IDENTIFIKASI KESULITAN GURU IPA KELAS VIII SMPN SE–BANDAR LAMPUNG DALAM PENERAPAN
SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING
(SKRIPSI)
Oleh : Adi Kurniawan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
IDENTIFIKASI KESULITAN GURU IPA KELAS VIII SMPN SE–BANDAR LAMPUNG DALAM PENERAPAN
SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING
Oleh
ADI KURNIAWAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan guru IPA kelas VIII
SMPN Se–Bandar Lampung dalam penerapan sintaks model pembelajaran
problem based learning. Sampel penelitian adalah seluruh pendidik kelas VIII
SMP Negeri Se–Bandar Lampung yang sudah menerapkan kurikulum 2013
yang dipilih dengan teknik random sampling. Desain penelitian ini yaitu
dekriptif sederhana. Jenis data yang digunakan yaitu data kualitatif untuk
mendapatkan data tersebut peneliti melakukan penyebaran angket, wawancara
dan latar belakang pendidikan pendidik mengenai kesulitan pendidik IPA
Kelas VIII dalam penerapan sintaks problem based learning. Kemudian
dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidik Kelas VIII SMPN Se- Kota
Bandar Lampung masih mengalami kesulitan dalam penerapan sintaks model
pembelajaran Problem Based Learning hal ini dapat dilihat dari aspek
perencanaan yang memiliki kriteria kesulitan cukup, aspek pelaksanaan
iii
model pembelajaran Problem Based Learning dengan kriteria kesulitan
tinggi.
IDENTIFIKASI KESULITAN GURU IPA KELAS VIII SMPN SE-BANDAR LAMPUNG DALAM PENERAPAN
SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING
Oleh
ADI KURNIAWAN
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Biologi
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Krui pada 18 Juli 1997,
merupakan anak pertama dari pasangan Bapak
Maizan Noval dengan Ibu Maryati. Penulis
beralamat Jl. Nunyai Gg. Sumbi 7 No 77 Rajabasa
Nunyai Bandar Lampung.
Penulis mengawali pendidikan formal di TK
Pembina Way Mengaku (2002-2003), SD Negeri 1
Way Mengaku (2003-2009), SMP Negeri 1 Liwa (2009-2012), SMA Negeri 1
Liwa (2012-2015). Pada tahun 2015, penulis terdaftar sebagai mahasiswa
Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lampung melalui jalur Mandiri.
Penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 1
Limau dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik di Desa Antar Brak,
Kecamatan Limau, Kabupaten Tanggamus (Tahun 2018), serta melaksanakan
penelitian di SMP Negeri Se- Kota Bandar Lampung untuk meraih gelar
Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyanyang
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahi robbil ‘alamin, dengan mengucap syukur kepada Allah SWT
karena atas karunia rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Teriring doa, rasa syukur, dan segala kerendahan hati.
Dengan segala cinta dan kasih sayang kupersembahkan karya ini kepada :
Kedua orang tua ku yang senantiasa selalu mendoakan ku, memberi nasehat, memberi kasih sayang tiada henti, memberikanku segalanya demi kebahagiaanku,
mendukungku dalam meraih cita-citaku ini, kalian merupakan semangat terbesar dalam hidupku dan aku berjanji akan membanggakan kalian.
Adik-Adikku yang selalu memberi semangat, motivasi, menghibur dan selalu menyayangiku.
Para Pendidikku (Guru dan Dosen) yang telah memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat, membimbingku, memberi nasehat-nasehat yang berharga, dan kasih
sayang yang tulus.
Teman-Teman Seperjuanganku Pendidikan Biologi Angkatan 2015 yang senantiasa membantuku, menghiburku, memberiku motivasi, memberikan
kenangan yang indah selama perkuliahan.
MOTTO
“Jadikanlah sabar dan shalatmu sebagai penolong, sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 153)
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(QS. Al-Insyirah [94]: 6)
"Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai), atau orang-orang yang belajar, atau
orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu.” (Abu Bakar Sibli)
“Lakukanlah kebaikan sekecil apapun, karena kau tak pernah tau kebaikan apa yang akan membawamu ke surga”
SANWACANA
Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas segala berkat rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Identifikasi
Kesulitan Guru IPA Kelas VIII SE - Bandar Lampung Dalam Penerapan Sintaks Model Pembelajaran Problem Based Learning”. Skripsi ini dibuat
sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana Pendidikan pada Program
Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Lampung.
Penulis menyadari ini bukanlah hasil jerih payah sendiri akan tetapi berkat
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak baik moril maupun materiil
sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai. Oleh karena itu, di dalam kesempatan
ini penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan rasa terima kasih yang tulus
kepada :
1. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung yang
telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.
2. Dr. Caswita,M. Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung
yang telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.
3. Rini Rita T. Marpaung, S.Pd, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Biologi sekaligus Pembimbing 1 yang selalu sabar membimbing, selalu
memberi nasehat, banyak memberikan ilmu yang bermanfaat, dan sangat
xii
4. Dr. Dewi Lengkana, M.Sc., selaku Pembimbing Akademik yang telah
menjadi teladan bagi penulis.
5. Drs. Darlen Sikumbang, M. Biomed., selaku Pembimbing II yang telah
sabar dalam memberikan ilmu, arahan, masukan, serta motivasi sehingga
skripsi ini dapat diselenggarakan dengan baik.
6. Berti Yolida., S.Pd., M.Pd., selaku Pembahas yang telah memberikan ilmu
yang bermanfaat dan saran–saran perbaikan sehingga skripsi ini dapat
diselesaikan dengan baik.
7. Drs. Arwin Achmad, M.Si, (Alm) selaku Pembimbing Akademik, yang telah
memberikan bimbingan, semangat dan nasehat yang berharga agar dapat
menjalankan kehidupan yang lebih baik kedepannya.
8. Seluruh Dosen Program Studi Pendidikan Biologi yang telah memberikan
motivasi, nasehat, dan memberikan ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat.
9. Kepala Sekolah, guru IPA,dan staf,di SMP Negeri 1, SMP Negeri 4, SMP
Negeri 12, SMP Negeri 13, SMP Negeri 14, SMP Negeri 16, SMP Negeri 17,
SMP Negeri 18, SMP Negeri 19, SMP Negeri 20, SMP Negeri 21, SMP
Negeri 23, SMP Negeri 24 SMP Negeri 25, SMP Negeri 26, SMP Negeri 28,
SMP Negeri 31, SMP Negeri 34, SMP Negeri 35, dan SMP Negeri 36 di
Kota Bandar Lampung yang telah mengizinkan dan banyak membantu selama
penelitian berlangsung.
10. Teman-teman Pendidikan Biologi 2015, kakak tingkat, adik tingkat, dan
alumni terimakasih atas motivasi, dukungan dan persahabatan yang telah
kalian berikan.
xiii semangat, serta memberi motivasi kepadaku
Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin, skripsi ini telah selesai dan dipersembahkan
untuk orang-orang terkasih. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini
dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua.
Bandar lampung, 10 Januari 2020 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian... 7
D. Manfaat Penelitian... 7
E. Ruang Lingkup Penelitian ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kurikulum 2013... ... 10 B. Model Problem Based Learning... 11
C. Pembelajaran IPA... 18
D. Perencanaan Pembelajran IPA... 20
E. Pelaksanaan Pembelajaran IPA... 21
E. Kerangka Pikir... 22
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian... 25
B. Populasi dan Sampel ... 25
C. Desain Penelitian... 27
D. Prosedur Penelitian... 27
E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data... 29
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian...
...
35 B. Pembahasan... 37
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan... 41
B. Saran... 41
DAFTAR PUSTAKA... 42
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Sintaks Pembelajaran Problem Based Learning... 15
2. Daftar Populasi Dan Sampel... 26 3. Kisi-Kisi Angket Semi Terbuka tentang tanggapan pendidik mengenai
kesulitan pendidi dalam penerapan sintaks model Problem Based
Learning ... 30 4. Kisi-Kisi Angket Semi Terbuka tentang analisi kendala-kendala
pendidik IPA terhadap pembelajaran IPA terpadu... 30 5. Kisi-Kisi wawancara pendidik tentang tanggapan pendidik mengenai
kesulitan pendidi dalam penerapan sintaks model Problem Based
Learning ... 31 6. Kisi-Kisi wawancara pendidik tentang tanggapan pendidik mengenai
kesulitan pendidi dalam penerapan sintaks model Problem Based
Learning ... 31 7. Kriteria Persentase Kendala Pendidik IPA terhadap pembelajaran IPA
terpadu ... 32
8. Karakteristik Responden... 33
9. Hasil Angket Semi Terbuka tanggapan pendidik tentang hambatan penerapan model Problem Based Learning...
35
10. Hasil Angket Semi Terbuka tanggapan pendidik tentang hambatan penerapan model Problem Based Learning...
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1 . Angket semi terbuka tentang tanggapan pendidik mengenai
kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks model problem
based learning... 45 2. Angket semi terbuka tentang tanggapan pendidik mengenai
kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks model problem
based learning... 54 3. Pedoman Wawancara pendidik tentang tanggapan pendidik
mengenai kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks model
problem based learning... 63 4. Pedoman Wawancara pendidik tentang tanggapan pendidik
mengenai kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks model
problem based learning... 67 5. Tabulasi data angket semi terbuka terhadap tanggapan guru
Tentang kesulitan dalam penerapan sintaks model problem based
learning SMPN Se-Kota Bandar Lampung... 71 6. Transkip Hasil Wawancara Guru... 73
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu faktor pendukung dalam meningkatkan
sumber daya manusia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita
seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia agar tidak kalah
bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain melalui
keberhasilan di bidang pendidikan. Keberhasilan proses pembelajaran
dalam rangka tercapainya tujuan pendidikan di pengaruhi oleh banyak
faktor. Menurut Djamarah (2006: 45) adalah (1) diri pendidik sebagai
pengelola proses pembelajaran; ( 2) peserta didik selaku pemeran utama
dalam proses pembelajaran; (3) tujuan pembelajaran yang menjadi sasaran
dari pencapaian proses pembelajaran; (4) bahan ajar sebagai bahan yang
digunakan untuk membantu pendidik dalam proses pembelajaran di kelas;
(5) cepat dan mudahnya mendapatkan sumber bahan pelajaran; (6)
lingkungan sekitar pada saat proses pembelajaran.
Perkembangan dan kemajuan pendidikan harus disesuaikan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan keadaan lingkungan yang ada. Saat
ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk merenovasi sistem
2
Menurut Undang-Undang Nomor 20 (2003: 2) tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 1 Butir 19, kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sejak jaman kemerdekaan
sampai sekarang, kurikulum di Indonesia telah mengalami banyak
perubahan. Mulai dari kurikulum 1947 sampai kurikulum terbaru yang
belum lama diterapkan saat ini yaitu Kurikulum 2013 Revisi.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mulai ditetapkan oleh
pemerintah pada tahun 2013 dari pengembangan kurikulum sebelumnya
yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menurut Mulyasa
(2014: 231), kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis karakter
dan kompetensi. Banyak perbedaan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013
dengan KTSP, mulai dari pendekatan pembelajaran, model pembelajaran,
strategi pembelajaran sampai pada penilaian yang mencakup ranah afektif,
kognitif dan psikomotorik. Harapannya, dengan diterapkan Kurikulum
2013 ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan
manusia Indonesia agar mampu menghadapi persaingan global yang
semakin maju.
Permendikbud No.69 (Tahun 2013: 4) menjelaskan tentang Kerangka
Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama juga
menyebutkan bahwa tujuan dari pengembangan Kurikulum 2013 adalah
3
sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif,
inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan peradaban dunia.
Pelaksanaan Kurikulum 2013 menuntut kemampuan guru dalam
penguasaan konsep esensial dan kemampuan pedagogik guru. Guru
berperan besar di dalam mengimplementasikan tiap proses pembelajaran
pada kurikulum 2013. Guru ke depannya dituntut tidak hanya cerdas tetapi
juga adaptif terhadap perubahan. Menurut Husamah (2013), pada diri
guru, sedikitnya ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus
dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013, yaitu
kompetensi pedagogik, kompetensi akademik (keilmuwan), kompetensi
sosial, dan kompetensi manajerial atau kepemimpinan, sedangkan menurut
Sagala (2009), kompetensi pedagogik dapat terpenuhi oleh seorang guru
salah satunya adalah guru harus mampu mengembangkan kurikulum.
Tugas guru dalam implementasi kurikulum adalah bagaimana memberikan
kemudahan belajar pada peserta didik agar mereka mampu berinteraksi
dengan lingkungan eksternal sehingga terjadi perubahan perilaku sesuai
yang dikemukakan dalam Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi
Lulusan (SKL). Panduan pembelajaran dan buku ajar dalam Kurikulum
2013 sudah ditetapkan dari pusat. Namun demikian guru dituntut untuk
tetap dapat mengemas pembelajaran yang berorientasi pada aspek sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Akan tetapi tidaklah mudah mengubah
praktik pembelajaran dari kebiasaan lama ke hal baru apalagi beserta mind
4
pendekatan dan strategi pembelajarannya. Proses pembelajaran dalam
kurikulum 2013 dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah
(scientific approach). Proses pembelajaran harus menyentuh 3 ranah, yaitu
sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge)
(Hidayat. 2013).
Salah satu syarat terwujudnya pembelajaran menggunakan kurikulum
2013 adalah dengan adanya perubahan paradigma guru dalam proses
pembelajaran. Akan tetapi, mengubah paradigma guru dalam mengajar
bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan, karena guru sudah terbiasa
menggunakan gaya mengajar dengan hanya menggunakan metode
ceramah saja yaitu hanya sebatas menerangkan dan mencatat materi di
papan tulis, sedangkan pada kurikulum 2013 ini, guru dituntut untuk
memahami dan mampu menerapkan pendekatan dan model pembelajaraan
menggunakan kurikulum 2013 dengan baik, seperti halnya pemanfaatan
media dan sumber belajar yang bervariasi.
Provinsi Lampung sebagian besar sudah menerapkan Kurikulum 2013
terutama Kota Bandar Lampung yang merupakan pusat kota yang selalu
bersaing dalam dunia pendidikan demi mencapai kualitas pendidikan yang
lebih baik.Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya sekolah di Kota
Bandar Lampung sudah menerapkan Kurikulum 2013 pada setiap jenjang
pendidikan, mulai dari SD hingga SMA sederajat. Berdasarkan data dari
5
tercatat sebanyak 37 SMPN yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 pada
tahun 2018.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada bulan November dan
Desember 2018 dengan para pendidik IPA khususnya biologi di SMP
Negeri di Bandar Lampung penerapan Kurikulum 2013 ini tidak seperti
yang diharapkan, masih ada kesulitan atau hambatan yang di hadapi oleh
para pendidik biologi dalam pembelajaran biologi yang sesuai dengan
tuntutan Kurikulum 2013, diantaranya yaitu sulit menentukan model
pembelajaran yang sesuai dengan KD (Kompetensi Dasar), kesulitan
dalam penilaian afektif dengan jumlah peserta didik yang sangat banyak,
dan kesulitan menentukan penggunaan media pembelajaran untuk materi
yang tidak di praktikumkan, kemudian pada beberapa sekolah pun
memaparkan tidak terlaksananya Kurikulum 2013 dengan baik karena
kurang tersedianya sarana dan prasarana pada sekolah tersebut. Beberapa
pendidik lain juga menyatakan bahwa peserta didik masih terbiasa dengan
pembelajaran menggunakan kurikulum yang lama sehingga pendidik
belum sepenuhnya bisa menerapkan Kurikum 2013. Pendidik yang telah
diwawancara masih bingung untuk membedakan antara model Discovery
Learning, Inquiry Learning, Problem Based Learning, dan Project Based
Learning. Kemudian sebagian besar pendidik yang telah di wawancara
mengalami kesulitan terhadap model Problem Based Learning dan Project
6
Model problem based learning dianggap sulit karena pada peserta didik di
SMP kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran yang berlangsung.
Hal ini terlihat pada saat pendidik mengajar, siswa masih sangat jarang
untuk merespon hal-hal yang diperintahkan pendidik. Selain itu pendidik
yang telah di wawancara sebagian besar mengalami kesulitan dalam
menerapkan sintaks atau langkah–langkah model problem based leaning:
orientasi masalah, penyelidikan, mengembangkan dan menyajikan hasil
karya, serta analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Berdasarkan
uraian di atas, terdapat hambatan-hambatan pembelajaran biologi yang
dihadapi oleh para pendidik SMP Negeri dalam pelaksanaan Kurikulum
2013, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul
Identifikasi Kesulitan Guru IPA Kelas VIII SMPN se-Kota Bandar
Lampung dalam penerapan Sintaks Model Pembelajaran Problem Based
Learning.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan di atas, maka
peneliti mengambil permasalahan pokok yang akan di angkat pada
penelitian ini yaitu : Bagaimanakah kesulitan - kesulitan Guru IPA Kelas
VIII SMPN se-Kota Bandar Lampung dalam penerapan Sintaks Model
7
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan di
laksanakannya penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesuliitan guru
IPA Kelas VIII SMPN se-Kota Bandar Lampung dalam penerapan Sintaks
Model Pembelajaran problem based learning.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain:
1. Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi mengenai cara
mengatasi kesulitan guru IPA dalam menerapkan sintaks model
pembelajaran problem based learning
2. Kegunaan Praktis
a. Bagi Peneliti
Dapat memberikan wawasan, pengetahuan, dan juga pengalaman
dalam mencari informasi untuk mengalami kesulitan-kesulitan
dalam penerapan model problem based learning di dalam proses
pembelajaran menggunakan kurikulum 2013.
b. Bagi Guru
Memberikan gambaran dan informasi mengenai kesulitan–kesulit
an yang di hadapi guru IPA se-kota Bandar Lampung dalam
8
solusi bagaimana mengatasi kesulitan dalam menggunakan model
problem based learning.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan untuk meneliti
permasalahan model pembelajaran problem based learning dan
dapat menjadi acuan dalam menyusun rancangan penelitian yang
lebih baik lagi dari sebelumnya.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Guna menghindari adanya anggapan yang berbeda terhadap masalah yang
akan dibahas, maka peneliti membatasi ruang lingkup penelitian sebagai
berikut:
1. Kesulitan yang di identifikasi dalam penelitian ini adalah kesulitan
pendidik dalam menerapkan sintaks atau langkah–langkah model
pembelajaran problem based learning.
2. Adapun sintaks atau langkah–langkah dalam model pembelajaran
problem based learning sebagai berikut :
1. Orientasi masalah
2. Organisasi kegiatan pembelajaran
3. Penyelidikan
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
9
3. Populasi dalam penelitian ini adalah pendidik seluruh SMP Negeri
se-Kota Bandar Lampung. Sampel yang di gunakan yaitu sebanyak 55%
dari jumlah populasi yaitu 37 pendidik.
4. Subjek dalam penelitian ini adalah guru IPA SMP Negeri se-Kota
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kurikulum 2013
Kurikulum merupakan suatu rencana atau rangkaian konsep dalam suatu
sistem pendidikan yang berisikan berbagai macam strategi dan tujuan yang
akan dicapai oleh setiap peserta didik. Kurikulum dapat mengarahkan suatu
proses kegiatan belajar mengajar berjalan dengan efisien, dikarenakan dalam
implementasiannya memuat isi dan berbagai pedoman yang digunakan untuk
mencapai tujuan tertentu.
Kurikulum memiliki fungsi dan peran yang sangat penting dan strategis.
Meskipun bukan satu-satunya faktor utama keberhasilan proses pendidikan,
kurikulum menjadi petunjuk, dan arah terhadap keberhasilan pendidikan
(Machali, 2014).
Menurut Hasan dalam Ruhimat (2016 : 6) mengemukakan bahwa pada saat
sekarang istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, yaitu :
1. Kurikulum sebagai suatu ide/gagasan
2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan
11
3. Kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah
kurikulum sebagai suatu realita
4. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari
kurikulum sebagai suatu kegiatan
Dari beberapa dimensi yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa
kurikulum ialah sekumpulan dari ide-ide yang akan digunakan sebagai bahan
untuk mengembangkan kurikulum. Dimensi kedua kurikulum sebagai suatu
rencana artinya di dalam komponen kurikulum terdapat isi, tujuan, dan bahan
pembelajaran yang dimanfaatkan untuk proses kegiatan belajar dan mengajar.
Pada dimensi ketiga kurikulum sebagai suatu kegiatan artinya kurikulum
memandang bahwa secara keseluruhan isi dan tujuan yang memuat
didalamnya selalu menuntut guru dan peserta didik mempraktikan ketika
kurikulum diimplementasikan. Dimensi keempat menyatakan bahwa
kurikulum dikaitkan dengan hasil, maksudnya ialah pada umumnya suatu
kurikulum yang telah diterapkan pada sekolah akan menghasilkan suatu
prestasi untuk siswa yang sesuai dengan rencana saat penerapan kurikulum
telah berlangsung.
B. Model Problem Based Learning
Model pembelajaran problem based learning adalah suatu model
pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan peserta
didik dalam memecahkan masalah (Riyanto, 2009). Pembelajaran problem
12
menemukan alternative solusi atas masalah, ke-mudian memilih solusi yang
tepat untuk digunakan dalam pemecahan masalah (Sutirman, 2013).
Pembelajaran problem based learning ini sering dilakukan dengan
pendekatan tim melalui penekanan pada pembangunan keterampilan yang
berkait-an dengan pengambilan keputusan, diskusi, pemeliharaan tim,
manajemen konflik, dan kepemimpinan tim (Wulandari & Surjono, 2013).
Menurut Wahyuni (2011) Pembelajaran problem based learning merupakan
model pem-belajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu
konteks bagi siswa untuk belajar tentang keterampilan pemecahan masalah
dan berfikir kreatif untuk memperoleh pengetahuan. Dimana peserta didik
lebih aktif dalam berpikir dan mencari informasi memahami materi dari
permasalahan yang nyata di sekitar-nya sehingga mereka mendapatkan kesan
yang mendalam dan lebih bermakna tentang apa yang mereka pelajari
(Riyanto, 2009). Didukung oleh 8 pendapat Amir (2009) bahwa pembelajaran
problem based learning membuat siswa mahir dalam meme-cahkan masalah,
memecahkan strategi belajar sendiri serta membuat siswa memi-liki
kecakapan berpartisipasi dalam tim. Pembelajaran ini membantu siswa untuk
memproses informasi yang sudah ada dan mengolah pengetahuan mereka
sendiri tentang dunia sosial di sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk
mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.
PBL(problem based learning) menurut Aidoo et al. (2016) yaitu: PBL
diartikan sebagai pembelajaran pedagogis yang berpusat pada siswa
13
membahas masalah yang menantang dengan tujuan menemukan solusi untuk
masalah ini. Model pembelajaran problem based learning memiliki sejumlah
karakteristik yang membedakannya dengan model pembelajaran yang
lainnya. Karakteristik tersebut yakni belajar dimulai dengan suatu masalah,
memastikan bahwa masalah yang di berikan berhubungan dengan dunia nyata
peserta didik, mengorganisir pelajaran di sekitar masalah, bukan di seputar
disiplin ilmu, memberikan tanggung jawab yang besar kepada pembelajar
dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka
sendiri, menggunakan kelompok kecil, dan menuntut pembelajar untuk
mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu
produk atau kinerja (Jonassen, 2011).
Pembelajaran problem based learning adalah pembelajaran yang memiliki
esensi berupa menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan
bermakna kepada siswa (Arends , 2008; Trianto, 2014). Masalah yang
dimunculkan dalam pembelajaran problem based learning ini tidak memiliki
9 jawaban yang tunggal, artinya siswa harus terlibat dalam menemukan
berbagai alternatif solusi atas masalah tersebut (Fakhriyah, 2014).
Ciri-ciri model PBL menurut Redhana (2012) yaitu: Siswa pertama
dihadapkan dengan masalah ill-structured atau ill defined problems
(masalah-masalah kurang terstruktur atau kurang terdefinisi), open-ended, ambigu, dan
kontekstual. Agar dapat memecahkan masalah,siswa harus mempelajari
materi terlebih dahulu, artinya, siswa harus mengkons-truksi pengetahuan
14
dengan masalah, siswa selanjutnya memecahkan masalah yang dihadapi
melalui kerja kelompok.
Rusman (2010) mengemukakan karakteristik pembelajaran problem based
learning adalah sebagai berikut: a) Permasalahan menjadi starting point
dalam belajar. b) Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada
di dunia nyata yang tidak terstruktur. c) Permasalahan membutuhkan
perspektif ganda. d) Permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki oleh
siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi
kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar. e) Belajar pengarahan diri
yang menjadi hal utama. f) Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam,
penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang
esensial dalam pembelajaran problem based learning. g) Belajar adalah
kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif. h) Pengembangan keterampilan
inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi
pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. i) Keterbukaan
proses dalam Pembelajaran Problem based learning meliputi sintesis dan
integrasi dari sebuah proses belajar.
Pembelajaran Problem based learning melibatkan evaluasi dan review
pengalaman siswa dan proses belajar (Sanjaya, 2006) menjelaskan bahwa
PBL dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berekplorasi
mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan
masalah yang dihadapi. Sehingga siswa mampu untuk berpikir kritis, analitis,
15
Menurut Kemendikbud No.69 tahun 2013, tujuan dan hasil dari Problem
Based Learning ini adalah untuk mengembangkan keterampilan berfikir
tingkat tinggi, mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas, melibatkan
siswa dalam pe-nyelidikan permasalahan pilihan sendiri yang memungkinkan
mereka menginter-pretasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan
membangun pemahaman-nya tentang fenomena tersebut. Tahapan
[image:32.595.133.514.293.616.2]implementasi model PBL melalui 5 fase yang disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Sintaks pembelajaran problem based learning
Tahap Perilaku Pendidik
Tahap 1
Orientasi Peserta Didik terhadap malasah
Pendidik menjelaskantujuan pembelajaran, menjelaskan kebutuhan logistik yang diperlukan, dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah.
Tahap 2
Mengorganisasi peserta didik untuk belajar
Pendidik membantu peserta didik
mendefinisikan dan menyusun tugas-tugas belajar yang terkait dengan permasalahan.
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individu maupun
kelompok
Pendidik mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, mengadakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi.
Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pendidik membantu peserta didik dalam merencanakan dan mempersiapkan karya yang sesuai laporan, video, dan model, serta membantu membagikan pekerjaan mereka pada temannya.
Tahap 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Pendidik membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses-proses yang mereka gunakan
Adapun penjelasan dari sintaks pembelajaran model problem based learning
adalah sebagai berikut:
a. Orientasi peserta didik kepada masalah
Pembelajaran berbasis masalah dimulai dengan menjelaskan tujuan
16
dan mendiskripsikan apa yang akan dilakukan peserta didik. Pada tahap
orientasi ini, guru menyajikan masalah untuk suatu materi pelajaran dengan
menggunakan kejadian yang mencengangkan dan menimbulkan misteri
sehingga membangkitkan minat dan keinginan peserta didik untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi
b. Mengorganisasi peserta didik untuk belajar
Pembelajaran berbasis masalah membutuhkan pengembangan
keterampilan kolaborasi antar peserta didik dalam kegiatan
penyelidikan, sehingga kegiatan penyelidikan perlu dilakukan secara
bersama-sama. Oleh karena itu, guru mengorganisasikan peserta didik
dalam kelompok-kelompok belajar kooperatif, membimbing peserta
didik dalam penyelidikan dan tugas-tugas. Pembentukan kelompok
didasarkan pada tujuan yang akan dicapai dan mengupayakan agar
semua peserta didik aktif dalam sejumlah kegiatan penyelidikan.
c. Membimbing penyelidikan indivual atau kelompok
Guru membantu peserta didik dalam pengumpulan informasi dari
berbagai sumber. Peserta didik diberi pertanyaan yang dapat membuat
mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis informasi yang
diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Peserta didik diajarkan
untuk menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode
yang sesuai untuk masalah yang dihadapinya, peserta didik juga perlu
diajarkan apa dan bagaimana etika penyelidikan yang benar.
Guru mendorong pertukaran ide atau gagasan secara bebas dan
17
diungkapkan peserta didik merupakan hal yang sangat penting dalam
tahap penyelidikan. Selama tahap penyelidikan, guru memberikan
bantuan yang dibutuhkan peserta didik tanpa mengganggu aktivitas
peserta didik.
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Tahap penyelidikan dalam pembelajaran berbasis masalah diikuti dengan
menyajikan hasil karya seperti laporan, poster, video, program komputer,
dan sebagainya. Pada tahap ini, siswa mempresentasikan hasil pelaksanaan
tugas atau hasil penyelesaian masalah dan menjelaskan alasan atas jawaban
permasalahan mereka di depan kelas.
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Pada tahap ini, guru membantu peserta didik menganalisis dan
mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri terhadap keterampilan
penyelidikan yang mereka gunakan. Disamping itu, guru dapat memberikan
soal-soal latihan yang harus dikerjakan peserta didik berkaitan dengan
materi yang sedang dipelajari seperti tugas mandiri yang bertujuan
mengecek pemahaman peserta didik setelah mengikuti proses
pembelajaran.
Keefektivan model pembelajaran sangat terkait dengan pencapaian tujuan
suatu proses pembelajaran. Model pembelajaran dapat dikatakan efektiv
bila peserta didik dilibatkan secaraaktif dalam mengorganisasi dan
menemukan hubungan serta informasi-informasi yang diberikan dan tidak
hanya secara pasif menerima pengetahuan dari guru atau dosen. Indikator
18
belajar peserta didik; (2) pencapaian aktifitasa peserta didik dan guru atau
dosen; (3) pencapaian kemampuan dosen dalam mengelola pembelajaran;
(4) peserta didik memberi respon positif dan minat yang tinggi terhadap
pembelajaran yang dilaksanakan (Nieveen, 1999).
C. Pembelajaran IPA
Pendidikan merupakan aspek penting dalam era globalisasi. Menurut
Wisudawati (2013: 5) mengatakan bahwa perkembangan kurikulum di
Indonesia pada tahun 2013 untuk pembelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan
Alam) bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik dan menuntut
guru memiliki kreativitas dan pola berpikir tingkat tinggi dalam pelaksanaan
proses pembelajaran IPA dikelas. Sebagai suatu disiplin ilmu, IPA memiliki
objek, persoalan dan metode pemecahan masalah (Djohar, 2006: 1).
Pembelajaran IPA idealnya tidak hanya mempelajari tentang produk saja,
tetapi juga memperhatikan aspek proses, sikap, dan teknologi agar siswa
dapat benar-benar memahami IPA secara utuh sesuai dengan hakikat IPA.
Oleh karena itu, guru sebaiknya menyiapkan pengalaman belajar bagi siswa
yang menekankan pada aspek produk, proses, sikap, dan keterkaitannya
dengan kehidupan sehari-hari. IPA sebagai mata pelajaran mengandung tiga
aspek, ialah produk IPA, proses IPA, dan sikap IPA (Djohar, 2006: 2). Proses
ilmiah adalah suatu kegiatan ilmiah yang dilaksanakan dalam rangka
menemukan produk ilmiah. Proses ilmiah meliputi mengamati,
19
Produk ilmiah meliputi prinsip, konsep, hukum, dan teori. Produk ilmiah
berupa pengetahuan-pengetahuan alam yang telah ditemukan dan diuji secara
ilmiah. Sikap ilmiah merupakan keyakinan akan nilai yang harus
dipertahankan ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan baru. Sikap
ilmiah meliputi ingin tahu, hati-hati, obyektif, dan jujur (Bundu, 2006: 11).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa IPA menurut hakikatnya
adalah suatu cara untuk memperoleh pengetahuan baru yang berupa produk
ilmiah dan sikap ilmiah melalui suatu kegiatan yang disebut proses ilmiah.
Siapapun yang akan mempelajari IPA haruslah melakukan suatu kegiatan
yang disebut sebagai proses ilmiah. Seseorang dapat menemukan
pengetahuan baru dan menanamkan sikap yang ada dalam dirinya melalui
proses ilmiah tersebut. Pembelajaran IPA, menurut Rohandi (2009: 113)
merupakan proses konstruksi pengetahuan (sains) melalui aktivitas berpikir
anak. Peserta didik dibimbing untuk menelusuri masalah, mencari penjelasan
mengenai fenomena yang dilihat, dan melakukan eksperimen untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sedangkan menurut Herawati (2000:
113) pembelajaran IPA merupakan integrasi antara proses inkuiri dan
pengetahuan sehingga pengembangan konsep IPA harus dikaitkan dengan
pengembangan keterampilan ilmiah dan sikap ilmiah. Peserta didik dilatih
untuk mengembangkan keterampilan menjelajah lingkungan dan
memecahkan masalah. Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana
bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta
prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam
20
Rohandi, 2009: 118), pembelajaran IPA seharusnya memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengembangkan sikap ingin tahu dan berbagai
penjelasan logis. Hal ini penting agar siswa tidak hanya diberikan teori saja
tanpa mengetahui proses lahirnya teori tersebut. Dengan demikian, siswa
tidak sekedar menghafal melainkan memahami teori. Selain itu, pembelajaran
tersebut dapat mendorong siswa untuk mengekspresikan kreativitasnya,
mengembangkan cara berpikir logis, dan kemampuan untuk membangkitkan
penjelasan ilmiah.
D. Perencanaan Pembelajaran IPA
Kegiatan pembelajaran yang baik senantiasa berawal dari rencana yang
matang. Menurut Nana dan Sukirman (2006: 40), menjelaskan bahwa
perencanaan pembelajaran merupakan penjabaran, pengayaan dan
pengembangan dari kurikulum. Selain mengacu pada tuntutan kurikulum,
dalam melakukan perencanaan pembelajaran juga harus mempertimbangkan
situasi dan kondisi serta potensi yang ada di sekolah masing-masing. Waybin
(2015: 33) menyatakan bahwa menyusun sebuah perencanaan pembelajaran
harus dapat mengembangkan berbagai kemampuan yang dimiliki peserta
didik secara optimal, mempunyai tujuan yang jelas dan teratur serta dapat
memberikan deskripsi tentang materi yang diperlukan dalam mencapai tujuan
pembelajaran seperti yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan
21
Perencanaan pembelajaran yang disusun oleh pendidik tercantum dalam
Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Menurut Mulyasa
(2005: 240) dalam Kurikulum 2013, silabus sudah disiapkan oleh Pemerintah
baik untuk kurikulum nasional maupun kurikulum wilayah, sehingga
pendidik tinggal mengembangkan rencana pembelajaran yang tidak terlalu
rumit. Dengan demikian, pendidik tinggal mengembangkan RPP berdasarkan
buku panduan pendidik, buku panduan peserta didik, dan buku sumber lain
yang sudah disiapkan. Munthe (2009: 200-201) menyebutkan bahwa
perencanaan pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan rencana
yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk
mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan
dijabarkan dalam silabus. Lingkup RPP paling luas mencakup satu
kompetensi dasar yang terdiri atas satu indikator atau beberapa indikator
untuk satu kali pertemuan. RPP disusun berdasarkan beberapa komponen.
Komponen RPP meliputi: (1) tujuan pembelajaran; (2) materi ajar; (3) metode
pembelajaran; (4) sumber belajar; (5) penilaian hasil belajar.
E. Pelaksanaan Pembelajaran IPA
Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan
dengan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific). Langkah-langkah
pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam proses pembelajaran meliputi
menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian
22
dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan dan mencipta. Mata
pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini
tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini,
tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau
sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sikap-sikap non ilmiah (Dewi,
2016: 11-12)
F. Kerangka Pikir
Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus
merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis dan
jenjang pendidikan. Untuk dapat membekali peserta didik dengan berbagai
sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan
tuntutan teknologi maka pemerintah Indonesia melakukan pembaruan
kurikulum yaitu dengan menerapkan Kurikulum 2013 yang berbasis
kompetensi sekaligus berbasis karakter (competency and character based
curriculum).
Pembelajaran problem based learning merupakan pembelajaran yang
memiliki esensi berupa menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang
autentik dan bermakna kepada siswa. Pembelajaran Problem based learning
melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar
(Sanjaya, 2006) menjelaskan bahwa PBL dapat memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berekplorasi mengumpulkan dan menganalisis data
23
Pembelajaran IPA idealnya tidak hanya mempelajari tentang produk saja,
tetapi juga memperhatikan aspek proses, sikap, dan teknologi agar siswa
dapat benar-benar memahami IPA secara utuh sesuai dengan hakikat IPA.
Oleh karena itu, guru sebaiknya menyiapkan pengalaman belajar bagi siswa
yang menekankan pada aspek produk, proses, sikap, dan keterkaitannya
dengan kehidupan sehari-hari karena masih sangat kurangnya kemampuan
dan pengetahuan pendidik mengenai Kurikulum 2013, menyebabkan
kesulitan pendidik dalam melaksanakan sintaks model pembelajaran project
based learning terutama pada aspeks pelaksanaan pembelajaran. Hambatan
yang dialami oleh pendidik pada pembelajaran biologi dalam pelaksanaan
Kurikulum 2013 dapat dilihat dari pelaksananaan pembelajaran yang
dijabarkan dalam angket semi terbuka dan wawancara.
Angket yang digunakan pada penelitian ini menggunakan 2 angket yaitu
angket semi terbuka dan semi tertutup yang dimana pada kedua angket
tersebut sudah disediakan pilihan jawaban tetapi masih ada kemungkinan
jawaban tambahan. Wawancara yang digunakan menggunakan wawancara
terstuktur dimana semua pertanyaan telah dirumuskan sebelumnya. Selain
menggunakan angket dan wawancara, data yang diperoleh juga di dukung
dengan latar belakang pendidikan guru. Hasil data yang di dapat dari angket
maupun wawancara kemudian diinterpretasikan kedalam kalimat deskriftif
kualitatif yang dibagi menjadi lima kategori sehingga akan diperoleh
hambatan pembelajaran biologi dalam pelaksanaan Kurikulum 2013.
24
sebelumnya, maka kerangka pikir dalam penelitian ini digambarkan melalui
bagan berikut ini :
Kurikulum 2013
Model Problem Based Learing
Pembelajaran IPA
Pelaksanaan Pembelajaran
1. Angket Semi Terbuka 2. Wawancara
Kesulitan Pelaksanaan Sintaks Model Project Based Learning Perencanaan
III. METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Pelaksanaan Penelitian ini dilakukan di SMP se-Kota Bandar Lampung
yang sudah menerapkan kurikulum 2013 yaitu SMP Negeri 1, SMP
Negeri 4, SMP Negeri 12, SMP Negeri 13, SMP Negeri 14, SMP Negeri
16, SMP Negeri 17, SMP Negeri 18, SMP Negeri 19, SMP Negeri 20,
SMP Negeri 21, SMP Negeri 23, SMP Negeri 24 SMP Negeri 25, SMP
Negeri 26, SMP Negeri 28, SMP Negeri 31, SMP Negeri 34, SMP Negeri
35, dan SMP Negeri 36. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2019.
Pada periode tersebut sedang berlangsung kegiatan pembelajaran semester
genap Tahun Pelajaran 2018/2019.
B. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pendidik kelas VIII SMP
Negeri se-Kotamadya Bandar Lampung yang sudah menerapkan
Kurikulum 2013. Metode Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik
random sampling. Teknik random sampling yaitu sampel diambil dalam
26
(Sudjana, 2005: 173). Jumlah sampel yang diambil adalah 55% dari
[image:43.595.149.514.182.756.2]jumlah populasi, maka diperoleh sampel sebanyak 34 pendidik.
Tabel 2. Daftar populasi dan sampel
No Kecamatan Nama Sekolah Jumlah
populasi
Jumlah sampel
1 Kemiling SMPN 13 Bandar
Lampung
SMPN 14 Bandar Lampung
SMPN 26 Bandar Lampung
SMPN 28 Bandar Lampung 3 guru 3 guru 2 guru 2 guru 1 guru 2 guru 2 guru 2 guru 2 Tanjung Senang
SMPN 19 Bandar Lampung
SMPN 20 Bandar Lampung
3 guru
3 guru
1 guru
2 guru
3 Sukarame SMPN 21 Bandar
Lampung
SMPN 36 Bandar Lampung
SMPN 24 Bandar Lampung 3 guru 2 guru 3 guru 1 guru 1 guru 2 guru
4 Sukabumi SMPN 31 Bandar
Lampung
4 guru 3 guru
5 Tanjung
Karang Pusat
SMPN 25 Bandar Lampung
3 guru 1 guru
6 Tanjung
Karang Timur
SMPN 1 Bandar Lampung SMPN 4 Bandar Lampung
SMPN 12 Bandar Lampung
SMPN 23 Bandar Lampung 3 guru 3 guru 3 guru 3 guru 2 guru 1 guru 2 guru 1 guru 7 Teluk Betung Utara
SMPN 16 Bandar Lampung
SMPN 17 Bandar Lampung
SMPN 18 Bandar Lampung
27
8 Kedaton SMPN 34 Bandar
Lampung
2 guru 2 guru
Total 56 guru 34 guru
C. Desain Penelitan
Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah desain
deskriptif sederhana. Karena pada penelitian ini peneliti hanya
mendeskripsikan informasi yang diperoleh dan terjadi di lapangan
(sekolah) mengenai kesulitan - kesulitan Guru IPA Kelas VIII SMPN
se-Kota Bandar Lampung dalam penerapan Sintaks Model Pembelajaran
problem based learning
D. Prosedur Penelitian
Penelitian dilaksanakan dalam dua tahapan yakni prapenelitian dan
pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah
sebagai berikut:
1. Prapenelitian
Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian adalah:
a. Mendata jumlah sekolah SMP di Kotamadya Bandar Lampung
yang sudah menerapkan Kurikulum 2013
b. Membuat surat izin observasi sebagai surat pengantar ke sekolah
tempat dilaksanakan penelitian.
c. Melakukan studi pendahuluan (observasi) ke sekolah tempat
28
d. Menentukan jumlah pendidik IPA pada setiap sekolah yang
digunakan sebagai sampel
e. Membuat instrumen penelitian berupa angket dan pedoman
wawancara.
2. Pelaksanaan Penelitian
Kegiatan penelitian dilakukan dalam beberapa langkah yaitu sebagai
berikut:
a. Membuat surat izin penelitian dari dekanat sebagai surat pengantar
ke sekolah tempat dilaksanakan penelitian.
b. Mempersiapkan instrumen penelitian berupa lembar angket semi
terbuka dan pedoman wawancara mengenai kesulitan - kesulitan
Guru IPA Kelas VIII SMPN se-Kota Bandar Lampung dalam
penerapan Sintaks Model Pembelajaran problem based learning
c. Melakukan pengumpulan data menggunakan angket semi terbuka
serta wawancara dengan pendidik mengenai kesulitan - kesulitan
Guru IPA Kelas VIII SMPN se-Kota Bandar Lampung dalam
penerapan Sintaks Model pembelajaran problem based learning
Angket dan wawancara diberikan kepada seluruh pendidik yang
dijadikan sebagai sampel yaitu sebanyak 20 pendidik.
d. Memberikan skor terhadap hasil angket yang telah diisi oleh
pendidik untuk melihat apakah pendidik mengalami kesulitan atau
29
sebagai data pendukung untuk data yang telah didapatkan dari hasil
angket
e. Menganalisis data hasil identifikasi kesulitan kesulitan - kesulitan
Guru IPA Kelas VIII SMPN se-Kota Bandar Lampung dalam
penerapan Sintaks Model Pembelajaran problem based learning
SMP Negeri se-Kotamadya Bandar Lampung.
E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data
1. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk data kualitatif.
Untuk mendapatkan data tersebut peneliti melakukan penyebaran
angket, wawancara dan latar belakang pendidikan pendidik mengenai
kesulitan pendidik IPA Kelas VIII dalam penerapan sintaks problem
based learning
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
A. Angket/ Kuesioner
Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data
secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab
dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga
disebut angket berisi sejumlah pernyataan yang harus dijawab atau
direspon oleh responden (Sutopo, 2006: 82). Responden (pendidik)
dalam penelitian ini mempunyai kebebasan untuk memberikan
30
Sudaryono, Margono dan Wardani (2013: 31) tujuan penyebaran
angket ialah mencari informasi yang lengkap mengenai suatu
masalah dari responden tanpa merasa khawatir bila responden
memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam
pengisian daftar pertanyaan. Penelitian ini menggunakan angket
semi terbuka. Angket semi terbuka merupakan angket yang
jawabannya sudah disediakan tetapi masih ada kemungkinan
[image:47.595.185.514.343.518.2]tambahan jawaban lain.
Tabel 3. Kisi-Kisi Angket Semi Terbuka tentang tanggapan pendidik mengenai kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks Model problem based learning
No. Aspek Indikator Jumlah
Pertanyaan
1.
Perencanaan Pembelajaran
1. Penyusunan RPP 12
2.
Pelaksanaan Pembelajaran
1. Model yang sering digunakan
2. Kesulitan menggunakan model pembelajaran 1 1 3. Model Pembelajaran problem based learning
1. Pengenalan model pembelajaran 2. Penerapan model
pembelajaran
1
13
TOTAL 28
Tabel 4. Kisi-Kisi Angket Semi Terbuka tentang tanggapan pendidik mengenai kesulitan pendidik dalam penerapan sintaks Model problem based learning
No. Aspek Indikato
r Jumlah Pertanyaan 1. Perencanaan Pembelajaran
1. Penyusunan RPP 13
2.
Pelaksanaan Pembelajaran
1. Model yang sering Digunakan
2. Kesulitan menggunakan model pembelajaran 1 1 3. Model Pembelajaran problem based learning
1. Pengenalan model pembelajaran 2. Penerapan model
pembelajaran
1
11
TOTAL 27
[image:47.595.183.514.567.742.2]31
B. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada guru untuk memperoleh data primer.
Teknik wawancara yang dilakukan merupakan wawancara
terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan secara terencana,
runtut, dan dari awal sudah diketahui informasi apa yang akan
digali, pewawancara biasanya telah memiliki sederatan daftar
pertanyaan tertulis yang di-gunakan sebagai panduan (Mustafa,
2013:97). Data wawancara dianalisis dengan cara deskriptif
kualitatif yang berguna untuk menyertai dan melengkapi gambaran
yang diperoleh dari analisis data angket. Data hasil wawancara
berguna untuk menyertai dan melengkapi gambaran yang diperoleh
dari analisis data angket mengenai kesulitan–kesulitan pendidik
IPA dalam penerapan model problem based learning dalam
[image:48.595.184.498.498.582.2]pembelajaran IPA.
Tabel 5. Kisi-Kisi Wawancara Pendidik Tentang Analisi Kendala–
Kendala Pendidik IPA Terhadap Pembelajaran IPA Terpadu
No. Indikator Pertanyaan
1. Penyusunan RPP 12
2. Pengenalan model pembelajaran 1
3. Penerapan model pembelajaran 13
4 Model yang sering digunakan 1
5 Kesulitan menggunakan model pembelaaran 1
Tabel 6. Kisi-Kisi Wawancara Pendidik Tentang Analisi Kendala–
Kendala Pendidik IPA Terhadap Pembelajaran IPA Terpadu
No. Indikator Pertanyaan
1. Penyusunan RPP 13
2. Model yang sering digunakan 1
3. Kesulitan menggunakan model pembelajaran 1
4. Pengenalan model pembelajaran 1
7. Penerapan model pembelajaran 11
[image:48.595.185.494.629.712.2]32
F. Teknik Analisis Data
Langkah–langkah dalam analisis data angket semi terbuka adalah
sebagai berikut :
A. Menghitung jawaban soal pada angket semi terbuka dengan
memberikan skor untuk masing-masing jawaban. Jawaban yang dipilih
responden diberi nilai 1 sedangkan jawaban yang tidak dipilih
responden diberi nilai 0.
B. Menghitung persentase kesulitan yang dialami pendidik dengan rumus:
= 100 %
Keterangan:
n = jumlah skor yang diperoleh responden (pendidik)
N = jumlah skor yang semestinya diperoleh responden (pendidik) P =persentase
C. Menghitung persentase rata-rata untuk setiap aspek dengan rumus:
Persentase rata-rata=
( ) 100%
Sumber: dimodifikasi dari Widoyoko (2013: 111)
D. Hasil perhitungan di dalam bentuk persentase di interpretasikan dengan
kriteria deskriptif persentase, kemudian ditafsirkan dengan kalimat
kualitatif Pembagian persentase 100% dibagi rata menjadi 5 kategori
[image:49.595.176.486.642.722.2]yang dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 7.Kriteria Persentase Kendala Pendidik IPA Terhadap Pembelajaran IPA Terpadu.
No. Interval Persentase Kriteria Hambatan
1. 81% - 100% Hambatan Sangat Tinggi
2. 61% - 80% Hambatan Tinggi
3. 41% - 60% Hambatan Cukup
4. 21% - 40% Hambatan Rendah
5. <21% Hambatan Sangat Rendah
49
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian kesulitan guru IPA dalam penerapan sintaks
model problem based learning di SMPN se-Bandar Lampung dapat
disimpulkan bahwa guru IPA se- Bandar Lampung mengalami kesulitan
dalam penerapan sintaks orientasi masalah, mengembangkan dan menyajikan
hasil karya, serta menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
model problem based learning yang dikategorikan tinggi
B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis kemukakan dari penilitian adalah sebagai
berikut:
1. Guru sebaiknya bersifat aktif terhadap program program yang berkaitan
dengan kurikulum 2013 revisi terutama pada model problem based larning
seperti sering mengikuti pelatihan dan seminar mengenai kurikulum 2013
revisi.
2. Bagi peneliti lain sebaiknya melakukan pengelompokan sampel yang akan
digunakan supaya penelitian dapat berjalan efektif dan efisien di
karenakan apabila tidak melakukan pengelompokan akan dibutuhkan
DAFTAR PUSTAKA
Amir, s. i. t. i. 2009. Analisis Keterampilan Prediksi Dan Mengkomunikasikan Pada Materi Asam-Basa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving Siswa Kelas XI IPA 4. Skripsi. Bandarlampung: Universitas Lampung
Aidoo, b., s.k. Boateng & I. Ofori. 2016. Effect Of Problem-Based Learning On Students Achievement In Chemistry. Journal Of Eduation And Practice. Vol.7 No. 33.
Arends, R.I. 2008. Learning to Teach Sevent Edition. New York: McGraw Hill
Arikunto, S. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta.
Ariadi, Didiet Chandra. 2014. Implementasi Standar Proses pada Pembelajaran Biologi di SMA Se-Kota Magelang. (Skripsi). Universitas Negeri
Semarang. Semarang.
Ayurianti, Dwi Siswi. 2015. Hambatan Guru dalam Perencanaan, Pelaksanaan dan Penilaian Pembelajaran Kompetensi Keahlian Multimedia pada Penerapan Kurikulum 2013 di SMK se Daerah Istimewa Yogyakarta. (Skripsi). Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Bundu, P. 2006. Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah Dalam Pembelajaran Sains-SD. Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Jakarta.
Dewi, Evi Yuliana Rosita. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Saintifik Tipe Discovery Learning Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi Materi Penyediaan Informasi Persediaan Barang Dagang Metode Periodik Kelas XI SMK17 Seyegan. (Skripsi). Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. PT Rineka Cipta. Jakarta.
43
Fakhriyah, F. 2014. Penerapan problem based learning dalam upaya mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Jurnal pendidikan IPA Indonesia 3.
Hasan, N.M. 2016. Pengaruh Aktivitas Mengajar Guru Terhadap Motivasi Belajar Pada Mata Pelajaran Ke-Muhammadiyah-An. Jurnal Informasi dan
Pengembangan Iptek. Vol. 12(2).
Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan kurikulum baru. Bandung. PT Remaja Rosdakarya Bandung.
Husamah, Yanur Setyaningrum. 2013. Desain Pembelajaran Berbasis Pencapaian Kompetensi. Prestasi Pustakaraya. Jakarta.
Jonassen, D. 2011. Supporting problem solving in PBL. Interdisciplinary Journal of Problem Based Learning. Volume 5 Nomor 2.
Jumhana, Nana dan Sukirman. 2006. Perencanaan Pembelajaran. UPI Press. Bandung.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Permendikbud Nomor 69 TentangKerangka Dasar Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Jakarta.
Kunandar. 2011. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Rajawali. Jakarta.
Machali, I. 2014. Kebijakan Perubahan Kurikulum 2013 dalam Menyongsong Indonesia Emas Tahun 2045. Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 4(1).
Margono. 2013. Metodologi Penelitian Pendidikan.Rineka Cipta. Jakarta
Mulyasa, Enco. 2005. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Mulyasa, Enco. 2014. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Munthe, Bernawi. 2009. Desain Pembelajaran. Pustaka Insani Mardani. Yogyakarta.
Mustafa, Z. 2013. Mengurai Variabel Hingga Instrumentasi. Graha Ilmu. Yogyakarta.
44
Rohandi, R. 2009. Memberdayakan Anak melalui Pendidikan Sains. Artikel, Pendidikan Sains yang Humanistis. Kanisius. Yogyakarta.
Redhana, i. w. 2012. Model Pembelajaran Berbasis Masalah Dan Pertanyaan Socratic Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran, Jilid 42, Nomor .
Riyanto, Y. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta. Bandung.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.
Sudjana, Nana. 2005. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Sinar Baru Algesindo. Bandung.
Sugandi, Achmad. 2004. Teori Pembelajaran. UPT UNNES Press. Semarang.
Suharno. 2014. Implementasi Pembelajaran Berbasis Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Gondang Kabupaten Tulungagung. Jurnal Humanity. 10(1):147-157. (Online),
http://ejournal.umm.ac.id/index.php/humanity/article/viewFile/2467/26 72, diakses pada tanggal 11 Oktober 2019.
Sutirman. 2013. Media & Model-model Pembelajaran Inovatif. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Sutopo. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. UNS Press. Surakarta.
Trianto. 2014. Model Pembelajaran Terpadu : Konsep, Strategi, dan
Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Bumi Aksara. Jakarta.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Wahyuni, s. 2011. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa melalui Pembelajaran IPA Berbasis Problem Based Learning. Diakses melalui http://e bookbrowse.net/40-sri-wahyuni-pdf-d243266722.
45
Widoyoko, Eko Putro. 2013. Teknik Penyusunan Intrumen Penelitian. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 254 hlm.
Wisudawati, A. 2014. Metodologi Pembelajaran IPA. Bumi Aksara. Jakarta.