• No results found

Text 0344021021 abstract pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 0344021021 abstract pdf"

Copied!
8
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanaman lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan

yang memiliki peluang strategis dalam sistem usahatani perkebunan, baik

secara ekonomi maupun sosial. Secara ekonomi lada dapat menjadi salah satu

sumber utama pendapatan petani dan devisa negara sektor non migas,

sedangkan secara sosial merupakan komoditas tradisional yang telah

dibudidayakan sejak lama dan keberadaannya merupakan penyedia lapangan

kerja yang cukup luas terutama di daerah sentra produksi (Syakir, 2007)

Pada tahun 2000, devisa yang dihasilkan komoditas lada mencapai US$ 221

juta atau menduduki urutan ke enam pada sub sektor perkebunan Indonesia

setelah kelapa sawit, karet, kakao, kalapa dan kopi (BPS, 2002). Luas areal

lada nasional tahun 2000 mencapai 150.531 ha dengan produksi 69.087 ton

dimana hampir seluruhnya (99,8%) dikelola dalam bentuk perkebunan rakyat

dan sisanya (0,2%) dalam bentuk perkebunan besar swasta (Ditjenbun, 2002).

Komoditas perkebunan rakyat dicirikan oleh pola pengelolaan yang

tradisional, dengan produk utama yang dihasilkan dalam bentuk lada asalan.

Perkembangan luas areal pertanaman lada selama beberapa tahun terakhir,

(2)

dan lada putih di pasar domestik yang telah terintegrasi dengan harga pasar

dunia (Rachman et al.,2003).

Produksi dan perdagangan lada dunia saat ini dikuasai oleh tujuh negara, yaitu

India, Indonesia, Brazil, Vietnam, Malaysia, Thailand dan China. Dalam tahun

1995 pangsa produksi lada India mencapai 30,2 persen, Indonesia 18,1 persen,

Brazil dan Vietnam 12,1 persen, Malaysia 10,9 persen, Thailand 6,2 persen

dan China sebesar 6,0 persen (Departemen Perindustrian dan Perdagangan,

1995). Sementara itu importir utama lada dunia adalah Amerika Serikat,

Singapura, Jerman, Belanda, Jepang dan Perancis (FAO dalam Djulin dan

Malian, 2002) dengan harga yang bervariatif di tiap negara, terlihat pada Tabel

1 (Lampiran).

Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa Provinsi yang merupakan sentra

produksi lada nasional antara lain Provinsi Lampung, Bangka Belitung,

Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur dimana masing-masing memberikan

kontribusi produksi sebanyak 29,8%, 44,2%, 3,4%, dan 8,3% terhadap

produksi nasional. Pada tahun 2009, Provinsi Lampung memiliki luas areal

tanam 63.799 Ha, dimana Kabupaten Lampung Utara dengan kontribusi

produksi terbesar yaitu 42,54% dari total produksi Lampung dengan luas

wilayah pengembangan komoditi lada terluas, yaitu 23.896 Ha, diikuti oleh

Kabupaten Way Kanan, Lampung Timur, Lampung Barat, Tanggamus,

(3)

Tabel 2. Kabupaten, Luas Area, Produksi dan Produktivitas Lada Provinsi Lampung (BKPM, 2009)

Kabupaten Luas Lahan

(Ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (ton/Ha)

Lampung Utara 23.896 8.953 0,375

Way Kanan 12.008 3.233 0,269

Lampung Timur 9.200 4.280 0,465

Lampung Barat 8.691 2.920 0,336

Tanggamus 7.872 1.824 0,232

Lampung Tengah 1.092 226 0,207

Lampung Selatan 862 125 0,145

Tulang Bawang 166 12 0,070

Kota Bandar Lampung 12 -

-Dari Tabel diatas dapat dilihat Kabupaten Lampung Utara merupakan daerah yang

memiliki luas areal terluas dan produksi terbesar dibanding Kabupaten-Kabupaten

lainya. Hal ini didukung karena Lampung Utara memiliki lahan dan iklim yang

sangat cocok untuk budidaya lada. Selain itu faktor lain yang berpengaruh adalah

karena banyaknya petani lain yang beralih mengusahakan lada karena lada

memiliki prospek cerah dimasa yang akan datang. Dari dua puluh tiga Kecamatan

yang ada di Kabupaten Lampung Utara, Kecamatan Abung Tinggi merupakan

sentra produksi lada terbesar meskipun luas arealnya bukan yang terluas di

[image:3.595.117.511.125.313.2]
(4)

Tabel 3. Lima Besar Kecamatan dengan Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Tanaman Perkebunan Lada Terluas dan Terbesar di Lampung Utara Tahun 2008 (Dinas kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lampung Utara, 2009)

Kecamatan Luas Areal

(ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (ton/ha)

Abung Tinggi 2.378 1.273,8 535,66

Kotabumi Selatan 2.195 979,5 446,24

Abung Kunang 1.460 743,0 508,90

Abung Barat 2.646 740,8 279,96

Tanjung Raja 2.050 700,0 341,46

Pada Tabel 3 terlihat bahwa pengelolaan budidaya lada di Kecamatan Abung

Tinggi sangat baik, karena meskipun luas arealnya tidak seluas Kecamatan Abung

Barat, namun nilai produksi dan produktivitasnya yang terbesar. Hal ini karena

para petani sangat menjaga tanamannya agar tidak dirusak oleh hama dan

penyakit yang dapat menurunkan nilai produksinya. Sistem pemupukan pada

lahan perkebunan lada di Kecamatan ini juga sangat baik, terbukti dengan nilai

produktivitasnya yang tinggi, yaitu 535,66 ton/ha.

Nilai produksi dan produktivitas lada harus terus ditingkatkan, mengingat lada

merupakan salah satu komoditi ekspor Provinsi Lampung dengan prospek yang

cukup menjanjikan, karena permintaan luar negeri yang semakin meningkat

sejalan dengan semakin berkembangnya sektor agroindustri. Pada tahun 2006

komoditi ekspor lada Lampung mencapai 48.786.000 US$ atau 3,19 % dari total

jumlah ekspor 1.525.633.206 US$ (BPS Provinsi Lampung, 2007). Perkembangan

[image:4.595.113.504.152.248.2]
(5)

Tabel 4. Volume, Nilai Ekspor, dan Harga Lada Provinsi Lampug Tahun 2003-2007 (BPS Provinsi Lampung, 2003-2007).

Tahun Volume (ton) Pertumbuhan (%) Nilai Ekspor (US$) Pertumbuhan (%) Harga (US$/ton) Pertumbuhan (%)

2003 33.111 - 48.503.000 - 1.464,87

-2004 26.340 -20,45 41.844.000 -13,73 1.588,61 8,45

2005 32.232 22,37 42.287.000 1,06 1.311,96 -17,41

2006 28.889 -10,37 48.786.000 15,37 1.688,74 28,72

2007 34.674 20,02 95.158.984 95,05 2.744,39 62,51

Pada tabel 4 terlihat bahwa perkembangan ekspor lada Lampung selama tahun

2003-2007 mengalami fluktuasi akibat peningkatan dan penurunan jumlah

produksi dan harga lada itu sendiri. Volume ekspor lada terendah terjadi pada

tahun 2004 yaitu 26.340 ton dengan harga 1.588,61 US$/ton dan tertinggi pada

tahun 2007 yaitu 34.674 ton dengan harga 2.744,39 US$/ton.

Pertumbuhan harga lada pada tahun 2006 ke tahun 2007 juga mengalami

peningkatan yang cukup drastis, yaitu dari 28,72% ke 62,51%. Hal ini berdampak

pada pendapatan petani pada tahun yang sama juga meningkat, namun

peningkatan tersebut tidak terlalu signifikan (Tabel 5).

Tabel 5. Perkembangan Harga Rata-Rata Lada di Tingkat Produsen dan Konsumen serta Margin Harga Produsen dan Konsumen Provinsi Lampung Tahun 2003 - 2007 (BPS, 2008).

Tahun Harga Produsen (Rp/Kg)

Harga Eksportir (Rp/Kg)

Margin Harga Produsen dan Konsumen (Rp/Kg)

2003 13.469,90 15.275,85 1.805,95

2004 11.715,06 13.972,72 2.257,66

2005 12.484,76 14.868,69 2383,93

2006 16.461,71 19.626,53 3.164,82

[image:5.595.112.543.125.252.2] [image:5.595.107.504.617.715.2]
(6)

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata harga lada tingkat produsen pada

tahun 2003 2007 di Provinsi Lampung, yaitu sebesar Rp 16.826,28, sedangkan

pada tingkat konsumen sebesar Rp 19.296.86. Hal ini terjadi karena posisi tawar

petani sebagai produsen yang lemah, sehingga harga lada di tingkat produsen

ditentukan oleh pedagang sebagai konsumen. Perubahan harga lada di tingkat

produsen dan konsumen dipengaruhi oleh permintaan dunia serta kualitas lada itu

sendiri. Beragamnya manfaat lada membuat permintaan akan komoditi ini di

negara-negara importir semakin tinggi tiap tahunnya.

Margin harga produsen dan konsumen terbesar terjadi pada tahun 2006 2007,

yaitu Rp 2.470,57. Hal ini disebabkan oleh posisi tawar petani, informasi pasar

yang diperoleh serta pemanfaatan peluang pasar yang lemah dan juga usahatani

lada yang telah dilakukan oleh petani tidak sesuai dengan permintaan pasar,

sehingga kualitas yang dihasilkan kurang baik. Faktor-faktor tersebut yang

menyebabkan pendapatan yang diperoleh petani rendah. Perbedaan harga yang

terjadi merupakan salah satu hambatan pemasaran yang sering dijumpai dalam

pemasaran komoditi pertanian, maupun perkebunan. Hal tersebut juga

menunjukkan adanya indikasi bahwa terdapat masalah pada sistem pemasaran

lada yang selama ini berlangsung di Provinsi Lampung umumnya, dan Kabupaten

Abung khususnya.

Pendapatan petani akan meningkat dengan semakin efisiennya saluran pemasaran

lada ke konsumen. Hal ini menentukan keadaan harga di tingkat petani dan marjin

(7)

pelaku pemasaran, posisi petani sebagai produsen relatif paling lemah dalam

melakukan penawaran untuk mendapatkan harga yang baik.

Saluran pemasaran lada di Kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten Lampung Timur

masih tergantung kepada pedagang pengumpul. Petani lada cenderung menjual

hasil lada kepada pedagang pengumpul pada saat harga tinggi untuk

memaksimalkan keuntungan jangka pendek karena terdesak kebutuhan uang

tunai.

Ketidakmampuan petani menjual lada langsung ke eksportir mengakibatkan

semakin panjangnya alur pemasaran dengan melibatkan banyak lembaga

pemasaran yang menikmati marjin keuntungan antara petani dengan para

eksportir. Efisien tidaknya sistem pemasaran yang terbentuk berpengaruh pada

besarnya harga jual lada dan keuntungan yang diterima petani. Sistem pemasaran

yang tidak efisien akan mengakibatkan rendahnya harga jual lada yang diterima

petani.

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan di dalam penelitian ini dapat

diidentifikasikan, yaitu:

1. Bagaimana saluran pemasaran komoditas lada di Kecamatan Abung tinggi

Kabupaten Lampung Utara?

2. Apakah pemasaran komoditas lada di Kecamatan Abung tinggi Kabupaten

(8)

B. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui saluran pemasaran lada di Kecamatan Abung Tinggi Kabupaten

Lampung Utara.

2. Mengetahui efisiensi pemasaran lada di Kecamatan Abung Tinggi Kabupaten

Lampung Utara.

C. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi :

1. Sebagai pertimbangan bagi para petani dalam pengelola kegiatan usahatani

lada dan pemasaran komoditinya.

2. Sebagai penentu kebijakan Pemerintah Daerah dengan memberikan gambaran

tentang efisiensi pemasaran lada di Provinsi Lampung sehingga dapat

dijadikan bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan yang berhubungan

dengan usaha pengembangan komoditas lada.

3. Sebagai bahan informasi dan perbandingan untuk penelitian yang lain dengan

Figure

Tabel 2.Kabupaten, Luas Area, Produksi dan Produktivitas Lada ProvinsiLampung (BKPM, 2009)
Tabel 3.Lima Besar Kecamatan dengan Luas Areal, Produksi dan ProduktivitasTanaman Perkebunan Lada Terluas dan Terbesar di Lampung Utara
Tabel 4.Volume, Nilai Ekspor, dan Harga Lada Provinsi Lampug Tahun 2003-2007 (BPS Provinsi Lampung, 2007).

References

Related documents

Note: The following mark allocation is provided as guidance for this requirement: (i) 0·5 marks (ii) 1 mark (iii) 0·5 marks (iv) 1 mark (v) 1 mark (vi) 1 mark (5 marks) (b)

• Partner with major software vendors to develop leading Cloud application appliances and domain specific Cloud platforms. PC PC Server Server (PC (PC主機產品 主機產品)) Cloud

Balancing Citizen’s Service and Industry Revenue Cloud Computing Applications & Industry Development Strategy Promote Valuable Applications for Citizens Be GREEN

V M V M V M x86 VMware, KVM, ; L P A R L P A R Power PowerVM V M V M System z zVM SONAS, SVC, XIV ; Common management platform drives delivery economics Robust virtualized

application and cross- cloud integration Build a cloud infrastructure Enable applications in the cloud Extend applications in the cloud.. Our solution

export data most likely to contain cloud computing.. Estimate cloud computing’s

In a previous study the production of uric acid by 16 gouty patients was evaluated by determin- ing both the extent to which isotopically labeled glycine was incorporated into

In Figure 5 the urinary NH4+: pH relationship found in the four uric acid stone patients is com- pared with similar values reported for normal subjects reported by Milne, Stanbury