• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
54
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

IDENTIFIKASI KESULITAN GURU IPA KELAS VIII SMPN SE–BANDAR LAMPUNG DALAM PENERAPAN

SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

(SKRIPSI)

Oleh : Adi Kurniawan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

IDENTIFIKASI KESULITAN GURU IPA KELAS VIII SMPN SE–BANDAR LAMPUNG DALAM PENERAPAN

SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

Oleh

ADI KURNIAWAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan guru IPA kelas VIII

SMPN Se–Bandar Lampung dalam penerapan sintaks model pembelajaran

problem based learning. Sampel penelitian adalah seluruh pendidik kelas VIII

SMP Negeri Se–Bandar Lampung yang sudah menerapkan kurikulum 2013

yang dipilih dengan teknik random sampling. Desain penelitian ini yaitu

dekriptif sederhana. Jenis data yang digunakan yaitu data kualitatif untuk

mendapatkan data tersebut peneliti melakukan penyebaran angket, wawancara

dan latar belakang pendidikan pendidik mengenai kesulitan pendidik IPA

Kelas VIII dalam penerapan sintaks problem based learning. Kemudian

dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidik Kelas VIII SMPN Se- Kota

Bandar Lampung masih mengalami kesulitan dalam penerapan sintaks model

pembelajaran Problem Based Learning hal ini dapat dilihat dari aspek

perencanaan yang memiliki kriteria kesulitan cukup, aspek pelaksanaan

(3)

iii

model pembelajaran Problem Based Learning dengan kriteria kesulitan

tinggi.

(4)

IDENTIFIKASI KESULITAN GURU IPA KELAS VIII SMPN SE-BANDAR LAMPUNG DALAM PENERAPAN

SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

Oleh

ADI KURNIAWAN

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Biologi

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Krui pada 18 Juli 1997,

merupakan anak pertama dari pasangan Bapak

Maizan Noval dengan Ibu Maryati. Penulis

beralamat Jl. Nunyai Gg. Sumbi 7 No 77 Rajabasa

Nunyai Bandar Lampung.

Penulis mengawali pendidikan formal di TK

Pembina Way Mengaku (2002-2003), SD Negeri 1

Way Mengaku (2003-2009), SMP Negeri 1 Liwa (2009-2012), SMA Negeri 1

Liwa (2012-2015). Pada tahun 2015, penulis terdaftar sebagai mahasiswa

Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lampung melalui jalur Mandiri.

Penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 1

Limau dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik di Desa Antar Brak,

Kecamatan Limau, Kabupaten Tanggamus (Tahun 2018), serta melaksanakan

penelitian di SMP Negeri Se- Kota Bandar Lampung untuk meraih gelar

(9)

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyanyang

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahi robbil ‘alamin, dengan mengucap syukur kepada Allah SWT

karena atas karunia rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Teriring doa, rasa syukur, dan segala kerendahan hati.

Dengan segala cinta dan kasih sayang kupersembahkan karya ini kepada :

Kedua orang tua ku yang senantiasa selalu mendoakan ku, memberi nasehat, memberi kasih sayang tiada henti, memberikanku segalanya demi kebahagiaanku,

mendukungku dalam meraih cita-citaku ini, kalian merupakan semangat terbesar dalam hidupku dan aku berjanji akan membanggakan kalian.

Adik-Adikku yang selalu memberi semangat, motivasi, menghibur dan selalu menyayangiku.

Para Pendidikku (Guru dan Dosen) yang telah memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat, membimbingku, memberi nasehat-nasehat yang berharga, dan kasih

sayang yang tulus.

Teman-Teman Seperjuanganku Pendidikan Biologi Angkatan 2015 yang senantiasa membantuku, menghiburku, memberiku motivasi, memberikan

kenangan yang indah selama perkuliahan.

(10)

MOTTO

“Jadikanlah sabar dan shalatmu sebagai penolong, sesungguhnya Allah beserta

orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 153)

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

(QS. Al-Insyirah [94]: 6)

"Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai), atau orang-orang yang belajar, atau

orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu.” (Abu Bakar Sibli)

“Lakukanlah kebaikan sekecil apapun, karena kau tak pernah tau kebaikan apa yang akan membawamu ke surga”

(11)

SANWACANA

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas segala berkat rahmat dan hidayah-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Identifikasi

Kesulitan Guru IPA Kelas VIII SE - Bandar Lampung Dalam Penerapan Sintaks Model Pembelajaran Problem Based Learning”. Skripsi ini dibuat

sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana Pendidikan pada Program

Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Lampung.

Penulis menyadari ini bukanlah hasil jerih payah sendiri akan tetapi berkat

bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak baik moril maupun materiil

sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai. Oleh karena itu, di dalam kesempatan

ini penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan rasa terima kasih yang tulus

kepada :

1. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung yang

telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

2. Dr. Caswita,M. Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung

yang telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

3. Rini Rita T. Marpaung, S.Pd, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Biologi sekaligus Pembimbing 1 yang selalu sabar membimbing, selalu

memberi nasehat, banyak memberikan ilmu yang bermanfaat, dan sangat

(12)

xii

4. Dr. Dewi Lengkana, M.Sc., selaku Pembimbing Akademik yang telah

menjadi teladan bagi penulis.

5. Drs. Darlen Sikumbang, M. Biomed., selaku Pembimbing II yang telah

sabar dalam memberikan ilmu, arahan, masukan, serta motivasi sehingga

skripsi ini dapat diselenggarakan dengan baik.

6. Berti Yolida., S.Pd., M.Pd., selaku Pembahas yang telah memberikan ilmu

yang bermanfaat dan saran–saran perbaikan sehingga skripsi ini dapat

diselesaikan dengan baik.

7. Drs. Arwin Achmad, M.Si, (Alm) selaku Pembimbing Akademik, yang telah

memberikan bimbingan, semangat dan nasehat yang berharga agar dapat

menjalankan kehidupan yang lebih baik kedepannya.

8. Seluruh Dosen Program Studi Pendidikan Biologi yang telah memberikan

motivasi, nasehat, dan memberikan ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat.

9. Kepala Sekolah, guru IPA,dan staf,di SMP Negeri 1, SMP Negeri 4, SMP

Negeri 12, SMP Negeri 13, SMP Negeri 14, SMP Negeri 16, SMP Negeri 17,

SMP Negeri 18, SMP Negeri 19, SMP Negeri 20, SMP Negeri 21, SMP

Negeri 23, SMP Negeri 24 SMP Negeri 25, SMP Negeri 26, SMP Negeri 28,

SMP Negeri 31, SMP Negeri 34, SMP Negeri 35, dan SMP Negeri 36 di

Kota Bandar Lampung yang telah mengizinkan dan banyak membantu selama

penelitian berlangsung.

10. Teman-teman Pendidikan Biologi 2015, kakak tingkat, adik tingkat, dan

alumni terimakasih atas motivasi, dukungan dan persahabatan yang telah

kalian berikan.

(13)

xiii semangat, serta memberi motivasi kepadaku

Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin, skripsi ini telah selesai dan dipersembahkan

untuk orang-orang terkasih. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini

dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua.

Bandar lampung, 10 Januari 2020 Penulis,

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian... 7

D. Manfaat Penelitian... 7

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kurikulum 2013... ... 10 B. Model Problem Based Learning... 11

C. Pembelajaran IPA... 18

D. Perencanaan Pembelajran IPA... 20

E. Pelaksanaan Pembelajaran IPA... 21

E. Kerangka Pikir... 22

III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian... 25

B. Populasi dan Sampel ... 25

C. Desain Penelitian... 27

D. Prosedur Penelitian... 27

E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data... 29

(15)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian...

...

35 B. Pembahasan... 37

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan... 41

B. Saran... 41

DAFTAR PUSTAKA... 42

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Sintaks Pembelajaran Problem Based Learning... 15

2. Daftar Populasi Dan Sampel... 26 3. Kisi-Kisi Angket Semi Terbuka tentang tanggapan pendidik mengenai

kesulitan pendidi dalam penerapan sintaks model Problem Based

Learning ... 30 4. Kisi-Kisi Angket Semi Terbuka tentang analisi kendala-kendala

pendidik IPA terhadap pembelajaran IPA terpadu... 30 5. Kisi-Kisi wawancara pendidik tentang tanggapan pendidik mengenai

kesulitan pendidi dalam penerapan sintaks model Problem Based

Learning ... 31 6. Kisi-Kisi wawancara pendidik tentang tanggapan pendidik mengenai

kesulitan pendidi dalam penerapan sintaks model Problem Based

Learning ... 31 7. Kriteria Persentase Kendala Pendidik IPA terhadap pembelajaran IPA

terpadu ... 32

8. Karakteristik Responden... 33

9. Hasil Angket Semi Terbuka tanggapan pendidik tentang hambatan penerapan model Problem Based Learning...

35

10. Hasil Angket Semi Terbuka tanggapan pendidik tentang hambatan penerapan model Problem Based Learning...

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 . Angket semi terbuka tentang tanggapan pendidik mengenai

kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks model problem

based learning... 45 2. Angket semi terbuka tentang tanggapan pendidik mengenai

kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks model problem

based learning... 54 3. Pedoman Wawancara pendidik tentang tanggapan pendidik

mengenai kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks model

problem based learning... 63 4. Pedoman Wawancara pendidik tentang tanggapan pendidik

mengenai kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks model

problem based learning... 67 5. Tabulasi data angket semi terbuka terhadap tanggapan guru

Tentang kesulitan dalam penerapan sintaks model problem based

learning SMPN Se-Kota Bandar Lampung... 71 6. Transkip Hasil Wawancara Guru... 73

(18)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu faktor pendukung dalam meningkatkan

sumber daya manusia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita

seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia agar tidak kalah

bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain melalui

keberhasilan di bidang pendidikan. Keberhasilan proses pembelajaran

dalam rangka tercapainya tujuan pendidikan di pengaruhi oleh banyak

faktor. Menurut Djamarah (2006: 45) adalah (1) diri pendidik sebagai

pengelola proses pembelajaran; ( 2) peserta didik selaku pemeran utama

dalam proses pembelajaran; (3) tujuan pembelajaran yang menjadi sasaran

dari pencapaian proses pembelajaran; (4) bahan ajar sebagai bahan yang

digunakan untuk membantu pendidik dalam proses pembelajaran di kelas;

(5) cepat dan mudahnya mendapatkan sumber bahan pelajaran; (6)

lingkungan sekitar pada saat proses pembelajaran.

Perkembangan dan kemajuan pendidikan harus disesuaikan dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan keadaan lingkungan yang ada. Saat

ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk merenovasi sistem

(19)

2

Menurut Undang-Undang Nomor 20 (2003: 2) tentang Sistem Pendidikan

Nasional Pasal 1 Butir 19, kurikulum adalah seperangkat rencana dan

pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang

digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran

untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sejak jaman kemerdekaan

sampai sekarang, kurikulum di Indonesia telah mengalami banyak

perubahan. Mulai dari kurikulum 1947 sampai kurikulum terbaru yang

belum lama diterapkan saat ini yaitu Kurikulum 2013 Revisi.

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mulai ditetapkan oleh

pemerintah pada tahun 2013 dari pengembangan kurikulum sebelumnya

yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menurut Mulyasa

(2014: 231), kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis karakter

dan kompetensi. Banyak perbedaan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013

dengan KTSP, mulai dari pendekatan pembelajaran, model pembelajaran,

strategi pembelajaran sampai pada penilaian yang mencakup ranah afektif,

kognitif dan psikomotorik. Harapannya, dengan diterapkan Kurikulum

2013 ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan

manusia Indonesia agar mampu menghadapi persaingan global yang

semakin maju.

Permendikbud No.69 (Tahun 2013: 4) menjelaskan tentang Kerangka

Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama juga

menyebutkan bahwa tujuan dari pengembangan Kurikulum 2013 adalah

(20)

3

sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif,

inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan peradaban dunia.

Pelaksanaan Kurikulum 2013 menuntut kemampuan guru dalam

penguasaan konsep esensial dan kemampuan pedagogik guru. Guru

berperan besar di dalam mengimplementasikan tiap proses pembelajaran

pada kurikulum 2013. Guru ke depannya dituntut tidak hanya cerdas tetapi

juga adaptif terhadap perubahan. Menurut Husamah (2013), pada diri

guru, sedikitnya ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus

dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013, yaitu

kompetensi pedagogik, kompetensi akademik (keilmuwan), kompetensi

sosial, dan kompetensi manajerial atau kepemimpinan, sedangkan menurut

Sagala (2009), kompetensi pedagogik dapat terpenuhi oleh seorang guru

salah satunya adalah guru harus mampu mengembangkan kurikulum.

Tugas guru dalam implementasi kurikulum adalah bagaimana memberikan

kemudahan belajar pada peserta didik agar mereka mampu berinteraksi

dengan lingkungan eksternal sehingga terjadi perubahan perilaku sesuai

yang dikemukakan dalam Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi

Lulusan (SKL). Panduan pembelajaran dan buku ajar dalam Kurikulum

2013 sudah ditetapkan dari pusat. Namun demikian guru dituntut untuk

tetap dapat mengemas pembelajaran yang berorientasi pada aspek sikap,

pengetahuan dan keterampilan. Akan tetapi tidaklah mudah mengubah

praktik pembelajaran dari kebiasaan lama ke hal baru apalagi beserta mind

(21)

4

pendekatan dan strategi pembelajarannya. Proses pembelajaran dalam

kurikulum 2013 dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah

(scientific approach). Proses pembelajaran harus menyentuh 3 ranah, yaitu

sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge)

(Hidayat. 2013).

Salah satu syarat terwujudnya pembelajaran menggunakan kurikulum

2013 adalah dengan adanya perubahan paradigma guru dalam proses

pembelajaran. Akan tetapi, mengubah paradigma guru dalam mengajar

bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan, karena guru sudah terbiasa

menggunakan gaya mengajar dengan hanya menggunakan metode

ceramah saja yaitu hanya sebatas menerangkan dan mencatat materi di

papan tulis, sedangkan pada kurikulum 2013 ini, guru dituntut untuk

memahami dan mampu menerapkan pendekatan dan model pembelajaraan

menggunakan kurikulum 2013 dengan baik, seperti halnya pemanfaatan

media dan sumber belajar yang bervariasi.

Provinsi Lampung sebagian besar sudah menerapkan Kurikulum 2013

terutama Kota Bandar Lampung yang merupakan pusat kota yang selalu

bersaing dalam dunia pendidikan demi mencapai kualitas pendidikan yang

lebih baik.Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya sekolah di Kota

Bandar Lampung sudah menerapkan Kurikulum 2013 pada setiap jenjang

pendidikan, mulai dari SD hingga SMA sederajat. Berdasarkan data dari

(22)

5

tercatat sebanyak 37 SMPN yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 pada

tahun 2018.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada bulan November dan

Desember 2018 dengan para pendidik IPA khususnya biologi di SMP

Negeri di Bandar Lampung penerapan Kurikulum 2013 ini tidak seperti

yang diharapkan, masih ada kesulitan atau hambatan yang di hadapi oleh

para pendidik biologi dalam pembelajaran biologi yang sesuai dengan

tuntutan Kurikulum 2013, diantaranya yaitu sulit menentukan model

pembelajaran yang sesuai dengan KD (Kompetensi Dasar), kesulitan

dalam penilaian afektif dengan jumlah peserta didik yang sangat banyak,

dan kesulitan menentukan penggunaan media pembelajaran untuk materi

yang tidak di praktikumkan, kemudian pada beberapa sekolah pun

memaparkan tidak terlaksananya Kurikulum 2013 dengan baik karena

kurang tersedianya sarana dan prasarana pada sekolah tersebut. Beberapa

pendidik lain juga menyatakan bahwa peserta didik masih terbiasa dengan

pembelajaran menggunakan kurikulum yang lama sehingga pendidik

belum sepenuhnya bisa menerapkan Kurikum 2013. Pendidik yang telah

diwawancara masih bingung untuk membedakan antara model Discovery

Learning, Inquiry Learning, Problem Based Learning, dan Project Based

Learning. Kemudian sebagian besar pendidik yang telah di wawancara

mengalami kesulitan terhadap model Problem Based Learning dan Project

(23)

6

Model problem based learning dianggap sulit karena pada peserta didik di

SMP kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran yang berlangsung.

Hal ini terlihat pada saat pendidik mengajar, siswa masih sangat jarang

untuk merespon hal-hal yang diperintahkan pendidik. Selain itu pendidik

yang telah di wawancara sebagian besar mengalami kesulitan dalam

menerapkan sintaks atau langkah–langkah model problem based leaning:

orientasi masalah, penyelidikan, mengembangkan dan menyajikan hasil

karya, serta analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Berdasarkan

uraian di atas, terdapat hambatan-hambatan pembelajaran biologi yang

dihadapi oleh para pendidik SMP Negeri dalam pelaksanaan Kurikulum

2013, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul

Identifikasi Kesulitan Guru IPA Kelas VIII SMPN se-Kota Bandar

Lampung dalam penerapan Sintaks Model Pembelajaran Problem Based

Learning.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan di atas, maka

peneliti mengambil permasalahan pokok yang akan di angkat pada

penelitian ini yaitu : Bagaimanakah kesulitan - kesulitan Guru IPA Kelas

VIII SMPN se-Kota Bandar Lampung dalam penerapan Sintaks Model

(24)

7

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan di

laksanakannya penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesuliitan guru

IPA Kelas VIII SMPN se-Kota Bandar Lampung dalam penerapan Sintaks

Model Pembelajaran problem based learning.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain:

1. Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi mengenai cara

mengatasi kesulitan guru IPA dalam menerapkan sintaks model

pembelajaran problem based learning

2. Kegunaan Praktis

a. Bagi Peneliti

Dapat memberikan wawasan, pengetahuan, dan juga pengalaman

dalam mencari informasi untuk mengalami kesulitan-kesulitan

dalam penerapan model problem based learning di dalam proses

pembelajaran menggunakan kurikulum 2013.

b. Bagi Guru

Memberikan gambaran dan informasi mengenai kesulitan–kesulit

an yang di hadapi guru IPA se-kota Bandar Lampung dalam

(25)

8

solusi bagaimana mengatasi kesulitan dalam menggunakan model

problem based learning.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan untuk meneliti

permasalahan model pembelajaran problem based learning dan

dapat menjadi acuan dalam menyusun rancangan penelitian yang

lebih baik lagi dari sebelumnya.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Guna menghindari adanya anggapan yang berbeda terhadap masalah yang

akan dibahas, maka peneliti membatasi ruang lingkup penelitian sebagai

berikut:

1. Kesulitan yang di identifikasi dalam penelitian ini adalah kesulitan

pendidik dalam menerapkan sintaks atau langkah–langkah model

pembelajaran problem based learning.

2. Adapun sintaks atau langkah–langkah dalam model pembelajaran

problem based learning sebagai berikut :

1. Orientasi masalah

2. Organisasi kegiatan pembelajaran

3. Penyelidikan

4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

(26)

9

3. Populasi dalam penelitian ini adalah pendidik seluruh SMP Negeri

se-Kota Bandar Lampung. Sampel yang di gunakan yaitu sebanyak 55%

dari jumlah populasi yaitu 37 pendidik.

4. Subjek dalam penelitian ini adalah guru IPA SMP Negeri se-Kota

(27)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kurikulum 2013

Kurikulum merupakan suatu rencana atau rangkaian konsep dalam suatu

sistem pendidikan yang berisikan berbagai macam strategi dan tujuan yang

akan dicapai oleh setiap peserta didik. Kurikulum dapat mengarahkan suatu

proses kegiatan belajar mengajar berjalan dengan efisien, dikarenakan dalam

implementasiannya memuat isi dan berbagai pedoman yang digunakan untuk

mencapai tujuan tertentu.

Kurikulum memiliki fungsi dan peran yang sangat penting dan strategis.

Meskipun bukan satu-satunya faktor utama keberhasilan proses pendidikan,

kurikulum menjadi petunjuk, dan arah terhadap keberhasilan pendidikan

(Machali, 2014).

Menurut Hasan dalam Ruhimat (2016 : 6) mengemukakan bahwa pada saat

sekarang istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, yaitu :

1. Kurikulum sebagai suatu ide/gagasan

2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan

(28)

11

3. Kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah

kurikulum sebagai suatu realita

4. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari

kurikulum sebagai suatu kegiatan

Dari beberapa dimensi yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa

kurikulum ialah sekumpulan dari ide-ide yang akan digunakan sebagai bahan

untuk mengembangkan kurikulum. Dimensi kedua kurikulum sebagai suatu

rencana artinya di dalam komponen kurikulum terdapat isi, tujuan, dan bahan

pembelajaran yang dimanfaatkan untuk proses kegiatan belajar dan mengajar.

Pada dimensi ketiga kurikulum sebagai suatu kegiatan artinya kurikulum

memandang bahwa secara keseluruhan isi dan tujuan yang memuat

didalamnya selalu menuntut guru dan peserta didik mempraktikan ketika

kurikulum diimplementasikan. Dimensi keempat menyatakan bahwa

kurikulum dikaitkan dengan hasil, maksudnya ialah pada umumnya suatu

kurikulum yang telah diterapkan pada sekolah akan menghasilkan suatu

prestasi untuk siswa yang sesuai dengan rencana saat penerapan kurikulum

telah berlangsung.

B. Model Problem Based Learning

Model pembelajaran problem based learning adalah suatu model

pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan peserta

didik dalam memecahkan masalah (Riyanto, 2009). Pembelajaran problem

(29)

12

menemukan alternative solusi atas masalah, ke-mudian memilih solusi yang

tepat untuk digunakan dalam pemecahan masalah (Sutirman, 2013).

Pembelajaran problem based learning ini sering dilakukan dengan

pendekatan tim melalui penekanan pada pembangunan keterampilan yang

berkait-an dengan pengambilan keputusan, diskusi, pemeliharaan tim,

manajemen konflik, dan kepemimpinan tim (Wulandari & Surjono, 2013).

Menurut Wahyuni (2011) Pembelajaran problem based learning merupakan

model pem-belajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu

konteks bagi siswa untuk belajar tentang keterampilan pemecahan masalah

dan berfikir kreatif untuk memperoleh pengetahuan. Dimana peserta didik

lebih aktif dalam berpikir dan mencari informasi memahami materi dari

permasalahan yang nyata di sekitar-nya sehingga mereka mendapatkan kesan

yang mendalam dan lebih bermakna tentang apa yang mereka pelajari

(Riyanto, 2009). Didukung oleh 8 pendapat Amir (2009) bahwa pembelajaran

problem based learning membuat siswa mahir dalam meme-cahkan masalah,

memecahkan strategi belajar sendiri serta membuat siswa memi-liki

kecakapan berpartisipasi dalam tim. Pembelajaran ini membantu siswa untuk

memproses informasi yang sudah ada dan mengolah pengetahuan mereka

sendiri tentang dunia sosial di sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk

mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.

PBL(problem based learning) menurut Aidoo et al. (2016) yaitu: PBL

diartikan sebagai pembelajaran pedagogis yang berpusat pada siswa

(30)

13

membahas masalah yang menantang dengan tujuan menemukan solusi untuk

masalah ini. Model pembelajaran problem based learning memiliki sejumlah

karakteristik yang membedakannya dengan model pembelajaran yang

lainnya. Karakteristik tersebut yakni belajar dimulai dengan suatu masalah,

memastikan bahwa masalah yang di berikan berhubungan dengan dunia nyata

peserta didik, mengorganisir pelajaran di sekitar masalah, bukan di seputar

disiplin ilmu, memberikan tanggung jawab yang besar kepada pembelajar

dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka

sendiri, menggunakan kelompok kecil, dan menuntut pembelajar untuk

mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu

produk atau kinerja (Jonassen, 2011).

Pembelajaran problem based learning adalah pembelajaran yang memiliki

esensi berupa menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan

bermakna kepada siswa (Arends , 2008; Trianto, 2014). Masalah yang

dimunculkan dalam pembelajaran problem based learning ini tidak memiliki

9 jawaban yang tunggal, artinya siswa harus terlibat dalam menemukan

berbagai alternatif solusi atas masalah tersebut (Fakhriyah, 2014).

Ciri-ciri model PBL menurut Redhana (2012) yaitu: Siswa pertama

dihadapkan dengan masalah ill-structured atau ill defined problems

(masalah-masalah kurang terstruktur atau kurang terdefinisi), open-ended, ambigu, dan

kontekstual. Agar dapat memecahkan masalah,siswa harus mempelajari

materi terlebih dahulu, artinya, siswa harus mengkons-truksi pengetahuan

(31)

14

dengan masalah, siswa selanjutnya memecahkan masalah yang dihadapi

melalui kerja kelompok.

Rusman (2010) mengemukakan karakteristik pembelajaran problem based

learning adalah sebagai berikut: a) Permasalahan menjadi starting point

dalam belajar. b) Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada

di dunia nyata yang tidak terstruktur. c) Permasalahan membutuhkan

perspektif ganda. d) Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh

siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi

kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar. e) Belajar pengarahan diri

yang menjadi hal utama. f) Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam,

penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang

esensial dalam pembelajaran problem based learning. g) Belajar adalah

kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif. h) Pengembangan keterampilan

inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi

pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. i) Keterbukaan

proses dalam Pembelajaran Problem based learning meliputi sintesis dan

integrasi dari sebuah proses belajar.

Pembelajaran Problem based learning melibatkan evaluasi dan review

pengalaman siswa dan proses belajar (Sanjaya, 2006) menjelaskan bahwa

PBL dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berekplorasi

mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan

masalah yang dihadapi. Sehingga siswa mampu untuk berpikir kritis, analitis,

(32)

15

Menurut Kemendikbud No.69 tahun 2013, tujuan dan hasil dari Problem

Based Learning ini adalah untuk mengembangkan keterampilan berfikir

tingkat tinggi, mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas, melibatkan

siswa dalam pe-nyelidikan permasalahan pilihan sendiri yang memungkinkan

mereka menginter-pretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan

membangun pemahaman-nya tentang fenomena tersebut. Tahapan

[image:32.595.133.514.293.616.2]

implementasi model PBL melalui 5 fase yang disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Sintaks pembelajaran problem based learning

Tahap Perilaku Pendidik

Tahap 1

Orientasi Peserta Didik terhadap malasah

Pendidik menjelaskantujuan pembelajaran, menjelaskan kebutuhan logistik yang diperlukan, dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah.

Tahap 2

Mengorganisasi peserta didik untuk belajar

Pendidik membantu peserta didik

mendefinisikan dan menyusun tugas-tugas belajar yang terkait dengan permasalahan.

Tahap 3

Membimbing penyelidikan individu maupun

kelompok

Pendidik mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, mengadakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi.

Tahap 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Pendidik membantu peserta didik dalam merencanakan dan mempersiapkan karya yang sesuai laporan, video, dan model, serta membantu membagikan pekerjaan mereka pada temannya.

Tahap 5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Pendidik membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses-proses yang mereka gunakan

Adapun penjelasan dari sintaks pembelajaran model problem based learning

adalah sebagai berikut:

a. Orientasi peserta didik kepada masalah

Pembelajaran berbasis masalah dimulai dengan menjelaskan tujuan

(33)

16

dan mendiskripsikan apa yang akan dilakukan peserta didik. Pada tahap

orientasi ini, guru menyajikan masalah untuk suatu materi pelajaran dengan

menggunakan kejadian yang mencengangkan dan menimbulkan misteri

sehingga membangkitkan minat dan keinginan peserta didik untuk

menyelesaikan masalah yang dihadapi

b. Mengorganisasi peserta didik untuk belajar

Pembelajaran berbasis masalah membutuhkan pengembangan

keterampilan kolaborasi antar peserta didik dalam kegiatan

penyelidikan, sehingga kegiatan penyelidikan perlu dilakukan secara

bersama-sama. Oleh karena itu, guru mengorganisasikan peserta didik

dalam kelompok-kelompok belajar kooperatif, membimbing peserta

didik dalam penyelidikan dan tugas-tugas. Pembentukan kelompok

didasarkan pada tujuan yang akan dicapai dan mengupayakan agar

semua peserta didik aktif dalam sejumlah kegiatan penyelidikan.

c. Membimbing penyelidikan indivual atau kelompok

Guru membantu peserta didik dalam pengumpulan informasi dari

berbagai sumber. Peserta didik diberi pertanyaan yang dapat membuat

mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis informasi yang

diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Peserta didik diajarkan

untuk menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode

yang sesuai untuk masalah yang dihadapinya, peserta didik juga perlu

diajarkan apa dan bagaimana etika penyelidikan yang benar.

Guru mendorong pertukaran ide atau gagasan secara bebas dan

(34)

17

diungkapkan peserta didik merupakan hal yang sangat penting dalam

tahap penyelidikan. Selama tahap penyelidikan, guru memberikan

bantuan yang dibutuhkan peserta didik tanpa mengganggu aktivitas

peserta didik.

d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Tahap penyelidikan dalam pembelajaran berbasis masalah diikuti dengan

menyajikan hasil karya seperti laporan, poster, video, program komputer,

dan sebagainya. Pada tahap ini, siswa mempresentasikan hasil pelaksanaan

tugas atau hasil penyelesaian masalah dan menjelaskan alasan atas jawaban

permasalahan mereka di depan kelas.

e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Pada tahap ini, guru membantu peserta didik menganalisis dan

mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri terhadap keterampilan

penyelidikan yang mereka gunakan. Disamping itu, guru dapat memberikan

soal-soal latihan yang harus dikerjakan peserta didik berkaitan dengan

materi yang sedang dipelajari seperti tugas mandiri yang bertujuan

mengecek pemahaman peserta didik setelah mengikuti proses

pembelajaran.

Keefektivan model pembelajaran sangat terkait dengan pencapaian tujuan

suatu proses pembelajaran. Model pembelajaran dapat dikatakan efektiv

bila peserta didik dilibatkan secaraaktif dalam mengorganisasi dan

menemukan hubungan serta informasi-informasi yang diberikan dan tidak

hanya secara pasif menerima pengetahuan dari guru atau dosen. Indikator

(35)

18

belajar peserta didik; (2) pencapaian aktifitasa peserta didik dan guru atau

dosen; (3) pencapaian kemampuan dosen dalam mengelola pembelajaran;

(4) peserta didik memberi respon positif dan minat yang tinggi terhadap

pembelajaran yang dilaksanakan (Nieveen, 1999).

C. Pembelajaran IPA

Pendidikan merupakan aspek penting dalam era globalisasi. Menurut

Wisudawati (2013: 5) mengatakan bahwa perkembangan kurikulum di

Indonesia pada tahun 2013 untuk pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan

Alam) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik dan menuntut

guru memiliki kreativitas dan pola berpikir tingkat tinggi dalam pelaksanaan

proses pembelajaran IPA dikelas. Sebagai suatu disiplin ilmu, IPA memiliki

objek, persoalan dan metode pemecahan masalah (Djohar, 2006: 1).

Pembelajaran IPA idealnya tidak hanya mempelajari tentang produk saja,

tetapi juga memperhatikan aspek proses, sikap, dan teknologi agar siswa

dapat benar-benar memahami IPA secara utuh sesuai dengan hakikat IPA.

Oleh karena itu, guru sebaiknya menyiapkan pengalaman belajar bagi siswa

yang menekankan pada aspek produk, proses, sikap, dan keterkaitannya

dengan kehidupan sehari-hari. IPA sebagai mata pelajaran mengandung tiga

aspek, ialah produk IPA, proses IPA, dan sikap IPA (Djohar, 2006: 2). Proses

ilmiah adalah suatu kegiatan ilmiah yang dilaksanakan dalam rangka

menemukan produk ilmiah. Proses ilmiah meliputi mengamati,

(36)

19

Produk ilmiah meliputi prinsip, konsep, hukum, dan teori. Produk ilmiah

berupa pengetahuan-pengetahuan alam yang telah ditemukan dan diuji secara

ilmiah. Sikap ilmiah merupakan keyakinan akan nilai yang harus

dipertahankan ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan baru. Sikap

ilmiah meliputi ingin tahu, hati-hati, obyektif, dan jujur (Bundu, 2006: 11).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa IPA menurut hakikatnya

adalah suatu cara untuk memperoleh pengetahuan baru yang berupa produk

ilmiah dan sikap ilmiah melalui suatu kegiatan yang disebut proses ilmiah.

Siapapun yang akan mempelajari IPA haruslah melakukan suatu kegiatan

yang disebut sebagai proses ilmiah. Seseorang dapat menemukan

pengetahuan baru dan menanamkan sikap yang ada dalam dirinya melalui

proses ilmiah tersebut. Pembelajaran IPA, menurut Rohandi (2009: 113)

merupakan proses konstruksi pengetahuan (sains) melalui aktivitas berpikir

anak. Peserta didik dibimbing untuk menelusuri masalah, mencari penjelasan

mengenai fenomena yang dilihat, dan melakukan eksperimen untuk

menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sedangkan menurut Herawati (2000:

113) pembelajaran IPA merupakan integrasi antara proses inkuiri dan

pengetahuan sehingga pengembangan konsep IPA harus dikaitkan dengan

pengembangan keterampilan ilmiah dan sikap ilmiah. Peserta didik dilatih

untuk mengembangkan keterampilan menjelajah lingkungan dan

memecahkan masalah. Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana

bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta

prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam

(37)

20

Rohandi, 2009: 118), pembelajaran IPA seharusnya memberikan kesempatan

kepada siswa untuk mengembangkan sikap ingin tahu dan berbagai

penjelasan logis. Hal ini penting agar siswa tidak hanya diberikan teori saja

tanpa mengetahui proses lahirnya teori tersebut. Dengan demikian, siswa

tidak sekedar menghafal melainkan memahami teori. Selain itu, pembelajaran

tersebut dapat mendorong siswa untuk mengekspresikan kreativitasnya,

mengembangkan cara berpikir logis, dan kemampuan untuk membangkitkan

penjelasan ilmiah.

D. Perencanaan Pembelajaran IPA

Kegiatan pembelajaran yang baik senantiasa berawal dari rencana yang

matang. Menurut Nana dan Sukirman (2006: 40), menjelaskan bahwa

perencanaan pembelajaran merupakan penjabaran, pengayaan dan

pengembangan dari kurikulum. Selain mengacu pada tuntutan kurikulum,

dalam melakukan perencanaan pembelajaran juga harus mempertimbangkan

situasi dan kondisi serta potensi yang ada di sekolah masing-masing. Waybin

(2015: 33) menyatakan bahwa menyusun sebuah perencanaan pembelajaran

harus dapat mengembangkan berbagai kemampuan yang dimiliki peserta

didik secara optimal, mempunyai tujuan yang jelas dan teratur serta dapat

memberikan deskripsi tentang materi yang diperlukan dalam mencapai tujuan

pembelajaran seperti yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan

(38)

21

Perencanaan pembelajaran yang disusun oleh pendidik tercantum dalam

Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Menurut Mulyasa

(2005: 240) dalam Kurikulum 2013, silabus sudah disiapkan oleh Pemerintah

baik untuk kurikulum nasional maupun kurikulum wilayah, sehingga

pendidik tinggal mengembangkan rencana pembelajaran yang tidak terlalu

rumit. Dengan demikian, pendidik tinggal mengembangkan RPP berdasarkan

buku panduan pendidik, buku panduan peserta didik, dan buku sumber lain

yang sudah disiapkan. Munthe (2009: 200-201) menyebutkan bahwa

perencanaan pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan

pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan rencana

yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk

mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan

dijabarkan dalam silabus. Lingkup RPP paling luas mencakup satu

kompetensi dasar yang terdiri atas satu indikator atau beberapa indikator

untuk satu kali pertemuan. RPP disusun berdasarkan beberapa komponen.

Komponen RPP meliputi: (1) tujuan pembelajaran; (2) materi ajar; (3) metode

pembelajaran; (4) sumber belajar; (5) penilaian hasil belajar.

E. Pelaksanaan Pembelajaran IPA

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan

dengan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific). Langkah-langkah

pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam proses pembelajaran meliputi

menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian

(39)

22

dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan dan mencipta. Mata

pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini

tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini,

tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau

sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sikap-sikap non ilmiah (Dewi,

2016: 11-12)

F. Kerangka Pikir

Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus

merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis dan

jenjang pendidikan. Untuk dapat membekali peserta didik dengan berbagai

sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan

tuntutan teknologi maka pemerintah Indonesia melakukan pembaruan

kurikulum yaitu dengan menerapkan Kurikulum 2013 yang berbasis

kompetensi sekaligus berbasis karakter (competency and character based

curriculum).

Pembelajaran problem based learning merupakan pembelajaran yang

memiliki esensi berupa menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang

autentik dan bermakna kepada siswa. Pembelajaran Problem based learning

melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar

(Sanjaya, 2006) menjelaskan bahwa PBL dapat memberikan kesempatan

kepada siswa untuk berekplorasi mengumpulkan dan menganalisis data

(40)

23

Pembelajaran IPA idealnya tidak hanya mempelajari tentang produk saja,

tetapi juga memperhatikan aspek proses, sikap, dan teknologi agar siswa

dapat benar-benar memahami IPA secara utuh sesuai dengan hakikat IPA.

Oleh karena itu, guru sebaiknya menyiapkan pengalaman belajar bagi siswa

yang menekankan pada aspek produk, proses, sikap, dan keterkaitannya

dengan kehidupan sehari-hari karena masih sangat kurangnya kemampuan

dan pengetahuan pendidik mengenai Kurikulum 2013, menyebabkan

kesulitan pendidik dalam melaksanakan sintaks model pembelajaran project

based learning terutama pada aspeks pelaksanaan pembelajaran. Hambatan

yang dialami oleh pendidik pada pembelajaran biologi dalam pelaksanaan

Kurikulum 2013 dapat dilihat dari pelaksananaan pembelajaran yang

dijabarkan dalam angket semi terbuka dan wawancara.

Angket yang digunakan pada penelitian ini menggunakan 2 angket yaitu

angket semi terbuka dan semi tertutup yang dimana pada kedua angket

tersebut sudah disediakan pilihan jawaban tetapi masih ada kemungkinan

jawaban tambahan. Wawancara yang digunakan menggunakan wawancara

terstuktur dimana semua pertanyaan telah dirumuskan sebelumnya. Selain

menggunakan angket dan wawancara, data yang diperoleh juga di dukung

dengan latar belakang pendidikan guru. Hasil data yang di dapat dari angket

maupun wawancara kemudian diinterpretasikan kedalam kalimat deskriftif

kualitatif yang dibagi menjadi lima kategori sehingga akan diperoleh

hambatan pembelajaran biologi dalam pelaksanaan Kurikulum 2013.

(41)

24

sebelumnya, maka kerangka pikir dalam penelitian ini digambarkan melalui

bagan berikut ini :

Kurikulum 2013

Model Problem Based Learing

Pembelajaran IPA

Pelaksanaan Pembelajaran

1. Angket Semi Terbuka 2. Wawancara

Kesulitan Pelaksanaan Sintaks Model Project Based Learning Perencanaan

(42)

III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Pelaksanaan Penelitian ini dilakukan di SMP se-Kota Bandar Lampung

yang sudah menerapkan kurikulum 2013 yaitu SMP Negeri 1, SMP

Negeri 4, SMP Negeri 12, SMP Negeri 13, SMP Negeri 14, SMP Negeri

16, SMP Negeri 17, SMP Negeri 18, SMP Negeri 19, SMP Negeri 20,

SMP Negeri 21, SMP Negeri 23, SMP Negeri 24 SMP Negeri 25, SMP

Negeri 26, SMP Negeri 28, SMP Negeri 31, SMP Negeri 34, SMP Negeri

35, dan SMP Negeri 36. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2019.

Pada periode tersebut sedang berlangsung kegiatan pembelajaran semester

genap Tahun Pelajaran 2018/2019.

B. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pendidik kelas VIII SMP

Negeri se-Kotamadya Bandar Lampung yang sudah menerapkan

Kurikulum 2013. Metode Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik

random sampling. Teknik random sampling yaitu sampel diambil dalam

(43)

26

(Sudjana, 2005: 173). Jumlah sampel yang diambil adalah 55% dari

[image:43.595.149.514.182.756.2]

jumlah populasi, maka diperoleh sampel sebanyak 34 pendidik.

Tabel 2. Daftar populasi dan sampel

No Kecamatan Nama Sekolah Jumlah

populasi

Jumlah sampel

1 Kemiling SMPN 13 Bandar

Lampung

SMPN 14 Bandar Lampung

SMPN 26 Bandar Lampung

SMPN 28 Bandar Lampung 3 guru 3 guru 2 guru 2 guru 1 guru 2 guru 2 guru 2 guru 2 Tanjung Senang

SMPN 19 Bandar Lampung

SMPN 20 Bandar Lampung

3 guru

3 guru

1 guru

2 guru

3 Sukarame SMPN 21 Bandar

Lampung

SMPN 36 Bandar Lampung

SMPN 24 Bandar Lampung 3 guru 2 guru 3 guru 1 guru 1 guru 2 guru

4 Sukabumi SMPN 31 Bandar

Lampung

4 guru 3 guru

5 Tanjung

Karang Pusat

SMPN 25 Bandar Lampung

3 guru 1 guru

6 Tanjung

Karang Timur

SMPN 1 Bandar Lampung SMPN 4 Bandar Lampung

SMPN 12 Bandar Lampung

SMPN 23 Bandar Lampung 3 guru 3 guru 3 guru 3 guru 2 guru 1 guru 2 guru 1 guru 7 Teluk Betung Utara

SMPN 16 Bandar Lampung

SMPN 17 Bandar Lampung

SMPN 18 Bandar Lampung

(44)

27

8 Kedaton SMPN 34 Bandar

Lampung

2 guru 2 guru

Total 56 guru 34 guru

C. Desain Penelitan

Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah desain

deskriptif sederhana. Karena pada penelitian ini peneliti hanya

mendeskripsikan informasi yang diperoleh dan terjadi di lapangan

(sekolah) mengenai kesulitan - kesulitan Guru IPA Kelas VIII SMPN

se-Kota Bandar Lampung dalam penerapan Sintaks Model Pembelajaran

problem based learning

D. Prosedur Penelitian

Penelitian dilaksanakan dalam dua tahapan yakni prapenelitian dan

pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah

sebagai berikut:

1. Prapenelitian

Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian adalah:

a. Mendata jumlah sekolah SMP di Kotamadya Bandar Lampung

yang sudah menerapkan Kurikulum 2013

b. Membuat surat izin observasi sebagai surat pengantar ke sekolah

tempat dilaksanakan penelitian.

c. Melakukan studi pendahuluan (observasi) ke sekolah tempat

(45)

28

d. Menentukan jumlah pendidik IPA pada setiap sekolah yang

digunakan sebagai sampel

e. Membuat instrumen penelitian berupa angket dan pedoman

wawancara.

2. Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan penelitian dilakukan dalam beberapa langkah yaitu sebagai

berikut:

a. Membuat surat izin penelitian dari dekanat sebagai surat pengantar

ke sekolah tempat dilaksanakan penelitian.

b. Mempersiapkan instrumen penelitian berupa lembar angket semi

terbuka dan pedoman wawancara mengenai kesulitan - kesulitan

Guru IPA Kelas VIII SMPN se-Kota Bandar Lampung dalam

penerapan Sintaks Model Pembelajaran problem based learning

c. Melakukan pengumpulan data menggunakan angket semi terbuka

serta wawancara dengan pendidik mengenai kesulitan - kesulitan

Guru IPA Kelas VIII SMPN se-Kota Bandar Lampung dalam

penerapan Sintaks Model pembelajaran problem based learning

Angket dan wawancara diberikan kepada seluruh pendidik yang

dijadikan sebagai sampel yaitu sebanyak 20 pendidik.

d. Memberikan skor terhadap hasil angket yang telah diisi oleh

pendidik untuk melihat apakah pendidik mengalami kesulitan atau

(46)

29

sebagai data pendukung untuk data yang telah didapatkan dari hasil

angket

e. Menganalisis data hasil identifikasi kesulitan kesulitan - kesulitan

Guru IPA Kelas VIII SMPN se-Kota Bandar Lampung dalam

penerapan Sintaks Model Pembelajaran problem based learning

SMP Negeri se-Kotamadya Bandar Lampung.

E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

1. Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk data kualitatif.

Untuk mendapatkan data tersebut peneliti melakukan penyebaran

angket, wawancara dan latar belakang pendidikan pendidik mengenai

kesulitan pendidik IPA Kelas VIII dalam penerapan sintaks problem

based learning

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

A. Angket/ Kuesioner

Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data

secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab

dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga

disebut angket berisi sejumlah pernyataan yang harus dijawab atau

direspon oleh responden (Sutopo, 2006: 82). Responden (pendidik)

dalam penelitian ini mempunyai kebebasan untuk memberikan

(47)

30

Sudaryono, Margono dan Wardani (2013: 31) tujuan penyebaran

angket ialah mencari informasi yang lengkap mengenai suatu

masalah dari responden tanpa merasa khawatir bila responden

memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam

pengisian daftar pertanyaan. Penelitian ini menggunakan angket

semi terbuka. Angket semi terbuka merupakan angket yang

jawabannya sudah disediakan tetapi masih ada kemungkinan

[image:47.595.185.514.343.518.2]

tambahan jawaban lain.

Tabel 3. Kisi-Kisi Angket Semi Terbuka tentang tanggapan pendidik mengenai kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks Model problem based learning

No. Aspek Indikator Jumlah

Pertanyaan

1.

Perencanaan Pembelajaran

1. Penyusunan RPP 12

2.

Pelaksanaan Pembelajaran

1. Model yang sering digunakan

2. Kesulitan menggunakan model pembelajaran 1 1 3. Model Pembelajaran problem based learning

1. Pengenalan model pembelajaran 2. Penerapan model

pembelajaran

1

13

TOTAL 28

Tabel 4. Kisi-Kisi Angket Semi Terbuka tentang tanggapan pendidik mengenai kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks Model problem based learning

No. Aspek Indikato

r Jumlah Pertanyaan 1. Perencanaan Pembelajaran

1. Penyusunan RPP 13

2.

Pelaksanaan Pembelajaran

1. Model yang sering Digunakan

2. Kesulitan menggunakan model pembelajaran 1 1 3. Model Pembelajaran problem based learning

1. Pengenalan model pembelajaran 2. Penerapan model

pembelajaran

1

11

TOTAL 27

[image:47.595.183.514.567.742.2]
(48)

31

B. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada guru untuk memperoleh data primer.

Teknik wawancara yang dilakukan merupakan wawancara

terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan secara terencana,

runtut, dan dari awal sudah diketahui informasi apa yang akan

digali, pewawancara biasanya telah memiliki sederatan daftar

pertanyaan tertulis yang di-gunakan sebagai panduan (Mustafa,

2013:97). Data wawancara dianalisis dengan cara deskriptif

kualitatif yang berguna untuk menyertai dan melengkapi gambaran

yang diperoleh dari analisis data angket. Data hasil wawancara

berguna untuk menyertai dan melengkapi gambaran yang diperoleh

dari analisis data angket mengenai kesulitan–kesulitan pendidik

IPA dalam penerapan model problem based learning dalam

[image:48.595.184.498.498.582.2]

pembelajaran IPA.

Tabel 5. Kisi-Kisi Wawancara Pendidik Tentang Analisi Kendala–

Kendala Pendidik IPA Terhadap Pembelajaran IPA Terpadu

No. Indikator Pertanyaan

1. Penyusunan RPP 12

2. Pengenalan model pembelajaran 1

3. Penerapan model pembelajaran 13

4 Model yang sering digunakan 1

5 Kesulitan menggunakan model pembelaaran 1

Tabel 6. Kisi-Kisi Wawancara Pendidik Tentang Analisi Kendala–

Kendala Pendidik IPA Terhadap Pembelajaran IPA Terpadu

No. Indikator Pertanyaan

1. Penyusunan RPP 13

2. Model yang sering digunakan 1

3. Kesulitan menggunakan model pembelajaran 1

4. Pengenalan model pembelajaran 1

7. Penerapan model pembelajaran 11

[image:48.595.185.494.629.712.2]
(49)

32

F. Teknik Analisis Data

Langkah–langkah dalam analisis data angket semi terbuka adalah

sebagai berikut :

A. Menghitung jawaban soal pada angket semi terbuka dengan

memberikan skor untuk masing-masing jawaban. Jawaban yang dipilih

responden diberi nilai 1 sedangkan jawaban yang tidak dipilih

responden diberi nilai 0.

B. Menghitung persentase kesulitan yang dialami pendidik dengan rumus:

= 100 %

Keterangan:

n = jumlah skor yang diperoleh responden (pendidik)

N = jumlah skor yang semestinya diperoleh responden (pendidik) P =persentase

C. Menghitung persentase rata-rata untuk setiap aspek dengan rumus:

Persentase rata-rata=

( ) 100%

Sumber: dimodifikasi dari Widoyoko (2013: 111)

D. Hasil perhitungan di dalam bentuk persentase di interpretasikan dengan

kriteria deskriptif persentase, kemudian ditafsirkan dengan kalimat

kualitatif Pembagian persentase 100% dibagi rata menjadi 5 kategori

[image:49.595.176.486.642.722.2]

yang dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 7.Kriteria Persentase Kendala Pendidik IPA Terhadap Pembelajaran IPA Terpadu.

No. Interval Persentase Kriteria Hambatan

1. 81% - 100% Hambatan Sangat Tinggi

2. 61% - 80% Hambatan Tinggi

3. 41% - 60% Hambatan Cukup

4. 21% - 40% Hambatan Rendah

5. <21% Hambatan Sangat Rendah

(50)

49

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian kesulitan guru IPA dalam penerapan sintaks

model problem based learning di SMPN se-Bandar Lampung dapat

disimpulkan bahwa guru IPA se- Bandar Lampung mengalami kesulitan

dalam penerapan sintaks orientasi masalah, mengembangkan dan menyajikan

hasil karya, serta menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

model problem based learning yang dikategorikan tinggi

B. Saran

Adapun saran yang dapat penulis kemukakan dari penilitian adalah sebagai

berikut:

1. Guru sebaiknya bersifat aktif terhadap program program yang berkaitan

dengan kurikulum 2013 revisi terutama pada model problem based larning

seperti sering mengikuti pelatihan dan seminar mengenai kurikulum 2013

revisi.

2. Bagi peneliti lain sebaiknya melakukan pengelompokan sampel yang akan

digunakan supaya penelitian dapat berjalan efektif dan efisien di

karenakan apabila tidak melakukan pengelompokan akan dibutuhkan

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Amir, s. i. t. i. 2009. Analisis Keterampilan Prediksi Dan Mengkomunikasikan Pada Materi Asam-Basa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving Siswa Kelas XI IPA 4. Skripsi. Bandarlampung: Universitas Lampung

Aidoo, b., s.k. Boateng & I. Ofori. 2016. Effect Of Problem-Based Learning On Students Achievement In Chemistry. Journal Of Eduation And Practice. Vol.7 No. 33.

Arends, R.I. 2008. Learning to Teach Sevent Edition. New York: McGraw Hill

Arikunto, S. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta.

Ariadi, Didiet Chandra. 2014. Implementasi Standar Proses pada Pembelajaran Biologi di SMA Se-Kota Magelang. (Skripsi). Universitas Negeri

Semarang. Semarang.

Ayurianti, Dwi Siswi. 2015. Hambatan Guru dalam Perencanaan, Pelaksanaan dan Penilaian Pembelajaran Kompetensi Keahlian Multimedia pada Penerapan Kurikulum 2013 di SMK se Daerah Istimewa Yogyakarta. (Skripsi). Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Bundu, P. 2006. Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah Dalam Pembelajaran Sains-SD. Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Jakarta.

Dewi, Evi Yuliana Rosita. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Saintifik Tipe Discovery Learning Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi Materi Penyediaan Informasi Persediaan Barang Dagang Metode Periodik Kelas XI SMK17 Seyegan. (Skripsi). Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. PT Rineka Cipta. Jakarta.

(52)

43

Fakhriyah, F. 2014. Penerapan problem based learning dalam upaya mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Jurnal pendidikan IPA Indonesia 3.

Hasan, N.M. 2016. Pengaruh Aktivitas Mengajar Guru Terhadap Motivasi Belajar Pada Mata Pelajaran Ke-Muhammadiyah-An. Jurnal Informasi dan

Pengembangan Iptek. Vol. 12(2).

Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan kurikulum baru. Bandung. PT Remaja Rosdakarya Bandung.

Husamah, Yanur Setyaningrum. 2013. Desain Pembelajaran Berbasis Pencapaian Kompetensi. Prestasi Pustakaraya. Jakarta.

Jonassen, D. 2011. Supporting problem solving in PBL. Interdisciplinary Journal of Problem Based Learning. Volume 5 Nomor 2.

Jumhana, Nana dan Sukirman. 2006. Perencanaan Pembelajaran. UPI Press. Bandung.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Permendikbud Nomor 69 TentangKerangka Dasar Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Jakarta.

Kunandar. 2011. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Rajawali. Jakarta.

Machali, I. 2014. Kebijakan Perubahan Kurikulum 2013 dalam Menyongsong Indonesia Emas Tahun 2045. Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 4(1).

Margono. 2013. Metodologi Penelitian Pendidikan.Rineka Cipta. Jakarta

Mulyasa, Enco. 2005. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

Mulyasa, Enco. 2014. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

Munthe, Bernawi. 2009. Desain Pembelajaran. Pustaka Insani Mardani. Yogyakarta.

Mustafa, Z. 2013. Mengurai Variabel Hingga Instrumentasi. Graha Ilmu. Yogyakarta.

(53)

44

Rohandi, R. 2009. Memberdayakan Anak melalui Pendidikan Sains. Artikel, Pendidikan Sains yang Humanistis. Kanisius. Yogyakarta.

Redhana, i. w. 2012. Model Pembelajaran Berbasis Masalah Dan Pertanyaan Socratic Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran, Jilid 42, Nomor .

Riyanto, Y. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta. Bandung.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

Sudjana, Nana. 2005. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Sinar Baru Algesindo. Bandung.

Sugandi, Achmad. 2004. Teori Pembelajaran. UPT UNNES Press. Semarang.

Suharno. 2014. Implementasi Pembelajaran Berbasis Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Gondang Kabupaten Tulungagung. Jurnal Humanity. 10(1):147-157. (Online),

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/humanity/article/viewFile/2467/26 72, diakses pada tanggal 11 Oktober 2019.

Sutirman. 2013. Media & Model-model Pembelajaran Inovatif. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Sutopo. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. UNS Press. Surakarta.

Trianto. 2014. Model Pembelajaran Terpadu : Konsep, Strategi, dan

Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Bumi Aksara. Jakarta.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Wahyuni, s. 2011. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa melalui Pembelajaran IPA Berbasis Problem Based Learning. Diakses melalui http://e bookbrowse.net/40-sri-wahyuni-pdf-d243266722.

(54)

45

Widoyoko, Eko Putro. 2013. Teknik Penyusunan Intrumen Penelitian. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 254 hlm.

Wisudawati, A. 2014. Metodologi Pembelajaran IPA. Bumi Aksara. Jakarta.

Figure

Tabel 1 Sintaks pembelajaran problem based learningTahapPerilaku Pendidik
Tabel 2. Daftar populasi dan sampel
Tabel 3. Kisi-Kisi Angket Semi Terbuka tentang tanggapan pendidikmengenai kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks Model problembased learning
Tabel 6. Kisi-Kisi Wawancara Pendidik Tentang Analisi Kendala –Kendala Pendidik IPA Terhadap Pembelajaran IPA Terpadu
+2

References

Related documents

FEA of RapidExclude Junction verses the Washover Junction Washover Junction RapidX w/ 2500 psi L l 4 / p Level 4 Washover System w/ 10 psi p. Negligible deflection with 2500 psi

Proceedings of the 45th Annual Meeting of the Association of Computational Linguistics Proceedings of SPEECHGRAM 2007, pages 41?48, Prague, Czech Republic, June 2007 c?2007 Association

Proceedings of the Proceedings of the Ninth International Workshop on Parsing Technologies (IWPT), pages 30?41, Vancouver, October 2005 c?2005 Association for Computational

The environment consists of the tools that assist writing linguistic rules and running regression testing against large corpora, both of which are indispensable for

6° is found to be in violation of any law or in material breach of any regulation which affects its solvency, the effectiveness of its operations or the public

Ensure that conf_usb_host.h is available and contains the following parameters required for a USB device high speed (480Mbit/s):. #define

They have also been implemented in finite element (FE) modeling (e.g., Abaqus) by programming user-defined material subroutines to predict material performance. However, the

This Section provides guidance for training of service coordinators working in HUD-assisted projects serving residents who are elderly or have disabilities, including those