satu pembenah tanah yang digunakan dalam bidang pertanian karena dapat berpengaruh secara langsung maupun secara tidak
3
Selain itu, kombinasi perlakuan asam humat dan pupuk P yang diberikan ke tanah diharapkan dapat mempengaruhi kehidupan di dalam tanah, salah satunya adalah mikroorganisme tanah. Secara biologi, mikroorganisme tanah berperan aktif dalam memperbaiki tingkat kesuburan tanah. Tingkat aktivitas mikroorganisme yang ada di dalam tanah dapat diketahui dari laju respirasi tanah. Menurut Haney dkk. (2008) respirasi tanah adalah salah satu aspek penting dari kualitas tanah dan indikator kesuburan tanah.
Respirasi tanah merupakan salah satu indikator dari aktivitas biologi tanah seperti mikroba, akar tanaman atau kehidupan lain yang ada di dalam tanah. Respirasi tanah adalah proses evolusi CO2dari tanah ke atmosfer, terutama yang dihasilkan oleh aktivitas mikroorganisme tanah dan akar tanaman. Pada aktivitas
mikroorganisme tanah menunjukkan bahwa prinsip dari penetapan respirasi tanah yaitu penggunaan O2dan pembebasan CO2oleh mikroorganisme tanah (Widati, 2007).
4
dalam pemberian asam humat dan pemupukan P (Phosphate) yang akan diukur laju respirasi tanahnya.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka penelitian ini dilakukan untuk menjawab rumusan masalah yaitu sebagai berikut:
1. Apakah aplikasi asam humat dapat meningkatkan respirasi tanah pada pertanaman jagung (Zea mays L.) di tanah Ultisols?
2. Apakah pemupukan P dapat meningkatkan respirasi tanah pada pertanaman jagung (Zea mays L.) di tanah Ultisols?
3. Apakah terdapat pengaruh interaksi antara aplikasi asam humat dan
pemupukan P terhadap respirasi tanah pada pertanaman jagung (Zea mays L.) di tanah Ultisols?
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mempelajari pengaruh aplikasi asam humat terhadap respirasi tanah pada pertanaman jagung (Zea mays L.) di tanah Ultisols.
2. Mempelajari pengaruh pemupukan P terhadap respirasi tanah pada pertanaman jagung (Zea mays L.) di tanah Ultisols.
5
1.3 Kerangka Pemikiran
Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan udara. Salah satu jenis tanah di Indonesia yaitu ultisols yang mempunyai sebaran luas mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luasan daratan di Indonesia. Ultisols merupakan salah satu tanah yang memiliki masalah keasaman tanah, bahan organik dan nutrisi makro rendah dan memiliki ketersediaan P sangat rendah (Fitriatin dkk., 2014).
Tanah juga sebagai tempat tinggal dan hidup berbagai mikroorganisme tanah. Mikroorganisme tanah adalah salah satu faktor penting dalam ekosistem tanah, karena berpengaruh terhadap siklus dan ketersediaan hara tanaman serta stabilitas struktur hara. Hasil penelitian Dariah dkk. (2010) menunjukkan bahwa semakin tinggi mikroorganisme tanah maka kualitas tanah juga akan semakin baik. Untuk mengetahui aktivitas atau tingkat mikroorganisme tanah dapat dilakukan dengan mengukur laju respirasi tanahnya.
6
Penambahan pupuk dapat menyediakan kebutuhan nutrisi dan unsur hara yang di butuhkan oleh tanaman. Secara umum, dikenal dua jenis pupuk yang biasa digunakan oleh petani yaitu pupuk organik maupun anorganik. Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat secara kimia di pabrik seperti Urea, SP36, TSP, KCl dan lain-lain. Manfaat dari penggunaan pupuk anorganik dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara dan produktivitas tanaman. Namun penggunaan pupuk anorganik (pupuk kimia) secara terus-menerus akan mempercepat kerusakan tanah, menurunkan kualitas tanah dan kesehatan lingkungan. Untuk itu
penggunaan pupuk anorganik (pupuk kimia) secara bijaksana sangat diperlukan guna memberikan dampak positif pada lahan dimasa depan. Tidak hanya pada kondisi lahan dan hasil panen, tetapi juga untuk menjaga kelestarian lingkungan (Musnamar, 2005).
Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas tanah yaitu dengan menerapkan penggunaan pupuk P dengan salah satu bahan pembenah tanah (asam humat). Hasil penelitian Hermanto dkk. (2013) menunjukkan bahwa aplikasi asam humat dosis 20 kg ha-1yang dikombinasikan dengan pupuk P dosis 100% memberikan kandungan P-tersedia lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa aplikasi asam humat. Kondisi tanah yang demikian mendukung terciptanya lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme tanah. Sehingga mikroorganisme tanah meningkat yang menjadikan respirasi tanah juga akan meningkat.
7
tumbuhan serta telah mengalami perombakan oleh organisme yang ada di dalam lapisan tanah. Selain itu, asam humat yang diaplikasikan pada tanaman padi juga dapat memperbaiki perkembangan akar dan serapan unsur hara, sehingga
meningkatkan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah anakan total dan jumlah anakan produktif (Suwardi dkk, 2009 dan Ruhaimah dkk., 2009).
Penggunaan asam humat merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Pemberian asam humat ke dalam tanah akan memberikan beberapa manfaat. Turan dkk. (2011) menyatakan bahwa asam humat sebagai pelengkap pupuk dapat meningkatkan pemanfaatan pupuk dan meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah dengan kadar garam tinggi (soil-salinity condition). Asam humat sebagai komponen utama bahan organik tanah juga mempunyai pengaruh secara langsung maupun tidak langsung. Sangeetha dkk., (2006) menyatakan bahwa pengaruh tersebut meliputi
peningkatan sifat-sifat tanah seperti agregasi, aerasi, permeabilitas, kapasitas menahan air, transport dan ketersediaan mikronutrien.
8
Keberadaan mikroorganisme yang ada di dalam tanah dapat digunakan sebagai indikator dari kesuburan tanah. Aktivitas mikroorganisme tanah yang tinggi dapat ditemukan di tanah yang memilik sifat-sifat yang sesuai untuk mikroorganisme tanah tersebut dapat berkembang dan aktif. Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap keberadaan mikroorganisme dalam tanah yaitu suhu tanah, kadar air tanah, kandungan C-organik tanah, serta pH tanah.
1.4 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
1. Aplikasi asam humat dapat meningkatkan respirasi tanah pada pertanaman jagung (Zea mays L.) di tanah Ultisols.
2. Pemupukan P dapat meningkatkan respirasi tanah pada pertanaman jagung (Zea mays L.) di tanah Ultisols.
9
Gambar 1. Skema kerangka pemikiran pengaruh asam humat dan pemupukan P terhadap respirasi tanah pada pertanaman jagung di tanah ultisols.
Tanah
Ultisols
Pemupukan Bahan Pembenah Tanah
Meningkatkan produktifitas tanaman
Meningkatkan kandungan P-tersedia
Meningkatkan pemanfaatan pupuk dan pertumbuhan tanaman jagung (Turan, dkk., 2011).
Meningkatkan serapan unsur hara oleh tanaman.
Asam Humat
Fisik Tanah Kimia Tanah
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanah Ultisols
Ultisols merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang mempunyai sebaran luas mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luasan daratan di
Indonesia. Ultisols merupakan salah satu tanah yang memiliki masalah keasaman tanah, bahan organik dan nutrisi makro rendah dan memiliki ketersediaan P sangat rendah (Fitriatin dkk., 2014). Soepraptohardjo (1961) melaporkan bahwa
karakteristik tanah ultisols yaitu mempunyai kemasaman tanah yang tergolong tinggi (pH 3,5–5,5), kandungan bahan organik kurang dari 2%, jenis liat dominan adalah kaolinit dan gibsit, kapasitas tukar kation (KTK) rendah sampai tinggi tergantung pada tekstur dan mineral liat, kandungan hara terutama N, P, K dan Ca rendah.
11
2.2 Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Jagung merupakan salah satu sumber bahan pangan pokok bagi sebagian masyarakat Indonesia selain padi atau beras. Jagung mempunyai kandungan karbohidrat yang cukup tinggi mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji jagung. Karbohidrat itulah yang dapat menambah asupan kalori pada tubuh manusia, yang merupakan sumber tenaga sehingga jagung dijadikan sebagai bahan makanan pokok (Mubyarto, 2002). Tanaman jagung dapat ditanam dilahan kering dengan jenis tanah ultisols yang rata-rata kesuburan tanahnya rendah.
Tanaman jagung ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah hingga di daerah dataran tinggi (pegunungan) yang memiliki ketinggian antara 1000 sampai 1800 mdpl. Sedangkan daerah yang optimum untuk pertumbuhan tanaman jagung adalah antara 0 sampai 600 mdpl (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Tanaman jagung juga membutuhkan penyinaran matahari yang penuh untuk tumbuh optimal. Suhu optimum yang dikehendaki antara 21-34oC. Curah hujan yang ideal untuk tanaman jagung berkisar antara 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Jika
ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).
2.3 Pupuk P (Phosphate)
12
dalam keadaan faktor lingkungan yang baik. Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari bahan baku yang sebagian besar atau keseluruhan berasal dari bahan-bahan organik, baik tumbuhan maupun hewan yang telah melalui proses rekayasa yang kemudian menjadi hara tersedia bagi tanaman (Suwahyono, 2011). Pupuk organik mengandung unsur hara makro dalam jumlah yang relatif sedikit dan unsur hara mikro dalam jumlah yang cukup untuk pertumbuhan tanaman. Unsur hara tersebut dilepaskan oleh bahan organik secara perlahan-lahan melalui proses mineralisasi (Sutanto, 2002). Oleh karena itu, apabila pupuk organik diberikan secara berkelanjutan ke dalam tanah, maka akan meningkatkan kesuburan tanah.
Pupuk anorganik (pupuk kimia) adalah pupuk yang dibuat di pabrik secara kimia misalnya Urea, NPK, TSP, dan KCl. Pupuk anorganik umumnya memiliki kandungan unsur hara yang tinggi, praktis dalam pemakaian dan mudah dalam menentukan dosisnya. Kekurangan penggunaan pupuk anorganik (pupuk kimia) secara terus menerus dengan dosis yang berlebihan dalam jangka panjang dapat menurunkan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (Lingga dan Marsono, 2001). Oleh karena itu, untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas tanah diperlukan kombinasi pupuk anorganik dengan pupuk organik yang tepat (Isnaini, 2006).
Tanaman akan tumbuh baik jika semua unsur hara yang di butuhkan tanaman berada dalam jumlah yang cukup serta berada dalam bentuk yang siap di absorbsi oleh tanaman (Hatta dan Nurhayati, 2006). Secara umum tanaman dalam
13
secara tidak langsung dapat menciptakan suatu kondisi lingkungan pertumbuhan tanaman yang lebih baik dengan meningkatkan ketersediaan hara makro maupun mikro untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Fosfat (P) merupakan unsur hara esensial yang di butuhkan tanaman setelah N yang berperan penting dalam proses fotosintesis untuk mengkonversi energi matahari menjadi energi kimia (ATP) (Suwahyono, 2011). Menurut Hasibuan dkk. (2012) bahwa semakin banyak P yang diserap tanaman maka semakin banyak pula ATP yang terbentuk dimana ATP dibutuhkan dalam proses
pembelahan sel sehingga berpengaruh dalam peningkatan pertumbuhan tanaman.
2.4 Asam Humat dan Peranannya untuk Tanah
14
Gambar 2. Fraksionasi bahan organik tanah berdasarkan ekstraksi kimia (Stevenson dan Cole, 1999).
Asam humat adalah zat organik yang memiliki struktur molekul kompleks dengan berat molekul tinggi (makromolekul) atau dapat disebut sebagai polimer organik yang mengandung gugus aktif. Asam humat merupakan hasil akhir dari proses dekomposisi bahan organik. Asam humat dapat mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan tanaman. Secara tidak langsung asam humat dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, sedangkan secara langsung asam humat berperan dalam proses metabolisme tanaman (Tan, 1991). Menurut Heil (2005), pemberian asam humat secara langsung mampu meningkatkan proses metabolisme dalam tanaman melalui peningkatan laju fotosintesis tanaman. Ferrara dan Brunetti (2010) menambahkan bahwa
peningkatan laju fotosintesis disebabkan oleh meningkatnya kandungan klorofil di daun.
Karbon Organik Tanah
Substansi Humus
Fraksionasi berdasarkan kelarutan senyawa organik
Terlarut dalam basa Tidak larut dalam asam
Tidak larut dalam basa Tidak larut dalam asam Terlarut dalam basa
Terlarut dalam asam
Asam Humik Humin
Asam Fulvat
Peningkatan berat molekul 300,000 2000
Peningkatan kandungan C 62%
45%
Peningkatan kandungan N 5%
15
[image:35.595.125.508.363.491.2]Asam humat termasuk ke dalam kelompok asam organik yang telah terhumifikasi seperti asam fulvat, asam himatomelanik, dan humin. Gugus fungsional asam humat antara lain–COOH,–OH fenolat maupun–OH alkoholat (Setyowati dan Ulfin, 2007). Karakteristik dan muatan dari bahan humat tergantung pada tingkat disosiasi dari gugus karboksil dan hidroksil fenoliknya. Molekul humat bersifat sebagai polielektrolit bermuatan negatif pada pH >3,0. Pada pH 11,0 asam humat dapat mengkhelat dua kali lebih banyak jumlah logam daripada pada pH 7,0 dikarenakan disosiasi sempurna pada pH 11,0 dan pada kondisi tersebut muatan negatif dan pengkelatan meningkat (Tan, 1986).
Gambar 3. Struktur kimia asam humat (Stevenson, 1982).
16
yang lebar, 2) fraksi humat mempunyai muatan negatif yang berasal dari disosiasi ion H dari berbagai gugus fungsional, yang menyebabkan fraksi humat
mempunyai KTK sangat tinggi, 3) fraksi humat dapat menyediakan unsur hara seperti N,P,K dan S kedalam tanah serta C sebagai sumber energi bagi mikrobia tanah (Hermanto dkk., 2013).
Penggunaan asam humat merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Pemberian asam humat ke dalam tanah akan memberikan beberapa manfaat. Turan dkk. (2011) menyatakan bahwa asam humat sebagai pelengkap pupuk dapat meningkatkan pemanfaatan pupuk dan meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah dengan kadar garam tinggi (soil-salinity condition).
2.5 Respirasi Tanah
Respirasi adalah suatu proses biologis, yaitu oksigen diserap untuk digunakan pada proses pembakaran (oksidatif) yang menghasilkan energi diikuti oleh pengeluaran sisa pembakaran berupa gas karbondioksida dan air. Substrat yang paling banyak diperlukan tanaman untuk proses respirasi dalam jaringan tanaman adalah karbohidrat dan asam-asam organik bila dibandingkan dengan lemak dan protein. Respirasi dapat dibedakan dalam tiga tingkat : (a) pemecahan
polisakarida menjadi gula sederhana, (b) oksidasi gula menjadi asam piruvat dan (c) transformasi piruvat dan asam-asam organik secara aerobic menjadi
17
Gambar 4. Reaksi kimia proses respirasi akar tumbuhan dan mikroorganisme tanah.
Respirasi tanah merupakan salah satu indikator dari aktivitas biologi tanah seperti mikroba, akar tanaman atau kehidupan lain yang ada didalam tanah. Respirasi tanah adalah CO2yang dikeluarkan dari tanah keatmosfer akibat dari aktivitas mikroorganisme dalam tanah. Prinsip dari pengukuran respirasi tanah
berdasarkan penggunaan O2dan pembebasan CO2oleh mikroorganisme tanah. Menurut Saraswati dkk. (2007), kadar CO2yang di ukur pada respirasi tanah merupakan hasil dari respirasi mikroorganisme tanah, fauna tanah, akar tanaman dan produksi CO2abiotik.
Pengukuran respirasi tanah yang dilakukan di laboratorium yaitu berdasarkan penetapan CO2yang dihasilkan dari sejumlah contoh tanah yang diinkubasi dalam jangka waktu tertentu. Pada pengukuran respirasi tanah, larutan KOH yang di gunakan berfungsi sebagai penangkap CO2yang dilepaskan dari tanah ke atmosfer, kemudian dititrasi dengan HCl. Jumlah HCl yang diperlukan untuk titrasi setara dengan jumlah CO2yang dihasilkan (Saraswati dkk., 2007).
Tingkat populasi dan beragamnya mikroorganisme dapat ditemukan di dalam tanah yang memiliki sifat fisik dan kimia yang sesuai untuk kehidupan
mikroorganisme tanah. Beberapa mikroorganisme tanah yang berperan dalam proses dekomposisi bahan organik yaitu jamur, bakteri, aktinomicetes, serta fauna tanah seperti protozoa, nematoda, Collembola, dan cacing tanah (Atmojo, 2003).
C6H12O6+ 6O2 6H2O + 6CO2+ Energy
III. BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2018 sampai dengan Mei 2019 di Kebun Percobaan Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Natar dan analisis tanah dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu benih jagung, asam humat, pupuk Urea, TSP, KCL, pestisida. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan untuk analisis laboratorium terdiri dari larutan KOH 0,1 N, indikator penolphtalein, HCL 0,1 N, indikator metyl orange, aquades, serta bahan lain untuk analisis pH tanah dan C-organik tanah.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu cangkul, hand sprayer, botol film, timbangan analitik, termometer tanah, aluminium foil, plastik, labu
19
3.3 Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan dua faktor dan diulang sebanyak 3 kali sebagai kelompok. Faktor pertama adalah aplikasi asam humat (H), yaitu tanpa aplikasi asam humat (H0), aplikasi asam humat 15 kg ha-1(H1) dan aplikasi asam humat 30 kg ha-1(H2). Faktor kedua adalah pemupukan P yang dibagi menjadi 4 taraf yaitu tanpa pupuk TSP (P0), pupuk TSP 100 kg ha-1(P1), pupuk TSP 200 kg ha-1(P2) dan pupuk TSP 300 kg ha-1(P3).
Berdasarkan kedua faktor perlakuan, maka diperoleh 12 kombinasi perlakuan yaitu sebagai berikut :
H0P0 = tanpa aplikasi asam humat + tanpa aplikasi pupuk TSP (kontrol) H0P1 = tanpa aplikasi asam humat + TSP 100 kg ha-1
H0P2 = tanpa aplikasi asam humat + TSP 200 kg ha-1 H0P3 = tanpa aplikasi asam humat + TSP 300 kg ha-1
H1P0 = aplikasi asam humat 15 kg ha-1+ tanpa aplikasi pupuk TSP H1P1 = aplikasi asam humat 15 kg ha-1+ TSP 100 kg ha-1
20
Setiap perlakuan di atas diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 36 satuan percobaan.
Data yang diperoleh dilakukan uji homogenitas ragam dengan uji Bartlett dan aditifitas data diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi maka akan dilakukan analisis ragam. Selanjutnya dilakukan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Untuk mengetahui hubungan antara C-organik tanah, pH tanah, kadar air tanah, dan suhu tanah dengan respirasi tanah maka dilakukan Uji korelasi.
3.4 Pelaksanaan Penelitian 3.4.1 Persiapan Lahan
21
Gambar 5. Tata letak percobaan aplikasi asam humat dan pemupukan P terhadap respirasi tanah.
3.4.2 Aplikasi Asam Humat dan Penanaman
Asam humat diaplikasikan ke lahan percobaan dengan dosis 15 kg ha-1(18 g petak-1) dan 30 kg ha-1(36 g petak-1). Aplikasi asam humat dilakukan sebanyak 3 kali yaitu setelah olah tanah, vegetatif awal dan vegetatif maksimum, sehingga dosis asam humat yang digunakan tiap kali aplikasi adalah 5 kg ha-1(6 g petak-1) dan 10 kg ha-1(12 g petak-1). Asam humat yang digunakan yaitu merek dagang SMICyang dilarutkan dalam air dengan perbandingan 1:75 atau sesuai dengan petunjuk penggunaan yang tertera pada label kemasan. Dosis yang digunakan yaitu 6 g petak-1dilarutkan dalam 450 ml air. Selanjutnya, untuk dosis asam
H1P0 H1P2
H2P0 H0P0
H2P2 H0P1
H1P2 H2P1
H0P1 H1P1
H0P0 H1P3
H0P1 H1P0
H0P0 H1P2
H2P2 H0P3
50 cm
1 m S
U 50 cm
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
H1P3 H0P2
H2P1 H0P3
H1P1 H2P3
H2P3 H2P2
H0P3 H1P0
H0P2 H2P0
H2P3 H2P0
H1P1 H1P3
22
humat 12 g petak-1dilarutkan dalam 900 ml air. Aplikasi asam humat dilakukan dengan menggunakan hand sprayer yang disemprotkan ke permukaan tanah.
Penanaman dilakukan dengan menggunakan alat tugal sedalam 3 cm dengan jarak tanam 25 x 75 cm dan diberi 2 butir benih tiap lubang tanam. Pada 7 HST
dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk Urea dan KCl yang masing-masing di aplikasikan sebanyak 200 kg ha-1sebagai pupuk dasar. Pupuk TSP di aplikasikan pada saat yang sama dengan cara membuat garis sedalam 2-3 cm disekitar tanaman kemudian ditutup dengan tanah. Setelah tanaman berumur 10 hari, tanaman disisakan satu tanaman pada tiap lubang tanam. Untuk mencegah benih jagung dimakan oleh semut, maka diberikan Furadan secukupnya di sekitar lubang tanam. Jika ada benih jagung yang tidak tumbuh maka dilakukan
penyulaman. Penyulaman dilakukan satu minggu setelah tanam apabila ada benih jagung yang tidak tumbuh.
3.4.3 Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman jagung meliputi pemupukan, penyiraman, dan penyiangan gulma. Pemupukan bertujuan supaya tanaman mendapatkan kebutuhan hara yang cukup. Pemberian pupuk dilakukan sesuai dengan dosis pemupukan yang
23
dilapangan. Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan pestisida apabila tampak gejala serangan pada tanaman jagung.
3.4.4 Panen
Panen jagung dilakukan apabila sebagian besar kelobot pada tanaman mulai kering dan berwarna kuning yaitu sekitar 99 hari setelah tanam. Panen dilakukan dengan cara manual yaitu dengan memetik tongkol jagung dan memasukkannya ke dalam karung. Jagung yang telah dipanen, dikeringkan dengan cara manual yaitu dijemur dibawah sinar matahari. Setelah tongkol jagung kering, jagung dipipil dengan tangan.
3.4.5 Analisis Tanah
[image:43.595.113.511.595.718.2]Analisis tanah yang akan dilakukan adalah kadar air tanah, C-organik, dan pH tanah yang dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Sedangkan pengukuran suhu tanah akan dilaksanakan dilahan percobaan dengan menggunakan alat termometer tanah. Analisis tanah awal dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Analisis tanah awal BPTB Natar
Variabel Nilai Pengukuran Kriteria
N-total (%) 0,10 Rendah
P-tersedia (ppm) 5,17 Rendah
Kdd (me/100 g) 0,15 Rendah
C-organik (%) 0,99 Sangat Rendah
pH (H20) 4,57 Masam
24
3.5 Variabel Pengamatan 3.5.1 Variabel Utama
Variabel utama pada penelitian ini adalah laju Respirasi Tanah dengan Metode Verstreate yang dimodifikasi (Anas, 1989). Pengukuran respirasi tanah di lapang dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada saat fase vegetatif awal, vegetatif
maksimum, dan pada saat sebelum panen. Pengukuran laju respirasi tanah dilakukan di antara baris tanaman jagung pada pagi hari mulai pukul 08.00 WIB dan sore hari mulai pukul 15.00 WIB.
Langkah yang dilakukan dalam pengamatan sampel untuk pengukuran CO2atau respirasi tanah di lapangan yaitu botol film yang berisi 10 ml larutan KOH 0,1N di letakkan di atas permukaan tanah terbuka pada setiap petak percobaan. Botol film tersebut ditutup dengan toples penyungkup kemudian penyungkup tersebut di benamkan kedalam tanah sekitar 1 cm dan pinggirnya dibumbun dengan tanah agar tidak ada gas CO2yang keluar. Pengukuran respirasi tanah ini dilakukan selama 2 jam. Setelah 2 jam, penyungkup tersebut dibuka dan botol film yang berisi KOH segera ditutup agar tidak terjadi kontaminan dengan gas CO2dari lingkungan sekitarnya. Langkah yang sama dilakukan untuk kontrol, dimana botol film yang berisi 10 ml KOH 0,1N diletakkan di atas permukaan tanah datar yang ditutup dengan plastik.
25
HCl 0,1N hingga warna merah muda pada larutan hilang (berwarna bening). Volume HCl yang digunakan untuk proses titrasi tersebut dicatat. Selanjutnya pada larutan tadi ditambahan kembali dengan 2 tetes indikator metyl orange (berubah warna menjadi kuning), lalu dititrasi dengan HCl 0,1N hingga warna kuning berubah menjadi merah muda. Volume HCl yang digunakan dalam titrasi tersebut dicatat. Jumlah HCl yang digunakan pada tahap titrasi yang kedua berhubungan dengan jumlah CO2yang difiksasi oleh KOH. Pada sampel kontrol (blanko) dilakukan hal yang sama seperti prosedur yang telah dijelaskan di atas.
Reaksi yang terjadi yaitu sebagai berikut : 1. Reaksi pengikatan CO2
2KOH + CO2 K2CO3+ H2O
2. Perubahan warna merah muda menjadi tidak berwarna (memakai indikator penolphtalein)
K2CO3+ HCl KCl + KHCO3
3. Perubahan warna kuning menjadi merah muda kembali (memakai indikator metyl orange).
KHCO3+ HCl KCl + H2O + CO2 1 me HCl∞ 1 meCO2
Respirasi tanah dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
C − CO =( × ×)× ×
26
Keterangan :
C ̶ CO2 = mg jam-1m-2
a = ml HCl sampel (setelah ditambahkan metyl orange) b = ml HCl blanko (setelah ditambahkan metyl orange)
t = normalitas (N) HCl
T = waktu (jam)
r = jari-jari tabung toples (m)
12 = massa atom C
3.5.2 Variabel Pendukung
Variabel pendukung diamati secara bersamaan dengan melakukan pengukuran respirasi tanah pada saat fase vegetatif awal, vegetatif maksimum dan sebelum panen. Variabel pendukung yang diamati pada penelitian ini adalah :
1. Kadar air tanah (Metode Gravimetri)
Kadar air tanah diperoleh dengan cara mengeringovenkan tanah basah yang diambil langsung dari lapangan selama 24 jam pada suhu 105oC. Alat yang digunakan untuk mengeringovenkan tanah basah yaitu oven. Metode yang digunakan adalah Metode Gravimetri.
Perhitungan:
Bobot air = Bobot aluminium foil berisi tanah basah–bobot aluminium foil berisi tanah kering oven.
Bobot tanah kering 105oC = bobot aluminium foil berisi tanah kering 105oC–
bobot aluminium foil.
27
2. C-organik (Metode Walkley and Black)
Analisis C-organik tanah dilakukan dengan metode berdasarkan bahan organik yang mudah teroksidasi yaitu dengan memberikan K2CR7O7I N dan H2SO4 pekat, lalu diencerkan dengan aquades dan ditambahkan asam fosfat pekat, NaF 4% dan indikator difenilamin, kemudian dititrasi dengan ammonium sulfat 0,5 N untuk mengetahui kadar C-organik tanah tersebut.
Perhitungan :
% C-organik = x 0,3886%
% Bahan organik = % C-organik x 1,724 Keterangan :
VB= ml titrasi blanko VS= ml titrasi sampel
3. Suhu tanah (Termometer Tanah)
Pengamatan suhu tanah dilakukan dengan menggunakan termometer tanah. Cara penggunaannya yaitu dengan menekan tombol pada termometer dan mengarahkan termometer tersebut ke tanah, kemudian termometer akan menembakan sinar inframerah ke tanah dan secara otomatis suhu tanah akan terdeteksi.
4. pH tanah (Metode Elektrometri)
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Aplikasi asam humat tidak mempengaruhi respirasi tanah pada semua pengamatan pada pertanaman jagung di tanah Ultisols.
2. Pemupukan P tidak mempengaruhi respirasi tanah pada semua pengamatan pada pertanaman jagung di tanah Ultisols.
3. Tidak terdapat interaksi antara aplikasi asam humat dan pemupukan P terhadap respirasi tanah pada semua pengamatan pada pertanaman jagung di tanah Ultisols.
4. Uji T-student respirasi tanah di pertanaman jagung pada waktu pengamatan 7 HST berbeda nyata dengan 56 HST, 7 HST berbeda nyata dengan 99 HST, dan 56 HST berbeda nyata dengan 99 HST.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Anas, I. 1989. Biologi Tanah dalam Praktek. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 161 hlm. Atmojo, S. W. 2003. Peranan Bahan Organik terhadap Kesuburan Tanah dan
Upaya Pengelolaannya. Ilmu Kesuburan Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. 35 hlm.
Azizah, R., Subagyo, dan E. Rosanti. 2007. Pengaruh kadar air terhadap laju respirasi tanah tambak pada penggunaan katul padi sebagai priming agent. Jurnal Ilmu Kelautan. 12(2): 67-72.
Balai Penelitian Tanah. 2009. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Petunjuk Teknis Edisi 2. Balai Penelitian Tanah. Bogor. 246 hlm. Baskoro, D.P.T. 2010. Pengaruh Pemberian Bahan Humat dan Kompos Sisa
Tanaman Terhadap Sifat Fisik Tanah dan Produksi Ubi Kayu. Jurnal Tanah dan Lingkungan. 12(1): 9-14.
Dariah, A., Sutono. dan N. L. Nurida. 2010. Penggunaan Pembenah Tanah Organik dan Mineral untuk Perbaikan Kualitas Tanah Tyipic
Kanhapludults Tamanbogo, Lampung. Jurnal Tanah dan Iklim. 31: 1-9. Darmawijaya, M. I. 1990. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta. 411 hlm.
Ferrara, G and G. Brunetti. 2010. Effect of the times of aplication of a soil humic acid on berry quality of table grape (Vitis vinifera L.) cv Italia. Spanish J. Agric. Res. 8(3): 817-822.
Fitriatin, B. N., A. Yuniarti., T. Turmuktini. dan F. K. Ruswandi. 2014. The Effect of Phosphate Solubilizing Microbe Producing Growth Regulators on soil Phosphate, Growth and yield of Maize and Fertilizer Efficiency on Ultisols. Eurasian Journal of Soil Science 3: 101-107.
43
Hanafiah, K. A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. 165 hlm.
Haney, R. L.,W. H. Brinton. dan E. Evans. 2008. Estimating Soil Carbon,
Nitrogen and Phosphorus Mineralization from Short-Term Carbon Dioxide Respiration. Communications in Soil Science and Plant Analysis. 39: 2706-2720.
Hardjowigeno, S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo. Jakarta. 250 hlm.
Hasibuan, R., Nurbiati. dan Ardian. 2012. Pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau (Vigna radiata L). Varietas No 129 pada Beberapa Dosis Batuan Fosfat di Medium Gambut. Makalah. Agroteknologi. Pertanian. Riau. 11 hlm. Hatta, M. dan Nurhayati. 2006. Pengaruh Penambahan Bahan Organik Pada
Tanah Bekas Tsunami Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Kacang Hijau di Desa Blang Krueng. Jurnal Floratek. 2: 100-106.
Heil, C. A. 2005. Influence of Humic, Fulvic and Hydrophilic Acids on the Growth, Photosynthesis and Respiration of the Dinoflagelatte
Prorocentrum Minimum (Pavillard) Schiller. Harmful Algae. 4: 603-618. Hermanto, D., N. K. T. Dharmany., R. Kurnianingsih. dan S. R. Kamali. 2013.
Pengaruh Asam Humat Sebagai Pelengkap Pupuk Terhadap Ketersediaan dan Pengambilan Nutrient pada Tanaman Jagung di Lahan Kering Kec. Bayan-NTB. Jurnal Ilmu Pertanian. 16(2): 28-41.
Hidayatulloh, T. M. K. 2018. Fraksionasi Bahan Organik Tanah di bawah Tegakan Pinus dan Damar di Resort Bodogol Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 28 hlm. Isnaini, M. 2006. Pertanian Organik. Kreasi Wacana. Yogyakarta. Hal 247-248. Lingga, P. dan Marsono. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya.
Jakarta. 163 hlm.
Kuzyakov, Y. 2006. Sources of CO2efflux from soil and review of partitioning methods. Soil Biology and Biochemistry. 38: 425-448.
Mubyarto. 2002. Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian. Workshop Pemandu Lapangan 1 (PL-1) Sekolah Lapangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (SL-PPHP). Departemen Pertanian.
44
Novitasari, R. 2017. Proses Respirasi Seluler Pada Tumbuhan. Jurnal Pendidikan Biologi. B: 89-96.
Ruhaimah, A., M. Harianti. 2009. Efek Sisa Asam Humat dari Kompos Jerami Padi dan Pengelolaan Air dalam Mengurangi Keracunan Besi (Fe2+) Tanah Sawah Bukaan Baru Terhadap Produksi Padi. Journal Solum. VI (1): 1-13. Rukmana, R. 1997. Usaha Tani Jagung. Kanisius. Yogyakarta. 84 hlm.
Sangeetha, M., Singaram P., Devi R.D. 2006. Effect of lignite humic acid and fertilizers on the yield of onion and nutrient availability. Proceedings of 18th World Congress of Soil Science July 9-15. Philadelphia,
Pennsylvania, USA.
Saraswati, R., E. Husen., R.D.M. Simanungkalit. 2007. Metode Analisis Biologi Tanah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor. 299 hlm.
Setyowati, D dan I. Ulfin. 2007. Optimasi Kondisi Penyerapan Ion Aluminium oleh Asam Humat. Akta Kimindo. 2(2): 85-92.
Soepraptohardjo, M. 1961. Jenis-jenis Tanah di Indonesia. Lembaga Penelitian Tanah. Bogor. 22 hlm.
Sofatin, S., Fitriatin B. N., dan Machfud Y. 2016. Pengaruh kombinasi pupuk NPK dan pupuk hayati terhadap populasi total mikroba tanah dan hasil jagung manis (Zea mays L. Saccharata) pada [inceptisols] jatinagor. Soilrens. 14(2): 33-37.
Stevenson, F. J. 1982. Humus Chemistry Genesis, Composition, and Reaction. John Wiley and Sons. New York.
Stevenson, F.J. and Cole M.A. 1999. Cycles of Soil: Carbon, Nitrogen,
Phosphorus, Sulfur, Micronutrients. 2ndedition. John Willey & Sons, New York.
Subagyo, H., N. Suharta., dan A. B. Siswanto. 2004. Tanah-tanah Pertanian di Indonesia. Dalam Prasetya, B. H., Suriadikarta, D. A. 2006. Pengelolaan Tanah Ultisol untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering di Indonesia. Balai Penelitian Tanah. Bogor. Hal: 21-26.
Suhariyono, G. dan Y. Menry. 2005. Analisis karakteristik unsur-unsur dalam tanah di berbagai lokasi dengan menggunakan XRF. Prosiding PPI-PDIPTN. Yogyakarta, 12 Juli 2005. Hal. 197-206.
45
Sutedjo, M. M. 2010. Pupuk dan Cara Pemupukan. PT Rineka Cipta. Jakarta. 177 hlm.
Suwahyono, U. 2011. Petunjuk Praktis Penggunaan Pupuk Organik Secara Efektif dan Efisien. Penebar Swadaya. Jakarta. 124 hlm.
Suwardi, E., M. Dewi dan B. A. Hermawan. 2009. Aplikasi Zeolit Sebagai Karier Asam Humat Untuk Peningkatan Produksi Tanaman Pangan. Jurnal Zeolit Indonesia. 8(1): 44-51.
Swanda, J., H. Hanum, dan P. Marpaung. 2015. Perubahan sifat kimia inceptisol melalui aplikasi bahan humat ekstrak gambut dengan inkubasi dua minggu. Jurnal Online Agroekoteknologi. 3(1): 79- 86.
Tan, K. H. 1991. Dasar-dasar Kimia Tanah. diterjemahkan oleh Didiek Hadjar Geonadi. Marcel Gajah Mada University Press. 259 hlm.
Tan, K.H. 1986. Degradasi Mineral Tanah Oleh Asam Organik. Interaksi Mineral Liat Tanah dengan Organik Alami dan Mikroba. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Tim Karya Tani Mandiri. 2010. Pedoman Bertanam Jagung. Nuansa Aulia. Bandung. 208 hlm.