• No results found

Text ABSTRAK (INGGRIS & INDONESIA) pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK (INGGRIS & INDONESIA) pdf"

Copied!
70
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGARUH PEMBERIAN BORAKS DAN FORMALIN TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI RENAL TIKUS PUTIH JANTAN

(Rattus novergicus) GALUR Sprague dawley

(Skripsi)

Oleh:

LAILATUT TORIQOH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(2)

ABSTRACT

EFFECT OF BORAX AND FORMALIN ON THE RENAL HISTOPATHOLOGY OF MALE WHITE (Rattus novergicus) Sprague

dawley STRAIN

By

LAILATUT TORIQOH

Backgrounds: Borax and formalin (formaldehyde 37%) are widely used from industrial purposes. Borax and formalin are prohibited for being used in food. Borax and formalin that enter the body can cause various health problems to various organs including the kidneys. Therefore, this study aims to determine the effects of borax and formalin on renal histopathological changes in rats.

Methods: This study used 24 rats divided into 4 groups. The control group (K) was given distilled water by ad libitum. The treatment groups (P1, P2 and P3) were given borax at a dose of 0.067 g/day, 0.135 g/day, 0.27 g/day and formalin 0.012 ml/day, 0.025 ml/day, 0.05 ml/day for 14 days. Kidney organs were taken for histopathological examination on the 15th day.

Results: In general, renal score damage in each group was K=0.13, P1=0.70, P2=1.10, and P3=1.53. Data were tested with Shapiro-Wilk, continued by Levene's test homogeneity test. Because the data were not normal, then it was continued with the Kruskall Wallis p=0.00*, and continued with Pos Hoc Mann Whitney and the results obtained for significant mean differences in all treatment groups were p<0.05*.

Conclusion: There is the effect of borax and formalin with multilevel doses on the renal histopathology of male white rats (Rattus novergicus) Sprague dawley strain.

(3)

ABSTRAK

PENGARUH PEMBERIAN BORAKS DAN FORMALIN TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI RENAL TIKUS PUTIH JANTAN

(Rattus novergicus) GALUR Sprague dawley

Oleh

LAILATUT TORIQOH

Latar Belakang: Boraks dan formalin (formaldehid 37%) banyak digunakan untuk keperluan industri. Boraks dan formalin dilarang digunakan dalam makanan. Boraks dan formalin yang masuk ke dalam tubuh dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan terhadap berbagai organ termasuk ginjal. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian boraks dan formalin terhadap perubahan histopatologi renal tikus.

Metode: Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok kontrol (K) diberi aquades secara ad libitum. Kelompok perlakuan (P1, P2, dan P3) diberi boraks dosis 0.067 g/hari, 0.135 g/hari, 0.27 g/hari dan formalin 0.012 ml/hari, 0.025 ml/hari, 0.05 ml/hari selama 14 hari. Hari ke 15 organ ginjal diambil untuk melakukan pemeriksaan histopatologi.

Hasil: Rerata kerusakan skor ginjal K=0.13, P1=0.70, P2=1.10, dan P3=1.53. Data diuji dengan Shapiro-Wilk, dilanjutkan uji homogenitas Levene’s test karena data tidak normal maka dilanjutkan dengan uji Kruskall Wallis p=0.00*, dan dilanjutkan dengan Pos Hoc Mann Whitney didapatkan hasil perbedaan rerata bermakna pada semua kelompok perlakuan p<0.05*.

Simpulan: Terdapat pengaruh pemberian boraks dan formalin dosis bertingkat terhadap gambaran histopatologi renal tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague dawley.

(4)

PENGARUH PEMBERIAN BORAKS DAN FORMALIN TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI RENAL TIKUS PUTIH JANTAN

(Rattus novergicus) GALUR Sprague dawley

Oleh

LAILATUT TORIQOH

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN

pada

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung pada tanggal 10

November 1998, sebagai anak keempat dari lima bersaudara dari Bapak Sumari

dan Ibu Sartiyah.

Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) diselesaikan pada TK Dharma Wanita,

Mesuji pada tahun 2005, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan pada MIN 1 Mesuji

pada tahun 2010, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di MTs SA

Mukti Karya pada tahun 2013 dan Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di

SMAN 1 Tanjung Raya pada tahun 2016. Pada tahun 2016, penulis terdaftar

sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung melalui jalur

(9)

SANWANCANA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala

rahmat dan karunia-Nya dan mencurahkan segala kasih sayangnya sehingga

penulis dapat menyesaikan skripsi tepat waktu.

Skripsi ini berjudul “PENGARUH PEMBERIAN BORAKS DAN FORMALIN TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI RENAL TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novergicus) GALUR Sprague dawley” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran di

Universitas Lampung.

Terimakasih kepada orang tua yang saya hormati dan banggakan Sumari dan

Sartiyah yang sudah bekerja keras untuk mencukupkan kebutuhan penulis, dengan

kasih sayang membesarkan penulis, memberikan pendidikan yang terbaik bagi

penulis, dan untuk doa, perhatian, semangat, dan dukungan yang selalu diberikan

kepada penulis.

Dalam meyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mendapat masukan, bantuan,

(10)

kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan rasa

terimakasih yang sebesar besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Karomani, M.Si., Selaku Rektor Universitas Lampung.

2. Dr. Dyah Wulan SRW, S.K.M., M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung.

3. Prof. Dr. dr. Muhartono, S. Ked., M. Kes., Sp. PA selaku pembimbing 1

atas kesediaannya meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan,

saran, kritik, nasehat, motivasi, ilmu, dan bantuan selama menyelesaikan

skripsi ini.

4. dr. Roro Rukmi Windi P., S. Ked., M. Kes, Sp. A selaku pembimbing 2

atas kesediaannya meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan,

saran, kritik, nasehat, motivasi, ilmu, dan bantuan selama menyelesaikan

skripsi ini.

5. dr. Anggraeni Janar Wulan, S. Ked., M. Sc selaku pembahas atas

kesediaannya meluangkan waktu untuk memberikan koreksi, kritik, saran,

dan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini serta memberikan nasehat.

6. Dr. Ety Apriliana, S.Ked., M. Biomed selaku Pembimbing Akademik atas

bimbingan dan saran yang membangun selama proses belajar di Fakultas

Kedokteran.

7. Seluruh dosen pengajar dan civitas akademik Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung yang telah banyak memberikan ilmu dan bantuan

(11)

8. A. Khoirul Anam, S.H.,M.H selaku kakak kandung saya yang selalu

memberi semangat, membantu, dan mendoakan penulis dalam, selama

sebelum dan setelah belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

9. Saudara saya Nur, Arrahmad, Desi, Nanda yang selalu memberi semangat,

membantu, dan mendoakan penulis dalam menempuh pembelajaran di

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

10.Sahabat perjuangan saya selama kuliah Brenda, Vina, Zeni yang selalu

menguatkan dan mendoakan penulis.

11.Teman-teman seperjuangan skripsi Nadila, Nana, Katya, Nadhea, Maula,

Via, Ayu, dan Ghina yang selalu memberi semangat, membantu, dan

mendoakan penulis dalam menyelesaikan penelitian.

12.Teman-teman TR16EMINUS yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu,

terimakasih atas kebersamaan, keceriaan, kekompakan selama

perkuliahan, semoga kita menjadi dokter dan teman sejawat yang berguna

bagi bangsa dan negara.

13.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah

memberikan bantuan dalam menyelesaikan penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena

itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat mambangun demi

perbaikan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberi manfaat

(12)

Bandar Lampung, Desember 2019

Penulis,

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR...v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

1.4.1 Bagi Ilmu Pengetahuan ... 5

1.4.2 Bagi Peneliti... 6

1.4.3 Bagi Pemerintah ... 6

1.4.4 Bagi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung ... 6

1.4.5 Bagi Peneliti Lain... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Boraks ... 7

2.1.1 Pengertian Boraks ... 7

2.1.2 Penggunaan dan Toksisitas Boraks ... 8

2.1.3 Toksikokinetik Borak ... 9

2.2 Formalin ... 12

(14)

2.2.2 Penggunaan Formalin ... 13

2.2.3 Metabolisme Formalin ... 14

2.2.4 Toksikokinetik Formalin ... 15

2.3 Ginjal ... 17

2.3.1 Anatomi Ginjal ... 17

2.3.2 Histologi Ginjal ... 22

2.3.3 Histopatologi Ginjal ... 24

2.4 Tikus Putih (Rattus Novergicus) ... 26

2.5 Kerangka Teori Penelitian ... 27

2.6 Kerangka Konsep Penelitian ... 30

2.7 Hipotesis penelitian ... 30

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

3.1 Desain Penelitian ... 31

3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ... 31

3.3 Subjek Penelitian ... 32

3.3.1 Populasi Target ... 32

3.3.2 Populasi terjangkau ... 32

3.3.3 Sampel ... 32

3.3.4 Cara Pengambilan Sampel ... 33

3.3.5 Besar Sampel ... 33

3.4 Variabel Penelitian ... 35

3.4.1 Variabel Bebas ... 35

3.4.2 Variabel terikat ... 35

3.5 Definisi Operasional Variabel ... 36

3.5.1 Variabel Bebas (Pemberian Formalin dan Boraks Peroral Selama 2 Minggu) ... 36

3.5.2 Variabel Terikat (Gambaran Histopatologi Ginjal) ... 37

3.6 Cara Pengumpulan Data ... 38

3.6.1 Bahan ... 38

3.6.2 Alat ... 39

(15)

3.6.4 Perhitungan Dosis ... 40

3.5.6 Cara Kerja ... 43

3.7 Alur Penelitian... 45

3.8 Analisa Data ... 46

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 47

4.1 Hasil Penelitian ... 47

4.1.1 Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus ... 47

4.1.2 Tingkat Kerusakan Ginjal Tikus ... 51

4.1.3 Analisis Data ... 53

4.2 Pembahasan ... 56

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 59

5.1 Simpulan ... 59

5.2 Saran ... 59

DAFTAR PUSTAKA ... 60

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Rerata Skoring Kerusakan Ginjal Tikus...52

2. Uji Normalitas Shapiro-Wilk...54

3. Uji Homogenitas Levene’s-test...54

4. Uji Normalitas (Transformasi Data)...55

5. Uji Homogenitas (Transformasi Data)...55

6. Uji Kruskal-Wallis...56

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Toksikokinetik Formalin... 16

2. Struktur Anatomi Ginjal... 21

3. Histologi Korteks Ginjal... 23

4. Histologi Medula Ginjal... 24

5. Histopatologi Ginjal Setelah Paparan Formalin... 25

6. Histopatologi Ginjal Setelah Paparan Boraks... 25

7. Kerangka Teori... 29

8. Kerangka Konsep... 30

9. Alur Penelitian... 45

10.Histopatologi Ginjal Kelompok Kontrol... 48

11.Histopatologi Ginjal Kelompok Perlakuan 1 ... 49

12.Histopatologi Ginjal Kelompok Perlakuan 2... 50

13.Histopatologi Ginjal Kelompok Perlakuan 3... 51

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pangan merupakan segala sesuatu yang berasal dari sumber hidup baik yang

diolah maupun tidak diolah yang digunakan sebagai makanan untuk

memenuhi kebutuhan manusia yang berasal dari produk pertanian,

perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, dan perairan, termasuk bahan

tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan

dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau

minuman (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2018). Aspek keamanan

pangan yang harus diawasi adalah penggunaan Bahan Tambahan Pangan

(BTP) pada pangan olahan, karena banyak disalahgunakan. Bahan Tambahan

Pangan merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk

mempengaruhi sifat atau bentuk pangan (Badan Pengawas Obat dan

Makanan, 2012).

Badan Pengawasan Obat dan Makanan tahun 2017 melaporkan bahwa boraks

dan formalin masih disalahgunakan sebagai BTP pada makan seperti pada

mie, otak-otak, sate kerang, dan cincau (Badan Pengawas Obat dan Makanan,

(19)

2012 tentang Bahan Tambahan Pangan menyatan bahwa boraks dan formalin

dilarang digunakan untuk Bahan Tambahan Pangan. Menurut

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan pasal 136: Bila sengaja

menggunakan bahan yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan

Pangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (1) dipidana dengan

pidana 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 10.000.000.000,00

(sepuluh miliar rupiah) (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2014).

Boraks merupakan senyawa kimia dengan nama natrium tetraborat (Na2B4O2

(H2O) 10) yang merupakan mineral yang memiliki toksisitas rendah yang

bersifat insektisida, fungisida dan herbisida (Pongsavee, 2009). Bentuk

boraks adalah bubuk putih yang tidak memiliki warna, dapat larut di dalam

air, seperti garam, dan dapat digunakan sebagai pestisida (See et al., 2010).

Struktur dasar boraks mengandung rantai segitiga BO2 (OH) yang saling

terkait dan tetrahedron BO3 (OH) yang berikatan dengan rantai natrium dan

oktahedron air (Pongsavee, 2009). Nama lain boraks antara lain natrium

borat, natrium tetraborat, atau disodium tetraborat (Kabu dan Uyarlar, 2015).

Mengonsumsi boraks terus menerus dapat berakibat buruk bagi tubuh

terutama berbahaya bagi ginjal yang dapat menyebabkan gagal ginjal

(Pongsavee, 2009). Berdasarkan data penelitian pada hewan coba dan

manusia absorbsi boraks menunjukkan bahwa senyawa boraks mudah diserap

secara oral (sekitar 100%). Pada manusia, senyawa boraks diserap di usus.

(20)

(sebagian besar dalam plasma), jaringan tubuh (ginjal, hati, otot, usus besar,

testis, epididimis, vesikula seminalis, prostat, adrenal) dan organ lainnya.

Boraks dapat menembus sawar plasenta manusia dan dapat ditemui dalam

ASI (Air Susu Ibu) (Larsen et al., 2015).

Boraks tidak dimetabolisme pada hewan atau manusia, karena membutuhkan

energi yang tinggi sekitar 523 kJ/mol untuk memutus ikatan B-O. Boraks

diekskresikan dalam bentuk urin dengan waktu paruh <24 jam pada manusia

dan hewan. (Team, 2005) Pada tikus pembersihan ginjal (renal clearance)

3-4 kali lebih cepat dibandingkan dengan manusia. Pada manusia, pembersihan

ginjal (renal clearance) sedikit lebih cepat pada wanita hamil. Ekskresi

senyawa boroks relatif cepat dengan waktu paruh eliminasi <24 jam (Larsen

et al., 2015). Pada Laporan kasus pria 77 tahun yang mengonsumsi boraks 85

mg/kg (30 g asam borat) menyebabkan gagal ginjal akut (See et al., 2010).

Pada sebuah penelitain eksperimental mengunakan hewan coba tikus, pajanan

boraks peroral subakut dengan dosis LD50 5000 mg/kgBB terdapat perubahan

gambaran hsitopatologi pada ginjal tikus (Kabu dan Uyarlar, 2015).

Formaldehid dalam perdagangan dikenal sebagai formalin yang tersedia

dalam larutan 37%. Formalin dimetabolisme menjadi asam format di hati dan

eritrosit dan kemudian diekskresikan, baik dengan urin dan kotoran atau

melalui sistem pernapasan dikatalisasi oleh enzim formaldehida

dehidrogenase (FDH). Formalin memiliki waktu paruh yang sangat singkat

(21)

selama reaksi ini, sehingga ketika konsentrasi formalin meningkat, kadar

glutathione darah menurun. Menurunnya glutathione dan antioksidan,

meningkatkan toksisitas formalin. Formalin memasuki monokarbon (C1)

kumpulan metabolisme seluler melalui pengikatan ke asam tetrahidrofolat,

dengan demikian, ia dapat berpartisipasi dalam struktur makromolekul,

seperti asam nukleat. Formalin ada pada berbagai tingkatan dalam sel, tetapi

tidak dapat disimpan di dalam tubuh (Davarci dan Gorur, 2015).

Formalin memiliki beragam efek pada individu terutama pada ginjal. Pada

sebuah penelitian yang dilakukan pada pekerja dengan paparan formalin,

ditemukan bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam kejadian kanker

ginjal di antara para karyawan ini. Telah diamati bahwa nekrosis tubular akut

dapat berkembang karena obstruksi edematous atau gagal ginjal akut yang

disebabkan oleh formalin intravesikal digunakan untuk pengobatan sistitis

hemoragik kronis. Pada sebuah penelitian pada pasien alkoholik,

menunjukkan bahwa metanol yang dimetabolisme menjadi formalin dan asam

format menyebabkan nekrosis tubular jaringan ginjal, kemudian

mengakibatkan gagal ginjal (Davarci dan Gorur, 2015). Selain itu pada

penelitian eksperimental mengunakan hewan coba tikus, pajanan formalin

peroral akut dengan dosis 200 mg/kgBB terdapat perubahan gambaran

hsitopatologi pada ginjal tikus (Manurung, 2017).

Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh yang berperan dalam filtrasi,

(22)

2005).

Berdasarkan kajian pustaka yang telah dilakukan maka peneliti akan

melakukan percobaan tentang pengaruh pemberian boraks dan formalin

peroral selama 2 minggu terhadap gambaran histopatologi renal (ginjal) tikus

putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague dawley.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka dalam penulisan ini rumusan

masalah yang akan diteliti adalah: Apakah terdapat pengaruh pemberian

boraks dan formalin peroral selama 2 minggu terhadap gambaran

histopatologi renal (ginjal) tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur

Sprague dawley.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian

boraks dan formalin peroral selama 2 minggu terhadap gambaran

histopatologi renal (ginjal) pada tikus jantan setelah diberikan formalin dan

boraks.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Ilmu Pengetahuan

(23)

dan boraks peroral terhadap gambaran histopatologi renal (ginjal) tikus

jantan, khususnya di bidang Histopatologi.

1.4.2 Bagi Peneliti

Penelitian ini sebagai wujud pengaplikasian disiplin ilmu yang telah

dipelajari oleh peneliti sehingga dapat memperluas wawasan keilmuan

peneliti.

1.4.3 Bagi Pemerintah

Penelitian ini dapat menjadi peringatan adanya bahaya formalin bagi

kesehatan, sehinga pemerintah dapat terus mengawasi peredaran

formalin agar tidak disalahgunakan dan memperkuat fungsi

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

1.4.4 Bagi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Menambah bahan kepustakaan dalam lingkungan Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung.

1.4.5 Bagi Peneliti Lain

Penelitian ini dapat menjadi referensi untuk penelitian yang serupa dan

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Boraks

2.1.1 Pengertian Boraks

Boraks merupakan elemen nonlogam grup IIIA dari tabel periodik

serta memiliki tingkat oksidasi +3, nomor atom 5 dan berat atom 10,81.

boraks merupakan campuran dari dua isotop stabil, 10B (19,8%) dan

11B (80,2%). Boraks merupakan asam lemah dengan pKa 9,2 (IRIS,

2004). Boraks merupakan senyawa kimia dengan nama natrium

tetraborat (Na2B4O2 (H2O) 10) yang merupakan mineral yang memiliki

toksisitas rendah yang bersifat insektisida, fungisida dan herbisida.

Struktur dasar boraks mengandung rantai segitiga BO2 (OH) yang

saling terkait dan tetrahedron BO3 (OH) yang berikatan dengan rantai

natrium dan oktahedron air (Pongsavee, 2009). Nama lain boraks antara

lain natrium borat, natrium tetraborat, atau disodium tetraborat (Kabu

dan Uyarlar, 2015).

Boraks memiliki dua bentuk yakni boraks alami dan boraks sintesis.

Boraks alami berasal dari dalam endapan menguap yang dihasilkan oleh

(25)

prekursor untuk natrium perborate monohydrate. Boraks sintetis

diproduksi dari senyawa boron lain dalam bentuk bubuk putih seperti

kristal yang mudah larut dalam air (Pongsavee, 2009). Konsentrasi

boron dalam batuan dan tanah biasanya kurang dari 10 ppm, meskipun

konsentrasi setinggi 100 ppm telah dilaporkan dalam serpih dan

beberapa tanah. Konsentrasi rata-rata keseluruhan di kerak bumi telah

diperkirakan 10 ppm. Konsentrasi yang dilaporkan dalam kisaran air

laut 0,5-9,6 ppm, dengan rata-rata 4,6 ppm. Konsentrasi air tawar

berkisar dari <0,01-1,5 ppm (IRIS, 2004).

2.1.2 Penggunaan dan Toksisitas Boraks

Bentuk boraks adalah bubuk putih yang tidak memiliki warna, dapat

larut di dalam air, seperti garam, dan dapat digunakan sebagai pestisida

(See et al., 2010). Boraks banyak digunakan untuk keperluan industri

yakni pembuatan kaca, isolasi fiberglass, enamel porselen, gelas

keramik (IRIS, 2004). Boraks secara umum digunakan sebagai bahan

pengawet makanan untuk mencegah pembusukan produk makanan oleh

mikroorganisme. Namun, penggunaan berlebihan terbukti berbahaya

bagi kesehatan (See et al., 2010).

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa boraks memiliki toksisitas

akut rendah setelah pemberian oral, dermal dan inhalasi pada hewan

percobaan. Untuk senyawa boraks data eksperimental berikut dapat

(26)

mg/kgBB), LD50 boraks secara dermal pada tikus adalah tikus >2000

mg/kg (226-350 mg/kgBB), dan LC50 boraks secara inhalasi adalah >2

mg/ l (300-371 mg/kgBB) / m3). Dosis letal oral pada manusia adalah

2-3 g boraks untuk bayi, 5-6 g boraks untuk anak-anak, dan 15-2-30 g

boraks untuk orang dewasa(Larsen et al., 2015).

2.1.3 Toksikokinetik Borak 2.1.3.1 Absorpsi

Berdasarkan data penelitian pada hewan coba dan manusia

absorbsi (penyerapan) boraks menunjukkan bahwa senyawa

boraks mudah diserap secara oral (sekitar 100%) (Larsen et al.,

2015). Seperti yang ditunjukkan oleh tingkat dari boron dalam

urin, darah atau jaringan. Pada penelitian sukarelawan manusia

dewasa yang diberi dosis oral tunggal 131 mg/BB (boraks yang

dilarutkan dalam air), 94% dari dosis yang diberikan

diekskresikan dalam urin selama 96 jam. Dalam serangkaian

studi sukarelawan manusia yang dilakukan pada awal 1900-an,

di mana dosis besar asam borat berulang kali diberikan secara

oral, sekitar 80% dari dosis yang diberikan ditemukan dalam

urin, sementara 1% ditemukan dalam tinja (Team, 2005).

Dalam penelitian pada hewan coba, inhalasi boraks dalam

aerosol mudah diserap. Penelitian pada manusia, penelitian

(27)

dapat ditemukan dalam darah dan urin. Penyerapan boraks

melalui kulit sangat rendah (<0,5%) kecuali melalui selaput

lendir dan kulit yang mengalami cedera atau terkelupas (Larsen

et al., 2015).

2.1.3.2 Distribusi

Distribusi boraks dengan cepat menyebar dalam tubuh dan

dalam darah (sebagian besar dalam plasma), jaringan tubuh

(hati, otot, usus besar, testis, epididimis, vesikula seminalis,

prostat, adrenal) dan organ lainnya. Boraks dapat menembus

sawar plasenta manusia dan dapat ditemui dalam ASI (Air Susu

Ibu) (Larsen et al., 2015). Pada penelitian sebeumnya tidak ada

bukti substansial akumulasi boraks pada manusia atau hewan.

Dalam sebuah penelitian terhadap pekerja yang terpajan 10

mg/m3 boraks di udara (0,22 mg/kg/hari), tidak ada akumulasi

progresif boraks dalam jaringan lunak selama seminggu yang

diukur didalam darah dan urin. Dengan demikian, boroks tidak

menumpuk di jaringan lunak. Kadar boron dalam jaringan lunak

sebanding dengan kadar plasma, sementara konsentrasi boraks

yang lebih besar dalam tulang diamati relatif terhadap jaringan

(28)

2.1.3.3 Metabolisme

Senyawa boraks tidak dimetabolisme dan ada didalam darah

sebagai asam boraks (Larsen et al., 2015). Boraks tidak

dimetabolisme pada hewan atau manusia, karena membutuhkan

energi yang tinggi sekitar 523 kJ/mol untuk memutus ikatan

B-O. Boraks anorganik lainnya dikonversi menjadi asam borak

pada pH fisiologis. Penelitian di mana lebih dari 90% dosis

boraks anorganik yang di diekskresikan dalam bentuk urin

sebagai asam boraks. Asam boraks merupakan asam yang sangat

asam (Team, 2005).

Mengkonsumsi boraks terus-menerus dapat menyebakan

kerusakan sel oleh karena gugus aktif B-O yang mengikat

protein dan lipid tak jenuh yang dapat menyebabkan peroksidasi

lipid dimana merupakan suatu keadaan radikal bebas mencuri

elektron dan lipid dalam membran sel, sehingga menyebabkan

kerusakan permeabilitas sel (Nurzali, 2013).

2.1.3.4 Ekskresi

Boraks diekskresikan dalam bentuk urin dengan waktu paruh

<24 jam pada manusia dan hewan (Team, 2005) Pada tikus

pembersihan ginjal (renal clearance) 3-4 kali lebih cepat

dibandingkan dengan manusia. Pada manusia, pembersihan

(29)

Ekskresi senyawa boroks relatif cepat dengan waktu paruh

eliminasi <24 jam. (Larsen et al., 2015).

2.2 Formalin

2.2.1 Pengertian Formalin

Formaldehid (CH2O) adalah zat yang sangat reaktif karena memiliki

sifat elektrofilik yang kuat, dan dapat berubah dari padat atau cair

menjadi bentuk gas pada suhu kamar. Bentuknya yang murni memiliki

bau menyengat yang khas dan dapat mengiritasi saluran pernapasan.

Larutan formaldehid 37% dalam air dikenal sebagai formalin,

sedangkan bentuk padat yang dipolimerisasi disebut paraformaldehyde.

Bentuk cair formalin, yang dihasilkan oleh oksidasi metanol, umumnya

dinyatakan dalam mililiter (mL), sedangkan bentuk gas dinyatakan

dalam bagian per juta (ppm) (Davarci dan Gorur, 2015)

Formalin dapat ditemukan di sebagian besar sel manusia dan sel hidup

lainnya sebagai produk hasil dari metabolisme serin, glisin, metionin,

dan kolin, dan dihasilkan dalam demetilasi N-, O-, dan senyawa

S-metil. Formalin merupakan perantara penting dalam biosintesis purin,

timidin, dan berbagai asam amino. Sehingga, formalin dapat dijumpai

hampir dalam seluruh tubuh (Checkoway et al., 2012). Formalin secara

alami diproduksi sebagai hasil metobilsme sampingan yang berfungsi

sebagai sumber unit metil yang ditransfer melalui tetrahydrofolate

(30)

Formalin memiliki titik didih 101oC, pH 2,8-4,0 densitas 1,067

(udara=1), pKa= 13,27 pada shuhu 25oC, titik nyalanya 85oC (kelas III

A), titik beku -117oC, tekanan uap 3,890 mmHg pada suku 25oC, larut

dalam alkohol, eter, aseton, dan benzana. Kelarutan dalam air 4 x

104mg/L pada suhu 20oC (Badan Pengawasan Obat dan Makanan

Republik Indonesia, 2008) .

Formalin adalah zat kimia dengan bau tajam yang sangat larut dalam air

dan terjadi secara alami pada organisme. Formalin, dimetabolisme

menjadi asam format di hati dan eritrosit dan kemudian diekskresikan,

baik dengan urin dan kotoran atau melalui sistem pernapasan (Davarci

dan Gorur, 2015). Formalin juga sebagai biocid, pengawet, dan bahan

kimia dasar dalam pembuatan bahan umum seperti plastik, bahan

bangunan, lem dan kain, dan banyak produk rumah tangga, termasuk

obat-obatan, kesehatan, dan alat bantu kecantikan. Formalin juga

merupakan produk pembakaran bahan organik (Checkoway et al.,

2012).

2.2.2 Penggunaan Formalin

Formalin digunakan dalam insulasi konstruktif, pewarna, plastik, tekstil

dan kayu. Formalin dapat dijumpai dalam bentuk dalam beton, plester,

bingkai kaca, alat pemadam kebakaran, elektroda platinum, kabel,

karet, furnitur, dan karpet. Formalin memiliki fungsi penting dalam

(31)

rumah, deodoran, pasta gigi, produk kosmetik, uap disinfektan, tinta,

foto, kartun, kertas dan perekat (Davarci dan Gorur, 2015).

2.2.3 Metabolisme Formalin

Formalin dimetabolisme menjadi asam format di hati dan eritrosit dan

kemudian diekskresikan, baik dengan urin dan kotoran atau melalui

sistem pernapasan. Formalin memiliki waktu paruh yang sangat singkat

(t1/2 = 1,5 menit). Formalin dimetabolisme menjadi asam format dalam

hati dan eritrosit, dengan reaksi yang dikatalisasi oleh enzim

formaldehida dehidrogenase (FDH). Enzim formaldehida

dehidrogenase (FDH) membutuhkan glutathione sebagai co-factor

selama reaksi ini. Dengan demikian, ketika konsentrasi formalin

meningkat, kadar glutathione darah menurun. Menuruannya glutathione

dan anti-oksidan, meningkatkan toksisitas formalin. Formalin

memasuki mono-karbon (C1) kumpulan metabolisme seluler melalui

pengikatan ke asam tetrahidrofolat, dengan demikian, ia dapat

berpartisipasi dalam struktur makromolekul, seperti asam nukleat.

formalin ada pada berbagai tingkatan dalam sel, tetapi tidak dapat

disimpan di dalam tubuh. Formalin diekskresikan baik dalam feses atau

urin sebagai asam format atau melalui saluran pernapasan sebagai

karbon dioksida (Davarci dan Gorur, 2015)

Formalin memiliki beragam efek pada individu. Ada hubungan erat

(32)

0,05 part per million (ppm) dari paparan formalin dapat mempengaruhi

mata, sistem saraf dan saluran pernapasan bagian atas, sedangkan dosis

yang lebih tinggi 5 part per million (ppm) dari paparan formalin dapat

menyebabkan kerusakan saluran pernapasan bagian bawah. Pada

sebuah kasus paparan formalin yang sangat tinggi, kematian dapat

terjadi. Efek toksik dari formalin terjadi pada beberapa sistem tubuh,

dan baik penyelidikan eksperimental maupun klinis telah berusaha

untuk menjelaskan efek toksik formalin pada sistem saluran kencing.

Formalin dimetabolisme menjadi asam format yang dapat

menyebabkan nekrosis tubular jaringan ginjal, kemudian

mengakibatkan gagal ginjal (Davarci dan Gorur, 2015) .

2.2.4 Toksikokinetik Formalin

Formalin secara reversibel berikatan dengan sistein untuk membentuk

tiazolidin-4-karboksilat , dengan urea untuk membentuk hidroksimetil

atau dengan protein (misalnya protein darah seperti albumin serum atau

protein pada mukosa hidung membentuk protein tambahan. Reaksi

ireversibel dihasilkan dari reaksi dengan dua protein (protein-protein

crosslinks) atau dari reaksi formalin dengan protein dan DNA

(DNA-protein crosslinks (DPX)). Formalin bereaksi secara spontan dan

reversibel dengan glutation (GSH) yang ada dalam sel untuk

membentuk S-hydroxymethylglutathione. Pada NAD+,

S-hydroxymethylglutathione secara enzimatis diubah oleh

(33)

air, formylglutathione dapat dimetabolisme oleh S-Formylglutathione

hydrolase menjadi glutation dan asam format. Asam format

diekskresikan dalam urin sebagai garam natriumnya. Asam format

dimetabolisme secara lambat menjadi karbon dioksida (CO2) dan air.

Baik sebagai asam format atau setelah formalin berikatan dengan asam

tetrahydrofolic ,formalin dimetabolisme. Setalah dimetabolisme

formalin teraktivasi sehingga berperan penting untuk sintesis purin,

[image:33.595.177.500.332.569.2]

timidin, dan asam amino tertentu ( Herausgegeben et al., 2006).

Gambar 1. Toksikokinetik formalin

(Sumber: Herausgegeben et al., 2006).

Metabolisme asam format yang relatif lambat menjadi karbon dioksida

dan air pada manusia menyebabkan akumulasi asam format, yang

menyebabkan asidosis metabolik. Mengkonsumsi formalin

terus-menerus menyebabkan formalin terakumulasi sehingga meningkatkan

(34)

Reactive Oxygen Species (ROS)

yang dapat menybabkan

kerusakan organ (Arianti,2012). Kelebihan format yang tidak

digunakan secara metabolik akan dihilangkan dalam urin. asidosis

metabolik yang parah karena produksi asam format menyebabkan

nekrosis tubular dan gagal ginjal akut (Pandey et al., 2000).

2.3 Ginjal

2.3.1 Anatomi Ginjal

Ginjal adalah sepasang organ pada saluran kemih yang tereletak di

posterior retroperitoneal bagian atas (Purnomo, 2016). Tinggi ginjal

mulai dari vertebra torakalis kedua belas (T12) sampai vertebra

lumbalis ketiga (L3). Tinggi ginjal kanan dan kiri berbeda, ginjal kanan

memiliki tinggi lebih rendah daripada ginjal kiri karena adanya organ

hati. Saat inspirasi, kedua ginjal tertekan kebawah karena kontraksi

diafragma (Paulsen, 2012).

Ginjal memiliki fasia anterior dan fasia posterior, margo medialis dan

margo lateral, serta polus superior dan polus inferior. Margo lateral

ginjal berebentuk cembung sedangkan margo medial berbentuk cekung

terdapat daerah disebut hilus renalis. Pada hilus renalis terdapat sinus

renalis yang berisi pelvis renalis, kaliks, pembuluh darah, serabut saraf,

dan sedikit jaringan lemak (Wibowo dan Prayana, 2009).

(35)

miring antara bidang coronal dan sagital. Ginjal mempunyai axis

longitudinal yang berjalan ke anterior, lateral, dan inferior serta pararel

terhadap sisi lateral muskulus psoas major. Katub atas ginjal

masing-masing terdapat glandula suprarenal. Bagian anterior ginjal dextra

berbatasan dengan hepar, duodenum pars descendens, flexura coli

dextra, dan usus halus. Sedangkan bagian anterior ginjal sinistra

berbatasan dengan gester, pankreas, flexura coli sinistra, lien, dan usus

halus. Bagian posterior berbatasan dengan diafragma, musculus psoas

major, muskulus quadratus lumborum, dan kosta dua belas (Wibowo

dan Prayana, 2009).

Setiap ginjal diselubungi oleh kapsul fibrosa. Ginjal dilapisi oleh kapsul

fibrosa, lalu dikelilingi oleh lemak perinefrik, kemudian oleh fasia

perinefrik (perirenal) yang juga menyelubungi kelenjar adrneal. Zona

luar ginjal disebut korteks ginjal dan zona dalam ginjal disebut medula

yang terdiri dari piramida-piramida ginjal. Korteks ginjal terdiri dari

glomerulus dan medula terdiri dari ansa henle, vasa rekta, dan bagian

akhir dari duktus kolektivus (O’challaghan, 2009).

Setiap ginjal memiliki panjang 6-7,5 cm dan tebal 1,5-2,5 cm. pada

orang dewasa ginjal memiliki berat 140 gram (Pearch, 2017). Di

superior ginjal memiliki hubungan dengan diafragma, yang

memishakan dari kavitas pleuralis dan pasangan costa ke 12. Lebih

(36)

quadartus lumborum (Moore dan Dalley, 2013). Ginjal berbentuk

seperti kacang dan sisi cekungnya menghadap ke medial. Pada sisi

cekungnya terdapat hilus ginjal yakni suatu struktur-struktur pembuluh

darah, sistem limfatik, sistem saraf, dan ureter menuju dan

meninggalkan ginjal (Purnomo, 2016).

Ginjal diperdarahi dari aorta abdominalis yang bercabang menjadi arteri

renalis, yang berpasangan kanan dan kiri dan bercabang membentuk

arteri interlobaris kemudian menjadi arteri arkuata. Arteri interlobaris

kemudian bercabang menjadi menjadi kapiler berbentuk gumpalan yang

disebut dengan glomerulus dan dikelilingi oleh kapsula bowman.

Didalamnya terjadi filtrasi pertama dan darah yang meninggalkan

kapsula bowman kemudian mejadi vena renalis masuk ke vena cava

inferior (Sarpini, 2014).

Pembuluh darah dan ureter berhubungan dengan ginjal pada bagian

hilus ginjal. Arteri renalis berasal dari aorta dan bercabang menjadi tiga

cabang. Dua cabang berjalan ke anterior ureter dan satunya di

posteriornya. Lima atau enam vena bersatu membentuk vena renalis,

yang meninggalkan ginjal di depan cabang anterior arteri renalis dan

masuk menuju vena cava inferior (O’challaghan, 2009). Vena dan arteri

renalis membentuk pedikel ginjal. Pada sisi kiri, terdapat rangkaian

sistem vena yang berbeda dari sebelah kanan karena ada vena

(37)

bermuara pada vena renalis kiri. Lain pada sisi kanan, vena tersebut

secara oblik langsung ke vena cava inferior (Purnomo, 2016).

Ginjal dipersarafi oleh pleksus renalis, yang seratnya berjalan

bersamaan dengan arteri renalis. Saraf simpatis menyebabkan

vasokontriksi yang menghambat aliran darah ke ginjal. Implus sensorik

menuju korda spinalis segmen T10- T11 dan memberi sinyal sesuai

dengan dermatomnya. Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa nyeri

pada pinggang bisa merupakan nyeri dari ginjal (Purnomo, 2016).

Posisi limfe dan saraf simpatis ginjal bervariasi, pembuluh limfe akan

bermuara di nodus limfe aorta lateral. Saraf simpatis mempersarafi

pembuluh darah ginjal dan aparatus jukstaglomerular, sampai ke nefron

ginjal. Serabut aferen memasuki korda spinalis pada T10, T11, dan T12 (O’challaghan, 2009).

Darah yang membawa sisa hasil metabolisme tubuh di filtrasi di dalam

glomerulus kemudian dialirkan ketubulus ginjal, zat yang masih

dibutuhkan tubuh mengalami reabsorbsi dan zat hasil sisa metabolisme

mengalami sekresi bersama air membentuk urin. Setiap hari kurang

lebih 180 liter cairan tubuh difiltrasi dan mengasilkan urin 1-2 liter.

Urin yang terbentuk disalurkan melalui piramida ke sistem pelvikalises

ginjal untuk kemudian disalurkan ke dalam ureter. Sistem pelvikalises

ginjal terdiri atas kaliks minor, infudibulum, kaliks mayor, dan pelvis

(38)

transisional dan dindingnya dilapisi otot polos yang mampu

berkontraksi untuk mengalirkan urine ke ureter (Purnomo, 2009).

Dari setiap ginjal, terdapat ureter yang membawa urin untuk dialirkan

ke kandung kemih. Panjang setiap ureter 30 cm. Kandung kemih

berfungsi sebagai tempat penyimpanan urin sementara dan selanjutnya

akan dikosongkan menuju uretra. Panjang uretra pada laki-laki 20 cm

dan pada wanita hanya 4 cm. Pada keadaan normal, urin mengandung

kurang lebih 50 gram zat padat. Unsur utamanya adalah urea (30 gram

perhari) dan natrium klorida (15 gram). Kadar pH urine berkisar 4,5

dan 8,5 karena ginjal mengeluarkan kelebihan ion hidrogen yang

menyebabkan urin menjadi asam dan kelebihan hidroksil yang

menyebabkan urin menjadi basa. Cara ini agar pH darah tetap terjaga

[image:38.595.230.400.478.678.2]

7,4 (Green, 2011).

Gambar 2. Struktur Anatomi Ginjal

(39)

2.3.2 Histologi Ginjal

Ginjal dibagi menjadi korteks disebelah luar yang berwarna lebih gelap

dan medula disebelah dalam yang berwarna lebih terang. Korteks

dilapisi jaringan ikat reguler padat atau disebut dengan kapsul ginjal.

Korteks mengandung glomerulus, tubulus proksimal, tubulus distal,

dan piramida ginjal. Dikorteks terdapat arteri dan vena interlobularis.

Piramida ginjal terdiri atas nefron, pembuluh darah, dan tubulus

koligentes yang bersatu dimedula membentuk duktus koligentes.

Piramida ginjal tidak sampai ke kapsul ginjal karena tubulus kontrotus

terletak di subkapsul (Eroschenko, 2015).

Ginjal terdiri atas piramid-piramid. Bagian basal piramid terletak dekat

dengan korteks dan apek membentuk papila ginjal yang menonjol ke

dalam merupakan struktur berbentuk corong yang disebut kaliks minor

yang merupakan bagian ureter yang melebar. Ujung papila ginjal

dilapisi epitel kolumnar selapis. Pada saat epitel kolumnar ini berbalik

ke dinidng luar kaliks minor, epitel ini berubah menjadi epitel

transisional (Eroschenko, 2015).

Di sinus renalis terdepat cabang-cabang arteri dan vena interlobaris.

Pembuluh darah antarlobaris ini masuk ke ginjal melengkung di bagian

dasar piramid. Pada kortikomedula sebagai arteri dan vena arcuata yang

(40)

kedalam korteks ginjal untuk membentuk arteri eferen glomerulus dan

membentuk kapiler glomerulus (Eroschenko, 2015).

Korpusculum renale adalah massa kecil kapiler yang disebut

glomerulus dalam simpai glomerulus bulbosa yang mempunyai lapisan

internal dilapisi epitel kompleks yang disebut podosit yang melapisi

setiap kapiler dan membentuk celah filtrasi diaantara prosesus

interdigitasin yang disebut pedikel. Sawar filtrasi glomerulus terdiri atas

endotel kaplier bertingkap, membran basal glomerulus, dan celah

filtrasi. Kompenen utama filtrasi dibentuk oleh penyatuan lamina basal

[image:40.595.246.380.400.591.2]

podosit dan sel endotel kapiler (Mescher, 2011).

Gambar 3.Histologis Korteks Ginjal

(41)
[image:41.595.247.376.86.264.2]

Gambar 4. Histologis Medula Ginjal

(Sumber: Gartner LP dan Hiatt, 2012).

2.3.3 Histopatologi Ginjal

2.3.3.1 Gambaran Histopatologi Ginjal Setelah Paparan Formalin Pemberian formalin selama 18 minggu pada hewan coba

menyebabkan perubahan gambaran histopatologi non-spesifik

pada ginjal. Ditemukan terdapat kongesti ringan dan fokal pada

glomerulus dan terjadi degenarasi vakuolar (hydropic) pada

sel-sel tubulus. Pada parenkim ginjal terjadi hiperemia interstitial

tanpa adanya inflamasi atau fibrosis di jaringan interstitial.

Ditemukan kongesti ringan pada pembuluh darah kortikal yang

tidak spesifik. Tidak ada perubahan yang berarti pada sitoplasma

(42)
[image:42.595.198.460.85.276.2]

Gambar 5.Histologis Ginjal Setelah Paparan Formalin

(Sumber: Golalipour et al., 2009).

2.3.3.2 Gambaran Histopatologi Ginjal Setelah Paparan Boraks Pemberian boraks secara akut pada hewan coba mengakibatkan

jaringan ginjal mengalami edema glomerulus, hiperemia.,

degenerasi epitel tubular, gial hialin dalam lumen tubulus dan

fibrosis interstitial hingga derajat yang bervariasi (Topal et al.,

2016).

Gambar 6.Histologis Ginjal Setelah Paparn boraks

[image:42.595.239.466.526.699.2]
(43)

2.4 Tikus Putih (Rattus Novergicus)

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Sub Filum : Vertebrata

Kelas : Mammalia

Ordo : Rodentia

Sub ordo : Sciurognathi

Famili : Muridae

Sub famili : Murinae

Genus : Rattus

Spesies : Rattus norvegicus

Tikus sering digunakan dalam berbagai macam penelitian medis selama

bertahun-tahun. Hal ini dikarenakan tikus memiliki karakteristik genetik

yang unik, mudah berkembang biakan, murah serta mudah untuk

mendapatkannya. Tikus merupakan hewan yang melakukan aktivitasnya

pada malam hari (nocturnal). Bobot badan tikus 150-600 gram. Tikus ini

memiliki hidung tumpul, badan besar, pendek, ukuran 18-25 cm. Memiliki

ekor lebih pendek dari kepala dan badan, bagian atas lebih tua dan lebih

muda bagian bawahnya dengan rambut pendek kaku 16-21 cm. Tikus

memiliki lama hidup berkisar antara 4-5 tahun dengan berat badan umum

(44)

2.5 Kerangka Teori Penelitian

Boraks merupakan senyawa kimia dengan nama natrium tetraborat (Na2B4O2

(H2O) 10). Struktur dasar boraks mengandung rantai segitiga BO2 (OH) yang

saling terkait dan tetrahedron BO3 (OH) yang berikatan dengan rantai natrium

dan oktahedron air (Pongsavee, 2009). Absorbsi boraks menunjukkan bahwa

senyawa boraks mudah diserap secara oral (sekitar 100%). Distribusi boraks

dengan cepat menyebar dalam tubuh dan dalam darah. Boraks tidak

dimetabolisme, karena membutuhkan energi yang tinggi sekitar 523 kJ/mol

untuk memutus ikatan B-O-B (B=O). Boraks diekskresikan dalam bentuk

urin diginjal (See et al., 2010). Mengkonsumsi boraks terus-menerus dapat

menyebakan kerusakan sel oleh karena gugus aktif B-O yang mengikat

protein dan lipid tak jenuh yang dapat menyebabkan peroksidasi lipid dimana

merupakan suatu keadaan radikal bebas mencuri elektron dan lipid dalam

membran sel, sehingga menyebabkan kerusakan permeabilitas sel sehingga

menyebabkan kerusakan pada ginjal (Nurzali, 2013).

Formaldehid merupakan senyawa organik dengan struktur kimia CH2O yang

dikenal sebagai metanal, metilen oksida, oksimetilen, metilaldehida,

oksometana, dan aldehida format (WHO, 2002). Formalin berbahaya bagi

tubuh manusia (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia,

2008). Formalin secara alami diproduksi sebagai hasil metabolisme

sampingan (Golden, 2011). Formalin dimetabolisme secara cepat di hati

menjadi asam format oleh enzim formaldehida dehidrogenase (FDH)

(45)

urin sebagai garam natriumnya. Asam format dimetabolisme secara lambat

menjadi karbon dioksida (CO2) dan air (Herausgegeben et al., 2006).

Metabolisme asam format yang relatif lambat menjadi karbon dioksida dan

air pada manusia menyebabkan akumulasi asam format, yang menyebabkan

asidosis metabolik. Mengkonsumsi formalin terus-menerus menyebabkan

formalin terakumulasi sehingga meningkatkan toksisitas formalin dan

mengaktivasi radikal bebas salah satunya adalah Reactive Oxygen Species

(ROS) yang dapat menybabkan kerusakan organ (Arianti, 2012). Kelebihan

format yang tidak digunakan secara metabolik akan dihilangkan dalam urin.

asidosis metabolik yang parah karena produksi asam format menyebabkan

(46)

Gambar.7 Kerangka teori pengaruh pemberian formalin dan boraks terhadap gambaran histopatologi renal (ginjal) tikus putih jantan (rattus novergicus) galur sparague dawley

(Sumber: Arianti, 2012; Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia,2008;Davarci dan Gorur,2015; Golden,2011;Herausgegeben et al., 2006; Nurzali, 2013; Pongsavee,

2009;Pandey et al., 2000; See et al., 2010; WHO, 2002)

: Yang diteliti :Mengakibatkan

CH2O

Di Hati

Asam Format

Asidosis Metabolik FDH

(Na2B4O2 (H2O)

Gugus aktif boraks

B-O-B (B=O) Peroksidasi lipid Kerusakan ginjal Perubahan Gambaran Histopatologi Gamb aran Histo patolo gi Metabolisme ≠ Metabolisme Asam borat

Aktivasi ROS Glutation dan

antioksidan Kerusakan

(47)

2.6 Kerangka Konsep Penelitian

[image:47.595.128.496.169.307.2]

Pemberian formalin dan boraks dosis peroral:

Gambar 8. Kerangka konsep pengaruh pemberian formalin dan boraks terhadap gambaran histopatologi renal (ginjal) tikus putih jantan (rattus novergicus) galur

sparague dawley

2.7 Hipotesis penelitian

Terdapat pengaruh pemberian formalin dan boraks peroral selama 2 minggu

terhadap perubahan gambaran histopatologis renal (ginjal) tikus putih jantan

(Rattus novergicus) galur Sprague dawley. Pemberian boraks

Pemberian formalin

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian true experimental laboratorik dengan

rancangan Post Test only Control Group Design yang menggunakan hewan

coba berupa tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague dawley.

Pengambilan data dilakukan hanya pada saat akhir penelitian setelah

dilakukannya perlakuan dengan membandingkan hasil pada kelompok yang

diberi perlakuan dengan kelompok yang tidak diberi perlakuan.

3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

Intervensi pada hewan coba dilakukan di Animal House Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung. Pembuatan preparat dan pemeriksaan histopatologi

dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung. Penelitia dilakukan terhitung dari bulan Agustus

(49)

3.3 Subjek Penelitian 3.3.1 Populasi Target

Populasi target adalah berupa tikus putih jantan (Rattus novergicus)

galur Sprague dawley.

3.3.2 Populasi terjangkau

Populasi terjangkau adalah tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur

Sprague dawley, umur 8-10 minggu, berat badan 150-200 gram, sehat,

tidak ada kelainan anatomi dan diperoleh dari Animal Laboratory

Service Dramaga Bogor.

3.3.3 Sampel

3.3.3.1 Kriteria Inklusi

a) Tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague dawley

b) Berat badan : 150-200 gram

c) Umur 8 – 10 minggu

d) Tikus dalam keadaan sehat dan aktif (tidak ada penyakit

maupun kelainan anatomis)

(50)

3.3.3.2 Kriteria eksklusi

a) Tikus sakit dan terlihat tidak aktif

b) Terdapat penurunan berat badan >10% setelah masa adaptasi

di laboratorium

c) Tikus mati sebelum mendapat perlakuan

3.3.4 Cara Pengambilan Sampel

Cara pengambilan sampel untuk menghindari bias karena faktor variasi

umur dan berat badan maka pengambilan sampel dilakukan secara acak

sederhana (simple random sampling). Randomisasi langsung dapat

dilakukan karena sampel diambil dari tikus putih jantan (Rattus

novergicus) galur Sprague dawley yang sudah memenuhi kriteria

inklusi dan eksklusi sehingga dianggap cukup homogen. Semuanya

diambil secara acak dari kelompok tikus yang sudah diadaptasi pakan

selama 1 minggu.

3.3.5 Besar Sampel

Pada uji eksperimental rancangan acak lengkap, besar sampel penelitian

yang digunakan ditentukan dengan rumus Federer (Ratya,2014).

Keterangan:

t : Jumlah kelompok perlakuan

(51)

(t-1) (n-1) ≥15

(4-1) (n-1) ≥15

3n-3 ≥15

3n ≥18

N ≥6

Berdasarkan prinsip penelitian reduction, maka jumlah sampel yang

digunakan pada penelitian ini adalah jumlah minimal berdasarkan

perhitungan diatas, yaitu sebanyak 6 ekor untuk setiap kelompok

perlakuan, karena penelitian ini menggunakan 4 kelompok maka

sampel total sebanyak 24 ekor tikus jantan. Untuk mengantisipasi drop

out maka dilakukan penambahan sampel dengan rumus:

Keterangan:

N : Besar sampel koreksi

n : Jumlah sampel berdasarkan estimasi

f : Perlakuan proporsi drop out sebesar 10% ( Supranto,2009).

Maka jumlah sampel koreksi yang ditambahkan pada penelitian ini

yaitu:

N =

𝑛

1−𝑓

N =

6

1−10%

N=

𝑛

(52)

N =

6

0,9

N = 6,67

N = 7 (pembulatan)

Jadi, keseluruhan sampel yang digunakan pada penelitian kali ini adalah

24 ekor tikus putih jantan ditambah 4 ekor tikus putih jantan sebagai

sampel koreksi. Sehingga total sebanyak 28 tikus putih jantan yang

dibagi kedalam 4 kelompok perlakuan.

3.4 Variabel Penelitian 3.4.1 Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah formalin dosis 25 mg/kgBB,

50 mg/kgBB, dan 100 mg/kgBB dan boraks dosis 0,067 g/hari, 0,135

g/hari, dan 0,27 g/hari yang diberikan selama 2 minggu.

3.4.2 Variabel terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah gambaran histopatologis

(53)

3.5 Definisi Operasional Variabel

Definsi operasional variabel penelitian ini yaitu:

3.5.1 Variabel Bebas (Pemberian Formalin dan Boraks Peroral Selama 2 Minggu)

3.5.1.1 Definisi Operasional

Pemberian boraks dan formalin peroral dosis bertingkat yang

diberikan pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur

Sprague dawley.

K = kelompok kontrol (aquades 2 mL/hari)

P1 = kelompok perlakuan 1 (boraks 0,067 g/hari dan formalin

dosis 0,012 ml/hari)

P2 = kelompok perlakuan 2 (boraks 0,135 g/hari dan formalin

dosis 0,025 ml/hari)

P3 = kelompok perlakuan 3 (boraks 0,27 g/hari dan formalin

dosis 0,05 ml/hari

Volume formalin dan boraks dosis bertingkat diukur

menggunakan spuit 1 cc (tuberkulin). Setelah itu dicampur

dengan akuades hingga 3 ml dan diberikan peroral selama 2

minggu.

1.5.1.2Alat Ukur

Volume formalin dan boraks dosis bertingkat diukur

(54)

dengan akuades hingga 3 ml dan diberikan peroral selama 2

minggu.

1.5.1.3Hasil Ukur

Pemberian boraks 0,067 g/hari, 0,135 g/hari, 0,27 g/hari dan

formalin dengan dosis 0,012 ml/hari, 0,025 ml/hari, 0,05 ml/hari

1 kali sehari pemberian ke tikus putih jantan Rattus novergicus

galur Sprague dawley.

3.5.1.4 Skala Ukur Kategorik

3.5.2 Variabel Terikat (Gambaran Histopatologi Ginjal) 3.5.2.1 Definisi Operasional

Gambaran histopatologi ginjal tikus putih jantan (Rattus

novergicus) galur Sprague dawley yang diamati dibawah

mikroskop cahaya dengan perbesaran 100x dan 400x dengan

menilai derajat kerusakan renal yang paling tinggi.

3.5.2.2 Alat Ukur

Pengukuran menggunakan mikroskop cahaya dengan

pembesaran 400x dalam lima lapang pandang.

3.5.2.3 Hasil Ukur

Hasil ukur dari histopatologi ginjal dapat dinilai dari skor

kerusakan glomerulus dan tubulus. Menilai derajat kerusakan

(55)

dihitung dari total kerusakan dilatasi pembuluh darah dengan

skor kerusakannya adalah 0-3 (Muhartono et al,2016).

0 = Normal

1= Dilatasi pembuluh darah ringan

2= Dilatasi pembuluh darah sedang

3= Dilatasi pembuluh darah berat

3.5.2.4 Skala Ukur Numerik

3.6 Cara Pengumpulan Data 3.6.1 Bahan

Bahan-bahan untuk percobaan ini :

1) Tikus putih jantan (rattus novergicus)

2) Asam pikrat

3) Formalin 100%

4) Boraks

5) Ketamin

6) Xylazine

7) Bahan-bahan untuk metode baku histologi pemeriksaan jaringan:

a) Larutan bufer formalin 10%

b) Parafin

(56)

d) Hematoksilin eosin

e) Asam asetat

f) Larutan Xylol

g) Alkohol bertingkat 30%, 40%, 50%, 70%, 80%, 90%, 96%

h) Aquades

3.6.2 Alat

3.6.2.1 Alat Untuk Memberikan Perlakuan a) Kandang tikus

b) Sonde (spuit dengan ujung tumpul berbahan timah, d=2mm)

c) Spuit 1cc (tuberkulin)

d) Spuit 5 cc

3.6.2.2 Alat Untuk Pembedahan a) Skalpel

b) Pinset

c) Gunting

d) Botol untuk menyimpan organ

3.6.2.3 Alat Untuk Pemeriksaan Histopatologis a) Mikroskop cahaya

(57)

c) Kamera digital

3.6.3 Jenis Data

Data yang dikumpulkan merupakan data primer hasil penelitian

gambaran histopatologis ginjal dari kelompok paparan formalin dan

boraks peroral dosis bertingkat dan kelompok kontrol.

3.6.4 Perhitungan Dosis 3.6.4.1 Dosis Formalin

Penentuan dosis formalin pada tikus jantan dengan berat badan

200 gram. Dosis LD50 formalin pada tikus adalah 100-200

mg/kgBB/hari. Formaldehid dalam perdagangan dikenal

sebagai formalin yang tersedia dalam larutan 37%. Formalin

memiliki masa jenis 1,08 kg/m3 karena hal tersebut maka 37% x

1,08 kg/m3 =399,6 mg/ml yang berarti didalam 1 ml formalin

mengandung 399,6 mg/ml formaldehid (Badan Pengawasan

Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2008).

Berdasarkan hal tersebut maka peneliti ini menggunakan dosis

formalin bertingkat yang diberikan secara peroral :

a. Kelompok I

 ¼ x LD50 = ¼ x 100 mg/kgBB/hari = 25

mg/kgBB/hari

(58)

dalam (mg) adalah 25mg/kgBB/hari x 0,2 kg = 5 mg/hari

 1 ml formalin mengandung 399,6 mg/ml

formaldehid, maka dosis pada tikus dalam (ml)

adalah 5/399,6 x 1 ml = 0,012 ml/hari peroral

b. Kelompok II

 ½ x LD50 = ½ x 100 mg/kgBB/hari = 50

mg/kgBB/hari

 Berat badan tikus 200 gram, maka dosis pada tikus

dalam (mg) adalah 50mg/kgBB/hari x 0,2 kg = 10 mg/hari

 1 ml formalin mengandung 399,6 mg/ml

formaldehid, maka dosis pada tikus dalam (ml)

adalah 10/399,6 x 1 ml = 0,025 ml/hari peroral

c. Kelompok III

 1 x LD50 = 1 x 100 mg/kgBB/hari = 100

mg/kgBB/hari

 Berat badan tikus 200 gram, maka dosis pada tikus

(59)

 1 ml formalin mengandung 399,6 mg/ml

formaldehid, maka dosis pada tikus dalam (ml)

adalah 20/399,6 x 1 ml = 0,05 ml/hari peroral

3.6.4.2 Dosis Boraks

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa boraks memiliki

toksisitas akut rendah setelah pemberian oral, dermal dan

inhalasi pada hewan percobaan. Untuk senyawa boraks data

eksperimental berikut dapat disimpulkan LD50 boraks oral pada

tikus adalah > 2000 mg / kg (489-659 mg B / kg), LD50 boraks

secara dermal pada tikus adalah tikus> 2000 mg / kg (226-350

mg B / kg), dan LC50 boraks secara inhalasi adalah > 2 mg / l

(300-371 mg B) / m3). Dosis letal oral pada manusia adalah 2-3

g boraks untuk bayi, 5-6 g boraks untuk anak-anak, dan 15-30 g

boraks untuk orang dewasa(Larsen et al., 2015).

Berdasarkan hal tersebut maka peneliti ini menggunakan dosis

formalin bertingkat yang diberikan secara peroral :

a. Kelompok I

 ¼ x LD50manusia = ¼ x 15 g/hari x 0,018

= 0,067 g/hari peroral

b. Kelompok II

 ½ x LD50manusia = ½ x 15 g/hari x 0,018

(60)

c. Kelompok III

 1 x LD50manusia = 1 x 15 g/hari x 0,018

= 0,27 g/hari peroral

3.5.6 Cara Kerja

a. 28 ekor tikus putih jantan (Rattus novergicus) yang sehat dan aktif

selama 7 hari di laboratorium diadaptasi dalam kandang tunggal

dan diberi pakan standar serta minum ad libitum.

b. Pada hari ke-8, tikus putih jantan (Rattus novergicus) dibagi

menjadi 4 kelompok yang masing–masing terdiri dari 7 ekor tikus

putih jantan (Rattus novergicus) yang dipilih secara acak.

Kemudian diberi tanda dengan asam pikrat pada daerah yang

berbeda yaitu kepala dan punggung.

c. Masing-masing tikus ditimbang berat badannya.

d. Mulai hari ke-8 sampai hari ke-21 pada kelompok I diberikan

formalin peroral dengan dosis 0,012 ml/hari dan boraks peroral

dengan dosis 0,067 g/hari, pakan standar dan minum ad libitum.

Kelompok II diberikan formalin peroral dengan dosis 0,025

ml/hari dan boraks peroral dengan dosis 0,135 g/hari,, pakan

standar dan minum ad libitum. Kelompok III diberikan formalin

peroral dengan dosis 0,05 ml/hari dan boraks peroral dengan dosis

0,27 g/hari, pakan standar dan minum ad libitum. Kelompok

terakhir adalah Kelompok Kontrol diberikan aquades peroral 1cc,

(61)

e. Setelah hari ke-22 masing-masing tikus dimatikan dengan cara

diberikan ketamin dan xylazine lalu dilakukan dislokasi servikal.

f. Dilakukan autopsi pada masing-masing tikus dan organ ginjal

diambil. Sampel ginjal tersebut kemudian diukur dan ditimbang,

diamati secara makroskopik selanjutnya diletakkan pada tabung

berisi cairan pengawet buffer formalin 10% dengan perbandingan

1 bagian ginjal dan 9 bagian buffer formalin 10 %.

g. Tabung berisi sampel ginjal tikus putih jantan (Rattus novergicus

diletakkan ke rak tabung kemudian diserahkan ke analis untuk

diolah mengikuti metode baku histologi dengan perwarnaan

Hematoksilin eosin. Dari setiap sampel ginjal dibuat preparat

dengan potongan koronal. Preparat tersebut akan dibaca 100 sel

dalam lima lapangan pandang dengan perbesaran 400x. Sasaran

yang dibaca adalah perubahan abnormal gambaran histopatologi

pada ginjal dengan menghitung sel yang mengalami nekrosis

(62)
[image:62.595.125.508.126.725.2]

3.7 Alur Penelitian

Gambar 10. Alur Penelitian 28 ekor tikus

7 hari adaptasi

Kelompok kontrol Perlakuan I formalin 25mg/kgBB/hari (0,012ml/hari)

dan boraks 0,67 g/hari peroral

Perlakuan II

formalin 50mg/kgBB/hari (0,025ml/hari) dan boraks 0,135 g/hari

peroral

Perlakuan III

formalin 100mg/kgBB/hari (0,05 ml/hari) dan boraks 0,27 g/hari

peroral

Terminasi tikus tikus (rattus norvegicus) jantan galur sprague dawley dan pengambilan

jaringan ginjal

Pemeriksaan gambaran histopatologis ginjal

Analisis Penimbangan berat badan tikus

(63)

3.8 Analisa Data

Data yang diperoleh diolah dengan program komputer dan dilihat distribusi

datanya normal atau tidak dengan uji Shapiro-Wilk, kemudian dilanjutkan dengan uji varian (Levene’s test) uji ini untuk mengetahui apakah 2 atau lebih

varian kelompok data mempunyai varian yang sama atau tidak. Setelah

dilakukan uji Shapiro-Wilk dan Levene’s test didapatkan data tidak

berdistribusi normal dan homogen maka dilakukan transformasi data dengan

menggunakan Log10. Setelah ditransformasi tetap didapatkan distribusi data

yang tidak normal dan data tidak homogen, maka dilakukan uji beda

menggunakan statistik non parametrik Kruskal-Wallis, didapat P<0,05*

dilanjutkan dengan uji Post Hoc (Mann Whitney test) yang berfungsi untuk

melihat kelompok yang berbeda secara bermakna.

3.9 Etika Penelitian

Etika Penelitian pada penelitian ini telah didapatkan dari Komisi Etik

Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dengan surat

(64)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Terdapat pengaruh pemberian boraks dosis 0.067 g/hari, 0.135 g/hari, 0.27

g/hari dan formalin 0.012 ml/hari, 0.025 ml/hari, 0.05 ml/hari selama 14 hari

terhadap gambaran histopatologi reanl tikus putih jantan (Rattus norvegicus)

galur Sprague dawley.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pemberian boraks

dan formalin peroral menggunakan dosis yang biasa beredar di

masyarakat.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pemberian boraks

dan formalin dengan dosis yang lebih bervariasi dan waktu penelitian

yang lebih lama dan berjenjang.

3. Peneliti lain disarankan melakukan penelitian yang lebih lanjut

(65)

DAFTAR PUSTAKA

Arianti R. 2012. Aktivitas hepatoprotektor dan toksisitas akut ekstrak akar alang-alang (Imperata cylindrica) [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2008. Formalin (larutan formaldehid). Jakarta: Direktorat pengawas produk dan bahan berbahaya, Deputi bidang pengawas keamanan pangan dan bahan berbahaya, BPPOMRI.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2012. Pedoman informasi dan pembacaan standar bahan tambahan pangan untuk industri pangan siap saji dan industri rumah tangga pangan. Jakarta: Direktorat SPP, Deputi III, BPPOMRI.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2014. Wapada boraks dan formalin bahan berbahaya pada pangan. Jakarta: BPPOMRI.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2017. Laporan Tahunan BPOM. Jakarta: BPPOMRI.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2018. Informasi penggunaan bahan berbahaya (formalin). Jakarta: BPPOMRI.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2018. Pengaturan badan pengawas obat dan makanan tentang label pangan olahan. Jakarta: BPPOMRI.

(66)

lymphohematopoietic malignancies. Cancer Causes dan Control. 23(11): 1747-66.

Davarci M, Gorur S. 2015. Toxic effects of formaldehyde on the urinary system. Turkish Journal of Urology. 39(1): 48-52.

Depkes RI. 2008. Pedoman pengendalian tikus. Jakarta: Depatermen Kesehatan RI.

Eroschenko, Victor p. 2015. Atlas histologi difiore dengan kolerasi fungsional. Edisi Ke-12. Jakarta: EGC.

Gartner LP, Hiatt JL. 2012. Atlas histologi berwarna. Edisi Ke-5. Jakarta: Binarupa Aksara.

Green JH. 2011. Pengantar fisiologi tubuh manusia. Tangerang: Bina Aksara

Golden R. 2011. Identifiying an indoor air exposure limit for formaldehyde considering both irritation and cancer hazards. Ctitical Review in Toxicology. 41(8): 672-721.

Golalipouer MJ, Azarhoush R, Ghafari S, Davarian A, Fazeli HSA. 2009. Can formaldehyde exposure induce histopatologic and morphometric change on rat kidney. Int J Morphol. 27(4): 1195-200.

Goyer N, Begin D, Beaudry C, Bouchard M, Carrier G, Lavoue J, et al. 2006. Prevention guide formaldehyde in the workplace. IRSST.

Figure

Gambar 1. Toksikokinetik formalin (Sumber:  Herausgegeben et al., 2006).
Gambar 2. Struktur Anatomi Ginjal (Sumber: Snell S Richad, 1997).
Gambar 3.Histologis Korteks Ginjal (Sumber: Gartner LP dan Hiatt, 2012).
Gambar 4. Histologis Medula Ginjal (Sumber: Gartner LP dan Hiatt, 2012).
+4

References

Related documents

Analysis o f the principles of the RCOE conceptual framework Conventional instruction a Current distance education b AET Zone c Knowledge is socially constructed and learning is

None of the five pa- tients with ataxia telangiectasia had detectable se- rum IgA, and the maximum IgA synthetic rates possible for these patients were 0.3-10% of the normal

The plasma concentration, production rate, and conversion ratio of androstenedione and testosterone were studied in seven children with congenital adrenal hyperplasia (CAH) of

A collection of 68 Hafnia strains previously identified to the species level by 16S rRNA gene sequencing were.. investigated for simple phenotypic properties that could aid in

door de markt (en bijvoorbeeld vrienden) te willen laten zien dat de belegging in aandeel XYZ wel een goed idee was. Vraag jezelf ook af of je huidige strategie nog wel aansluit

In the pulse flood stratigraphic record of SD2, we utilized high flood frequency intervals to define baseline concentrations of metals delivered by Slave River floodwaters prior

The purpose of this study was to examine the effects of Youth Suicide Prevention course for master’s level counseling students on knowledge, perceived ability to help suicidal